BAB I PENDAHULUAN
C. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka berisi kajian literature (review) yang relevan dengan pokok bahasan penelitian yang akan dilakukan,atau memberi inspirasi dan mendasari dilakukannya penelitian.Pustaka yang diulas hendaknya mencakup pustaka terbaru, dan juga pustaka terbitan lama yang relevan dengan bidang yang diteliti. Dalam hal ini pustaka primer, atau sumber pertama harus diprioritaskan.
Berdasarkan tersebut di atas, maka berikut ini penyusunpaparkan buku-buku dan pengarangnya yang membahas tentang Soekarno, terkait judul yang sedang penyusun bahas, di antaranya
1. Disertasi karya M. Ridwan Lubis, judul buku :Soekarno dan Modernisasi Islam, Penerbit: Komunitas Bambu, cetakan pertama, 2010.
2. Dr. Badri Yatim, Judul buku, Soekarno, Islam dan Nasionalisme. Penerbit LOGOS WACANA ILMU, Cetakan II, Oktober, 1999.
3. Argawi Kandito, SoekarnoTheLeadership Sekrets Of.
Penerbit, ONCOR Semesta Ilmu, Cetakan I. 2011.
4. George file.Turnan Kahin, NASIONALISME & REVOLUSI INDONESIA Penerbit, Komunitas Bambu, Depok, Cetakan I, 2013.
5. Ir. Soekarno, Membangun Dunia Jang Baru,(T0 BUILD THE WORLD ANEW), Penerbit, Media Pressindo, Cetakan I Desember 2000
6. Ir. Soekarno dan KH. Ahmad Dahlan. TOKOH-TOKOH PEMIKIRAN PAHAM KEBANGSAAN, Penerbit, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jakarta 1999.
7. Cindy Adams, Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Penerbit: Media Pressindo, Cetakan Pertama 2007. (Demi pengertian terhadap Soekarno dan bersamaan dengan itu pengertian yang lebih baik terhadap Indonesia ku yang ter cinta)
8. Agus Sudibyo, Citra Soekarno, ANALISIS BERITA PERS ORDE BARU, Penerbit: Bigraf Publishing, Jl.
Sisingamangaraja 93 Yogyakarta 55153, Cetakan Pertama:
September 1999
9. Jurnal BERDIKARI-NASAKOM Gagasan Tatanan Masyarakat Dunia, Edisi 03, 2002.
10. Pdt. Dr. Ayub Ranoh, Tinjauan Teologis Etis atas Kepemimpinan Kharismatik Soekarno. Penerbit: PT BPK Gunung Agung Mulia:, Jl. Kwitang 22-23, Jakarta 10420, Cetakan II 1999.
11. Tim Kajian LKSM, H. Wuryadi dkk. Perspektif.
PEMIKIRAN KARNO. Penerbit: Lembaga Putra Pajar, Tebet Dalam IV D:, Ho. 3 Jakarta Selatan, Cetakan Pertama.
Januari 2004.
12. Eddy Sutrisno, Soekarno Dipanggang Api Semangatmu, Penerbit, Progres Sukses Mandiri Jakarta, Tanpa tahun penerbitan.
13. Ir. Soekarno, SOEKARNO & ISLAM, Kumpulan Pidato tentang Islam 1953-1966, Penerbit: Inti Idayu Press, Jl. Kwi-tang no. 8 Jakarta 10420, Cetakan Pertama 1990.
Disertasi karya M. Ridwan Lubis, dengan judul “Soekarno dan modernisme Islam”,telah. menerangkan bahwa Soekarno lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang tak membaca Al-Quran sebagai bagian kehidupan sehari-hari. Ayahnya seorang priyayi Jawa dan pengikut ajaran theosofi, sedangkan ibunya seorang perempuan Hindu Bali. (Gunawan Muhammad xv).
Diterangkan pula, pelajaran pertama yang diterima Soekarno dari lingkungannya adalah kebudayaan Jawa.Hal ini membawa pengaruh kepadanya terutama konsep budaya Jawa yang disampaikan lewat pertunjukan wayang. Kebudayaan Jawa membentuk perkembangan Islam di Jawa yang berwujud pada pola sinkretis; dan puritan. Sinkretis ialah penyatuan unsur-unsur pra Hindu, Hindu dan Islam, sedangkan puritan ialah yang berusaha mengikuti ajaran dengan taat.
Pelajaran kedua adalah konflik keluarga ibu dengan bapaknya yang berpangkal pada sentimen kedaerahan dan agama. Konflik-konflik semacam ini dapat menimbulkan benih-benih pertentangan antar kelompok sosial dan lebih jauh dapat memecah belah integrasi suatu bangsa.
Selain didikan orang tuanya, Soekarno menurut pengakuannya, memperoleh juga butir-butir pikiran dari pembantu rumah tangga mereka yang bernama Sarinah.
Sarinah memberikan pesan-pesan yang bernuansa kerakyatan kepadanya, yaitu yang menyangkut sikap menghadapi nasib
rakyat kecil. Sarinah berkata kepadanya, “Karno, yang pertama harus kamu cintai adalah ibu dan bapakmu, akan tetapi kemudian engkau harus pula mencintai rakyat jelata, engkau harus mencitai manusia umumnya. Untuk mengenang jasa Sarinah itu, Soekarno menulis sebuah buku dengan ;judul Sarinah dan diterbitkan, pertama kali pada tahun 1947 oleh Oesaha Penerbit Goentoer”. (Dr. M. Ridwan Lubis, Soekarno dan modernisme Islam, Penerbit: Komunitas Bambu, 2010, Beji Timur Depok).
Dr. Badri Yatim, Soekarno, Islam dan Nasionalisme.
Penerbit Logos Wacana Ilmu, 1999, Cetakan II. Dalam buku ini pemikiran Soekarno mengenai Islam tergambar dengan jelas pada saat ia menulis di berbagai media masa dan berpidato mengenai perkembangan Islam dalam banyak masalah. Namun deraikian para sejarawan dalam dan luar negeri menempatkannya sebagai seorang tokoh nasionalis sekuler, yang sering berhadapan dengan nasionalis Islam. Dengan demikian, pemikiran Soekarno yang berkaitan dengan Islam tidak begitu mendapat perhatian.
Bila dilihat dari pengetahuannya tentang searah Islam, maka Soekarno adalah seorang muslim yang luas pengetahuannya. Tetapi bila ditinjau dari latar belakang keluarga dan pendidikannya, ia memang lebih dekat kepada kelompok nasionalis sekuler. Di sinilah letak keunikannya. Ia tidak dapat di samakan dengan tokoh-tokoh nasionalis Islam.
Walaupun ia sendiri mengaku sebagai seorang politikus yang netral agama, namun pemikiran keislamannya tentu banyak mempengaruhi pemikiran politik dan pemahaman nasionalismenya. (Badri Yatim, hal. 2)
Argawi Kandito, SoekarnoThe Leadership secrets Of.
Penerbit, Oncor Semesta Ilmu, cetakan I, 2011. Dalam buku ini diuraikan tentang Soekarno belajar kepada para pendahulu, seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, Sunan Kalijaga,
Ronggowarsito, Hos Gokroaminoto, Dr. Soetomo dan Jandral Soedirman.
Dari para pendahulu tersebut Soekarno mengambil pelajaran-pelajaran dari mereka, di antaranya dari Gajah Mada.
Soekarno menceritakan, jika terinsprasi oleh kemasyhuran banyak tokoh, antara lain Gajah Mada. Menurut beliau, Gajah Mada adalah sosok yang ia kagumi, Soekarno mengakui bahwa ia banyak belajar dari Gajah Mada, mulai dari ilmu politik, ekonomi, nasionalisme dan kenegaraan.
Banyak ilmu politik yang ia dapat setelah mempelajari riwayat Gajah Mada, seperti tentang bagaimana cara memimpin suatu negara dan bagaimana cara pemimpin menghindari berbagai kekacauan. Soekarno menjelaskan, bahwa dalam memimpin negara, hubungan yang terbangun antara pemerintah dan rakyat bukanlah semata-mata seperti hubungan antara tuan dan pelayan, akan tetapi hubungan timbal balik dan saling memerlukan yang juga meliputi hubungan batin. Ketika hubungan yang bersifat timbal balik terwujud, akan terbangun kepercayaan utuh dari rakyat kepada pemerintah. Jika hal itu tercapai, fungsi pengawasan negara terhadap rakyatnya dapat dijalankan dengan baik. (Argawi Kandito, hal. 8).
Selanjutnya dari Sunan Kalijaga, Soekarno juga mengarabil pelajaran tentang ketenangan dalam menghadapi berbagai persoalan dan cara penyarapaian ideologi kepada masyarakat, Soekarno mengatakan bahwa Sunan Kalijaga mempunyai rasa percaya diri yang kuat. Sunan Kalijaga dalam menghadapi masyarakat yang plural, ia tidak merasa ada sesuatu yang menjadi kendala. Ia bisa cair dalam suasana apapun. Selain itu, Soekarno juga sangat tertarik dengan cara Sunan Kalijaga menyampaikan ajarannya. Sunan Kalijaga tidak mengubah tatanan masyarakat yang sudah ada, namun ajarannya tetap masuk dan mengenal meski ada perbedaan pola pikir.
Soekarno mengakui banyak hal yang bisa dipetik dari Su-nan Kalijaga. Bukan hanya perilaku keseharian, namun juga pemikiran tentang konsep negara. Lebih jauh lagi Soekarno menjelaskan bahwa pondasi dan kerangka-kerangka yang menopang Negara Republik Indonesia terinspirasi pemikiran Sunan Kalijaga ia ketika mendirikan Keraton Mataram.
Pendirian negeri Mataram di Yogyakarta tidak terlepas dari keinginan mendekatkan pemerintahan dengan rakyatnya, agar kehidupan rakyat menjadi lebih sejahtera. Persatuan dan kesatuan masyarakat yang pada dasarnya plural juga akan terbentuk dan terjalin.
Selanjutnya, segala pencapaian Soekarno selama masa hidupnya tak terlepas dari kegemarannya membaca sejak kecil.
Dari kegemarannya membaca itu ia banyak tahu berbagai hal, tentang tokoh, sastra, berbagai pemikiran, sejarah dan sebagainya. Pemikiran yang linier logis hingga yang mistisme dan metafisis banyak dibaca. Dari kegemaran membacanyaitu pula ia mengenal karya-karya Ronggowarsito.
Soekarno menyebutkan bahwa hal yang menarik dari Ronggowarsito adalah karya-karya sastra dan ramalan-ramalannya. Ketika ada pembicaraan mengenai apa yang bisa dipetik, ada kalimat tegas yang diucapkan oleh Soekarno:
“Memang, dalam kepemimpinan tidak dibutuhkan ramalan seperti itu, namun dalam upaya komunikasi dengan masyarakat hal itu banyak rnemberi inspirasi”. Soekarno mengakui bahwa bahan-bahan orasinya banyak terinspirasi dari karya-karya Ronggowarsito. Beliau menuturkan beberapa orasinya yang dibumbui .... ramalan Ronggowarsito.
Misalnya: “Indonesia akan menjadi mercusuar dunia”…..”sayaakan menjadi penguasa yang menggemparkan dunia”, dan sebagainya. Bahan-bahan orasi yang banyak diambil dari Ronggowarsito itu ada yang disampaikan apa adanya, juga ada yang diucapkan setelah diramu dengan kata-kata motivatif, seperti:
“Berilah aku seribu orang tua, maka akan kucabut semeru, dan berilah aku sepuluh pemuda, akan kugoncang dunia”. (Argawi Kandito, hal. 19)
Tata Septayuda Purnama. Khazanah Peradaban Islam, Penerbit Tinta Madina, Cetakan 1,Maret: 2011, Jin.Dr.
Supomo 23 Solo 57141.
Dalam buku ini menerangkan keakraban Soekarno dengan seorang ulama NU. Kiai Wahab Hasbullah, salah satu pendiri NU. Melalui kisah kitab kuning. Bahwa kitab kuning pernah dijadikan Soekarno sebagai pedoman dasar saat menyelesaikan konflik Irian Barat sangat populer di kalangan pesantren.Pada tahun 1948, pemerintah Belanda berjanji kepada pemerintah RI bahwa Irian Barat akan diserahkan kepada Indonesia. Ternyata sampai tahun 1951, Belanda belum menyerahkan kedaulatan atas Irian Barat kepada RI.
Perundingan pun beberapa kali dilakukan, tetapi selalu gagal.
Soekarno, sapaan akrab Presiden Soekarno, akhirnya menghubungi Kiai Wahab Hasbullah di Jombang, Jawa Timur.
la menanyakan apa hukumnya bagi orang-orang Belanda yang masih bercokol di Irian Barat ?
Kiai Wahab Hasbullah, salah satu pendiri NU itu menjawab, “Hukumnya sama dengan orang yang ghashab”.
“Apa artinya ghashab, Kiai ?” tanya Soekarno.
“Ghashab itu istihqaqu malil ghair bighairi idznihi (menguasai hak milik orang lain tanpa seizin pemiliknya),” Jawab Kiai Wahab.
Selanjutnya, Soekarno menyiapkan perundingan dengan Belanda dan mengutus Subandrio untuk mengadakan perudingan ituSepertididuga sebelumnya, perundingan kali ini berakhir gagal. Kegagalan ini disampaikan Soekarno kepada Kiai Wahab.
Kiail, apa solusi selanjutnya menyelesaikan masalah Irian Barat?”tanya Soekarno.
Kiai Wahab menjawab, “Akhadzahu qohron!”(ambil atau kuasai dengan paksa!)
Soekarno bertanya lagi, “Apa rujukannya Kiai dalam memutuskan masalah ini?”
Kiai Wahab menjawab, “Saya mengambil literatur kitab Fathul Qarib dan syarahnya (al-Baijuri.)”
Setelah itu Soekarno mantap dengan pendapat Kiai Wahab yang mengontekstualisasi literatur kitab Pathul Qarib agar Irian Barat direbut dengan paksa. Peran kitab kuning rupanya mampu. Dari sinilah Soekarno membentuk tiga komando rakyat atau dikenal dengan Trikora untuk menyelesaikan konflik Irian Barat.
Kitab kuning adalah sebutan untuk kitab klasik bahan kajian pokok di pesantren-pesantren salafiyah (tradisional).
Namanya merujuk pada warna kertas yangdigunakan untuk mencetaknya di masa lalu, yaitu kekuningan. Kini,meskipun sebagian kitab kuning dicetak di atas kertas berwarna putih, namanya tetap kitab kuning. (Tata Septayuda Purnama, hal.
124).
Peran Organisasi Pendidikan. Soekarno adalah sosok pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan baik. Hal ini ditunjukkan ketika ia berorasi atau saat wawancara. Selain enak diajakbicara, ia juga sangat inspiratif bagi lawan bicaranya dan mampu mengembangkan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali informasi lebih dalam.
Menurut Soekarno organisasi pendidikan kala itu juga mempunyai andil besar dalam upaya merebut kemerdekaan.
Hanya saja gaya dan sifat organisasinya berbeda dengan organisasi-organisasi pemuda. Organisasi pendidikan ini umumnya dikuasaioleh para Kyai dan kaum priyayi. Dua strata sosial ini mendominasi karena mempunyai akses serta kemampuan untuk berada di lingkungan institusi pendidikan.
Karena itu, pada waktu itu kebanyakan masyarakat yang bersekolah adalah dari dua kelompok ini. Soekarno
sendiri,meski berpendidikan tinggi kala itu, mengaku tidak turut langsung dalam organisasi ini. Ia memilih bergabung dengan kawan-kawannya sebagai kelompok nasionalis.