• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2, 3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2, 3"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE SETS (SCIENCE ENVIRONMENT TECHNOLOGY

AND SOCIETY) BERBANTUAN MEDIA QUESTION

CARD TERHADAP HASIL BELAJAR IPS KELAS V

SD GUGUS VI MENGWI TAHUN

AJARAN 2013/2014

Nyoman Ayu Wirati

1

, I Wyn. Sujana

2

, I.G.A. Agung Sri Asri

3

1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail : [email protected]

1

, [email protected]

2

,

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe

SETS (science environment technology and society) berbantuan media question card

dengan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu menggunakan rancangan nonequivalent control

group design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas V SD gugus VI Mengwi.

Sampel ditentukan melalui teknik random sampling dan diperoleh siswa kelas V SDN 5 Kapal yang berjumlah 38 siswa sebagai kelompok eksperimen dan siswa kelas V SDN 1 Kapal yang berjumlah 41 siswa sebagai kelompok kontrol. Data hasil belajar IPS siswa kelas V dikumpulkan dengan instrumen tes dan non tes. Tes yang digunakan berbentuk pilihan ganda biasa dengan jumlah soal 30 dan non tes yang digunakan adalah lembar observasi untuk mendapatkan nilai afektif. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif kuantitatif (uji-t). Hasil menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe SETS (science environment

technology and society) berbantuan media question card dengan kelompok siswa yang

dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data yakni thitung sebesar 4,138 dan ttabel pada taraf signifikansi 5 % dan db = 77 sebesar

2,00 karena thitung > ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Dapat disimpulkan bahwa

penerapan model pembelajaran kooperatif tipe SETS (science environment technology

and society) berbantuan media question card berpengaruh terhadap hasil belajar IPS

siswa kelas V SD gugus VI Kapal tahun ajaran 2013/2014.

Kata-kata kunci : model cooperative SETS, question card, hasil belajar IPS. Abstrack

The purpose of this research is to know the significant differences of the result of learning IPS between the students group which is learned through cooperative model type SETS (science environment technology and society) with question cards than the students which is learned through conventional learning model. This research is an apparent experiment using nonequivalent control group design. The research population

(2)

is all the students at the fifth grade SD gugus VI Mengwi. The sample was determined by random sampling technique, the fifth grade students of SDN 5 Kapal for about 38 students is chosen as experiment group and the fifth grade students of SDN 1 Kapal for about 41 students is chosen as control group. The data of the results of learning IPS at the fifth grade students are submitted by test and non-test instruments. The test is used multiple choices for about 30 number for each test and for non-test is used observation sheet in order to get affective score. The collected data analyzed by using statistical analysis quantitative descriptive (t-test). Result shows that there are the significant differences of the result of learning IPS between the students group which is learned through cooperative model type SETS (science environment technology and society) with question cards than the students group which is learned through conventional learning model. These can be seen from the data analysis thitung 4.138 and significance

percentage of 5% and db=77 numbered 2.00 due to thitung > ttabel accordingly H0 ejected

and Ha accepted. So, it can be conclude that the implementation of cooperative learning

model type SETS (science environment technology and society) with question cards is influence the result of learning IPS at the fifth grade students of SD gugus VI Mengwi academic year 2013/2014

Keywords : Cooperative Learning Model SETS, Question Cards, The

Result of Learning IPS

PENDAHULUAN

Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas di masyarakat, perlu disiapkan untuk menghadapi gejala sosial yang ada. Salah satu pelajaran di sekolah dasar yang menjadi dasar bagi pemahaman tentang kehidupan sosial adalah IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Terkait hal tersebut dalam BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) tahun (2006:575),”Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/Mts/SMPLB”. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS membuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi dan Ekonomi. Hal ini didukung oleh pendapat Lasmawan (2010:119) menyatakan bahwa, “IPS adalah suatu bahan kajian terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi, dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sejarah, geografi, sosiologi, antropologi, dan ekonomi”. Tujuan mata pelajaran IPS di sekolah dasar yaitu untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dasar siswa tentang kehidupan sosial di masyarakat serta membelajarkan siswa tentang perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini, sehingga siswa

memilki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dan cinta kepada tanah air.

Proses dan hasil pembelajaran IPS di sekolah dasar ditentukan oleh kecermatan guru dalam menyusun kegiatan pembelajaran. Guru dituntut memiliki kemampuan dan kreativitas tinggi dalam merancang kegiatan pembelajaran. Selain itu, guru juga dituntut untuk mampu menggunakan media atau alat peraga yang mendukung proses pembelajaran.

Berdasarkan wawancara dan observasi pada hari selasa 18 Desember 2012 di beberapa sekolah, diperoleh hasil bahwa pembelajaran IPS dilakukan menggunakan beberapa metode seperti metode ceramah, tanya-jawab, dan penugasan. Media pembelajaran yang digunakan untuk mendukung pembelajaran menggunakan media seadanya yang disimpan di perpustakaan sekolah. Untuk mengukur hasil belajar IPS siswa guru biasanya mengadakan ulangan harian IPS untuk mengukur hasil belajar IPS siswa.

Untuk mewujudkan tujuan serta visi dari pendidikan nasional tersebut pemerintah telah melakukan beberapa langkah nyata, diantaranya menetapkan PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang di dalamnya mencantumkan kriteria minimal sistem pendidikan yang diharapkan seperti (1) Standar isi, (2) Standar proses, (3) Standar

(3)

Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

kompetensi lulusan, (4) Standar pendidik dan tenaga kependidikaan, (5) Standar sarana dan prasarana, (6) Standar pengelolaan, (7) Standar Pembiayaan, dan (8) Standar penilaian pendidikan, serta melakukan penyempurnaan kurikulum yaitu kurikulum 1994 menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau kurikulum 2004 dan sekarang menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ).

Selain upaya yang bersifat kebijakan seperti yang dipaparkan di atas, untuk meningkatkan kualitas pendidikan khususnya di sekolah juga dapat ditempuh melalui berbagai cara, antaran lain “peningkatan kemampuan awal peserta didik baru, peningkatan kompetensi guru, peningkatan isi kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran dan penilaian hasil belajar peserta didik, penyediaan bahan ajar yang memadai,dan penyediaan sarana belajar” (Taniredja, 2012:1). Dari semua cara tersebut peningkatan kompetensi guru menduduki posisi yang paling strategis. Hal itu disebabkan pendidik dalam hal ini adalah guru merupakan praktisi terdepan dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan pemerintah dan satu-satunya pihak yang dapat memanipulasi unsur-unsur pembelajaran seperti strategi, metode, model pembelajaran, media pembelajaran, sarana pembelajaran sampai pada penyediaan bahan ajar sehingga semua hal itu sesuai dengan kebutuhan peserta didik di tempat mengajar. Jadi, untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan nasional dibutuhkan tenaga-tenaga pendidik atau guru yang profesional dengan tanpa mengenyampingkan peran praktisi-praktisi pendidikan lainnya.

Hasil belajar IPS siswa seharusnya diukur melalui tes dan non tes, tetapi pembelajaran IPS di kelas V SD gugus VI Mengwi Badung hanya dilakukan menggunakan tes pada aspek kognitif saja. Sedangkan, pembelajaran yang sesungguhnya sesuai dengan yang dinyatakan oleh Sanjaya (2008: 256),”Hasil belajar IPS adalah sesuatu yang diperoleh siswa sebagai konsekuensi dari upaya yang telah dilakukan sehingga terjadi perubahan perilaku pada yang bersangkutan baik prilaku dalam bidang kognitif, afektif, maupun psikomotorik”

Pada pembelajaran di kelas, perlu diberikan inovasi baru dalam pembelajaran yang diduga mampu menciptakan suasana belajar kondusif, aktif dan menyenangkan. Menurut Trianto (2010: 17), “pembelajaran adalah usaha sadar dari seorang guru dalam membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka pencapaian tujuan yang diharapkan”. Usaha sadar dari seorang guru ini dapat diimplementasikan dengan menggunakan salah satu model pembelajaran kooperatif tipe SETS (Science Environment Technology and Society) untuk mencapai

tujuan pembelajaran yang diharapkan. Model ini menarik untuk digunakan karena kegiatan pendahuluan di pembelajaran dikembangkan dengan memberikan siswa permasalahan-permasalahan sosial di masyarakat baik yang bersumber dari siswa maupun guru (Hutomo, 2010:12). Model pembelajaran kooperatif tipe SETS

(Science Environment Technology and

Society) ini sangat tepat digunakan

terutama pada mata pelajaran IPS. Wena (2012: 190) menyatakan, “pembelajaran kooperatif adalah sistem pembelajaran yang berusaha memanfaatkan teman sejawat (siswa lain) sebagai sumber belajar, disamping guru dan sumber belajar lain”. Sedangkan SETS menurut Suyatno (2009 : 80) di Indonesia istilah SETS berasal dari kata STS yang artinya Science, Technology, and Society atau STS. SETS merupakan sebuah istilah yang artinya Science, Environment, Teknologi, dan Masyarakat.

Model pembelajaran kooperatif tipe

SETS memiliki beberapa kelebihan

daripada model pembelajaran lainnya. Salah satu keunggulannya adalah memiliki kegiatan pendahuluan pembelajaran dengan menggali pengetahuan siswa tentang isu-isu masalah yang ada di masyarakat. Hal ini dilakukan agar perhatian siswa terpusat pada tujuan pembelajaran.

Isu-isu global yang dipelajari oleh siswa biasanya hanya disajikan guru dengan cara menghafal, ceramah atau membaca. Hal ini menyebabkan siswa menjadi bosan dan kurang tertarik terhadap pembelajaran IPS. Maka diperlukan media

(4)

inovasi yang bisa menumbuhkan minat siswa untuk belajar, sehingga siswa senang untuk belajar IPS. Salah satu media yag bisa dikembangkan adalah media question

card. Media question card dalam

pembelajaran, yaitu memberikan siswa pertanyaan-pertanyaan melalui kartu yang diberikan oleh guru pada saat pelajaran berlangsung. Kartu pembelajaran yang digunakan untuk pembelajaran berupa pesan tertulis atau gambar. Jadi kartu merupakan media berbasis visual (Arsyad 1996: 106).

Kartu-kartu yang digunakan oleh siswa diberikan warna-warna yang menarik menggunakan tulisan-tulisan yang menarik pula. Siswa yang memperoleh kartu pertanyaan tersebut akan mempunyai ketertarikan dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang terdapat di media question

card tersebut. Model pembelajaran

kooperatif tipe SETS berbantuan media

question card akan membuat suasana

belajar IPS menjadi menarik dan menyenangkan.

Pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SETS

berbantuan media question card ini bisa memberikan dampak positif dalam pembelajaran seperti, siswa lebih aktif, perhatian siswa lebih terpusat, belajar lebih menyenangkan sehingga pemahaman siswa lebih baik. Pembelajaran yang menyenangkan seperti itu tentu kurang bisa diperoleh pada pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang seluruh kegiatan pembelajaran didominasi oleh guru, guru membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok (Trianto 2010:58).

Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Triyanti (2012) yang menyatakan bahwa, “terjadi peningkatan motivasi dan hasil belajar IPA siswa kelas V dengan menerapkan Model Pembelajaran

Quantum Teaching berbasis Science

Environment Technology and Society

(SETS)”. Hal senada juga dinyatakan oleh Khariroh (2008) yaitu dengan menerapkan pendekatan science, environment, technology, society (SETS) di luar kelas

dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa kelas V SDN 1 Lowokwaru Malang.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe

SETS berbantuan media question card

dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional siswa kelas V SD Gugus VI Mengwi Tahun Ajaran 2013/2014.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan rancangan penelitian nonequivalent control group

design. Metode pengumpulan data yang

digunakan adalah metode tes untuk mengukur hasil belajar kognitif dan metode non tes untuk mengukur hasil belajar afektif. Tes yang digunakan dalam bentuk pilihan ganda biasa. Tes yang digunakan telah diuji validitas, daya beda, tingkat kesukaran dan reliabilitas perangkat tesnya. Berdasarkan uji validitas dari 55 soal yang diuji diperoleh 33 soal yang valid dan 22 soal yang tidak valid. Soal yang lolos uji validitas adalah 33 soal yang setelah diuji daya bedanya diperoleh 2 soal mempunyai kreteria sangat baik sehingga tidak dipakai. Soal yang dipakai dalam penelitian ini ditentukan adalah 30 soal, soal-soal ini memenuhi kriteria soal mudah 10 soal, sukar 4 soal dan sedang 16 soal. Uji reliabilitas perangkat tes yang dilakukan menunjukkan perangkat tes adalah reliabel. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V di gugus VI Mengwi Tahun Ajaran 2013/2014 yang berjumlah 6 kelas. Berdasarkan hasil random sampling

diperoleh 2 kelas sebagai sampel penelitian yaitu kelas SD No. 5 Kapal dan kelas V SD No. 1 Kapal tahun ajaran 2013/2014. Kedua kelas ini dirandomisasi untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, berdasarkan randomisasi yang dilakukan tersebut diperoleh kelas SD No. 5 Kapal sebagai kelompok eksperimen dan kelas V SD No. 1 Kapal sebagai kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan 2 variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas pada penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe

(5)

Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

sedangkan variabel terikat pada penelitian ini adalah hasil belajar IPS. Hasil belajar IPS pada penelitian ini diukur pada ranah kognitif dan afektif. Pada penelitian ini menggunakan teknik statistik parametrik yaitu analisis data uji-t (t-test) dengan menggunakan rumus polled varians

berbantuan Microsoft Office Excel.

Sugiyono (2009: 210) yang menyatakan bahwa, “Statistik parametris memerlukan terpenuhinya banyak asumsi. Asusmsi yang utama adalah data yang akan dianalis harus berdistribusi normal. Selanjutnya dalam penggunaan salah satu test mengharuskan data dua kelompok atau lebih yang diuji harus homogen”. Sehubungan dengan persyaratan tersebut, sebelum melakukan uji-t dilakukan uji normalitas sebaran data menggunakan rumus Chi-Square dan uji homogenitas varian antar kelompok menggunakan rumus Uji-F.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi umum hasil penelitian ini memaparkan tentang rata-rata skor (M) hasil belajar IPS siswa kelas V SD No. 5 Kapal dan SD No. 1 Kapal yang diperoleh dari tes pilihan ganda dengan 4 pilihan jawaban. Tes hasil belajar IPS menggunakan 30 butir soal yang dilakukan setelah 6 kali perlakuan, tes yang diberikan tanggal 13 September 2013. Banyak siswa pada kelompok eksperimen 38 siswa dan kelompok kontrol 41 siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil belajar IPS yang dicapai siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SETS berbeda dengan siswa yang belajar dengan pembelajaran konvensional. Secara deskriptif, kelompok belajar yang menggunakan model pembelaran kooperatif tipe SETS yaitu SD No. 5 Kapal memiliki skor rerata hasil belajar IPS sebesar 67,76 sedangkan kelompok yang belajar dengan pembelajaran konvensional yaitu SD No. 1 Kapal memiliki skor rerata hasil belajar IPA sebesar 58,46. Secara umum kelompok belajar yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe SETS

mempunyai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan kelompok siswa yang

dibelajarkan menggunakan pembelajaran konvensional.

Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini dilakukan analisis data berupa uji t (t-test) menggunakan rumus polled

varians. Tetapi sebelum melakukan uji-t

diperlukan 2 syarat yang harus dipenuhi yaitu data berdistribusi normal dan homogenitas varian.

Analisis normalitas data dilakukan pada dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji normalitas dilakukan untuk menyelidiki bahwa fo (frekuensi observasi) dari gejala

yang diselidiki tidak menyimpang secara signifikan dari fe (frekuensi empirik) dalam

distribusi normal teoretik dengan ketentuan H0 : fo = fe dan H1 : fo ≠ fe. Uji normalitas data

terhadap hasil belajar IPS siswa dilakukan dengan rumus Chi-Square.

Berdasarkan analisis yang dilakukan hasil uji normalitas sebaran data menggunakan rumus Chi-Square

menunjukkan hasil belajar IPS siswa kelompok eksperimen pada taraf signifikan 5% dan dk= 5 memiliki X2 tabel =11,07 dan

X2hitung=3,442 ini berarti bahwa X2hitung < X2 tabel maka hasil belajar IPS pada kelompok

eksperimen berdistribusi normal. Sedangkan, pada hasil belajar IPS siswa dikelompok kontrol pada taraf signifikan 5% dan dk = 5 memiliki X2 tabel = 11,07 dan

X2hitung = 5,536, ini berarti bahwa X2hitung < X2 tabel maka data hasil belajar IPS kelompok

kontrol juga berdistribusi normal. Berdasarkan uji normalitas sebaran data terbukti bahwa hasil belajar IPS siswa kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol berdistribusi normal.

Setelah hasil belajar IPS kedua kelompok dinyatakan berdistribusi normal dilakukan uji homogenitas varian antar kelompok. Uji homogenitas varian antar kelompok menggunakan Uji-F pada derajat kebebasan 5% dan db=77 kriteria homogen jika Fhitung < Ftabel, sebaliknya jika Fhitung

Ftabel maka sampel tidak homogen. Hasil

uji homogenitas varian antar kelompok menunjukkan dengan taraf signifikasn 5% dan db=77 diketahui Ftabel =1,72 dan Fhitung

hasil belajar IPS kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah 1,02. Ini berarti, Fhitung < Ftabel, sehingga hasil belajar IPS

(6)

Berdasarkan hasil uji prasyarat yang telah dilakukan diperoleh bahwa data hasil belajar IPS kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal dan homogen. Sehingga, pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t dapat dilakukan. Pengujian hipotesis menggunakan uji-t pada taraf signifikan ( ) 5% dengan derajat kebebasan dk = (n1 + n2 – 2) akan

mengikuti kriteria H0 ditolak jika

tabel

hitung

t

t

, sebaliknya Ha ditolak jika

.

Hipotesis nol berbunyi tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe

SETS berbantuan media question card

dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V gugus VI Mengwi tahun ajaran 2013/2014. Sedangkan hipotesis alternatif berbunyi terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe SETS

berbantuan media question card dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V gugus VI Mengwi tahun ajaran 2013/2014. Dari hasil perhitungan uji-t menggunakan rumus polled varians

diperoleh disajikan hasil pada tabel 1.

Berdasarkan tabel 1 di atas, pada taraf signifikan 5% dan db=77, diperoleh nilai ttabel =2,000 sedangkan diperoleh nilai

thitung sebesar 4,138 Karena nilai thitung lebih

dari nilai ttabel (4,138 >2,000), maka

hipotesis nol (H0) ditolak. Ini berarti,

terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe SETS berbantuan media

question card dengan kelompok siswa yang

dibelajarkan melalui konvensional pada siswa kelas V gugus VI Mengwi tahun ajaran 2013/2014.

Pelaksanaan penelitian ini diawali dengan menganalisis hasil ulangan semester genap kelas IV dari kedua kelas

sampel untuk mengetahui kesetaraannya. Analisis yang digunakan untuk mengetahui kesetaraan tersebut adalah statistik parametrik yaitu uji-t. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa antara siswa kelas V SD No 5 Kapal dengan siswa kelas V SD No 1 Kapal memiliki distribusi data yang normal dan homogen serta hasil uji-t menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS siswa atau dengan kata lain kedua kelas tesebut memiliki kemampuan yang setara. Karena kedua kelompok setara, maka selanjutnya dilakukan randomisasi untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Berdasarkan hasil randomisasi diperoleh kelas V SD No 5 Kapal sebagai kelompok eksperimen dan kelas V SD No 1 Kapal sebagai kelompok kontrol.

Langkah selanjutnya adalah pemberian treatmen yaitu berupa pengaruh model kooperatif tipe SETS berbantuan media question card untuk kelompok eksperimen dan pembelajaran konvensional untuk kelompok kontrol. Masing-masing kelompok akan diberikan 6 kali treatmen dan dilakukan post-test pada pertemuan ke-7. Selama pelaksanaan atau pemberian treatmen juga dilakukan observasi untuk mendapatkan nilai afektif

dari kedua kelompok baik eksperimen maupun kontrol. Setelah hasil post-test dan hasil observasi dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol didapatkan maka dilanjutkan dengan menggabungkan kedua nilai tersebut sehingga didapat hasil belajar yang utuh. Hasil belajar IPS ini selanjutnya dianalisis menggunakan uji-t.

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji-t pada taraf signifikansi 5% dan db = 77 didapat thitung

sebesar 4,138 dan ttabel adalah 2,00. Ini

berarti thitung > ttabel, sehingga H0 ditolak dan

Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa

terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara siswa yang dibelajarkan melalui model kooperatif tipe SETS

berbantuan media question card dengan

Kelas Dk thit ttab Simpulan

Eksperimen 77 4,138 2,000 H0 ditolak

(7)

Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD gugus VI Mengwi tahun ajaran 2013/2014.

Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Triyanti (2012) yang menyatakan bahwa, “terjadi peningkatan motivasi dan hasil belajar IPA siswa kelas V dengan menerapkan Model Pembelajaran

Quantum Teaching berbasis Science

Environment Technology and Society

(SETS)”. Hal senada juga dinyatakan oleh Khariroh (2008) yaitu dengan menerapkan pendekatan science, environment, technology, society (SETS) di luar kelas

dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa kelas V SDN 1 Lowokwaru Malang.

Secara teoritik pembelajaran menggunakan model pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe SETS

berbantuan media question card memiliki pembelajaran yang lebih membuat siswa aktif dalam pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif tipe SETS menurut Suyatno (2009:80) memiliki sintaks, (a)pendahuluan: inisiasi/invatasi/apersepsi, (b) pembentukan konsep, (c) aplikasi konsep dalam kehidupan (d) pemantapan konsep, dan (e) penilaian.

Lima sintak pada pembelajaran ini akan membangun pengetahuan siswa secara bermakna karena melalui apersepsi siswa bisa menghubungkan pengetahuan yang telah diketahui sebelumnya dengan pengetahuan baru yang akan diterimanya di sekolah. Pada langkah kedua yaitu pembentukan konsep, siswa diberikan konsep-konsep baru tentang IPS terkait isu global di masyarakat yang berfungsi bagi siswa untuk kehidupannya selanjutnya. Konsep-konsep ini diberikan kepada siswa melalui cara-cara yang menarik sehingga siswa berpikir konsep tersebut penting diketahui oleh siswa. Konsep yang telah dimiliki oleh siswa ini diaplikasikan pada bentuk kehidupan nyata sehingga konsep yang telah dimiliki siswa bermakna bagi kehidupan sehari-hari siswa. Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah pemantapan konsep yang biasanya dilakukan melalui kegiatan presentasi, hal ini akan menambah keinginan siswa untuk mengetahui konsep yang diajarkan, karena siswa pada saat presentasi berlomba untuk

memberikan presentasi yang terbaik atas konsep yang telah dimilikinya. Langkah terakhir yang dilakukan berupa evaluasi, hal ini juga akan membuat siswa menjadi termotivasi dalam pembelajaran, karena mereka bisa merasakan bahwa hal yang mereka pelajari ternyata memiliki banyak manfaat, selain untuk kehidupannya sehari-hari, hal yang dipelajari juga bermanfaat untuk memberikan mereka nilai yang besar saat evaluasi sehingga mereka akan bangga terhadap nilai tersebut.

Sintak pada pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SETS akan lebih menarik secara teoritis jika diimbangi dengan media yang menarik pula yaitu media question

card. Menurut Arsyad (1996: 120) media

pembelajaran question card adalah media visual yang menggunakan kartu-kartu yang biasanya berukuran 8 cm x12 cm, berisi gambar, konsep, soal, atau tanda simbol yang berhubungan dengan materi IPS yang dipelajari siswa terkait kehidupan sosial siswa di masyarakat.

Secara empiris, perbedaan hasil belajar tersebut disebabkan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model kooperatif tipe SETS dapat lebih mudah memahami atau memaknai setiap materi yang dibelajarkan. Hal itu dikarenakan model pembelajaran ini memiliki kesesuaian dengan karakteristik mata pelajaran IPS. Jadi dalam pelaksanaannya tentunya materi-materi pembelajaran dikaitkan dengan konteks nyata yaitu lingkungan atau pengalaman peserta didik sehingga pemahamannya terhadap materi jadi lebih optimal. Selain itu, peranan bantuan question card yang telah disiapkan juga sangat membantu. Question card ini juga memberikan pengaruh terhadap perbedaan hasil belajar IPS yang diperoleh dari kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Karena dengan question

card yang disiapkan dengan isi yang sudah

disesuaikan dengan tuntutan kurikulum, lingkungan siswa dan tampilannya dapat memunculkan minat dari peserta didik untuk mempelajarinya dan pada akhirnya akan memberikan dampak terhadap hasil belajar yang diperoleh peserta didik.

Model pembelajaran kooperatif tipe

(8)

yang menggunakan kartu berwarna-warni dengan tulisan-tulisan yang menarik akan menarik perhatian siswa dan meningkatkan minat siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dalam kegiatan inti pembelajaran siswa diberikan kartu-kartu pertanyaan sehingga pembelajaran IPS menjadi menyenangkan.

Pembelajaran yang menarik dan menyenangkan akan membuat siswa menjadi aktif untuk belajar. Berbeda dengan yang diterapkan pada kelompok kontrol, pembelajaran konvensional yang diterapkan sering kali menimbulkan kebosanan karena selalu disajikan dengan ceramah dan tanya jawab. Pembelajaran konvensional tidak memberikan kesempatan pada peserta didik belajar sesuai dengan gaya belajarnya. Siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, gaya belajar yang dimiliki oleh siswa misalnya gaya belajar secara visual (melihat), gaya belajar secara audio (mendengarkan), serta gaya belajar audio-visual (mendengar dan melihat). Selain itu, pembelajaran konvensional cenderung menunggu informasi-informasi yang disampaikan oleh guru. Pembelajaran IPS menggunakan pembelajaran konvensional membuat siswa cenderung pasif yang berpengaruh pada perolehan hasil belajar IPS siswa yang kurang optimal.

Beberapa kendala yang ditemui selama pembelajaran dalam penelitian ini untuk menguji pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe SETS

berbantuan media question card terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD Gugus VI Mengwi tahun ajaran 2013/2014 sebagai berikut.

Pertama, daya dukung sekolah berupa penyedian fasilitas dan media pembelajaran kurang memadai, sehingga peneliti berupaya menciptakan media-media pembelajaran sesuai materi yang akan disajikan.

Kedua, penyiapan media question

card yang yang menyangkut isu-isu global

yang terbaru memerlukan berbagai pertimbangan, oleh karena itu peneliti melakukan diskusi bersama guru-guru di tempat penelitian berlangsung.

Ketiga, pelaksanaan diskusi dan pengerjaan tugas kelompok yang diberikan

pada masing-masing kelompok terkadang masih didominasi oleh beberapa orang siswa saja, sedangkan siswa lainnya hanya memperhatikan temannya bekerja saja. Untuk menanggulangi masalah ini, peneliti melakukan penilaian secara otentik selama pembelajaran yang telah diinformasikan kepada siswa sebelumnya. Dengan demikian, siswa diharapkan dapat memotivasi diri untuk melaksanakan kegiatan diskusi dengan baik.

Keempat, siswa belum terbiasa dalam melaksanakan kegiatan presentasi di depan kelas. Mereka terlihat masih saling tunjuk dengan siswa lain untuk menjadi penyaji yang memaparkan hasil diskusi kelompok. Untuk mengatasi permasalahan ini, peneliti memberikan tindakan tegas kepada siswa yang tidak mau mempresentasikan hasil kerjanya dengan meminta salah satu anggota kelompok bersangkutan untuk maju ke depan dan memaparkan hasil diskusi kelompoknya.

Berbagai temuan dan kendala dalam penelitian ini memiliki implikasi sebagai berikut. Pertama, mengelompokkan siswa dalam pembelajaran perlu dilakukan karena dapat melatih siswa berpartisifasi aktif untuk memecahkan suatu permasalahan. Kedua, pemberian tugas sebelum pembelajaran terkait materi yang dibahas di kelas perlu dilakukan untuk melatih siswa agar terbiasa dalam mempersiapkan diri sebelum pembelajaran di kelas. Ketiga, penggunaan media pembelajaran sangat baik digunakan oleh guru dalam pembelajaran karena dapat membuat siswa menjadi senang pada pembelajaran yang diberikan, media pembelajaran juga dapat membuat siswa tertarik pada pembelajaran yang diberikan guru di kelas. Keempat, model pembelajaran kooperatif tipe SETS berbantuan media question card dapat digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran untuk mengoptimalkan hasil belajar IPS siswa. Kelima, guru harus terus melakukan inovasi dalam pembelajaran karena setiap siswa memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga guru harus membelajarkan siswa dengan selalu memperhatikan karakteristik siswa yang beranekaragam.

(9)

Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan PGSD (Vol: 2 No: 1 Tahun 2014)

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat dikemukakan hasil analisis uji-t diperoleh thitung sebesar 4,138

dan ttab sebesar 2,00, sehingga thitung > ttabel.

Berarti dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara siswa yang dibelajarkan melalui model kooperatif tipe

SETS berbantuan media question card

dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD gugus VI Mengwi tahun ajaran 2013/2014. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe SETS berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD gugus VI Mengwi tahun ajaran 2013/2014.

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat dikemukakan beberapa saran kepada sekolah, guru, siswa, dan peneliti lain. Sekolah hendaknya selalu mendukung pembelajaran dari fasilitas yang lengkap dan memadai. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan karena model pembelajaran kooperatif tipe SETS berpengaruh terhadap hasil belajar IPS siswa kelas V SD gugus VI Mengwi tahun ajaran 2013/2014 maka, hendaknya para guru menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SETS

berbantuan media question card sebagai alternatif untuk menciptakan hasil belajar IPS yang optimal. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama penelitian di kelompok kontrol yang memperlihatkan suasana belajar siswa yang kurang optimal maka hendaknya siswa lebih aktif selama pembelajaran dengan cara selalu bertanya bila ada hal yang kurang dimengerti dan menjawab pertanyaan guru jika siswa mengetahui jawaban dari pertanyaan yang dikemukakan oleh guru serta siswa hendaknya mengeluarkan gagasan maupun pendapat untuk menyelesaikan masalah terkait isu-isu global di masyarakat. Selain itu, karena penelitian ini hanya dilakukan selama 6 kali pertemuan untuk menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe SETS berbantuan media

question card, dan materi yang hanya pada

materi kenampakan alam saja disarankan kepada peneliti lain untuk melakukan penelitian yang sejenis pada pokok bahasan yang beragam dan komprehensip

serta jangka waktu yang lebih lama tentang model pembelajaran kooperatif tipe SETS berbantuan media pembelajaran question

card.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 1996. Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Badan Standar Nasional Pendidikan.2006.

Standar Isi dan Kompetensi Dasar SD/MI.Jakarta: MENDIKNAS.

Hutomo, Pristiadi. 2010. “Pembelajaran

Fisika dengan Pendekatan SETS”.

Tersedia pada:

http://ilmuwanmuda.wordpress.com (Diakses tanggal 19 September 2011)

Khariroh, 2008, Penerapan pendekatan

science, environment, technology, society (SETS) di luar kelas untuk meningkatkan hasil belajar kognitif siswa kelas SDN 1 Lowokwaru Malang, diakses 21 februari 2013

http://library.um.ac.id/ptk/index.php? mod=detail&id=36634

Lasmawan, Wayan. 2010. Menelisik Pendidikan IPS Dalam Perspektif

Kontekstual – Empiris. Singaraja :

Mediakom Indonesia Press Bali. Sanjaya,Wina. 2008. Kurikulum dan

Pembelajarn .Jakarta: Prenada

Media Group.

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran

Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana

Pustaka.

Taniredja, Tukiran. 2012. Model-Model

Pembelajaran Inovatif. Bandung:

Alfabeta

Triyanti,Wiwik. 2012. Penerapan Model

Pembelajaran Quantum Teaching

Berbasis Science Environment

Technology and Society (SETS) untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA siswa kelas V semester 2 SD Negeri Rangdu Kecamatan Seririt Tahun Pelajaram

(10)

2011/2012 . Skripsi (Tidak diterbitkan). Singaraja: UNDIKSHA. Trianto. 2010b.Mendesain Model

Pembelajaran Inovatif-Progresif

.Jakarta: Kencana Prenada Media

Group.

Wena, Made. 2012. Strategi Pembelajaran

Referensi

Dokumen terkait

didukung oleh perbedaan skor rata-rata hasil belajar yang diperoleh antara siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Team-Assisted

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan terdapat perbedaan hasil belajar matematika yang signifikan antara kelas yang dibelajarkan dengan metode

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe Inside Outside

Hipotesis penelitian yang diuji adalah H0 yang berbunyi Tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan

Hal ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar pengetahuan PKn antara kelompok siswa yang dibelajarkan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan hasil belajar IPS antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Terbalik

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan kompetensi pengetahuan IPA kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe

signifikan kompetensi pengetahuan IPS antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray berbantuan media audio visual dan