BAB II RIWAYAT HIDUP SOEKARNO
D. Jiwa Keislaman Soekarno
Untuk mengetahui sejauhmana pendirian Soekarno tentang Islam, maka dapat diikuti dan diperhatikan apa-apa yang diucapkan dalam pidato-pidatonya:
Saya setuju dengan anggapan tuan bahwa soal ‚taqlid‛
adalah salah satu sebab yang terbesar dari kemunduran Islam umumnya. Sekarang inilah taqlid marak, semenjak ada aturan, taqlid, disitulah, kemunduran Islam cepat sekali. Tak heran.
Dimana jenius dirantai, dimana akal pikiran diterungku,disi-tulah datang kematian.
Bila kita melihat jalannya sejarah Islam, maka tampaklah disitu akibatnya ‚taqlid‛ itu sebagai suatu garis ke bawah garis declinesampai sekarang. Umumnya kita punya kyai-kyai dan kita punya ulama-ulama tak ada sedikitpun dari sejarah itu. Mereka punya minat hanya tertuju pada
‚agama khususi‛ saja, dan dari agama khususi ini, terutama sekali bagian ‚fiqih‛. Sejarah, apalagi bagian demikian itu, kepangunan dan keja yaan kembali Islam akan tercapai dan segera menjadi kenyataan
‚yang lebih dalam‛, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masyarakat yang ‚menyebabkan‛ kemajuan atau kemunduran sesuatu bangsa sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian. Padahal di sini, disinilah padang penyelidikan yang, maha penting. Apa sebab ‚mundur‛? Apa sebab, bangsa ini, dijaman ini, begitu?.12
Seorang teman bertanya kepada saya: bagaimanakah siasatnya, supaya zaman kemegahan Islam yang dulu-dulukembali? Saya punya jawab ada singkat:‛ Islam harus berani mengejar zaman!‛ Bukan seratus tahun Islam ketinggalan zaman kalau Islam tidak cukup kemampuan untuk mengejar seribu tahun ketinggalan itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali ke zaman khalifah-khalifah dari zaman dulu, melainkan melompat maju seribu tahun ke muka untuk mengejar ketinggalan.
Cuma begitulah caranya untuk mengembalikan zaman keemasan Islam.
Kepada kita selamanya dapat ajaran bahwa kita harus menjiplak zaman khalifah yang dulu-dulu? Sekarang toh bukan tahun 700, atau 800 atau 900? Masyarakat toh bukan‛gerobak‛ yang boleh kita kembalikan semau-mau kita? Masyarakat minta maju, maju ke depan, maju ke muka, maju ke tingkat yang kemudian, dan tidak mau disuruh ‚kembali‛.
Kenapa kita musti kembali ke zaman‛kebesaran Islam‛yang dulu? Hukum Syari'at? Lupakah kita bahwa masih ada juga barang ‚mubah‛ atau ‚jaiz‛ Alangkah baiknya kalau kaum Islam lebih ingat pula kepada yang mubah atau jaiz ini. Alangkah baiknya kalau ia ingat, bahwa ia di dalam urusan dunia, di dalam urusan statemanship ‚boleh berqias, boleh berbid'ah, boleh
17 W. Soewarto, Kejayaan dan saat-saat Terakhir Soekarno, (Jakarta, Gunung Jati, tahun 1996), h. 70.
membuang cara-cara dulu, boleh mengambil cara-cara baru, boleh beradio, boleh berkapal udara, boleh berlistrik, boleh bermodern, boleh berhyper-hyper modernasal tidak nyata-nyata dihukum haram atau makruh oleh Allah dan Rasul‛.
Adalah suatu perjuangan yang amat berfaedah bagi umat Islam, yakni perjuangan; menentang kekolotan. Kalau Islam sudah bisa berjuang mengalahkan kekolotan itu, barulah ia bisa lari secepat-cepatnya, secepat kilat mengejar zaman yang seribu tahun jaraknya ke muka itu.
Perjuangan menghantam ortodoksi ke belakang, mengejar zaman ke muka, perjuangan ini lah yang Kemal Ataturk maksudkan, tatkala ia berkata, bahwa ‚Islam tidak menyuruh orang duduk termenung sehari-hari di dalam masjid memutarkan tasbih, tetapi Islam adalah perju-angan. Islam ialah progress: Islam itu kemajuan.
Kabar berdirinya pesantren, sangat sekali menggembirakan hati saya. Saya hendak mengajukan usul: lebih banyak ilmu pengetahuan Barat harus diajarkan kepada para Santri itu. Umumnya adalah sangat saya sesalkan, bahwa kita punya Islam scholars masih sangat kurang sekali pengetahuan modern. Walau yang sudah bertitel ‚mujtahid‛ dan ulama sekalipun, banyak sekali yang masih mengecewakan pengetahuannya modernscience, Islam science bukan hanya pengetahuan tentang ‚hadist‛ dan ‚Qur'an‛ saja tetapi adalah pengetahuan ‚Qur'an dan ‚Hadits‛ plus pengetahuan umum. Orang tidak dapat memahami tafsir Qur'an dan Hadits, kalau tidak berpengetahuan umum.13
Saya punya keyakinan sedalam-dalamnya ialah, bahwa Islam disini ya di seluruh dunia tak akan menjadi bersinar kembali kalau kita orang Islam masih mempunyai! sikap hidup ‛secara consentatife (kolot) atau kuno saja, yang
18 W. Soewarto, h. 72.
menolak tiap-tiap ke Baratan‛ dan ke ‚modern.‛. Qur'an dan Hadits adalah kita Punya wet yang tertinggi, tetapi Qur'an dan Hadits itu barulah bisa menjadi pembawa kemajuan, suatu api yang menyala, kalau kita baca Qur'an dan Hadits itu dengan dasar pengetahuan umum‛.
Cara kuno dan cara kekolotan itulah juga di atas lapangan ilmu tafsir yang menjadi sebabnya seluruhdunia Barat memandang Islam itu sebagai suatu agama yang anti kema-juan dan sesat. Tanyalah itu kepada ribuan orang Eropa yang masuk Islam di dalam abad keduapuluh ini:
dengan cara apa dan dari siapa mereka mendapat tahu baik dan bagusnya Islam, dan mereka akan menjawab:
bukan dari guru-guru yang hanya menyuruh muridnya
‚beriman‛ danpercaya‛ saja, bukan dari mubalig-mubaligh yang tarik muka angker dan hanya tahu putarkan tasbih. saja, tetapi dari mubaligh yang memakai cara penerangan yang masuk akal karena pengetahuan umum. Mereka masuk Islam karena mubaligh-mubaligh yang menghela mereka itu, ialah mubaligh-mubaligh modern dan scientific dan bukan mubaligh‛ala Hadramaut‛ atau ‚a. la Kyai bersorban‛. (Surat Soekarno dari Endeh, tanggal 22 April 1936).
Surat berikutnya dari tanggal 17 Oktober 1936,merupakan surat terakhir (dari Endeh) tulisan Soekarno yang kita petik; surat ini bisa memberikan gambaran tentang Soekarno sebagai seorang Islam, setidaknya menurut anggapannya sendiri dan lebih banyak tentang pandangan-pandangannya mengenai agama Islam.