• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

5 2.1 Landasan Teori

2.1.1 Pengertian Earnings

Earning merupakan laba bersih setelah items luar biasa (extraordinary) dan discontinued operation (Syafriadi, 2000). Earnings masih diyakini sebagai salah satu alat yang andal bagi para pemakainya untuk mengurangi resiko ketidakpastian dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi. Pengujian tentang apakah earnings mempunyai kandungan informasi ternyata memberikan bukti yang mendukung bahwa earnings tidaklah berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi.

Dalam hal ini earnings dibagi menjadi dua, yaitu permanent earnings dan transitory earnings/ laba tidak kekal (Ramesh dan Thiagarajan, 1993). Disini penulis hanya membahas tentang transitory earnings.

2.1.2 Transitory Earning

Komponen Transitory Earning merupakan item-item yang irregular dan sifatnya tidak berulang. Definisi tersebut didukung oleh Nichols dan Wahlen (2004) yang mengartikan Transitory Earning sebagai item-item khusus yang bukan aktivitas terus menerus sehingga kecil kemungkinannya berpengaruh pada performa perusahaan di tahun berikutnya. Menurut Beaver et al (1979) yang dikutip oleh Ekawati (2005) komponen transitory hanya mempengaruhi earning masa kini, tidak pada expected future earnings. Transitory earnings terdiri dari beberapa komponen.

2.1.3 Komponen Transitory Earning

1. Extraordinary Item /pos luar biasa (PSAK 25)

Adalah semua unsur pendapatan dan beban yang tercakup dalam perhitungan laba rugi bersih untuk periode tertentu timbul dari aktivitas normal

(2)

perusahaan tersebut. Karenanya jarang sekali kejadian atau transaksi menimbulkan suatu pos luar biasa.

Extraordinary Item mempunyai dua kriteria:

• Bersifat tidak normal artinya, kejadian/transaksi yang memiliki tingkat abnormalitas yang tinggi dan tidak mempunyai hubungan dengan kegiatan normal perusahaan.

• Tidak sering terjadi artinya, kejadian/transaksi yang tidak sering terjadi dalam kegiatan normal perusahaan.

Penerapan kedua kriteria di atas harus selalu dihubungkan dengan sifat dan karakteristik dari kegiatan perusahaan serta faktor geografis perusahaan. Bila hanya salah satu kriteria tersebut terpenuhi, maka transaksi atau kejadian tersebut dikelompokkan sebagai penghasilan atau beban lain-lain.

Contoh: kerugian sebagai akibat gempa bumi, kebakaran atau banjir.

Kerugian tersebut setelah dikurangi dengan klaim asuransi, jika ada, disajikan sebagai unsur pos luar biasa laporan laba rugi.

2. Results From Discontinued Operations (PSAK 25)

Pelepasan suatu investasi jangka panjang atau aktiva utama lainnya adalah penting sehingga memerlukan pengungkapan atas unsur suatu penghasilan dan beban yang berkaitan. Ada kalanya suatu perusahaan tidak melanjutkan suatu lini usaha utama yang terpisah yang dapat dibedakan dari aktivitas usaha lain.

Hasil dari suatu operasi yang tidak dilanjutkan secara umum dimasukkan dalam laba/rugi dari aktivitas normal. Namun, dalam kondisi yang jarang terjadi dimana tidak dilanjutkannya operasi adalah hasil dari kejadian atau transaksi yang secara jelas terpisah dari aktivitas normal perusahaan dan karenanya tidak diharapkan untuk sering terjadi kembali atau terjadi kembali secara teratur, penghasilan atau beban yang timbul dari tidak dilanjutkannya operasi diperlakukan sebagai pos luar biasa.

3. Accounting Changes (Perubahan Akuntansi)

Tiga tipe dari accounting changes and errors di identifikasikan dalam APB No. 20 seperti:

a. Change in accounting principles: Tipe perubahan ini terjadi ketika suatu perusahaan mengadopsi General Accepted Accounting Principles (GAAP)

(3)

yang berbeda dari yang sebelumnya digunakan untuk tujuan pelaporan.

Contohnya termasuk perubahan dari biaya persediaan First In First Out (FIFO) ke Last In First Out (LIFO) atau dari garis lurus ke saldo menurun.

b. Change in accounting estimate: Perubahan ini adalah hasil dari penawaran periodik. Persiapan laporan keuangan meminta perkiraan dari kejadian- kejadian masa depan dan memperkirakan subyek review periodik.

c. Change in reporting entity: Perubahan tipe ini disebabkan oleh perubahan dalam unit laporan, yang mungkin hasil dari konsolidasi, perubahan dalam buku pembantu, atau perubahan jumlah konsolidasi perusahaan.

d. Errors: Error bukan merupakan perubahan akuntansi. Mereka adalah hasil dari kesalahan seperti penggunaan metode akuntansi yang salah.

2.1.4 Earnings Price Ratio

Menurut Zarowin (1990), Earning price ratio merupakan variabel yang penting karena dipercaya kalau earning price ratio mencakup penentuan resiko dan prospek pertumbuhan earnings per share (EPS) oleh pasar. Hal ini dikarenakan pasar akan meminta tarif diskon yang tinggi untuk earning masa depan yang lebih beresiko. Dan begitu pula sebaliknya, para investor akan membayar lebih untuk earnings dengan prospek pertumbuhan yang bagus.

E/P ratio yaitu menaksir harga masa kini dari saham pada nilai pasar dari pemilik perusahaan (Emery, 1998). Emery (1998), juga mendefinisikan E/P Ratio sebagai tingkat pengembalian pada nilai pasar atas modal pemilik. Oleh karena itu earning price ratio dapat digolongkan sebagai rasio pasar.

Rasio pasar tersebut mencerminkan penilaian pemegang saham terhadap kinerja masa lalu perusahaan dan harapan kinerja dimasa yang akan datang.

Earning price ratio berhubungan dengan perbandingan laba tahunan terhadap harga saham penutupan yang sebelumnya telah dikalikan dengan jumlah saham yang beredar.

Rumus yang digunakan untuk menghitung earning price ratio adalah:

E/P =

equity of

value Market

income

Net (2.1)

(4)

2.1.5 Sales Growth

Sales Growth adalah pertumbuhan laba perusahaan yang berkelanjutan ditandai dengan penjualan yang meningkat dan kesempatan untuk memanfaatkan kurva pengalaman untuk mengurangi harga pokok penjualan per unit, sehingga akhirnya menaikkan laba. Pengurangan biaya tersebut menjadi sangat penting apabila industri perusahaan adalah industri yang tumbuh dengan cepat dan pesaing-pesaingnya terlibat dalam perang harga untuk memperbesar pangsa pasar mereka (Wheelen et.al,1996) yang dikutip oleh Ekawati (2005).

Rumus yang digunakan untuk menghitung sales growth adalah:

Sales Growth = x100%

Lalu Tahun Penjualan

Lalu Tahun Penjualan ini

Tahun

Penjualan

(2.2)

2.1.6 Industry Median Earning Price (E/P) Ratio

Industry median ratio diperoleh dari transitory earning masing-masing perusahaan dikelompokkan berdasarkan jenis industri, kemudian dicari nilai tengahnya.

Selisih E/P rasio dengan E/P median digunakan untuk melihat apakah di dalam earnings terdapat komponen transitory earnings. Ada tidaknya komponen transitory dapat diindikasikan dengan naik turunnya earnings dari tahun ke tahun.

Menurut Ekawati (2005) industry median (E/P) ratio diukur dengan nilai tengah dari earning price ratio antara perusahaan dalam industri yang sama. Menurut Bajaj et. Al (2004) yang dikutip Ekawati (2005) bahwa industry earning dan industry median earning price (E/P) ratio digunakan untuk mengindikasikan tingkat normal dari earnings dan earning price (E/P) ratio.

2.1.7 Pengaruh Transitory Earnings terhadap Earnings Price Ratio

Komponen transitory earnings seperti extraordinary gains and losses, akan membuat relevansi dari sebuah earnings hilang dan membuat para investor kesulitan mengambil keputusan, karena earnings perusahaan akan berubah-ubah (naik/turun) yang disebabkan earnings price ratio yang juga berubah-ubah

(5)

(naik/turun). Jadi secara tidak langsung transitory earnings mempengaruhi perubahan earnings (Stunda et al, 2004) yang dikutip oleh Ekawati (2005).

Earnings price ratio yang dipengaruhi oleh komponen transitory earnings menyebabkan para investor harus membuat jurnal penyesuaian untuk mempertanggungjawabkan perubahan-perubahan items luar biasa.

Menurut Beaver et. al (1986) yang dikutip oleh Ekawati (2005) menyatakan bahwa komponen transitory earnings hanya berpengaruh pada earnings periode sekarang, tetapi tidak pada perkiraan earnings masa depan. Hal itu menyebabkan earning price ratio cenderung berubah dari tahun ke tahun berikutnya.

Selain itu, Beaver dan Morse (1978) sebagaimana dikutip oleh Ekawati (2005) mengemukakan bahwa saham dengan E/P ratio yang rendah (tinggi) di akhir tahun seringkali memiliki pertumbuhan earning yang rendah (tinggi) juga selama tahun tersebut dan memiliki pertumbuhan earning yang tinggi (rendah) di tahun berikutnya.

2.1.8 Pengaruh Sales Growth terhadap Earnings Price Ratio

Pertumbuhan earnings dari suatu perusahaan membuat earnings price ratio perusahaan juga meningkat. Beaver (1978), menyimpulkan bahwa tidak ada resiko ataupun pertumbuhan yang dapat menjelaskan perbedaan pada earnings price ratio diantara perusahaan, dan mengarahkan mereka untuk percaya bahwa kebanyakan sumber yang berbeda adalah variasi dari metode akuntansi. Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan cross sectional dalam pertumbuhan saham didominasi oleh perbedaan dalam earning price ratio.

Pertumbuhan yang berkelanjutan berarti penjualannya meningkat dan sebuah kesempatan untuk mengurangi harga pokok penjualan per unit, sehingga akhirnya dapat meningkatkan laba perusahaan (Wheelen et.al,1996) yang dikutip oleh Ekawati (2005). Pengurangan biaya tersebut sangat penting apabila industri perusahaan adalah industri yang tumbuh dengan cepat dan pesaing-pesaingnya terlibat dalam perang harga untuk memperbesar pangsa pasar mereka.

Dua strategi dasar pertumbuhan adalah : konsentrasi pada satu industri dan diversifikasi ke dalam industri lain. Apabila tingkat pertumbuhan industri sangat

(6)

menarik, pemusatan sumber daya alam industri tersebut terbilang masuk akal sebagai strategi untuk tumbuh. Namun apabila industri sekarang tidak lagi menarik, perusahaan mungkin harus mencoba melakukan diversifikasi keluar dari industri tersebut untuk mengejar pertumbuhan (Whellen et.al, 1996) yang dikutip oleh Ekawati (2005).

2.1.9 Regresi Linear Berganda 2.1.9.1 Umum

Dalam penelitian ini analisis regresi digunakan untuk mengetahui apakah ada pola hubungan yang dapat digambarkan secara matematis antara dua variabel atau lebih. Variabel yang digunakan ada dua macam:

a. Variabel independen (X), yaitu variabel yang mempengaruhi atau bebas karena dikendalikan oleh yang melakukan eksperimen.

b. Variabel dependen (Y), yaitu variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel independen (X).

Persamaan dari regresi linier berganda adalah:

Y = a + b1X1 + b2X2 +…..+ bnXn + e

Dimana: y = Variabel terikat (dependent variable) Xn = Variabel bebas (independent variables) ke n

a = Konstanta (intercept)

bn = Slope atau kemiringan atau koefisien dari variabel bebas ke n

2.1.9.2 Koefisien Korelasi Parsial (R)

R disini digunakan untuk mengukur dan mengetahui tingkat keeratan hubungan antara satu variabel terikat dengan variabel yang tidak terikat (bebas) secara bersama-sama. Angka R menunjukkan apakah hubungan antara variable terikat dan variable bebas itu kuat atau lemah. R mempunyai angka positif dan definisi kuat berarti jika R mempunyai nilai di atas 0,5 sedang definisi lemah adalah jika R mempunyai nilai di bawah 0,5.

2.1.9.3 Koefisien Determinasi Berganda (R2)

(7)

Dalam hal ini koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui kemampuan variable bebas dalam menerangkan variable terikat. Nilai R² terletak antara 0 dan 1. Jika R² = 1 berarti 100 persen total variasi variabel terikat diterangkan oleh persamaan garis regresi. Jika R² = 0 berarti tidak ada variasi terikat yang diterangkan oleh variabel bebas yang ada.

2.1.9.4 Standard Error Pendugaan (S)

Karena data dapat berubah dari satu sampai ke sample lain, maka penduga yang dihasilkan juga akan berubah. Karena itu diperlukan suatu perkiraan ketetapan pendugaan yang dalam statistik dikenal sebagai standard error pendugaan. Makin kecil S akan membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel terikat.

a. Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)

Uji F digunakan untuk mengetahui signifikan atau tidaknya pengaruh variabel bebas secara keseluruhan terhadap variabel terikatnya.

Hipotesis:

H0 = model regresi tidak bisa dipakai untuk memprediksi variabel terikat H1 = model regresi bisa dipakai untuk memprediksi variabel terikat Pengambilan keputusan:

• Jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima

• Jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak b. Uji Signifikansi Individual (Uji Statistik t)

Uji t adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh atau tingkat signifikan secara parsial konstanta dan setiap variabel bebas yang ada.

Hipotesis:

H0 = koefisien regresi tidak signifikan H1 = koefisien regresi signifikan

Pengambilan keputusan (berdasarkan probabilitas):

• Jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima

• Jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak

(8)

2.1.9.5 Uji Asumsi Klasik

Ada beberapa asumsi model klasik yaitu:

1. Multikolinieritas

Merupakan suatu keadaan dimana terdapat hubungan yang sempurna antara beberapa/semua variabel independen dalam model regresi.

Ada beberapa metode untuk mendeteksi adanya multikolinearitas:

a. Besaran VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinieritas adalah:

• Mempunyai nilai VIF di sekitar angka 1

• Mempunyai angka tolerance mendekati angka 1 b. Besaran korelasi antar variabel independent.

Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinieritas adalah:

• Koefisien korelasi antar variabel independen haruslah lemah (di bawah 0.5). Jika korelasi kuat maka terjadi problem multikolinieritas.

2. Heterokedastisitas

Berarti terdapat varian yang tidak sama dalam kesalahan pengganggu.

Pendeteksian adanya heterokedastisitas dengan melihat ada/tidaknya pola tertentu pada grafik. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu y, maka tidak terjadi heterokedastisitas.

3. Normalitas

Menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen, variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal/tidak.

Pendeteksiannya dilakukan dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik. Jika data menyebar jauh dan/di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

4. Autokorelasi

Untuk mengetahui apakah terdapat korelasi yang sempurna antara anggota- anggota observasi. Pendeteksiannya dengan menggunakan besaran Durbin Watson (D-W). Jika nilai D-W diantara -2 sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi.

(9)

2.2 Penelitian Terdahulu

Dalam earnings kemungkinan besar terdapat komponen transitory, salah satu contohnya yaitu pengakuan atas suatu transaksi periode yang lalu untuk periode sekarang. Komponen transitory muncul akibat adanya suatu perubahan metode akuntansi, adanya revaluasi, penjualan aktiva, adanya perjanjian hutang yang didasarkan pada earnings akuntansi yang dilaporkan, dan faktor-faktor lainnya yang membuat manajer terdorong untuk memanipulasi earnings.

Penelitian serupa telah dilakukan oleh Ekawati (2005) yang meneliti tentang apakah earnings yang dihasilkan oleh perusahaan mengandung komponen transitory earnings atau tidak, melihat apakah earnings price ratio perusahaan terpengaruh ketika terjadi perubahan transitory earnings, dan yang terakhir adalah untuk menguji apakah perbedaan earnings price ratio antar perusahaan disebabkan oleh perbedaan besarnya transitory earnings yang akan hilang di tahun berikutnya.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan earnings menunjukkan adanya komponen transitory dimana earnings price ratio perusahaan dipengaruhi secara positif oleh perubahan earnings. Variasi dari E/P ratio perusahaan dijelaskan oleh komponen transitory dari earnings, pola serangkaian waktu dari E/P ratio menggambarkan deviasi transitory yang disebabkan komponen transitory dari perubahan earnings. Studi ini juga memberitahukan kalau earnings price ratio median harus disesuaikan kalau earnings dalam perusahaan mempunyai komponen transitory earnings yang besar.

Persamaan antara penelitian ini dengan penelitian Ekawati (2005) adalah bahwa penelitian Ekawati juga menggunakan variable kontrol dalam penelitiannya. Variabel kontrol tersebut oleh penulis juga digunakan dalam penelitian ini. Variabel kontrol tersebut adalah, variabel Sales Growth dan Variabel industry median E/P ratio.

Perbedaannya adalah penelitian ini mengambil data laporan keuangan perusahaan non manufaktur dari Bursa Efek Surabaya (BES) dan sample yang diambil adalah 30 perusahaan dari tahun 1998-2004. Sedangkan penelitian yang dilakukan Ekawati (2005) mengambil data laporan keuangan perusahaan- perusahaan dari Bursa Efek Jakarta dari tahun 1993-2003, dengan sample 511.

(10)

2.3 Hipotesis

Penelitian Beaver et al. (1979) mengungkapkan bahwa perubahan persentase residual dalam earning berhubungan positif dengan persentase residual dalam harga. Dari besarnya perubahan harga saham menyatakan bahwa perubahan persentase harga saham lebih sedikit dibandingkan perubahan persentase earning.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian earning bersifat transitory, dan juga mereka menemukan bahwa earning tak terduga berlangsung lama. E/P ratio yang rendah akan mengakibatkan earning juga rendah.

Dengan ini penelitian ini penulis ingin menjelaskan hubungan earning price ratio dengan transitory earning. Maka terbentuklah hipotesis pertama sebagai berikut:

H1a: Dalam kondisi adanya perubahan transitory earnings, earnings price ratio akan berubah juga dikarenakan adanya perubahan earnings.

Ekawati (2005) mengatakan bahwa, diperkirakan terdapat variabel- variabel lain yang dapat mempengaruhi perubahan earning price ratio. Oleh karena itu dalam penelitiannya variabel sales growth digunakan sebagai variabel kontrol, untuk membuktikan bahwa apakah benar sales growth dapat mempengaruhi earning price ratio. Dalam penelitiannya diketahui bahwa sales growth dapat mempengaruhi earning dan apabila earning meningkat maka earning price ratio perusahaan akan berubah. Oleh karena itu penulis ingin menjelaskan atau mengetahui apakah variabel kontrol sales growth tersebut mempengaruhi perubahan earning price ratio.

H1b: Perubahan earning price ratio dipengaruhi oleh sales growth/pertumbuhan penjualan.

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaimana telah diatur dalam UU No 36 Tahun 2008 pasal 11 bahwa pengeluaran untuk mendapatkan manfaat, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat

Nilai Pasar didefinisikan sebagai estimasi sejumlah uang pada tanggal penilaian, yang dapat diperoleh dari transaksi jual beli atau hasil penukaran suatu

Apabila di kemudian hari karyawan tidak bekerja sesuai dengan harapan perusahaan maka dapat dilakukan penelitian dan pemeriksaan dokumen-dokumen dari karyawan yang

Namun pengertian dari rumah susun mengalami perkembangan, sebagaimana dikutip oleh Kuswahyono (2004, p.6), suatu pemilikan bangunan yang terdiri atas bagian-bagian yang

Secara umum minat dapat dikatakan sebagai dorongan yang datangnya dari dalam terhadap suatu barang dan jasa karena dia merasa bahwa barang atau jasa itu ada manfaatnya bagi

Hasil dari pengurangan antara PPh di bayar sendiri dengan kredit pajak II. Sebelum menghitung PPh yang harus di bayar tersebut , maka perusahaan harus melakukan koreksi fiscal

Demikian juga dengan laporan keuangan yang akan diterbitkan oleh suatu perusahaan, karena laporan keuangan juga adalah salah satu informasi penting yang akan

Investor dapat mengunci keuntungan dari kenaikan nilai aktiva bersih (NAB) yang disebabkan oleh keuntungan yang belum terealisasi dengan menjual unit yang dimiliki pada