• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 13-17)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak usia muda Soekarno telah merasakan pahit getirnya perjuangan bangsa. Penderitaan demi penderitaan dialaminyadipisahkan dari keluarganya, dibuang, dipenjarakan.

Ia menjadi bagian penting dari setiap fase perjalanan sejarah bangsanya. Pembicaraan tentang sejarah Indonesia terasa kurang lengkap tanpa menyebut namanya. Nama itu adalah Soekarno, atau yang dikenal akrab dengan sebutan Soekarno.

Dominasi tokoh ini dalam perjalanan sejarah bangsa In-donesia sungguh tak terbantahkan dan sulit untuk dicari tandingannya. Meminjam kata-kata Mahbub Djunaidi:

“Soekarno adalah potongan kayu bakar yang terbesar gelondongannya yang sudah terbakar api nasionalisme Indonesia, membakar api persatuan nasional Indonesia, dan membakar api revolusi nasional yang pada puncaknya memerdekakan negeri ini”.

Latar belakang yang demikian inilah yang membuatterbentuknya gambaran dan citra diri Soekarno yang sangat istimewa dalam realitas psikohistoris bangsa Indonesia.

Soekarno menjadi sosok pemimpin dengan popularitas yang luar bisa di mata rakyat, bahkan di mata dunia internasional.

Sebuah popularitas yang tak lekang oleh waktu dan tak luntur oleh aneka ragam upaya berbagai pihak untuk menegasikan kontribusi dan keterlibatan sejarahnya. Demikian banyak fakta sejarah,kisah kehidupan pribadi, tafsir, isu, dan mitos-mitos tentang Soekarno dalam gerakan nasionalisme negara-negara dunia ketiga sangat menonjol, bahkan diakui sebagai salah seorang pemimpin terkemuka “negara-negara baru”, sejajar dengan Tito, Nasher, Nkrumn dan Nehru.

Soekarno merupakan tokoh “garda depan” dalam kontek pemberdayaan manusia Indonesia. Roda sejarah mengantarkannya menjadi figur sentral dalam proses-proses penting “berdirinya negara ini”: memproklamirkan kemerdekaan, merumuskan perangkat-perangkat kenegaraan, serta memimpin perjuangan diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan di masa revolusi fisik.

Soekarno jugalah putra bangsa pertama yang didaulat rakyat untuk menduduki kursi pimpinan tertinggi negara.

Soekarno adalah “nation and character builder”yang mencita-citakan sekaligus melakukan upaya-upaya riil demi terbentuknya suatu bangsa yang berkepribadian khas. Soekarno merupakan simbol nasionalisme Indonesia. la berhasil menjembatani perbedaan-perbedaan yang tercipta di antara suku, agama, dan golongan yang ada di Indonesia dan menanamkan kepada mereka kesadaran tentang satu bangsa, bangsa Indonesia. Dalam percaturan politik internasional, ia adalah figur negarawan yang representatif pada masanya dan salah satu dari pemimpin berkharisma khusus dalam nasionalisme Asia dan Afrika. Berbagai kalangan,tanpakecuali yang awalnya tidak begitu respek terhadap Soekarno, akhirnya mengakui keberadaannya sebagai pemimpin terkemuka di Asia, serta salah satu tokoh politik dunia yang sangat diperhitungkan.

Keistimewaan Soekarno yang lain adalah bahwa ia merupakan tokoh yang eksis dalam tradisi-tradisi “Ratu Adil”

di Indonesia. Ratu Adil pada dasarnya adalah harapan-harapan yang muncul dalam masyarakat (agraris) Indonesia tentang hadirnya sang “hero” yang akan menyelamatkan bangsa dari malapetaka dan cengkeraman kekuatan-kekuatan angkara murka, sekaligus mengembalikan keharmonisannya. Menurut Soekarno sendiri, tradisi Ratu Adil menggambarkan bahwa rakyat ingin hidup sejahtera dan mewujudkan dunia yang penuh keadilan di bawah pimpinan sang Ratu Adil.

Di masa lalu Soekarno memanfaatkan benar harapan-harapan mesianis rakyat terhadap datangnya Sang Ratu Adil.

Dengan kharisma dan perfoma yang dimilikinya, Soekarno berhasil menghipnotis rakyat sehingga tercipta keyakinan yang besar dalam benak rakyat terhadap kemampuannya sebagai pemimpin bangsa.1 Bahkan seperti dikatakan Onghokham, Soekarno selaludilihat rakyat sebagai satu set kepribadianyang terpisah dari manusia lain dan memiliki kemampuan istimewa.

Rakyat meyakini benar bahwa Soekarno memenuhi kriteria-kriteria pemimpin yangmereka butuhkan.

Tradisi Ratu Adil, bagaimanapun masih bersemayam dalam tanah psikokultural bangsa Indonesia saat ini, khususnya dalam skema kesadaran masyarakat Jawa. Kal ini setidaknya tercermin dari pendapat Dahm tentang perbedaan antara Ratu Adil abad 19 dan Ratu Adil modern yang hidup di abad 20.

Dihadapkan pada kondisi-kondisi krisis, bisa jadi dalam benak rakyat akan muncul harapan-harapan mesianis tentang datangnya sang “hero”, yang akan menyelamatkan mereka dari berbagai kesulitan politik, ekonomi, dan sosial yang sedang terjadi. Dengan struktur berpikir yang masih sangat paternalistik, rakyat Indonesia cenderung menginginkan hadirnya sosok pemimpin kharismatik yang dapat diterima oleh semua suku, ras, agama, dan golongan, serta mempunyai kapasitas untuk menanamkan perasaan satu bangsa satu negara (nasionalisme) pada mereka. Pada titik inilah kekuatan nostalgik Soekarno sering bangkitkan kembali sehingga keinginan alam bawah sadar rakyat itu secara “imajiner”

terfokus pada figur Soekarno. Terbuka peluang bagi kekuatan parpol untuk menggunakan simbol-simbol Soekarno dalam usaha menggalang dukungan masa.

Relevansi figur Soekarno untuk fenomena “sekarang” juga terbukti dari tingkat idealisasi generasi muda Indonesia

1 Agus Sudibyo, Soekarno, Analisis Berita Pers Orde Baru, (Yogyakarta, Penerbit, BIGRAP Publising), Cetakan I 1999, h. 3.

terhadapnya. Secara umum, generasi muda kita saat ini dilanda kejenuhan terhadap realitas-realitas yang terlahir akibat paradigma pembangunan yang telah diterapkan rezim Orde Baru Generasi muda dilanda kejenuhanterhadap perlakuan-perlakuan politik rejim OrdeBaru terhadap mereka yang dapat dijelaskan dalam term depolitisasi.2 Secara alamiah, anak-anak muda yang sedang bertumbuh kembang itu selalu mendabakan perubahan dan hadirnya alternatif-alternatif baru. Dalam fase pertumbuhan, mereka cenderung lebih mengidolakan figur yang semarak, revolusioner, anti kemapanan dan sangat menggandrungi perubahan. Mereka terus mencari figur semacam ini. Dan ketika berpaling ke rasa lalu, mereka menemukan figur kenamaan (the towering figur) seperti Soekarno.

Tak dapat disangkal figur semacam Soekarno memang lebih sesuai dengan kriteria-kriteria tokoh yang diidolakan generasi muda masa kini. Tentang hal ini, Taufik Abdullah menyatakan, “Generasi muda yang tidak mengenang percaturan politik tahun 1960-an, dan mungkin merasa terlalu sesak di jaman pembangunan yang penuh perhitungan, sarat dengan anjuran tepat guna dan berdaya guna seperti sekarang sangat mungkin mendambakan tokoh romantis yang prosais dan sekaligus poitis seperti Soekarno”. Soekarno adalah sosok yang multidimensi,semarak, terbuka, flamboyan, kharismatik dan mempunyai pengaruh yang luarbisa di mata rakyat. Bagi generasi muda, gambaran pribadi semacam ini adalah sumber kebanggaan dan menjadi muara atas pencariaannya terhadap figur-figur yang akan mereka jadikan sebagai panutan.

Jejak pendapat yang dilakukan majalahEditor pada bulan Mei 1991, demikian pula dengan beberapa jejak pendapat yang lain, menunjukkan bahwa Soekarno masih menjadi tokoh sejarah yang paling diidolakan anak-anak muda dari berbagai kelas sosial. Preferensi dan apresiasi kaum muda terhadap

2 Agus Sudibyo, h. 6.

Soekarno tak tergoyahkan dan jauh melebihi preferensi dan apresiasi terhadap tokoh nasional yang lain. Kekaguman mereka terhadap Soekarno sangat kompleks, meliputi kekaguman terhadap pemikiran ideologis, kisah-kisah patriotik, keberpihakan terhadap “wong cilik”, kharisma yang luar bisa di mata rakyat, kegandrungan terhadap seni, kecakapannya sebagai podium dalam membakar semangat masa dan lain-lain.

Kisah hidup Soekarno adalah dialektik. Dalam realitas psikohistoris masyarakat Indonesia, bagaimanapun Soekarno adalah sosok “dramatic personae” sebuah gambaran pribadi yang kompleks, yang selain populer, kharismatik dan berpengaruh besar, juga mengandung sejumlah kontradiksi.

Rasanya tidak seorang pun tokoh sejarah Indonesia yang mempunyai lebel sekaya Soekarno: Proklamator, Bapak Bangsa,

“nation and character builder”, singa podium, agitator ulung, pemimpin absolutetotaliter, kolaborator Jepang, dan lain-lain.

Orang asing pun melekatkan lebel seperti “dramatic persona”, si 'eksotik dari Timur', “the Javanese”, dan lain-lain kepada Soekarno bukti dari ketertarikan mereka pada tokoh ini.3

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 13-17)