ANALISIS KOREKSI FISKAL ATAS LAPORAN LABA RUGI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN DALAM MENETAPKAN PAJAK TERHUTANG PADA PT. ISWANTO DI MAKASSAR

Teks penuh

(1)

UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN DALAM MENETAPKAN PAJAK TERHUTANG PADA PT. ISWANTO DI MAKASSAR

PATRIA AYU PUTRI CAHYA 10573 02416 11

JURUSAN AKUNTASI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2015

(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji dan syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas skripsi ini yang berjudul “ANALISIS KOREKSI FISKAL ATAS LAPORAN LABA RUGI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN DALAM MENETAPKAN PAJAK TERHUTANG PADA PT. ISWANTO DI MAKASSAR”. Dimana skripsi ini disususn dengan tujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1) pada Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi.

Ucapan terima kasih yang teramat tulus dan penghargaan teristimewa penulis haturkan dengan hormat kepada Ayahanda Palopo dan Ibunda Cici Asneni yang telah memberikan segala doa, cinta, perhatian, kasih sayang, dorongan baik moroil maupun materil, mendidik dan membesarkan penulis dalam setiap langkah.

Semoga Allah SWT, berkenan memberikan taufik, merahamtinya, mengampuni dosa-dosanya, dan membalas semua jasanya dengan balasan yang terbaik di sisiNya.

Namun demikian penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak maka skripsi ini tidak akan selasai sebagaimana mestinya. Oleh karena itu memulai kesempatan ini penulis dengan penuh kerendahan hati menyampaikan terima kasih kepada:

(5)

1. Bapak Dr. Irwan A kib M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiya Makassar.

2. Bapak Dr. H. Mahmud Nuhung, MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Ismail Badollahi, SE.,M.Si.,Ak.CA selaku Ketua Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibu Nurniah SE.,M.Sa.,Ak.CA dan Bapak Amran, SE.,M.Ak.,Ak.,CA.

Selaku pembimbing I dan pembimbing II, yang telah banyak meluangkan waktunya dalam memberikan petunjuk dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini.

5. Bapak/Ibu Dosen Jurusan Akuntansi Faklutas Ekonomi dan Bisnis yang telah menyalurkan ilmunya secara ikhlas serta mendidik penulis.

6. Bapak/Ibu Karyawan dan Karyawati PT. Iswanto Di Makassar yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan informasi dan fasilitas dalam pengumpulan data yang bermanfaat. Terkhusus untuk Kak Mira yang banyak membantu penulis membeikan pengarahan dan mengajar penulis mulai dari proposal sampai skripsi ini selasai.

7. Sahabat-Sahabat Penulis Tercinta Second Family Nia, Maryam, Anto, Appy, Ally, Eda, Oda, Iri, Rudi, Midun, dan Sury persaudaraan yang terjalin tanpa ada ikatan darah, yang telah banyak memberikan semangat, motivasi dan dukungan dari awal kuliah sampai

(6)

penyelasaian skripsi ini. Terkhusus buat sahabat dan saudara penulis Alm. Azwar Jalil Yusuf yang telah bepulang ke rahmatullah pada 13 Mei 2015. Skripsi ini special penulis persembahkan untukmu saudaraku.

8. Rekan-rekan mahasiswa jurusan Akuntansi fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2011 atas segala bantuan dan kebersamaannya selama perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan serta keterbatasan ilmu dan kemampuan yang dimiliki penulis, diharapkan saran dan kritik untuk memperbaiki skripsi ini lebih baik agar dapat acuan penelitian selanjutnya.

Makassar,23 Agustus 2015

Penulis

(7)

Abstrak

Patria Ayu Putri Cahya.2015. Analisis Koreksi Fiskal Atas Laporan Keuangan Laba Rugi Berdasarkan Undang-Undang Perpajakan Dalam Menerapkan Pajak Terhutang Pada PT. Iswanto Di Makassar (Dibimbing Oleh Pembimbing 1: Nurniah, SE.,M.SA.,Ak.,CA dan Pembimbing 2 oleh Amran,SE.,M.Ak.,CA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pendapatan dan biaya yang disajikan oleh perusahaan telah sesuai dengan undang-undang perpajakan dan mengetahui kemungkinan adanya koreksi fiskal oleh perusahaan (positif/negative) terhadap laporan yang dibuat oleh perusahaan menurut undang-undang perpajakan Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis Deskriptif Kuantitatif yaitu merupakan penelitian yang termasuk dalam jenis penelitian kualitatif.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap fakta, keadaan, fenomena, variabel dan keadaan yang terjadi saat penelitian berjalan dan menyuguhkan apa adanya.

Penelitian deskriptif kualitatif menafsirkan dan menuturkan data yang terjadi di dalam masyarakat, pertentangan 2 keadaan atau lebih, hubungan antarvariabel, perbedaan antar fakta, pengaruh terhadap suatu kondisi, dan lain-lain. masalah yang diteliti dan diselidiki oleh penelitian deskriptif kualitatif mengacu pada studi kuantitatif, studi komparatif, serta dapat juga menjadi sebuah studi korelasional 1 unsur bersama unsur lainnya. Dari hasil pembahasan mengenai koreksi fiskal dan laporan laba rugi berdasarkan undang-undang Perpajakan dalam menetapkan pajak terhutang pada PT. Iswanto di Makassar, maka penulis menarik kesimpulan dari hasil analisa yaitu pada laporan keuangan menurut perusahaan, pajak yang dikeluarkan sebesar Rp 796.258.425 jauh lebih besar dibandingakan dengan laporan keuangan setelah dilakukan koreksi fiskal oleh fiskus sebesar Rp 706.548.938.

Kata Kunci: Laporan Laba/Rugi, Koreksi Fiskal (positive atau Negatif)

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGENTAR ... iii

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Masalah Pokok ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetian Akuntansi dan Laporan Keuangan ... 7

B. Pengertian Pajak dan Pajak Penghasilan ... 14

C. Pengertian Penghasilan Menurut SAK dan Undang-undang Perpajakan ... 20

D. Pengertian Biaya Menurut SAK dan UU Perpajakan ... 22

E. Pengahsilan Yang Tidak Dapat Ditambahkan dengan Penghasilan Bruto dan Biaya yang Tidak Dapat Dikurangkan ... 25

F. Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak ... 28

G. Pengertian Koreksi Fiskal ... 30

H. Penelitian Terdahulu ... 36

I. Kerangka Fikir ... 39

BAB III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 40

B. Metode Pengumpuan Data ... 40

C. Jenis Dan Sumber Data ... 40

D. Metode Analisis ... 40

BAB IV. GAMBARAN UMUM OBEK PENELITIAN 1. Sejarah Singakat PT. Iswanto ... 42

2. Gambaran Umum Kantor ... 43

3. Visi dan Misi Perusahaan ... 44

4. Tujuan Perusahaan ... 44

(9)

5. Struktur Organisasi ... 45 BAB V. PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Laporan Keuangan ... 57 B. Koreksi Fiskal Berupa Koreksi Positif dan Negatif ... 66 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 69 B. Saran-Saran ... 69 DAFTAR PUSTAKA ... 70

(10)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sejalan dengan perkembangan perekonomian sebagai hasil dari kegiatan pembangunan, maka negara membutuhkan dana yang bersumber dari pemerintah dalam negeri. Kebijaksanaan penerimaan negara ditujukan untuk mendorong pembangunan dunia usaha yang produktif dan memantapkan kestabilan ekonomi serta membiayai berbagai keperluan negara, baik pembiayaan rutin maupun pembiayaan pembangunan nasional demi terciptanya kesejahteraan rakyat dan menuju kemandirian bangsa. Untuk meningkatkan penerimaan Negara di sector perpajakan maka diperlukan suatu Undang-undang yang tepat, kesadaran dan kepatuhan wajib pajak serta aparat perpajakan yang cakap dan bersih. Salah satu usaha yang ditempuh pemerintah sehubungan dengan tujuan tersebut diatas adalah melakukan reformasi dibidang perpajakan dengan melakukan perubahan terhadap Undang-undang lama.

Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan telah beberapa kali diubah dan disempurnakan, yaitu dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991, Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 dan yang terakhir adalah Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan secara umum dijelaskan bahwa perubahan Undang- undang Pajak Penghasilan dimaksud tetap mempertahankan sistem self assessment. Undang-undang tersebut mengatur pengenan pajak penghasilan terhadap subjek pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau

(11)

diperolehnya dalam tahun pajak. Subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam Undang-undang tersebut disebut wajib pajak. Untuk lebih memberikan kemudahan kepada wajib pajak, sistem self assessment tetap dipertahankan namun dengan penerapan yang terus menerus diperbaiki. Perbaikan terutama dilakukan pada sistem dan tata cara pembayaran pajak dalam tahun berjalan agar tidak mengganggu likuiditas wajib pajak yang menjalankan usaha.

Wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas perlu didorong untuk melaksanakan kewajiban pembukuan dengan tertib dan tata asas.

Pajak Pengahasilan hanya dipungut pada tinggkat nasional. Oleh, karena itu, Pajak tersebut termasuk kelompok pajak Negara, dimana pajak penghasilan sebagai sumber pajak memberikan sumbangan paling banyak bagi Negara.

Penghasilan merupakan tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, bagi yang bersal dari Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan wajib pajak.

Besarnya pajak yang dikenakan dalam suatu periode tergantung pada besarnya penghasilan yang diperoleh seseorang, atau laba yang dihasilkan oleh perusahaan.

Laba yang dihasilkan oleh perusahaan adalah Laba Kena Pajak, dan Laba Kena Pajak dapat dihitung melalui 2 sistem pencatatan yaitu: sistem pencatatan pembukuan (secara Akuntansi) dan sistem norma perhitungan (secara Pajak).

Laba diperoleh perusahaan yang disajikan dalam Laporan Laba/Rugi biasanya pengakuannya berbeda dibandingkan ketentuan undang-undang perpajakan. Hal ini disebabkan karena pengakuan Laba kena Pajak dihitung berdasarkan ketentuan undang-undang perpajakan, sedangkan jumlah laba perusahaan ditentukan atas

(12)

dasar Standar Akuntansi Keuangan yang bersifat umum. Untuk dapat mengatasi masalah tersebut, maka diperlukan suatu koreksi yang disebut Koreksi Fiskal yang dilakukan oleh pihak pajak (Fiskus).

Koreksi Fiskal dilakukan karena terdapat perkiraan-perkiraan yang diperhitungkan dalam laporan laba rugi berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan tetapi tidak diperhitungkan menurut ketentuan Undang-undang perpajakan.

Sebaliknya adapula perkiraan-perkiraan yang diperhitungkan dalam laporan laba rugi menurut ketentuan undang-undang perpajakan tetapi tidak diperhitungkan dalam laporan laba rugi berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan, sehingga terhadap perkiraan-perkiraan tersebut dibuatkan Koreksi Fiskal.

Untuk itu objek yang diteliti dalam penelitian ini yaitu PT. Iswanto, dimana PT. Iswanto merupkan salah satu perusahaan distributor barang campuran yang menjual beberapa macam barang, seperti rokok, minyak, ikan kaleng madina dan masih banyak jenis barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Sebagai perusahaan yang memasarkan prodak rumah tangga sudah tentu barang-barang tersebut diminati oleh konsumen. oleh karena itu, bertambahnya jumlah konsumen (pelanggan) akan diikuti oleh kenaikan penjualan (Omset) ,dan kenaikan omset akan di Ikuti dengan kenaikan atau peningkatan laba dalam perusahaan. Dalam pencapaian laba adapula perkiraan-perkiran lain yang mempengaruhi kenaikan atau penurunan terhadap laba usaha diantaranya adalah biaya dan pendapatan seperti yang telah dikemukakan sebelumnya.

(13)

Maka dari itu PT. Iswanto juga memiliki berbagai macam perkiraan-perkiraan yang dalam Standar Akuntansi Keuangan di akui keberadaanya tetapi menurut Laporan Fiskal sebaliknya, diantaranya adalah Biaya Direksi yang didalam biaya direksi tersebut salah satunya terdiri dari biaya jamuan tamu (tanpa daftar nominatif) yang mana artinya dalam laporan keuangan komersial diakui sebagai biaya tetapi dalam pengoreksian fiskal pajak tidak mengakuinya sebagai biaya dikarenakan tidak bisa menunjukan daftar nominatif biaya jamuan. Karena biaya jamuan yang tanpa daftar nominatif tidak diperhitungakan sebagai biaya menurut Undang-undang Perpajakan.

Sedangkan ada pula pendapatan-pendapatan yang dimiliki PT. Iswanto yang keberadaanya dilampirkan dalam laporan keuangan komersial tetapi dalam Rekonsiliasi fiskal dianggap sudah dihitung tersendiri yang artinya pendapatan tersebut sudah tidak bisa dihitung kembali sebagai pendapatan yang harus dikenakan pajak kembali untuk kedua kalinya , misalnya: Pendapatan sewa bangunan yang mana PT. Iswanto memiliki bangunan yang disewakan kepada PT.

PMP yang hasil pendapatannya itu diakui atau dilampirkan dalam laporan keuangan komersial tetapi dalam laporan Koreksi Fiskal harus dikoreksi kembali karena biaya sewa telah dihitung tersendiri dalam PPh final (PPh pasal 23). Yang artinya didalam koreksi fiskal pendapatan sewa harus dikoreksi negatif dalam Rekonsiliasi Fiskal yang di lakukan oleh fiskus.

Penelitian yang dilakukan oleh Lownrensius, Haerani dan Ridwan (2012) diperoleh bahwa adanya perbedaan antara laba menurut akuntansi dan laba untuk tujuan perpajakan. Laba komersial untuk tahun 2011 sebesar Rp 705.218.989,

(14)

sedangkan laba fiskal sebesar Rp 769.709.997 dan pajak penghasilan terhutang pada PT Fajar Selatan.

Senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Lownrensius, Haerani dan Ridwan (2012), penelitian yang dilakukan oleh Dita dan Khairani (2012 diperoleh pelaksanaan pajak yang dilakukan oleh PT. Citra Karya Sejati belum maksimal dalam mengoreksi laporan keuangan komersial yang dimiliki berdasarkan pajak.

Dari nilai kurang bayar yang telah dilaporkan perusahaan untuk tahun 2011 sebesar Rp 176.614.600, setelah dikoreksi fiskal masih terdapat nilai kurang bayar yang harus dibayarkan kembali perusahaan sebesar Rp 142.789.000.

Bertitik tolak dari latar belakang tersebut, maka penulis tertarik dan terdorong untuk mengangkat judul Proposal “Analisis Koreksi Fiskal Atas Laporan Laba Rugi Berdasarkan Undang-Undang Perpajakan Dalam Menetapkan Pajak Terhutang Pada PT. Iswanto Di Makassar”.

B. Masalah Pokok

Memperhatikan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah “ Apakah pendapatan dan biaya yang diakui perusahaan dalam laporan laba rugi telah sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakan dalam menentukan jumlah pajak terhutang”

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

(15)

1. Untuk mengetahui apakah pendapatan dan biaya yang disajikan oleh perusahaan telah sesuai dengan undang-undang perpajakan.

2. Untuk mengetahui kemungkinan adanya koreksi fiskal (positif/negatif) terhadap laporan yang dibuat oleh perusahaan menurut undang-undang perpajakan.

2 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Memenuhi salah satu syarat Sarjana pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Memberikan masukan kepada pihak perusahaan tentang pendapatan dan biaya yang dapat diakui berdasarkan Undang- undang perpajakan.

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Akuntansi dan Laporan Keuangan 1. Pengertian Akuntansi

Akuntansi menyajikan informasi keuangan secara kuantitatif dan relevan kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pemakai informasi tersebut) dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi. Baik dalam mengukur keberhasilan operasi perusahaan, maupun membuat rencana di masa yang akan datang.

Pemimpin perusahaan memerlukan catatan dan laporan akuntansi, dalam menentukan sejauh mana hasil-hasil yang dicapai sesuai dengan rencana.

Menurut Nunu Hasanu (2011: 1) American Accounting Association memberikan pengertian akuntansi sebagai : Suatu proses mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi ekonomi untuk memungkinkan adanya penelitian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut.

Rahman Pura (2013:4) mengemukakan bahwa :“ Akuntansi adalah seperangkat pengetahuan yang mempelajari perekayasaan dalam penyediaan jasa, yang berupa informasi keuangan kuantitatif dari suatu unit organisasi dan cara penyampaian (pelaporan) informasi tersebut kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan ekonomi”

Tahapan kegiatan bisa dilaksanakan secara teoritis dan sistematis sehingga bisa menghasilkan informasi yang bedayaguna dan tepatguna. Dalam proses

(17)

kegiatannya akuntansi berdasrkan asumsi-asumsi tertentu. Dari asumsi ini timbul konsep dalam akuntansi. Konsep-konsep akuntansi adalah sebagai berikut:

1. Konsep Entitas Usaha (Accounting Entity Concept)

Perusahaan dipandang sebagai entitas terpisah dari pemilik, kreditur atau pihak yang berkepentingan lainnya.

2. Konsep Biaya/ Harga Pertukaran (Historical Cost Concept)

Akuntansi akan mencatat segala transaksi berdasarkan harga kesepakatan dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam membentuk kekayaan/ aktiva perusahaan. Harga kesepakatan bisa disebut sebagai harga perolehan.

3. Konsep Kontinyuitas Usaha (Going Concern Concept)

Dalam Akuntansi, perusahaan dipandang sebagai satuan ekonomi yang terus menerus melaksanakan fungsi-fungsinya dalam mencapai tujuan.

Perusahaan berlangsung terus tanpa ada maksud membubarkannya, sehingga informasi perusahaan perlu dipisah-pisah menjadi informasi periodik.

4. Konsep Pemanding (Matching Cost and Revenues)

Untuk menentukan laba dalam akuntansi dalam periode tertentu, maka pendapatan dan biaya harus ditandingkan atas dasar kelayakan ekonomik.

Oleh karena itu pengakuan pendapatan dan biaya atas dasar akrual (accrual basis)

5. Konsep pengukuran Uang (Money Measuring Unit)

Alat pengukur yang paling baik untuk aktiva, kewajiban dan ekuitas serta perubahan-perubahan yang terjadi didalamnya adalah uang. Laporan keuangan hanya mencakupi kegiatan yang dapat diukur dengan uang,

(18)

sehingga pencatatan transaksinya harus berdasarkan dokumen-dokumen asli.

6. Konsep periode Akuntansi.

Laporan keuangan harus dapat mencerminkan kondisi perusahaan dalam jangka waktu tertentu. Periode akuntansi atau biasa dikenal dengan istilah

“Tahun Buku” perusahaan. Menurut jangka waktunya, ada dua macam tahun buku, yaitu: 1) Periode 1 Januari s.d. 31 Desember dan 2). Periode 1 Agustus s.d. 31 Juli.

Dikarenakan laporan keuangan yang dibuat harus berdasarkan periode tertentu, tentunya dalam akuntansi terdapat dua (2) macam pengakuan terhadap pencatatan transaksi khususnya untuk perkiraan pendapatan dan biaya. Dua macam pengakuan tersebut harus dijadikan dasar dalam pencatatan akuntansi, diantaranya berdasarkan:

a. Cash Basis

Pada dasarnya pengakuan pendapatan dan biaya yang akan dilaporkan dalam laporan laba/rugi, pada konsep ini harus berdasarkan pada periode dimana kas diterima dan dikeluarkan.

b. Accrual Basis

Pengakuan transaksi untuk dicatat dalam akuntansi tanpa memberikan apakah kas telah diterima atau telah dikeluarkan pada periode tersebut.

Pendapatan dicatat pada saat jasa atau penjualan diberikan kepada pelanggan. Begitupun upah akan dicatat dengan tanpa memberikan apakah kas sudah dikeluarkan atau belum.

(19)

2. Laporan Keuangan

Kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan yang tercermin pada laporan keuangan perusahaan pada hakekatnya merupakan hasil akhir dari kegiatan akuntansi perusahaan yang bersangkutan. Informasi tentang kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan serta berguna bagi berbagai pihak, baik pihak-pihak yang ada dalam perusahaan maupun pihak-pihak yang berada diluar perusahaan.

Informasi yang berguna tersebut misalnya tentang kemampuan perusaahan untuk melunasi hutang jangka pendek, kemampuan perusahaan dalam membayar bunga dan pokok pinjaman, dan keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan besarnya modal sendiri.

Nunu Hasanu (2011:119) mengemukakan bahwa: Pada dasarnya laporan keungan merupakan hasil dari proses akuntansi yang bisa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara aktivitas perusahaan dengan pihak-pihak berkepentingan dengan aktivitas tersebut.

Raja Adri Satriawan Surya (2012:16) yang mengatakan bahwasanya: laporan Keuangan adalah suatu kajian terstruktur dari posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas suatu entitas.

Di antara berbagai laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan kepada pemegang saham. Laporan tahunan/ annual report adalah laporan yang paling penting. Laporan tahunan ini diterbitkan setiap tahun oleh perusahaan kepada para pemegang saham. Ada dua jenis informasi yang diterbitkan dalam laporan ini.

Pertama, adalah bagian verbal yang sering kali disajikan sebagai surat dari presiden direktur yang menguraikan hasil operasi perusahaan selama satu tahun lalu dan membahas perkembangan baru yang akan mempengaruhi operasi

(20)

perusahaan dimasa depan. Kedua, laporan tahunan yang menyajikan empat laporan keuangan dasar yaitu neraca, laporan laba/rugi, laporan laba ditahan dan laporan arus kas. Laporan-laporan ini menyajikan angka-angka akuntansi dari opersi dan posisi keuangan perusahaan. Data disajikan secara rinci dalam dua atau tiga tahun terakhir, bersama-sama dengan ikhtisar historis dari statistik operasi utama dalam lima atau sepuluh tahun.

Dengan mengenal laporan keuangan berarti kita mempunyai arah, mengetahui apa yang akan dicapai, mengetahui informasi apa yang harus disediakan (yang paling tidak harus sama dengan banyaknya rincian pos dalam laporan keuangan), dan akhirnya akan dapat membayangkan hubungan antara tempat mencatat atau alat pencatatan, yang disebut rekening, dengan informasi yang harus disajikan dalam laporan keuangan.

Tujuan akuntansi keuangan dan laporan keuangan menurut Akuntansi mempunyai tujuan utama adalah untuk memberikan Informasi ekonomi, antara lain tentang aktiva, hutang, modal, proyeksi laba serta perubahan aktiva dan hutang.

Nunu Hasanu (2011: 2) Informasi keuangan yang terkandung dalam laporan keuangan akan bermanfaat bila memenuhi karakteristik informasi yang berkualitas, antara lain:

1. Tujuan Umum

Tujuan Umum laporan keuangan yaitu:

a. Mengukur tingkat biaya dari berbagai aktivitas yang dilakuan perusahaan.

(21)

b. Untuk menetukan atau mengukur efisiensi tiap-tiap bagian, proses atau produksi serta menentukan derajat keuntungan yang dicapai perusahaan.

c. Untuk menilai dan mengukur hasil kerja tiap-tiap individu yang telah diberi wewenang dan tanggung jawab.

d. Untuk menentukan perlu tidaknya penggunaan kebijakan atau prosedur yang baru untuk mencapai hasil yang lebih baik

2. Tujuan Kuantitatif

Informasi keuangan akan bermanfaat bila dipenuhi ketujuh kualitas berikut:

a. Relavan

Relevan Informasi harus dihubungkan dengan maksud penggunaannya.

Bila informasi tidak relevan untuk maksud keperluan para pengambil keputusan, informasi demikian tidak akan nada gunanya.

b. Dapat dimengerti

Informasi harus dapat dimengerti oleh pemakainya dan dinyatakan dalam bentuk dan istilah yang sesuai dengan batas pengertian para pemakai.

c. Daya Uji

Informasi yang dihasilkan harus bisa diuji kebenarannya oleh para pengukur yang independen dengan menggunakan metode pengukuran yang sama untuk menghasilkan informasi yang dapat dipercaya. Artinya bahwa informasi yang dihasilkan harus berlandaskan pada realitas objektif dengan adanya bukti.

(22)

d. Netral

Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai dan tidak bergantung kepada kebutuhan dan keinginan pihak-pihak tertentu.

e. Tepat Waktu

Informasi harus disampaikan sedini mungkin supaya digunakan secepat mungkin dalam pengambilan keputusan manajemen.

f. Daya Banding

Format dari informasi harus konsisten dan berlaku umum, sehingga bisa dibandingkan, baik dengan informasi dari periode yang lalu maupun dari perusahaan yang sejenis.

g. Lengkap

Informasi akuntansi harus lengkap dengan meliputi seluruh data akuntansi keuangan, sehingga penerimaan informasi bisa memahami secara keseluruhan dan tidak mempunyai pemahaman yang salah atas informasi tersebut.

Analisis keuangan sangat bergantung pada informasi yang diberikan oleh laporans keuangan perusahaan. Laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu sumber informasi yang penting di samping informasi lain seperti informasi industri, kondisi perekonomian, pangsa pasar perusahaan, kualitas manajemen dan lainnya. Ada tiga macam laporan keuangan yang pokok dihasilkan, (1) Neraca, (2) Laporan laba/rugi, (3) Laporan aliran Kas. Disamping ketiga laporan pokok tersebut, dihasilkan juga laporan pendukung seperti laporan laba yang ditahan, perubahan modal sendiri, dan diskusi-diskusi oleh pihak manajemen.

(23)

B. Pengertian Pajak dan Pajak Penghasilan.

1. Pengertian Pajak

Saat ini pajak merupakan sumber peneriamaan Negara yang utama. Hal ini sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah yang menginginkan pembangungan nasional harus dibiayai dengan sumber dana yang berasal dari masyarakat. Pada masa yang lalu sumber penerimaan Negara yang utama adalah dari hasil penjualan minyak dan gas bumi. Apakah kita hanya mengendalikan penerimaan Negara dari minyak dan gas bumi saja, hal ini sangat membahayakan kelangsungan pembangunan nasional, karena sumber alam jumlahnya terbatas dan semakin lama makin berkurang yang pada akhirnya suatu ketika akan habis sama sekali.

Lain halnya apabila sumber dana tersebut digali dari masyarakat, sepanjang masyarakat dan kegiatan ekonominya masih ada, maka sumber dana tersebut akan tetap ada. Untuk meningkatkan penerimaan pajak tersebut perlu adanya kesadaran dari masyarakat akan kewajiban pajaknya. Karena pajak yang terkumpul tersebut akan dipergunakan untuk kepentingan dan kesejahteraan kita bersama.

Herry Purwono (2010:6) Leroy Beaulieu dalam bukunya yang berjudul Traite de la Science des Finances 1906 “Pajak adalah bantuan, baik secara langsung

maupun tidak yang dipaksakan oleh kekuasaan publik dari penduduk atau dari barang, untuk menutup belanja pemerintah”.

Mardiasmo (2011:1) Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.

Dari defenisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur :

(24)

1. Iuran dari rakyat kepada Negara yang berhak memungut pajak hanyalah Negara. Iuran tersebut berupang uang (bukan barang).

2. Berdsarkan undang-undang pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.

3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari Negara yang secara langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.

4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara, yakni pengeluaran- pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dari uraian diatas, fungsi pajak adalah hanya untuk mengisi kas Negara guna membiayai penyelengaraan pemerintah dan pembangunan. Selain dari fungsi budgetair tersebut sebenarnya pajak mempunyai fungsi yang lebih luas lagi yaitu fungsi mengatur (fungsi regurer). Penerapan fungsi mengatur dari pemungutan pajak dapat diterapkan dalam bidang ekonomi, moneter, sosial, budaya maupun politik.

Sistem pemungutan pajak pada dasarnya dibedakan menjadi tiga sistem yaitu:

a. Official assessment system

Sistem pemungutan pajak yang memberi kewenangan aparatur perpajakan untuk menentukan sendiri jumlah pajak yang terhutang setiap tahunnya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Dalam sistem ini, inisiatif serta kegiatan menghitung dan memungut pajak sepenuhnya berada di tangan para aparatur perpajakan.

(25)

b. Self Assesment System

Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang Wajib Pajak dalam menentukan sendiri jumlah pajak yang terhutang setiap tahunnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Dalam sistem ini, insiatif serta kegiatan menghitung dan memungut pajak sepenuhnya berada di tangan Wajib Pajak. Oleh karena itu, Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk:

1) Menghitung sendiri pajak yang terhutang;

2) Memperhitungakan sendiri pajak yang terhutang;

3) Membayar sendiri jumlah pajak yang terhutang;

4) Melaporkan sendiri jumlah pajak yang terhutang; dan 5) Mempertanggungjawabkan pajak yang terhutang;

c. With Holding System

Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak yang terhutang oleh Wajib Pajak sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Penunjukan pihak ketiga ini dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan perpajakan, keputusan presiden, dan peraturan lainnya untuk memotong dan memungut pajak, menyetor, dan mempertanggungjawabkan melalui sarana perpajakan yang tersedia.

Ditinjau dari sudut pembebanannya, pajak dibedakan menjadi pajak langsung dan pajak tidak langsung. Pajak langsung adalah jenis pajak yang bebannya ditanggung sendiri oleh si pembayarannya dan pengenaannya secara

(26)

berkala. Pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain dan pengenaannya secara insidentil.

Apabila ditinjau dari sudut wewenang pemungutannya, pajak dapat dibebankan menjadi pajak pusat dan pajak daerah. Pajak pusat yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat di mana hasilnya untuk membiayai pengeluaran pemerintah pusat sebagaimana tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pajak daerah adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah di mana hasilnya untuk membiayai pengeluaran pemerintah daerah sebagaimana tercantum dalam Anggaran pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

2. Pengertian Pajak Penghasilan

Dengan semakin pesatnya perkembangan sosial ekonomi sebagai hasil pembangunan nasional dan globalisasi serta reformasi di berbagai bidang, maka perlu dilakuakan perubahan undang-undang tersebut guna meningkatkan fungsinya dan peranannya dalam rangka mendukung kebijakan pembangunan nasional khususnya di bidang ekonomi.

Perubahan undang-undang pajak penghasilan tersebut dilakukan dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip perpajakan yang dianut secara universal, yaitu keadilan, kemudahan/efisiensi administrasi dan produktivitas penerimaan Negara setara tetap mempertaruhkan sistem self assessment. Oleh karena itu, tujuan dan arah penyempurnaan Undang-undang pajak penghasilan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Lebih mengigkatkan keadilan pengenaan pajak 2. Lebih memberikan kemudahan kepada Wajib Pajak

(27)

3. Menunjang kebijaksanaan pemerintah dalam rangka meningkatkan investasi langsung di Indonesia baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri di bidang-bidang usaha tertentu dan daerah tertentu yang mendapat prioritas.

Herry Purwono (2010:86) “Pajak penghasilan yaitu salah satu sumber penerimaan Negara yang berasal dari pendapatan rakyat, merupakan wujud kewajiban kenagaraan dan peran serta rakyat dalam pembiayaan dan Pembangunan Nasional”.

Siti Resmi (2014:74) Pajak Penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek Pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam satu tahun pajak.

Pajak Penghasilan dikenakan terhadap subjek pajak atas peghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam bentuk pajak. Yang menjadi subjek pajak adalah:

1. Orang pribadi, warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak.

2. Badan, terdiri dar PT, CV perseroan lainnya, BUMN, BUMD, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi, koperasi, yayasan atau organisasi yang sejenis, lembaga, dana pensiun, dan bentuk badan usaha lain.

3. Bentuk usaha tetap

Yang menjadi objek pajak penghasilan. Penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh, baik yang berasal dari

(28)

Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan.

Yang termasuk dalam pengertian penghasilan tersebut adalah:

1. Pengalihan atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh, termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya.

2. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan.

3. Laba usaha

4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta.

5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya.

6. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan lain karena jaminan pengembalian utang.

7. Deviden dengan nama dan dalam bentuk apapun 8. Royalty

9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta 10. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.

11. Keuntungan karena pembebasan utang

12. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing 13. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva 14. Premi asuransi, termasuk premi reasuransi

15. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan sepanjang iuran tersebut ditentukan berdasarkan volume usaha atau pekerjaan bebas anggotanya.

(29)

16. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari pengahsilan yang belum dikenakan pajak.

C. Pengertian Penghasilan Menurut SAK dan Undang-undang Perpajakan Penghasilan kena pajak atau laba fiskal (taxable profit) atau rugi pajak (tax loss) menurut PSAK (2004,PSAK No. 46.2 paragraf 07) adalah laba atau rugi selama satu periode yang dihitung berdasarkan peratuaran perpajakan dan yang menjadi dasar penghitungan pajak penghasilan.

Sedangkan menurut Undang-undang Perpajakan yang Sukrisno Agoes dan Estralita Trisnawati (2013: 209) Menurut Undang-undang PPh No. 36 Thn 2008, penghasilan yaitu setiap tambaha kemapuan ekonomi yang diterima/diperoleh WP, baik yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia yang dapat dipakai untuk konsumisi atau menambah kekayaaan WP yang bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk:

a. Penggatian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lainnya dalam Undang-undang ini;

b. Hadiah dan undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan;

c. Laba usaha;

d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk;

1. Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseoran, persekutuan dan beban lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal.

(30)

2. Keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan bada lainnya karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota;

3. Keuntungan karena likuiditas, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha;

4. Keuntungan karena pengalihan harta berupah hibah, bantuan atau sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keutungan lurus saru derajat, dan badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau perusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau pengusaha antara pihak-pihak yang bersangkutan;

e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya;

f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang;

g. Deviden, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk deviden dari perusahaan asuransi kepada pemegang polisi, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;

h. Royalty

i. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;

j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;

k. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah;

(31)

l. Keuntungan karena selisih kurs matau yang asing;

m. Selisih lebih karena penilain kembali aktiva;

n. Premi asuransi;

o. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;

p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak.

Pengertian penghasilan dalam undang-undang ini tidak memperhatikan adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan kemampuan ekonomis. Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan wajib pajak tersebut untuk ikut bersama-sama memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin dan pembangunan.

D. Pengertian Biaya menurut SAK dan UU Perpajakan.

Beban pajak (tax expanses) atau penghasilan pajak (tax income) menurut PSAK (2004,PSAK No. 46.2 paragraf 07) adalah jumlah agregat pajak kini (current tax) dan pajak tanggungan (deferred tax) yang diperhitungakan dalam penghitungan laba rugi atau rugi pada satu periode.

Sebelum menghitung penghasilan yang dikenakan pajak, wajib pajak terlebih dahulu akan menentukan jumlah penghasilan bruto kemudian menentukan pengurangan atau biaya/beban yang dipekerjakan menurut peraturan perundang- undangan perpajakan. Wajib pajak badan dan orang pribadi yang menggunakan pembukuan dalam menghitung pengahasilan netonya perlu memperhatikan

(32)

dengan seksama mengenai pengurangan atau biaya yang diperbolehkan tersebut.

Biaya-biaya atau pengeluaran yang dapat dikurangkan dari pengahasilan bruto dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu beban/biaya atau pengeluaran yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari satu tahun dan biaya/beban yang mempunyai masa manfaat lebih dari saru tahun. Beban/biaya atau pengeluaran yang mempunyai masa manfaat tidak lebih dari satu tahun merupakan biaya pada tahun yang bersangkutan, misalnya gaji, biaya administrasi dan Bunga, biaya rutin penglolahan limbah dan sebagainya. Pengeluaran yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun, pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau melalui amortisasi. Disamping itu, apabila dalam satu tahun didapat keuangan karena penjualan harta atau karena selisih kurs, maka kerugian-kerugian tersebut dapat dikurangakan dari penghasilan bruto.

Siti Resmi (2014:92) menjelaskan bahwa pengurangan atau biaya yang diperkenakan dikurangkan dari penghasilan bruto untuk menghitung besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak badan dan bentuk usaha tetap sesuai dengan pasal 6 UU No. 36 Tahun 2008 dan penjelasannya terdiri dari:

1. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegitan usaha, antara lain:

a. Biaya pembelian bahan

b. Biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang.

c. Bunga sewa dan royalty d. Biaya perjalanan

(33)

e. Biaya pengolahan limbah;

f. Premi asuransi

g. Biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri Keuangan;

h. Biaya administrasi;

i. Pajak kecuali Pajak Penghasilan;

2. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun;

3. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah dilaksanakan oleh Menteri Keuangan;

4. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan;

5. Kerugian selisih kurs mata uang asing;

6. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;

7. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan;

8. Piutang yang nyata tidak dapat ditagih, dengan syarat:

a. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;

b. Wajib pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jendral Pajak; dan

c. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instalasi pemerintah yang menangani piutang Negara; atau dana

(34)

perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/ pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus; atau adanya pengukuran dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu;

d. Syarat pada huruf c) tidak berlaku untuk penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil;

9. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah;

10. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;

11. Biaya pembangunan infrasturktur sosial yang ketentuannya diatur dengan peraturan pemerintah;

12. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan peraturan pemerintah;

13. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dalam peraturan pemerintah;

E. Penghasilan yang Tidak Dapat Ditambahkan dengan Penghasilan Bruto dan Biaya yang Tidak Dapat Dikurangkan

1. Penghasilan yang tidak Dapat Ditambahkan Dengan Penghasilan Bruto

Menurut Undang-undang Perpajakan tentang Pajak Pengahasilan, mengatakan bahwa pendapatan yang merupakan objek pajak dan bersifat final sebagaimana

(35)

diatur dalam Pasal 4 Ayat 2 Undang-undang Pajak Penghasilan menyatakan bahwa penghasilan yang tidak dapat ditambahkan dengan penghasian bruto antara lain:

1. Pengahasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang Negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi.

2. Penghasilan berupa hadiah undian

3. Pengahasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivative yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaan modal ventura;

4. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/ atau bangunan, usaha jasa kontruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan/atau bangunan; dan

5. Pengahasilan tertentu lainnya;

2. Biaya Yang Tidak Dapat Dikurangkan dengan Penghasilan Bruto Biaya-biaya yang tidak boleh dikurangkan( non deductible expanses) dan penghasilan bruto. Hal ini tercantum dalam Pasal 9 yang berbunyi : “Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan:

1. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti deviden, termasuk deviden yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polisi, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;

(36)

2. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham,sekutu, atau anggota;

3. Pembentukan atau penumpukan dana cadangan, kecuali;

a. Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang mengeluakan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang;

b. Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang dibentuk oleh badan Penyelengara Jaminan Sosial;

c. Cadangan penjaminan untuk lembaga penjamin simpan Pinjam;

d. Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;

e. Cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan f. Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan

limbah industri untuk usaha pengolahan limbah industri;

4. Premi asuransi kesehatan,asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa, yang dibayar oleh wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan;

5. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;

(37)

6. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan;

7. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagai mana dimaksud pada pasal 4 ayat (3) kecuali sumbangan yang dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) zakat yang diterima oleh Badan amil Zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang di akui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk dan disahkan oleh pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan peraturan pemerintah;

8. Pajak pengahasilan;

9. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untu kepentingan pribadi Wajib pajak atau orang yang menjadi Tanggungannya;

10. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseorangan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham;

11. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sangsi pidana berupa benda yang bekenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang perpajakan.

F. Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak

Pemungutan pajak tidak terlepas dari keadilan. Dengan keadilan dapat diciptakan keseimbangan sosial yang sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat. Dalam menetapkan tarif harus mendasarkan pada keadilan. Dalam penghitungan pajak yang terutang digunakan tarif pajak

(38)

Sturktur tarif yang berhubungan dengan pola persentse tarif pajak dikenal empat macam tarif:

1. Tarif pajak proporsional/sebanding

Tarif pajak proporsonal yaitu tarif pajak yang berupa persentase tetap terhadap jumlah berapa pun yang menjadi dasar pengenaan pajak.

2. Tarif pajak Progresif

Tarif pajak progresif adalah tarif pajak yang persentasenya menjadi lebih besar apabila jumlah yang menjadi dasar pengenaanya semakin besar.

Sebagai contoh, tariff pajak pengahasilan yang berlaku di Indonesia untuk wajib pajak badan yaitu:

 Rp 0 s.d Rp 50.000.000,00 Tarif 5%

 Di atas Rp 50.000.000,00 s.d Rp 250.000.000,00 Tarif 15%

 Di atas Rp 250.000.000,00 s.d Rp 500.000.000,00 Tarif 25%

 Di atas Rp 500.000.000,00 Tarif 30%

Dengan memperhatikan kenaikan tarifnya, tarif progresif dapat dibagi menjadi:

a. Tarif progresif progresif

Dalam hal ini kenaikan persentase pajaknya semakin besar.

b. Tarif progresif tatap

Kenaikan persentasenya tatap c. Tarif progresif degresif

Kenaikan persentasenya semakin kecil 3. Tarif Pajak degresif

(39)

Tarif pajak degresif adalah persentase tarif pajak yang semakin menurun apabila jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajak menjadi semakin besar.

4. Tarif Pajak Tetap

Dalam tarif pajak tetap ini adalah tarif berupa jumlah yang tetap (sama besarnnya) terhadap berapapun jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajak. Oleh karena itu, besarnya pajak yang terhutang tetap.

G. Pengertian Koreksi Fiskal

Laporan Keuangan disusun berdasarkan prinsip akuntansi dan dimaksudkan untuk keperluan berbagai pihak, artinya, laporan yang disusun dengan prinsip akuntansi bersifat netral atau tidak memihak. Sering juga laporan keuangan ini dinamakan laporan keuangan komersial.

Sukrisno Agoes dan Estralita Trisnawati (2013:237) mengemukakan bahwa laporan keuangan fiskal adalah yang laporan disusun khusus untuk kepentingan perpajakan dengan mengindahkan semua peraturan perpajakan maka laporan itu dinamakan laporan keuangan fiskal. Laporan keuangan komersial dapat juga diubah menjadi laporan keungan fiskal dengan melakuan koreksi seperlunya atau penyesuaian dengan peraturan perpajakan.

Adanya perbedaan permanen dan sementara menyebabkan laporan keuangan komersial dan laporan keungan fiskal tidak sama. Rincian perbedaan tersebut diungkapkan dalam rekonsiliasi laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal. Apabila wajib pajak berkeinginan untuk menyusun laporan

(40)

keuangan fiskal maka hal-hal yang perlu tercakup dalam laporan keuangan fiskal terdiri dari:

1. Neraca fiskal

2. Perhitungan laba rugi dan perubahan laba ditahan 3. Penjelasan laporan keuangan fiskal

4. Rekonsiliasi laporan keuangan komersial dan laporan keungan fiskal 5. Ikhtisar kewajiban pajak

Untuk memudahkan wajib pajak, menyusun laporan keuangan fiskal, berikut ini dijelaskan hal-hal yang menyangkut neraca fiskal dan perhitungan laba rugi fiskal.

1. Neraca Fiskal

Neraca fiskal adalah laporan yang menggambarkan posisi keuangan yang terdiri dari harta, hutang, dan modal pada tanggal penutupan buku yang disusun dari pembukuan wajib pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dan sesuai dengan Prinsip Akuntansi Indonesia.

Dalam laporan keuangan komersial, neraca didefenisikan sebagai laporan yang menggambarkan posisi keuangan yang terdiri dari harta, hutang, dan modal pada tanggal penutupan buku. Jadi, pengertian dan konsep penyusunan laporan keuangan antara laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal tidak jauh berbeda.

Perbedaanya hanyalah adanya keharusan pada neraca fiskal yang mengungkap utang piutang dalam hubungan istimewa.

(41)

2. Perhitungan laba rugi

Perhitungan laba rugi fiskal adalah laporan yang menggambarkan hasil usaha atau pekerjaan wajib pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dan dengan Prinsip Akuntansi Indonesia.

Dalam menyajikan perhitungan laba rugi fiskal ada enam hal yang perlu diperhatikan yaitu:

a. Harus dipisahkan antara penghasilan dan biaya dalam rangka usaha dengan penghasilan dan biaya di luar usaha.

b. Harus memuat unsur-unsur penghasilan dan biaya wajib pajak.

c. Rincian penghasilan dilakukan menurut sifat atau jenis penghasilan. Rincian biaya dilakukan menurut sifat atau tujuan biaya.

d. Disusun dalam bentuk urutan ke bawah.

e. Laba bersih mencerminkan seluruh pos laba dan rugi selama satu tahun.

f. Koreksi masa lalu yang tidak mempengaruhi perhitungan pajak tahun sebelumnya disajikan sebagai penyesuaian atas saldo laba ditahan sehingga tidak memerlukan perbaiakan SPT yang lalu.

3. Rekonsiliasi laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan fiskal

Seperti telah dijelaskan bahwa laporan keuangan fiskal dapat berbeda dengan laporan keuangan komersial. Perbedaan tersebut terjadi karena perbedaan pengakuan penghasilan dan biaya, seperti berikut ini:

(42)

a. Beda Waktu

Beda waktu adalah perbedaan waktu pengakuan pendapatan dan beban (biaya) tertentu menurut akuntasi dengan ketentuan perpajakan. Perbedaan ini mengakibatkan penggeseran pengakuan penghasilan dan biaya antara satu tahun pajak ke tahun pajak lainnya.

b. Beda tetap

Beda tatap adalah perbedaan pengakuan suatu penghasilan atau biaya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dengan prinsip akuntansi yang sifatnya permanen.

Dengan arti lain, suatu penghasilan atau biaya tidak akan diakui untuk selamanya dalam rangka menghitunga penghasilan kena pajak.

Koreksi fiskal dapat berupa koreksi positif dan negative. Koreksi posotif terjadi apabila pendapatan menurut fiskal bertambah.

a. Koreksi Positif

Koreksi positif biasanya dilakukan akibat adanya:

1. Beban yang tidak diakui oleh pajak (non deductible expenses).

2. Penyusutan komersial lebih besar dari penyusutan fiskal.

3. Amortisasi komersial lebih besar dari amortisasi fiskal.

4. Penyesuaian fiskal positif lainnya.

b. Koreksi Negatif

Koreksi negative terjadi apabila pendapatan menurut fiskal berkurang.

Koreksi negative biasanya dilakukan akibat adanya:

(43)

1. Penghasilan yang tidak termasuk objek pajak.

2. Penghasilan yang dikenakan PPh Final.

3. Penghasilan komersial lebih kecil daripada penyusutan fiskal.

4. Penyusutan komersial lebih kecil daripada amortisasi fiskal.

5. Pengalihan yang ditangguhkan pengakuan.

6. Penyesuaian fiskal negative lainnya.

Contoh Soal 1:

PT. Fast maminta bantuan Anda menyusun rekonsiliasi fiskal berdasarkan data laporan keuangan tahun 2006 berikut (dalam rupiah)

(44)

PT. Fast

Konsiliasi Fiskal Tahun 2006 (dalam ribuan rupiah)

Menurut Akuntansi

Koreksi Fiskal Menurut

Fiskal Keterangan Positif Negatif

Penjualan/ Peredaran Usaha 1.250.000 - - 1.250.000

/- HPP (500.000) - - (500.000)

Pengahasilan Bruto Usaha 750.000 - - 750.000

Biaya Operasional

Gaji 55.000 - - 55.000

Tunjangan Transport karyawan 45.000 - - 45.000

Biaya makan Kantor 6.000 - - 6.000

B. Pengobatan 20.000 20.000 - 0

Pasal 9 Ayat 1 UU PPh

Biaya training karyawan 15.000 - - 15.000

Biaya seragam karyawan 12.000 - - 12.000

Pasal 9 Ayat 1 UU PPh

Sanksi administrasi pajak 10.000 10.000 - 0

Biaya pengangkutan 4.500 - - 4.500

Biaya bunga pinjaman 7.000 - - 7.000

Cadangan penghapusan

piutang 5.000 5.000 - 0

Pasal 9 Ayat 1 UU PPh

Biaya jamuan tamu tanpa

daftar 10.000 10.000 - 0

Biaya Listrik dan telpon 24.000 - - 24.000

Penyusutan aset tetap 40.000 5.000 - 35.000 Pasal II UU PPh

Premi Asuransi kebakaran 10.000 - - 10.000

Sumbangan HUT RI 5.000 5.000 - 0

Pasal 9 Ayat 1 UU PPh

Total Biaya (271.500) 55.000 - (216.500)

Pengasilan Neto dari Usaha 478.500 55.000 533.000

penghasilan dari luar usaha -

Deviden dari PT Jaya 85.000 15.000 - 100.000

Pasal 4 Ayat 1UU PPh

Sewa kendaraan Box 9.700 300 10.000

Pasal 4 Ayat 1 UU PPh

keuntungan selisih kurs 5.000 - - 5.000

Penerimaan Pengalihan PBB

yg

Telah dibebankan 5.000 - 2.000 5.000

Jasa giro Bank Mandiri 2.000 - 2.000 0

Pasal 4 Ayat 2 UU PPh

Total Phs dr luar Usaha 106.700 15.300 - 120.000

Biaya dari luar Usaha - - 2.000 -

Laba Bersih Sebelum Pajak 585.200 70.300 653.500

(45)

H. Penelitian Terdahulu

Peneltian ini merujuk pada 2 penelitian sebelumnya, adapun penelitian terdahulu yaitu:

1. Peneltian yang dilakukan oleh Lownrensius, Haerani dan Ridwan (2012) diperoleh bahwa adanya perbedaan antara laba menurut akuntansi dan laba untuk tujuan perpajakan. Laba komersial untuk tahun 2011 sebesar Rp 705.218.989, sedangkan laba fiskal sebesar Rp 769.709.997 dan pajak penghasilan terhutang pada PT Fajar Selatan.

2. Dita dan Khairani (2012 diperoleh pelaksanaan pajak yang dilakukan oleh PT. Citra Karya Sejati belum maksimal dalam mengoreksi laporan keuangan komersial yang dimiliki berdasarkan pajak. Dari nilai kurang bayar yang telah dilaporkan perusahaan untuk tahun 2011 sebesar Rp 176.614.600, setelah dikoreksi fiskal masih terdapat nilai kurang bayar yang harus dibayarkan kembali oleh perusahaan sebesar Rp 142.789.000.

(46)

Sehingga dari penjelasan diatas Nampak pada table dibawah ini :

No Nama Peneliti Tahun Judul Penelitian

Metodoloy Hasil penelitian

1 Gracia Stephani Lauwrensius, Siti Khaerani, M Ridwan

2012 Analisis Penerapan Laporan Rekonsiliasi Fiskal Terhadap Laporan Keuangan Komersial Pada PT. Citra Karya

Sejati Palembang

Metodologi yang penulis guanakan adalah analisis data dan metode deskriktif

Adanya

perbedaan antara laba menurut akuntansi dan laba untuk tujuan perpajakan. Laba komersial untuk tahun 2011 sebesar Rp 705.218.989, sedangkan laba fiskal sebesar Rp 769.709.997 dan pajak

penghasilan terhutang pada PT Fajar Selatan 2 Irene Maria

Dita,

Siti Khairani

2012 Rekonsiliasi Fiskal Atas Laporan Keuangan Komersial Menjadi Laporan Keuangan Fiskal Untuk Menghitung PPh Badan

Dan dalam

penelitian ini peneliti

menggunakan metode deskriptif yaitu

menggambarkan

pelaksanaan pajak yang dilakukan oleh PT. Citra Karya Sejati belum maksimal dalam mengoreksi

(47)

Terhutang Pada PT Fajar Selatan Palembang

masalah yang sebenarnya terjadi

laporan keuangan komersial yang dimiliki

berdasarkan pajak. Dari nilai kurang bayar yang telah dilaporkan

perusahaan untuk tahun 2011 sebesar Rp 176.614.600, setelah dikoreksi fiskal masih terdapat nilai kurang bayar yang harus dibayarkan kembali oleh perusahaan sebesar Rp 142.789.000.

(48)
(49)

I. Kerangka Fikir

Dalam penelitian ini yang menjadi kerangka pemikirannya berdasarkan latar belakang, konsep , dan landasan teori maka dapat diuraikan kerangka pemikiran sebagai berikut:

Gambaran kerangka Pemikiran

J.

K.

L.

M.

N.

O.

LAP. Keuangan PT. Iswanto

Lap. Keuangan lA Fiskal

Lap. Keuangan Komersial

(1) Indentifikasi Perhitungan penyusutan

(2) Indentifikasi Tarif penyusutan (3) Cadangan Kekrugian Piutang (4) Penghapusan piutang (5) Biaya yag tidak boleh

dibebankan

(6) Pendapatan yang dikenakan pajak final

(1) Neraca

(2) Laporan laba rugi

(3) Laporan Perubahan Ekuitas (4) Laporan arus kas

(5) Catatan atas laporan keuangan

PERBANDINGAN

Pajak Yang dibayarkan PT. Iswanto

(50)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Perusahaan yang menjadi objek penelitian penulis adalah di Kota Makassar tapatnya pada PT. Iswanto di Makassar yang berlokasi di Jl.A.P. Pettarani No. 21 Makassar. Adapun waktu penelitian yang dilakukan selama 2 bulan, dari bulan April s/d Mei.

B. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

 Dokumentasi, yaitu penelitian yang dilakukan dengan jalan

mengumpulkan dokumen-dokumen perusahaan yang berhubungan dengan penelitian ini.

C. Jenis dan Sumber Data

Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

 Data kuantitatif adalah jenis data yang berupa angka-angka, laporan, serta dokumen yang diperoleh dari perusahaan.

D. Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis Deskriptif Kuantitatif yaitu merupakan penelitian yang termasuk dalam jenis penelitian kualitatif.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap fakta, keadaan, fenomena, variabel

(51)

dan keadaan yang terjadi saat penelitian berjalan dan menyuguhkan apa adanya.

Penelitian deskriptif kualitatif menafsirkan dan menuturkan data yang

terjadi di dalam masyarakat, pertentangan 2 keadaan atau lebih, hubungan antarvariabel, perbedaan antar fakta, pengaruh terhadap suatu kondisi, dan lain- lain. masalah yang diteliti dan diselidiki oleh penelitian deskriptif kualitatif mengacu pada studi kuantitatif, studi komparatif, serta dapat juga menjadi sebuah studi korelasional 1 unsur bersama unsur lainnya.

(52)

BAB IV

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

A. Gambaran Umum PT. Iswanto Makassar 1. Sejarah Singkat Perusahaan

PT. Iswanto Makassar merupakan perusahaan swasta yang bergerak di bidang perdagangan. Kantor pusat PT. Iswanto Makassar beralamat di jalan Andi Pangeran Pettarani No. 21, Telp (0411) 832025 Makassar.

PT. Iswanto Makassar adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan umum dan keagenan, kecuali agen perjalanan. Pada saat pendirian, perusahaan ini bernama PT. Iswanto didirikan Pada tanggal 15 April 1985 berdasarkan akte pendirian No. 10606 di depan notaries Sitse Lamowa, S.H, yang disahkan oleh Menteri Kehakiman RI No.

C2.5403HT.01.01 tahun1985 tertanggal 27 Agustus 1985 dengan modal awal yang diisetor sebesar Rp. 500.000.000,- yang terdiri dari 500 lembar saham dengan nilai nominal Rp. 1000.000,-. Pada awal berdirinya perusahaan ini berkedudukan di jalan Nusantara No. 70 makassar serta hanya terbatas pada bidang usaha di daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Namun pada perkembangan selanjutnya PT. Iswanto senantiasa terus mengadakan pembenahan dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi di daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, maka berdasarkan

(53)

pertimbangan manajemen agaknya perlu untuk mencari posisi yang lebih memudahkan pengangkutan guna mendukung kemungkinan ekspansi, sehingga pada tahun 1995 alamat kantor perusahaan dipindahkan ke jalan Andi Pangeran Pettarani No.21 Makassar menempati gedung berlantai tiga yang dijadikan ruang kantor dan costumer service hingga sekarang ini.

2. Gambaran Umum Kantor

Tingginya animo pelanggan untuk melakuakan transaksi pembeli barang- barang kebutuhan saat ini membuat PT. Iswanto Makassar yang berpusat di jalan Andi Andi Pangeran Pettarani No.21 Makassar. Memilih didaerah selatan kota merupakan pilihan yang tepat karena sangat strategis yang mana tempatnya berada ditengah-tengah kota. Mahasiswa dari kampus manapun yang ingin melakukan kuliah kerja profesi (KKP) atau yang ingin melakukan penelitian selalu disambut positif. PT. Iswanto Makassar memiliki tiga lantai yang dimana lantai pertama digunakan untuk tempat penerimaan data transaksi penjualan maupun pembelian dan sebagai ruang kantor kepala personalia dan lantai dua digunakan sebagai bagian ruang rapat dibagian pojok kanan dan masing-masing ruangan memiliki kamar mandi, dan bagian belakang lantai dua ada dapur, juga digunakan sebagai tempat tempat kantor dan lantai ke tiga digunakan sebagai tempat para petinggi Kantor dan para direktur maupun para manajer, dan memiliki masing-masing kamar mandi.

(54)

3. Visi dan Misi Perusahaan a. Visi

Menjadi mitra utama bagi semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, agar mampu bersaing dengan bangsa-bangsa maju di dunia, khususnya dalam pendistribusian produk, yang akan kami capai melalui kepemimpinan setiap segmen pasar tempat kami bersaing.

b. Misi

1) Memberikan solusi kepada setiap orang yang mencari dan menginginkan produk sesui keinginan.

2) Kami akan menyediakan produk dan layanan yang memenuhi standar yang mampu kami capai dalam industri dimana kami bersaing.

3) Kami ingin memastikan bahwa semua pihak yang berhubungan dengan kami dapat merasakan dan menerima mamfaat positif dengan kehadiran kami dalam bisnis ini.

4) Menghasilkan tingkat pengembalian yang wajar atas resiko modal dan investasi yang dihadapi oleh para pemegang saham, meningkatkan kekayaan perusahaan, menjadi sumber kemakmuran bagi orang-orang yang bekerja pada kami.

4. Tujuan Perusahaan

Komitmen PT. Iswanto Makassar tampak dengan misinya melayani pendistribusian produk, sebagai ”pelayan”. PT. Iswanto Makassar berupaya cepat tanggap terhadap arus reformasi penjualan. Untuk itulah revisi, pembaharuan, dan pendistribusian produk terus dilakukan.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :