YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA
PEMIKIRAN SOEKARNO Perspektif
Fasihin, M.Hum
Tentang Islam Nasionalime
PERSPEKTIF PEMIKIRAN SOEKARNO TENTANG ISLAM NASIONALISME
©Fasihin, M.Hum
Cetakan I : September 2018
ISBN : 978-602-51516-9-9
Halaman dan Ukuran : xii + 184 hlm (15,5 cm x 23 cm) Layout & Desain : Rohul Reang
Hak cipta dilindungi undang-undang All Rights Reserved
Dilarang mereproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin tertulis dari penulis dan penerbit.
Diterbitkan oleh:
YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA
Jl. Taman Amir Hamzah No. 5 Pegangsaan Menteng Jakarta Pusat DKI. Jakarta Telp. 021-3906501
Kata Pengantar
Patut kita syukuri kurnia dan hidayah dari Allah SWT, bahwa Revolusi Indonesia dibawah pimpinan Soekarno sebagai Presiden dan Pemimpin Besar Revolusi, disamping dengan hebatnya ‚reject‛ yesterday and build, tomorrow‛ mengenai proyek-proyek besar di bidang politik, ekonomi, hubungan antar bangsa, keolahragaan dan lain-lain sebagainya, hingga melahirkan timbulnya Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Pembangunan menurut Pola Sosialisme Indonesia, serta cita-cita “The New Emerging Forces”, juga Revolusi Indonesia, di bawah pimpinan yang kuat dan besar dari Soekarno, telah melahirkan pula ‚Resing demandnya‛.
Umat Islam dan Umat Beragama pada umumnya, dan bagi Umat Islam sendiri telah merasakan bahwa tingkatan Revolusi Indonesia di bawah pimpinan Soekarno telah pula mempercepat lahirnya fajar “Rebirth of Islam” untuk menuju
“The Glory of Islam”.
Hal mana dibuktikan dengan suksesnya Konperensi Islam Afrika Asia, dibawah pimpinan KH. Dr. Idham Gholid.
Umat Islam Indonesia telah merasakan betapa besarnya peranan Soekarno sebagai seorang muslim yang baik dan besar, bukan saja, tetapi ; Juga bimbingan langsung dari muslim Soekarno, yang telah memberikan inspirasi-inspirasi besar dan bimbingan langsung kearah ‚Kebangkitan kembali Umat Islam‛
di dalam mencapai kejayaan sejarahnya di masa lampau, yang telah pernah menjadi ‚Mercu Suar‛ bagi Sejarah Peradaban umat manusia, dan didalam menghancurkan ‚dominasi‛ serta
‚supremasi‛ imperium-imperium yang berwatak kolonialisme dan imperialisme.
Satu kenyataan yang tak dapat dibantah, bahwa. Bung.
Karno sebagai seorang Muslim dan Nasionalis dan Sosialis yang berkaliber besar di abad ini, amat menggandrungi dan aktip memperjuangkan kejayaan Islam kembali untuk sumbangannya terhadap cita-cita kesejahteraan umat manusia dan perdamaian dunia yang hakiki. Hal ini dapat dibuktikan dengan ide-ide yang dicetuskan dan pidato-pidato yang diucapkan ribuan kali yang merupakan dokumen-dokumen amat bernilai yang tidak pernah sunyi dari jiwa keimanan terhadap Allah SWT, dan tidak pernah kosong dari aspirasi-aspirasi Islam yang harus terjelma menjadi gabungan cita-cita yang berunsurkan Nasionalisme, Agama dan Sosialisme.
Dan Soekarno disaraping kedudukannya sebagai seorang Negarawan yang progresif revolusioner, juga harus dicatat sebagai seorang ‚Ahli Pikir Islam‛, yang secara langsung hendak mengembalikan kehidupan berpikir di kalangan kaum Muslimin, agar mereka yang harus mewarisi: Apinya ajaran Rasulullah SAW, Khulafaurrasyidin serta Ulama-Ulama Islam yang besar. Merekapun harus memiliki kehidupan berpikir yang progresip revolusioner sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.
(KH. Saifuddin Zuhri, 1964).
Relevansi figur Bungkarno untuk fenomena 'sekarang ini' juga terbukti dari tingkat idealisasi generasi muda Indonesia terhadapnya. Secara umum, generasi muda kita saat ini dilanda kejenuhan terhadap realitas-realitas yang terlahir akibat paradigma pembangunan yang telah diterapkan rejim sebelumnya (Orde Baru). Generasi muda dilanda kejenuhan ter- hadap perlakuan-perlakuan politik rejim Orde Baru terhadap mereka yang dapat dijelaskan dalam term deplomatisasi. Secara alamiah, anak-anak muda yang sedang bertumbuh kembang itu selalu mendabakan perubahan dan hadirnya alternatif-alternatif baru dalam fase pertumbuhan, mereka cenderung lebih mengidolakan figur yang semarak, revolusioner dan sangat menggandrungi perubahan. Mereka terus mencari figur semacam ini. Dan ketika berpaling ke masa lalu, mereka
menemukan figur kenamaan (the towering figur) seperti Soekarno.
Tak dapat disangkal figur semacam Soekarno memang le- bih sesuai dengan kriteria-kriteria tokoh yang diidolakan ge- nerasi muda masa kini. Tentang hal ini, Taufik Abdullah menyatakan, ‚Generasi muda yang tidak mengenal percaturan politik tahun 1960 an, dan mungkin merasa terlalu sesak di jaman pembangunan yang penuh perhitungan, sarat dengan anjuran tepat guna dan berdaya guna seperti sekarang sangat mungkin mendabakan tokoh romantis yang prosais dan sekaligus poitis seperti Soekarno‛. (Taufik Abdullah, h. 6).
Soekarno adalah sosok yang multidimensi, semarak, terbuka, flamboyan, kharismatik dam mempunyai pengaruh yang luar biasa di mata rakyat. Bagi generasi muda, gambaran pribadi semacam ini adalah sumber inspirasi, sumber kebanggaan dan menjadi muara pencariannya terhadap figur-figur yang akan mereka jadikan sebagai panutan. (Agus Sudibyo, SOEKARNO, Analisis Berita Pers Orde Baru. Cetakan I, September 1999, h 7).
Jakarta, 28 September 2018
Fasihin, M.Hum
Pedoman Transliterasi
Berikut adalah aksara Arab dan padanannya aksara latin Huruf
Arab Nama Huruf Latin Keterangan
ا Alif Tidak
dilambangkan
Tidak dilambangkan
ب Ba’ B Be
ت Ta’ T Te
ث Tsa’ Ts Te dan es
ج Jim J Je
ح Ha’ H Ha (dengan garis bawah)
خ Kha’ Kh Ka dan ha
د Dal D De
ذ Dzal Dz De dan zet
ر Ra’ R Er
ز Za’ Z Zet
س Sin S Es
ش Syin Sy Es dan ye
ص Shat Sh Es (dengan garis bawah)
ض Dlad D De (dengan garis bawah)
ط Tha’ Th Te (dengan garis bawah)
ظ Dzha’ Z Zet (dengan garis bawah)
ع ‘ain ‘ Koma terbalik d atas
hadap kanan
غ Ghain Gh Ge dan ha
ف Fa’ F Ef
ق Qaf Q Ki
ك Kaf K Ka
ل Lam L El
م Mim M Em
ن Nun N En
و Wau W We
ه Ha’ H Ha
ء Hamzah ‘ Apostrof
ي Ya Y Ye
Vokal
Vokal Tunggal Vokal Panjang Vokal Rangkap Fathah : a ا : â ْ ي َ : ai
Kasrah : i ي : î ْ و َ : au Dhammah : u و : û
Kata sandang:
1. Kata sandang, yang diikuti alif lam ( لا ) qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya.
Contoh : ْةرقبنا : al-Baqarah تىيدمنا : al-Madinah
2. Kata sandang yang diikuti oleh alif-lam (لا ) syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya
Contoh : مجرنا : ar-Rajul ةديسنا : as-Sayyidah 3. Syaddah (Tasydid)
Syaddah atau tasydid yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan tanda dalam alih aksara dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan menggandakan huruf yang diberi syaddah. Aturan ini berlaku secara umum, baik tasydid yang berada di tengah kata ataupun
yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf- huruf syamsiyah
Contoh: هيّدناْ ّنإ : inna ad-dîna ءاهفّسناْهمأ : âmana as-sufahâ’u 4. Ta Marbutah (ة)
Berkaitan dengan alih aksara ini, jika huruf ta marbutah terdapat pada kata yang berdiri sendiri, maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /h/. hal yang sama juga berlaku jika ta marbutah tersebut diikuti oleh kata sifat (na’at). namun, jika huruf ta marbutah tersebut diikuti kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf /t/.
No. Kata Arab Alih Aksara
1. تقيرط Tarîqah
2. تيملاسلإاتعماجنا Al-jâmi’ah al-islâmiyyah 3. دىجىناةدحو Wahdah al-wujǔd
4 تبصاوتهماع Âmilatun nâshibah 5 يربكناْتيلأا Al-âyat al-kubrâ
Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal, dalam alih aksara ini huruf kapital tersebut juga digunakan, dengan mengikuti ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disemprnakan (EYD) bahasa Indonesia, antara lain untuk menuliskan penulisan kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri, dan lain-lain. Penting diperhatikan, jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka yang tertulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal atau kata sandangnya. Contoh Abu Hamid al- Ghazali bukan Abu Hamid Al-Ghazali, al-Kindi bukan Al- Kindi. Khusus untuk penulisan kata Al-Qur’an dan nama
surahya menggunakan huruf kapital. Contoh: Al-Qur’an, Al- Baqarah, Al-Fatihah dan seterusnya.
Beberapa ketentuan lain dalam EYD sebetulnya dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold). jika menurut EYD, judul buku itu ditulis dengan cetak miring, maka demikian halnya dalam alih aksaranya. Demikian seterusnya.
Daftar Isi
Kata Pengantar ... iii
Pedoman Transliterasi ... vii
Daftar Isi ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 01
A. Latar Belakang ... 01
B. Rumusan Masalah ... 05
C. Tinjauan Pustaka... 06
D. Tujuan Penelitian ... 14
E. Kegunaan dan Manfaat Penelitian ... 14
F. Metodologi Penelitian ... 15
G. Teknik dan Sistematika Penulisan ... 17
BAB II RIWAYAT HIDUP SOEKARNO ... 19
A. Masa Kanak-Kanak dan Lingkungannya ... 19
B. Pendidikan Wadah Sosialisasi Kesadaran Politik ... 22
C. Soekarno Mempelajari Islam ... 28
D. Jiwa Keislaman Soekarno ... 32
E. Soekarno sebagai Mubaligh dan Ahli Fikir Islam ... 35
1. Soekarnologi dalam Hubungannya dengan Islamologi ... 50
2. Hubungan Soekarnologi dengan Spiritualisme dan Ketuhanan ... 61
BAB III KEPRIBADIAN SOSOK SOEKARNO DAN PENGARUHNYA ... 81
A. Kontradiksi Seorang Pemimpin ... 83
B. Pribadi yang Konsisten ... 89
C. Figur Pemersatu ... 91
D. Gagasan-gagasan Ideologi ... 94
E. Memahami Soekarno: Sebuah Persoalan ... 98
F. Citra Kharismatik Kepemimpinan
Politik Soekarno ... 104
1. Gambaran Timpang ... 104
2. Gambaran Lebih Utuh ... 107
3. Dampak-dampak Kharisma Soekarno ... 117
BAB IV PANDANGAN SOEKARNO TENTANG ISLAM DAN NASIONALISME ... 129
A. Pancasila adalah Warisan dari Jenius Nusantara 129 B. Fase Pembuahan ... 133
C. Fase Perumusan ... 137
D. Pancasila sebagai Karya Bersama ... 151
E. Nasionalisme Timur ... 152
F. Nasionalisme Indonesia ... 155
BAB V PENUTUP ... 171
A. Kesimpulan ... 171
B. Saran-Saran ... 177
Daftar Pustaka ... 178
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejak usia muda Soekarno telah merasakan pahit getirnya perjuangan bangsa. Penderitaan demi penderitaan dialaminyadipisahkan dari keluarganya, dibuang, dipenjarakan.
Ia menjadi bagian penting dari setiap fase perjalanan sejarah bangsanya. Pembicaraan tentang sejarah Indonesia terasa kurang lengkap tanpa menyebut namanya. Nama itu adalah Soekarno, atau yang dikenal akrab dengan sebutan Soekarno.
Dominasi tokoh ini dalam perjalanan sejarah bangsa In- donesia sungguh tak terbantahkan dan sulit untuk dicari tandingannya. Meminjam kata-kata Mahbub Djunaidi:
“Soekarno adalah potongan kayu bakar yang terbesar gelondongannya yang sudah terbakar api nasionalisme Indonesia, membakar api persatuan nasional Indonesia, dan membakar api revolusi nasional yang pada puncaknya memerdekakan negeri ini”.
Latar belakang yang demikian inilah yang membuatterbentuknya gambaran dan citra diri Soekarno yang sangat istimewa dalam realitas psikohistoris bangsa Indonesia.
Soekarno menjadi sosok pemimpin dengan popularitas yang luar bisa di mata rakyat, bahkan di mata dunia internasional.
Sebuah popularitas yang tak lekang oleh waktu dan tak luntur oleh aneka ragam upaya berbagai pihak untuk menegasikan kontribusi dan keterlibatan sejarahnya. Demikian banyak fakta sejarah,kisah kehidupan pribadi, tafsir, isu, dan mitos-mitos tentang Soekarno dalam gerakan nasionalisme negara-negara dunia ketiga sangat menonjol, bahkan diakui sebagai salah seorang pemimpin terkemuka “negara-negara baru”, sejajar dengan Tito, Nasher, Nkrumn dan Nehru.
Soekarno merupakan tokoh “garda depan” dalam kontek pemberdayaan manusia Indonesia. Roda sejarah mengantarkannya menjadi figur sentral dalam proses-proses penting “berdirinya negara ini”: memproklamirkan kemerdekaan, merumuskan perangkat-perangkat kenegaraan, serta memimpin perjuangan diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan di masa revolusi fisik.
Soekarno jugalah putra bangsa pertama yang didaulat rakyat untuk menduduki kursi pimpinan tertinggi negara.
Soekarno adalah “nation and character builder”yang mencita- citakan sekaligus melakukan upaya-upaya riil demi terbentuknya suatu bangsa yang berkepribadian khas. Soekarno merupakan simbol nasionalisme Indonesia. la berhasil menjembatani perbedaan-perbedaan yang tercipta di antara suku, agama, dan golongan yang ada di Indonesia dan menanamkan kepada mereka kesadaran tentang satu bangsa, bangsa Indonesia. Dalam percaturan politik internasional, ia adalah figur negarawan yang representatif pada masanya dan salah satu dari pemimpin berkharisma khusus dalam nasionalisme Asia dan Afrika. Berbagai kalangan,tanpakecuali yang awalnya tidak begitu respek terhadap Soekarno, akhirnya mengakui keberadaannya sebagai pemimpin terkemuka di Asia, serta salah satu tokoh politik dunia yang sangat diperhitungkan.
Keistimewaan Soekarno yang lain adalah bahwa ia merupakan tokoh yang eksis dalam tradisi-tradisi “Ratu Adil”
di Indonesia. Ratu Adil pada dasarnya adalah harapan-harapan yang muncul dalam masyarakat (agraris) Indonesia tentang hadirnya sang “hero” yang akan menyelamatkan bangsa dari malapetaka dan cengkeraman kekuatan-kekuatan angkara murka, sekaligus mengembalikan keharmonisannya. Menurut Soekarno sendiri, tradisi Ratu Adil menggambarkan bahwa rakyat ingin hidup sejahtera dan mewujudkan dunia yang penuh keadilan di bawah pimpinan sang Ratu Adil.
Di masa lalu Soekarno memanfaatkan benar harapan- harapan mesianis rakyat terhadap datangnya Sang Ratu Adil.
Dengan kharisma dan perfoma yang dimilikinya, Soekarno berhasil menghipnotis rakyat sehingga tercipta keyakinan yang besar dalam benak rakyat terhadap kemampuannya sebagai pemimpin bangsa.1 Bahkan seperti dikatakan Onghokham, Soekarno selaludilihat rakyat sebagai satu set kepribadianyang terpisah dari manusia lain dan memiliki kemampuan istimewa.
Rakyat meyakini benar bahwa Soekarno memenuhi kriteria- kriteria pemimpin yangmereka butuhkan.
Tradisi Ratu Adil, bagaimanapun masih bersemayam dalam tanah psikokultural bangsa Indonesia saat ini, khususnya dalam skema kesadaran masyarakat Jawa. Kal ini setidaknya tercermin dari pendapat Dahm tentang perbedaan antara Ratu Adil abad 19 dan Ratu Adil modern yang hidup di abad 20.
Dihadapkan pada kondisi-kondisi krisis, bisa jadi dalam benak rakyat akan muncul harapan-harapan mesianis tentang datangnya sang “hero”, yang akan menyelamatkan mereka dari berbagai kesulitan politik, ekonomi, dan sosial yang sedang terjadi. Dengan struktur berpikir yang masih sangat paternalistik, rakyat Indonesia cenderung menginginkan hadirnya sosok pemimpin kharismatik yang dapat diterima oleh semua suku, ras, agama, dan golongan, serta mempunyai kapasitas untuk menanamkan perasaan satu bangsa satu negara (nasionalisme) pada mereka. Pada titik inilah kekuatan nostalgik Soekarno sering bangkitkan kembali sehingga keinginan alam bawah sadar rakyat itu secara “imajiner”
terfokus pada figur Soekarno. Terbuka peluang bagi kekuatan parpol untuk menggunakan simbol-simbol Soekarno dalam usaha menggalang dukungan masa.
Relevansi figur Soekarno untuk fenomena “sekarang” juga terbukti dari tingkat idealisasi generasi muda Indonesia
1 Agus Sudibyo, Soekarno, Analisis Berita Pers Orde Baru, (Yogyakarta, Penerbit, BIGRAP Publising), Cetakan I 1999, h. 3.
terhadapnya. Secara umum, generasi muda kita saat ini dilanda kejenuhan terhadap realitas-realitas yang terlahir akibat paradigma pembangunan yang telah diterapkan rezim Orde Baru Generasi muda dilanda kejenuhanterhadap perlakuan- perlakuan politik rejim OrdeBaru terhadap mereka yang dapat dijelaskan dalam term depolitisasi.2 Secara alamiah, anak-anak muda yang sedang bertumbuh kembang itu selalu mendabakan perubahan dan hadirnya alternatif-alternatif baru. Dalam fase pertumbuhan, mereka cenderung lebih mengidolakan figur yang semarak, revolusioner, anti kemapanan dan sangat menggandrungi perubahan. Mereka terus mencari figur semacam ini. Dan ketika berpaling ke rasa lalu, mereka menemukan figur kenamaan (the towering figur) seperti Soekarno.
Tak dapat disangkal figur semacam Soekarno memang lebih sesuai dengan kriteria-kriteria tokoh yang diidolakan generasi muda masa kini. Tentang hal ini, Taufik Abdullah menyatakan, “Generasi muda yang tidak mengenang percaturan politik tahun 1960-an, dan mungkin merasa terlalu sesak di jaman pembangunan yang penuh perhitungan, sarat dengan anjuran tepat guna dan berdaya guna seperti sekarang sangat mungkin mendambakan tokoh romantis yang prosais dan sekaligus poitis seperti Soekarno”. Soekarno adalah sosok yang multidimensi,semarak, terbuka, flamboyan, kharismatik dan mempunyai pengaruh yang luarbisa di mata rakyat. Bagi generasi muda, gambaran pribadi semacam ini adalah sumber kebanggaan dan menjadi muara atas pencariaannya terhadap figur-figur yang akan mereka jadikan sebagai panutan.
Jejak pendapat yang dilakukan majalahEditor pada bulan Mei 1991, demikian pula dengan beberapa jejak pendapat yang lain, menunjukkan bahwa Soekarno masih menjadi tokoh sejarah yang paling diidolakan anak-anak muda dari berbagai kelas sosial. Preferensi dan apresiasi kaum muda terhadap
2 Agus Sudibyo, h. 6.
Soekarno tak tergoyahkan dan jauh melebihi preferensi dan apresiasi terhadap tokoh nasional yang lain. Kekaguman mereka terhadap Soekarno sangat kompleks, meliputi kekaguman terhadap pemikiran ideologis, kisah-kisah patriotik, keberpihakan terhadap “wong cilik”, kharisma yang luar bisa di mata rakyat, kegandrungan terhadap seni, kecakapannya sebagai podium dalam membakar semangat masa dan lain-lain.
Kisah hidup Soekarno adalah dialektik. Dalam realitas psikohistoris masyarakat Indonesia, bagaimanapun Soekarno adalah sosok “dramatic personae” sebuah gambaran pribadi yang kompleks, yang selain populer, kharismatik dan berpengaruh besar, juga mengandung sejumlah kontradiksi.
Rasanya tidak seorang pun tokoh sejarah Indonesia yang mempunyai lebel sekaya Soekarno: Proklamator, Bapak Bangsa,
“nation and character builder”, singa podium, agitator ulung, pemimpin absolutetotaliter, kolaborator Jepang, dan lain-lain.
Orang asing pun melekatkan lebel seperti “dramatic persona”, si 'eksotik dari Timur', “the Javanese”, dan lain-lain kepada Soekarno bukti dari ketertarikan mereka pada tokoh ini.3
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah ungkapan keingintahuan terhadap sesuatu yang belum diketahui. la adalah pertanyaan yang perlu dicarikan jawabannya melalui penelitian. Bagian ini merupakan pengungkapan masalah secara rinci yang ditulis dalam bentuk kalimat pertanyaan yang diawali dengan kata tanya seperti apakah, bagaimana, mengapa, sejauh mana dan seterusnya. (Pedoman penulisan tesis, hlm 10).
Oleh sebab itu, berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis membatasi dalam penulisan tesis ini pada masalah
“sosok” riwayat hidup Soekarno serta pengaruhnya dalam
3 Agus Sudibyo, h. 8
perkembangan dan pemahamannya tentang Islam dan Nasionalisme Indonesia.
Selanjutnya dari masalah pokok tersebut dapat ditelusuri lebih lanjut mengenai:
1. Bagaimana biografi Soekarno tersebut serta bagaimana perjalanan beliau dalam memahami Islam yang dikorelasikan dengan nasionalisme Indonesia.
2. Bagaimana pemikiran Soekarno dalam Islam dan nasionalisme yang dihadapkan dengan masyarakat yang multi etnis, agama, budaya dan adat istiadat di Indonesia ini?
3. Bagaimana kiprah dan peran Soekarno serta pengaruhnya di negeri ini ?
Adapun untuk melengkapi pembahasan, agar dapat mengetahui tentang pemikiran: dan pemahaman. Soekarno dalam Islam dan hubungannya dengan nasionalisme Indonesia.
Maka dalam tesis ini penulis bahas latar belakang kehidupannya, pendidikan, dan perannya di negeri ini.
C. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka berisi kajian literature (review) yang relevan dengan pokok bahasan penelitian yang akan dilakukan,atau memberi inspirasi dan mendasari dilakukannya penelitian.Pustaka yang diulas hendaknya mencakup pustaka terbaru, dan juga pustaka terbitan lama yang relevan dengan bidang yang diteliti. Dalam hal ini pustaka primer, atau sumber pertama harus diprioritaskan.
Berdasarkan tersebut di atas, maka berikut ini penyusunpaparkan buku-buku dan pengarangnya yang membahas tentang Soekarno, terkait judul yang sedang penyusun bahas, di antaranya
1. Disertasi karya M. Ridwan Lubis, judul buku :Soekarno dan Modernisasi Islam, Penerbit: Komunitas Bambu, cetakan pertama, 2010.
2. Dr. Badri Yatim, Judul buku, Soekarno, Islam dan Nasionalisme. Penerbit LOGOS WACANA ILMU, Cetakan II, Oktober, 1999.
3. Argawi Kandito, SoekarnoTheLeadership Sekrets Of.
Penerbit, ONCOR Semesta Ilmu, Cetakan I. 2011.
4. George file.Turnan Kahin, NASIONALISME & REVOLUSI INDONESIA Penerbit, Komunitas Bambu, Depok, Cetakan I, 2013.
5. Ir. Soekarno, Membangun Dunia Jang Baru,(T0 BUILD THE WORLD ANEW), Penerbit, Media Pressindo, Cetakan I Desember 2000
6. Ir. Soekarno dan KH. Ahmad Dahlan. TOKOH-TOKOH PEMIKIRAN PAHAM KEBANGSAAN, Penerbit, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jakarta 1999.
7. Cindy Adams, Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Penerbit: Media Pressindo, Cetakan Pertama 2007. (Demi pengertian terhadap Soekarno dan bersamaan dengan itu pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia ku yang ter cinta)
8. Agus Sudibyo, Citra Soekarno, ANALISIS BERITA PERS ORDE BARU, Penerbit: Bigraf Publishing, Jl.
Sisingamangaraja 93 Yogyakarta 55153, Cetakan Pertama:
September 1999
9. Jurnal BERDIKARI-NASAKOM Gagasan Tatanan Masyarakat Dunia, Edisi 03, 2002.
10. Pdt. Dr. Ayub Ranoh, Tinjauan Teologis Etis atas Kepemimpinan Kharismatik Soekarno. Penerbit: PT BPK Gunung Agung Mulia:, Jl. Kwitang 22-23, Jakarta 10420, Cetakan II 1999.
11. Tim Kajian LKSM, H. Wuryadi dkk. Perspektif.
PEMIKIRAN KARNO. Penerbit: Lembaga Putra Pajar, Tebet Dalam IV D:, Ho. 3 Jakarta Selatan, Cetakan Pertama.
Januari 2004.
12. Eddy Sutrisno, Soekarno Dipanggang Api Semangatmu, Penerbit, Progres Sukses Mandiri Jakarta, Tanpa tahun penerbitan.
13. Ir. Soekarno, SOEKARNO & ISLAM, Kumpulan Pidato tentang Islam 1953-1966, Penerbit: Inti Idayu Press, Jl. Kwi- tang no. 8 Jakarta 10420, Cetakan Pertama 1990.
Disertasi karya M. Ridwan Lubis, dengan judul “Soekarno dan modernisme Islam”,telah. menerangkan bahwa Soekarno lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang tak membaca Al- Quran sebagai bagian kehidupan sehari-hari. Ayahnya seorang priyayi Jawa dan pengikut ajaran theosofi, sedangkan ibunya seorang perempuan Hindu Bali. (Gunawan Muhammad xv).
Diterangkan pula, pelajaran pertama yang diterima Soekarno dari lingkungannya adalah kebudayaan Jawa.Hal ini membawa pengaruh kepadanya terutama konsep budaya Jawa yang disampaikan lewat pertunjukan wayang. Kebudayaan Jawa membentuk perkembangan Islam di Jawa yang berwujud pada pola sinkretis; dan puritan. Sinkretis ialah penyatuan unsur-unsur pra Hindu, Hindu dan Islam, sedangkan puritan ialah yang berusaha mengikuti ajaran dengan taat.
Pelajaran kedua adalah konflik keluarga ibu dengan bapaknya yang berpangkal pada sentimen kedaerahan dan agama. Konflik-konflik semacam ini dapat menimbulkan benih- benih pertentangan antar kelompok sosial dan lebih jauh dapat memecah belah integrasi suatu bangsa.
Selain didikan orang tuanya, Soekarno menurut pengakuannya, memperoleh juga butir-butir pikiran dari pembantu rumah tangga mereka yang bernama Sarinah.
Sarinah memberikan pesan-pesan yang bernuansa kerakyatan kepadanya, yaitu yang menyangkut sikap menghadapi nasib
rakyat kecil. Sarinah berkata kepadanya, “Karno, yang pertama harus kamu cintai adalah ibu dan bapakmu, akan tetapi kemudian engkau harus pula mencintai rakyat jelata, engkau harus mencitai manusia umumnya. Untuk mengenang jasa Sarinah itu, Soekarno menulis sebuah buku dengan ;judul Sarinah dan diterbitkan, pertama kali pada tahun 1947 oleh Oesaha Penerbit Goentoer”. (Dr. M. Ridwan Lubis, Soekarno dan modernisme Islam, Penerbit: Komunitas Bambu, 2010, Beji Timur Depok).
Dr. Badri Yatim, Soekarno, Islam dan Nasionalisme.
Penerbit Logos Wacana Ilmu, 1999, Cetakan II. Dalam buku ini pemikiran Soekarno mengenai Islam tergambar dengan jelas pada saat ia menulis di berbagai media masa dan berpidato mengenai perkembangan Islam dalam banyak masalah. Namun deraikian para sejarawan dalam dan luar negeri menempatkannya sebagai seorang tokoh nasionalis sekuler, yang sering berhadapan dengan nasionalis Islam. Dengan demikian, pemikiran Soekarno yang berkaitan dengan Islam tidak begitu mendapat perhatian.
Bila dilihat dari pengetahuannya tentang searah Islam, maka Soekarno adalah seorang muslim yang luas pengetahuannya. Tetapi bila ditinjau dari latar belakang keluarga dan pendidikannya, ia memang lebih dekat kepada kelompok nasionalis sekuler. Di sinilah letak keunikannya. Ia tidak dapat di samakan dengan tokoh-tokoh nasionalis Islam.
Walaupun ia sendiri mengaku sebagai seorang politikus yang netral agama, namun pemikiran keislamannya tentu banyak mempengaruhi pemikiran politik dan pemahaman nasionalismenya. (Badri Yatim, hal. 2)
Argawi Kandito, SoekarnoThe Leadership secrets Of.
Penerbit, Oncor Semesta Ilmu, cetakan I, 2011. Dalam buku ini diuraikan tentang Soekarno belajar kepada para pendahulu, seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, Sunan Kalijaga,
Ronggowarsito, Hos Gokroaminoto, Dr. Soetomo dan Jandral Soedirman.
Dari para pendahulu tersebut Soekarno mengambil pelajaran-pelajaran dari mereka, di antaranya dari Gajah Mada.
Soekarno menceritakan, jika terinsprasi oleh kemasyhuran banyak tokoh, antara lain Gajah Mada. Menurut beliau, Gajah Mada adalah sosok yang ia kagumi, Soekarno mengakui bahwa ia banyak belajar dari Gajah Mada, mulai dari ilmu politik, ekonomi, nasionalisme dan kenegaraan.
Banyak ilmu politik yang ia dapat setelah mempelajari riwayat Gajah Mada, seperti tentang bagaimana cara memimpin suatu negara dan bagaimana cara pemimpin menghindari berbagai kekacauan. Soekarno menjelaskan, bahwa dalam memimpin negara, hubungan yang terbangun antara pemerintah dan rakyat bukanlah semata-mata seperti hubungan antara tuan dan pelayan, akan tetapi hubungan timbal balik dan saling memerlukan yang juga meliputi hubungan batin. Ketika hubungan yang bersifat timbal balik terwujud, akan terbangun kepercayaan utuh dari rakyat kepada pemerintah. Jika hal itu tercapai, fungsi pengawasan negara terhadap rakyatnya dapat dijalankan dengan baik. (Argawi Kandito, hal. 8).
Selanjutnya dari Sunan Kalijaga, Soekarno juga mengarabil pelajaran tentang ketenangan dalam menghadapi berbagai persoalan dan cara penyarapaian ideologi kepada masyarakat, Soekarno mengatakan bahwa Sunan Kalijaga mempunyai rasa percaya diri yang kuat. Sunan Kalijaga dalam menghadapi masyarakat yang plural, ia tidak merasa ada sesuatu yang menjadi kendala. Ia bisa cair dalam suasana apapun. Selain itu, Soekarno juga sangat tertarik dengan cara Sunan Kalijaga menyampaikan ajarannya. Sunan Kalijaga tidak mengubah tatanan masyarakat yang sudah ada, namun ajarannya tetap masuk dan mengenal meski ada perbedaan pola pikir.
Soekarno mengakui banyak hal yang bisa dipetik dari Su- nan Kalijaga. Bukan hanya perilaku keseharian, namun juga pemikiran tentang konsep negara. Lebih jauh lagi Soekarno menjelaskan bahwa pondasi dan kerangka-kerangka yang menopang Negara Republik Indonesia terinspirasi pemikiran Sunan Kalijaga ia ketika mendirikan Keraton Mataram.
Pendirian negeri Mataram di Yogyakarta tidak terlepas dari keinginan mendekatkan pemerintahan dengan rakyatnya, agar kehidupan rakyat menjadi lebih sejahtera. Persatuan dan kesatuan masyarakat yang pada dasarnya plural juga akan terbentuk dan terjalin.
Selanjutnya, segala pencapaian Soekarno selama masa hidupnya tak terlepas dari kegemarannya membaca sejak kecil.
Dari kegemarannya membaca itu ia banyak tahu berbagai hal, tentang tokoh, sastra, berbagai pemikiran, sejarah dan sebagainya. Pemikiran yang linier logis hingga yang mistisme dan metafisis banyak dibaca. Dari kegemaran membacanyaitu pula ia mengenal karya-karya Ronggowarsito.
Soekarno menyebutkan bahwa hal yang menarik dari Ronggowarsito adalah karya-karya sastra dan ramalan- ramalannya. Ketika ada pembicaraan mengenai apa yang bisa dipetik, ada kalimat tegas yang diucapkan oleh Soekarno:
“Memang, dalam kepemimpinan tidak dibutuhkan ramalan seperti itu, namun dalam upaya komunikasi dengan masyarakat hal itu banyak rnemberi inspirasi”. Soekarno mengakui bahwa bahan-bahan orasinya banyak terinspirasi dari karya-karya Ronggowarsito. Beliau menuturkan beberapa orasinya yang dibumbui .... ramalan Ronggowarsito.
Misalnya: “Indonesia akan menjadi mercusuar dunia”…..”sayaakan menjadi penguasa yang menggemparkan dunia”, dan sebagainya. Bahan-bahan orasi yang banyak diambil dari Ronggowarsito itu ada yang disampaikan apa adanya, juga ada yang diucapkan setelah diramu dengan kata- kata motivatif, seperti:
“Berilah aku seribu orang tua, maka akan kucabut semeru, dan berilah aku sepuluh pemuda, akan kugoncang dunia”. (Argawi Kandito, hal. 19)
Tata Septayuda Purnama. Khazanah Peradaban Islam, Penerbit Tinta Madina, Cetakan 1,Maret: 2011, Jin.Dr.
Supomo 23 Solo 57141.
Dalam buku ini menerangkan keakraban Soekarno dengan seorang ulama NU. Kiai Wahab Hasbullah, salah satu pendiri NU. Melalui kisah kitab kuning. Bahwa kitab kuning pernah dijadikan Soekarno sebagai pedoman dasar saat menyelesaikan konflik Irian Barat sangat populer di kalangan pesantren.Pada tahun 1948, pemerintah Belanda berjanji kepada pemerintah RI bahwa Irian Barat akan diserahkan kepada Indonesia. Ternyata sampai tahun 1951, Belanda belum menyerahkan kedaulatan atas Irian Barat kepada RI.
Perundingan pun beberapa kali dilakukan, tetapi selalu gagal.
Soekarno, sapaan akrab Presiden Soekarno, akhirnya menghubungi Kiai Wahab Hasbullah di Jombang, Jawa Timur.
la menanyakan apa hukumnya bagi orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat ?
Kiai Wahab Hasbullah, salah satu pendiri NU itu menjawab, “Hukumnya sama dengan orang yang ghashab”.
“Apa artinya ghashab, Kiai ?” tanya Soekarno.
“Ghashab itu istihqaqu malil ghair bighairi idznihi (menguasai hak milik orang lain tanpa seizin pemiliknya),” Jawab Kiai Wahab.
Selanjutnya, Soekarno menyiapkan perundingan dengan Belanda dan mengutus Subandrio untuk mengadakan perudingan ituSepertididuga sebelumnya, perundingan kali ini berakhir gagal. Kegagalan ini disampaikan Soekarno kepada Kiai Wahab.
Kiail, apa solusi selanjutnya menyelesaikan masalah Irian Barat?”tanya Soekarno.
Kiai Wahab menjawab, “Akhadzahu qohron!”(ambil atau kuasai dengan paksa!)
Soekarno bertanya lagi, “Apa rujukannya Kiai dalam memutuskan masalah ini?”
Kiai Wahab menjawab, “Saya mengambil literatur kitab Fathul Qarib dan syarahnya (al-Baijuri.)”
Setelah itu Soekarno mantap dengan pendapat Kiai Wahab yang mengontekstualisasi literatur kitab Pathul Qarib agar Irian Barat direbut dengan paksa. Peran kitab kuning rupanya mampu. Dari sinilah Soekarno membentuk tiga komando rakyat atau dikenal dengan Trikora untuk menyelesaikan konflik Irian Barat.
Kitab kuning adalah sebutan untuk kitab klasik bahan kajian pokok di pesantren-pesantren salafiyah (tradisional).
Namanya merujuk pada warna kertas yangdigunakan untuk mencetaknya di masa lalu, yaitu kekuningan. Kini,meskipun sebagian kitab kuning dicetak di atas kertas berwarna putih, namanya tetap kitab kuning. (Tata Septayuda Purnama, hal.
124).
Peran Organisasi Pendidikan. Soekarno adalah sosok pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik. Hal ini ditunjukkan ketika ia berorasi atau saat wawancara. Selain enak diajakbicara, ia juga sangat inspiratif bagi lawan bicaranya dan mampu mengembangkan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali informasi lebih dalam.
Menurut Soekarno organisasi pendidikan kala itu juga mempunyai andil besar dalam upaya merebut kemerdekaan.
Hanya saja gaya dan sifat organisasinya berbeda dengan organisasi-organisasi pemuda. Organisasi pendidikan ini umumnya dikuasaioleh para Kyai dan kaum priyayi. Dua strata sosial ini mendominasi karena mempunyai akses serta kemampuan untuk berada di lingkungan institusi pendidikan.
Karena itu, pada waktu itu kebanyakan masyarakat yang bersekolah adalah dari dua kelompok ini. Soekarno
sendiri,meski berpendidikan tinggi kala itu, mengaku tidak turut langsung dalam organisasi ini. Ia memilih bergabung dengan kawan-kawannya sebagai kelompok nasionalis.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian pada dasarnya menggambarkan jenis dan sifat penelitian yang diungkapkan dengan kalimat yang spesifik, terinci dan terukur. Ada dua tujuan besar yang ingin penulis capai melalui penelitian ini, yaitu:
1. Tujuan Akademis
Penelitian ini bertujuan untuk mengenali dan memahami sejauh mana perkembangan pemahaman Islam Soekarno dalam kaitannya dengan faham nasionalisme Indonesia. Dansejauh mana juga kita dapat mengetahui pemikiran politik Islam Soekarno.
2. Tujuan Praktis
a. Sebagai syarat utama untuk mendapatkan gelar S2 di Prodi Islam Nusantara di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta.
b. Sebagai tambahan wawasan, terutama mengenai kiprah dan ketokohannya Soekarno.
E. Kegunaan dan Manfaat Penelitian
Kegunaan atau manfaat penelitian dibedakan dalam dua bentuk yaitu kegunaan yang bersifat teoritis yaitu untuk mengembangkan ilmu dan kegunaan yang bersifat praktis yaituuntuk membantu memecahkan masalah yang ada pada obyak yang diteliti. Dengan kata lain dapat dikatakan juga bahwa kegunaan penelitian terdiri atas kegunaan ilmiah yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan kegunaan sosial yang berorientasi sebagai salah satu usaha dan tahapan dalam memecahkan masalah sosial dan budaya. Selain
itu, kegunaan penelitian juga dapat berorientasi pada penelitian terapan (applied research) atau secara oprasional diarahkan pada penelitian kebijakan (policy research).
Pada bagian ini, pernyataan yang dikemukakan adalah bahwa penelitian itu memiliki nilai guna, baik kegunaan akademis (pengembangan teori, penolakan atau pembuktian teori) maupun untuk kegunaan praktis. Kalimat yang bisa digunakan adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini diharapkan berguna bagi pengembangan pengetahuan ilmiah di bidang ilmu sejarah kebudayaan Islam, terutama kajian Islam Nusantara.
2. Penelitian ini dapat dijadikan penelitian selanjutnya yang serupa, dan sedikit banyak penelitian ini akan memberikan kontribusi bagi pengembangan pengetahuan ilmiah di bidang sejarab Islam di wilayah Asia Tenggara. (Pedoman Penulisan Tesis, h. 13-14).
F. Metodologi Penelitian
Bagian ini menjelaskan sejumlah prosedur penelitian yang mencakup metode, pendekatan, teknik pengumpulan data, dan metode analisis data.
1. Jenis Penelitian
Pada bagian ini, peneliti perlu menentukan jenis penelitian yangakan dilakukannya, apakah penelitian lapangan atau penelitian pustaka. Juga perlu disebutkan apakah jenis penelitian yang akan digunakan adalah metode penelitian kuantitatif atau penelitian kualitatif.
Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas sehingga bisa bertanya, menganalisa, dan mengkonstroksi obyek yang diteliti untuk menjadi lebih jelas. Metode ini lebih menekankan pada makna dan cenderung terikat nilai. Penelitian kualitatif
digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.
(Pedoman Penulisan Tesis, STAINU Jakarta h. 17-18).
2. Sumber Data
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, data diartikan sebagai kenyataan yang ada yang berfungsi sebagai bahan sumber untuk menyusun suatu pendapat, keterangan yang benar, dan keterangan atau bahan yang dipakai untuk penalaran dan penyelidikan.
Dalam pengertian lain, data adalah semua keterangan yang berasal dari responden maupaun yang berasal dari dokumen-dokumen, baik dalam bentuk statistic ataudalam bentuklainnyagunakeperluanpenelitian.Dengan demikian, dataadalah semua informasi baik berupa benda nyata, sesuatu yang abstrak, ataupun peristiwa/gejala yang ada, baik secara keantitatif ataupun kualitatif.
Adapun data yang diperlukan dalam penelitian tesis ini adalah hal-hal yang berkaitan erat dengan pemikiran sosok, dan pemahamannya dalam Islam, serta kiprah dan perjuangannya di negeri ini. Oleh karena itu, penelitian ini penelitian kepustakaan, dan sumber kepustakaan primer diperoleh dari sejumlah tulisan.4
Kalian sumber kepustakaan, baik yang bersifat sumber primer ataupun sumber-sumber sekunder, penulis menggunakan metode penelitian dokumen.Metode ini digunakan dalam usaha memperoleh pemahaman secara lebih mendalam tentang pemikiran dan pribadi beliau.
Adapun bahan-bahan yang berasal dari kepustakaan,
4 Mustika Zed, Metodologi Penelitian, Kepustakaan, 2004, (Jakarta;
Yayasan Obor Indonesia), h. 16.
penulis kelompokkan, lalu dipahami dan ditafsirkan serta mengambil kesimpulan.
Sedangkan proses kerja penulisan tesis ini lazimnya penulisan karya sejarah ada empat tahapan, yaitu:
a. Heuristik, dengan dengan cara mencari dan mengumpulkan data primer maupun data sekunder.
Dalam hal ini, penulis mendasarkan pada penelitian lapangan.
b. Kritik, yaitu meneliti dan menganalisis kevalidan infor- masi dari sekian banyak sumber tertulis. Terhadap sumber data, dilakukan kritik internal dan kritik eksternal. Kritik internal berkenaan dengan otentisitas sumber yang sangat tergantung pada motivasi, tingkat kemencengan (bisa) dan keterbatasan dalam pengamatan. Sedangkan kritik eksternal berkenaan dengan relevansi dan akurasi sumber berkenaan dengan struktur dan pola budaya yang melingkupi peristiwa tersebut.
c. Interpretasi, yaitu menafsirkan fakta-fakta yang saling berhubungan.
d. Penulisan sebagai langkah terakhir dari prosedur penelitian sejarah ini diusahakan agar selalu memperhatikan aspek kronologis.5
Adapun teknik penulisan tesis ini disesuaikan dengan Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta.
G. Teknik dan Sistematika Penulisan
Teknik penulisan tesis adalah cara dan prosedur penulisan yang digunakan peneliti untuk menuliskan tesisnya.
5 M. Dien Majid, Johan Wahyudi, Ilmu Sejarah: Sebuah Pengantar, (Jakarta: Prenada Media Group, 2014), h. 219.
Dalam konteks ini, teknis penulisan tesis merujuk pada Buku Pedoman Penulisan Tesis yang diterbitkan Pasca sarjana STAINU Jakarta.
Adapun sistimatika penulisan adalah penjelasan tentang bagian-bagian yang akan ditulis di dalam penelitian secara sistimatis. Maka dalam penulisan tesis ini, penulis membagi pembahasannya dalam 5 (lima) bab, yang secara garis besarnya adalah: BAB I Pendahuluan, yang menerangkan tentang: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tinjauan Pustaka, Tujuan Penelitian, Kegunaan atau Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitia, serta Teknik dan Sistematika Penulisan, BAB II. Riwayat Hidup Soekarno, Yang menerangkan tentang masa kanak-kanak dan Lingkungan keluarganya, Lingkungan masyarakatnya, Pendidikan Dasar Wadah Sosialisasi Politik, Soekarno Tertarik kepada Islam,Soekarno Mempelajari Islam,Pemikiran Islam Soekarno. BAB III. Kepribadian Sosok Soekarno dan Pengaruhnya Yang membahas tentang Kontradiksi Seorang Pemimpin, Pribadi yang Konsisten, Figur Pemersatu, Gagasan-Gagasan Ideologis, Memahami Soekarno Sebuah Persoalan, BAB IV. Soekarno Tokoh Nasionalis Indonesia, yang membahas tentang: Nasionalisme! Kebangsaan, Soekarno dan Pancasila, Pase Perumusan Pancasila, Nasionalisme Barat Kritik Soekarno, Ketuhanan dalam Perumusan Pancasila dan Konstitusi, BAB V.Penutup, Kesimpulan. Bagian terakhir adalah kesimpulan, yang merupakan sebagai penutup keseluruhan permasalahan penelitian dalam bentuk tesis ini. Penulis berharap pada bab ini dapat ditarik suatu rumusan yang bermakna dari keseluruhan rangkaian bab-bab sebelumnya.
BAB II
RIWAYAT HIDUP SOEKARNO
A. Masa Kanak-kanak dan Lingkungannya
Soekarno lahir pada saat fajar kebangkitan Bangsa Indonesia mulai menyingsing, yaitu di masa permulaan era kebangkitan dan pergerakan nasional. Tepatnya pada Kamis Pon tanggal 18 Sapar 1831 tahun Saka, bertepatan dengan tanggal 6 Juni 1901 di Lawang Seketeng, Surabaya. la adalah anak keduadari kandungan Ibu Idayu Nyoman Ray. Ayahnya bernama R. Sukemi Sosrodiharjo, sedangkan kakaknya bernama Sukarmini.1 Kakeknya bernama Raden Harjodikromo, orang yang dipandang mempunyai ilmu hikmah (ilmu gaib) dan seorang ahli kebatinan.2
Tidak seperti ibunya yang berasal dari Bali, ayahnya Sukemi, berasal dari Jawa dan termasuk dari keturunan Sultan Kediri.Resminya ia beragama Islam, meskipun menjalankan ajaran Theosofi Jawa.3 Sukemi termasuk orang yang berpendidikan, tamatan sekolah guru di Probolinggo. Di sekolah Sukemi termasuk salah seorang murid terpandai.
Kemudian mendapat kehormatan untuk menjadi guru dan mengajar di Sekolah Rendah di Bali. Ia juga menjadi pembantu Profesor Van Dertuuk. Pada waktu bertugas di Bali inilah ia menyunting seorang gadis Bali yang kemudian menjadi ibu dari Soekarno. Tidak lama kemudian ia dipindahkan ke Surabaya dan tetap menjabat sebagai guru dengan gaji kecil yang terasa
1 Solichin Salam, Soekarno Putra Fajar, (Jakarta, Gunung Agung, 1982), h. 18.
2 Solichin Salam, h. 15.
3 Cindy Adam, Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, (Jakarta Gunung Agung,1982), h. 29.
amat memberatkannya untuk hidup di Surabaya. Ia sangat menggemari wayang kulit. Cerita wayang baginya banyak mengandung filsafat dan pelajaran yang amat dalam, tinggi isi dan nilainya. Kegemarannya ini kemudian menurun kepada anaknya, Soekarno.
Ibu Soekarno adalah kelahiran Bali dari kasta Brahmana, dan berasal dari keturunan bangsawan, setidak-tidaknya ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa Raja Singaraja yang terakhir adalah termasuk pamannya.
Sebagai Raja yang terakhir ia tampak kurang beruntung.
Belanda mengeluarkannya dari kerajaan, merampas kekayaan, tempat tinggal, tanah dan semua miliknya. Semua ini menyebabkan keluarga raja, termasuk keluarga ibunda Soekarno, jatuh melarat.
Dilihat dari garis ayahnya, Soekarno berasal dari keturunan priyayi rendahan.4 Kedudukan sosial ekonomi keluarga Sukemi hanya agak sedikit lebih baik dari golongan kebanyakan bangsa Indonesia yang di kemudian hari disebut Soekarno dengan istilah Marhaen. Bila dilihat dari kacamata sosial. Tetapi bila dilihat dari kacamata agama dan kepercayaan, ia dapat digolongkan sebagai orang yang berasal dari golongan
‚abangan‛.
Pada masa kecil, Soekarno adalah seorang anak yang sering menderita sakit. Itulah sebabnya orang tuanya cenderung memindahkannya ke kota Tulung Agung, mengikuti kakeknya yang kebetulan pandai ilmu hikmah‛ dan pandai mengobati penyakit dengan ilmu gaibnya. Sang kakek ini sangat sayang pada Soekarno, bahkan cenderung memanjakannya. Inilah yang kemudian kadang dipandang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Soekarno menjadi anak yang keras kepala. Di masa kecil, Soekarno dikenal oleh teman-temannya sebagai
4 Onghokham, ‛Soekarno: Mitoadan Realitas‛, dalam Taufik Abdullah (ed), Manusia dalam Kemelut Sejarah, (Jakara, LP3S, 1981), h. 21.
‚jago‛. Dalam usia enam tahun kegemaran ayahnya nonton wayang kulit, sudah mulai menurun kepadanya. Tidak jarang ia menonton wayang kulit sampai larut malam.
Ayahnya (yang terdidik, penganut theosofi dan keturunan priyayi) serta kakeknya (yang memanjakannya) dan ibunya, (yang berasal dari keturunan bangsawan Bali dan penganut agama Hindu), tentu banyak mempengruhi kehidupan Soekarno di kemudian hari. Tetapi tidak hanya itu saja, Sarinah pun seorang anggota keluarganya (lebih tepat seorang pembantu rumah tangga) yang ikut membesarkan Soekarno, juga banyak mempengaruhi Soekarno. Dialah yang mengajarkan Soekarno cinta kasih terhadap rakyat jelata.
Melalui wayang, Soekarno tersosialisasikan dalam budaya Jawa yang kemudian turut pula membentuk kepribadiannya.
Ciri atau sifat kebudayaan Jawa yang sangat menonjol adalah sinkritisme. Dengansifat ‚sinkritisme‛, memungkinkan orang Jawa untuk memadukan apa yang baik dari dalam dirinya sendiri dengan apa yang dianggapnya baik dari luar. Melalui proses perpaduan itu perubahan di dalam masyarakat Jawa terjadi tanpa kehilangan landasan dasar kebudayaan sendiri, sebagai tempat berpijak. ‚Sinkritisme‛ ini bukan saat terlihat dalam kehidupan politik, tetapi juga dalam kehidupan beragama masyarakat Jawa.5
Filsafat wayang yang mengandung nilai-nilai luhur dan nilai kepahlawanan itu ternyata meresap dalam lubuk hati Soekarno dan mampu memperkaya serta membentuk kepribadiannya sebagai seorang Jawa. Sehingga logis apabila kemudian Bernard Dahm menekankan pendapatnya terhadap pridadi Soekarno pada pendekatan budaya dan sebagai fenomena budaya. Selanjutnya Bernard Dahm menilai Soekarno sebagai pemikir yang sangat dipengaruhi tradisi Jawa. Hal ini nampak pada pemikirannya dalam tulisan ‚Nasionalisme, Islam
5 Alfian, Olitik, Kebudayaan dan Manusia Indonesia, (Jakarta, LP3ES, 1982), h.63.
dan Marxisme‛, ataupun pada pemikirannya tentang Pancasila yang sinkritis. Dalam pidatonya Soekarno juga sering menggambarkan perjuangan nasional sebagai perjuangan kaum sini dan sana, antara Pendawa dan Kurawa atau dalam realita antara yang dijajah (pendawa) dan yang menjarah (Kurawa).
Sedang Soekarno sendiri menggambarkan dirinya sebagai Bima (Werkudara) atau Gatut Kaca yang mendobrak kaum kolonial maupun kaum feodal.
B. Pendidikan Wadah Sosialisasi Kesadaran Politik
Salah satu hal yang menentukan dan menempatkan Soekarno dalam kalangan masyarakat atas di Indonesia adalah pendidikannya.
Pendidikan formal Soekarno untuk pertama kalinya dijalani di Sekolah Desa di Tulung Agung, tatkala ia masih bersama kakeknya. Ia tidak termasuk murid yang rajin, meskipun bukan berarti anak yang bodoh. Ia lebih senang mengenang cerita-cerita wayang yang pernah diketahuinya.
Meskipun demikian, ia termasuk murid yang suka bertanya mengenai apa saja yang kurang dimengerti. Pertanyaannya ia tujukan kepada gurunya atau kepada orang tuanya. Berkat sering bertanya inilah pengetahuannya bertambah melebihi teman-temannya.Ayahnya yang kebetulan seorang pendidik, menjadi semacam pembantu gurunya dalam pendidikan Soekarno. Ia adalah seorang guru yang keras. Sekalipun telah berjam-jam belajar, Soekarno masih selalu disuruh ayahnya untuk belajar membaca dan menulis. Hal ini dilakukan ayahnya setelah Soekarno pindah sekolah dari Tulung Agung ke Sekolah Angka Dua (angka Loro) di Sidoarjo. Pada waktu berusia 12 tahun, la pindah ke Sekolah Angka Satu di Mojokerto dan duduk di kelas 6. Di sana dia menjadi murid yang terpandai.
Karena kecerdasannya yang gemilang itu,Soekarno pun dipindahkan ayahnya ke Eropeese Lagere School (ELS) Mojokerto dan turun ke kelas lima. Di sekolahnya yang baru
ini,Soekarno sangat giat belajar, sehingga menjadi termasuk murid yang menonjol. Ia tampak gemar belajar ilmu bahasa, menggambar dan berhitung. Di samping itu, di luar sekolah, Soekarno mengambil ‚les‛ pelajaran bahasa Perancis pada Brynette de La Roche Brune, sehingga pengetahuannya semakin maju pesat.
Tamat ELS Mojokerto, studinya dilanjutkan keHogere- Burger School (HBS) di Surabaya. HBS merupakan sekolah yang sukar dimasuki oleh seorang inlander (bumi putera), karena terhitung mahal. Tapi justru di HBS inilah buat pertama kalinya Soekarno mengenai teori Marxisme dari seorang gurunya, C.
Hartogh, penganut paham sosial demokrat. Perkembangan intelektualnya sangat pesat justru didorong oleh kemiskinannya. Kemiskinan mengakibatkan Soekarno tidak dapat mencari hiburan yang bersifat materil. Sebagai gantinya ia mencari hiburan dalam dunia cita dan alam ilmu pengetahuan, dengan jalan membaca. Menurut pengakuannya, dengan membaca seolah-olah ia dapat bertemu dengan orang- orang besar dari segala bangsa.1 Dorongan membaca ini mendapat dukungan besar darilingkungannya, sebab selama belajar di Surabaya, Soekarno tinggal di rumah HOS.
Tjokroaminoto. Dan Nyonya TJokroaminoto sangat memperhatikan disiplin pelajar-pelajar yang tinggal di rumahnya.
Tapi yang lebih penting adalah kepemimpinan politik Tjokroarainoto sendiri, Soekarno tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk magang politik dari pak Tjokro yang merupakan pemimpin politik orang Jawa. la dijuluki sebagai
‚raja yang tidak dinobatkan‛. Sebagai seorang pemimpin Sarekat Islam (SI), partai terbesar pada waktu itu, pak Tjokroaminoto banyak dikunjungi tokoh-tokoh pergerakan
6 BadriYatim, Soekarno, Islam dan Nasionalisme, (PT LOGOS WACANA ILMU, 1999), h. 9.
nasional lainnya untuk berdialog dan berbincang-bincang mengenai banyak hal yang berkaitan dengan politik.2
Dalam usia yang masih muda itu, Soekarno mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada para tamu pak Tjokro yang berkaitan dengan perkembangan politik di dalam negeri. Bahkan setelah Soekarno resmi menjadi menantu pak Tjokroaminota: dengan mengawini putrinya, Utari, ia selalu membuntuti ke mana pak Tjokro pergi. Dialah yang selalu menemani pak Tjokroaminoto ke tempat pertemuan-pertemuan untuk berpidato. Dengan serius ia memperhatikan semua isi pidato tokoh pergerakan itu. Maka tidak heran bila Soekarno mengatakan bahwa Tjokroaminoto itu sangat mempengaruhi hidupnya, bahkan dialah orang yang mengubah seluruh hidupnya.
Di samping disiplin yang diterapkan ibu Tjokro, Soekarno juga selalu mendisiplinkan dirinya sendiri. Seluruh waktu luangnya ia pergunakan untuk membaca. Selain ilmu pengetahuannya yang didapat di bangku sekolah, ia juga mengejar ilmu pengetahuan lainnya. Untuk memenuhi kebutuhan membaca ini, di Surabaya terdapat sebuah perpustakaan besaryangdiselenggarakanoleh perkumpulan theosofi. Soekarno dapat memanfaatkannya perpustakaan itu dengan leluasa, terutama karenaayahnya merupakan salah seorang dari anggota perpustakaan tersebut. Soekarno langsung menyelam ke dalam dunia kebatinan. Lewat bacaan itu ia bertemu dengan orang-orang besar, dan pertemuannya ini memberi arah pada pemikirannya. Bahkan sebagian dari perkiraan dan pendirian mereka telah menjadi pikaran pendirian Soekarno. Begitulah misalnya dengan membaca buka,ia dapat menyerap pemikiran Thomas Jefferson yang bebicara tentang ‚Declaration of Independence‛, yang ditulisnya pada tahun 1776.
7 Badri Yatim, h. 11.
Masih di Surabaya, Soekarno telah mendirikan perkumpulan politik yang bernama ‚Trikoro Darmo‛, yang berarti tiga tujuan suci, yang melambangkan Kemerdekaan Politik, Kemerdekaan Ekonomi dan KemerdekaanSosial.
Organisasi ini pada dasarnya adalah sebuah organisasi para pelajar yang sebaya dengannya pada waktu itu. Organisasi ini berlandaskan kebangsaan yang kegiatannya adalah mengembangkan kebudayaan, mengumpulkan dana sekolah dan membantu korban bencana alam. Di samping itu Soekarno juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh ‚studieclub‛, sebuah kelompok yang aktif membahas buah pikiran dan cita-cita. Dalam studieclub inilah Soekarno pertama kalinya berpidato. Usianya pada waktu itu 16 tahun. Pidato ini didorong oleh sikapnya yang tidak setuju terhadap pidato ketua Studieclub yang mengatakan bahwa menguasai bahasa Belanda menjadi keharusan bagi generasi muda. Mendengar itu Soekarno langsung saja berdiri dan berpidato, yang intinya bahwa ia tidak setuju dengan pendapat ketua. la justru menghimbau anggota Studieclub untuk bersatu dan mengebangkan bahasa Melayu, baru kemudian bahasa asing, terutama bahasa Inggris, karena bahasa ini merupakan bahasa diplomatik.3
Pada tahun 1921 Soekarno tamat dari HBS dan melanjutkan ke Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hogere School) di Bandung (sekolah ini kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung/ITB). Di sekolah ini, ia adalah seorang dari sebelasMahasiswa yang berasal dari anak bumiputra. Sebagai mahasiswa, ia giat dan rajin belajar. Namun demikian pengaruh dari pergerakan politik, yang memang telah tertanam dalam jiwanya sejak di Surabaya, mengusik hatinya untuk ikut aktif dalam kegiatan tersebut. Pada tahun 1926 ia tamat dari THS dengan baik. Sekitar tahun 1923-1924 Soekarno ikut mengubah
8 Solichin Salam, h. 59.
nama ‚Jong Java‛ menjadi ‚Jong Indonesia‛, dan pernah pula menjadi anggota organisasi kepanduan di Bandung.4
Mulai dari masa kanak-kanaknya hingga ia menamatkan studinya di THS di Bandung, dapat ditarik kesimpulan bahwa ia dibesarkan di dua kota: Surabaya dan Bandung. Kedua kota ini tentunya banyak memberikan pengaruh tersendiri kepada pribadi Soekarno. Kedua kota ini, seperti juga kota-kota besar di pantai utara pulau Jawa, tidak mendapat pengaruh yang kuat dari kebudayaan tradisional Jawa, yang merupakan kebudayaan kraton-kraton Jawa. Sarekat Islam (SI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang berorientasi internasional, berkembang di kota-kota seperti: Surabaya, Bandung, Jakarta dan Semarang. Tetapi keduanya tidak begitu berkembang. Hal seperti itu tidak berubah, setelak Soekarno tampil dalam arena politikdi akhir tahun 1920-an. Demikianlah gerakan nasional cenderung untuk berkembang di Jawa Barat (Jakarta-Bandung) dan pantai utara Jawa (Surabaya-Semarang), karena kota-kota tersebut menjadi pusat politik, ekonomi dan militer dari pemerintah kolonial, walaupun Mataram tetap merupakan pusat kebudayaan Jawa, yang melambangkan kejayaan Jawa di masa emasnya.5
Kota-kota tersebut lebih bercorak revolusionerdaripada Yogyakarta, meskipun Yogyakarta pada masa itu telah merupa- kankota besar, dan telah memiliki lembaga-lembaga pendidikan yang didirikan pemerintah kolonial, sebagaimana halnya di kota-kota lainnya. Bahkan di Yogyakarta banyak bermukim tokoh nasionalis yang bahkan ikut juga mempelopori gerakan nasional.
9 Solichin salam, h. 46.
10 Kenji Tschya, Gerakan Taman Siswa Delapan Tahun dan Latar Belakang Jawa Taman Siswa, dalam S. Ichura dan Koen Coroningrat (ed), Indonesia Masalah dan Peristiwa (Bunga rampai), (Jakarta, Gramedia, 1976), h. 52.
Contoh sangat menarik yang menandai kota-kota tersebut mempengaruhi gerakan nasional adalah dengan melihat kelahiran dan perkembangan Budi Utomo (BU) yang didirikan oleh sebagian pelajar STOVIA di Welterreden (Jakarta), 20 Mei 1908. Pada awal berdirinya BU lebih bercorak sebuah gerakan politik dan bersifat revolusioner. Dalam waktu tidak beberapa lama BU memiliki anggota 650 orang dengan beberapa buah cabang, terutama di kota-kota yang telah memiliki lembaga- lembaga pendidikan, seperti Bogor, Bandung, Magelang, Probolinggo dan Yogyakarta.6 Tetapi anggotanya yang terhimpun di cabang Yogyakarta segera khawatir melihat gerakan-gerakan yang dilakukan oleh pengerusnya yang berada di Jakarta. Maka pada tanggal 3-5 Oktober 1908, diselenggarakanlah kongres BU yang pertama. Setelah Kongres ini kepengurusan dan kepemimpinan diserahkan kepada generasi yang lebih tua dari generasi muda yang kebanyakan masih dalam taraf belajar. Sejak itu hingga masa kongresnya yang kedua tahun 1909 merupakan masa pertarungan antara unsur radikal di bawah pimpinan Tjipto Mangunkusumo dengan unsur yang kurang memperhatikan keduniawian (politik) dan cenderung berfilsafat di bawah pimpinan Radjiman Wadiodiningrat. Sementara ketuanya yang menjabat sebagai bupati lebih banyak memperhatikan reaksi penduduk pribumi.7
Setelah perdebatan penjang antara antara dua kubu di tubuh BU itu, yang berkenaan dengan corak gerakannya, dewan ketua memutuskan untuk membatasi gerakannya kepada penduduk Jawa dan Madura serta tidak melibatkan diri dalam kegiatan politik. Dengan demikian pengaruh golongan tua dapat mendesak pengaruh golongan muda. Golongan tua lebih banyak memikirkan rakyat banyak. Corak protonasionalistik
11 Abdurrahman Surjomihardjo, Pembinaan Bangsa dan masalah Historigrafi, (Jakarta ,Yayasan Idayu, 1979), h. 48.
12 Abdurrahman Surjomihardjo, h. 46.
para pemimpin pelajar yang menonjol pada awal berdirinya BU mulai terdesak ke belakang.8
Demikianlah sedikit ilustrasi mengenai pengaruh kota terhadap gerakan nasional dan terhadap pribadi para pemimpin gerakan. Pada kota-kota di Jawa yang pengaruh kebudayaan tradisional Jawa terasa lemah, sementara pengaruh budayaBarat melalui lembaga-lembaga pendidikan formal yang didirikan pemerintah kolonial mulai berkembang, maka kota-kota tersebut berkembang sebagai daerah yang membawa perubahan. Kota-kota itu dapat disebut sebagai pusat perubahan nilai-nilai budaya di Indonesia, terutama di Jawa.
Yogyakarta dalam hal ini juga telah memiliki lembaga pendidikan formal yang didirikan kolonial, tetapi ia tetap merupakan pusat kebudayaan Jawa yang masih bertahan dengan kuat karena letaknya di wilayah Kraton. Oleh sebab itu kota Yogyakarta walaupun juga membawa perubahan dengan adanya pengaruh Barat, namun pertahanan budaya aslinya masih kuat.
C. Soekarno Mempelajari Islam
Allah Maha Pemurah, hingga berkenan melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada Soekarno, dengan jalan memperkenalkan serta menyerahkannya ke dalam asuhan dan didikan pemimpin-pemimpin Islam, di antaranya HOS.
Tjokroaminoto. Soekarno kontak buat pertamakalinya dengan Tjokroaminoto ialah sejak tahun 1916, ketika Soekarno masih sekolah di HBS, Surabaya serta mondok (inde kost) di rumah Pak Tjokro. Sebagaimana telah dituturkan sendiri, Soekarno:
‚Tuhan amatlah bermurah hati kepada saya. Pada waktu aku masih muda, diberikan-Nyalah kepadaku pemimpin- pemimpin yang utama: Tjokroaminoto, Tjiptomangun
13 Abdurrahman Surjomihardjo, Budi Utomo Cabang Betawi, (Jakarta, Pustaka Jaya, 1980), h. 70.
kusumo, Ahmad Dahlan, B.P.E. Douwes Dekker (kemudian bernama Setiabudhy), Sneerliet dan lain-lain, semua mereka itu menanamkan pengaruh yang dalam pada jiwa saya yang dahaga. Terutama sekali Tjokroaminoto termasuk salah seorang guru saya yang amat saya hormati. Kepribadiannya menarik saya, dan Islamismenya menarik saya juga, oleh karena tidak sempit. Perpaduan pengaruh pemimpin-pemimpin tersebut kepada jiwa saya, membuatlah saya berpandangan politik sebagai sekarang ini‛.9 Selanjutnya Soekarno menceritakan riwayat hidupnya sebagai berikut:
‚Di kala tahun 1929, saya dipenjara, dimasukkan ke dalam sel yang berlapis empat pagar dinding gelap, ya gelap, kecuali ada sinar yang datang dari celah-celah jendela yang kecil. Di malam hari, saya melihat bintang gemerlapan di atas langit. Terbitlah air mataku, teringat saya kepada Dzat yang membuat Semesta Alam ini.
Titikan air mataku, menembus dalam jiwaku‛.
Disinilah pertama kali jiwaku insaf akan agama. Hatiku berhasrat sekali mempelajari agama, dengan membaca berbagai kitab-kitab agama yang tipis-tipis itu, yang diterbitkan oleh Perhimpunan-perhimpunan Islam.
Tetesan Ilham Ilahy yang kedua kalinya, yakni dikala saya dibuang ke Banda Neira di Plores. Jumlah penduduk disana ada 800.000 orang. Hamper semuanya penyembah berhala takut kepada pohon dan batu.
Inilah sebabnya maka jiwa dan pikiran kami lebih yakin bahwa agama Islam adalah agama yang wajib dipeluk oleh setiap orang, karena ia dapat memipin kesopanan serta memperhalus masyarakat dan memusnahkan kekafiran.
14 Solichin Salam, Soekarno dan Kehidupan Berpikir Islam, (Jakarta,Penerbit Wijaya, 1964), h. 30.
Tetesan Ilahy yang ketiga kepada hingga meresap dalam jiwa seinsap-insapnya ialah di kala tempat pembuangan saya dari Flores telah dipindahkan ke Bengkulen. Disanalah terwujud masyarakat Islam yang benar-benar. Keinsyafan saya bertambah-tambah sehingga saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa agama Islam adalah agama yang haq, agama yang benar, agama yang saya cintai serta sayalah pembela Islam.
Demikian evolusi atau perkembangan jiwa Soekarno sejak mudanya, sewaktu masih menjadi pelajar di kota Surabaya, sebagai seorang Indonesia Muslim, hatinya sudah tertarik kepada agamanya, hanya sayang jiwanya yang haus itu tidak mendapatkan penididikan agama dalam lingkungan keluarganya, akan tetapi utungnya kemudian tertampung kehausan jiwanya melalui perkenalan dan pergaulannya dengan berbagai pemimpin pemimpin islam seperti HOS.
Tjokroaminoto, KH. Ahmad Dahlan, H. Agus Salim, KH. Mas Mansur dan lain-lain sehingga dewasanya sesudah mengalami masa-masa hidupnya yang penuh liku dan derita dari penjara ke penjara, kemudian dari pembuangan yang satu tempat ke tempat yang lain, jiwanya semakin dekat dan lekat kepada Islam. Hatinya semakin cinta kepada agamanya yang luhur dan suci itu. 10
Soekarno selama di Endeh selain rajin membaca dan mempelajari buku-buku Islam, ia sering kali berkorespondensi dengan A. Hasan, seorang ulama Islam terkenal di Bandung.
Surat-menyurat ini berlangsung sejak 1 Desember 1934 hingga 17 Oktober 1936. Di dalam surat-menyurat Soekarno berjumlah 12 buah tersebut dituangkannya seluruh isi hati dan jiwanya tentang keadaan agama Islam dan umat Islam di Indonesia yang diliputi oleh kebekuan dan kekolotan itu.
Kemudian setelah Soekarno pindah pembuangannya dari Endeh ke Bengkulen, maka Soekarno semakin giat mempelajari Islam terutama sesudah beliau terjun kedalam gerakan
15 Solichin Salam, h. 34.
Muhammadiyah di Bengkulen dalam tahun 1938. Bahkan sampai beliau menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia.
Pengajian dan penyelidikan Soekarno terhadap Islam belumlah berakhir, sehingga beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Hasil pengkajian dan penyelidikan beliau ini dapat kita jumpai di dalam tulisan-tulisan, pidato-pidato, ceramah-ceramah, kuliah-kuliah umum, percakapan-percakapan dari hati kehati.
Yang ternyata isinya selain mengandung analisa yang dalam ditinjau dari segi ilmiah rasional, juga berisi kupasan-kupasan yang mengandung arti dan nilai filosofis, sebagai hasil pemikiran dan penggalian yang dalam tentang Mutiara Hikmah yang terkandung dalam ajaran-ajaran Islam.
Adapun segala uraian-uraian Soekarno yang terdapat baik berwujud artikel, pidato, ceramah, kuliah umum, surat maupun percakapan tentang Islam, dapatlah dikwalifikasikan dalam berbagai segi. Padaumumnya berdasarkan hasil penelitian saya, uraian-uraian Soekarno tentang Islam mempunyai nilai-nilai
‚sosiologis, paedagogis, historis, filosofis,politis dan religis‛.
Bagaimanakah giatnya Soekarno mempelajari Islam melalui buku-buku dapatlah kita ketahui dari surat beliau kepada A. Hasan yang mengatakan sebagai berikut:
‚Saya masih terus study Islam, tetapi sayang kekurangan literatur, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis ‚termakan‛. Maklum, pekerjaan saya sehari-hari sesudah cabut-cabut rumput di kebun, dan disampingnya
‚mengobrol‛ dengan anak bini buat menggembirakan mereka, ialah membaca saja. Dengan membaca buku-buku tentang Islam, juga yang lain.
Yang belakangan ini, dari tangannya orang Islam sendiri di Indonesia atau di luar Indonesia, dan dari tangannya kaum wetenschap yang bukan Islam.11 Buku-buku yang dipelajari
16 Dengan menggali terus Api Islam, serta mewarisi apinya dan bukan abunya, sesuai dengan Komando Soekarno maka dengan jiwa dan semangat yang