• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nasionalisme Indonesia

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 167-0)

BAB IV PANDANGAN SOEKARNO TENTANG ISLAM

F. Nasionalisme Indonesia

Sebagai bagian dari dunia Timur, Indonesia menganut paham nasionalis Timur dan menolak prinsip-prinsip yang terkandung dalam nasionalisme Barat. Soekarno berpendapat bahwa nasionalisme Barat yang bersifat serangmenyerang dan nasionalisme perdagangan yang memperhitungkan untung dan rugi serta nasionalisme yang sempit, pastilah akan hancur dengan sendirinya, sedangkan nasionalisme Timur yang lebih bersifat prikemanusiaan akan tampil sebagai pemenang. Oleh karena itu, nasionalisme di Indonesia adalah nasionalisme yang anti imperialisme dan kolonialisme,antikapitalisme. Prinsip-prinsipyang terkandung dalam nisionalisme Barat, dan yang sangat dikecam oleh nasionalisme Timur.

Corak nasionalisme Indonesia di atas, bukan saja disebabkan posisi Indonesia sebagai bagian dari dunia Timur,tetapi yang lebih penting lagi adalah pergerakan yang terdapat di Indonesia, menurut Soekarno, terlahir antara lain karena ‚wahyu‛nya pergerakan di negeri-negeri Asia yang lain.

Pengaruh nasionalisme di negeri-negeri Asia terhadap Indone-sia dirumuskan oleh Soekarno, sebagai berikut:

Letusan meriam di Thushima telah membangunkan penduduk Indonesia, memberitahukan bahwa matahari telah meninggi serta memaksa penduduk Indonesia terus berkejar-kejaran dengan bangsa asing menuju padang kemajuan dan kemerdekaan, bahwa benih-benih yang ditaburkan oleh Mahatma Gandhi di kiri kanan sungai Ganges tiadalah saja tumbuh di sana, melainkan setengah dari padanya telahditerbangkan angin menuju khatulistiwa dan disambut oleh bukit barisan yang melalui segala nusa Indonesia serta menebarkan biji itu di sana, dan bahwa asap bedil Alfiun Karahisar yang dibawa awan ke arah Timur, melindungi pula daerah Indonesia dan menimbulkan hujan debu yang mengandung biji kemanusiaan.18

Sebagai suatu gerakan yang diwahyui dan dipengaruhi oleh gerakan-gerakan di negeri-negeri Asia, maka Soekarno kemudian melihat bahwa prinsip yang terkandung dalam nasionalisme Timur, kemudian dimiliki juga oleh gerakan nasionalisme Indonesia. Kalau Soekarno menyebutkan, bahwa gerakannasionalisme di dunia Timur ‚berkawin‛ dengan Marxisme, dan membentuk nasionalisme baru, maka nasionalisme baru inilah yang hidup di kalangan rakyat Indonesia, bahkan menjadi asasnya.19

Perkawinan Marxisme yang merupakan ideologi dan gerakan internasional tersebut dengan nasionalisme Timur dan mempengaruhinya, maka nasionalisme Timur kemudian memberi rasa cinta pada bangsa lain. Oleh karena itulah Soekarno sebagai pengaruh dari Marxisme itu berkata, ‚Kita bukan saja merasa menjadi abdi atau hamba dalam tanah

18 Soekarno, Indonesianisme dan Pan Asiatisme (1928), dalam Soekarno, DBR I, h. 74, dalam Badri Yatim, h. 86.

19 Soekarno, h. 221.

tumpah darah kita, akan tetapi juga merasa menjadi abdi dan hamba semua kaum sengsara, abdi dan hamba dunia. 20

Nasionalisme baru yang muncul akibat pengaruh dan perkawinan antara nasionalisme dan Marxisme di dunia Timur dan juga di Indonesia itu kemudian menjadi asas dari gerakan nasionalisme Indonesia. Tetapi dalam hal ini Soekarno membedakan antara asas nasionalisme dengan asas perjuangan.Perbedaannya adalah:

Azas (nasionalisme) tidak boleh kita lepaskan, tidak boleh kita buang, walaupun kita sudah mencapai Indonesia merdeka, bahkan malahan sesudah tercapainya Indonesia merdeka itu harus menjadi dasar caranya kita menyusun kita punya masyarakat.21

Sedangkan azas perjuangan adalah menentukan hukum-hukum dari perjuangan itu, menentukan strategi dari perjuangan itu (seperti) non koperasi, machtsvorming, masa aksi dan lain-lain.22

Hal Ini dapat saja berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Dalam pembahasan ini tentu akan lebih banyak disorot masalah yang berkaitan dengan asas nasionalisme meskipun asas perjuangan tidak ditinggalkan sama sekali dan di-abaikan karena asas perjuangan tersebut kadang bisa dapat merupakan cerminan dari asas nasionalisme.

Tetapi Soekarno tidak langsung dapat merumuskancorak nasionalisme Indonesia sekaligus. Penemuan corak itu berjalan secara bertahap, sesuai dengan perkembangan pemikirannya.

Pada tahun 1926 ia menulis sebuah artikel di ‚Suluh Indonesi Muda‛ dengan judul ‚Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme‛. Tulisan ini ditujukan kepada elit pergerakan Indonesia, bukan kepada rakyat umum, dan menggambarkan

20 h. 46.

21 h. 249.

22 h. 250.

garis politik perjuangannya yang tegas untuk menggalang persatuan dan kekuatan nasional yang progresif dan untuk menghancurkan dan mengenyahkan imperialisme dan kolonialisme dari bumi Indonesia.

Soekarno dalam tulisannya itu menginginkan persatuan ketiga kekuatan yang memang menjadi realitas di Indonesia saat itu. Ia melihat nasionalisme, Islamisme dan Marxismelah yang memberi nyawa dan roh pergerakan Indonesia, bahkan di kawasan Asia. Bentuk usaha persatuan itu memang diakuinya belum jelas, namun ia sangat yakin bahwa persatuan itulah yang membawa rakyat Indonesia menuju Indonesia merdeka.

Dilihat dari tujuan penulisan artikel itu, maka ide pe-rsatuan itu mungkin lebih tepat bila dimasukkan dalam kategori asas perjuangan. Namun tulisan itu merupakan cikal bakal dari ide nasionalisme yang akan dirumuskannya. Walaupun ia tidak menginginkan seorang nasionalis berubah menjadi Islamis dan Marxis, atau seorang Marxis berbalik menjadi nasionalis atau Islamis, karena persatuan yang dimaksudkannya adalah kerukunan, persatuan antara ketiga golongan,persatuan dalam bentuk federatif, namun tulisannya itu merupakan usaha untuk mencari bertuk persatuan atau ‚perkawinan‛ ketiga aliran besar di Indonesia. Bahkan Onghokham menyebutkan bahwa nasionalisme, Islamisme dan Marxisme yang ditulis nya itu merupakan nasionalismenya.23

Dikatakan sebagai cikal bakal dari konsep nasionalismenya, karena Soekarno dalam tulisannya itu walaupun menginginkan terciptanya persatuan yang bersifat federatif, namun sudah mulai melihat adanya kemungkinan persatuan dalam bentuk yang lebih padu, dilihat dari segi ajarannya. Bagi Soekarno, nasionalisme pada dasarnya mengandung prinsip kemanusiaan, cinta tanah air yang bersendikan pengetahuan, tidak chauvinis. Dan Marxisme pun,

23 Ongkhokhan, ‚Soekarno : Mitos dan realitas‛, dalam taufik Abdullah (ed) Manusia Dalam Kemelut Sejarah,(Jakarta,LP3ES), 1981, h. 29.

menurut Soekarno mengandung prinsip persahabatan dan penyokongan, anti kapitalisme dan imperialisms. Sedangkan Islam meskipun merupakan ajaran yang menganut paham tanpa bangsa, tetapi tidak memusuhi atau nasionalisme, dan bersifat sosialis. Ketiga aliran tersebut bersepakat dalam hal kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan, sama-sama bersifat sosialistis dan sama-sama anti imperialisms, dan kapitalisme. Hal-hal tersebutlah yang memungkinkan ketiga aliran tersebut, menurut Soekarno dapat bersatu disamping adanya persamaan nasib, sama-sama terjajah, tidak merdeka, tertindas dan lain sebagainya.

Usaha mempersatukan aliran-aliran tersebut kemudian direalisasikannya dalam bentuk PPPKI yang telah Hatta dalam tulisannya yang berjudul ‚Persatuan yang dicari, Persaman yang dapat‛ dianggap kurang berhasil.24 Sedangkan gagasanuntuk mencari suatu sinthesadari tiga aliran tersebut,memunculkan suatu ideologi yang kemudian dikenal dengan Marhaenisme.

Sebagai suatu asas perjuangan, gagasannya merupakan pengaruh dari tokoh-tokoh PI di Belanda yang telah banyak menulis di ‚Indonesia Merdeka‛, di samping Soekarno sendiri dapat menyaksikan langsung perkembangan pergerakan di Indonesia, serta perpecahan dan perselisihan di kalangan tokoh dan partai di Indonesia, Tetapi sebagai suatu gagasan yangingin mengawinkan ketiga aliran tersebut dengan menciptakan suatu sintesa, ada kemungkinan ia mendapat pengaruh dariTjokroaminoto dan Tan Malaka.

Persatuan lebih utuh yang bukan sekedar persatuan federatif antara ketiga aliran tersebut pada dasrnyapernah tercipta pada masa awal berdirinya Sarekat Islam, sebelum mengalami perpecahan antara SI merah dan SI putih. SI pada waktu itu mempersatukan rakyat dari latar belakang keyakinan

24 Hatta, ‚Persatuan yang dicari, Persatuan yang dapat”, dalam kumpulan Karangan,(Jakarta,bulan Bintang), 1976 h. 229.

Islam, nasionalisme, dan komunis secara lebih utuh.25Tjokroaminoto, pemimpin SI pada watu itu tampaknya memiliki pemikiran dan sikap sangat luwes, yang mampu menyerap cita-cita golongan Islam, nasionalis dan komunis atau sosialis. Penampilannya kadangkala bercorak Islam,suatu saat menyatakan diri sebagai sosial demokrat, di lain waktu sebagai nasionalis atau komunis, bahkan kadang-kadang terlihat ia melepaskan segala isme. Ia pernah menulis artikel yang berjudul ‚Apakah Sosialisme itu?‛ tahun 1923.26 Tulisannya ini memberikan gambaran kepada pembaca bahwa ia seorang penganut ajaran sosialisme, dan ia sangat mengenal komunisme dan sosialisme.

Sebagai seorang pemimpin partai Islam, Tjokroaminoto berusaha mencari titik persamaan antara paham sosialisme de-ngan ajaran Islam, meskipun ia sebenarnya mengetahui bahwa antara kedua ajaran tersebut terdapat hal yang tak dapat dipersatukan secara prinsipil. Akhirnya ia menulis tentang so-sialisme Islam.

Oleh karena itu, sangat mungkin dalam upaya mengawinkan Nasionalisme, Islamisme Komunis, Sukano mendapat pengaruh dari Tjokroaminoto, terutama lebih diingat bahwa Soekarno pernah tinggal di rumahnya dan banyak belajar darinya serta menimba pengalaman politiknya.

Kemungkinan lain adalah bahwa Soekarno dalam upaya mempertemukan Marxisme dan Islam dipengaruhi oleh Tan Malaka,tatkala ia berada di Semarang pada tahun 1921-1922.

Argumenyang dilontarkan kedua tokoh ini sangat mirip, hanya Tan Malaka mendahului Soekarno. Tan Malaka tidak menyetujui kebijaksanaan ‚Komintern‛ di Moskow yang menentang Pan Islamisme, karena menurutnya Pan Islamiame

25 P. Van Dijk, Darul Islam,(Sebuah Pemberontakan), Grafitipers, (Jakarta, 1983), h. 15.

26 Tjokroaminoto, Apakah Sosialisme itu?”dalam A.Zainul Ihsan dan P.Suharto, Aku Pemuda Kemaren di Hari Esok,(Jakarta, Jayasakti), h. 93.

justru bangkit menentang imperialisme Barat yang menjajah kaum muslim diberbagai negara di dunia. Tambahan lagi Islam secara realistis merupakan kekuatan yang besar di Indonesia.27 oleh karena itu ia memperlihatkan sikap tidak setuju adanya perpecahan PKI dengan Sarekat Islam. Perpecahan ini menurutnyahanya melemahkan kekuatan bangsa Indonesia secara keseluruhan dalam menentang penjajahan. Antara Soekarno dan Tan Malaka banyak terdapat persamaan, kalau tidak dapat dikatakan identik. Seperti Tan Malaka, Soekarno secara kritis mempelajari pemikiran Barat, terutama yang berasal dari kaum sosialis, yang sering dipakainya sebagai alat untuk memperjelas hasil-hasil pemikirannya sendiri. Dalam kasus ini pemikiran Soekarno lebih dekat kepada gagasat Tan Malaka daripada kepada Tjokroaminoto.

Seperti halnya Soekarno, Tan Malaka pun hanya menginginkan persatuan federatif, atau kerukunan dan kerjasama. Meskipun Tan Malaka lebih tampak sebagai penganut Marxisme, namun jauh dilubuk hatinya lebih meresap nasionalisme seperti terlukis dalam pemikirannya di atas.

Dari perjalananpemikirannya, Soekarno tampak selalu berusahauntuk mencari bentuk persatuan yang lebih utuh dan padu antar berbagai aliran ideologi yang berkembang di In-donesia dengan tetap menjaga dinamikanya. Pada waktu ia sedang enggan pergi kuliah dan bersepeda memutari Bandung Selatan, ia bertemu dengan seorang petani kecil yang bernasib malang bernama Marhaen. Sejak itulah ia menamakan seluruh rakyat Indonesia dengan nama Marhaen.28

27 Alfian, ‚Tan Malaka,Pejuang Revolusioner yang Kesepian‛, dalam Taufik Abdullah(ed), h. 147.

28 Jhon Ingleson agak meragukan kebenaran cerita soekarno itu. Karena ada kemungkinan bahwa Marhaen adalah sebuah kata bahasa Sunda yang diguhakan oleh Sarekat Islam pada akhir tahun 1910 awal 1920 yang berarti

“petani kecil”. Baca, John Ingleson, Jalan Kepengasingan,LP3ES, Jakarta, 1983,h 212-213.

Inilah bentuk perkawinan Marxisme dengan Nasionalisme yang orisinal dan yang sebenarnya dari konsep Soekarno, dengan nama baru yaitu Mahaenisme. Pada kongres PARTINDO 1933 sembilan tesis tentang Marhaenisme yang diusulkannya diterima. Tesis itu adalah:

1. Marhaenisme adalah nasionalisme dan sosio-demokrasi.

2. Marhaen adalah kaum proletar Indonesia, petani Indonesia yang miskin dan orang Indonesi lainnya yang miskin.

3. Marhaen bukan proletar karena pengertian proletar telah tercakup di dalam kata Marhaen, sedangkan kata Marhaen bisa juga tidak mencakup pada petani dan orang-orang la-innya yang miskin.

4. Orang-orang miskin Indonesia yanglainjuga harus ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan, maka digunakanlah kata Marhaen.

5. Di dalam perjuangan kaum Marhaen, kaum proletar akan merebut bagian yang terpenting.

6. Marhaenisme adalah prinsip yang menghendaki suatu struktur dan tertib sosial yang melayani kaum Marhaen dalam segala hal.

7. Marhaenisme adalah juga cara perjuangan untuk mencapai struktur sosial dan tertib sosial ini dan karenanya haruslah bersifat revolusioner.

8. Jadi Marhaenisme adalah suatu cara perjuangan dan sekali gus juga prinsipnya yang bertujuan mengusir setiap bentuk kapitalisme dan imperialisme.

9. Setiap orang Indonesia yang memperaktekkan Marhaenisme adalah Marhaen.29

Dalam tesis di atas jelas kelihatan bagaimana dasar-dasar pemikirannya memberi akomodasi pada aliran-aliran penting

29 Soekarno, h. 253

yang hidup di dalam masyarakat, yaitu ke arah mempersatukannya dalam bentuk ‚common denominator‛.

Tesis itu juga merupakan bukti bahwa Soekarno mempelajari Marxismedengan kritis. Marxisme tidak harus diteIan sebagai dogma. Marxisrae dipergunakan untuk memperjelas hasil pemikirannya sendiri. Tetapi berbeda dengan konsep NASAKOM, dalam Marhaenisme ini tampaknya mengakomodasikannasionalisme dan kurang memperhatikan Islam, karena Marhaenisme lebih bersifat sekuler, dan dengan sendirinya bertentangan dengan Islam sebagai suatu kekuatan dalam masyarakat Indonesia. Pertentangan dengan kelompok Islam kemudian tidak dapat dielakkan.

Namun setelah itu, seperti telah disebutkan di mukaia mulai banyak mempelajari ajaran-ajaran Islam. Bahkan ia tidak jarang terlibat dalam polemik dengan tokoh-tokoh Islam tentang masalah keagamaan dalam Islam, terutama dalam bidang kenegaraan. Hal itu kemudian juga terlihat pengaruhnya dalam pemikirannya, seperti konsep Ketuhanan Yang Maha Esa yang terkandung dalam Pancasila, yang untuk pertama kalinya dipidatokan oleh Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945.30 Tetapi dalam penjabaran kelima sila tersebut Soekarno terang terangan menolak gagasan bahwa Islam akan dijadikan satu dasar negara Indonesia. Soekarno berpendapat bahwa rakyat Indonesia agak lain melakukan kewajiban agamanya dan jelas lebih menyukai negara sekuler daripada negara Islam.

Walaupun demikian, ia mengatakan bahwa rakyat Indonesia harus menjadi rakyat yang religius. Setiap orang Indonesia harus menyembah Tuhannya sendiri sesuai dengan prinsip agama masing-masing dan menghormati agama orang lain. Dalam sila ke lima inilah tampaknya, Soekarno walaupun menolak Islam sebagai dasar Negara tetap berusaha mengakomodasi pikiran-pikiran yang berkembang di kalangan umat Islam. Namun pikiran Soekarno tersebut tidak mengakhiri

30 Soekarno, Lahirnya Pancasila, dalam Bari Yatim‛, h. 94.

pertentangan antara pihak nasional sekuler dan pihak nasionalis Islam, bahkan pertentangan intern para nasionalis sekuler sendiri, terutama dalam prakteknya.

Sebagai indikasinya adalah konsep sosionasionalisme dan sosio demokrasi yang dipakainya untuk mengecam demokrasi Barat yang jauh sebelumnya telah ia rumuskan, tidak berjalan.

Tidak lama setelah Indonesia Merdeka, sistem politik yang berlaku di Indonesia adalah sistem demokrasi parlementerdan bersifat liberal. Dalam keadaan yang demikian konflik yang bersifat ideologis terjadi, dan pertentangan ideologis semakin meruncing, terutama antara sosialisme, marxisme,nasionalisme dan Islam. Bahkan pemberontakan muncul dari kalangan masyarakat Indonesia yang tidak puas.

Sartono Kartodirdjo, mengatakan: Adalah ka ‚Struktur masyarakat Indonesia sejak masa pergerakannasional sudah menunjukkan kecenderungan ke arah faksionalisme atau penggolong-golongan berdasar faktor-faktor etnis, religius, ideologi, sosio kultural dan lain sebagainya. Dalam masyarakat yang pluralistis itu hampir setiap perubahan atau pembaharuan mudah membangkitkan konflik, tidak lain karena posisi sosial dengan kepentingan menentukan sikap dan kelakuan politiknya.31

Konflik-konflik itu tidak saja mengakibatkan terjadinya perpecahan di kalangan masyarakat, tetapi yang lebih penting lagi telah menyebabkan terhambatnya pembangunan bangsa dan negara.

Soekarno melihat bahwa praktek berpolitik dan bernegara pada masa itu telah menyimpang dari asas nasionalisme dan asas perjuangan.32 Demokrasi liberal (Barat) telah meracuni kesadaran sosial, melahirkan individualisme yang merusak

31 Sartono Kartodirdjo, ‚Arah Revolusi Indonesia”, dalam, PRISMA, No. 8, Agustus 1981, h. 12.

32 Soekarno, Menemukan Kembali Revolusi Kita (Pidato Presiden 17 Agustus 1959), Dep. Penerangan RI.

persatuan dan merupakan musuh terbesar dari keadilan sosial.

Asas perjuangan yang revolusioner dan non koperasi telah di rusak dengan adanya kompromi, seperti perjanjian Renville, Linggarjati, dan Konprensi Meja Bundar (KMB). Kompromi, menurutnya, telah merusak jiwa revolusi. Namun penyelewengan-penyelewengan itu belum sampai pada taraf dekadensi, karena rakyat segera sadar dan segera mengoreksi.

Akhir dari masaitu ditandai dengan adanya Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, untuk kembali ke UUD 1945 yang sesuai dengan asas nasionalisme dan asas perjuangan. Dengan demikian dimulailah suatu era baru, era demokrasi terpimpin dengan konsepsi Soekarno yang mendominasi kehidupan berpolitik dan bernegara.

Soekarno, konsepsinya itu baru dapat dilaksanakan dua tahun setelah pidatonya itu diucapkan. Sebagai ganti dari Demokrasi Parlementer yang ala Barat itu adalah Demokrasi‛Terpimpin yang mulai dijalankan bersamaan dengan adanya dekrit,‛yang sesuai dengan jiwa bangsa dan berasaskan Pancasila,‛ seperti disebutkan oleh Roeslan Abdulgani,juru bicara kebijaksanaan dan pengamalan ajaran Soekarno yang tiada duanya.33 Bahkan menurutnya langkah-langkah menuju Demokrasi Terpimpin telah dimulai direncanakan sejak tahun 1953.34 Oleh karena itu 5 Juli 1959 tidak lebih daripada momentum yang memungkinkannya menjalankan konsepsi politik melalui kepemimpinan yang kuat.

Setelah dekritnya itu, Soekarno menjadi pusat kekuasaan dan politik di Indonesia. Gejala ini dapat dilihat dari perkembangan politik selanjutnya. Pidatonya pada tanggal 17 Agustus tahun yang sama dijadikan GBHN yang dikenal de-ngan nama MANIPOL USDBK, pidatonya tanggal 28 Agustus 1959 dijadikan Garis-Garis Besar Haluan Pembangunan; Djarek

33 Ruslan Abdulgani, Resapkan dan Amalkan Pancasila, Prapantja, Djakarta, tt. Selanjutnya, baca, Resapkan.

34 Ruslan Abdulgani, h. 107.

dijadikan pedoman Pelaksanaan MANIPOL. Bahkan DPA menganggap perlu untuk memerinci isi pidato-pidato tersebut.36Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1961, dengan topik Revolusi Soekarno mempertegas konsepnya.37 Dan sejak itu banyakterbit buku-buku yang menjabarkan, memperjelas dan menyetujui konsepsi-konsepsi itu, seperti: Dr. Roeslan Abdulgani, ‚Resapkan dan Amalkan Pancasila‛, Prapanca Jakarta; Sosialisme Indonesia, Prapantja, Jakarta, 1963.

Penjelasan MANIPOL dan USDEK; J.K. Tumakaka, ‚Sosialisme Indonesia‛, Mr. Soepardo (dkk) ‚Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia‛ (Civics); 35) dan Djendral Dr. A.H. Nasution,

‚Mengamankan Panji-panji Revolusi.‛38Bahkan tulisan-tulisan Soekarno sebelum dan sesudah kemerdekaan diberi julukan

‚Ajaran-ajaran Soekarno‛. Kepada surat-surat kabar, ajaran-ajarannya itu kemudian diperintahkan untuk dimuat setiap kali terbit.39

Oleh karena itu tidak mengherankan bila konsepsi dan ajaran Soekarno mendominasi diskusi-diskusi umum. Gagasan-gasannya itu mencakup Demokrasi Terpimpin, Sosialisme ala Indonesia, Kepribadian Indonesia, Revolusi Belum Selesai,Persatuan Nasional (NASAKOM). Semua gagasan-gagasan tersebut pada akhirnya tertuju pada terciptanya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Itulah yang dimaksudkan dengan sosialisme Indonesia.

Sebelum tujuan itu tercapai maka revolusi dianggap belum selesai, dan untuk mencapai tujuan itu, demokrasi terpimpin

36 DPA, Pedoman Pelaksanaan Manifesto Politik RI,Departemen Penerangan RI, h. 7.

37 Soepardo (dkk), Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia (Civics), Djakarta, Balai Pustaka, , 1962.

38 A.H. Nasution, Mengamankan Panji-panji Revolusi, (Djakarta, Delegasi), 1964.

39 Tamar Djaya, Soekarno-Hatta,Persamaan dan Perbedaan, Sastra Hudaya, (Jakarta, 1981), h. 136.

merupakan suatu alat yang terbaik bagi terjaminnya dan terlaksananya masyarakat yang adil dan makmur di Indonesia.

Karena demokrasi terpimpin merupakan demokrasi ala Indonesia.

Demokrasi terpimpin adalah lawan demokrasi liberal, bukan diktator, demokrasi karya untuk melaksanakan pembangunan. Demokrasi terpimpin mencakup demokrasi politik, ekonomi, dan sosial; atau demokrasi total yang sesuai dengan UUD 1945, Demikian menurut Roeslan Abdulgani, juru bicara Soekarno.40

NASAKOM, merupakan lanjutan dan konsep lamanya yang ditulis tahun 1926 tentang nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. la merupakan keinginan yang dipaksakan agar kelompok nasionalis dan Islam dapat bersatu dengan kelompok komunis.

Adapun masyarakat yang adil dan makmur, sebagai gambaran dari cita-cita sosialisme ala Indonesia adalah sosialisme dalam artian yang seluas-luasnya, sosialisme politik,sosialisme ekonomi, sosialisme kultural,sosialisme keagamaan, sosialisme dalam arti kata kita hidup bahagia, kita hidup tanpa ‚exploitation de l'home par l'home‛.41 Untuk menggambarkan masyarakat Indonesia yang dicita-citakan, menurut Roeslan, Soekarno sering menirukan Ki Dalang yang menggambarkan adanya kerajaan Dworowati, sebagai berikut:

‚Panjang punjung, panjang pocapane, punjung keibawane yang berarti, negaranya adalah begitu terraasyhur sehingga diceritakan orang panjang lebar sampai ke luar negeri dan bahwa negara itu berwibawa tinggi sekali‛.

Situasi perekonomiannya:

Negaranya penuh dengan bandar-bandar, sawah-sawah, dan begitu makmurnya hingga tidak ada pencuri-pencuri.

40 Roeslan Abdulgani, Resapkan, h. 109.

41 Jl. K. Tumakaka. h. 17.

Itik,ayam, ternak pagi-pagi keluar sendiri ke tempat angonan, kalau sudah magrib pulang sendiri ke kandangnya. Orang berjalan dagang siang dan malam tidak ada putusnya. Karena tidak ada gangguan di jalan.

Sedangkan susunan masyarakatnya:

Tata tentrem, kerta raharja, gemah ripah, lohjinawi (artinya, negaranya adalah teratur,tentram, orang bekerja aman, orangnya ramah-ramah, berjiwa kekeluargaan dan tanahnya subur.

Dari kutipan di atas, Roeslan kemudian mengambil kesimpulan bahwa cita-cita negara dan masyarakat adil dan makmur atau masyarakat sosialis di Indonesia sudah berusia ratusan tahun, dan sudah menjadi milik dan idam-idaman rakyat Indonesia. la mengatakan bahwa seribu tahun yang lalu telah terdapat kerajaan yang masyarakatnya adalah agrariskomunalistis.

Cita-cita tersebut pernah pula dilahirkan kembali pada tahun 1890 oleh Kiyai Samin. Ajarannya didasrkan atashak milik kolektif, pengolahan tanah kolektif dan gotong-royong, pembagian hasil menurut keperluan, keadilan dan disiplin moral yang melarang orang mencuri, membohong, membuat serong dan lain sebagainya. Hal itu, menurutnya, merupakan gambaran dari masyarakat komunis yang menganut faham sama ratasama rasa. Di samping faktor sejarah dan kebudayaan tersebut, latar belakang penjajahan di Indonesia yang menindas dan membuat rakyat Indonesia menjadi sengsara, ikut membidani lahirnya cita-cita sosialisme Indonesia tersebut.

Sosialisme Indonesia yang merupakan perwujudan dari kepribadian Indonesia itu bercorak gotong-royong yang dalam pandangan Soekarno adalah:

Perbantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu membantu bersama,amal semua,

buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan

buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 167-0)