• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA MENUJU 100 TAHUN NKRI. Membangun Kemandirian Ekonomi, Energi dan Pangan Secara Berkelanjutan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA MENUJU 100 TAHUN NKRI. Membangun Kemandirian Ekonomi, Energi dan Pangan Secara Berkelanjutan"

Copied!
283
0
0

Teks penuh

(1)

GAPKI ©2014 i

INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA

MENUJU 100 TAHUN NKRI

Membangun Kemandirian Ekonomi, Energi dan Pangan

Secara Berkelanjutan

GABUNGAN PENGUSAHA KELAPA SAWIT INDONESIA

GAPKI

(2)

ii GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI

INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA MENUJU 100 TAHUN NKRI

Copyright © 2014 GAPKI

Edisi Pertama

(3)

GAPKI ©2014 iii

KATA PENGANTAR

Industri minyak sawit merupakan industri strategis dalam perekonomian Indonesia khususnya dimasa yang akan datang. Para ahli pertanian dunia telah lama mengakui bahwa pertanian termasuk perkebunan Kelapa sawit memiliki fungsi ekonomi, sosial dan lingkungan bagi masyarakat. Berbagai studi baik dari lembaga internasional maupun lembaga di Indonesia, telah membuktikan bahwa industri minyak sawit Indonesia berkontribusi besar baik bagi perekonomian nasional, pembangunan ekonomi daerah, pengurangan kemiskinan maupun untuk pelestarian lingkungan hidup. Oleh karena itu, pengembangan industri minyak sawit perlu dilihat sebagai upaya memperbesar manfaat ekonomi, sosial dan kelestarian lingkungan hidup yang lebih besar dan lebih berkualitas.

Kedepan, selain meningkatkan peran yang telah ada selama ini industri minyak sawit Indonesia juga dituntut pada peran baru yakni menyediakan energi pengganti energi fosil. Sebagaimana diketahui, bahwa ketergantungan Indonesia pada solar impor sudah sangat tinggi dan akan makin tinggi kedepan jika tidak ada upaya untuk menggantikannya. Impor, solar selain berisiko tinggi secara ekonomi, penggunaan solar juga menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca yang cukup besar dan secara global menjadi kontributor utama perubahan iklim global. Oleh karena itu penggantian solar dengan biodiesel berbahan baku minyak sawit menjadi tuntutan baru kedepan. Selain membangun kemandirian energy, pengembangan biodiesel tersebut jauh lebih ramah lingkungan.

Dengan tambahan peran baru industri minyak sawit tersebut yakni menyediakan biodiesel tentu memerlukan penigkatan ketersediaan bahan baku berupa minyak sawit mentah (CPO). Sementara untuk kebutuhan hilirisasi oleopangan dan oleokimia juga terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan pertambahan jumlah penduduk Indonesia. Dengan kata lain, hilirisasi dan pengembangan biodiesel perlu disertai dengan peningkatan produksi CPO agar tidak terjadi trade-off fuel-food sebagaimana dialami banyak negara dunia.

Dengan latar belakang dan harapan masa depan yang demikian, GAPKI menyusun cetak biru (blue print) dan peta jalan (roadmap) industri minyak sawit Indonesia (Hulu–Hilir) untuk periode 2015-2050. Untuk bagian hulu (perkebunan kelapa sawit) disajikan cetak biru dan

(4)

iv GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI peta jalan peningkatan produktivitas CPO melalui peningkatan produktivitas dan perluasan luas areal baik perkebunan rakyat, perkebunan swasta dan perkebunan negara. Dibagian hilir disajikan cetak biru dan peta jalan hilirisasi baik melaui jalur industri oleopangan, jalur industri oleokimia dan jalur industri biodiesel. Dan bagian terpenting dari cetak biru dan roadmap ini adalah Kebijakan Strategis yang perlu didukung pemerintah untuk industri minyak sawit Indonesia kedepan.

Pengurus GAPKI Pusat mengapresiasi dan menyampaikan terimakasih kepada PASPI (Palm Oil agribusiness Staregic Policy Institute) yang telah kerja keras menyusun Cetak Biru dan Peta Jalan Industri Minyak Sawit ini. Dan kepada seluruh asosiasi industi minyak sawit : DMSI, APROBI, APOLIN, GIMNI, AMNI, APKASINDO, MAKSI kami sampaikan terimakasih atas masukan yang telah diberikan. Dan mari kita semua bergandengan tangan untuk menjadikan industri minyak sawit Indonesia meraih prestasi terbaik kedepan dan menjadi sumber kemakmuran bagi rakyat Indonesia.

Bogor, Juli 2014

PENGURUS GAPKI PUSAT

(5)

GAPKI ©2014 v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

BAB II. EVALUASI PERKEMBANGAN MUTAKHIR PASAR MINYAK NABATI DUNIA ... 5

2.1 Populasi, Distribusi dan Pertumbuhan Penduduk Dunia .. 5

2.2 Perekonomian Kawasan/Global ... 7

2.3 Perkembangan Konsmsi Minyak Nabati Dunia ... 9

2.4 Perkembangan Konsumsi Minyak Nabati Per Kawasan .... 11

2.5 Pola Konsumsi Minyak Nabati Berdasarkan Kawasan ... 18

2.6 Perkembangan Produksi Minyak Nabati Utama Global Menurut Negara Produsen ... 42

2.7 Ekspor- Impor Minyak Nabati Global... 49

2.8 Perkembangan Mutakhir Industri Oleokimia Dunia ... 52

2.9 Perkembangan Produksi Oleokimia Global ... 57

2.10 Industri Penggunaan Produk Oleokimia Global ... 58

2.11 Volume Konsumsi Oleokimia Global ... 60

2.12 Perkembangan Harga Oleokimia ... 60

2.13 Industri Biodiesel Dunia ... 61

2.14 Dinamika Industri Oleokimia Global ... 71

BAB III. EVALUASI PERKEMBANGAN MUTAKHIR INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA ... 73

3.1 Industri Perbenihan Kelapa Sawit ... 73

3.2 Perkembangan Luas Area ... 75

3.2.1 Perkembangan Luas Areal Menurut Pengusahaan dan Provinsi ... 75

3.2.2 Perkembangan Komposisi Umur Kelapa Sawit Menurut Pengusahaan dan Provinsi ... 80

3.3 Perkembangan Produksi CPO ... 84

3.3.1 Penyebaran dan Kapasitas Produksi PKS ... 84

3.3.2 Perkembangan Produksi CPO Menurut Pengusahaan dan Provinsi ... 85 3.3.3 Perkembangan Produktivitas CPO Menurut

(6)

vi GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI

Pengusahaan dan Provinsi... 89

3.4 Perkembangan Ekspor dan Konsumsi Domestik CPO ... 95

3.5 Industri Hilir Minyak Sawit ... 98

3.5.1 Industri Minyak Goreng Sawit/Margarin/ Shortening ... 98

3.5.2 Industri Margarin/Shortening ... 106

3.6 Perkembangan Industri Oleokimia ... 108

3.6.1 Industri Sabun/Detergen ... 115

3.7 Evolusi Kebijakan Pemerintah ... 121

3.8 Perkembangan Harga Energi Dunia, Pupuk dan Rasio Harga ... 135

3.8.1 Pergerakan Harga Emisi Dunia, Minyak Mentah .... 135

3.8.2 Pergerakan Indeks Harga Pupuk ... 138

3.8.3 Pergerakan Harga CPO Dunia ... 142

BAB IV. ANALISIS PERUBAHAN DAN PROYEKSI PASAR MINYAK NABATI GLOBAL MENUJU 2050 ... 146

4.1 Proyeksi Populasi Penduduk Menuju 2050 ... 146

4.2 Proyeksi Ekonomi Global Menuju 2050 ... 148

4.3 Proyeksi Konsumsi Minyak Nabati Utama Global 2050 .... 152

4.4 Proyeksi Produksi Minyak Nabati Utama Global 2050... 154

4.5 Proyeksi Biodiesel ... 156

4.6 Proyeksi Harga dan Ratio Harga ... 158

4.7 Perubahan Selera Pasar Global ... 161

4.8 Perubahan Iklim Global ... 162

4.9 Perubahan Kebijakan Pasar Minyak Nabati Global ... 164

BAB V. PERANAN INDUSTRI MINYAK SAWIT DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA ... 167

5.1 Kontribusi Persawitan Indonesia dalam Pertumbuhan Ekonomi ... 167

5.1.1 Keterkaitan Pertumbuhan Kelapa Sawit dengan Sektor Lain ... 167

5.1.2 Dampak Perkebunan Kelapa Sawit pada Sektor Lain 169 5.1.3 Peran Ekspor Minyak Sawit dalam Perekonomian .. 171

5.1.4 Menyediakan Minyak Nabati yang Kompetitif Bagi Dunia: Feeding The World ... 175

5.2 Peran Industri Minyak Sawit Dalam Pembangunan Pedesaan ... 178

5.2.1 Perkebunan Kelapa Sawit: Menumbuhkan Pusat Pertumbuhan Baru Pedesaan ... 179

5.2.2 Menarik Pertumbuhan Sektor Lain di Kawasan Pedesaan ... 182

5.2.3 Pertumbuhan Produksi CPO Memacu Pertumbuhan Ekonomi Sentra Sawit ... 183

(7)

GAPKI ©2014 vii

5.2.4 Perekonomian Sentra Sawit Bertumbuh Lebih Cepat

Dibanding Non Sentra Sawit ... 184

5.3 Peranan Perkebunan Kelapa Sawit Dalam Mengurangi Kemiskinan ... 186

5.3.1 Merubah Petani Miskin Menjadi Pengusaha ... 186

5.3.2 Menciptakan Kesempatan Kerja di Kawasan Pedesaan ... 188

5.3.3 Pendapatan Petani Sawit Meningkat Cepat ... 190

5.3.4 Pertumbuhan Asset Petani Sawit ... 191

5.3.5 Pendapatan Rumah Tangga Petani Sawit Lebih Tinggi dari Petani Non Sawit ... 191

5.3.6 Mengatasi Kemiskinan dan Menciptakan Kelas Ekonomi Menengah di Pedesaan ... 192

5.3.7 Perkebunan Kelapa Sawit Menurunkan Kemiskinan di Pedesaan ... 193

5.4 Kontribusi Industri Minyak Sawit Dalam Pelestarian Lingkungan ... 195

5.4.1 Kebijakan dan Regulasi Tata Kelola Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia yang Berkelanjutan ... 196

5.4.2 Asal Usul Lahan Perkebunan Kelapa Sawit dari Degraded Land dan Low-Carbon ... 198

5.4.3 Perkebunan Kelapa Sawit Berfungsi Ekologis ... 201

5.4.4 Perkebunan Kelapa Sawit Menyerap CO2 dari Atmosfir Bumi ... 203

5.4.5 Perkebunan Kelapa Sawit Mengurangi Emisi GHG Degraded Peat Land ... 206

5.4.6 Pelestarian Biodiversity pada Perkebunan Kelapa Sawit ... 208

5.4.7 Industri Minyak Sawit Hemat Sumberdaya dan Minimum Polusi ... 210

BAB VI. INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA 2050 ... 215

6.1 Asumsi-Asumsi ... 215

6.2 Visi dan Misi Industri Minyak Sawit Indonesia 2050 ... 219

6.2.1. Visi 2050 ... 219

6.2.2. Misi 2050 ... 219

6.3 Roadmap Hilirisasi ... 220

6.3.1 Proyeksi Konsumsi Industri Hilir Minyak Sawit ... 221

6.2.2 Proyeksi Produksi Hilir Minyak Sawit ... 222

6.4 Kebutuhan CPO untuk Industri Hilir Domestik ... 224

6.5 Roadmap Produksi CPO Menuju 2050... 225

6.5.1 Roadmap Pengembangan Industri Pembibitan Kelapa Sawit ... 225

6.5.2 Roadmap Replanting ... 227

(8)

viii GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI

6.5.4 Roadmap Produktivitas ... 230

6.5.5 Proyeksi Produksi CPO Menuju 2050 ... 232

6.6 Proyeksi Penyerapan Tenaga Kerja pada Industri Sawit Nasional ... 233

6.7 Proyeksi Produksi Jasa Lingkungan ... 234

6.8 Proyeksi Ekspor Produk Minyak Sawit dan Pangsa Indonesia ... 235

BAB VII. KEBIJAKAN STRATEGIS INDUSTRI MINYAK SAWIT 2050 .. 241

7.1 Paket Kebijakan BIG PUSH Industri Minyak Sawit nasional Menuju 2050 ... 241

7.2 Kebijakan Tata Ruang ... 242

7.3 Kebijakan Pertanahan ... 243

7.4 Kebijakan Perizinan Industri Minyak Sawit ... 244

7.5 Kebijakan Suku Bunga Kredit ... 245

7.6 Kebijakan Infrastruktur dan Pelabuhan ... 247

7.7 Kebijakan Subsitusi Solar dengan Biodiesel (Mandatori Biodiesel) ... 249

7.8 Kebijakan Perdagangan Internasional... 250

7.9 Kebijakan Perpajakan ... 252

7.10 Kebijakan Riset dan Pengembangan ... 253

7.11 Kebijakan Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) ... 255

7.12 Kebijakan Kelembagaan dan Organisasi Ekonomi Petani Sawit ... 256

BAB VIII. PENUTUP ... 259

(9)

GAPKI ©2014 ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Penduduk Dunia Berdasarkan Kawasan (Juta jiwa) ... 5 Tabel 2.2. Perkembangan Penduduk Dunia Berdasarkan Kawasan

(Juta jiwa) ... 6 Tabel 2.3. Asumsi GDP ... 7 Tabel 2.4. Perkembangan GDP berdasarkan Kawasan (Million USD,

pada Harga Konstan 2005) ... 8 Tabel 2.5. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Amerika Latin dan Karibia Tahun 1965-2014 ... 20 Tabel 2.6. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Sub Sahara Afrika Tahun 1965-2014 ... 22 Tabel 2.7. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Near East dan Afrika Utara Tahun 1965-2014 ... 24 Tabel 2.8. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Asia Selatan Tahun 1965-2014... 26 Tabel 2.9. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Asia Timur Tahun 1965-2014 ... 28 Tabel 2.10. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Negara Maju Tahun 1965-2014 ... 30 Tabel 2.11. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Negara

Amerika Serikat Tahun 1965-2014 ... 32 Tabel 2.12. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Uni Eropa Tahun 1965-2014 ... 34 Tabel 2.13. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Eropa Barat Tahun 1965-2014 ... 36 Tabel 2.14. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Eropa Timur Tahun 1965-2014 ... 38 Tabel 2.15. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Asia Tengah Tahun 1965-2014 ... 40 Tabel 2.16. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati Dunia

Tahun 1965-2014 ... 42 Tabel 2.17. Pangsa Produksi Minyak Nabati terhadap Total Produksi

Minyak Nabati Utama Dunia 1970-2013 (%) ... 43 Tabel 3.1. Kapasitas Produksi Benih Kelapa Sawit di Indonesia... 74 Tabel 3.2. Pertumbuhan Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit

Rakyat Menurut Provinsi ... 76 Tabel 3.3. Pertumbuhan Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit

Negara Menurut Provinsi ... 78 Tabel 3.4. Pertumbuhan Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit

Swasta Menurut Provinsi ... 79 Tabel 3.5. Perbandingan Komposisi Tanaman Kelapa Sawit antara

(10)

x GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI

Tabel 3.6. Distribusi dan Pertumbuhan Luas TM Perkebunan

Kelapa Sawit Rakyat Menurut Provinsi. ... 81 Tabel 3.7. Distribusi dan Pertumbuhan Luas TM Perkebunan

Kelapa Sawit Swasta Menurut Provinsi. ... 82 Tabel 3.8. Distribusi dan Pertumbuhan Luas TM Perkebunan Kelapa

Sawit Negara Menurut Provinsi. ... 83 Tabel 3.9. Produksi dan Pertumbuhan CPO Perkebunan Rakyat

Seluruh Provinsi. ... 86 Tabel 3.10. Produksi dan Pertumbuhan CPO Perkebunan Swasta

Seluruh Provinsi ... 87 Tabel 3.11. Produksi dan Pertumbuhan CPO Perkebunan Negara

Seluruh Provinsi ... 88 Tabel 3.12. Produktivitas dan Pertumbuhan Produktivitas CPO

Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat Setiap Provinsi ... 90 Tabel 3.13. Produktivitas dan Pertumbuhan Produktivitas CPO

Perkebunan Kelapa Sawit Negara Setiap Provinsi. ... 91 Tabel 3.14. Produktivitas dan Pertumbuhan Produktivitas CPO

Perkebunan Kelapa Sawit Swasta Setiap Provinsi ... 93 Tabel 3.15 Lokasi dan Kapasitas Industri Minyak Goreng Sawit di

Indonesia Tahun 2007 ... 99 Tabel 3.16. Jumlah Perusahaan, Kapasitas Produksi dan Penyebaran

Industri Margarin/Shortening di Indonesia ... 107 Table 3.17 Peran Ekspor CPO dan Turunannya dalam Neraca

Transaksi Berjalan Indonesia ... 109 Tabel 3.18. Produsen dan Kapastas Industri Oleokimia

Nasional(dalam 1000 ton). ... 110 Tabel 3.19 Jumlah Perusahaan dan Kapasitas Produksi Industri

Sabun Mandi dan Detergen di Indonesia ... 116 Tabel 3.20. Produsen dan Kapasitas Industri Biodiesel di Indonesia ... 120 Table 3.21 Perkembangan Kebutuhan CPO untuk Industri Hilir di

dalam Negeri ... 121 Tabel 3.22. Formula Penetapan Pajak Ekspor CPO dan Produk

Turunan Berdasarkan SK Menkeu No: 434/KMK

0.17/1994 Tanggal 31 Agustus 1994 ... 128 Tabel 3.23. Harga Patokan Ekspor dan Tarif Bea Keluar

Produk-Produk Agribisnis Minyak Sawit 1 September – 30

September 2011 ... 134 Tabel 4.1. Peringkat 10 jumlah penduduk terbesar dunia tahun 2014

dan 2050E ... 147 Tabel 4.2. Peringkat (Ranking) GDP Negara Ekonomi Terbesar Dunia . 150 Tabel 5.1. Keterkaitan ke Depan (Forward Linkages) dan Keterkaitan

ke Belakang (Backward Linkages) Perkebunan Kelapa

Sawit. ... 168 Tabel 5.2. Sektor-Sektor Penyedia Input Perkebunan Kelapa Sawit ... 169 Tabel 5.3. Indeks Multiplier Perkebunan Kelapa Sawit ... 170

(11)

GAPKI ©2014 xi

Tabel 5.4. Top Ten Sektor Ekonomi (Selain Perkebunan Kelapa Sawit) yang Bertumbuh Akibat Pertumbuhan Output,

Income dan Nilai Tambah Perkebunan Kelapa Sawit... 171 Tabel 5.5 Perkembangan Nilai Ekspor CPO dan Turunannya Serta

Pangsanya dalam Net Ekspor Non Migas Indonesia ... 173 Tabel 5.6. Peran Ekspor CPO dan Turunannya dalam Neraca

Transaksi Berjalan Indonesia ... 173 Tabel 5.7. Penerimaan Pemerintah dari Bea Keluar Ekspor CPO dan

Turunannya, Tahun 2007-2012 ... 174 Tabel 5.8. Negara/Kawasan Utama yang Menikmati Manfaat

Produksi CPO Indonesia untuk Bahan Pangan dan Bahan

Baku Industri ... 176 Tabel 5.9. Sektor-sektor Rural Non-Farm yang Bertumbuh Akibat

Pertumbuhan Produksi CPO ... 182 Tabel 5.10. Perkembangan Jumlah Unit Usaha Keluarga Petani

Kelapa Sawit Rakyat di Indonesia ... 187 Tabel 5.11. Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja pada

Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia ... 189 Tabel 5.12. Sektor-Sektor Ekonomi yang Bertumbuh Penyerapan

Tenaga Kerja Jika Produksi Perkebunan Kelapa Sawit

Bertumbuh ... 189 Tabel 5.13. Perbandingan Pendapatan Rumah Tangga Petani Sawit

dengan Petani Non Sawit (Rp Juta) ... 192 Tabel 5.14 Perbandingan Pendapatan per Kapita Petani Sawit, Garis

Kemiskinan dan Pendapatan per Kapita Nasional ... 193 Tabel 5.15. Sektor-sektor Ekonomi (Diluar Perkebunan Sawit) yang

Meningkat Pendapatannya Akibat Pertumbuhan Produksi CPO ... 194 Tabel 5.16. Kebijakan dan Regulasi Perkebunan Kelapa Sawit

Berkelanjutan di Indonesia ... 197 Tabel 5.17. Perubahan Penggunaan Lahan untuk Hutan, Perkebunan

dan Penggunaan Lain di Indonesia (Juta Hektar) ... 200 Tabel 5.18. Perbandingan Ekofisiologi Perkebunan Kelapa Sawit

dengan Hutan Tropis ... 202 Tabel 5.19. Volume Standing Biomas dan Jumlah Karbon Terfiksasi

dari Atmosfir Bumi pada Berbagai Umur Kelapa Sawit... 204 Tabel 5.20. Perkebunan Kelapa Sawit di Lahan Gambut Menurunkan

Emisi CO2 Lahan Gambut ( Degraded Peat Land) ... 207 Tabel 5.21. Berbagai Fauna di Areal HGU Perkebunan Kelapa Sawit .... 209 Tabel 5.22. Berbagai Flora di Areal HGU Perkebunan Kelapa Sawit ... 210 Tabel 5.23. Kebutuhan Lahan untuk Menghasilkan 1000 Ton Minyak

Nabati dari Berbagai Jenis Minyak Nabati Global ... 211 Tabel 5.24. Perbandingan Penggunaan Input dan Polusi Air/Tanah

antara Perkebunan Kelapa Sawit dengan Minyak Nabati

(12)

xii GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI

Tabel 5.25. Konsumsi Air (Water Footprint) dari Berbagai Jenis

Tanaman Biofuel ... 212 Tabel 6.1. Asumsi Proyeksi Pertumbuhan Tahun 2014-2050 (%

Tahun) ... 217 Tabel 6.2. Luas Degraded Land di Indonesia ... 217 Tabel 6.3. Luasan Lahan Berpotensi Tinggi Untuk Tanaman Kelapa

Sawit di Beberapa Wilayah Indonesia ... 218 Tabel 6.4. Proyeksi Volume Konsumsi Domestik Produk Hilir

2013-2050 ... 221 Tabel 6.5. Proyeksi Produksi Industri Hilir Minyak Sawit (Ton) ... 223 Tabel 6.6. Proyeksi Kebutuhan CPO untuck Industri Hilir Domestik .. 224 Tabel 6.7. Kebutuhan Bibit dan Roadmap Kualitas bibit Kelapa

Sawit 2013-2050 ... 226 Tabel 6.8. Roadmap Replanting dan Tanaman Baru serta Kebutuhan

Bibit Kelapa Sawit 2013-2050 ... 227 Tabel 6.9. Proyeksi Luas Areal Kelapa Sawit Indonesia 2050 ... 229 Tabel 6.10. Proyeksi Produksi CPO Menurut Pengusahaan 2013-2050 232 Tabel 6.11. Proyeksi Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Minyak

Sawit Nasional 2013-2050 ... 233 Tabel 6.12. Proyeksi Jasa Lingkungan Pada Industri Minyak Sawit

2013-2050 ... 235 Tabel 6.13. Proyeksi Volume Ekspor Produk Hilir Minyak Sawit dan

CPO Indonesia 2013- 2050 ... 236 Tabel 6.14. Proyeksi Nilai Ekspor Produk Hilir dan CPO Indonesia ... 237 Tabel 6.15. penghematan Devisa Impor Solar dengan Kebijakan

Mandatori Biodiesel Tahun 2013-2050 ... 238 Tabel 6.16. Proyeksi Pangsa Indonesia Dalam Produksi CPO Dunia,

Minyak Nabati Utama Dunia, dan Biodiesel Dunia ... 238 Tabel 7.1. Perbandingan Peringkat Dunia antara Indonesia dengan

Negara Tetangga dalam Perizinan Usaha ... 244 Tabel 7.2. Perbandingan Lending Rate di Indonesiia dengan

Negara-Negara Tujuan Ekspor ... 246 Tabel 7.3. Perbandingan Indeks Ketersediaan dan Kualitas

Infrastruktur Indonesia dibandingkan Negara Lain pada

(13)

GAPKI ©2014 xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Perkembangan Penduduk Dunia berdasarkan Kawasan ... 6 Gambar 2.2. Perkembangan Penduduk Dunia berdasarkan Kawasan ... 8 Gambar 2.3. Perkembangan Konsumsi Minyak Nabati Dunia 1965,

1980, 2014 ... 9 Gambar 2.4. Perkembangan Konsumsi Minyak Nabati Dunia 1965 –

2014 ... 10 Gambar 2.5. Perkembangan Pangsa Konsumsi Minyak Nabati Dunia ... 10 Gambar 2.6. Konsumsi Minyak Kedele berdasarkan Kawasan Tahun

1965-2014 ... 11 Gambar 2.7. Negara Konsumen Terbesar Minyak Kedele Dunia

1965-2014 ... 12 Gambar 2.8. Konsumsi Minyak Sawit berdasarkan Kawasan Tahun

1965-2014 ... 13 Gambar 2.9. Negara Konsumen Terbesar Minyak Sawit Dunia

1965-2014 ... 14 Gambar 2.10. Konsumsi Rapeseed Oil berdasarkan Kawasan Tahun

1965-2014 ... 15 Gambar 2.11. Negara Konsumen Terbesar Rapeseed Oil Dunia

1965-2014 ... 16 Gambar 2.12. Konsumsi Sunflower Oil berdasarkan Kawasan Tahun

1965-201 ... 17 Gambar 2.13. Negara Konsumen Terbesar Sunflower Oil Dunia

1965-2014 ... 18 Gambar 2.14. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Amerika Latin dan Karibia Tahun 1965-2014 ... 19 Gambar 2.15. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Sub Sahara Afrika Tahun 1965-2014 ... 21 Gambar 2.16. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Near East dan Afrika Utara Tahun 1965-2014 ... 23 Gambar 2.17. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Asia Selatan Tahun 1965-2014... 25 Gambar 2.18. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Asia Timur Tahun 1965-2014 ... 27 Gambar 2.19. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Negara Maju Tahun 1965-2014 ... 29 Gambar 2.20. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Negara

Amerika Serikat Tahun 1965-2014 ... 31 Gambar 2.21. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Uni Eropa Tahun 1965-2014 ... 33 Gambar 2.22. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

(14)

xiv GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI

Gambar 2.23. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan

Eropa Timur Tahun 1965-2014 ... 37

Gambar 2.24. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan Asia Tengah Tahun 1965-2014... 39

Gambar 2.25. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati Dunia Tahun 1965-2014... 41

Gambar 2.26. Perkembangan Pangsa Produksi Minyak Nabati Utama Dunia 1964-2013 ... 44

Gambar 2.27. Perkembangan Produksi CPO Dunia Tahun 1964-2013 ... 45

Gambar 2.28. Perkembangan Produksi Soybean Oil Dunia Tahun 1964-2013 ... 46

Gambar 2.29. Perkembangan Produksi Rapeseed Oil Dunia Tahun 1964-2013 ... 47

Gambar 2.30. Perkembangan Produksi Sunflower Oil Dunia 1964-2013 .... 48

Gambar 2.31. Perkembangan Ekspor Minyak Dunia 1964-2013 ... 49

Gambar 2.32. Perkembangan Ekspor Minyak Kedele Dunia 1964-2013 ... 50

Gambar 2.33. Perkembangan Ekspor Rapeseed Oil Dunia 1964-2013 ... 51

Gambar 2.34. Perkembangan Ekspor Sunflower Oil Dunia 1964-2013 ... 52

Gambar 2.35. Kapasitas Produksi Fatty Acid Dunia Tahun 2011 ... 53

Gambar 2.36. Perkembangan Kapasitas Produksi Fatty Acid Global 2004-2015 ... 53

Gambar 2.37. Kapasitas Produksi Fatty Acid Asia Tahun 2011 ... 54

Gambar 2.38. Perkembangan Kapasitas Produksi Fatty Acid Asia 2004-2015 ... 54

Gambar 2.39. Kapasitas Produksi Fatty Alcohol Dunia 2011. ... 55

Gambar 2.40. Perkembangan Kapasitas Produksi Fatty Alcohol Global2004-2015 ... 55

Gambar 2.41. Kapasitas Produksi Fatty Alcohol Asia ... 56

Gambar 2.42. Perkembangan Kapasitas Produksi Fatty Alcohol Asia 2004-2015 ... 56

Gambar 2.43. Volume Produksi Fatty Acid Global Historis dan Proyeksi. 57 Gambar 2.44. Volume Produksi Fatty Alcohol Global Historis dan Proyeksi ... 58

Gambar 2.45. Industri Pengguna Fatty Alcohol Global... 58

Gambar 2.46. Industri Pengguna Glyserin Global ... 59

Gambar 2.47. Perkembangan Volume Konsumsi Fatty Acid Global Secara Historis dan Proyeksi ... 59

Gambar 2.48. Perkembangan Volume Konsumsi Fatty Alcohol Global Secara Historis dan Proyeksi. ... 60

Gambar 2.49. Perkembangan Harga Oleokimia (RM/ton) ... 61

Gambar 2.50. Perkembangan Harga Glyserin Menurut Bahan Baku ... 61

Gambar 2.51. Perkembangan Produksi Biodiesel Dunia 2000-2011. ... 62

Gambar 2.52. Perkembangan Harga Biodiesel di Pasar Eropa Menurut Bahan Baku ... 63

(15)

GAPKI ©2014 xv

Gambar 2.54. Penggunaan Surfactant Global ... 65

Gambar 2.55. Produk Personal Care Dunia ... 66

Gambar 2.56. Pasar Personal Care Dunia... 66

Gambar 2.57. Penggunaan Lubricant Dunia ... 67

Gambar 2.58. Pasar Lubricant Dunia Menurut Kawasan (USB, 2008) ... 68

Gambar 2.59. Dinamika Industri Oleokimia Dasar Dunia. ... 68

Gambar 2.60. Penggunaan Surfactant Global. ... 69

Gambar 2.61. Produk Persnonal Care Dunia. ... 69

Gambar 2.62. Pasar Personal Care Dunia. ... 70

Gambar 2.63. Penggunaan Lubricant Dunia. ... 70

Gambar 2.64. pasar Lubricant Dunia Menurut kawasan (USB, 2008). ... 71

Gambar 2.65. Dinamika Industri Oleokimia Dasar Dunia. ... 71

Gambar 3.1. Lokasi Penyebaran Produsen Benih Kelapa Sawit di Indonesia ... 74

Gambar 3.2. Kapasitas Produksi PKS Indonesia Menurut Provinsi Tahun 2013 (ton TBS/jam), ... 84

Gambar 3.3 Produksi CPO Indonesia Menurut Provinsi Tahun 2013 ... 84

Gambar 3.4. Perkembangan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat ... 89

Gambar 3.5. Perkembangan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit Negara ... 92

Gambar 3.6. Perkembangan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit Swasta... 94

Gambar 3.7. Perbandingan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat, Negara dan Swasta. ... 94

Gambar 3.8. Perkembangan Pangsa Ekspor dan Konsumsi Domestik dari Produksi CPO Indonesia ... 95

Gambar 3.9. Perkembangan Volume Ekspor Minyak Sawit Indonesia (000 ton) ... 96

Gambar 3.10 Perkembangan Nilai Ekspor Minyak Sawit Indonesia(000 US$) ... 97

Gambar 3.11. Perkembangan Komposisi Ekspor Minyak Sawit Indonesia ... 97

Gambar 3.12. Perkembangan Ekspor Minyak Sawit Indonesia Menurut Negara Tujuan ... 98

Gambar 3.13. Perkembangan Produksi Minyak Goreng Indonesia Tahun 2000-2013 ... 101

Gambar. 3.14. Rata-rata Pangsa Minyak Goreng Sawit dalam Konsumsi Minyak Goreng Indonesia Tahun 2000-2008 ... 101

Gambar 3.15. Perkembangan Alokasi Produksi Minyak Goreng Indonesia untuk Konsumsi Domestik dan Ekspor Tahun 2002-2013 ... 104

Gambar 3.16. Penyebaran dan Kapasitas Pabrik Minyak Goreng dan Margarin di Indonesia ... 105

(16)

xvi GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI

Gambar 3.17. Perkembangan Produksi Margarine Indonesia Tahun

2000-2013 ... 108 Gambar 3.18. Perkembangan Produksi Oleokimia Dasar di Indonesia

2006-2010 (ton) ... 111 Gambar 3.19. Perkembangan Volume Ekspor Fatty Acid Menurut

Negara Tujuan (Ton)... 111 Gambar 3.20. Perkembangan Volume Ekspor Fatty Acid(US $’000). ... 112 Gambar 3.21. Perkembangan Volume Glyserol Menurut Negara Tujuan

(Ton) ... 112 Gambar 3.22. Perkembangan Volume Ekspor Glyserol Menurut Negara

Tujuan (US$'000) ... 113 Gambar 3.23. Perkembangan Value Ekspor Fatty Alcohol Menurut

Negara Tujuan (ton).. ... 113 Gambar 3.24. Perkembangan Value Ekspor Fatty Alcohol Menurut

Negara Tujuan(US$’000)... 114 Gambar 3.25. Perkembangan Volume Impor Oleokimia 2006-2011 (ton). .. 114 Gambar 3.26. Perkembangan Volume Impor Oleokimia 20062011

(US$’000) ... 115 Gambar 3.27. Penyebaran dan Kapasitas Produksi Sabun dan Detergen ... 116 Gambar 3.28. Perkembangan Produksi Sabun dan Detergen Indonesia

Tahun 2000-2013... 117 Gambar 3.29. Perkembangan Produksi dan Tujuan Pasar Industri Sabun

Indonesia ... 118 Gambar 3.30. Penyebaran dan Kapasitas Pabrik Biodiesel di Indonesia .... 118 Gambar 3.31 Perkembangan Produksi Biodiesel Indonesia Tahun

2000-2013 ... 119 Gambar 3.32. Perkembangan Produksi Biodiesel dan Penggunaanya di

Indonesia ... 119 Gambar 3.33. Pergerakan Indeks Harga Tahunan Minyak Mentah Dunia

(Januari 2002=100) ... 136 Gambar 3.34. Pergerakan Indeks Harga Tahunan Minyak Diesel Dunia

Januari 2007- Desember 2012 (Januari 2002=100) ... 137 Gambar 3.35. Pergerakan Indeks Harga Tahunan Gas Alam Cair Dunia

(Januari 2002=100) ... 138 Gambar 3.36. Pergerakan Indeks Harga Tahunan Pupuk Urea Dunia

Januari 2002- Desember 2012 (Januari 2002=100) ... 139 Gambar 3.37. Pergerakan Indeks Harga Tahunan Pupuk Rock Pospat

(Januari 2002=100) ... 139 Gambar 3.38. Pergerakan Indeks Harga Tahunan Pupuk TSP Dunia

(Januari 2002=100) ... 140 Gambar 3.39. Pergerakan Indeks Harga Tahunan Pupuk DAP Dunia

(Januari 2002=100) ... 141 Gambar 3.40. Pergerakan Indeks Harga Tahunan Pupuk KCL Dunia

(17)

GAPKI ©2014 xvii

Gambar 3.41. Pergerakan Indeks Harga Tahunan CPO Dunia (Januari

2002=100)... 143 Gambar 3.42. Pergerakan Indeks Harga Bulanan CPO Dunia (Januari

2002=100)... 143 Gambar 3.43. Pola Pergerakan Harga Tahunan antara Minyak Mentah

(A) % CPO (B) Dunia ... 144 Gambar 3.44. Pergerakan Indeks Harga Tahunan PKO Dunia (Januari

2002=100)... 145 Gambar 3.45. Pergerakan Indeks Harga Bulanan PKO Dunia (Januari

=100) ... 145 Gambar 4.1. Penduduk Bumi dan Proyeksi hingga tahun 2050 ... 146 Gambar 4.2. Perkembangan GDP Dunia Tahun 1980 dan Proyeksi 2050 . 148 Gambar 4.3. GDP per Kapita berdasarkan Kawasan 1980-2050 ... 151 Gambar 4.4. GDP per Kapita beberapa negara terpilih 1980-2050 ... 152 Gambar 4.5. Proyeksi Konsumsi Minyak Nabati Utama Dunia 2050 ... 153 Gambar 4.6. Laju pertumbuhan Konsumsi Minyak Nabati Utama

Dunia ... 154 Gambar 4.7. Proyeksi Produksi Minyak Nabati Utama Dunia 2050 ... 155 Gambar 4.8. Laju pertumbuhan Produksi Minyak Nabati Utama Dunia . 155 Gambar 4.9. Produksi Biodiesel Dunia Tahun 2015, 2018, 2020 ... 156 Gambar 4.10. Konsumsi Biodiesel Dunia Tahun 2015, 2018, 2020 ... 157 Gambar 4.11. Ekspor Biodiesel Dunia Tahun 2015, 2018, 2020 ... 157 Gambar 4.12. Harga Biodiesel Tahun 2011 dan Proyeksi Hingga Tahun

2021 ... 158 Gambar 4.13. Proyeksi Harga Minyak Nabati Utama Dunia 2050 ... 159 Gambar 4.14. Rasio Harga Minyak Nabati Utama Dunia Terhadap

Minyak Sawit ... 160 Gambar 5.1. Komposisi Ekspor Non Migas Indonesia Tahun 2005 dan

2013 ... 172 Gambar 5.2. Penggunaan Produksi CPO (Setara CPO) Indonesia Untuk

Konsumsi Masopyarakat Dunia dan Masyarakat

Indonesia ... 175 Gambar 5.3. Harga Minyak Sawit (CPO) Lebih Kompetitif daripada

Soybean Oil (SBO), Rapeseed Oil, (RPO), dan Sunflower

Oil (SFO) ... 177 Gambar 5.4. Evolusi Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit Menjadi

Agropolitan/Kawasan Industri Perkebunan di Kawasan

Pedesaan di Indonesia ... 180 Gambar 5.5. Komponen Investasi Perkebunan Kelapa Sawit Tahap

Gestation Period di Kawasan Pedesaan Indonesia ... 181 Gambar 5.6. Rataan Jumlah Unit UKMK Supplier Barang/Jasa untuk

Perkebunan Kelapa Sawit di Kawasan Pedesaan (Per 100

Ribu TM) ... 181 Gambar 5.7. Pengaruh Produksi CPO terhadap PDRB Sentra Sawit

(18)

xviii GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI

Gambar 5.8. Perbandingan PDRB Sentra Sawit dengan Non Sentra

Sawit Nasional ... 185

Gambar 5.9. Perbandingan Pendapatan Petani Sawit Plasma, Mandiri, dan Petani Non Sawit Nasional ... 190

Gambar 5.10. Pertumbuhan Asset Petani Sawit Nasional ... 191

Gambar 5.11. Pengaruh Produksi CPO terhadap Penurunan Kemiskinan di Sentra Sawit Nasional... 195

Gambar 5.12. Asal Usul Lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Tahun 1990-2012... 199

Gambar 5.13. Volume Karbon yang Diserap Secara Netto pada Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Tahun 1990 dan 2010 (Juta Ton Karbon) ... 205

Gambar 5.14. Peranan Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia dalam Menyerap CO2 Global ... 205

Gambar 5.15. Pengurangan Emisi CO2 dari Palm Oil Biodiesel Sebagai Pengganti Fosil-Diesel Dibandingkan Sumber Biodiesel Lainnya (persen) ... 213

Gambar.6.1 Proyeksi Konsumsi Domestik Produk Hilir ... 222

Gambar 6.2. Proyeksi Produk Hilir ... 223

Gambar 6.3. Proyeksi Kebutuhan CPO Domestik Tahun 2013-2050 ... 224

Gambar 6.4. Perubahan Pangsa Areal Perkebunan Sawit Negara, Rakyat dan Swasta Indonesia Tahun 2013-2050 ... 228

Gambar 6.5. Proyeksi Luas Areal Kelapa Sawit Indonesia 2013-2050 ... 228

Gambar 6.6. Proyeksi Komposisi Tanaman Kelapa Sawit Indonesia 2013-2050 ... 229

Gambar 6.7. Roadmap Peningkatan Produktivitas Kebun Sawit Rakyat 2013-2050 ... 230

Gambar 6.8. Roadmap Peningkatan Produktivitas Kebun Sawit Negara 2013-2050 ... 231

Gambar 6.9. Proyeksi Peningkatan Produktivitas Kebun Sawit Swasta 2013-2050 ... 231

Gambar 6.10. Proyeksi Nilai Ekspor Produk Minyak Sawit 2013-2050 ... 237

Gambar 6.11. Pangsa Indonesia dalam Produksi CPO Dunia ... 239

Gambar 6.12. Pangsa Indonesia dalam Produksi 4 Nabati Dunia ... 239

Gambar 6.13. Pangsa Indonesia dalam Produksi Biodiesel Dunia ... 240

(19)

I. Pendahuluan 1

BAB I

PENDAHULUAN

Industri minyak sawit memiliki multi fungsi (multifunctionality) yang memberi manfaat ganda bagi perekonomian Indonesia maupun dunia secara keseluruhan. Manfaat ganda yang dimaksud berupa manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan. Manfaat dari segi ekonomi yang dimaksud bahwa industri minyak sawit menghasilkan berbagai produk bahan pangan, bahan energi dan bahan baku industri,yang dibutuhkan baik bagi Indonesia maupun masyarakat dunia. Sekitar 70 persen dari CPO yang dihasilkan Indonesia diperuntukkan bagi masyarakat internasional dan hanya sekitar 30 persen untuk kebutuhan masyarakat Indonesia.Selain itu,bagi pekonomian Indonesia industri minyak sawit merupakan sumber penerimaan pemerintah dari Bea keluar, berbagai jenis pajak serta salah satu penyumbang devisa terbesar.

Manfaat sosial dari industri minyak sawit terkait dengan peranan dan kontribusinya dalam penciptaan kesempatan kerja, pembangunan pedesaan (rural development) dan pengurangan kemiskinan pedesaan (poverty alleviation). Berbagai studi emperis (Susila, 2004; Goenadi,2008; World Growth,2009; Joni, 2012; Rofiq, 2012; PASPI,2014) mengungkapkan bahwa perkebunan Kelapa sawit di Indonesia bagian penting dari pembangunan pedesaan maupun pengurangan kemiskinan.

Perkebunan Kelapa sawit juga memiliki fungsi ekologis dan memberi manfaat jasa lingkungan yang mirip dengan hutan (Henson,1999; Harahap, et al. 2005, Fairhurst and Hardter, 2004, PASPI, 2014). Perkebunan Kelapa sawit merupakan bagian penting dari pelestarian siklus karbondioksida(CO2), oksigen (O2) dan air (H2O). Kemampuan perkebunan Kelapa sawit dalam menyerap CO2 dan menghasilkan O2 lebih tinggi dari kemampuan hutan primer. Dengan melihat planet bumi sebagai satu ekosistem, fungsi ekologis perkebunan Kelapa sawit tersebut dinikmati bersama dan gratis oleh masyarakat dunia.

Dengan manfaat ekonomi, sosial dan ekologis dari industri minyak sawit yang demikian, maka setiap pengembangan perkebunan kelapa sawit yang bertujuan untuk meningkatkan produksi CPO, merupakan cara memperbesar manfaat tersebut bagi masyarakat. Demikian juga untuk setiap peningkatan nilai tambah CPO seperti hilirisasi juga merupakan upaya memperbesar manfaat industri minyak sawit bagi masyarakat.

(20)

2 GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI Sampai tahun 2013, Indonesia telah berhasil mengembangkan perkebunan Kelapa sawit sekitar 9.2 juta hektar dengan produksi CPO sebesar 26.5 juta ton. Dengan produksi CPO sebesar itu, Indonesia berhasil menjadi produsen CPO terbesar dunia. Prestasi yang impressive tersebut perlu dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya secara berkelanjutan, sehingga multi manfaat yang dihasilkan makin besar,bermutu dan makin meluas secara lintas generasi.

Mempertahankan dan meningkatkan kualitas sebagai produsen CPO terbesar dunia kedepan, Indonesia menghadapi tantangan yang makin kompleks. Berbagai perubahan yang tekait industri minyak sawit akan terjadi baik di pasar domestik maupun pasar global, yang diantaranya sebagai berikut.

Pertama, Ketersediaan lahan untuk perluasan kebun sawit di Indonesia makin terbatas kedepan. Keterbatasan lahan ini memiliki impIikasi penting bagi upaya peningkatan produksi CPO kedepan. Cara cara lama peningkatan produksi CPO melalui peluasan areal perkebunan Kelapa sawit seperti selama ini, harus beralih kepada cara cara baru yang makin berkualitas yakni melalui peningkatan produktivitas CPO dari lahan yang telah ada.

Kedua, Ketergantungan Indonesia pada pasar CPO global sangat tinggi dan berisiko tinggi. Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia sebagian besar (70 persen)CPO yang dihasilkan, dipasarkan ke pasar internasional dan hanya 30 persen diserap didalam negeri. Ketergantungan pada pasar CPO dunia yang demikian memiliki risiko tinggi dan tidak berkelanjutan, karena dengan mudah dipermainkan pasar internasional. Oleh karena itu pengembangan pasar CPO dalam negeri melalui hilirisasi perlu dipercepat agar sebagian besar produksi CPO diserap didalam negeri baik untuk kebutuhan domestik dan diekspor dalam bentuk olahan/produk jadi.

Kedua hal tersebut tersebut ditempatkan dalam konteks perubahan lingkungan global yang sedang berubah. Berbagai purubahan lingkungan global kedepan seperti pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi dan perubahan pusat-pusat perekonomian global, pergeseran selera dan persaingan antar minyak nabati global, perubahan iklim global,merupakan bagian dari tantangan masa depan yang perlu dipertimbangkan agar industri minyak sawit Indonesia dapat survive secara berkelanjutan serta memberi manfaat maksimal bagi Indonesia.

Tantangan masa depan yang demikian mengundang pertanyaan strategis berikut : Bagimana industri minyak sawit Indonesia kedepan misalnya menuju tahun 2050? Atau sebagai produsen CPO dan sekaligus produsen minyak nabati terbesar dunia, Indonesia ingin seperti apa dengan industri minyak sawitnya? jawaban tantangan

(21)

I. Pendahuluan 3 tersebut disajikan dalam cetak biru (blue print) dan Roadmap Industri minyak sawit menuju 2050.

Dalam penyusunan cetak biru dan roadmap industri minyak sawit Indonesia ini, selain mengakomodasikan berbagai perubahan yang mungkin terjadi dalam perekonomian Indonesia juga mengakomodir proyeksi-proyeksi yang dilakukan oleh badan-badan internasional diberbagai bidang seperti proyeksi ekonomi global, populasi penduduk, pangan dan energi menuju tahun 2050. Dengan demikian cetak biru dan roadmap industri minyak sawit Indonesia berada pada proyeksi global tersebut. Namun demikian beberapa penyesuaian dilakukan untuk mengakomodir target posisi Indonesia dalam pasar minyak nabati global.

Buku cetak biru dan roadmap industri minyak sawit Indonesia menuju 2050 berisikan: Pendahuluan, Evaluasi Perkembangan Mutakhir Pasar Minyak Nabati Dunia, Evaluasi Perkembangan Mutakhir Industri minyak sawit Indonesia, Analisis Perubahan dan Proyeksi Pasar Minyak Nabati Global Menuju 2050, Peranan Industri minyak sawit dalam Perekonomian Indonesia, Industri minyak sawit Indonesia 2050, Kebijakan Strategis Industri minyak sawit 2050 dan Penutup.

(22)
(23)

II. Evaluasi Perkembangan Mutakhir Minyak Sawit Indonesia 5

BAB II

EVALUASI PERKEMBANGAN MUTAKHIR PASAR

MINYAK NABATI DUNIA

2.1.

Populasi, Distribusi dan Pertumbuhan Penduduk Dunia

Jumlah penduduk dunia pada tahun 2014 ini menurut data Bank Dunia telah mencapai 7.084.547.400 jiwa. Penduduk Indonesia berjumlah 248,201.749 jiwa (3.5% dari total penduduk dunia) dan berada pada urutan keempat terbesar di dunia setelah China (1.358.013.327 jiwa), India (1.243.387.340 jiwa) dan Amerika Serikat (315.614.887). Perkembangan penduduk dunia dapat dilihat berdasarkan kelompok kawasan, sebagamana pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Penduduk Dunia Berdasarkan Kawasan (Juta jiwa)

Kawasan 1970 2000 2006 2015E 2030E 2050E

World 3 676 6 095 6 569 7 275 8 276 9 111

Developed countries 1 079 1 318 1 351 1 396 1 437 1 439

Developing countries 2 597 4 778 5 218 5 879 6 839 7 671

Sub-Sahara Afrika 270 625 730 912 1 245 1 686

Near East/Afrika Utara 181 387 432 504 615 726

Amerika Latin dan Caribia 282 515 556 611 682 721

Asia Selatan 708 1 375 1 520 1 729 2 016 2 242

Asia Timur 1 147 1 857 1 957 2 096 2 247 2 255

Sumber : World Population, UN, 2014

Penduduk dunia pada tahun 1970 mencapai 3.676 milyar jiwa, dan estimasi pada tahun 2015 meningkat hampir dua kali lipat menjadi 7,276 milyar jiwa. Dan diperkirakan pada tahun 2050 akan mencapai 9.11 milyar. Sebanyak 19.19 % penduduk dunia berada di negara maju (developed countries), dan selebihnya, 80,81 % adalah penduduk di negara sedang berkembang (developing countries), yang dapat dirinci berdasarkan kawasan, yakni Sub-Sahara Afrika sebanyak 12,54%, Near East/Afrika Utara 6.93%, Amerika Latin dan Caribia 8.40%, Asia Selatan 23,77% dan Asia Timur sebanyak 28.81%.

(24)

6 GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI

Gambar 2.1. Perkembangan Penduduk Dunia berdasarkan Kawasan Sumber: FAO (2012)

Pertumbuhan penduduk dunia pada kurun waktu 1970-2000 rata-rata bertambah 1.7 %/tahun, tahun 2000-2015 menurun menjadi 0.97 %/tahun, dan periode 2015-2030 menurun 0.48 %/tahun, sedangkan pada kurun waktu 2030-2050 meningkat menjadi rata-rata 0.75 %/tahun. Pertumbuhan penduduk di negara maju lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk di negara sedang berkembang. Pada kurun waktu 2000-2015, pertumbuhan penduduk negara maju adalah 0.01 %/tahun sedangkan negara berkembang seebesar 0.58 %/tahun. Rendahnya tingkat pertumbuhan di negara mau disebabkan oleh menurunnya tingkat fertilitas penduduk di negara-negara tersebut, dan cenderung semakin menurun dari tahun 2025 hingga tahun 2050. Sebaliknya, di negara-negara berkembang, kecuali China, penduduk di masing-masing kawasan cenderung meningkat. Pertumbuhan penduduk tertinggi terlihat pada negara Sub-Sahara Afrika, Near East dan Afrika Utara (Tabel 2.2.).

Tabel 2.2. Perkembangan Penduduk Dunia Berdasarkan Kawasan (Juta jiwa) Kawasan Pertumbuhan (% pertahun)

1970-2000 2000-2015 2015-2030 2030-2050

World (countries with FBS) 1.7 0.97 0.48 0.75

Developed countries 0.67 0.26 0.01 0.14

Developing countries 2.05 1.13 0.58 0.88

Sub-Sahara Afrika 2.84 2.25 1.53 1.92

Near East/Afrika Utara 2.57 1.48 0.83 1.19

Amerika Latin dan Caribia 2.03 0.85 0.28 0.59

Asia Selatan 2.24 1.18 0.53 0.89 Asia Timur 1.62 0.58 0.02 0.32 Sumber: FAO (2012) 0 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 1950 1970 1980 1990 2000 2010 2020 2030 2040 2050 Juta J iwa Oceania Amerika Utara

.New Independent States Eropa Timur

Eropa Barat

Amerika Latin dan Caribia Asia

Near East .North Africa .Sub-Saharan Africa

(25)

II. Evaluasi Perkembangan Mutakhir Minyak Sawit Indonesia 7

2.2. Perekonomian Kawasan/Global

Perkembangan ekonomi pada horizon waktu jangka panjang bertujuan untuk memberikan gambaran visual adanya perbedaan yang signifikan antara keadaan saat ini dengan proyeksi di masa mendatang. GDP per kapita dunia pada harga konstan tahun 2005-2007 adalah 7603 USD/kapita/tahun, diperkirakan akan mencapai 13758 USD/kapita/tahun. Pertumbuhan GDP dunia rata-rata bertumbuah 2.47 % per tahun pada kurun waktu 2005-2030, dan sedikit leih rendah jika diukur dalam jangka panjang, 2005-2050 yakni 2,11 % per tahun. Pertumbuhan GDP per kapita dalam kurun waktu 2005-2050 adalah 1,36 % per tahun.

Rata-rata GDP per kapita di negara maju pada tahun 2005/2007 adalah 27880 USD/kapita dan pada tahun 2050 diperkirakan akan mencapai 47121 USD/kapita. Rata-rata GDP per kapita di negara sedang berkembang akan meningkat dari 2350 tahun 2005/2007 menjadi 7499 USD/kapita pada tahun 2050. Rata-rata pertumbuhan GDP per kapita di negara maju adalah 1.2 % per tahun, sedangkan di negara berkembang sebesar 2,67% per tahun.

Jika dibandingkan dengan rata-rata GDP per kapita di negara sedang berkembang, rata-rata tertinggi adalah kawasan Asia Timur, yang meningkat dari 2738 USD/kapita menjadi 14428 USD/kapita pada tahun 2050, sebaliknya, terendah adalah di Asia Selatan dan Sub Sahara Afrika (Tabel 2.3.). Diantara negara sedang berkembang, terdapat 45 negara yang memiliki tingkat GDP per kapita dibawah 1000 USD/kapita/tahun.

Table 2.3 Asumsi GDP

Pertumbuhan (%/tahun) GDP per kapita

Total GDP GDP per capita at intern PPP$ exchange ratesat 2005/2007 2005- 2030 2005- 2050 2005- 2030 2005- 2050 2005/ 2007 2005/ 2007 2050 World 2.47 2.11 1.49 1.36 9 510 7 603 13 758 Developing countries 4.47 3.58 3.3 2.67 4 704 2 350 7 499 Sub-Sahara Afrika 4.64 4.17 2.34 2.2 1 363 666 1 736 Near East/Afrika Utara 3.54 2.92 2.03 1.72 7 696 3 858 8 160 Amerika Latin dan

Caribia 2.45 2.09 1.58 1.49 9 539 5 726 10 966 Asia Selatan 4.9 4.05 3.67 3.14 2 316 814 3 169 Asia Timur 5.51 4.18 4.9 3.85 5 406 2 738 14 428 Developed countries 1.56 1.34 1.3 1.2 28 056 27 880 47 121 Catatan 45 Developing with GDP/cap under $1000 in 2005/07 4.73 4.02 3.15 2.73 721 2 361 Other Developing 4.43 3.49 3.65 2.98 3 763 13 698 Sumber: FAO (2012)

(26)

8 GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI Perkembangan GDP pada masing-masing kawasan disajikan pada Tabel 2.4 dan Gambar 2.2.

Table 2.4 Perkembangan GDP berdasarkan Kawasan (Million USD, pada Harga Konstan 2005)

1980 1990 2000 2005 2010 2020 2030 2050 European Union 17,926 24,007 30,295 33,650 34,865 43,348 50,740 64,995 East Asia 674 1,409 2,898 4,086 5,824 11,692 21,073 45,043 South Asia 263 448 752 1,013 1,431 2,783 5,331 16,020 Near East/North Africa 804 974 1,369 1,728 2,043 3,109 4,556 8,013 Latin America and Caribbean 1,250 1,455 1,988 2,260 2,596 3,743 5,066 7,805 Sub-saharan Africa 96 126 167 208 264 501 1,027 4,630 Other WesternEurope 404 512 633 690 740 895 1,052 1,384 Other EasternEurope 147 173 89 128 143 182 214 260 Central Asia 16 16 7 11 14 18 24 41 World 21,580 29,121 38,199 43,773 47,920 66,272 89,084 148,191 Sumber: FAO (2012)

Gambar 2.2. Perkembangan Penduduk Dunia berdasarkan Kawasan

Dampak dari meningkatnya penduduk global, dan disertai peningkatan GDP maupun GDP per kapita adalah meningkatnya konsumsi pangan di masa mendatang. Kedua variabel tersebut (pertambahan penduduk dan pertumbuhan pendapatan per kapita) juga akan mendorong pertumbuhan konsumsi per kapita minyak nabati dunia, dan akan mempengaruhi total konsumsi minyak nabati dunia maupun tingkat produksi minyak nabati dunia di masa mendatang. 0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000 160000 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 1980 1990 2000 2005 2010 2020 2030 2050 World European Union East Asia South Asia

Near East/ North Africa Latin America and Caribbean

(27)

II. Evaluasi Perkembangan Mutakhir Minyak Sawit Indonesia 9

2.3. Perkembangan Konsumsi Minyak Nabati Dunia

Perkembangan konsumsi minyak nabati utama dunia pada tahun 1965 adalah 5228 juta ton. Hampir 60 % konsumsi minyak nabati dunia adalah minyak kedele, diikuti minyak rapeseed sebanyak 25%, dan minyak sawit (15%) dan minyak bunga matahari 0,67 %. Pada tahun 1980, konsumsi minyak nabati dunia meningkat 3,5 kali lipat menjadi 18000 juta ton. Hal ini menunjukkan perkembangan yang pesat, yakni sebesar 22.95% per tahun. Seiring dengan itu, pola konsumsi minyak nabati dunia berubah, dimana pangsa minyak sawit semakin besar dari 15% menjadi 21% dari total konsumsi minyak batai utama dunia, sedangkan pangsa konsumsi minyak kedele turun dari 60% menjadi 55%. Perkembangan pesat terlihat pada sunflower oil dari 0,67% menjadi 9.62%. Pangsa konsumsi rapeseed menurun menjadi 13.62%.

Pada tahun 2014, seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pendapatan per kapita, konsumsi minyak nabati dunia meningkat 8.4 kali lipat dibanding tahun 1980 menjadi 151.618 juta ton. Rata-rata konsumsi minyak nabati dunia meningkat lebih pesat, yakni 24.77 % per tahun. Hal ini juga berdampak pada perubahan pola konsumsi minyak nabati dunia, dimana pangsa minyak sawit kini menduduki pangsa terbesar yakni 41% dan mengungguli dominasi minyak kedele dengan share dunia sebesar 32%. Pangsa konsumsi sunflower oil cendeung sama, yakni 10% sedangkan pangsa konsumsi rapeseed meningkat menjadi 17%.

Sumber: Oil World

(28)

10 GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI Perkembangan konsumsi minyak nabati dunia cenderung meningkat setiap tahun. Konsumsi minyak kedele (soybean oil - SBO) pada tahun 2000 mencapai 27.814 juta ton dan pada tahun 2014 naik menjadi 48692 juta ton, dengan pertumbuhan rata-rata 5.36 % per tahun. Sementara itu konsumsi minyak sawit (palm oil - PO) pada tahun 2000 mencapai 23642 juta ton dan pada tahun 2014 naik menjadi 62267 juta ton, dengan laju pertumbuhan rata-rata 11.67 % per tahun. (Gambar 2.4). Keadaan ini tercermin dari perkembangan pangsa minyak nabati (Gambar 2.5), dimana terlihat pangsa minyak kedele cenderung menurun dari tahun ke tahun, sebaliknya minyak sawit cenderung meningkat setiap tahun.

Sumber: Oil World

Gambar 2.4. Perkembangan Konsumsi Minyak Nabati Dunia 1965 – 2014

Sumber: Oil World

Gambar 2.5. Perkembangan Pangsa Konsumsi Minyak Nabati Dunia 1965 1980 1990 2000 2010 2014 Total 5,228 18,000 36,377 72,986 126,44 151,61 SBO 3,120 9,935 13,667 27,814 43,690 48,692 PO 776 3,882 10,465 23,642 47,774 62,267 RSO 1,297 2,452 6,198 13,379 23,163 25,464 SFO 35 1,731 6,047 8,151 11,817 15,195 50 100 150 200 25 50 75 Ju ta T o n Ju ta T o n

(29)

II. Evaluasi Perkembangan Mutakhir Minyak Sawit Indonesia 11

2.4. Perkembangan Konsumsi Minyak Nabati per Kawasan

Minyak Kedele (Soybean Oil). Minyak kedele merupakan salah

satu sumber utama minyak nabati dunia. Hingga tahun 2008, minyak kedele memiliki pangsa terbesar dan mendominasi sumber minyak nabati utama lainnya. Pada tahun 2014, minyak kedele memiliki pangsa dunia sebesar 32.1%. Perkembangan konsumsi minyak kedele dunia berdasarkan kawasan pada kurun waktu 1965-2014 disajikan pada 2.6.

Sumber: Oil World

Gambar 2.6. Konsumsi Minyak Kedele berdasarkan Kawasan tahun 1965-2014

Dalam kurun waktu 1965-2014, rata-rata konsumsi minyak kedele dunia meningkat rata-rata 6,19 % per tahun. Bila dilihat berdasarkan kawasan, negara konsumen terbesar dunia adalah Amerika Serikat (AS). Rata-rata konsumsi minyak kedele AS mencapai 42% dari total minyak kedele dunia. Dari sisi volume konsumsi kedele Amerika Serikat cenderung meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 3.18 % per tahun. Namun dari sisi pangsa konsumsi terhadap total kedele dunia, dapat dilihat bahwa pangsa konsumsi AS cenderung menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 1965, pangsa konsumsi minyak kedele AS

0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 1965 1970 1975 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2010 2014 Central Asia

Other Eastern Europe Other Western Europe Developed Countries USA

European Union East Asia South Asia

Near East/ North Africa Sub- saharan Africa Latin American and Caribean

(30)

12 GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI adalah 76.19%, tahun 1980 menjadi 44.76%, tahun 2000 turun menjadi 27.30% dan pada tahun 2014 menurun menjadi 16.93%.

Disamping itu juga terdapat perubahan pola konsumsi minyak kedele antar kawasan. Pada tahun 1965, hampir 80% konsumsi minyak kedele dunia adalah Amerika Serikat. Tahun 1980 pangsa konsumsi minyak kedele menyebar di Amerika Serikat 44.76%, Latin Amerika dan Karibia sebesar 24.55% dan Asia Selatan 10.34%. Tahun 2000 pangsa konsumsi minyak kedele Amerika Serikat menurun menjadi 27.30%, Latin Amerika dan Karibia menurun menjadi 19.01%, Asia Selatan menurun menjadi 10.21%, namun Asia Timur meningkat dari 6.81% (1980) menjadi 18.64%. Tahun 2014 pangsa konsumsi minyak kedele Amerika Serikat menurun menjadi 16.93, Amerika Latin dan Karibia naik menjadi 23.91% dan Asia Timur meningkat menjadi 33.15%.

Perkembangan terakhir menunjukkan, dalam kurun waktu 2010-2014, negara konsumen terbesar minyak kedele di dunia adalah China 29.45%, USA 19.0%, Brazil 12.8%, India 7.0%, Argentina 6.2%, EU-27 4.6%, Meksiko 2.0%, Iran 1.5%, Mesir 1.3% dan Sisa Dunia 16.0% (gambar 2.7).

Sumber: Oil World

Gambar 2.7. Negara Konsumen Terbesar Minyak Kedele Dunia 1965-2014 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 50000 1965 1970 1975 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2010 2014 R ibu T o n Tahun

Konsumsi Soybean Oil

Sisa Dunia Mesir Iran Meksiko EU-27 Argentina India Brazil USA China

(31)

II. Evaluasi Perkembangan Mutakhir Minyak Sawit Indonesia 13

Minyak Sawit (Palm Oil). Sejak tahun 2008, minyak sawit

menggeser dominasi minyak kedele dunia dan sekalgus menempatkan minyak sawit sebagai sumber penting minyak nabati dunia. Pada tahun 2014, minyak sawit memiliki pangsa dunia sebesar 42.1%. Perkembangan konsumsi minyak sawit dunia berdasarkan kawasan pada kurun waktu 1965-2014 disajikan pada 2.8.

Sumber: Oil World

Gambar 2.8. Konsumsi Minyak Sawit berdasarkan Kawasan tahun 1965-2014

Dalam kurun waktu 1965-2014, rata-rata konsumsi minyak sawit dunia meningkat rata-rata 9.42 % per tahun. Bila dilihat berdasarkan kawasan, konsumen terbesar dunia adalah kawasan Asia Timur (15 negara). Konsumsi kawasan Asia Timur mencapai rata-rata 40.2% dari total minyak sawit dunia. Dari sisi volume konsumsi minyak sawit kawasan Asia Timur cenderung meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 15 % per tahun. Dari sisi pangsa, konsumsi minyak sawit Asia Timur juga meningkat pesat dan tertinggi dibandingkan kawasan lainnya. Pada tahun 1965, pangsa konsumsi minyak sawit Asia Timur adalah 11.28%, tahun 1980 menjadi 31.705%, tahun 2000 naik menjadi 37.88% dan pada tahun 2014 naik menjadi 42.82%.

0 10 20 30 40 50 60 70 1965 1970 1975 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2010 2014 Ju ta T o n Central Asia

Other Eastern Europe Other Western Europe Developed Countries USA

European Union East Asia South Asia

Near East/ North Africa Sub- saharan Africa Latin American and Caribean

(32)

14 GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI Disamping itu juga terdapat pergeseran pola konsumsi minyak sawit antar kawasan, yang awalnya (1965) didominasi oleh Sub Sahara Afrika (77.82%) menuju Asia, baik Asia Timur maupun Asia Selatan. Pada tahun 1965, sekitar 78% konsumsi terbesar minyak sawit dunia adalah Afrika Selatan. Tahun 1980 pangsa konsumsi minyak sawit menyebar di Sub Sahara Afrika 34.14%, Asia Timur 31.05% dan Asia Selatan 19.04%. Tahun 2000 pangsa konsumsi minyak sawit Sub Sahara Afrika menurun menjadi 12.76%, Asia Timur dan Asia Selatan naik masing-masing menjadi 37.88% dan 24.06%. Tahun 2014 pangsa konsumsi minyak sawit Sub Sahara Afrika menurun menjadi 10.42%, Asia Timur naik menjadi 42.82% dan Asia Selatan turun menjadi 20.73%.

Perkembangan terakhir menunjukkan, dalam kurun waktu 2010-2014, negara konsumen terbesar minyak sawit di dunia adalah Indonesia 15.8%, India 14.9%, China 11.5%, EU-27 10.9%, Malaysia 4.5%, Pakistan 4.2%, Thailand 3.0%, Nigeria 2.5% dan USA 2.2%. Selebihnya, sekitar 30% dikonsumsi oleh Sisa dunia (Gambar 2.9)

Sumber: Oil World

Gambar 2.9. Negara Konsumen Terbesar Minyak Sawit Dunia 1965-2014 0 10 20 30 40 50 60 70 1964 1967 1970 1973 1976 1979 1982 1985 1988 1991 1994 1997 2000 2003 2006 2009 2012 JJ u ta T o n Tahun

Konsumsi CPO

ROW

USA Nigeria Thailand Pakistan Malaysia EU-27 China India Indonesia

(33)

II. Evaluasi Perkembangan Mutakhir Minyak Sawit Indonesia 15

Rapeseed Oil . Rapeseed oil merupakan sumber minyak nabati

terbesar ketiga setelah minyak sawit dan minyak kedele. Pada tahun 2014, Rapeseed Oil memiliki pangsa dunia sebesar 16.8%. Perkembangan konsumsi Rapeseed Oil dunia berdasarkan kawasan pada kurun waktu 1965-2014 (gambar 2.10).

Sumber: Oil World

Gambar 2.10. Konsumsi Rapeseed Oil berdasarkan Kawasan tahun 1965-2014

Dalam kurun waktu 1965-2014, rata-rata konsumsi Rapeseed Oil dunia meningkat rata-rata 6,99 % per tahun. Bila dilihat berdasarkan kawasan, konsumen terbesar rapeseed dunia adalah Asia Timur (28.3%), Uni Eropa (23.8%) dan Negara-negara Maju (21.9%). Dari sisi pangsa konsumsi terhadap total rapeseed oil dunia, dapat perkembangan pangsa konsumsi rapeseed oil dunia. Pada tahun 1965, pangsa konsumsi Rapeseed Oil terbesar adalah Asia Selatan yakni 46.84%, namun hanya bertahan hingga tahun 1980 dengan penurunan pangsa menjadi 27.03%.

Konsumsi rapeseed menyebar ke kawasan lainnya. Tahun 1980, konsumsi rapeseed oil terbesar adalah Negara Maju, yakni 33.42%, dan Asia Timur 28.99%. Tahun 2000, konsumsi rapeseed oil Negara Maju menurun menjadi 23.30%, dan pangsa konsumsi rapeseed Asia Timur naik menjadi 29.21%, dan Negara Uni Eropa meningkat pesat menjadi

0 5 10 15 20 25 30 1965 1970 1975 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2010 2014 Ju ta T o n Central Asia

Other Eastern Europe Other Western Europe Developed Countries USA

European Union East Asia South Asia Near East/ North Africa

(34)

16 GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI 25.93% Tahun 2014, konsumsi rapeseed oil dodominasi oleh kawasan Uni Eropa dengan pangsa 33.79%, diikuti kawasan Asia Timur dengan pangsa 27.10% dan Negara Maju 16.27%.

Data di atas sekaligus menggambarkan perubahan pola konsumsi rapeseed oil dunia antar kawasan. Dalam kurun waktu 2010-2014, negara konsumen terbesar Rapeseed Oil di dunia adalah EU-27 41.7%, China 29.2%, United States 8.2%, Japan 4.5%, Mexico 2.9%, Canada 2.6%, India 2.5%, Pakistan 1.9%, Norway 1.4% dan sisanya 5.1% adalah konsumsi sisa dunia (rest of the world) (Gambar 2.11).

Sumber: Oil World

Gambar 2.11. Negara Konsumen Terbesar Rapeseed Oil Dunia 1965-2014

Minyak Bunga Matahari (Sunflower Oil). Sunflower oil

merupakan sumber minyak nabati terbesar keempat setelah minyak sawit, minyak kedele dan rapeseed oil . Pada tahun 2014, Sunflower Oil memiliki pangsa dunia sebesar 10.0%. Perkembangan konsumsi Sunflower Oil dunia berdasarkan kawasan pada kurun waktu 1965-2014 disajikan pada gambar 2.12.

0 5 10 15 20 25 30 1964 1967 1970 1973 1976 1979 1982 1985 1988 1991 1994 1997 2000 2003 2006 2009 2012 Ju ta T o n

Konsumsi Rapeseed Oil ROW Norway Pakistan India Canada Mexico Japan United States China EU-27

(35)

II. Evaluasi Perkembangan Mutakhir Minyak Sawit Indonesia 17

Sumber: Oil World

Gambar 2.12. Konsumsi Sunflower Oil berdasarkan Kawasan tahun 1965-2014

Meskipun pangsa sunflower oil hanya 10% dari total minyak nabati utama dunia, namun perkembangannya cukup pesat. Pada tahun 1965, konsumsi sunflower oil adalah 28.000 ton, dan pada tahun 2014 telah mencapai 15.195.000 ton. Hal tersebut menunjukkan dalam kurun waktu 1965-2014, rata-rata konsumsi sunflower oil dunia meningkat rata-rata 40.25 % per tahun.

Secara umum, konsumen terbesar sunflower oil dunia adalah kawasan Uni Eropa (23.74%), Negara-negara Maju (19.1%) dan kawasan near East/Afrika Utara (16.10%).

Dari sisi pangsa konsumsi dapat dilihat perkembangan konsumsi sunflower oil dunia. Pada tahun 1965, konsumsi sunflower oil terbesar adalah Near East/ Afrika Utara dan Eropa Barat, dengan pangsa masing-masing 57.14% dan 39.29%.

Perkembangan konsumsi sunflower oil antar kawasan dunia menunjukkan bahwa konsumsi sunflower oil cendrung berpusat di Benua Eropa. Tahun 1980, konsumsi sunflower oil terbesar adalah Amerika Latin dan Karibia (29.17%), Near East/ Afrika Utara (22.65%), Uni Eropa (21.37%) dan Negara Maju (13.46%). Tahun 2000, konsumsi sunflower oil di kawasan Amerika Latin dan Karibia menurun drastis

0 2 4 6 8 10 12 14 16 1964 1965 1970 1975 1980 1985 1990 1995 2000 2005 2010 2014 Ju ta T o n Central Asia

Other Eastern Europe Other Western Europe Developed Countries USA

European Union East Asia South Asia

Near East/ North Africa Sub- saharan Africa

(36)

18 GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI menjadi 8.44%, kawasan Near East/Afrika Utara juga menurun menjadi 11.77%, sedangkan pangsa konsumsi sunflower oil di kawasan Uni Eropa naik menjadi 31.35% dan Negara Maju naik menjadi 21.59%. Tahun 2014, konsumsi sunflower oil terbesar adalah Uni Eropa (24.17%), diikuti Near East/ Afrika Utara (20.68%), Negara Maju (18.76%). Sedangkan Amerika Latin dan Karibia menurun menjadi 6.30%, sebaliknya konsumsi kawasan Asia Selatan naik menjadi 12.70%).

Dalam kurun waktu 2010-2014, berdasarkan ranking tertinggi, negara konsumen terbesar sunflower oil di dunia adalah EU-27 sebesar 26.5%, Russian 15.9%, India 9.6%, Turkey 7.6%, China 5.2%, Egypt 5.2%, Argentina 4.7%, Ukraine 4.2%, South Africa 2.8% dan sisa dunia 18.2% (Gambar 2.13).

Sumber: Oil World

Gambar 2.13. Negara Konsumen Terbesar Sunflower Oil Dunia 1965-2014 2.5. Pola Konsumsi Minyak Nabati Berdasarkan Kawasan

Amerika Latin dan Karibia. Kawasan Amerika Latin dan

Karibia merupakan konsumen utama minyak kedele (soybean oil/SBO). Minyak kedele memiliki proporsi yang dominan sepanjang kurun waktu 1965-2014. Pada tahun 1965, hampir 60% konsumsi minyak

0 2 4 6 8 10 12 14 16 1964 1967 1970 1973 1976 1979 1982 1985 1988 1991 1994 1997 2000 2003 2006 2009 2012 Ju ta T o n

Konsumsi Sunflower Oil ROW

South Africa Ukraine Argentina Egypt China Turkey India Russian Federation EU-27

(37)

II. Evaluasi Perkembangan Mutakhir Minyak Sawit Indonesia 19 nabati di kawasan ini adalah minyak kedele, dan sisanya dipenuhi oleh rapeseed oil dan minyak sawit. Sejak tahun 1990 peran minyak sawit semakin besar, sedangkan proporsi minyak rapeseed dan minyak bunga matahari semakin menurun. (Gambar 2.14).

Sumber: Oil World

Gambar 2.14. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan Amerika Latin dan Karibia Tahun 1965-2014

Tahun 1965, total konsumsi minyak nabati kawasan Amerika Latin dan Karibia adalah 140.000 ton. Tahun 1980, konsumsi minyak nabati meningkat 20 kali lipat menjadi 1.991.000 ton, atau rata-rata meningkat 135.8% per tahun. Peningkatan ini berdampak pada pangsa konsumsi minyak kedele naik dari 56.4% tahun 1965 menjadi 75.8% pada tahun 1980. Sumber konsumsi kedua adalah sonflower oil dengan pangsa 16.9%. Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi nabati cenderung bergeser ke sunflower oil, dimana pangsa minyak sawit dan rapeseed oil keduanya hanya berkisar 7%.

Dalam satu dekade, dari tahun 1980 ke 1990, konsumsi minyak nabati naik dari sekitar 3 juta ton menjadi 5 juta ton lebih, dengan growth 7.1% per tahun. Sumber utama minyak nabati tetap didominasi oleh minyak kedele (61.1%), sedangkan peran minyak sawit semakin meningkat dari pangsa 6.7% pada tahun 1980 menjadi 16.5% pada tahun 1990, dan selebihnya adalah minyak bunga matahari (16.9%) dan rapeseed oil (5.5%). Tahun 2000 konsumsi nabati naik menjadi 7.5 juta

2 4 6 8 10 12 14 1965 1980 1990 2000 2010 2014 Ju ta T o n

(38)

20 GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI ton, dengan growth 4.7% per tahun. Dalam dekade 2000-2010, konsumsi minyak nabati di kawasan Amerika Latin dan Karibia bertumbuh pesat, yakni 8.8% per tahun, dan tahun 2010 konsumsi minyak nabati telah mencapai 14,2 juta ton, kemudian tahun 2014 naik rata-rata 3,7% per tahun menjadi 16.317 juta ton (Tabel 2.5)

Tabel 2.5. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan Amerika Latin dan Karibia Tahun 1965-2014

Nabati Pangsa Konsumsi (JutaTon)

1965 1980 1990 2000 2010 2014 SBO 79 2,267 3,129 5,154 10,344 11,593 % 56.4 75.8 61.1 68.4 72.9 71.0 PO 29 200 843 1,253 2,482 2,992 % 20.7 6.7 16.5 16.6 17.5 18.3 RSO 32 19 284 435 698 775 % 22.9 0.6 5.5 5.8 4.9 4.7 SFO - 505 863 688 668 957 % 0.0 16.9 16.9 9.1 4.7 5.9 Total 140.0 2,991.0 5,119.0 7,530.0 14,192.0 16,317.0 Growth %/thn 135.8 7.1 4.7 8.8 3.7

Sumber: Oil World

Tahun 2014, diperoleh gambaran umum bahwa konsumsi utama minyak nabati di kawasan Amerika Latin dan Karibia adalah minyak kedele (71%), dan minyak sawit berada pada urutan kedua dengan proporsi 18.3%), sedangkan proporsi sun flower oil dan rapeseed oil masing-masing adalah 4.7% dan 5.9%.

(39)

II. Evaluasi Perkembangan Mutakhir Minyak Sawit Indonesia 21

Sub Sahara Afrika. Minyak sawit merupakan sumber utama

konsumsi minyak nabati di kawasan Sub Sahara Afrika. Sumber minyak nabati lainnya juga diperoleh dari minyak kedele dan rapeseed oil yang juga cenderung meningkat setiap tahun. Pada tahun 1965, hampir 90% konsumsi minyak nabati di kawasan ini adalah minyak sawit, dan sisanya dipenuhi oleh rapeseed oil dan minyak kedele. Sejak tahun 2000 peran minyak kedele dan minyak rapeseed semakin besar (Gambar 2.15).

Sumber: Oil World

Gambar 2.15. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan Sub Sahara Afrika Tahun 1965-2014

Tahun 1965, total konsumsi minyak nabati kawasan Sub Sahara Afrika adalah 711.900 ton. Tahun 1980, konsumsi minyak nabati meningkat lebih dari 2 kali lipat menjadi 1.520.600 ton, atau rata-rata meningkat 7.6 % per tahun. Peningkatan ini berdampak pada pangsa konsumsi minyak kedele naik dari 1.5 % tahun 1965 menjadi 10.4% pada tahun 1980. Namun proporsi rapeseed oil menurun dari 12.5% menjadi 3.1%. Hal ini menunjukkan bahwa pola konsumsi nabati cenderung berkembang pada konsumsi minyak kedele.

Dalam satu dekade, dari tahun 1980 ke 1990, konsumsi minyak nabati naik dari sekitar 1.5 juta ton menjadi 2.8 juta ton lebih, dengan

1 2 3 4 5 6 7 1965 1980 1990 2000 2010 2014 Ju ta T o n

(40)

22 GAPKI -Industri Minyak Sawit Indonesia Menuju 2050 - PASPI growth 8.6% per tahun. Sumber utama minyak nabati tetap didominasi oleh minyak sawit (71.9%), sedangkan peran minyak sawit kedele menurun dari pangsa 10.4% pada tahun 1980 menjadi 6.0% pada tahun 1990, sementara minyak rapeseed meningkat dari pangsa 3.1% menjadi 22.2 %. Tahun 2000 konsumsi nabati naik menjadi 5.5 juta ton, dengan growth 9.3% per tahun. Dalam dekade 2000-2010, konsumsi minyak nabati di kawasan Sub Sahara Afrika bertumbuh pesat, yakni 9% per tahun, dan tahun 2010 konsumsi minyak nabati telah mencapai 10,4 juta ton, kemudian tahun 2014 naik rata-rata 2.3% per tahun menjadi 11.3 juta ton (Tabel 2.6).

Tabel 2.6. Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan Sub Sahara Afrika Tahun 1965-2014

Nabati Pangsa Konsumsi (Ribu Ton)

1965 1980 1990 2000 2010 2014 SBO 11 158 169 1,554 3,189 3,307 % 1.5 10.4 6.0 28.4 30.7 29.2 PO 612 1,316 2,034 3,008 5,796 6,476 % 86.0 86.5 71.9 55.1 55.8 57.1 RSO 89 47 628 901 1,407 1,561 % 12.5 3.1 22.2 16.5 13.5 13.8 SFO - - - - % 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 Total 711.9 1,520.6 2,830.5 5,462.8 10,391.9 11,343.7 Growth %/thn 7.6 8.6 9.3 9.0 2.3

Sumber: Oil World

Tahun 2014, diperoleh gambaran umum bahwa konsumsi utama minyak nabati di kawasan Sub Sahara Afrika adalah minyak sawit dengan pangsa (57.1%), dan minyak kedele berada pada urutan kedua dengan proporsi (29.2%), sedangkan rapeseed oil adalah 13.8%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan minyak kedele dalam pola konsumsi minyak nabati di kawasan Sub Sahara Afrika. Sementara rapeseed oil cenderung merata pada kisaran 13 %.

Near East dan Afrika Utara. Secara umum, kawasan Near East dan

Afrika Utara merupakan konsumen utama minyak kedele (soybean oil=SBO). Minyak kedele memiliki proporsi yang dominan sepanjang kurun waktu 1965-2014. Pada tahun 1965, sekitar 57 % konsumsi

Gambar

Gambar 2.13.  Negara Konsumen Terbesar Sunflower Oil Dunia 1965-2014 2.5.  Pola Konsumsi Minyak Nabati Berdasarkan Kawasan
Gambar 2.14.   Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan  Amerika Latin dan Karibia Tahun 1965-2014
Gambar 2.15.   Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan Sub  Sahara Afrika Tahun 1965-2014
Gambar 2.16.   Perkembangan Pola Konsumsi Minyak Nabati di Kawasan  Near East dan Afrika Utara  Tahun 1965-2014
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil perhitungan nilai a dan b di atas dapat ditentukan ramalan jumlah kunjungan wisatawan domestik di Kabupaten karo pada tahun 2012-2015, dengan menggunakan persamaan

Disiplin sangat berkaitan dengan wewenang, karena apabila kewenangan tidak dijalankan dengan semestinya maka disiplin itu akan hilang, dan tidak akan tercapai tujuan yang

[r]

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi yang berjudul "Upaya Meningkatkan Minat Baca Melalui

The Effect of Using Authentic Materials on the Tenth Grade Students’ Reading Comprehension Achievement at MA Islamiyah Syafi’iyah Sumberanyar-Paiton in the 2012-2013 Academic

Tujuan dari peneliti melakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar pada penerapan model kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI)

Minyak sawit adalah minyak nabati yang diperoleh dari buah (mesocarp) kelapa sawit.Minyak sawit banyak digunakan sebagai bahan baku industri makanan (edible oil) karena

Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, industri sawit Indonesia juga merupakan bagian penting dalam rantai pasok minyak nabati global yang turut berkontribusi

Meskipun perkebunan kelapa sawit secara tata ruang dan fungsi bukan untuk pelestarian biodiversity, perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga ikut

Bapak Sunarjo Poniah selaku General Manager dari PT Piranti Wahana Sentosa beserta staf pemasaran yang telah banyak membantu dalam memberikan dan mengumpulkan data yang sangat

Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh independensi, mekanisme corporate governance (kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial,

Nilai kapasitas lapang efektif mesin rice combine harvester B lebih rendah dengan susut produksi GKP yang tinggi dibandingkan mesin rice combine harvester A, namun hal

Pernyataan lain menyatakan bahwa penurunan nyeri oleh teknik relaksasi nafas dalam disebabkan ketika seseorang melakukan relaksasi nafas dalam untuk mengendalikan nyeri

Artinya, yang dimaksud dengan sinonim adalah kata yang memiliki bentuk berbeda tetapi mengandung pengertian atau makna yang hampir sama. Misalnya kata jikan, jikoku,

Pék cocogkeun hasil pagawéan Sadérék kana jawaban latihan anu geus disayagikeun di bagian tukang ieu modul. Itung jumlah jawaban anu benerna, tuluy gunakeun rumus

Analisis Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang Kedalaman 15 meter ..... Perhitungan Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang

Setelah amandemen, Kedudukan DPR diperkuat sebagai lembaga legislatif dan fungsi serta wewenangnya lebih diperjelas seperti adanya peran DPR dalam pemberhentian presiden,

Knowing the impact of Home Assignment for Students‟ Learning English. Achievement Administrasi Perkantoran students grade X in

5.1.4 Mengkombinasikan beragam pendekatan/ strategi/ metode/ teknik pembelajaran IPA untuk mencapai tujuan pembelajaran (produk, proses, dan sikap ilmiah). Pada kompetensi

Lebih lanjut kata Bernard, produksi minyak sawit Asian Agri telah mencapai 1,1 juta ton CPO per tahun, dan telah menjadi perusahaan perkebunan kelapa sawit yang

• Target SH adalah berdasarkan target RKA yang diturunkan • Target SH meliputi jumlah penjualan dan

Students’ ability in using correct pronunciation of recount text improved by presenting materials and modelling retelling stories by using picture series through

Membahas Pengelolaan PNS yang mengalami gangguan