• Tidak ada hasil yang ditemukan

Soekarno Mempelajari Islam

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 40-44)

BAB II RIWAYAT HIDUP SOEKARNO

C. Soekarno Mempelajari Islam

Allah Maha Pemurah, hingga berkenan melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada Soekarno, dengan jalan memperkenalkan serta menyerahkannya ke dalam asuhan dan didikan pemimpin-pemimpin Islam, di antaranya HOS.

Tjokroaminoto. Soekarno kontak buat pertamakalinya dengan Tjokroaminoto ialah sejak tahun 1916, ketika Soekarno masih sekolah di HBS, Surabaya serta mondok (inde kost) di rumah Pak Tjokro. Sebagaimana telah dituturkan sendiri, Soekarno:

‚Tuhan amatlah bermurah hati kepada saya. Pada waktu aku masih muda, diberikan-Nyalah kepadaku pemimpin-pemimpin yang utama: Tjokroaminoto, Tjiptomangun

13 Abdurrahman Surjomihardjo, Budi Utomo Cabang Betawi, (Jakarta, Pustaka Jaya, 1980), h. 70.

kusumo, Ahmad Dahlan, B.P.E. Douwes Dekker (kemudian bernama Setiabudhy), Sneerliet dan lain-lain, semua mereka itu menanamkan pengaruh yang dalam pada jiwa saya yang dahaga. Terutama sekali Tjokroaminoto termasuk salah seorang guru saya yang amat saya hormati. Kepribadiannya menarik saya, dan Islamismenya menarik saya juga, oleh karena tidak sempit. Perpaduan pengaruh pemimpin-pemimpin tersebut kepada jiwa saya, membuatlah saya berpandangan politik sebagai sekarang ini‛.9 Selanjutnya Soekarno menceritakan riwayat hidupnya sebagai berikut:

‚Di kala tahun 1929, saya dipenjara, dimasukkan ke dalam sel yang berlapis empat pagar dinding gelap, ya gelap, kecuali ada sinar yang datang dari celah-celah jendela yang kecil. Di malam hari, saya melihat bintang gemerlapan di atas langit. Terbitlah air mataku, teringat saya kepada Dzat yang membuat Semesta Alam ini.

Titikan air mataku, menembus dalam jiwaku‛.

Disinilah pertama kali jiwaku insaf akan agama. Hatiku berhasrat sekali mempelajari agama, dengan membaca berbagai kitab-kitab agama yang tipis-tipis itu, yang diterbitkan oleh Perhimpunan-perhimpunan Islam.

Tetesan Ilham Ilahy yang kedua kalinya, yakni dikala saya dibuang ke Banda Neira di Plores. Jumlah penduduk disana ada 800.000 orang. Hamper semuanya penyembah berhala takut kepada pohon dan batu.

Inilah sebabnya maka jiwa dan pikiran kami lebih yakin bahwa agama Islam adalah agama yang wajib dipeluk oleh setiap orang, karena ia dapat memipin kesopanan serta memperhalus masyarakat dan memusnahkan kekafiran.

14 Solichin Salam, Soekarno dan Kehidupan Berpikir Islam, (Jakarta,Penerbit Wijaya, 1964), h. 30.

Tetesan Ilahy yang ketiga kepada hingga meresap dalam jiwa seinsap-insapnya ialah di kala tempat pembuangan saya dari Flores telah dipindahkan ke Bengkulen. Disanalah terwujud masyarakat Islam yang benar-benar. Keinsyafan saya bertambah-tambah sehingga saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa agama Islam adalah agama yang haq, agama yang benar, agama yang saya cintai serta sayalah pembela Islam.

Demikian evolusi atau perkembangan jiwa Soekarno sejak mudanya, sewaktu masih menjadi pelajar di kota Surabaya, sebagai seorang Indonesia Muslim, hatinya sudah tertarik kepada agamanya, hanya sayang jiwanya yang haus itu tidak mendapatkan penididikan agama dalam lingkungan keluarganya, akan tetapi utungnya kemudian tertampung kehausan jiwanya melalui perkenalan dan pergaulannya dengan berbagai pemimpin pemimpin islam seperti HOS.

Tjokroaminoto, KH. Ahmad Dahlan, H. Agus Salim, KH. Mas Mansur dan lain-lain sehingga dewasanya sesudah mengalami masa-masa hidupnya yang penuh liku dan derita dari penjara ke penjara, kemudian dari pembuangan yang satu tempat ke tempat yang lain, jiwanya semakin dekat dan lekat kepada Islam. Hatinya semakin cinta kepada agamanya yang luhur dan suci itu. 10

Soekarno selama di Endeh selain rajin membaca dan mempelajari buku-buku Islam, ia sering kali berkorespondensi dengan A. Hasan, seorang ulama Islam terkenal di Bandung.

Surat-menyurat ini berlangsung sejak 1 Desember 1934 hingga 17 Oktober 1936. Di dalam surat-menyurat Soekarno berjumlah 12 buah tersebut dituangkannya seluruh isi hati dan jiwanya tentang keadaan agama Islam dan umat Islam di Indonesia yang diliputi oleh kebekuan dan kekolotan itu.

Kemudian setelah Soekarno pindah pembuangannya dari Endeh ke Bengkulen, maka Soekarno semakin giat mempelajari Islam terutama sesudah beliau terjun kedalam gerakan

15 Solichin Salam, h. 34.

Muhammadiyah di Bengkulen dalam tahun 1938. Bahkan sampai beliau menjadi Presiden Pertama Republik Indonesia.

Pengajian dan penyelidikan Soekarno terhadap Islam belumlah berakhir, sehingga beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Hasil pengkajian dan penyelidikan beliau ini dapat kita jumpai di dalam tulisan-tulisan, pidato-pidato, ceramah-ceramah, kuliah-kuliah umum, percakapan-percakapan dari hati kehati.

Yang ternyata isinya selain mengandung analisa yang dalam ditinjau dari segi ilmiah rasional, juga berisi kupasan-kupasan yang mengandung arti dan nilai filosofis, sebagai hasil pemikiran dan penggalian yang dalam tentang Mutiara Hikmah yang terkandung dalam ajaran-ajaran Islam.

Adapun segala uraian-uraian Soekarno yang terdapat baik berwujud artikel, pidato, ceramah, kuliah umum, surat maupun percakapan tentang Islam, dapatlah dikwalifikasikan dalam berbagai segi. Padaumumnya berdasarkan hasil penelitian saya, uraian-uraian Soekarno tentang Islam mempunyai nilai-nilai

‚sosiologis, paedagogis, historis, filosofis,politis dan religis‛.

Bagaimanakah giatnya Soekarno mempelajari Islam melalui buku-buku dapatlah kita ketahui dari surat beliau kepada A. Hasan yang mengatakan sebagai berikut:

‚Saya masih terus study Islam, tetapi sayang kekurangan literatur, semua buku-buku yang ada pada saya sudah habis ‚termakan‛. Maklum, pekerjaan saya sehari-hari sesudah cabut-cabut rumput di kebun, dan disampingnya

‚mengobrol‛ dengan anak bini buat menggembirakan mereka, ialah membaca saja. Dengan membaca buku-buku tentang Islam, juga yang lain.

Yang belakangan ini, dari tangannya orang Islam sendiri di Indonesia atau di luar Indonesia, dan dari tangannya kaum wetenschap yang bukan Islam.11 Buku-buku yang dipelajari

16 Dengan menggali terus Api Islam, serta mewarisi apinya dan bukan abunya, sesuai dengan Komando Soekarno maka dengan jiwa dan semangat yang

tentang Islam dalambahasaIndonesia diantaranya ialah penerbitan-penerbitanMuhammadiyah Persatuan Islam, Pengajaran Islam dan lain-lain.

Sedangkan dalam bahasa asing yang dipelajarinya dianta-ranya ialah, buku-bukunya Maulana Muhammad Ali:

‚Muhammad the Prophet‛ dan Inleiding tot de studie van den Heiligen Quran‛; Khwadja Kamaluddin: ‚Het Evangelie Tan den daad‛, dan ‚De Bronnen van het Christendom‛; Buku ‚The Spirit of Islam‛ karangan Sayed Amir Ali. Buku-buku ‚The Rising Tide of Color‛ dan ‚The New World of Islam‛ karangan Lothrop Stoddard, berbagai tafsir Qu'an dalam bahasa-bahasa Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis, serta majalah-majalah Islamic Review,dan lain-lain.

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 40-44)