BAB II RIWAYAT HIDUP SOEKARNO
E. Soekarno sebagai Mubaligh dan
2. Hubungan Soekarnologi dengan Spiritualisme
Revolusi nasional Indonesia mulai bergelora sejak 17 Agustus 1945 yang mempunyai aspek nasional dan Internasional dan juga juga aspek material dan non material. Oleh karenanya, revolusi Indonesia berwajah multi komplek, ya revolusi politik, ekonomi, sosial, budaya, revolusi mental, jadi revolusi jasmani dan rohani. Bahkan menurut Soekarno menyang kut juga isi manusia dan ketuhanan.
Dalam hal tersebut Soekarno menjelaskan:
‚... Kamu hai bangsa Indonesia tua muda laki perempuan dari Sabang sampai Merauke, tidakkah kamuketahui segala kesulitan dan penderitaan itu merasa hatimu mongkok bahwa Revolusimu adalah mengambil inspirasinya dari Paneasila, bahkan mendasarkan diri kepada Pancasila itu, sehingga sebagai kekuatan tadi Revolusimu itu adalah lebih besar dan lebih luas dan lebih benar daripada revolusi-revolusi dari bangsa lain. Revolusi manusia, Revolusi sejati, yang hendak mendatangkan satu Dunia Baru yang benar-benar berisikan kebahagiaan jasmani dan rohani dan Tuhaniah bagi umat Indonesia, bahkan ;juga bagi Umat Manusia di seluruh muka bumi‛. (DBR II, hal. 434)
36 Dengan sumbangan pikiran Soekarno dalam pembangunan Islam menjadi alasan kepada Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Dr. Mahmud Shtout memberi gelar Doctor Honoris Causa kepada Soekarno dalam bidang Ilmu Pilsafat pada 24 April I960. Sernentara itu Konferensi Islam Asia-Afrika dalam bulan Maret 1965 memberikan tanda jasa perupa pengangkatan Soekarno sebagai ‚Pahlawan Islam dan Kemerdekaan‛.
Penjelasan Soekarno tersebut, kita bisa mendapatkan ketegasan mengenai harapan yang akan dikejar oleh revolusi, selain berhubungan dengan jasmaniah juga menyangkut rohaniahdan rohaniah. Juga bukan hanya ditujukan untuk bangsa Indonesia, tetapi revolusi Indonesia pun ditujukan untuk umat manusia di seluruh dunia.
Aspek rohaniah dan rohaniah merupakan jiwa dari revolusi agang bangsa Indonesia. Sebab hal rohaniah dan Tuhaniah ini tidak dapat dinafikan keberadaannya dalam kehidupan manusia. Sehingga dalam perjalanan umat manusia, keyakinan dan kepereayaan terhadap Tuhan dan sikap hidup kerohanian sudah mewarnai kehidupan umat manusia. Itulah yang menyebabkan orang-orang Tunani (sumber peradaban Barat) mengenal dewa-dewa penguasa jagat raya(ada dewa Zeus, dewa Amor, dewa Thor dan lain-lain), sementara di daratan Persia, rakyat meyakini Zo-roaster. Pada dasarnya manusia memiliki kepereayaan dan keyakinan pada sesuatu yang Maha Tinggi (Tuhan dan sesuatu yang gaib).
Manusia yang tidak dapat memisahkan dirinya dengan masalah jasmani dan spiritualisme dan Ketuhanan.
Sehingga dalam sejarah peradaban manusia, lahirlah ajaran ajaran keagamaan di dunia. Dan ajaran-ajaran agama itu disam paikan oleh para rasul yang diutus oleh Tuhan kepada umat manusia. Dalam perkembangannya, pandangan manusia terhadap Tuhan berkembang secara rasional menuju kepada Monoteisme.
Pandangan manusia tentang Tuhan tersebut berkembang sejalan dengan perkembangan peradaban manusia itu sendiri, sehingga akhirnya manusia memasuki alam monoteistik (Keesaa Tuhan). Soekarno membahas masalah-masalah ini dalam kuliah-kuli ah Pancasilanya;
‚Kalau saudara-saudara bertanya kepada saya persoolijk, apakah Soekarno percaya kepada Tuhan:
ya, saya ini percaya dan tadi saya sudah berkata saya ini orang Islam. Saya percaya dengan adanya Tuhan.
Lho, kok manusia itu dulu menyembah patung, sapi, dewa,atau dewi,kemudian gaib. Apa Tuhan itu rubah, tidak bukan Tuhannya yang berubah-rubah. Zat ini tidak berubah rubah, tetapi yang berubah-rubah ialah begrif manusia. Begrif manusia itu yang berubah-rubah, tergantung kepada fase hidupnya, cara hidupnya. Tuhan tetap ada‛. 32
Sehingga masalah ketuhanan dan spiritualisme dalam diri manusia tidak dapat dihaneurkan. Walaupun pada abad ke-15 Masehi berkumandang di Eropa zaman pencerahan yang abad Aufklarung yang salah satu pusatnya adalah Italia, yang ditandai dengan berkembangnya pandangan hidup yang baru, yang menyatakan: sebenarnya manusia-manusia tak usah mengikuti kuasa apapun di atasnya; kaidah dan pusat hidup manusia ialah pribadinya sendiri.33 Keyakinan inilah yang menjadi dasar pergerakan renaisanche dengan humanisme sebagai pusatnya, yaitu dengan mempelajari peradaban yang diperoleh dari kebudayaan kuno.
Peradaban bangsa Romawi dan Yunani yang mendahului Kristen dipelajari, dengan semboyan ‚pulanglah kepada sumber-sumber‛.34 Ini titik awal bangsa Eropa khususnya mengembangkan ilmu pengetahuan yang barunya, sejalan dengan perkembangannya politik ekonomi yang mengarah pada sikap individualisme dan liberalisrae.
Bangsa Eropa, terkhusus pada ilmuwannya hendak meninggalkan kehidupan spiritual dan karakter ketuhanannya. Mereka sudah yakin, bahwa dengan
37 Pancasila sebagai Dasar Negara, h. 46.
38 Berkhof, Dr. I.H. enklaar, Sejarah Gereja,(Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1985), h. 99.
39 Berkhof, h. 100.
penemuan-penemuan ilmu dan teknologi yang sudah dirancang sejak renaisaehe, dapat mempermudah kerjanya dalam menaklukkan kekuatan alam. Soekarno menjelaskan hal revolusi tersebut:
‚Pase yang terakhir, industrialisme. Di situ malahan lebih dari pada digaibkan. Karena disitu manusia terasa dirinya Tuhan. Didalam alam industrialisme itu apa yang tidak bisa dibikin oleh manusia. Mau petir,aku bisa bikin petir, aku, aku bisa bikin petir.
Menara yang tinggi, aku isi eletrisitef, aku buka dia stoom, petir. Aku bisa membuat petir. Nomor lima, sebagian ini dari manusia, de heersers van de industrie, de geleerden, banyak yang berkata, tidak ada Tuhan. Hilang sama sekali Begrif itu‛.35
Penjelasan Soekarno di atas memberikan gambaran tegas, bahwa pada dasaraya naluri spiritualisme dan ketuhanan ada dalam diri manusia. Tetapi pandangan manusia itu sendiri tentang Tuhan itu selalu berubah, sejalan dengan perkembangan peradabannya. Oleh karenanya tidak mungkin manusia dapat menafikan Tuhan dalam dirinya, sebab itu sudah menjadi fitrah manusia.
Sifat monoteisme manusia itu dijelaskan dalam Firman Allah SWT:
Artinya: ‚Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari
‘sulbi’ (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), ‚Bukankah Aku ini Tuhanmu?‛ Mereka menjawab, ‚Benar (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi‛. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan,
‚Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,‛ (QS.
Al-A'raf : 172).
Sudah menjadi fitrah atau naluri manusia untuk mencari sesuatu hal yang dianggapnya maha dahsyat, yang dapat menyela matkannya dari ketakutan. Sesuatu zat yang di zaman modern dan setelah lahirnya agama-agama besar didunia dikatakan sebagai Tuhan, yaitu Tuhan yang meliputi seluruh alam semesta. Hal ini yang memberikan keyakinan kepada Soekarno, tentang naluri manusia tersebut. Oleh karena Soekarno meyakini akan keberadaan Tuhan Tang Maha Esa tersebut. Walaupun dalam evolusi pikiran manusia, ketika memasuki abad otak dapat menciptakan alat-alat canggih seperti radio, televisi, listrik,atau bom dan nuklir, manusia menjadi tidak percaya kepada Tuhan. Soekarno menjelaskan evolusi pikiran manusia tersebut hingga akhirnya manusia menjadi sombong atas kemampuannya itu:
‚... manusia menjadi berkata, aku yang berbuat. Aku bisa membuat segala hal. Aku adalah cakrawati alam ini. Aku, aku, aku, tidak ada Tuhan. Manusia menjadi Ateis.Nara sumbernya. Sikap ateisme (pandangan bahwa Tuhan tidak ada) itu lahir karena manusia menganggap bahwa otaknya itu adalah kekuatan yang dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan manusia. Sehingga pandangan seperti ini sejurus dengan pendapat dari Feurbach mengenai Wijsgerig
Materialisme (satu isme yang tidak mengakui adanya barang-barang gaib). Semua adalah benda materi.36 Padahal sisi lain proses pri kemanusiaan adalah karakter spiritual yang tak lepas dari manusia. Wijsgerig Materialisme tidak mengakui adanya sesuatu yang nonmateri, sebab Wijsgerig Materialisme itu memberikan jawaban hubungan antara fikiran (denken) dengan (materie), bagaimanakah fikiran itu terjadi.37 Berbeda dengan Wijsgerig-materialisme, adalah historis Materialisme yang menjawab sebab-sebab fikiran itu berubah, dan mempelajari tumbuhnya fikiran. Jadi ada perbedaan yang sangat mendasar antara Wijsgerig Materialisme dengan Historis-Materialisme.
Soekarno menjelaskan kesalahpahaman orang terhadap dua hal ini:
‚Dua faham ini oleh musuh-musuhnya Marxisme di Eropa, terutama kaum gereja, senantiasa ditikar-tukarkan, dan senantiasa dikelirukan satu sama lain.
Dalam propagandanya antiMarxisme, mereka tak berhenti-henti mengusahakan kekeliruan faham itu;
takberhenti-henti mereka menuduh-nuduh, bahwa kaum Marxisme itu ialah kaum yang mempelajarkan, bahwa fikiran itu hanyalah suatu pengeluaran saja dari otak, sebagai ludah dari mulut dan sebagai embun dari limpa: tak henti-henti mereka menamakan kaum Marxis suatu kaum yang menyembah benda, suatu kaum yang bertuhankan materi‛.42
Sehingga menimbulkan kebencian kaum Marxis Eropa terhadap kaum gereja, Soekarno menjelaskan hal in:
41 Soekarno, Ilmu dan Perjuangan, h. 21.
42 DBR I, h. 21.
‚Itulah sebabnya kebencian kaum Marxis Eropa terhadap kaum gereja, asalnya sikap perlawanan kaum Marxis Eropa terhadap kaum agama. Dan perlawanan bertambah sengitnya, bertambah kebenciannya, dimana kaum gereja memakai-makai agamanya untuk milindung-lindungi kapitalisme, memakai-makai agamanya untuk membela keperluan kaum atasan, memakai-makai agamanya untuk menjalankan politik yang reaksioner sekali‛.
Pertentangan semacam itu di Eropa bukanlah hal baru,pada abad 16 masehi, Galileo dihukum mati oleh gereja disebabkan menolak pendapat gereja yang menganut teori Ptolemaeus, yaitu bahwa bumi ada di pusat jagat, sedangkan teori Galileo mendukung pendapat Capernicus yang menyatakan bahwa bumi bergerak mengelilingi matahari.i Oleh karena itu para ilmuwan Eropa berkesimpulan bahwa gereja (agama) membunuh rasio manusia, tentang hal ini dapat terbukti dengan pandangan Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman yang pendapatnya terkenal: bahwa Allah telah mati, bahwa segala dewa telah mati. Hanya manusia ataslah yang masih hidup.44
Pemikiran rasionalis seperti Nietzsche seperti di atas merupakan satu perlawanan total terhadap kaum gereja yang mempunyai kekuasaan absolut. Padahal Isa Almasih mengajarkan manusia tentang kemanusiaan yang sangat tinggi, tetali oleh kaum gereja hal ini telah diselewengkan.
Dan hal ini pula selalu menimbulkan pertentangan tajam di Eropa, Soekarno menjelaskan:
‚Apakah yang mereka‛ tidak indahkan‛ itu?.
Peringatan Tuhan kepada suatu bangsa selalu mengenai dua hal,mengenai perhubungan dengan Tuhan, dan mengenai perhubungan dengan manusia.
Didalam kedua bagian inilah maka kaum Nasrani itu
menyimpang dari asalnya, menyimpang dari petunjuk Isa yang sebenarnya, sebagaimana difirmankanoleh Tuhan di lain tempat pula. Tuhan tak pernah mengatakan, bahwa la beroknum tiga, Nasrani mengadakan kepercayaan kepada tiga oknum itu. Allah Bapak, Allah Anak, dan Allah Rohul kudus. Allah tak pernah mengatakan bahwa Nabi Isa itu anaknya, lamyalid walam yuladl tetapi kaum Nasrani mengatakan bahwa Nabi Isa itu adalah anak Tuhan, ya, ya bahwa Nabi Isa itu Tuhan sendiri.Allah selalu memperingatkan bahwa la satu, la Esa, la Tunggal, la Ahadtetapi kaum Nasrani tidak indahkan peringatan ini. Maka oleh karena itu menjadi lemahlah tauhid dikalangan mereka itu, akibatnya ialah permusu han, pertikaian. Permusuhan dan pertikaian, terutama sekali tentang agama. Rum Katolik, Grik Katolik, Protestan bisa, Anglikan, Gerakan Pantekosta, Adventis, dan beratus-ratus firqah yang lain-lain, orang pernah hitungkan lebih dari 500 firqah itu, semua pecahan-pecahan ini selalu bersainglah satu lain, bergeseranlah satu sama lain‛.
(DBR I, hal. 478)
Sementara itu mengenai hubungan manusia dengan manusia, kaum Nasrani menurut Bung Kamo telah menyeleweng dari ajaran asli Isa:
‚Manusia yang satu tidak boleh merugikan atau menyengsarakan manusi yang lain dan semua manusia haruslah hidup secara ‚kemasyarakatan‛.
Maka disinipun agama Nasrani itu sudah menjadi lain dari asalnya. Terutama sekali didalam pencarian rezeki, didalam urusan ekonomi, hukum-hukum kemasyarakatan itu sudahlah dilupakan sasekali, dulu tidak adalah didalam Christendom asal itu pembenaran cara hidup yang ditujukan perbenda an.
Dulu tidak ada pembenaran kepada riba. Pergaulan hidup Christendom asal itu adalah pergaulan hidup persaudaraan kekal yang berdasar kepada tolong menolong dan bagi-membagi, tetapi sejak abad ketiga berobahlah sendi-sendi pergaulan Chiristedom itu‛.
(DBR-I, hal. 479)
Sebab itulah yang menyebabkan sebagian orang Eropa terutama kaum pemikirnya melakukan pemberontakan terhadap gereja. Dan terutama perlawanan itu datang dari para penganut Marxisme, sebab kaum gereja selalu menjadi pelindung kaum kapitalis Eropa yang melakukan eksploitasi.
Di sisi lain Soekarno menemukan kenyataan obyektif bahwa agama Islam adalah agamanya orang tertindas dan orang yang tidak merdeka, oleh karena itu mengandung spirit perlawanan. Sehingga Soekarno dapat mensintesekan spirit keagamaan dengan pemikiran modern dan terutama Marxisme ilmu modern.Dan Soekarno menemukan sintesa pemikiran keagamaan danspiritualisme dalam bentuk Ketuhanan Tang Maha Esa, dalam penjelasannya: ‚Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan nya menurut Isa Al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadahnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kitasemuanya bertuhan.
Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cars leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebu-dayaan, yakni dengan tiada ‚egoisme agama‛ dan
hendaknnya Negara Indonesia satu negara yang bertuhan‛.
45
Rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sintese pemikiran Soekarno tentang spiritualisme dan ketauhidan, dan sebagai kesimpulannya setelah mempelajari nilai-nilai yang diajarkan oleh agama-agama dunia, bahkan mempelajari pemikiran keagamaan yang pernah berkembang dalam peradaban Indonesia sejak pra sejarah.
Proses Soekarno menggali peradaban Indonesia danseluruh peradaban dunia, sampai pada Pancasila yang salah satu dasar utamanya Ketuhanan Yang Maha Esa mendapat banyak kritikan dari berbagai golongan Islam.
Mereka mengkritik bahwa penggalian Soekarno terhadap peradaban Indonesia kurang mendalam. Soekarno meluuskan demikian:
‚Ada orang berkata, pada waktu Soekarno mempropagandakan Pancasila, pada waktu itu menggali, ia menggalinya kurang dalam. Terang-terangan yang berkata demikian dari pihak Islam.
Dan saya tegaskan, saya ini orang Islam, tetapi saya hendak menolak perkataan bahwa waktu saya menggali di dalam jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia kurang dalam menggalinya. Sebab dari pihak Islam dikatakan, jikalau Soekarno menggali dalam sekali, ia akan mendapat dari galiannya itu Islam. Kenapa kok Pancasila? Tidak. Tetapi saya Is-lam. Dan saya menolak tuduhan bahwa saya menggali ini kurang dalam. Sebaliknya saya berkata:
penggalian saya inisampai zaman sebelum ada agama
45 Soekarno, Pancasila sebagai Dasar Negara, h. 153.
Islam. Saya gali sampai zaman Hindu dan pra-Hindu‛.46
Selanjutnya Soekarno menjelaskan:
‚Dan formulering Tuhan Yang Maha Esa bisa diterima o-leh semua golongan agama di Indonesia ini. Kalau kita mengecualikan elemen agama ini, kita membuang salah-satu elemen yang bisa mempersatukan batin bangsa Indonesia dengan cara semesra-mesranya‛.47 Kepercayaan Soekarno terhadap para penganut agamatidak perlu diragukan, bahwa para penganut agama khususnya Islam dapat menjadi kekuatan potensial dalam membangun kemajuan-kemajuan bersama. Dan Soekarno tak henti-hentinya mengajak kaum muslimin dan pemuka-pemuka agama Islam untuk menggalang kekuatan Umat Islam, dan memodernkan cara memandang Islam. Dalam hal ini Soekarno mengikutkan para ulama. Cindy Adam dalam bukunya menjelaskan aktivitas Soekarno:
‚Aku mengorganisir Seminar Alim Ulama antar Pulau SumatraJawa dan berhasil mengemukakan kepada mereka rencana memodernkan Islam‛.48 Perjuangan Soekarno di Bengkulu dengan para alim ulama dalam memajukan Islam dan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Keyakinan Soekarno terhadap Tuhan, adalah Tuhan seru sekalian alam. Sehingga seluruh alam dunia termasuk didalamnya adalah manusia mengimani Tuhan. Soekarno menjelaskan tentang ini dalam pidato menerima gelar
46 Soekarno, h. 153.
47 Soekarno, h. 47.
48 Cindy Adam,Soekarno Penyambung Lidah Rakyat, h. 47.
Doktor Honoris Causa -dalam Ilmu Ushuluddin jurusan Dakwah IAIH, 2 Desember 1964: ‚Segala yang kumelip didunia ini harus sebenarnya mengerti, bahwa adalah Tuhan yang membuat dia. Dia harus menyembah kepada Tuhan itu, oleh karena itu aku pernah berpidato, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Seru sekalian alam. (Bumi dan langit beserta isi-isinya).
Pendapat Soekarno ini telah berpengaruh kedalam kehidupannya baik dalam hubungannya sebagai manusia maupun sebagai perairapin bangsa. Dalam pembangunan bangsa dan negara beliau telah meletakkan bangunan bangsa dan negara dalam Pancasila, yang salah satu pondasinya Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena Soekarno menganggap bahwa negara itu organisasi kekuasaan yang dinamis, untuk menyelenggarakan cita-cita rakyat ‚Amanat Penderitaan Rakyat‛. Pengaruh ketuhanan dalam diri Soekarno itu tercermin dalam pengajaran ayahnya ketika dia kecil. Soekarno mengungkapkan hal ini:
‚Seperti di pagi itu aku memanjat pohon jambu di pekarangan rumah kami dan aku menjatuhkan sarang burung. Bapak menjadi pucat karena marah. ‚Kalau tidak salah aku sudah mengatakan padamu supaya menyayangi binatang‛ ia menghardik. Aku bergoncang ketakutan. ‚Ya, pak‛. ‚Engkau dapat menerangkan arti kata-kata ‚Tat Twam Asi, Tat Twan Asi‛?
‚Artinya Dia adalah Aku dan Aku adalah dia: Engkau ada-lah Aku dan Aku adalah Engkau‛.
Dan apakah tidak kuajarkan kepadamu bahwa itu mempunyai arti yang penting‛‚Ya, Pak. Maksudnya, Tuhan berada dalam kita semua? kataku dengan patuh.
Pengajaran ini yang paling berharga bagi Soekarno, dan pengajaran ini pula yang berpengaruh dalam kehidupannya sebagai manusia dan pemimpin bangsa.
Pengajaran Bapaknya tentang mencintai Tuhan dan mencintai sesama makhluknya, mengajarkan Soekarno untuk mencari siapa Tuhan ? Pencarian itu menemukan titik akhir sewaktu Soekarno mendekam dalam penjara Sukamis kin (akibat kekejaman imperialis Belanda). Dalam penjelasannya mengenai hal itu, Soekarno mengungkapkan:
Tak pernah orang meragukan adanya Yang Maha Esa kalau orang bertahun-tahun lamanya terkurung dalam dunia ya-ng gelap. Seoraya-ng merasa begitu dekat deya-ngan Tuhan pada waktu ia mengintip melalui lobang kecil dalam selnya dan melihat bintang-bintang, kemudian merunduk disana selama berjam-jam dalam kesunyian yang sepi memikir kan akan suatu yang tidak ada batasnya dan segala sesuatu yang ada‛. (Cindy Adam, hal. 156)
Selama dalam penjara, Soekarno mempelajari semua ajaran agama yang ada di dunia ini. Sehingga dengan mempelajari ajaran-ajaran agama itu beliau meyakini akan adanya zat yang maha kuasa.
Selanjutnya dengan kerendahan hatinya, beliau mengakui bahwa sejak tahun 1928 telah mempelajari Al-Qur'an,dan berkenalan langsung dengan tokoh Islam kaliber besar seperti Cokroaminoto, Ahmad Dahlan dan Lain-lain. Dari sumber Al-Qur’an berdasarkan Sunnah dan Hadits Rasul Nabi Muhammad SAW, beliau sampai pada kesimpulannya tentang Ketuhanan (Ketauhidan). Deliau menjelaskan: ‚Kemudian aku membaca Al-Qur'an. Dan hanya setelah meneguk pikiran-pikiran Nabi Muhammad SAW.aku tidak lagi mencari-cari buku sosiologi untuk memperoleh jawaban atas bagaimana dan mengapa segala-galanya ini terjadi. Aku memperoleh seluruh jawabannya dalam ucapan-ucapan Nabi. Dan aku sangat puas‛.
Proses studi Soekarno dalam pencarian Tuhannya ini,melalui sumber-sumber besar dunia, menemukan eksistensi Tuhan Tang Maha Esa, yang meliputi alam
semesta ini. Sehingga Soekarno haqqulyakin, bahwa Tuhannya itu adalah Tuhan seru sekalian alam, Tuhannya manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan seluruh alam semesta ini. Seluruh semesta ini diwajib kan mengabdi kepadaNya.
Rasa ketuhanan dan spiritualisme Soekarno, mempengaruhi dirinya untuk terjun kekancah perjuangan secara ksatria. Sikap rela berkorban untuk satu cita-cita yang besar dan bertanggung jawab atas segala tindakannya sendiri. Sebab semua tindakan itu bukan hanya dipertanggung jawabkannya pada rakyat, tetapi; juga dipertanggungjawabkan kepada Tuhan, Allah SWT.
Dengan pangkal tolak itu, Soekarno merumuskan perjuanganpolitiknya, yang menurutnya:
‚Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi perkakasnya Tuhan, dan membuat kita menjadi hidup dalam roh,.... Dengan nasionalisme yang demikian ini maka kita insyaf dengan seinsyaf-insyafnya, bahwanegarakita dan rakyat kita adalah sebagian daripada negara Asia dan rakyat Asia, dan adalah sebagian daripada dunia dan penduduk dunia adanya...‛.49Soekarno dalam hal menganut suatu pahara politik nasionalisme yang sangat radikal, yang nasionalismenya seluas alam semesta ciptaan Tuhan ini. Dengan konsekuensi dari paham ini adalah, seorang penganutnya akan menjadi pengabdi bangsanya dan umat manusia seluruhnya.
Soekarno memberi penjelasan yang tegas tentang hal ini:
‚Kita,kaum pergerakan nasional Indonesia, kita bukan saja me rasa abdi atau hamba daripada tanah tumpah darah kita, akan tetapi kita juga merasa
49 DBR I, h. 112
menjadi abdi atau hamba Asia, abdi dan hamba semua kaum yang sengsara, abdi dan hamba dunia‛.
Kelihatan sekali pengaruh Ketuhanan dan Spiritualisme terhadap Soekarno. Pengaruhnya itu dapat dllihat dari:
a. Nasionalisme kita adakah nasionalisme yang membuat kita-menjadi perkakasnya Tuhan,
b. Nasionalisme kita membuat kita menjadi hidup dalam roh,
c. Nasionalisme kita menempatkan rakyat kita adalah sebagian dari negara Asia dan sebagian dari dunia dan penduduk dunia.
Oleh karena itu, pandangan yang demikian menjadikan beliau (Soekarno) dan rakyat. Indonesia menjadi bukan saja hamba dan abdi tanah air Indonesia, melainkan juga menjadi hamba bangsa-bangsa Asia, dan juga menjadi hamba danabdi semua kaum yang sengsara dan abdi dunia.
Tetapi untuk memperjuangkan cita-cita dan komitmen itu, Soekarno melihat adanya musuh kemanusiaan yang selalu menghancurkan perdamaian umat manusia. Penyakit itu oleh Soekarno dinamakan imperialisme, yakni satu sistem atau stelsel yang adalah anak kandung dari kapitalisme yang dilandasi nafsu
Tetapi untuk memperjuangkan cita-cita dan komitmen itu, Soekarno melihat adanya musuh kemanusiaan yang selalu menghancurkan perdamaian umat manusia. Penyakit itu oleh Soekarno dinamakan imperialisme, yakni satu sistem atau stelsel yang adalah anak kandung dari kapitalisme yang dilandasi nafsu