• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fase Perumusan

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 149-163)

BAB IV PANDANGAN SOEKARNO TENTANG ISLAM

C. Fase Perumusan

Perumusan dasar negara Indonesia merdeka mulai dibicarakan pada masa persidangan pertama BPUPK (29 Mei 1 Juni, 1945). BPUPK sendiri didirikan pada 29 April 1945, menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang, Kuniaki Koiso, pada 7September 1944, yang mengucapkan janji historisnya bahwa Indonesia pasti akan diberi kemerdekaan ‚pada masa depan‛. Dalam rancangan awal Jepang, kemerdekaanakan diberikan melalui dua tahap: pertama melalui BPUPK kemudian disusul dengan pedirian Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Tugas BPUPK hanyalah melakukan usaha-usaha penyelidikan kemerdekaan, sementara tugas penyusunan rancangan dan penetapan UUDmenjadi kewenangan PPKI. Tetapi skenario ini berubah karena keberanian dan kreativitas para pemimpin bangsa yang berhasil menerobos batas-batas formalitas.

Jumlah keanggotaan badan ini semula 63 orang,kemudian bertambah menjadi 69 orang.5 Jepang membagi anggota BPUK menjadi lima golongan: golongan pergerakan, golongan Islam, golongan birokrasi (kepala jawatan), wakil kerajaan (kooti) pangreh praja Presidenwakil residen, bupati, wali. kota),dan golongan peranakan: peranakan Tionghoa (4 orang), peranakan Arab (1 orang), dan peranakan Belanda (1 orang), Tidak semua anggota BPUPK ini terdiri dari kaum pria, karena ada 2 orang perempuan(Ny. Maria Ulfa Santoso dan Ny. R.S.S. Soenarjo Mangoenpospito).6 Oleh karena, istilah founding fathers tidaklah tepat. Alhasil, meskipun struktur keanggotaan BPUPK ini tidak memuaskan semua kalangan, unsur-unsur

5 Tudi Latif, Negara Paripurna, Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas. (Jakarta, Penerbit, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2011), h. 9.

6 Adanya perwakilan perempuan dalam BPUPK merupakan suatu lompatan besar dalam sejarah politik negeri ini. Bahkan di Amerika Serikat, hak politik perempuan dalam pemilihan baru diaktualisasikan setelah perang dunia kedua.

perwakilannya cukup merepresentasikan keragaman golongan sosial politik yang ada di Indonesia pada masa itu.

Dalam merespons permintaan Radjiman mengenai dasar negara Indonesia, sebelum pidato Soekarno pada 1 Juni, anggota-anggota BPUPK lainnya telah mengemukakan pandangannya. Pentingnya nilai ketuhanan sebagai fundamen kenegaraan antara lain dikemukakan oleh Muhammad Yamin, Wiranatakoesoema, Soerio, Soesanto Tirtoprodjo, Dasaad, Agoea Salim, Abdoelrachim Pratalykrama, Abdul Kadir, K.H.

Sanoesi, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Soepomo, dan Mohammad Hatta.7 Pentingnya nilai kemanusiaan sebagai fundamen kenagaraan antara lain dikemukakan oleh Radjiman Wediodiningrat, Muhammad Yamin, Wiranatakoesoema, Woerjaningrat, Soesanto Tirtipridjo, Wongsonagoro, Soepomo, Liem Koen Hian, dan Ki Baoes Hadikoesoemo. Pentingnya nilai persatuan sebagai fundamen kenegaraan dikemukakan antara lain oleh Muhammad Yamin, Sosrodingrat, Wiranatakoesoema, Woerjaningrat, Soerio, dan Soesanto Tirtoprodjo, A. Rachim Pratalykrama, dan Soekiman, Abdul Kadir, Soepomo,Dahler, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo. Pentingnya nilai-nilai demokrasi permusyawaratan sebagai fundamen kenegaraan antaralain dikemukakan oleh Muhammad Yamin, Woerjaningrat Soesanto Tirtoprodjo, Abdoelrachim Pratalykrama, Ki Bagoes Hadi-koesoemo, dan Soepomo. Pentingnya nilai-nilai keadilan/

kesejahteraan sosial sebagai fundamen kenegaraan dikemukakan antara lain oleh Muhammad Yamin, Soerio, Abdoelrachim Prata lykrama, Abdul Kadir, Soepomo, dan Ki Bagoes Hadikoesoemo.8 Dengan demikian, tampak jelas bahwa secara substantif, semua prinsip dasar negara yang diajukan itu

7 Meskipun Hatta menganjurkan pemisahan antara urusan agama dan urusan negara, agar agama tidak menjadi perkakas negara, ia tetap memandang ketuhanan sebagai fundamen penting kehidupan negara.

8 Untuk transkrip pernyataan anggota-anggota BPUPK,lihat dalam A.B.

Kusuma 2004, h. 96-167.

sama-sama diusung baik oleh mereka yang berasal dari golongan kebangsaan maupun dari golongan Islam.

Meskipun demikian, prinsip-prinsip yang diajukan itu masih bersifat serabutan, belum ada yang merumuskan secara sistimatik dan holistik sebagai suatu dasar negara yang koheren.

Muhammad Yamin dan Soepomo barang kali agak mendekati apa yang diminta oleh Radjiman. Secara eksplisit atau implisit, Yamindan Soepomo mengemukakan pentingnya prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan,dan keadilan/kesejahteraan sebagai fundamen kenegaraan.

Masalahnya, dalam kategorisasi yang dikemukakan oleh Yamin, tidak semua prinsip itu dia masukkan sebagai dasar negara.

Dalam kategorisasinya, ‚permusyawaratan‛, ‛perwakilan‛, dan

‚kebijaksanaan‛ (‚rasionalisme‛) disebut sebagai ‚dasar‛ (dasar yang tiga). Sementara itu, ‚kebangsaan‛, ‚kemanusiaan‛ dan

‚kesejahteraan‛ disebut sebagai ‚asas‛. Di bagian lain,

‚perwakilan‛ digolongkan sebagai ‚paham‛. Sedangkan

‚kerakhmatan Tuhan‛, tidak jelas ke mana dia golongkan.

Selain itu, Yamin juga dalam uraiannya sering mencampur adukkan antara ‚dasar negara‛ dan ‛bentuk negara‛. Bahkan yang dimaksud Yamin dengan ‚Dasar Hegara‛ juga termasuk

‚pembelaan negara‛, ‚budi pekerti negara‛, ‚daerah negara‛,

‚penduduk dan putera negara‛, susunan pemerintahan‛, dan bahkan tentang ‛hak tanah‛.9

Betapapun juga, pandangan-pandangan tersebut memberikan masukan penting bagi Soekarno dalam merumuskan konsepsinya. Masukan-masukan ini, yang dikombinasikan dengan gagasan-gagasan ideologisnya yang telah dikembangkan sejak 1920-an dan refleksi historisnya, mengkristal dalam pidatonya pada 1 Juni 1945. Dalam pidatonya yang monumental itu, Soekarno menjawab permintaan Radjiman Wediodiningrat akan dasar negara Indonesia itu dalam kerangka ‚dasar falsafah‛ (philosofisch

9Yudi Latif, h. 11

grondslag) atau ‚pandangan dunia‛(Weltanschauung) dengan penjelasannya yang runtut, solid, dan koheren.

Menurut pengakuannya di kemudian hari, pada malam menjelang 1 Juni, dia bertafakur, menjelajahi lapis demi lapis lintasan sejarah bangsa,menangkap semangat yang bergelora dalam jiwa rakyat, dan akhirnya menengadahkan tangan meminta petunjuk kepada Tuhan agar diberi jawaban yang tepat atas pertanyaan tentang dasar negara yang hedak dipergunakan untuk meletakkan Negara Indonesia merdeka di atasnya. Selengkapnya, Soekarno menuturkan sebagai berikut:

Di dalam pidato beberapa waktu di Senayan itu,saya telah ceritakan, tengah-tengah malam yang keesokan harinya saya akan diharuskan mengucapkan pidato giliran saya, saya keluar dari rumah Pegangsaan Timur 56, Pegangsaan Timur 56 yang sekarang tempat daripada Gedung Pola. Saya keluar di malam yang sunyi itu dan saya menengadahkan wajah saya ke langit, dan saya melihat bintang gemerlapan, ratusan, ribuan, bahkan puluhanribu. Dan di sinilah saya merasa kecilnya manusia, di situlah saya merasa dhaifnya aku ini, di situlah aku merasa bertanggungjawab yang amat berat dan besar yang diletakkan di atas pundak saya, oleh karena keesok harinya saya harus mengemukakan usul saya tentang hal dasar apa Negara Indonesia Merdeka harus memakai.

Pada saat itu dengan segenap kerendahan budi saya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa: ‚Ya Allah ya Rabbi, berikanlah petunjuk kepadaku. Berikanlah petunjuk kepada apa yang besok pagi akan kukatakan, sebab Engkaulah ya Tuhanku, mengerti bahwa apa yang ditanyakan kepadaku oleh Ketua Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai itu bukan barang yang remeh,yaitu dasar dari pada Indonesia Merdeka. Dasar daripada satu Negara yang telah diperjoangkan oleh seluruh Rakyat Indonesia berpuluh-puluh tahun dengan segenap penderitaannya, yang penderitaan-penderitaan itu aku sendiri telah melihatnya. Dasar daripada Negara Indonesia Merdeka

yang menjadi salah satu unsur daripada Amanat Penderitaan Rakyat. Aku, ya Tuhan, telah Engkau beri kesempatan melihat pederitaan-penderitaan Rakyat untuk mendatangkan Negara Indonesia yang merdeka itu. Aku melihat pemimpin-pemimpin, ribuan, puluhan ribu,meringkuk di dalam penjara. Aku melihat Rakyat menderita. Aku melihat orang-orang mengorbankan ia punya harta benda untuk tercapainya cita-cita ini. Aku melihat orang-orang didrel mati. Aku melihat orang naik tiang penggantungan. Bahkan aku pernah menerima surat daripada seorang Indonesia yang keesok harinya akan naik tiang penggantungan. Dalam surat itudia mengamanatkan kepada saya sebagai berikut: Soekarno besok aku akan meninggalkan dunia ini. Lanjutkanlah perjuangan kita ini. Ya Tuhan, ya Allah, ya Rabbi, berilah petunjuk kepadaku, sebab besok pagi aku harus raernberi jawaban atas pertanyaan yang maha penting ini.

Saudara-saudara, setelah aku mengucapkan doa kepada Tuhanini, saya raerasa mendapat petunjuk. Saya merasa mendapat ilham. Ilhara yang berkata: Galilah apa yang hendak kau jawabkan itu dari bumi Indonesia sendiri. Maka malam itu aku menggali, menggali di dalam ingatanku, menggali di dalam ciptaku, menggali di dalam khayalku, apa yang terpendam di dalam bumi Indonesia ini, agar supaya sebagai hasil dari penggalian itu dapat dipakainya sebagai dasar daripada Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (Soekarno, 1964: 6-8).

Dalam kesempatan lain, Soekarno mengatakan bahwa kita dalam mengadakan Negara Indonesia Merdeka itu, ‚harus dapat meletakkan negara itu atas suatu meja statis yang dapat mempersatukan segenap elemen di dalam bangsa itu,tetapi juga harus mempunyai tuntunan dinamis ke arah mana kita gerakkan rakyat, bangsa dan negara ini‛. Lantas dia katakan,

‚Saya beri uraian itu tadi agar saudara-saudara mengerti bahwa bagi Republik Indonesia, kita memerlukan satu dasar yang bisa menjadi dasar statis dan yang bisa menjadi Leitstar

dinamis.10Leitstar, bintang pimpinan‛. Lebih lanjut, ‚Kalau kita mencari satu dasar yang statis yang dapat mengumpulkan semua, dan jikalau kita mencari suatu Leitstar dinamis yang dapat menjadi arah perjalanan,kita harus menggali sedalam-dalamnya di dalam jiwa masyarakat kita sendiri. Kalau kita mau memasukkan elemen-elemen yang tidak ada di dalam jiwa Indonesia, tidak mungkin dijadikan dasar untuk duduk di atasnya.‛ Selengkapnya dikatakan:

Nah, oleh karena bangsa atau rakyat adalah satu jiwa,maka kita pada waktu kita memikirkan dasar statis atau dasar dinamis bagi bangsa tidak boleh mencari hal diluar jiwa rakyat itu sendiri. Kalau kita mencari hal-hal di luar jiwa rakyat itu sendiri, kandas. Ya bisa menghikmati satu dua, seratus dua ratus orang, tetapi tidak bisa menghikmati sebagai jiwa tersendiri. Kita harus tinggal di dalam lingkungan dan lingkaran jiwa kita sendiri. Itulah kepribadian. Tiap-tiap bangsa mempunyai kepribadian sendiri, sebagai bangsa.Tidak bisa opleggen dari luar. Itu harus tlaten hidup di dalam jiwa rakyat itu sendiri. Akhirnya dia katakan, ‚Susah mencarinya, mana ini elemen-elemen yang harus nanti total menjadi dasar statis dan total Leitstar dinamis.‛ Setelah digali dalam-dalam, ‚Saya gali sampai zaman Hindu dan praHindu, melihat macam-macam saf‛, total dasar statis dan Leitstar dinamis itu, menurutnya, ‚berkristalisir di dalam lima hal‛. ‚Dari zaman dahulu sampai zaman sekarang, ini yang nyata selalu menjadi isi daripada jiwa bangsa Indonesia. Satu waktu ini lebih timbul, lain waktu itu yang lebih kuat, tetapi selalu 'schakerina' itu lima ini‛

(Soekarno, 1958; II: 8-15).

10 Istilah ‚Leitstar‛ yang digunakan oleh Soekarno berasal dari bahasa Jerman yang berarti ‚guiding star‛ (bintang pimpinan).

Kelima prinsip meja statis dan Leitstar dinamis itulah yang dia uraikan dalam pidatonya pada 1 Juni 1945 Mengawali uraiannya, Soekarno menyerukan ‚bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham‛:

Kita bersama-sama mencari persetujuan “philosofische grondslag‛, mencari satu 'Weltanschauung' yang kita semuanya setuju. Saya katakan lagi setuju yang saudara Yamin setuju, yang Ki Bagoes setuju, yang Ki Hadjar setuju,yang saudara Sanoesi setuju, yang saudara Abikoesno setuju, yang saudara Lim Koen Hian setuju, pendeknya kita semua mencari satu 'modus'. Kelima prinsip yang menjadi titik persetujuan (common denominator) segenap elemen bangsa itu, dalam pandangan Bung Karao meliputi:

Pertama: Kebangsaan Indonesia.

Baik saudara-saudara yang bernama kaum bangsawan yang di sini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat kita hendak mendirikansuatu negara ‚semua buat semua‛. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua.Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat Negara Indonesia, ialah dasar ‚kebangsaan‛.

Kedua: Internasionalisme, atau Perikemanusiaan.

Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme... Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan Negara Indonesia merdeka, tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.

Ketiga: Mufakat atau Demokrasi.

Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Kita mendirikan negara ‚semua buat semua‛, semua buat satu. Saya yakin, bahwa syarat yang

mutlak untuk kuatnya Negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan. Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan.

Keempat: Kesejahteraan Sosial.

Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat.11 tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni politiek economische democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial. Maka oleh karena itu,jikalau kita memang betul-betul mengerti, mencintai rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal 'sociale rechtvaardigheid ini', yaitu bukan saja persamaan politik saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan ekonomi, kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Kelima: Ketuhanan yang Berkebudayaan.

Prinsip Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. bahwa prinsip kelima daripada negara kita ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, keTuhanan yang berbudi pekerti luhur, ke Tuhanan yang hormat menghormati satu sama lain.

Kelima prinsip itu disebut Soekarno dengan Pancasila.

‚Sila artinya asas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal, dan abadi‛.Mengapa dasat meja statis dan Leitstar dinamis yang mempersatukan bangsa itu dibatasi lima? jawaban Soekarno, selain kelima unsur itulah yang memang berakar kuat dalam jiwa bangsa Indonesia, dia juga mengaku suka pada simbulisme angka lima. Angka lima memiliki nilai ‚keramat‛ dalam antropologi masyarakat

11Kalau para pendiri bangsa menyebut “demokrasiBarat” dalam nada

“pelianan”(othering, yang dimaksud bukanlah seluruh model demokrasi yang berkembang di Dunia Barat, melainkan secara spesifik berkonotsi pada suatu ideal type dari demokrasi liberal yang berbasis individualism).

Indonesia. Soekarno menyebutkan, ‚Rukun Islam lima jumlahnya, jari kita lima setangan. Kita mempunyai Panca Indra. Apalagi yang lima bilangannya? (Seorang yang hadir : Pandawa lima). Pandawa pun lima bilangannya.‛ Hal lain juga bisa ditambahkan, bahwa dalam tradisi Jawa ada lima larangan sebagai kode etika, yang disebut istilah ‚Molimo‛.12 Taman Siswa dan Chou Sangi In juga memiliki ‚Panca Dharma‛.

(Soekarno menolak penggunaan istilah Panca Dharma sebagai nama dari dasar negara, menurutnya, dharma berarti kewajiban, sedangkan kita membicarakan dasar). Selanjutnya, Soekarno mengatakan Selain itu, bintang yang amat penting kedudukanya sebagai pemandu pelaut dari masyarakat bahari juga bersudut lima. Asosiasi dasar dengan bintang ini digunakan Soekarno dalam penggunaan istilah Leitstar (bintang pimpinan).

Urutan-urutan kelima sila itu disebutkan Soekarno seba-gai urutan 'sequential' bukan urutan prioritas. Bahwa dalam suatu majlis yang terdiri dari keragaman elemen, seruan ke arah titik persetujuan itu harus dimulai dengan mengangkat keragaman itu ke dalam suatu kode komunitas politik bersama, yakni entitas kebangsaan. Tetapi, tidaklah berarti bahwa sila-sila berikutnya sebagai derivasi dari sila-sila kebangsaan.Masing-masing Sila Pancasila merupakan satu kesatuan integral, yang saling mengandalkan dan saling mengunci. Soekarno sendiri tadak memandang susunan urutan sila-sila Pancasila itu sebagai sesuatu yang prinsipil. Dalam penjelasannya di kemudian hari, dalam buku ‚Pancasila sebagai Dasar Negara, jilid lv-v (1958:

3)dia menyatakan sebagai berikut:

Urutan-urutan yang biasa saya pakai untuk menyebut kelima sila daripada Panca Sila itu ialah: KeTuhanan Yang Maha Esa; Kebangsaan nomor dua; Peri Kemanusiaan nomor

12 Pantangan “Molimo” itu terdiri; maling (mencuri, termasuk korupsi), madat (mengisap candu), main (berjudi), minum (mabuk-mabukan), dan madon (main perempuan).

tiga; Kadaulatan Rakyat nomor empat; Keadilan sosial nomor lima. Ini sekedar untuk urut-urutan kebiasaan saja. Ada kawan-kawan yang mengambil urut-urutan lain yaitumeletakkan sila Peri Kemanusiaan sebagai sila yang kedua dan sila Kebangsaan sebagai sila ketiga. Bagi saya prinsipiil tidak ada keberatan untuk mengambil urut-urutan itu.

Sungguh pun Soekarno telah mengajukan lima sila dari dasar negara, dia juga menawarkan kemungkinan lain, sekiranya ada yang tidak menyukai bilangan lima, sekaligus juga cara beliau menunjukkan dasar dari segala dasar kelima sila tersebut. Alternatifnya bisa diperas menjadi Tri Sila bahkan bisa dikerucutkan lagi menjadi Eka Sila:

Atau barangkali ada saudara-saudara yang tidak suka bi-langan lima itu? Saya boleh peras sehingga tinggal saja.

Saudara-saudara Tanya kepada saya, apakah ‚perasan‛yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme, kebangsaan dan perikemanusiaan, saya peras menjadi satu:

itulah yang dahulu saya namakan socio nasionalisme.

Dan demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tapi'politiekeconomische democratie, yaitu politiekedemocratie dengan sociale rechtvaardigheid: inilah yang dulu saya namakan sociodemocratie. Tinggal lagi ketuhanan yang menghormati satu sama lain.

Jadi yang asalnyalima itu telah menjadi tiga: socio nationalisrae, sociodemocratie, dan keTuhanan. Kalau tuan senang kepada simbolik tiga, ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua tuan-tuan senang kepada Tri Sila ini, dan minta satu, satu dasar saja? Baiklah, saya jadikan satu, saya kumpulkan lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?

Sebagai tadi telah saya katakan: Kita mendirikan Negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam

buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia semua buat semua Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkatakan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‚gotong-royong‛. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong.

Dengan kata lain, dasar dari semua sila Pancasila adalah gotong-royong. Maknanya adalah: prinsip ketuhanannya harus berjiwa gotong-royong (ketuhanan yang berkebudayaan,yang lapang dan toleran), bukan ketuhanan yang saling menyerang dan mengucilkan. Prinsip internasionalismenya harus berjiwa gotong-royong (yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan), bukan internasionalisme yang menjajah dan eksploitatif. Prinsip kebangsaannya harus berjiwa gotong-royong (mampu mengembangkan persatuan dari aneka perbedaan,‛bhineka tunggal ika‛ bukan kebangsaan yang meniadakan perbedaan atau menolakpersatuan. Prinsip demokrasi harus berjiwa gotong-royong (mengembangkan musyawarah mufakat), bukan demokrasi yang didikte oleh suara mayoritas (mayorokrasi) atau minoritas elite penguasa-pemodal (minorokrasi). Prinsip kesejahteraannya harus berjiwa gotong-royong (mengembangkan partisipasi dan emansipasi di bidang ekonomi dengan semangat kekeluargaan), bukan visi kesejahteraan yang berbasis individualisme kapitalisme, bukan pula yang mengekang kebebasan individu seperti dalam sistem etatisme.

Pidato Soekarno tentang Pancasila itu begitu heroik,empatik, dan sistimatik, sehingga mendapatkan sambutan yang meriah dari para anggota BPUPK. Dikatakan heroik karena berpidato dengan menyerukan kemerdekaan dengan dasar-dasar negara yang diidealisasikannya di tengah opsir-opsir bala tentara Jepang bersenjatakan bayonet adalah suatu tindakanyang penuk risiko. Soekarno sendiri mengakui:

Saya sadar, saudara-saudara, bahwa ucapan yang hendak saya ucapkan mungkin adalah satu ucapan yang berbahaya bagi diriku, sebab ini adalah zaman perang, kita pada waktu itu di bawah kekuasaan imperialis Jepang, tetapi juga pada waktu itu, saudara-saudara, aku sadar akan kewajiban seorang pemimpin.

Kerjakanlah tugasmu, kerjakanlah kewajibanmu, tanpa menghitung-hitung akan akibatnya (Soekarno, 1964; 9).13

Dikatakan empatik, karena Soekarno berusaha menghargai dan melibatkan semua unsur kedalam kerangka persetujuan. Dikatakan sistimatik, karena ia menguraikan Pancasila itu secara runtut, logis dan koheren.

Namun demikian, betapapun hebatnya uraian Soekarno tentang dasar negara itu, dia menolak dirinya disebut sebagai pencipta Pancasila;

Kenapa diucapkan terimakasih kepada saya, kenapa saya diagung-agungkan, padahal toh sudah saya sering katakan, bahwa saya bukan pencipta Pancasila. Saya sekedar penggali Panca Sila daripada bumi tanah air Indosia ini, yang kemudian lima mutiara yang saya gali itu, saya persembahkan kembali kepada bangsa Indonesia. Malah pernah saya katakan, bahwa sebenarnya hasil, atau lebih tegas penggalian daripada Panca Sila ini, saudara-saudara, adalah pemberian Tuhan kepada saya.

Sebagaimana tiap-tiap manusia, jikalau ia benar-benar memohon kepada Allah Subhanahu Wataala, diberi ilham oleh Allah Subhanahu Wataala (Soekarno, 1964: 5-6).

Selain itu, betapapun hebatnya hasil penggalian dan uraian Soekarno itu, eksposisinya masih merupakan pandangan pribadi. Untuk diterima sebagai (rancangan) dasar negara, harus disepakati oleh konsesus bersama, setidaknya pada fase ini, melalui persetujuan anggota-anggota BPUPK. Pada proses menda patkan konsesus bersama inilah, prinsip-prinsip

13 Ungkapan terakhir ini dipinjam Soekarno dari nasehat yang diberikan Shri Kresna kepada Arjuna di dalam Bawat Gita: “Karmanyeva dhikarastema phesu kadhacana” (kerjakan kewajibanmu tanpa menghitung-hitung akibatnya).

Pancasila dari pidato Soekarno itu mengalami proses reposisi dan penyempurnaan. Proses ini berlangsung segera setelah masa persidangan pertama BPUPK berakhir.

Di akhir masa persidangan pertama, Ketua BPUPK membentuk Panitia Kecil yang bertugas untuk mengumpulkan usul usul para anggota yang akan dibahas pada masa sidang berikutnya (10-17 Juli 1945). Panitia kecil yang resmi ini beranggotakan delapan orang (Panitia Delapan) di bawah pimpinan Soekarno. Terdiri dari 6 orang wakil golongan kebangsaan dan 2 orang wakil golongan Islam.14

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Panitia Kecil,di masa reses, Soekarno melakukan belbagai inisiatif, yang menurut pengakuannya sendiri, di luar kerangka formalitas. Dia memanfaatkan masa persidangan ‛Chuo Sangi In‛ ke VIII (18-21 Juni) di Jakarta untuk mengadakan pertemuan yang terkait dengan tugas Panitia Kecil.15 Selama pertemuan yang dihadiri oleh 38 orang tersebut, Panitia Kecil dapatmengumpulkan dan memeriksa usul-usul dari 40 lin menyangkut beberapa masalah yang dapat digolongkan ke dalam 9 kategori:

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Panitia Kecil,di masa reses, Soekarno melakukan belbagai inisiatif, yang menurut pengakuannya sendiri, di luar kerangka formalitas. Dia memanfaatkan masa persidangan ‛Chuo Sangi In‛ ke VIII (18-21 Juni) di Jakarta untuk mengadakan pertemuan yang terkait dengan tugas Panitia Kecil.15 Selama pertemuan yang dihadiri oleh 38 orang tersebut, Panitia Kecil dapatmengumpulkan dan memeriksa usul-usul dari 40 lin menyangkut beberapa masalah yang dapat digolongkan ke dalam 9 kategori:

Dalam dokumen YAYASAN OMAH AKSORO INDONESIA (Halaman 149-163)