BAB III KEPRIBADIAN SOSOK SOEKARNO
E. Memahami Soekarno: Sebuah Persoalan
3. Dampak-dampak Kharisma Soekarno
Soekarno meraih berbagai peran kepemimpinan, karena kharisma. Ada dampak positif bagi diri Soekarno.
Tetapi, apa dampak kharisma Soekarno bagi bangsa Indonesia secara luas? Berkat atau bencana? Lalu, bagaimana menilai dampak itu? Kontraversi sering muncul karena yang dianggap positif oleh satu pihak, dipandang negatif oleh pihak lain. Mengingat kesulitan ini, penulis akan merujuk pada fakta-fakta historis peran Soekarno, sambil menonjolkan perbedaan penilaian, lalu mengemukakan pendapat penulis sendiri.
58 Alisjahbana. h. 138.
59 Pengakuan Soekarno bahwa ia merasa memiliki indera keenam, dibuat sehubungan dengan Leimena. Karena Leimena dekatnya membuat ia mendapat inspirasi dan ide baru serta reaksi yang cepat dan tepat... Soekarno, Autobiography, h. 239.
a. Sumbangan Positif Kharisma Soekarno bagi Bangsa Kharisma Soekarno, harus diakui telah memberikan sumbangan positif bagi masyarakat. Dari gambaran historis, penulis menyoroti bahwa untuk memahami selukbeluk kepemimpinan politis Soekarno ini, ada tiga hal. Pertama, konteks historis yang di dalamnya Soekarno berperan. Kedua, peran kepemimpinan politis yang dilakukannya. Dan ketiga, pesan ideologispolitis yang disampaikannya lewat peran dan dalam konteks yang melingkupinya.
Menyoroti beberapa sumbangan menonjol yang diakui secara umum: Pertama, kharisma kepemimpinan politik Soekarno-berperan bagi pendidikan dan penyadaran politik rakyat.Lewat berbagai pidato dan tulisan, ia mengajar rakyat tentang berbagai masalah sosial, ekonomi dan politik. Masalah-masalah seperti penindasan ekonomi, kemerdekaan politik, kejahatan kapitalisme, kekuatan masa dan isu lain dikemukakan kepada rakyat dengan jelas.
Atas dasar kesadaran dan pemahaman itu, rakyat terlibat dalam partai, mendukung misi kemerdekaan sebagai kewajiban, dan menerima kebenaran ide-idenya. Kesadaran politik adalah faktor pendorong bagi partisipasi politik, meluas sampai ke rakyat dan bukan hanya monopoli kaum elite. Bagi Soekarno rakyat penting. Mereka bukan obyek, melainkan subyek, yang kelak memegang kekuasaan dalam negara merdeka. Karena itu penyadaran politik penting bagi rakyat banyak.
Kedua, kharisma Soekarno menjadi terobosanterhadap tatanan, nilai, dan ideologi yang beku. Ia menggugat kolonialisme, dan menyangsikan ideologi imperialistiknya. Ia mengkritik sikap-sikap tradisional bangsa sendiri yang merasa aman dan
memelihara ‚status quo‛ lalu membangun sikap baru di kalangan rakyat: anti penindasan dan penjajahan dan berorientasi pada sikap sebagai orang merdeka.
Rakyat disadarkan akan status sebagai manusia kelas dua, dan lalu diajak untuk berjuang menjadi manusia bermartabat. Setelah merdeka, kesadaranini terus ditanamkan. Ia waspada terhadap ‚nekolim‛, neo-kolonialisme, neo-imperialisme, bentuk baru penjajahan entah secara ekonomi atau budaya.
Ketiga, kekuatan kharisma Soekarno menjadi unsur pembentuk jati diri bangsa, satu hal yang sangat perlu bagi negara dan bangsa baru. Ia membangun martabat bangsa dengan merintis proyek-proyek mercusuar di tengah kesulitan ekonomi. Rakyat diajak memahami bahwa kesulitan ekonomi adalah kondisi lazim bagi negara baru. Ketika dikritik, Soekarno membaca Alkitab ‚manusia tidak hidup dari roti saja‛.12 Kesulitan ekonomi demi martabat bangsa, merupakan pilihan yang berat, tetapi dilakukan juga, karena bagi Soekarno, faktor kohesi nasional Pasca Soekarno bukan lagi tokoh Soekarno, tetapi justru kebanggaan nasional ini.
Keempat, sumbangan kharisma Soekarno bagi kesatuan nasional konsesus untuk bersatu demi kelangsungan bangsa. Upaya Soekarno ini sangat penting, mengingat kemajemukan Indonesia dalam banyak segi; suku, daerah, budaya, agama, ideologi.
Hal yang dicapai Belanda lewat perang penaklukan, dan dilanjutkan Jepang dengan kekuatan senjata, dicapai Soekarno lewat kekuatan kharismanya.
Kegairahan Soekarno menciptakan kesatuan adalah upaya sepanjang kepemimpinannya. Persatuan boleh dikatakan menjadi perhatian utama Soekarno.
60 Soekarno, Autobiography,..., h. 297.
Tahun 1920-an ia mendorong masa aksi bersama, menganjurkan penyatuan ideologi Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Wadah persatuan diciptakan seperti PNI, partai yang terbuka bagi setiap orang Indonesia, tanpa pembedaan agama dan suku. Juga PPPKI, federasi yang menghipun berbagai aliran masyarakat dibentuknya. Tahun 1930-an, ketika terjadi perpecahan, ia berusaha menyatukan kembali PNIBaru dan Partindo. Tetapi gagal, karena ditolak Hatta dan Sjahrir.
Soekarno mendabakan negara nasional demokrasi, bukan negara Islam. Tahun 1940, Soekarno menolak keinginan tertentu yang ingin membentuk negara Islam, dengan alasan bahwa ide itu tidak realitas bagi Indonesia yang majemuk. Ide negara Islam pasti ditolak bukan hanya oleh orang nonIslam, tetapi juga oleh kalangan intelektual Islam. Soekarno salah seorang penentangnya.13 Menurut Soekarno, negara baru yang akan dibentuk sebaiknya negara nasional dengan badan perwakilan rakyat yang mewakili berbagai kalangan dan keyakinan keagamaan.14
Lima tahun kemudian,ide Soekarnotercapai.
Dalam pidato ‚Lahirnya Pancasila‛, ia menegaskan negara Indonesia adalah untuk semua golongan satu silanya adalah persatuan atau nasionalisme. Pancasila, sintesis ideologisnya,diterima sebagai dasar negara.
Kegandrungan pada persatuan diteruskan dalam ide NASAKOM. Ia menghendaki persatuan yang mencakup semua kekuatan, termasuk PKI. Karena itu ia bersikeras tidak membubarkan PKI, salah satu unsur dalam politik NASAKOM. Pada tahun 1926 Soekarno
61 Ayub Ranoh. h. 90.
62 Soekarno, ‚Saya kurang dinamis‛, ditulis 1940 di Bengkulu, dan dimuat dalam majalah Panji Islam (Lih. DBR I).
memulai perjuangan dengan anjuran persatuan Nasionalisme, Islamisme, Marxisme; empat dekade kemudian, tersingkir karena bersikukuh pada ide yang sama. Walaupun demikian, sebuah sintesis ideologis lebih luas yang merangkum kemajemukan Indonesia, Pancasila tetap dipertahankan sebagai dasar negara.
Sang pemersatu telah tiada, tetapi ideologi persatuan, Pancasila, berfungsi sebagai pengikat bagi pluralitas Indonesia. Ini sumbangan positif utama kharisma Soekarno, Mencatat Sumbangan positif kharismanya, Soekarno tampil dalam sosok ‚promoter dan nation builder‛.15 Pendorong pembangun dan pemersatu.
Untuk peran ini memang ada kesepakatan umum.
b. Akibat Negatif Kharisma Soekarno bagi Masyarakat Selain segi positif, sejumlah peranan Soekarno dinilai negatif, Penulis menyoroti dua segi negatif, yang secara umum diakui. Pertama, kecenderungan otoriter dan tidak demokratis. Karena kemampuan, daya tarik pribadi, dan keberhasilan mengatasi situasi krisis, orang cenderung menerima dan mentaati Soekarno secara tidak kritis. Idenya disambut tanpa banyak persoalan. Walaupun juga ada pihak yang kritis,tetapi karena dukungan luas terhadap tawaran Soekarno, sehingga mereka bersikap diam atau mundur.16
Oleh karena itu, ide Soekarno tentang Demokrasi Terpimpin, mudah diterima. Sejumlah praktek Soekarno, seperti Dekrit 5 Juli 1959 yang membubarkan
63 Mundurnya Hatta sebagai Wakil Presiden pada 1 Desember 1956 adalah karena ketidaksetujuannya terhadap ‚konsepsi‛ Soekarno tentang Demokrasi Terpimpin,(Pustaka Sinar Harapan, 1988), h. 13.
64 Promoter adalah istilah Alisjahbana,h 137‛ sedangkan nation builder dipakai B.D.Magenda (lih. Katoppo A). h. 218
konstituante dan memberlakukan kembali UUD 1945 disambut sebagai jalan keluar dalam situasi krisis.
Praktek lain seperti pembubaran DPR, partai (PSI dan Masyumi), juga tidak mendapat tantangan. Padahal, semua praktek ini jelas menyalahi konstitusi dan tidak cocok dengan mekanisme demokrasi.
Lalu, Soekarno membentuk sendiri DPR, lembaga yang semestinya hanya dibentuk lewat pemilu. la menciptakan berbagai lembaga ekstra, sebagai perangkat Demokrasi Terpimpin. Malahan Dewan Nasional, lembaga tinggi setarap Kabinet dan Parlemen yang terdiri dari banyak golongan dan yang diketuai Soekarno sendiri, telah dikritik sejak awalnya.17Begitu pula halnya selama masa Demokrasi Terpimpin, tidak sekalipun diadakan pemilu, pada hal itu sarana perwujudan kehendak rakyat. Soekarno kemudian menerima pengangkatan sebagai presiden seumur hidup oleh MPRS.
Praktek seperti ini jelas otoriter dan tidak demokratis, yang kemudian mengundang kritik bahwa Soekarno adalah diktator, dan Demokrasi Terpimpin adalah satu kediktatoran. (Ini adalah kritik Hatta dalam tulisan ‚Demokrasi Kita‛, diringkas dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris, dimuat dalam Peith & Castles (Eds.), halaman 138-140). Kritik ini dibantah Soekarno, karena menurut dia,tak sesuai dengan kenyataan kepemimpinannya.18 tetapi fakta-fakta di atas terlalu Jelas untuk bisa disangkali.
65 Untuk gambaran ini lih. Deliar Noer, ‚Perkembansan Demokrasi Kita‛, dalam Amien Rais (Ed.) Demokrasi dan proses Politik, (Jakarta:
LP3ES,1986), h. 78-85.
66 Soekarno, Autobiography, <h. 283-283, menunjuk pada lembaga seperti MPRS, DPR, DPA, dan Presidium, sebagai bukti bahwa ia bukan dictator.
Bagaimana memahami kecenderungan ini dalam terang wawasan kharisma? Weber mengakui bahwa terdapat unsur 'antiauthoritarian' (demokratis) pada kepemimpinan kharismatis, karena otoritas ini bergantung pada pengakuan pengikut.Tetapi, pengakuan pengikut bisa menuntun kepada sikap taat yang buta, yang pada gilirannya bisa mengundang pemimpin untuk berlaku otoriter. Selain itu, ciri kharisma yang extra legal bisa membuat pemimpin mengabaikan aturan, mekanisme dan konstitusi yang ada. Jadi, kecenderungan otoriter Soekarno dapat dipahami berdasarkan ciri kharisma ini.
Berikutnya, adalah Soekarno mempunyai kecenderungan anti ekonomi. Tahun-tahun terakhir pemerintahannya ditandai kondisi buruk ekonomi Indonesia. Produksi berbagai bidang merosot;
penyediaan sarana umum rendah; karena kebijakan devaluasi, nilai uang merosot. Lonjakan harga kebutuhan pokok membuat biaya hidup makin tinggi.
Angka inflasi mencapai 650%.19 Kondisi ekonomi Indonesia masa Demokrasi Terpimpin memang parah.
Tentu berbagai faktor rumit dan teknis ada di balik ini. Tetapi tanggung jawab ada pada Soekarno yang mengajukan sistem Ekonomi Terpimpin. Maka relevan untuk bertanya, apakah Soekarno tidak memperhatikan pembangunan ekonomi? Apakah ia cenderung anti ekonomi? Untuk menjawab masalah ini, penulis mencari petunjuk sejarah, bagaimana sikap Soekarno terhadap berbagai masalah ekonomi.
Membaca tulisannya tahun 1930-an, jelas bahwa soal ekonomi merupakan alasan ia melawan
67 Buku Repelita I, Jakarta: pencuran Tujuh, 1969, h 13-14, Albert Widjaya, Budaya Politik dan Pembangunan Ekonomi, (Jakarta : PP3ES, 1982), h. 97-101.
kolonialisme. Ia mengecam penjajahan Belanda sebagai pengedukan harta pribumi. Indonesia menjadi lahan mencari bekal, sumber bahan mentah pabrik Eropa dan pasar bagi industri Eropa, serta lapangan usaha bagi modal asing.20
Sementara keuntungan besar mengalir ke Belanda,rakyat melarat, upah rendah, sekedar untuk tidak mati kelaparan (tetap sengsara) Dalam ungkapan khas Soekarno:‛ Marhaen... terpaksa mengganjal perutnya dengan sebenggol seorang sehari. Memahami kolonialisme dan nasib rakyat demikian, Soekarno merindukan masyarakat dengan demokrasi politik dan ekonomis, dan rakyat memerintah dan memperbaiki kehidupan. Dalam masyarakat demikian, ada kesejahteraan dan keadilan sosial; kaum kapital tidak merajalela; rakyat sejahtera, cukup sandang dan pangan.21
Rupanya masyarakat demikian yang hendak dibentuknya lewat Ekonomi Terpimpin, yang intinya adalah penataan kembali sarana ekonomi supaya sejalan dengan pasal 33 UUD 1945,sistern ekonomi berasas kekeluargaan; negara menguasai cabang-cabang produksi yang terkait dengan kehidupan rakyat,dan kekayaan alam dikuasai negara dan dikelola sepenuhnya bagi ke sejahteraan rakyat.22
Pemikiran ekonomi Soekarno demikianlah yang hendak diwujudkan lewat politik Ekonomi Terpimpin.
68 Soekarno, Indonesia Menggugat, h.39-45. Tulisan lain tahun 1930-an, selalu memandang penjajahan Belanda seperti ini.
69 Soekarno, Pancasila dan Perdamaian Dunia, h. 17.
70 Lih.Buku, Manifesto Politik,Surabaya;Dirgahayu Press 1959, untuk Bidang Ekonomi, h. 12-13.Untuk merealisir Ekonomi Terpimpin ini lalu dibuat Rencana Pembangunan Semesta Berencana untuk 8 tahun. mulai berlaku 1960.Pada tahun 1963 dibuat kebijakan DEKO (Deklarasi Ekonomi).
Tetapi, memang terdapat kesenjangan antara pemikir dan perilaku ekonomi. Pada akhirnya, ia dinilai gagal membawa kesejahteraan rakyat secara ekonomi.
Penyebab kegagalan ini adalah kecenderungan anti ekonomi Soekarno. Soekarno muda adalah bagian masyarakat yang belum berorientasi ekonomi rasional;
dalam sistem ekonomi kolonial, ia penentang, bukan pelaku aktif. Ia juga bukan ekonom. Minatnya terhadap soal ekonomi hanya tumbuh dari situasi kolonial yang memiskinkan. Ini sesuai dengan teori Weber bahwa seorang pemimpin kharismatis cenderung tidak mementingkan soal ekonomi.
Oleh karena itu, bisa dimengerti mengapa sikap ekonomi Soekarno, misalnya dalam Rencana Pembangunan Semesta berencana lebih merupakan rincian politik belaka dan ditetukan oleh pertimbangan politis. Di tengah penderitaan ekonomi rakyat, ia memakai dana untuk berbagai proyek prestise, halyang bagi para ekonom tak masuk akal. Dana yang bisa dipakai untuk proyek produktif, dipakai untuk proyek-proyek non ekonomi, dengan alasan demi martabat bangsa. Robison mencatat, banyak perusahaan negara dikelola orang yang tidak profesional, ditunjuk lebih karena pertimbangan politis dari pada kompetansi ekonomi. Akhirnya adalah salah urus dan membuka peluang korupsi.
Semua ini menunjukkan kecenderungan anti ekonomi Soekarno, walaupun ia memiliki pemikiran ekonomi yang baik.Soalnya adalah bagaimana memahami kecenderungan anti ekonomiSoekarno ini dalam hubungan dengan teori kharisma? Kecende-rungan Soekarno seperti itu, justru cocok dengan hal yang We berteorikan. Salah satu ciri kharisma menurut Weber, adalah sifat yang tidak sesuai dengan birokrasi
legal dan anti ekonomi, serta mengutamakan misi dan relasi personal dalam komunitas; maka kharisma menolak perilaku ekonomi rasional.23 Atau dalam kaitan dengan pandangan Shils tentangkharisma terkonsentrasi, lalu menyebar dalam berbagai bidang dan lembaga, maka dapat dikatakan bahwa kharisma Soekarno lebih menyebar dalam bidang politik, dan tidak dalam ekonomi. Gejala bahwa Soekarno antusias dalam bidang politik, mampu menggerakkan masa, tetapi dalam soal-soal ekonomi tidak bersemangat, membenarkan pandangan Shil ini.
Cara pangdang ini dapat diuji berdasarkan pendirian Soekarno sendiri. Pada tahun 1963 Rencana Pembangunan sulit dijalankankan. Dalam amanat proklamasi tahun itu ia menyatakan, walaupun ada minat pada ekonomi, tetapi ia bukan ahli ekonomi, dan karena itu tak tahu segi teknik ekonomi/perdagangan.
Prinsip ekonominya sederhana; kalau bangsa-bangsa padang pasir bisa mengatasi ekonomi mereka, mengapa Indonesia tidak bisa. Diakui bahwa dia sekedar ‚ekonomi revolusioner‛. Ekonomi Indonesia haruslah ‚ekonomi patriots‛, tidak mengemis bantuan.
Prinsipnya;‛Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tetapi budak‛. Pendirian ekonomi demikian pasti dinilai naif oleh ahli ekonomi.
Tetapi, itulah kecenderunga Soekarno, yang penulis sebut anti ekonomi.24
Dua kecenderungan Soekarno, otoriter dan anti ekonomiini membawa akibat negatf bagi rakyat.
Rakyat resah karena kesulitan ekonomi. Kharismahya ternyata berdampak negatif bagi rakyat. Lalu ia dinilai
71 Weber, dalam Gerth & Mills,Prom Max Weber,., h. 147.
73 Soekarno, ‚Amanat Proklamasi 17 Agustus 1963‛, dalam DBR II, h. 540-541, 543-544.
sebagai penghambat, atau bahkan bencana. Dampak bagi Soekarno sendiri tak kurang berat; ia tersingkir dari kekuasaan politis. Sejarah berulang secara terbalik.
Soekarno, yang pernah atas nama rakyat memprotes ekonomi kolonial yang memiskinkan, tersingkir karena protes rakyat, antara lain dengan mengajukan kemerosotan ekonomi sebagai alasan. 25
74 Salah satu tntutan demonstran pelajar dan mahasiswa adalah penurunan harga kebutuhan pokok.Peliput demonstra-si itu, jnn Hughes,memberi komentar tentang masuknya pemuda pelajar dalam demonstrasi dengan tuntutan ekonomi,dengan kata-kata mereka:”Were fed up with the economic chaos they were falling heir to and for whom the Soekarno cagic had worn trasparently thin”
(Lih. J. Hughes,The End of Soekarno,London;Agus & Robertson,1968, h. 205-206).
BAB IV
PANDANGAN SOEKARNO TENTANG ISLAM DAN NASIONALISME
Tetapi kecuali Pancasila adalah satu Weltanschauung, satu dasar falsafah, Pancasila adalah satu alat pemersatu, yang saya yakin seyakin-yakinnya Bangsa Indonesia dari Sabang ke Merauke hanyalah dapat bersatu padu di atas dasar Pancasila itu.
Dan bukan saja alat pemersatu untuk di atasnya kita letakkan Negara Republik Indonesia, tetapi juga pada hakikatnya satu alat mempersatu dalam perjoangan kita melenyapkan segala penyakit yang telah kita lawan berpuluh-puluh tahun yaitu penyakit terutama. sekali, imperialisme.
Perjuangan suatu bangsa, perjuangan melawan imperialisme, perjuangan mencapai kemerdekaan, perjuangan sesuatu bangsa yang membawa corak sendiri-sendiri. Oleh karena pada hakikatnya, bangsa sebagai individu mempunyai kepribadian sendiri. Kepribadian yang terwujud dalam pelbagai hal, dalam kebudayaannya, dalam perekonomiannya, dalam wataknya dan lain-lain sebagainya. (Soekamo, 1958).
Tidak ada bangsa yang dapat mencapai kebesaran jika bangsa itu tidak percaya kepada sesuatu, dan jika tidak sesuatu yang dipercayainya itu memiliki dimensi-dimensi moral guna menopang peradaban besar. (John Gardner, 1992).
A. Pancasila adalah Warisan dari Jenius Nusantara
Sesuai dengan karakteristik lingkungan alamnya, sebagai negeri lautan yang ditaburi pulau-pulau (archipelago),1 jenius
1 Istilah yang lazim dipakai untuk melukiskan negara Indonesia adalah
“negara kepulauan”, yang mengandung bisa daratan. Menarik, bahwa Soekarno
Nusantara juga merefleksikan sifat lautan. Sifat lautan adalah menyerap dan membersihkan, menyerap tanpa mengotori lingkungannya. Sifat lautan juga dalam keluasannya, mampu menampung segala keragaman jenis dan ukuran.
Mohammad Hatta melukiskan etos kelautan manusia Indonesia itu secara indah:
Laut yang melingkungi tempat kediamannya membentuk karakternya. Pecahan ombak yang berderai di tepi panitianya, dengan irama yang tetap, besar pengaruhnya atas timbulnya perasaan yang menjadi semangat bangsa.
Penduduk yang menetap di daerah pantai saban hari mengalami pengaruh alam yang tidak berhingga, yang hanya dibatasi oleh kaki langit yang makin dikejar makin jauh. Bangsa-bangsa asing yang sering singgah di Indonesia dalam melakukan perniagaan dari negeri ke negeri, mendidik nenek moyang kami ini dalam pelbagai rupa, memberi ia petunjuk tentang barang-barang yang berharga dan tentang jalannya perniagaan. Last but not le-ast, pertemuan-pertemuan yang tetap dengan bangsa asing itu, orang Hindi, orang Arab, orang Tionghoa, dan banyak lainnya, mengasah budi pekertinya dan menjadikan bangsa kami Jadi tuan rumah yang peramah.
Pada bangsa pelaut ini, keinginan untuk menempuh laut besar membakar jiwa senantiasa. Dengan perahunya yang ramping, dilayarinya lautan besar dengan tidak mengenal gentar, ditempuhnya rantau yang jauh dengan tiada mengingat takut.2
Sebagai ‛negara kepulauan‛ terbesar di dunia, yang membujur di titik strategis persilangan antar benua dan antar pernah menyebut Negara Indonesia sebagai “negara lautan yang ditaburi pulau-pulau”. H Itu lebih sesuai dengan istilah aechipelago, yang berarti “kekuasaan lautan” (arch/archi kekuasaan, pelago/pelagos lautan).
2 Hatta, 1960; 1983, h. 151.
samudra, dengan daya tarik kekayaan sumber daya yang berlimpah, Indonesia sejak lama menjadi titik temu penjelajahan bahari yang membawa berbagai arus beradaban. Maka, jadilah Nusantara sebagai tamansari peradaban dunia.
Selain itu, Jenius Nusantara juga merefleksikan sifat tanahnya yang subur, terutama akibat debu muntahan deretan pegunungan vulkanik. Tanah yang subur, memudahkan segala hal yang ditanam, sejauh sesuai dengan sifat tanahnya, untuk tumbuh. Seturut dengan itu, genius Nusantara adalah kesanggupannya untuk menerima dan menumbuhkan. Di sini, apa pun budaya dan ideologic yang masuk, sejauh dapat diterima oleh sistem sosial dan tata nilai setempat, dapat berkembang secara berkelanjutan.
Etos pertanian masyarakat Nusantara bersifat religius dan gotong royong, dalam rangka meringankan penggarapan 1ahan secara bersama-sama. Sifat religius dan sensitivitas kekeluargaan juga memijarkan daya-daya etis dan estetis yang kuat. Maka, jadilah Nusantara sebagai pusat persemaian dan penyerbukan silang budaya, yang mengembangkan pelbagai corak kebudayaan yang lebih banyak dibandingkan dengan kawasan Asia mana pun.3
Sifat kelautan yang serba menyerap dan kesuburan tanah yang serba menumbuhkan itu membuat Indonesia tidak pernah sepi dari gangguan dan asupan ‚tanaman‛ dari luar. Akan tetapi, seperti dikatakan oleh Denys Lombard (1996), situasi demikian tidak perlu dipandang sebagai kerugian. Jika dikelola secara baik, dengan mempertahankan sifat-sifat positif dan karakter ‚tanah air‛ tersebut, pengaruh asing itu dalam evolusi sejarahnya bisa membawa keuntungan, kalau bukan syarat untuk terjadinya peradaban agung.
Penindasan ekonomi politik oleh kolonialisme kapitalisme memang banyak menggerus sifat-sifat kemakmuran,
3 Oppenheimer, 2010: xxvii.
kosmopolitan, religius, toleransi dan kekeluargaan dari tanah air ini. Di sisi lain kolonialisme kapitalisme mengandung kontradiksi internal tersendiri yang membawa unsur-unsur emansipasi baru, seperti humanisme, perikebangsaan, demokrasi, dan keadilan, yang dapat memperkuat karakter keindonesiaan. Persenyawaan antara anasir karakter asal yang mengendap latin dalam jiwa penduduk dan visi emansipasi baru itu diidealisasikan oleh para pendiri bangsa sebagai sumber jati diri, dasar falsafah dan pandangan hidup bersama.
Maka ketika Dr. Radjiman Wediodinengrat, selaku Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada 29 Mei 1945 meminta kepada sidang untuk mengemukakan da-sar (negara) Indonesia merdeka, permintaan itu menimbulkan rangsangan ‚anamnesis‛ yang memutar kembali ingatan para pendiri bangsa ke belakang; hal ini mendorong mereka untuk menggali kekayaan kerohanian, kepribadian, dan wawasan kebangsaan yang terpendam dalam lumpur sejarah.
Alhasil, prinsip-prinsip dasar negara Indonesia merdeka yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa itu tidaklah dipungut dari udara, melainkan digali dari bumi sejarah keindonesiaan, yang tingkat penggaliannya tidak berhenti sampai zaman gelap penjajahan, melainkan menerobos jauh ke belakang hingga ke zaman kejayaan Nusantara. Dalam usaha penggalian itu, para pendiri bangsa juga memikirkan dan merasakan apa yang dialami bangsanya selama masa penjajahan dan mengingat apa saja yang pernah mereka perjuangkan dan impikan sebagai sumber pembebasan, kebahagiaan, dan identitas bersama.
Dengan demikian, betapapun rumusan dasar negara itu baru dikemukakan selama masa persidangan BPUPK,4 bahan-bahan pemikirannya telah dipersiapkan sejak awal pergerakan
4 Masa persidangan BPUPK terdiri dari dua babak.Masa persidangan pertama berlangsung dari tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Masa persidangan kedua dari tanggal 10 Juli hingga 17 Juli 1945.
kebangsaan Indonesia. Setidaknya sejak dekade 1920 an, pelbagai kreativitas intelektual mulai digagas sebagai usaha mensintesiskan aneka ideologi dan gugus pergerakan dalam rangka membentuk ‚blok historis‛ (blok nasional) bersama demi mencapai kemerdekaan.
B. Fase Pembuahan
Sejak 1924, Perhimpunan Indonesia (PI), di Belanda, mulai merumuskan konsepsi ideologi politiknya bahwa tujuan ke-merdekaan politik haruslah didasarkan pada empat prinsip:
Persatuan nasional, solidaritas, non koperasi, dan kemandirian (self help). Persatuan nasional berarti keharusan untuk
Persatuan nasional, solidaritas, non koperasi, dan kemandirian (self help). Persatuan nasional berarti keharusan untuk