Deflasi Kota Kendari bulan Oktober tahun 2015, tercatat sebesar -0,36 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 117,58. Secara nasional dari 82 kota yang menghitung inflasi, 44 kota tercatat deflasi dan 38 kota tercatat inflasi, deflasi tertinggi tercatat di Tanjung Pandan (Provinsi Bangka Belitung) 1,95 persen dan deflasi terendah tercatat di Kota Padangsidimpuan (Povinsi Sumatera Barat) 0,01. Sementara itu inflasi tertinggi tercatat di Kota Manado (Provinsi Sulawesi Utara) 1,49 persen.
Deflasi yang terjadi di Kota Kendari tercatat disebabkan oleh turunnya indeks harga pada kelompok makanan 1,40 persen; sandang 0,28 persen; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,11 persen; kesehatan 0,03 persen serta pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,01 persen. Sementara kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau serta transportasi, komunikasi dan jasa keuangan tercata inflasi masing-masing sebesar 0,28 persen dan 0,01 persen.
Komoditas yang memberikan sumbangan deflasi terbesar adalah cakalang; minyak goreng; teri; bayam; cumi-cumi; bahan bakar rumah tangga; ayam hidup; ekor kuning; bawal serta layang.
Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi terbesar adalah cabai rawit; rokok kretek filter; labu parang/manis/merah; baju muslim; baju kaos berkerah; daun singkong; udang basah; daging sapi; tomat buah serta telepon seluler.
Dari sebelas kota di Pulau Sulawesi, 7 kota tercatat deflasi dan 4 kota tercatat inflasi. deflasi tertinggi tercatat di Kota Bulukumba 1,03 persen (Provinsi Sulawesi Selatan) dan Kota Baubau 1,02 persen (Provinsi Sulawesi Tenggara). Sedangkan Inflasi tertinggi di Kota Manado (Provinsi Sulawesi Utara) 1,49 persen.
Tingkat Inflasi Kota Kendari tahun kalender (Januari-Oktober 2015 tercatat 1,22 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Oktober 2015 terhadap Oktober 2014) tercatat 6,28 persen.
Laju inflasi Kota Kendari tahun kalender (Januari-Oktober 2014 tercatat 2,28 persen dan laju inflasi year on year (Oktober 2014 terhadap Oktober 2013) tercatat sebesar 2,41 persen.
Inflasi Nasional Oktober 2015 tercatat -0,08 persen dan laju Inflasi (Januari-Oktober 2015) 2,16 persen serta laju inflasi year on year (Oktober 2015 terhadap Oktober 2014) sebesar 6,24 persen.
No. 01/11/Th. XVIII, 2 November 2015
P
ERKEMBANGAN
I
NDEKS
H
ARGA
K
ONSUMEN
/I
NFLASI KOTA
K
ENDARI
Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen, khususnya di daerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Di Indonesia, tingkat inflasi diukur dari persentase perubahan IHK dan diumumkan ke publik setiap awal bulan (hari kerja pertama) oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Mulai Januari 2014, pengukuran inflasi di Indonesia menggunakan IHK tahun dasar 2012=100. Ada beberapa perubahan yang mendasar dalam penghitungan IHK baru (2012=100) dibandingkan IHK lama (2007=100), khususnya mengenai cakupan kota, paket komoditas, dan diagram timbang. Perubahan tersebut didasarkan pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilaksanakan oleh BPS, yang merupakan salah satu bahan dasar utama dalam penghitungan IHK. Hasil SBH 2012 sekaligus mencerminkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya.
SBH 2012 dilaksanakan di 82 kota, yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 49 kota besar lainnya. Dari 82 kota tersebut, 66 kota merupakan cakupan kota SBH lama dan 16 merupakan kota baru. Survei ini hanya dilakukan di daerah perkotaan (urban area) dengan total sampel sebanyak 13.608 Blok Sensus dan total sampel rumahtangga sebanyak 136.080. SBH 2012 dilaksanakan secara triwulanan selama tahun 2012 sehingga setiap triwulan terdapat 34.020 sampel rumahtangga.
Paket komoditas nasional hasil SBH 2012 terdiri dari 862 komoditas. Paket komoditas terbanyak ada di Jakarta yaitu 462 komoditas, dan yang palling sedikit di Singaraja sebanyak 225 komoditas.
Berdasarkan hasil pemantauan BPS di Kota Kendari pada Oktober 2015 tercatat deflasi 0,36 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 118,00 pada September 2015 menjadi 117,58 pada Oktober 2015. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Oktober) 2015 tercatat 1,22 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Oktober 2015 terhadap Oktober 2014) sebesar 6,28 persen.
Deflasi yang terjadi di Kota Kendari tercatat disebabkan oleh turunnya indeks harga pada kelompok makanan 1,40 persen; sandang 0,28 persen; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,11 persen; kesehatan 0,03 persen serta pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,01 persen. Sementara kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau serta transportasi, komunikasi dan jasa keuangan tercata inflasi masing-masing sebesar 0,28 persen dan 0,01 persen.
Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada Oktober 2015 antara lain: kemeja pendek; teri; ketimun; ayam hidup; cumi-cumi; bawal; nangka muda; gaun/terusan; jantung pisang serta bayam.
Sedangkan komoditas yang mengalami kenaikan harga adalah: labu parang/manis/merah; wortel; baju kaos berkerah; cabai rawit; jeruk nipis/limau; blus; celana panjang jeans; daun singkong; kentang serta tomat buah.
Pada Oktober 2015, kelompok yang memberikan andil/sumbangan negatif, yaitu: kelompok bahan makanan 0,34 persen; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar rumah tangga 0,03 persen; sandang 0,02 persen; kesehatan 0,001 persen serta pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,0004 persen. Sedangkan kelompok yang memberikan sumbangan positif, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,03 persen serta transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,002 persen.
Tabel 1
IHK dan Tingkat Inflasi/Deflasi Kota Kendari Oktober 2015, Tahun Kalender 2015, dan Tahun ke Tahun 2015, Menurut Kelompok Pengeluaran (2012=100)
Kelompok Pengeluaran IHK Inflasi/ Deflasi Bulan Oktober 2015 1) Laju Inflasi/ Deflasi Tahun Kalender 2014 2) Inflasi/ Deflasi Tahun Ke Tahun 3) Oktober 2014 Desember 2014 Oktober 2015 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) U m u m 110,63 116,16 117,58 -0,36 1,22 6,28 1 Bahan Makanan 109,58 114,30 120,39 -1,40 5,33 9,86
2 Makanan Jadi, minuman, Rokok & Tembakau 109,98 111,00 118,93 0,28 7,14 8,14 3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan bakar 114,74 119,80 122,01 -0,11 1,84 6,34
4 Sandang 98,70 99,22 98,62 -0,28 -0,60 -0,08
5 Kesehatan 107,50 109,30 113,36 -0,03 3,71 5,45
6 Pendidikan, Rekreasi dan Olah raga 102,85 104,14 105,97 -0,01 1,76 3,03 7 Transpor & Komunikasi dan Jasa Keuangan 115,42 128,87 121,26 0,01 -5,91 5,06
0,64
0,97
6,08
1) Persentase perubahan IHK bulan Oktober 2015 terhadap IHK bulan sebelumnya
2) Persentase perubahan IHK bulan Oktober 2015 terhadap IHK bulan Desember 2014
3) Persentase perubahan IHK bulan Oktober 2015 terhadap IHK bulan Oktober 2014
Gambar 1
Perkembangan Inflasi/Deflasi Kota Kendari (2012=100), Januari 2014 – Oktober 2015
Tabel 2
Perkembangan Inflasi/Deflasi dan Laju Inflasi/Deflasi Kota Kendari dan Nasional Bulan Januari 2014–Oktober 2015 (2012 = 100,00)
B u l a n Inflasi (%) Laju Inflasi (%)
Kota Kendari Nasional Kota Kendari Nasional
(1) (2) (3) (4) (5) Januari 0,31 1,07 0,31 1,07 Februari -0,97 0,26 -0,66 1,33 Maret -0,10 0,08 -0,76 1,41 April 0,08 -0,02 -0,67 1,39 Mei 0,25 0,16 -0,43 1,56 Juni 0,94 0,43 0,51 1,99 Juli 1,82 0,93 2,34 2,94 September -0,11 0,47 2,23 3,42 Oktober -0,13 0,27 2,10 3,71 Oktober 0,18 0,47 2,28 4,19 November 1,67 1,50 3,99 5,75 Desember 3,27 2,46 7,40 8,38 Januari -0,96 -0,24 -0,96 -0,25 Februari -0,91 -0,36 -1,86 -0,61 Maret 0,57 -0,17 -1,30 -0,43 April -0,03 0,36 -1,33 -0,08 Mei 0,64 0,50 -0,70 0,42 Juni 0,28 0,54 -0,42 0,96 Juli 0,75 0,93 0,33 1,90 September 0,64 0,39 0,97 2,29 Oktober 0,61 -0,05 1,58 2,24 Oktober -0,36 -0,08 1,22 2,16 Tabel 3
Sumbangan Kelompok Pengeluaran terhadap Deflasi di Kota Kendari September dan Oktober 2015 (2012=100)
No, Kelompok Pengeluaran
Andil Inflasi/Deflasi (%) September Oktober (1) (2) (3) U M U M 0,61 -0,36 1, Bahan Makanan 0,35 -0,34
2, Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,09 0,03 3, Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan Bakar 0,03 -0,03
4, Sandang 0,13 -0,02
5, Kesehatan 0,01 -0,001
6, Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0,12 -0,0004
Gambar 2
Sumbangan Kelompok Pengeluaran Terhadap Deflasi Kota Kendari (2012=100) Oktober 2015 (Persen)
URAIAN MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN
1. Bahan Makanan
Kelompok bahan makanan pada Oktober 2015 tercatat denflasi 1,40 persen atau terjadi penuruan indeks dari 122,10 pada September 2015 menjadi 120,39 pada Oktober 2015.
Dari sebelas subkelompok bahan makanan, tercatat 7 subkelompok diantaranya deflasi dan 4 subkelompok tercatat inflasi. Subkelompok yang tercatat deflasi adalah subkelompok lemak dan minyak 4,28 persen; ikan segar 3,33 persen; daging dan hasil-hasilnya 3,16 persen; sayur-sayuran 1,67 persen; ikan diawetkan 1,61 persen; bahan makanan lainnya 0,36 persen serta telur dan hasil-hasilnya 0,13 persen. Sedangkan subkelompok yang tercatat inflasi adalah subkelompok bumbu-bumbuan 1,70 persen; buah-buahan 1,54 persen; kacang-kacangan 0,75 persen serta padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya 0,12 persen.
Kelompok ini pada Oktober 2015 memberikan sumbangan deflasi 0,34 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan deflasi adalah cakalang 0,06 persen; minyak goreng 0,05 persen; teri; bayam; cumi-cumi serta ayam hidup masing-masing 0,03 persen; ekor kuning; bawal; layang; kangkung; bandeng/bolu; jantung pisang; daging ayam ras serta kembung/gembung masing-masing 0,02 persen.
2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
Kelompok ini pada Oktober 2015 tercatat inflasi 0,28 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 118,60 pada September 2015 menjadi 118,93 pada Oktober 2015. Dua kelompok tercatat inflasi yaitu subkelompok tembakau dan minuman beralkohol 1,08 persen serta; makanan jadi 0,17 persen. Sedangkan subkelompok minuman yang tidak beralkohol tercatat deflasi 0,41 persen.
Kelompok ini pada Oktober 2015 secara keseluruhan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,03 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi yaitu, rokok kretek filter 0,02 persen; nasi dengan lauk 0,004 persen; rokok putih 0,002 persen; ayam goreng, kembang gulan dan soto masing-masing 0,01 persen.
3. Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar
Kelompok ini pada Oktober 2015 mencatat Inflasi negatif sebesar 0,11 persen atau terjadi penurunan indeks dari 122,15 pada September 2015 menjadi 122,01 pada Oktober 2015.
Subkelompok yang tercatat deflasi yaitu, subkelompok bahan bakar, penerangan dan air 0,48 persen serta penyelenggaraan rumahtangga 0,03 persen. Sementara subkelompok biaya tempat tinggal tercatat inflasi 0,04 persen serta perlengkapan rumahtangga 0,03 persen.
Pada Oktober 2015 kelompok ini secara umum memberikan sumbangan deflasi sebesar 0,03 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan negatif yaiu: bahan bakar rumah tangga 0,03 persen; tarip listrik 0,006 persen; seng 0,004 serta pengharum/pelembut cucian 0,003 persen.
4. S a n d a n g
Kelompok sandang pada Oktober 2015 masih mencatat inflasi negatif sebesar 0,28 persen, atau terjadi penurunan indeks dari 98,90 pada September 2015 menjadi 98,62 pada Oktober 2015.
Subkelompok yang tercatat inflasi negatif pada Oktober 2015, yaitu subkelompok sandang wanita 1,37 persen dan sandang laki-laki 0,79 persen. Sedangkan subkelompok yang tercatat inflasi yaitu, sandang anak-anak 1,05 persen serta barang pribadi dan sandang lain 0,07 persen.
Kelompok ini pada Oktober 2015 secara keseluruhan memberikan sumbangan/andil inflasi negatif sebesar 0,02 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi negatif yaitu, gaun terusan, blus, celana panjang jeans wanita, kemeja pendek serta celana panjang jeans pria masing-masing 0,01 persen.
5. K e s e h a t a n
Kelompok kesehatan pada Oktober 2015 tercatat inflasi negatif 0,03 persen, atau terjadi penurunan indeks dari 113,39 pada September 2015 menjadi 113,36 pada Oktober 2015.
Subkelompok yang tercatat inflasi negatif pada Oktober 2015 yaitu, subkelompok perawatan jasmani dan kosmetika 0,05 persen. Sedangkan subkelompok jasa kesehatan; obat-obatan serta jasa perawatan jasmani tidak terjadi perubahan indeks (stabil).
Kelompok ini pada Oktober 2015 secara keseluruhan memberikan sumbangan/andil inflasi negatif sebesar 0,001 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan negatif yaitu: sabun mandi 0,005 persen serta sabun wajah 0,001 persen.
6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada Oktober 2015 tercatat inflasi negatif 0,01 persen atau terjadi penurunan indeks dari 105,98 persen pada September 2015 menjadi 105,97 pada Oktober 2015.
Subkelompok yang tercatat deflasi pada Oktober 2015, yaitu subkelompok perlengkapan/peralatan pendidikan -0,03 persen. Sementara subkelompok pendidikan; kursus-kursus/pelatihan; rekreasi serta olahraga tidak terjadi perubahan indeks (stabil).
Kelompok ini pada Oktober 2015 memberikan sumbangan inflasi negatif sebesar 0,0004 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi negatif adalah: printer 0,0004 persen dan flash disk 0,0002 persen.
7. Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan
Kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan pada Oktober 2015 tercatat inflasi 0,01 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 121,25 pada September 2015 menjadi 121,26 pada Oktober 2015.
Subkelompok yang tercatat inflasi, adalah subkelompok komunikasi dan pengiriman 0,21 persen. Sedangkan sukkelompok transpor tercatat negatif 0,05 persen. Sementara subkelompok sarana dan penunjang transpor serta jasa keuangan tidak mengalami perubahan atau relatif stabil.
Secara keseluruhan kelompok ini pada Oktober 2015 memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,002 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi adalah telepon seluler dan angkutan udara masing-masing 0,01 persen.
Tabel 3
IHK dan Inflasi/Deflasi Kota Kendari Menurut Kelompok dan Sub Kelompok Bulan Oktober 2015 (2012 = 100,00)
No, Kelompok/Sub kelompok IHK Inflasi/Deflasi
%
(1) (2) (3)
A U M U M 117,58 -0,36
I BAHAN MAKANAN 120,39 -1,40
Padi-padian Umbi-umbian dan Hasilnya 120,81 0,12
Daging dan Hasil-hasilnya 111,72 -3,16
Ikan Segar 119,87 -3,33
Ikan Diawetkan 138,48 -1,61
Telur Susu dan Hasil-hasilnya 125,00 -0,13
Sayur-sayuran 130,16 -1,67
Kacang – kacangan 117,39 0,75
Buah – buahan 99,57 1,54
Bumbu – bumbuan 116,79 1,70
Lemak dan Minyak 121,16 -4,28
Bahan Makanan Lainnya 116,37 -0,36
II MAKANAN JADI MINUMAN ROKOK DAN TEMBAKAU 118,93 0,28
Makanan Jadi 120,10 0,17
Minuman yang Tidak Beralkohol 111,89 -0,41
Tembakau dan Minuman Beralkohol 123,04 1,08
III PERUMAHAN AIR LISTRIK GAS DAN BAHAN BAKAR 122,01 -0,11
Biaya Tempat Tinggal 111,69 0,04
Bahan Bakar Penerangan dan Air 160,06 -0,48
Perlengkapan Rumahtangga 108,07 0,03 Penyelenggaraan Rumahtangga 116,59 -0,03 IV SANDANG 98,62 -0,28 Sandang Laki-laki 91,39 -0,79 Sandang Wanita 104,06 -1,37 Sandang Anak-anak 109,77 1,05
Barang Pribadi dan Sandang Lain 91,49 0,07
V KESEHATAN 113,36 -0,03
Jasa Kesehatan 104,66 0,00
Obat-obatan 106,68 0,00
Jasa Perawatan Jasmani 118,06 0,00
Perawatan Jasmani dan Kosmetika 121,19 -0,05
VI PENDIDIKAN REKREASI DAN OLAH RAGA 105,97 -0,01
Pendidikan 99,40 0,00
Kursus-kursus / Pelatihan 128,45 0,00
Perlengkapan / Peralatan Pendidikan 103,63 -0,03
Rekreasi 110,33 0,00
Olahraga 103,61 0,00
VII TRANSPOR KOMUNIKASI DAN JASA KEUANGAN 121,26 0,01
Transpor 132,60 -0,05
Komunikasi Dan Pengiriman 96,09 0,21
Sarana dan Penunjang Transpor 116,44 0,00
PERBANDINGAN INFLASI TAHUNAN
Tingkat Inflasi tahun kalender (Januari-Oktober) 2015 tercatat 1,22 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Oktober 2015 terhadap Oktober 2014) tercatat 6,28 persen. Sedangkan tingkat inflasi pada periode yang sama tahun kalender (Januari-Oktober) 2014 tercatat 2,28 dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Oktober 2014 terhadap Oktober 2013) tercatat 2,41 persen.
Tabel 4
Inflasi/Deflasi Bulanan Tahun kalender Tahun ke Tahun 2013- 2015
Inflasi 2013 2014 2015
(1) (2) (3)
1 Oktober 0,11 0,18 -0,36
2 Tahun kalender (Januari-Oktober) 6,76 2,28 1,22
3 Oktober terhadap Oktober (year on year)
(tahun n) (tahun n-1) 6,88 2,41 6,28
PERBANDINGAN ANTARKOTA
Pada Oktober 2015 di Kota Kendari tercatat deflasi sebesar 0,36 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 117,58. Dari 82 kota IHK tercatat 44 kota deflasi dan 38 kota tercatat inflasi. Deflasi tertinggi tercatat di Kota Tanjung Pandan 1,95 persen dengan IHK 127,18 dan deflasi terendah tercatat di Kota Padangsidimpuan 0,01 persen dengan IHK 118,04. Sementara inflasi tertinggi tercatat di Kota Manado 1,49 persen dengan IHK 123,07 dan inflasi terendah tercatat di Kota Yogyakarta 0,01 persen dengan IHK 119,15.
Perandingan Antarkota di Pulau Sumatera
Kota-kota IHK diwilayah Pulau Sumatera yang berjumlah 23 kota pada Oktober 2015, tercatat 14 kota deflasi dan 9 kota inflasi. Deflasi tertinggi tercatat di Kota Tanjung Pandan 1,95 persen dengan IHK 127,18. Sedangkan defflasi terendah tercatat di Kota Padangsidimpuan 0,01 persen dengan IHK 118,04. Sementara inflasi tertinggi tercatat di Kota Pematang Siantar 0,43 persen dengan IHK 123,53 dan inflasi terendah tercatat di Kota Metro 0,03 persen dengan IHK 129,49 (lihat Tabel 5).
Tabel 5
Perbandingan Indeks dan Inflasi/Deflasi Oktober 2015 Kota-Kota di Pulau Sumatera dengan Nasional
(2012=100) K O T A Oktober IHK Inflasi/Deflasi (%) (1) (2) (3) 1. Tanjung Pandan 123,53 0,43 2. Pangkal Pinang 116,38 0,36 3. Tanjung Pinang 118,38 0,19 4. Lhokseumae 122,30 0,11 5. Metro 115,41 0,10 6. Bandar Lampung 122,33 0,09 7. Meulaboh 120,02 0,07 8. Batam 120,33 0,05 9. Lubuklinggau 129,49 0,03 10. Bungo 118,04 -0,01 11. Bengkulu 120,81 -0,19 12. Dumai 119,90 -0,21 13. Pematang Siantar 123,12 -0,21 14. Banda Aceh 125,46 -0,25 15. Tembilahan 118,82 -0,32 16. Palembang 122,37 -0,33 17. Pekanbaru 118,39 -0,40 18. Padang 124,28 -0,44 19. Medan 127,47 -0,52 20. Bukittinggi 118,57 -0,55 21. Padangsidempuan 120,71 -0,67 22. Jambi 121,01 -1,01 23, Sibolga 127,18 -1,95 NASIONAL 121,57 -0,08
Perbandingan Antarkota di Pulau Jawa
Pada Oktober 2015 dari 26 kota IHK di wilayah Pulau Jawa tercatat 14 kota deflasi dan 12 kota inflasi. Deflasi tertinggi tercatat di Kota Bogor 0,70 persen dengan IHK 120,45 dan deflasi terendah di Kota Kediri
tercatat 0,04 persen dengan IHK 119,91. Sementara inflasi tercatat Kota Tasikmalaya 0,59 persen dengan IHK 119,83 dan inflasi terendah tercatat di Kota Yogyakarta 0,01 persen dengan IHK 119,15 (lihat Tabel 6).
Tabel 6
Perbandingan Indeks dan Inflasi Oktober 2015 Kota-Kota di Pulau Jawa dengan Nasional
(2012=100) K O T A Oktober IHK Inflasi (%) (1) (2) (3) 1. Tasikmalaya 119,83 0,59 2. Tegal 117,87 0,29 3. Surakarta 118,28 0,26 4. Sumenep 119,09 0,15 5. Cirebon 118,42 0,10 6. Madiun 119,09 0,10 7. Sukabumi 121,00 0,05 8. Malang 121,83 0,03 9. Purwokerto 119,02 0,02 10. Probolinggo 120,67 0,02 11. Tangerang 128,52 0,02 12. Yogyakarta 119,15 0,01 13. Kediri 119,91 -0,04 14. Cilegon 124,55 -0,04 15. DKI Jakarta 122,32 -0,05 16. Jember 119,46 -0,05 17. Bandung 120,54 -0,06 18. Kudus 126,79 -0,11 19. Semarang 120,27 -0,16 20. Depok 119,91 -0,20 21. Cilacap 123,13 -0,23 22. Banyuwangi 119,15 -0,25 23. Serang 126,38 -0,30 24. Bekasi 118,99 -0,32 25. Surabaya 120,73 -0,34 26. Bogor 120,45 -0,70 NASIONAL 121,57 -0,08
Perbandingan Antarkota Wilayah Luar Pulau Jawa Sumatera dan Sulawesi
Pada Oktober 2015 dari kota-kota IHK di wilayah luar Pulau Jawa Sumatera dan Sulawesi yang berjumlah 22. 13 kota tercatat Inflasi dan 9 kota tercatat deflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Ambon 1,02 persen dengan IHK 121,64 dan inflasi terendah tercatat di Kota Mataram 0,13 persen dengan 120,10.
Tabel 7
Perbandingan Indeks dan Inflasi Oktober 2015
Kota-Kota di Luar Pulau Sumatera Jawa dan Sulawesi dengan Nasional (2012=100) K O T A Oktober IHK Inflasi (%) (1) (2) (3) 1. Ambon 121,64 1,02 2. Merauke 124,45 1,01 3. Bima 123,33 0,92 4. Ternate 125,87 0,91 5. Balikpapan 126,09 0,87 6. Tanjung 122,78 0,70 7. Palangkaraya 118,97 0,55 8. Kupang 121,99 0,37 9. Sampit 121,68 0,34 10. Tarakan 129,64 0,33 11. Samarinda 123,36 0,18 12. Banjarmasin 119,78 0,16 13. Mataram 120,10 0,13 14. Maumere 115,72 -0,04 15. Jayapura 121,65 -0,05 16. Pontianak 128,70 -0,07 17. Sorong 123,04 -0,21 18. Manokwari 113,16 -0,43 19. Singkawang 120,83 -0,44 20. Denpasar 117,99 -0,56 21. Singaraja 126,84 -1,05 22. Tual 131,59 -1,53 NASIONAL 121,57 -0,08
Perbandingan Antarkota di Pulau Sulawesi
Pada Oktober 2015 kota-kota IHK di wilayah Pulau Sulawesi 7 kota tercatat deflasi dan 4 kota tercatat Inflasi. deflasi tertinggi tercatat di Kota Bulukumba 1,03 persen dengan IHK 126,63 dan Kota Baubau 1,02 persen dengan IHK 123,60. Sedangkan Inflasi tertinggi tercatat di Kota Manado 1,49 persen dengan IHK 123,07. (lihat Tabel 8)
Tabel 8
Perbandingan Indeks dan Inflasi Oktober 2015 Kota-Kota di Pulau Sulawesi dengan Nasional
(2012=100) Oktober IHK Inflasi (%) (1) (2) (3) 1. Manado 123,07 1,49 2. Palu 122,24 0,78 3. Mamuju 119,99 0,13 4. Gorontalo 117,78 0,05 5. Watampone 117,68 -0,02 6. Makassar 121,38 -0,03 7. Palopo 119,29 -0,05 8. Pare-Pare 118,34 -0,28 9. Kendari 117,58 -0,36 10. Baubau 123,60 -1,02 11. Bulukumba 126,63 -1,03 NASIONAL 121,57 -0,08
Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara
Email: Zalima@bpsgoid Informasi lebih lanjut hubungi:
Wa Zalima S Si