• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Manfaat...6

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Manfaat...6"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

vii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i

PERNYATAAN LEMBAR PENGESAHAN ...ii

KATA PENGANTAR ...iii

ABSTRAK ...v

ABSTRACT ...vi

DAFTAR ISI ...vii

DAFTAR TABEL ...ix

DAFTAR GAMBAR ...x

DAFTAR LAMPIRAN ...xi

DAFTAR SINGKATAN ...xii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...1

1.2 Rumusan Masalah ...5

1.3 Tujuan ...5

1.4 Manfaat ...6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Autis ...7

2.1.1 Definisi Autis ...7

2.1.2 Penyebab Autis ...8

2.1.3 Gejala Autis ...13

2.1 Toilet Training ...18

2.1.1 Definisi Toilet Training ...18

2.1.2 Jenis-Jenis Toilet Training ...18

2.1.3 Tujuan Toilet Training ...19

2.1.4 Tahapan Toilet Training ...19

2.1.5 Tanda Kesiapan Toilet Training ...20

2.1.6 Hal yang Diperhatikan Selama Toilet Training ...22

2.1.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Toilet Training ...22

2.1.8 Dampak Toilet Training ...23

2.1.9 Tanda Anak Berhasil Toilet Training ...24

2.1.10 Kemampuan Toilet Training pada Anak Autis ...25

3.1 Pola Asuh Orang Tua ...26

3.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua ...26

3.1.2 Jenis-Jenis Pola Asuh Orang Tua ...26

3.1.3 Pola Asuh yang Ideal Bagi Perkembangan Anak ...28

3.1.4 Fakto-Faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Orang Tua ...29

3.1.5 Hubungan Pola Asuh Orang Tua terhadap Keberhasilan Toilet Training pada Anak Autis ...31

BAB 3 KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep ...33

3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ...33

(2)

viii

3.2.2 Variabl Dependen/Variabel Terikat ...34

3.2.3 Definisi Operasional ...35

3.3 Hipotesis ...36

BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian ...37

4.2 Kerangka Kerja ...38

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian ...39

4.3.1 Tempat Penelitian ...39

4.3.2 Waktu Penelitian ...39

4.4 Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling Penelitian ...39

4.4.1 Populasi Penelitian ...39

4.4.2 Sampel Penelitian ...39

4.4.3 Teknik Sampling ...40

4.5 Jenis dan Cara Pengumpulan Data ...41

4.51 Jenis Data yang Dikumpulkan ...41

4.5.2 Cara Pengumpulan Data ...41

4.5.3 Instrumen Pengumpulan Data ...43

4.5.4 Validitas dan Reliabilitas ...46

4.5.6 Etika Penelitian ...48

4.6 Pengolahan dan Analisis Data ...49

4.6.1 Teknik Pengolahan Data ...49

4.6.2 Teknik Analisis Data ...50

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian ...52

5.1.1 Kondisi Lokasi Penelitian ...52

5.1.2 Karakteristik Subyek Penelitian ...53

5.1.3 Hasil Pengamatan terhadap Subyek Penelitian sesuai Variabel Penelitian 55 5.1.4 Hasil Analisis Data ...58

5.2 Pembahasan ...59

5.2.1 Karakteristik Subyek Penelitian di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar .58 5.2.2 Pola Asuh Orang Tua di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar ...63

5.2.3 Keberhasilan Toilet Training pada Anak Autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar ...67

5.2.3 Hubungan Pola Asuh Orang Tua terhadap Keberhasilan Toilet Training pada Anak Autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar ...70

5.3 Keterbatasan Penelitian ...73

BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan ...74

6.2 Saran ...74 DAFTAR PUSTAKA

(3)

v ABSTRAK

Anak autis memiliki kebutuhan khusus salah satunya adalah toilet training. Kegagalan toilet training berdampak pada anak autis seperti anak akan mengalami masalah tidak dapat secara mandiri mengontrol BAB dan BAK. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan toilet training yaitu pola asuh orang tua. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua terhadap keberhasilan toilet training pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar. Penelitian menggunakan rancangan deskriptif korasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 60 orang tua. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Analisis data menggunakan uji koefisien kontingensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang tua anak autis yang menerapkan pola demokratis sebanyak 44 orang (73,3%). Keberhasilan toilet training dalam kategori berhasil pada anak autis sebanyak 41 anak (68,3%). Berdasarkan analisis data didapatkan p value yaitu 0,000

yang berarti p < 0,05. Hal tersebut membuktikan bahwa ada hubungan yang kuat antara pola asuh orang tua terhadap keberhasilan toilet training pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar. Saran yang dapat diberikan kepada orang tua diharapkan menerapkan pola asuh demokratis dalam mengasuh anak autis, sehingga keberhasilan toilet training dapat tercapai.

Kata kunci : Autis, Pola Asuh Orang Tua, Toilet Training Refrensi (74:2003-2016)

(4)

vi ABSTRACT

Children with autism have a special need, and one of them is toilet training. Failure toilet training impacts on children with autism such as the children will get problem in defecation and urination systems. One of the factor that influences the success of toilet training is parenting patterns. The purpose of this study is to determine the relationship of parenting patterns and the success of toilet training in children with autism with the case study in Autism Service Center of Denpasar Bali. This research used cross-sectional descriptive design. The number of samples in this study were 60 parents. The Samples are taken by total sampling technique. The data is analyzed by contingency coefficient test. The results of this study indicated that parents of children with autism who applied democratic patterns as many as 44 people (73.3%). The successful toilet training in the category has been successfully in children with autism of 41 children (68.3%). Based on the analyzed data obtained p value of 0.000 which means p <0.05. It proved that there is a strong relationship between parenting patterns with the success of toilet training in children with autism at Denpasar Autism Service Center. The suggestions that can be given to parents are expected to apply democratic parenting pattern in caring the children with autism, so the success of toilet training can be achieved.

Keywords : Autism, Parents Parenting Patterns, Toilet Training Reference (74:2003-2016)

(5)

1

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kesehatan anak merupakan salah satu indikator pengukuran kesejahteraan kesehatan. Seorang anak dikatakan sehat apabila pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan tahap usia tanpa adanya gangguan fisik maupun mental (Situmeang, 2016). Anak sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik maupun psikis dan terbebas dari penyakit, dapat melakukan aktivitas fisik tanpa hambatan. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia ciri-ciri dari anak sehat adalah tumbuh dan berkembang sesuai tingkat umur, anak terlihat aktif, gembira, mata yang bersih dan bersinar, nafsu makan baik, bibir dan lidah terlihat segar, pernafasan tidak berbau, kulit dan rambut terlihat bersih serta dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi pada kenyataan tidak semua anak dapat melewati pertumbuhan dan perkembanganya secara optimal dan tidak semua anak berada dalam keadaan sehat. Hal tersebut dikarenakan gangguan kesehatan baik secara fisik maupun mental, salah satunya adalah autis (Faikoh, 2014).

Menurut data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization pada tahun 2011 prevalensi autis di seluruh dunia rata-rata 6 diantara 1000 orang (Wilingham dalam Lasombo, 2015). Angka kejadian autis belum ada yang pasti. Data autis seringkali didapat di rumah sakit, poliklinik, sekolah khusus, praktik dokter, atau institusi tertentu hanya sedikit data yang diperoleh dari suatu penelitian masyarakat. Penelitian yang dilakukan di Jepang terhadap 21.610 anak yang diikuti sejak lahir sampai umur 3 tahun, didapatkan 1,3 kasus autis per 1.000 anak. Hasil serupa juga didapatkan di Swedia, yaitu sekitar 1-2 per 1.000 anak menderita autis. Sementara di Amerika angka kejadian autis menurut penelitian di masyarakat pada tahun 1998 terhadap semua anak umur 3-10 tahun, didapatkan angka kejadian Pervasive Developmental Disorders (PDD) sebesar 6,7 kasus per 1.000 anak, autis 4 kasus per 1.000 anak, dan Pervasive Developmental Disorders Not Otherwise Specified (PDD-NOS) dan sindrom Asperger sekitar 2,7 kasus per anak. Belum ada penelitian khusus di Indonesia untuk mencari angka kejadian

(6)

2

autis tersebut, hanya dari pengamatan beberapa ahli, didapatkan kecenderungan peningkatan kasus yang ditangani (Soetjiningsih, 2013).

Peneliti melakukan kunjungan ke Pusat Layanan Autis Kota Denpasar yang merupakan sebuah lembaga pendidikan yang bergerak untuk menangani anak-anak berkebutuhan autis yang digagas Pemerintah Kota Denpasar pada tahun 2012 yang terletak di Jln. Mataram No.3 Kota Denpasar. Pada Pusat Layanan Autis Kota Denpasar tidak hanya menangani anak autis, namun juga menangani anak dengan down syndrome dan intelektual disabilitas. Usia anak yang ditangani di tempat ini mulai dari usia 4 tahun sampai dengan 22 tahun. Pusat Layanan Autis Kota Denpasar memiliki 10 kelas yang dibagi menjadi kelas biasa dan kelas terapis. Data anak autis dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar pada tanggal 23 September 2016 ditemukan adanya peningkatan jumlah anak autis. Angka kejadian anak autis pada Bulan Pebruari 2015 terdapat 57 anak dan sampai dengan Bulan September 2016 terdapat 77 anak autis, sehingga terjadi peningkatan jumlah anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar (Pusat Layanan Autis Kota Denpasar, 2016).

Autis merupakan gangguan perkembangan pada anak yang biasanya terjadi sebelum usia 3 tahun dan memiliki fungsi abnormal di 3 bidang yaitu komunikasi (verbal maupun nonverbal), interakasi sosial, dan perilaku. Gangguan perkembangan tersebut ditandai dengan ketidakmampuan anak dalam berkomunikasi, gangguan perkembangan bahasa, kesulitan mengekspresikan perasaan dan keinginan melalui bahasa verbal, serta kemampuan bersosialisasi dan kesulitan dalam melakukan kontak mata dengan orang lain (Muniroh, 2010; Rahayu, 2014). Menurut Diagnostic Statistical Manual IV (DSM IV) anak autis merupakan anak dengan kesulitan perkembangan otak yang dicirikan dengan adanya hambatan kualitatif dalam interaksi sosial, komunikasi, dan terobsesi pada satu kegiatan atau objek. Kesulitan perkembangan otak tersebut juga mempengaruhi banyak fungsi seperti persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling) (Mahmud, 2010).

Anak autis merupakan salah satu jenis anak dengan berkebutuhan khusus yang memiliki kebutuhan khusus juga (Sholihah, 2016). Kebutuhan khusus dari anak

(7)

3

autis yaitu optimalisasi tingkah laku positif, peningkatan kegiatan sehari-sehari, dan keterampilan dasar belajar. Pada pengoptimalan tingkah laku positif terdiri dari mengurangi atau menghilangkan tingkah laku yang tidak dikehendaki dan mengembangkan atau meningkatkan tingkah laku yang dikehendaki. Pada kegiatan sehari-hari seperti menolong diri (berpakaian, menyimpan pakaian bekas pakai atau sepatu, menyiapkan kebutuhan belajar seperti buku), merawat diri yang berhubungan dengan kebersihan diri (mandi, BAK, BAB, cuci tangan, atau gosok gigi). Pada keterampilan dasar belajar terdiri dari persepsi, pengembangan kemampuan pemusatan perhatian, motorik dan bahasa serta keterampilan membaca, menulis dan berhitung (Sugiarmin, 2010). Dari berbagai kebutuhan khusus dari anak autis, salah satu masalah yang dimiliki yaitu kurangnya kemampuan anak dalam mengontrol rasa ingin berkemih dan defekasi (BAB dan BAK) (Lestari, 2012).

Toilet training merupakan cara untuk melatih anak agar mampu mengontrol buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) serta mengajarkan anak untuk dapat membersihkan kotorannya sendiri dan memakai celana kembali, yang bertujuan untuk menanamkan kebiasaan dalam kebersihan diri (Faikoh, 2014). Penerapan toilet training akan tergantung pada tingkat kesiapan anak melakukan toilet training yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental, kesiapan psikologis, dan kesiapan orang tua (Wong, 2007). Memperkenalkan toilet training kepada anak autis sangatlah penting, karena toilet training merupakan hal yang mendasar atau merupakan suatu kegiatan yang harus dikuasai serta mampu dilaksanakan oleh setiap manusia. Perkenalan toilet training bagi orang tua yang memiliki anak autis bukanlah hal yang mudah, karena sifat rigid routines pada anak autis menyebabkan anak merasa kesulitan ketika memasuki kegiatan baru yaitu toilet training kedalam rutinitasnya (Lestari, 2012). Dampak kegagalan toilet training pada anak autis dapat menimbulkan hal-hal buruk di masa mendatang seperti anak akan mengalami masalah tidak dapat secara mandiri mengontrol BAB dan BAK. Kegagalan toilet training dapat menyebabkan anak mengalami enuresis atau mengompol (Aziz dalam Ningsih, 2012), dan kebiasaan BAB sembarangan (Maria, 2013). Keberhasilan toilet training pada anak autis dapat terwujud dengan adanya kerjasama yang saling mendukung antara program yang dilaksanakan di

(8)

4

sekolah serta program yang dilakukan di rumah. Selain itu, keberhasilan toilet training dipengaruhi oleh kesiapan pada diri anak dan keluarga (Retnosari, 2012). Peran orang tua sangat dibutuhkan oleh anak salah satunya adalah pola asuh orang tua yang diterapkan kepada anak autis (Mariana, 2013).

Orang tua dengan anak autis akan memerlukan penanganan khusus dibandingkan dengan anak normal baik dalam pembentukan kepribadian maupun pemenuhan kebutuhan sehari-hari dalam memberikan pola asuh (Dewi, 2013). Penerapan toilet training oleh orang tua dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pendidikan dan persepsi orang tua berpengaruh pada sikap toilet training orang tua pada anak. Tingkat pendidikan orang tua yang tinggi akan lebih perduli terhadap masalah kesehatan dan perkembangan anak. Sikap orang tua terhadap anak dilaksanakan dalam bentuk pola asuh (Suryabudhi, 2005). Pola asuh orang tua merupakan cara orang tua dalam mendidik untuk mempengaruhi anak mencapai suatu tujuan sehingga menumbuhkan perkembangan kepribadian pada anak (Rosyidi, 2015). Pola asuh orang tua secara umum dikelompokan menjadi 4 jenis yaitu pola asuh otoritatif, pola asuh otoritarian, pola asuh yang mengabaikan, dan pola asuh menuruti (Baumrid, 1971). Keempat jenis pola asuh tersebut melibatkan kombinasi antara penerimaan dan sikap responsif di satu sisi serta tuntutan dan kendali disisi lain, sehingga menghasilkan 3 jenis pola asuh orang tua yaitu pola asuh demokratis, pola asuh otoriter, dan pola asuh permisif (Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Pengasuhan dari orang tua penting terhadap keberhasilan dan kemandirian anak melakukan dan mampu mengontrol buang air kecil dan buang air besar. Bentuk pola asuh orang tua kepada anak kemungkinan menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dari toilet training pada anak autis (Retnosari, 2012).

Penelitian mengenai hubungan pola asuh orang tua terhadap keberhasilan toilet training pada anak autis sangat jarang dilakukan. Beberapa penelitian mengenai pola asuh orang tua dengan anak autis yaitu hasil penelitian yang dilakukan oleh Setyaningsih (2015) menunjukan bahwa ada hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan sosial anak autis di SLB Harmoni Surakarta. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Arifah (2011) menunjukan bahwa ada hubungan

(9)

5

antara pola asuh orang tua dengan interaksi sosial anak autis di SLB Negeri Semarang yang kekuatan kolerasinya sedang. Adapun penelitian mengenai toilet training pada anak autis seperti penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2012) yaitu setelah dilakukan penelitian tentang gambaran toilet training pada anak autis, karakteristik anak autis (usia, jenis kelamin, dan diit) dan strategi pelaksanaan toilet training menentukan pencapaian anak dalam melaksanakan toilet training.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis melakukan penelitian dengan mengambil judul, “Hubungan Pola Asuh Orang Tua terhadap Keberhasilan Toilet Training pada Anak Autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : “Adakah Hubungan antara Pola Asuh Orang Tua terhadap Keberhasilan Toilet Training pada Anak Autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar?”

1.3 Tujuan

Tujuan dari penelitian dibedakan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu :

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua terhadap keberhasilan toilet training pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi karakteristik anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

b. Mengidentifikasi pola asuh orang tua pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

c. Mengidentifikasi keberhasilan toilet training pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

(10)

6

d. Menganalisis hubungan pola asuh orang tua terhadap keberhasilan toilet training pada anak autis di Pusat Layanan Autis Kota Denpasar.

1.4 Manfaat

Manfaat yang ingin diperoleh dari hasil penelitian ini antara lain : 1.4.1 Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perawat dan orang tua untuk menambah pengetahuan mengenai toilet training pada anak autis dan meningkatkan kesadaran pada orang tua, khususnya pada orang tua tentang pola asuh orang tua terkait dengan toilet training pada anak autis.

1.4.2 Manfaat Teoritis

a. Manfaat bagi Tenaga Kesehatan

Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengembangkan ilmu keperawatan anak dan memberikan informasi tentang pola asuh yang tepat untuk diterapkan orang tua dalam keberhasilan toilet training pada anak autis.

b. Manfaat bagi Peneliti

Manfaat bagi peneliti yaitu menambah wawasan dan memberikan informasi atau data dasar bagi penelitian selanjutnya dan sebagai sumber informasi bahwa pentingnya pola asuh orang tua dengan keberhasilan toilet training pada anak autis.

Referensi

Dokumen terkait

Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada para peternak dan perusahan-perusahan pakan hewan tentang pengaruh pemberian

mengenai tingkat permasalahan kesehatan mental dan keterbatasan kehidupan sosial pada penderita akne vulgaris, dari 3775 sampel, prevalensi penderita akne vulgaris yang

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran tingkat kecemasan pada penderita KNF di RSUP Sanglah tahun 2016 secara umum serta berdasarkan jenis kelamin, usia dan

(2009) karena variabel Importance of the system pada penelitian Seddon and Kiew (1996) hanya berpengaruh terhadap kegunaan namun tidak berpengaruh terhadap kepuasan

Mengingat masih kerap terjadi kekambuhan pada ODGJ saat di rumah , yang mana kekambuhan terjadi akibat tidak stabilnya keadaan mental seseorang, dan beberapa penelitian

Untuk itu, tujuan utama penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jarak dari jalan terhadap keberadaan mamalia kecil di hutan pendidikan Wanagama I, dengan

Pengaruh kepemimpinan, partisipasi anggaran, budaya organisasi dan total quality management (TQM) terhadap kinerja keuangan koptan di Bali. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi tenaga pendidikan maupun tenaga kesehatan yang akan memberikan intervensi mengenai pendidikan kesehatan posisi