BAB III KEPRIBADIAN SOSOK SOEKARNO
E. Memahami Soekarno: Sebuah Persoalan
2. Gambaran Lebih Utuh
Dengan beberapa pertimbangan kritis tentang faktor budaya, penulis mencoba menampilkan citra kharismatis Soekarno dalam gambaran yang lebih berimbang, yakni mengaitkan fakta-fakta terpenting kepemimpinan politik Soekarno dengan faktor-faktor pemicu bagi pemunculan seorang pemimpin politik kharismatisseperti di atas.
a. Soekarno dan situasi krisia masyarakat
Pada masa colonial, kalangan primbumi yang mendapat manfaat dan sistem kolonial Belanda hanya kaum ningrat dan para pegawai kolonial; itupun disertai dengan berbagai diskriminasi, misalnya pembedaan gaji dengan orang Belanda, walaupun tingkat pendidikan dan kemampuan sama. Rakyat di kalangan bawah tak diuntungkan, malah dikenai berbagai pajak dan kerja paksa.
Keadaan seperti ini tidak adil dan meresahkan rakyat. Karena menyangkut sejumlah besar rakyat, keresahan itu bersifat masal, dan kemudian melahirkan berbagai pemberontakan. Pada umumnya, motif utama pemberontakan adalah penderitaan ekonomi dan diskriminasi sosial; lalu mendapat corak ideologis religius, nativistik dan mesianis. Karena bersifat sporadis dan lokal, tanpa organisasi yang baik, gerakan-gerakan protes ini mudak dihancurkan.
Pemunculan Soekarno di arena politik lahin dan pengamatannya terhadap praktek kolonial dan kondisi kehidupan rakyat. Dengan ketajaman intuisinya
memahami betapa rakyat yang resah itu sebenarnya anti penjajahan asing.
Gejala dalam masyarakat ini diolah Soekarno dan menghasilkan ideologi dan program partai yang anti kolonialisme. Salah satu program PNI adalah ‚masa aksi‛. Masa dalam pandangan Soekarno, terutama adalah rakyat kecil (kaum Marhaen). Maka,program politik Soekarno ialah menggalang masa yang resah dan tidak puas itu dalam Partai (PNI) agar bisa menjadi kekuatan perlawanan.4
Dalam priode Partindo, pendirian Soekarno tentang masa aksi makin kuat. Ia kiaskan masa sebagai
‚paraji‛ (dukun buranak/bidan) yang akan membantu proses kelahiran masyarakat baru. Bagi Soekarno, masa adalah alat transformasi, apalagi kalau kekuatan masa ini digalang lewat wadah organisasi partai. 5
Apakah Soekarno memanfaatkanmasadan keresahan mereka untuk kepentingan kuasa bagi dirinya? Fakta-fakta kehidupan Soekarno dalam tahap perjuangan ini justru memperlihatkan hal yang sebaliknya. Ia menjadi ‚suara‛ bagi aspirasi rakyat. Ia juga mendidik masa tentang kesadaran politik lewat tulisan,pidato dan Partai. Malahan dengan dan untuk masa rakyat yang hidup ‛sebenggol sehari‛ yang sering dicap orang Belanda sebagai ‚rakyat kambing yang bodoh‛ ini, Soekarno berjuang dan menderita pemenjaraan dan pembuangan.
Dan, ada imbalan berupa perhatian dan dukungan oleh masa yang resah ini terhadap Soekarno.
la dipandang sebagai pahlawan masa berkerumun di mana Soekarno berpidato. Dukungan masa terhadap
52 Soekarno, Indonesia Menggugat!..., h. 92-129.
53 Soekarno, Mencapai Indonesia Merdeka‛ dalam DBR I, h. 281-282.
PNI, dan kemudian Partindo, sangat mengesankan. Di mata Soekarno, masa penting, tetapi lebih lagi di mata masa yang resah karena dilanda krisis, Soekarno memang istimewa, bukan hanya karena kemahirannya, melainkan karena ia menjadi ‛penyambung lidah rakyat‛.
Penderitaannya karena perjuangan menuntun rakyat pada pengakuan bahwa Soekarno berperan sebagai Ratu Adil yang sekian lama dinanti-nantikan.
Keresahan masa, dan jawaban Soekarno terhadap krisis masa kolonial itu, menjadi faktor yang menimbulkan citra kharismatik kepemimpinan politiknya.
Menonjol dalam situasi krisis agaknya menjadi ciri khas kepemimpinan Soekarno. Pada masa Jepang,ia dimanfaatkan untuk menggalang masa bagi kepentingan Jepang. Soekarno didengar dan ditaati.
Ada akibat negatifnya, yaitu matinya ribuan tenaga kerja paksa (romusha). Tetapi, sebagaimana telah dicatat di tengah situasi krisis, lewat pidato ia mengirimkan pesan terselubung, mendorong agar rakyat anti imperialisme, termasuk imperialisme Jepang.
Situasi krisis menjelang dan setelah kemerdekaan sekali lagi membuktikan bagaimana SoekarnoSoekarno berhasil tampil dalam situasi demikian. Ia memberi jalan keluar dalam debat tentang dasar negara, menjadi proklamator, mengatasi perempuan Surabaya, lalu mengakhiri aksi Tanmalaka,6 yang menyadra Perdana Menteri Syahrir serta pemberontakan Muso. Bahkan dalam perannya sebagai tokoh lambang saja ia sudah dapat menyelesaikan berbagai krisis kabinet. Dan
54 Dalam tulisan ini, Peristiwa yang berkaitan dengan Tan Malaka penulis tunjuk sebagai fakta yang terkait dengan peran Soekarno, tanpa bermaksud menilai Tan Malaka.
puncaknya adalah menyelesaikan krisis Demokrasi Parlementer serta krisis persatuan bangsa lewat Dekrit 5 Julil959.
Contoh-contoh peran Soekarno dalam situasi krisis ini membenarkan pernyataan sebelumnya bahwa pemimpin politis kharismatis menonjol dalam situasi krisis dan peralihan. Dalil Weber dan Berger dapat dibenarkan, bahwa dalam situasi massa kehilangan orientasi dan makna, tampilnya tokoh yang memberi orientasi dan makna baru, serta jalan keluar, disambut antusias. Dan, Soekarno secara historis adalah kasus yang membenarkan dalil dan ciri otoritas kharismatis itu.
b. Soekarno dan Berbagai Struktur Sosial
Bagaimana sikapSoekarno terhadap berbagai struktur sosial? Penetrasi kolonial di Hindia Belanda, merubah wajah pelapisan sosial abad ke-19 dan awal abad ke-20. Selain struktur tradisional, raja, bupati dan lurah, diperkenankan pula setruktur administratif kolonial dengan gubernur jendral, gubernur, residen, asisten residen, dan pegawai administratif lembaga kolonial.
Selain itu, penetrasi kolonial memperkenalkan pola birokrasi legalformal serta sistern ekonomi uang, perdagangan bebas, kerja dengan upah, polakerja dengan pembagian waktu, rumah gadai, koperasi kredit. Sistem ekonomi kapitalis dengan penanaman modal, diperkenalkan terutama pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Akibatnya, walaupun kelas-kelas masyarakat (secara marxistis) tidak dikenal, tetapi pelapisan sosial menurut kelompok, status dan etnik, terbentuk.
Adanya kelompok birokrat kolonial, pejabat pribumi,
pegawai, pedagang, buruh,tani, rakyat bisa, memang kenyataan sosial yang ada. Secara etnik, ada kaum Eropa(totok, Indo) Cina, Arab, India dan masyarakat pribumi. Bagian terbesar dari kolompok etnik adalah kaum pribumi, yang kebanyakan adalah rakyat biasa, buruh, petani, nelayan, dan pegawai rendahan.
Sementara itu, sebagai akibat usaha pendidikan dalam politik etis, maka sebagian kecil kaum pribumi umumnya dari kalangan priyayi muncul sebagai elite pribumi berpendidikan tinggi, yang kemudian berperan penting dalam masyarakat. Dahm, menggolongkan kelompok ini dalam empat kategori;
salah satu di antaranya adalah kaum revolosioner, dengan ciri-ciri menolak kerja sama dengan penguasa kolonial, mengutamakan rakyat kecil pribumi dan membentuk kekuatan masa.
Soekarno adalah salah satu dari kaum revolusioner ini. Karena corak revolusioner dan perhatian pada rakyat kecil yang tertidas, Soekarno mengarahkan protes terhadap struktur sosial ekonomi kolonial. la hendak merombak struktur dan tatanan sosial lama dan membentuk struktur dan tatananbaru yang merdeka dan manusiawi yang di dalamnya rakyat yang sebelumnya tertindas, akan memerintah dan memperbaiki diri, ‚sosio demokrasi‛.
Soekarno memeng tak berhasil merombak tatanan kolonial. Tetapi, dobrakannya membawa akibat ganda. Pertama, ia membongkar selubung ideologis kolonial dan menggugat asumsi a-sumsi dasarnya.
Karena digugat, penguasa tatanan kolonial menangkap, memenjarakan dan membuang Soekarno.
Kedua, bagi Soekarno ini adalah penderitaan, tetapi benih perjuangan kemerdekaan telah tertabur di
kalangan rakyat. Penderitaan Soekarno pun melahirkan citra diri pahlawan.
Dari pengalaman masa kolonial Belanda dapat dipahami-sikap Soekarno masa Jepang. Soekarno adalah seorang fungsionaris Jepang, tetapi memakai peranan itu bagi kepentingan perjuangan nasional.
Situasi tak memberi peluang bagi protesterbuka terhadap Jepang, tetapi secara taktis ia mendobrak struktur dominasi Jepang dari dalam. Agaknya, pembubaran Putera antara lain karena organisasi ini telah berubah orientasinya dan menjadi wadah bagi masa rakyat dan tidak lagi mendukung Jepang. Juga, seperti sudah disinggung seruan-seruan anti imperialis dari Soekarno sebenarnya secara implisit tertuju pada imperialis Jepang.
Pada masa Demokrasi Parlementer, Soekarno hanya tokoh lambang.Ia tidak puas dikungkung dalam sistem itu sebagai tokoh lambang saja. Ia kemudian berhasil merintis sistem Demokrasi Terpimpin. Slogan
‚Revolusi Indonesia berjalan terus‛ adalah cerminan jiwa seorang yang tak bisa dikungkung olehstruktur yang kaku.
Dalam Demokrasi Terpimpin, sejumlah praktek
‚akstralegal‛ dapat ditafsirkan dari segi ini. Dekrit Presiden pembubaran DPR dan partai yang dinilai tidak demokratis, dapat dipahami dari sudut kharisma sebagai tindakan yang anti legalitas, dan suka menerobos kebekuansuatu sistem.
Keseluruhan fakta historis kepemimpinan Soekarno mengabsahlan beberapa pemikiran teoritis tentang ciri kharisma, yaitu bebas, kreatif, anti kebekuan, menerobos struktur dan tatanan yang dinilai membelenggu. Pada gilirannya memang dobrakan Soekarno terhadap berbagai struktur melahirkan citra
diri kharismatik: ekstra-legal, menyenangi dinamika dan bukan kebekuan.
Namun demikian, kegagalan Soekarno dalam Demokrasi Terpimpin agaknya dapat dijelaskan berdasarkan dalil Glassman bahwa kegagalan atau keberhasilan arah baru pemimpin politik kharismatis bergantung pada kesesuaian atau ketidaksesuaian ide-idenya dengan struktur sosial lama dan nilai-nilai nya yang masih hidup.7 Penerangan terhadap Soekarno, sejauh aspirasi murni masyarakat, merupakan indikasi bahwa sesuatu yang semula diduga sesuai dengan nilai-nilai Indonesia, ternyata tidak seluruhnya sesuai dengan nilai dan struktur lain yang masih kuat dianut dalam masyarakat Indonesia. Dan, Soekarno gagal meneruskan arah perubahan yang diinginkannya.
c. Soekarno, Misi dan Ideologi
Misi Soekarno adalah perjuangan kemerdekaan.
Walaupun banyak pihak memperjuangkan hal yang sama, pada Soekarno hal ini mendapat tekanan khusus dan diperjuangkan dengan gigih. seperti jelas dari berbagai tulisan dan pidato Soekarno periode 1920an dan 1930-an.
Dalam interaksi dengan masa, misi ini didukung seluruh rakyat. la memanggil rakyat terlibat, dan rakyat merasa berkewajiban mendukung misi bersama ini. Pakta ini menjelaskan salah satu ciri kharisma.
Dengan misi yang didukung secara luas, maka penganjurnya menjadi tokoh istimewa di mata para pendukung.
Erat kaitannya dengan misi adalah ideologi, ajaran,pemikiran sang pemimpin. Isi ideologi Soekarno
55 Glassman, ‚Charisma and Social Structure...‛ dalam Glassman &
Swatos. h. 183.
bukan pikiran ideal yang tidak kenamengena dengan situasi nyata. Pada Soekarno ideologi merupakan tanggapan atas realitas penggalangan rakyat dalam sistem kolonial. Soekarno tidak bertolak dari ide untuk merancang realitas; sebaliknya mengalami realitas kolonial menuntunnya untuk merumuskan ideologi.
Jadi, apa yang dikatakannya adalah hasil membaca dan mengamati keadaan nyata yang sedang terjadi.
Misalnya, nonkooperasi adalah prinsip Soekarno menghadapi struktur kolonial. Marhaenisme adalah penamaan terhadap rakyat kecil yang menderita dan miskin. Tema persatuan sesuai dengan kemajemukan masyarakat. Dan, dalam rangka persatuan itu Pancasila mencerminkan paham berbagai aliran dan golongan yang hidup dalam masyarakat.
Untuk merealisasikan ideologi seperti itu, Soekarno merintis wadah-wadah politik. PPPKI adalah wadah bersama dari berbagai kekuatan masyarakat pada masa perjuangan. PNI,partai politik dengan asas nasionalis, menurut Soekarno terbuka bagi setiap orang tanpa membedakan agama dan suku. Putera organisasi yang tampaknya rnendukung Jepang, sebenarnya me-rupakan wadah penyatuan kekuatan rakyat pribumi.
Hal ini masih diteruskan dalam demokrasi terpimpin, misalnya dengan ideologi NASAKOM dengan wadah bersama yang dibentuk, seperti Front Nasional.8
Dukungan rakyat terhadap ideologi Soekarno merupakan indikasi bahwa suara dan cita-cita mereka terwakili dalam ideologi itu. Rakyat seolah mendengar suara mereka. Di dalam kritiknya, kritik rakyat tersuarakan. Ia menyebut dirinya‛mulut‛ dan ‚telinga‛
rakyat, suatu penamaan yang bukan tanpa dasar.
56 Ayub Ranoh, Tinjauan Teologis atas Kepemimpinan Kharismatis Soekarno, h. 85.
Inilah salah satu aspekkharisma Soekarno, daya menangkap dan menyuarakan perasaan rakyat. Bila rakyat kemudian secara tidak kritis menerima pemikirannya, itu adalah tanda adanya kesesuaian antara ideologi Soekarno dan perasaan mereka. Pada gilirannya, di mata rakyat, Soekarno adalah sosok populis, yang mewakili aspirasi mereka. Ideologi Soekarno dengan demikian berperan melahirkan dan menguatkan citra kharismatik Soekarno.
d. Soekarno dan Kepemimpinan/Bakat Istimewa
Beberapa segi bakat istimewa Soekarno penulis kemukakan. Pertama, kemampuan memanfaatkan hal kultural (cultural management). Identifikasi diri dengan Bima, seorang tokoh dalam Mahabrata yang tidak mentoleransi musuh, tetapi sangat kompromistis terhadap kawan, menunjukkan dua segi karakter Soekarno: anti kolonialisme, tetapi menjadi pemersatu pribumi. Demikian juga, perjuangan untuk keadilan dan kemanusiaan, melawan penindasan kolonial, membuat dia dianggap sebagai Ratu Adil Jawa.
Selain itu, caraSoekarno menyatukan berbagai ide, dan menjaga harmoni, menunjukkan kemampuan lain Soekarno, dan dinilai banyak pihak sebagai kekhasannya dari nilai budayaJawa; satu cara berpikir yang bisa disebut ‚baik ini maupun itu‛, dan diramu.
Masih dalam konteks pemanfaatan budaya ini, adalah cara dia mengangkat kaum Marhaen ‚wong cilik‛ dalam ideologi. Segi ini sering ditafsirkan sebagai corak marxistis dari ideologi Soekarno; tetapi menurut penulis, ini adalah caraSoekarno memberi perhatian pada bagian besar masyarakat, yang baik dalam struktur sosial kolonial maupun dalam struktur tradisional Jawa/Indonesia yang feodalistik agak diabaikan atau dianggap rendah.
Kedua, adalah kemampuan retorika. Soekarno tidak hanya tau apa yang hendak disampaikan, tetapi juga tahu cara menyampaikan dengan tepat. Pengkritik Soekarno yang paling keras pun mengakui hal ini.
Terkait dengan retorika, adalah masa pendengar.
Pembicara dan pendengar saling berkait dan saling membutuhkan. Menurut Dahm, masa rakyat tergila gila pada Soekarno, tetapi Soekarno Juga tergila-gila pada masa pendengar karena kegairahan raereka.
Mereka suka mendengar, dan Soekarno hanya semangat bila masa berkerumun dalarn jumlah besar.
Keterkaitan ini masih tetap dipelihara dalam kepemimpinan kemudian; ia bersemangat dan pidatonya berkobar bila pada saat ia memberi amanat, terlihat banyak orang hadir dan memadati ruangan/lapangan.
Secara singkat pola retorika Soekarno bisa digambarkan ia mulai dengan permasalahan, menunjuk pada sejarah, di sanasini memakai metafora budaya, minyinggung pendapat tokoh tertentu, mengatur ucapan begitu rupa dengan intonasi yang khas, dan menutup dengan kesimpulan yang sulit dibantah.9
Retorika Soekarno dengan demikian berperan membentuk citra diri populer, mahir dan kharismatik.
Ketiga, adalah kemampuan dan bakat istimewa dalam berbagai bidang, politik, seni, arsitektur, menulis. Khusus, yang terakhir ini jelas dalam dua volume Di Bawah Bendera Revolusi, kumpulan tulisan dan pidato Soekarno. Mengingat bakat-bakat ini, penamaan ‚manusia aneka bakat‛ bukan pujian tanpa dasar terhadap Soekarno.
57 Alisjahbana mengakui, orang berkerumun mendengar pidato Soekarno, dan mereka dirasuki oleh pidato itu, h. 138
Keempat, daya tarik kepribadian Soekarno.
Alisjahbana menyebutnya fascinating personality.10 Cerita misalnya tentang Soekarno sakti, memiliki daya ramal, memiliki indekeenam,11 sebenarnya lahir dari rasa kagum terhadap bakat, kemampuan, dan daya tarik pribadi. Semua segi ini berperan membentuk citra kharismatik Soekarno.
Sejumlah faktor telah penulis kaitkan dengan Soekarno. Faktor mana yang lebih dominan? Penulis menolak tekanan berat sebelah pada salah satu faktor, misalnya budaya, kemampuan, atau situasi saja.
Menurut penulis, semua faktor berperan dalam memunculkan dan membentuk citra kharismatik ke pemimpinan politik Soekarno, walaupun untuk situasi tertentu faktor yang satu lebih berperan ketimbang yang lain.