BAB IV PANDANGAN SOEKARNO TENTANG ISLAM
A. Pancasila adalah Warisan dari Jenius Nusantara 129
Sesuai dengan karakteristik lingkungan alamnya, sebagai negeri lautan yang ditaburi pulau-pulau (archipelago),1 jenius
1 Istilah yang lazim dipakai untuk melukiskan negara Indonesia adalah
“negara kepulauan”, yang mengandung bisa daratan. Menarik, bahwa Soekarno
Nusantara juga merefleksikan sifat lautan. Sifat lautan adalah menyerap dan membersihkan, menyerap tanpa mengotori lingkungannya. Sifat lautan juga dalam keluasannya, mampu menampung segala keragaman jenis dan ukuran.
Mohammad Hatta melukiskan etos kelautan manusia Indonesia itu secara indah:
Laut yang melingkungi tempat kediamannya membentuk karakternya. Pecahan ombak yang berderai di tepi panitianya, dengan irama yang tetap, besar pengaruhnya atas timbulnya perasaan yang menjadi semangat bangsa.
Penduduk yang menetap di daerah pantai saban hari mengalami pengaruh alam yang tidak berhingga, yang hanya dibatasi oleh kaki langit yang makin dikejar makin jauh. Bangsa-bangsa asing yang sering singgah di Indonesia dalam melakukan perniagaan dari negeri ke negeri, mendidik nenek moyang kami ini dalam pelbagai rupa, memberi ia petunjuk tentang barang-barang yang berharga dan tentang jalannya perniagaan. Last but not le-ast, pertemuan-pertemuan yang tetap dengan bangsa asing itu, orang Hindi, orang Arab, orang Tionghoa, dan banyak lainnya, mengasah budi pekertinya dan menjadikan bangsa kami Jadi tuan rumah yang peramah.
Pada bangsa pelaut ini, keinginan untuk menempuh laut besar membakar jiwa senantiasa. Dengan perahunya yang ramping, dilayarinya lautan besar dengan tidak mengenal gentar, ditempuhnya rantau yang jauh dengan tiada mengingat takut.2
Sebagai ‛negara kepulauan‛ terbesar di dunia, yang membujur di titik strategis persilangan antar benua dan antar pernah menyebut Negara Indonesia sebagai “negara lautan yang ditaburi pulau-pulau”. H Itu lebih sesuai dengan istilah aechipelago, yang berarti “kekuasaan lautan” (arch/archi kekuasaan, pelago/pelagos lautan).
2 Hatta, 1960; 1983, h. 151.
samudra, dengan daya tarik kekayaan sumber daya yang berlimpah, Indonesia sejak lama menjadi titik temu penjelajahan bahari yang membawa berbagai arus beradaban. Maka, jadilah Nusantara sebagai tamansari peradaban dunia.
Selain itu, Jenius Nusantara juga merefleksikan sifat tanahnya yang subur, terutama akibat debu muntahan deretan pegunungan vulkanik. Tanah yang subur, memudahkan segala hal yang ditanam, sejauh sesuai dengan sifat tanahnya, untuk tumbuh. Seturut dengan itu, genius Nusantara adalah kesanggupannya untuk menerima dan menumbuhkan. Di sini, apa pun budaya dan ideologic yang masuk, sejauh dapat diterima oleh sistem sosial dan tata nilai setempat, dapat berkembang secara berkelanjutan.
Etos pertanian masyarakat Nusantara bersifat religius dan gotong royong, dalam rangka meringankan penggarapan 1ahan secara bersama-sama. Sifat religius dan sensitivitas kekeluargaan juga memijarkan daya-daya etis dan estetis yang kuat. Maka, jadilah Nusantara sebagai pusat persemaian dan penyerbukan silang budaya, yang mengembangkan pelbagai corak kebudayaan yang lebih banyak dibandingkan dengan kawasan Asia mana pun.3
Sifat kelautan yang serba menyerap dan kesuburan tanah yang serba menumbuhkan itu membuat Indonesia tidak pernah sepi dari gangguan dan asupan ‚tanaman‛ dari luar. Akan tetapi, seperti dikatakan oleh Denys Lombard (1996), situasi demikian tidak perlu dipandang sebagai kerugian. Jika dikelola secara baik, dengan mempertahankan sifat-sifat positif dan karakter ‚tanah air‛ tersebut, pengaruh asing itu dalam evolusi sejarahnya bisa membawa keuntungan, kalau bukan syarat untuk terjadinya peradaban agung.
Penindasan ekonomi politik oleh kolonialisme kapitalisme memang banyak menggerus sifat-sifat kemakmuran,
3 Oppenheimer, 2010: xxvii.
kosmopolitan, religius, toleransi dan kekeluargaan dari tanah air ini. Di sisi lain kolonialisme kapitalisme mengandung kontradiksi internal tersendiri yang membawa unsur-unsur emansipasi baru, seperti humanisme, perikebangsaan, demokrasi, dan keadilan, yang dapat memperkuat karakter keindonesiaan. Persenyawaan antara anasir karakter asal yang mengendap latin dalam jiwa penduduk dan visi emansipasi baru itu diidealisasikan oleh para pendiri bangsa sebagai sumber jati diri, dasar falsafah dan pandangan hidup bersama.
Maka ketika Dr. Radjiman Wediodinengrat, selaku Ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada 29 Mei 1945 meminta kepada sidang untuk mengemukakan da-sar (negara) Indonesia merdeka, permintaan itu menimbulkan rangsangan ‚anamnesis‛ yang memutar kembali ingatan para pendiri bangsa ke belakang; hal ini mendorong mereka untuk menggali kekayaan kerohanian, kepribadian, dan wawasan kebangsaan yang terpendam dalam lumpur sejarah.
Alhasil, prinsip-prinsip dasar negara Indonesia merdeka yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa itu tidaklah dipungut dari udara, melainkan digali dari bumi sejarah keindonesiaan, yang tingkat penggaliannya tidak berhenti sampai zaman gelap penjajahan, melainkan menerobos jauh ke belakang hingga ke zaman kejayaan Nusantara. Dalam usaha penggalian itu, para pendiri bangsa juga memikirkan dan merasakan apa yang dialami bangsanya selama masa penjajahan dan mengingat apa saja yang pernah mereka perjuangkan dan impikan sebagai sumber pembebasan, kebahagiaan, dan identitas bersama.
Dengan demikian, betapapun rumusan dasar negara itu baru dikemukakan selama masa persidangan BPUPK,4 bahan-bahan pemikirannya telah dipersiapkan sejak awal pergerakan
4 Masa persidangan BPUPK terdiri dari dua babak.Masa persidangan pertama berlangsung dari tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 1945. Masa persidangan kedua dari tanggal 10 Juli hingga 17 Juli 1945.
kebangsaan Indonesia. Setidaknya sejak dekade 1920 an, pelbagai kreativitas intelektual mulai digagas sebagai usaha mensintesiskan aneka ideologi dan gugus pergerakan dalam rangka membentuk ‚blok historis‛ (blok nasional) bersama demi mencapai kemerdekaan.
B. Fase Pembuahan
Sejak 1924, Perhimpunan Indonesia (PI), di Belanda, mulai merumuskan konsepsi ideologi politiknya bahwa tujuan ke-merdekaan politik haruslah didasarkan pada empat prinsip:
Persatuan nasional, solidaritas, non koperasi, dan kemandirian (self help). Persatuan nasional berarti keharusan untuk melakukan pengikatan bersama dari ragam ideologi dan identitas (etnis, agama, dan kelas) ke dalam front perjuangan bersama untuk melawan kolonial. Solidaritas berarti meng hapuskan perbedaan-perbedaan diantara rakyat Indonesia dan lebih menghiraukan konflik-konflik kepentingan antara pihak penjajah dan rakyat yang terjajah. Non kooperasi berarti ke-harusan untuk mencapai kemerdekaan melalui usaha-usaha bangsa Indonesia sendiri karena pihak penjajah memang tidak akan pernah mau memberikannya secara sukarela. Kemandirian berarti keharusan untuk membangun sebuah struktur nasional, politik, sosial, ekonomi, dan hukum alternatif yang berakar kuat dalam masyarakat pribumi yang sejajar dengan struktur pemerintah kolonial (Ingleson, 1979: 5).
Konsepsi ideologis PI ini pada kenyataannya merupakan buah sintesis dari ideologi-ideologi terdahulu. Persatuan nasional merupakan tema dari ‚indische Partai nonko operasi‛
merupakan platform politik kaum komunis, dan kemandirian merupakan tema dari Sarekat Islam. Sementara solidaritas merupakan simpul yang menyatukan ketiga tema utama tersebut.
Sekitar tahun yang sama, tokoh pejuang yang lain Tan Malaka mulai menulis buku ‚Naarde Republik Indonesia‛
(Menuju Republik Indonesia). Dia percaya bahwa paham kedaulatan rakyat (demokrasi) memiliki akar yang kuat dalam tradisi masyarakat Nusantara. Keterlibatannya dengan organisasi komunis internasional tidak melupakan kepekaannya untuk memperhitungkan kenyataan-kenyataan nasional dengan kesediaannya untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur revolusioner lainnya. Dia pun pernah mengusulkan kepada komintern (Komunisme Internasional) agar komunisme di Indonesia harus kerjasama dengan PanIslamisme karena, menurutnya, kekuatan Islam di Indonesia tidak bisa diabaikan begitu saja.
Hampir persamaan dengan itu, Tjokroaminoto mulai mengidealisasikan suatu sintesis antara Islam, sosialisme dan demokrasi, ‚jika kita,kaum muslim benar-benar memahami dan secara sungguh-sungguh melaksanakan ajaran-ajaran Islam, kita pastilah akan menjadi para demokrat dan sosialis sejati‛
(Tjokroarainoto, 1924; 1952: 155). Demikian pula halnya dengan para pemimpin perhimpunan mahasiswa Nusantara di Kairo, Djama'ah Al-Chairiah (berdiri 1922), seperti Iljas Ja'kub dan Muchtar Lutfi. Pascakegagalan Kongres Islam sedunia di Kairo dan Mekkah, mereka tidak melihat lagi relevansi proyek PanIslamisme. Dalam kepulangannya ke Tanah Airpada 1929 dan 1931, kedua orang tersebut memimpin partai Persatuan Muslimin Indonesia (PMI) pada 1932, dengan slogan ‚Islam dan Kebangsaan‛, yang mempertautkan diri dengan gerakan nasionalisme modern (Ricklefs).
Seperti halnya para aktivis mahasiswa di luar negeri yang terobsesi dengan ide blok nasional, Soekarno dan para mahasiswa aktivis lainnya di Hindia juga menganut ideal yang sama. Pada 1926, Soekarno menulis esai dalam majalah
‚Indonesia Muda‛, dengan judul ‛Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme‛ yang mengidealkan sintesis dari ideologi-ideologi besar tersebut demi terciptanya senyawa antar ideologi dalam kerangka konstruksi kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.
Dalam pandangan Soekarno, pergerakan rakyat Indonesia mempunyai tiga sifat: nasionalistis, islamistis, dan marxistis.
Paham-paham ini pula, menurutnya, yang menjadi roh pergerakan-pergerakan di Asia. Demi persatuan, ‚Mempelajari, mencari hubungan antara ketiga sifat itu, membuktikan bahwa tiga haluan ini dalam satu negeri jajahan tidak berguna satu sama lain, membuktikan pula, bahwa ketiga gelombang ini bisa bekerja bersama-sama menjadi satu ombak topan yang tidak dapat ditahan terjangannya, itulah kewajiban semua harus memikulnya‛.
Pada awal tahun 1930an, dia mulai merumuskan sintesis dari substansi ketiga unsur ideologi tersebut dalam istilah
‚sosio nasionalisme, dan ‚sosio demokrasi‛. Sosionasionalisme yang dia maksudkan adalah semangat kebangsaan yang menjujung tinggi prikemanusiaan ke dalam dan ke luar, ‚yang mencari'gebyarnya' atau kilaunya negeri ke luar saja, tetapi ia haruslah mencari selamatnya semua manusia‛. Adapun so sio demokrasi‛ adalah demokrasi yang memperjuangkan keadilan sosial, yang tidak hanya memedulikan hak-hak sipil dan politik, melainkan juga hak ekonomi, ‚demokrasi sejati yang mencari keberesan politik dan ekonomi, keberesan negeri dan rezeki‛
(1932a; 1965: 1965: 175).
Monumen dari usaha intelektual untuk mencari sintesisdari keragaman anasir keindonesiaan itu adalahsumpah pemuda‛ (28 Uktober 1928), dengan visinya yang mempertautkan segala keragaman itu ke dalam kesatuan tanah air dan bangsa dan dengan menjujung bahasa persatuan.
Melalui sumpah Pemuda, kaum muda berusaha menerobos batas-batas sentimen etnoreligius (etnonationalism) dengan menawarkan fantasiin korporasi baru berdasarkan konsepsi kewargaan yang menjalin solidaritas atas dasar kesamaan tumpah darah, bangsa,dan bahasa persatuan (civic nationalism;.
Visi Sumpah Pemuda ini amat penting karena memberi kemungkinan kepada segenap penduduk Indonesia menjadi pribumi, bahkan bagi mereka yang berlatar imigran.
Dalam perkembangannya, rintisan gagasan-gagasan yang disemai di ruang publik itumemiliki kakinya tersendiri, memengaruhi pemikiran-pemikiran semasanya, dan meninggalkan jejak pada generasi selanjutnya. Dalam proses pertukaran pemikiran, baik secara horizontal antar ideologi semasa maupun secara vertikal antar generasi, setiap tesis tidak hanya melahirkan antitesis, melainkan juga sintesis. Maka, akan kita dapati, betapapun terjadi benturan antar ideologi, karakter keindonesiaan yang serba menyerap dan menumbuhkan itu pada akhirnya cenderung mengarahkan keragaman tradisi pemikiran itu ke titik sintesis.
Endapan pemikiran sebagai hasil pergumulan sejarah yang tersimpan di laci ingatan para pendiri bangsa itu mempermudah mereka dalam merespons tantangan untuk merumuskan dasar negara. Dengan mengurai kembali jaringan memori kolektif ke belakang dan ke samping, meresapi persamaan nasib dan impian kemerdekaan serta pertautan genealogis dan kesatuan geopolitik, masing-masing pendukung aliran politik memahami titik-titik persamaannya secara substantif, sehingga dapat mengatasi perbedaan identitas masing-masing.
Oleh karena itu, kategorisasi yang bersifat 'mutual ex-clusive' (saling mengucilkan) antara ‚golongan kebangsaan‛dan
‚golongan Islam‛, dengan identifikasi turunannya bahwa yang satu disebut proPancasila dan yang lain kontraPancasila, sesungguhnya merupakan kategorisasi yang bersifat sementara.
Dalam kenyataannya, baik anggota golongan kebangsaan maupun golongan Islam tidaklah monolitik; pada masing-masing golongan itu, selalu ada orang-orang yang berdiri pada posisi antara (liminal) yang berperan sebagai jembatan penghubung. Lebih dari itu, secara substantif, kedua golongan memiliki kesepahamanyangluas.Hal ini terbukti bahwa para pengusul untuk setiap prinsip (sila) dari dasar Negara dalam BPUPK, sama-sama datang baik dari ‛golongan kebangsaan‛
maupun ‚golongan Islam‛.