BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Menurut undang-undang nomor 20 tahun 2003 pasal 1 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana proses belajar dan pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhalk mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Adanya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Peraturan Daerah menandai dimulainya otonomi dan desentralisasi kepala daerah. Sejalan dengan arah kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi yang ditempuh pemerintah daerah meningkat, salah satunya manajemen pendidikan sebagai upaya untuk
meningkatkan kualitas penkdidikan.
Wong (2009), menyatakan bahwa sekolah dapat berhasil dalam pelaksanaan MBS adalah sekolah yang kepemimpinan dibagi antara administrator dan guru. Kepala sekolah dan wakil kepala sering mengambil peran pemimpin dan fasilitator perubahan, sedangkan guru sebagai pemimpin sering mengambil tanggung jawab sekitar mengajar dan belajar. Kedua administrator kemungkinan akan difokuskan pada mendistribusikan kekuasaan, menghasilkan kesepakatan di sekitar tujuan sekolah, mendorong semua guru untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan kualitas sekolah, mengumpulkan informasi, dan memberikan penghargaan.
Banyak negara menghadapi penurunan potensial dalam kapasitas kepemimpinan kepala di sekolah selama lima tahun ke depan. Data statistik mengungkapkan tren penurunan mengkhawatirkan jumlah guru dan kepala sekolah dalam banyak sistem pendidikan. Posisi ini sebagian karena demografi tapi sebagian besar merupakan reaksi terhadap kompleksitas perubahan dan tuntutan pada mereka dalam peran kepemimpinan formal disekolah
(Harris&Townsend, 2007).
Dari krisis ini maka perlu merefleksikan kembali apa jenis kepemimpinan yang terbaik untuk saat ini. Hal ini memungkinkan mempertimbangkan kembali apa bentuk kepemimpinan yang paling mungkin untuk menghasilkan perubahan positif dalam belajar siswa dan meningkatkan performa sekolah dan perubahan struktural apa yang diperlukan untuk memfasilitasi bentuk kepemimpinan.
penting proses perubahan disekolah. Sebaliknya penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan guru sebagai sebuah faktor pendukung yang lebih penting dalam keberhasilan peningkatan kualitas sekolah. Menurut Murphy, dkk (2009) menegaskan bahwa untuk para kepala sekolah, transformasi kepemimpinan harus selaras dengan upaya membangun kembali sekolah untuk memupuk distribusi kepemimpinan dan upaya memelihara pertumbuhan kepemimpinan guru.
Dalam dunia pendidikan, guru merupakan pilar utama untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan disebuah sekolah. Secara umum kualitas pendidikan di suatu sekolah dilihat secara formal tercermin dari hasil keluaran (lulusan) siswa yang dipengaruhi oleh Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), kinerja guru, serta fasilitas pendukung seperti laboratorium, perpustakaan, dan sarpras lainnya. Sekolah dapat dikatakan baik apabila hasil keluaran atau lulusan sekolah tersebut memperoleh prestasi yang baik. Prestasi hasil lulusan baik dalam rangka peningkatan kualitas sekolah apabila kinerja guru baik.
Wahjosumidjo (2003:81-82) mengatakan bahwa kepala sekolah bertanggungjawab atas segala tindakan yang dilakukan bawahannya.. Hal senada dikatakan Mulyasa (2004:25) yang menyebutkan bahwa kepala sekolah memiliki peran kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan dan menyerasikan sumber daya pendidikan yang berada di sekolah.
dapat dipercaya apabila kata-kata, pikiran dan perbuatan ada dalam keharmonisan.
Kepemimpinan kepala sekolah yang tepat akan dapat meningkatkan kinerja guru dan pada akhirnya kulitas atau mutu keluaran di sekolah tersebut akan meningkat. Kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemimpinan transformasional.
Terkait dengan gaya kepemimpinan transformasional kepala sekolah, Salaina tahun 2005 menegaskan dalam penelitiannya bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara tipe kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan iklim organisasi sekolah secara bersama-sama dengan kinerja guru di SMA di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Implikasinya bahwa kepala sekolah dengan mengiplementasi gaya kepemimpinan yang transformasional dan dengan dukungan iklim organisasi sekolah yang hangat dan kondusif diharapkan dapat meningkatkan kinerja guru menuju kinerja yang melampaui harapan.
Ignasius Purwanto tahun 2012 dalam penelitiannya tentang pengaruh motivasi kerja dan kepuasan kerja terhadap kinerja guru dengan variabel
moderasi kepemimpinan transformasional pada SD Negeri UPTD DIKPORA Kec. Sayung Kab. Demak menemukan bahwa kepemimpinan transformasional belum berpengaruh secara kuat terhadap kinerja guru. Berkaitan dengan kepemimpinan transformasional, Yuliati tahun 2009 dalam penelitiannya yang dilakukan pada Sekolah Menengah Atas (SMA) di Salatiga menemukan bahwa antara kepemimpinan transformasional dengan kinerja guru terdapat pengaruh yang positif dan signifikan. Berdasarkan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penelitian kepemimpinan transformasional kepala sekolah terhadap kinerja guru yang bersifat in konsisten, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan variabel yang sama tentang penerapan kepemimpinan transformasional di SMK Dr. TJIPTO AMBARAWA
1.2Rumusan Masalah
diterapkan dengan baik oleh kepala sekolah di SMK Dr. TJIPTO AMBARAWA tahun 2013-2017?
1.3Tujuan Penelitian
Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penerapan tipe kepemimpinan transformasional kepala sekolah di SMK Dr. TJIPTO AMBARAWA tahun 2013-2017
1.4Signifikansi Penelitian
1.4.1 Signifikansi Teoritis
Penelitian ini untuk dipadankan dengan pendapat Mulyasa tentang harapan guru bahwa seharusnya kepala sekolah mampu bersikap tanggap, memiliki sikap positif dan optimis, jujur dan transparan, berpegang teguh pada keputusan yang diambil, pengertian dan tepat waktu dalam mengunjungu kelas, menerima perbedaan pendapat, terbuka, mau mendengar, memahami tujuan pendidikan,
memiliki pengetahuan tentang metode mengajar, tanggap terhadap kemampuan guru
1.4.2 Signifikanksi Praktis 1. Kepala sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan tentang kepemimpinan transformasional kepada kepala sekolah, sehingga kepala sekolah dapat meningkatkan kualitas kepemimpinannya untuk mencapai tujuan yang diharapkannya.
2. Guru
Penelitian ini diharapkan agar meningkatkan kualifikasinya sebagai upaya untuk meninggkatkan profesionalisme.
3. Dinas Pendidikan
1.5Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini menggunakan teknik angket atau kuesioner yang diberikan kepada guru dan wawancara tidak terstruktur kepada kepala sekolah. Akan lebih mendapatkan data yang mendalam apabila penelitian selanjutnya menggunakan wawancara yang terstruktur dan observasi secara mendalam yang tidak hanya kepada kepala sekolah, tetapi juga kepada guru.
1.5.1 Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini ialah SMK Dr. Tjipto Ambarawa.
1.5.2 Subjek Penelitian