2.1. Blockholder Ownership
Menurut Steen Thomsen, Torben Pedersen, and Hans Kurt Kvist (2005) Blockholder Ownership adalah ukuran kepemilikan saham dimana:
a. Kepemilikan saham yang jumlahnya lebih dari 5%.
b. Saham dimiliki oleh karyawan, direktur, atau anggota keluarganya.
c. Saham dimiliki oleh bank.
d. Saham dimiliki oleh perusahaan lain (kecuali perusahaan dalam status digadaikan).
e. Saham dimiliki oleh seseorang karena adanya tunjangan pensiun.
Faktor-faktor yang memotivasi adanya Blockholder Ownership yaitu:
shared benefits of control dan private benefit of control. Shared benefit of control timbul dari superior manajemen atau pengawasan yang dapat dihasilkan dari besarnya hak-hak untuk pembuatan keputusan dan pengaruh kesejahteraan yang berasal dari block ownership yang besar. Blockholders juga memiliki dorongan untuk menggunakan voting power mereka untuk menikmati sumber penghasilan perusahaan atau untuk menikmati keuntungan-keuntungan perusahaan yang tidak dibagikan pada pemegang saham minoritas. Hal ini yang disebut private benefit of control. Dukungan empiris tentang adanya shared benefits berasal dari beberapa sumber:
a Blockholders atau anggota-anggota mereka biasanya diposisikan sebagai direktur atau staf, dimana meletakkan mereka pada posisi tersebut untuk mempengaruhi keputusan-keputusan manajemen secara langsung.
b Adanya bukti atas bentuk dari blocks yang dihubungkan dengan meningkatnya abnormal stock price (Mikkelson and Ruback, 1985).
c Bukti bahwa perdagangan pada block-block besar dihubungkan dengan meningkatnya abnormal stock price.
Terdapat dua jenis kepemilikan(ownership) yaitu:
1. Individual investor adalah investor yang membeli saham dalam jumlah kecil untuk memperoleh return sejumlah dana yang diinvestasikan.
2. Institutional investor adalah investor seperti bank, perusahaan asuransi, dana pensiun, hedge fund, atau reksa dana, dimana berpengalaman dalam hal keungan dan membuat investasi dalam jumlah besar. Mereka seringkali memperoleh investasi portfolio yang sangat besar. Karena pengalaman mereka, investor institusional seringkali ikut serta dalam penempatan sekuritas.
Institusional investors memegang dan memperdagangkan sejumlah besar saham, sehingga mereka cenderung mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam perusahaan dibandingkan dengan individual investors serta lebih memungkinkan untuk mengatur manajemen perusahaan. Jika institusional investor menjual atau membeli sejumlah besar saham, harga saham dapat dikendalikan untuk menjadi naik atau turun.
Institusional investors didefinisikan sebagai bank, perusahaan asuransi, perusahaan investasi yang telah terdaftar, perusahaan pengembangan bisnis (perusahaan yang dibentuk untuk membantu pertumbuhan perusahaan-perusahaan kecil pada tingkatan awal dari pertumbuhan mereka).
Tipe-tipe investor institusional:
1. Bank
Bank adalah suatu bisnis dimana menyediakan layanan keuangan, biasanya untuk tujuan keuntungan / profit. Bank komersial menerima deposito dari konsumen-konsumen dan memberikan pinjaman dari deposito-deposito tersebut. Layanan perbankan tradisional meliputi penerimaan deposito dalam bentuk uang, peminjaman uang, dan pemrosesan transaksi. Banyak bank menerbitkan bank note sebagai tawaran yang legal. Beberapa bank menawarkan tambahan layanan keuangan untuk menghasilkan keuntungan tambahan. Contoh: dengan menjual produk-produk investasi.
2. Insurance companies
Pengertian asuransi adalah suatu bentuk dari risk management terutama digunakan untuk memproteksi keuangan terhadap resiko yang ada.
Pengertian Insurer (pengasuransi) adalah suatu perusahaan yang menjual asuransi. Insurance rate adalah suatu faktor yang digunakan untuk menjelaskan kwantitas.
3. Investment bank
Mereka mengumpulkan uang perusahaan-perusahaan, pemerintah, dan agen- agen dengan menerbitkan dan menjual sekuritas di pasar primer (primary market). Mereka menggabungkan dana dari perusahaan publik dan perorangan dalam capital market (equity dan debt), dan juga menyediakan pelayanan strategis dalam merger, akuisisi, dan jenis-jenis transaksi keuangan lainnya.
4. Hedge fund
Hedge fund adalah dana investasi private yang dikenakan atas biaya kinerja dan biasanya terbuka hanya untuk investor-investor tertentu. Hedge fund sebagian besar terbuka hanya untuk investor-investor yang telah memenuhi syarat. Mereka telah berkembang dalam sekuritas publik dan pasar investasi private.
5. Reksa dana
Dana reksa adalah suatu bentuk dari kumpulan investasi yang menggabungkan uang dari banyak investor dan menginvestasikan uang mereka dalam saham, obligasi, deviden, instrument pasar uang jangka pendek, dan/atau sekuritas-sekuritas lainnya. Pada Dana reksa ini, manager keuangan memperjual belikan sekuritas atas dasar dana-dana tersebut, menghasilkan keuntungan atau kerugian, dan menghasilkan deviden atau pendapatan bunga. Hasil dari investasi tersebut kemudian dikembalikan kepada investor-investor tersebut.
6. Pension
Pension adalah pendapatan yang secara terus-menerus diberikan pada seseorang (biasanya setelah pensiun). Pembayaran dana pensiun biasanya berasal dari jaminan hari tua untuk karyawan yang telah pensiun atau tidak
digunakan lagi. Beberapa rencana pensiun dibuat dengan mengakumulasikan cash balance dimana orang yang pensiun dapat menarik dana pensiun setelah dipensiunkan, daripada menjanjikan pembayaran tahunan.
7. Credit union
Credit union adalah suatu kooperasi lembaga keuangan yang dimiliki dan dikontrol oleh anggota-anggotanya. Credit union berbeda dari lembaga keuangan lainnya dimana anggota-anggotanya yang mempunyai simpanan pada credit union merupakan pemilik credit union.
Setiap lembar saham yang dimiliki oleh pemegang saham berhak atas satu suara dalam pemilihan direktur dan dalam penyelesaian persoalan khusus lainnya. Perusahaan biasanya mengeluarkan dua atau lebih jenis saham dan perbedaan antara saham-saham tersebut terletak pada hak votingnya. Perbedaan jenis dari saham tersebut digunakan untuk mempertahankan diri dari pengambilan kekuasaan pihak lain.
Jenis-jenis saham tersebut:
1. Nonvoting common stock
Saham yang tidak memiliki hak voting; saham ini dikeluarkan apabila perusahaan menginginkan kenaikan modal dengan menjual saham akan tetapi tidak ingin mengorbankan hak kontrol.
2. Supervoting shares
Saham yang memiliki hak voting per lembar lebih besar dibandingkan dengan saham regular.
Pada umumnya direktur suatu perusahaan dipilih tiap tahun pada waktu rapat tahunan, cara yang digunakan adalah dengan memberikan hak pilih kepada semua pemegang saham yang hadir. Mekanisme pemilihan direktur pada setiap perusahaan berbeda-beda. Perbedaannya terletal pada apakah saham disuarakan secara kuantitatif atau disuarakan secara langsung (straight). Mekanisme voting yaitu:
1. Cumulative voting
Cumulative voting dapat memberikan kesempatan partisipasi pemegang saham minoritas. Jika cummulative voting digunakan, jumlah total suara dari masing-masing pemegang saham ditentukan terlebih dahulu. Dimana jumlah tersebut biasanya dikalkulasikan sebagai jumlah saham (yang dimiliki atau dikontrol) dikalikan dengan banyaknya jumalah direktur yang akan dipilih.
Tiap pemegang saham dapat menyalurkan/memberikan suara seperti yang diharapkan untuk satu atau lebih calon
Jumlah direktur yang dapat dipilih dengan menggunakan cumulative voting:
(share controlled -1) X (total num.dir T.B.E +1)
(2.1) NUM DIR =
Total number voting shares
Dimana:
Num.dir: jumlah direktur yang dicalonkan dalam pemilihan.
Total num.dir T.B.E: jumlah direktur yang akan dipilih.
Total number voting shares: jumlah total dari saham yang memiliki hak pilih.
Jumlah saham yang diperlukan untuk memilih sejumlah direktur dengan cumulative voting:
( N.dir desired) X (tot.num. vot. shares) + 1 (2.2) NUM vot. shares
needed =
(Total num.dir T.B.E + 1)
Dimana:
N.dir.shares needed: jumlah direktur yang ingin dipilih.
Tot.num vot. shares: jumlah lembar saham yang memiliki hak pilih.
Tot.num dir T.B.E: jumlah direktur yang akan dipilih dalam pemilihan.
2. Straight voting
Straight voting dapat merugikan pemegang saham minoritas, hal ini merupakan alasan mengapa banyak negara lebih suka menggunakan cumulative voting.
3. Proxy voting
Proxy merupakan suatu ijin legal dari seorang pemegang saham yang diberikan kepada orang lain untuk menyuarakan sahamnya. Pemilihan aktual (secara langsung) pada perusahaan publik yang besar biasanya dilakukan oleh proxy. Manajemen selalu berusaha memperoleh banyak proxy yang dimungkinkan untuk ditransfer. Jika pemegang saham tidak puas dengan manajemen pada saat itu, kelompok luar dari pemegang saham dapat mencoba untuk memdapatkan suara yang dimungkinkan melalui proxy.
Mereka dapat menggunakan suaranya untuk mengganti manajemen dengan cara menambahkan direktur. Hal ini dapat dikatakan sebagai proxy fight.
Hak-hak dari pemegang saham adalah:
a. Hak untuk membagikan secara proporsional dalam pembayaran deviden.
b. Hak untuk membagikan secara proporsional asset ketika perusahaan diliquidasi (setelah kewajiban dibayar).
c. Hak untuk menyeruarakan suatu persoalan seperti merger dalam rapat tahunan atau rapat khusus.
d. Hak untuk membagikan secara proporsional pada beberapa saham baru yang telah dijual. Hal ini dinamakan preemptive right. Preemptive right adalah sebuah sekuritas yang diterbitkan sebuah perusahaan dengan memberikan pembayaran deviden sebelum deviden lain dari saham dibayarkan kepada pemegang saham.
2.2. Firm Performance
Setiap perusahaan atau lembaga yang sudah go public dituntut memberikan kinerja yang bernilai tidak hanya bagi lembaganya sendiri,
melainkan juga masyarakat luas. Salah satu faktor yang berpengaruh pada upaya peningkatan nilai adalah komitmen organisasional yang tinggi. Ada berbagai tolok ukur untuk melihat pencapaian kinerja. Denison (2000) menyatakan bahwa suatu perusahaan dikatakan berkinerja baik dengan tolok ukur berpredikat baik pada: (1) keuntungan, (2) kualitas, (3) inovasi, (4) pangsa pasar, (5) pertumbuhan penjualan, dan (6) kepuasan para karyawannya.
Faktor umur perusahaan juga merupakan faktor yang memengaruhi kinerja perusahaan. Umur perusahaan dapat menunjukkan kemampuan dalam mengatasi kesulitan dan hambatan yang dapat mengancam kehidupan perusahaan, serta menunjukkan kemampuan perusahaan mengambil kesempatan dalam lingkungannya untuk mengembangkan usaha. Di samping itu, unsur perusahaan dapat menunjukkan kemampuan dalam keunggulan berkompetisi. Dengan demikian makin lama perusahaan berdiri kian menunjukkan eksistensinya dalam lingkungannya dan makin bisa meningkatkan kepercayaan investor.
Tujuan utama perusahaan, menurut Brigham (1983), adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau pemegang saham. Nilai perusahaan merupakan kesediaan calon pembeli untuk membayar sejumlah dana andai perusahaan tersebut dijual. Bagi perusahaan yang menerbitkan saham di pasar modal harga saham yang ditransaksikan di bursa merupakan indikator nilai perusahaan.
2.2.1. Firm Value
Tujuan perusahaan adalah mengoptimalkan nilai perusahaan, dimana dapat dilihat melalui harga saham. Semakin tinggi harga saham menunjukkan semakin tinggi nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai perusahaan yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Nilai perusahaan ditentukan oleh struktur modal (Bringham, 1999). Semakin tinggi proporsi hutang, maka semakin tinggi harga saham (hutang adalah instrument yang sangat sensitive terhadap nilai perusahaan), namun pada titik tertentu peningkatan hutang akan menurunkan nilai perusahaan karena manfaat yang diperoleh dari penggunaan hutang lebih kecil daripada biaya yang ditimbulkannya.
Firm Value diukur dengan membagi jumlah dari equity market value dan total debt’s book value dengan book value of the assets. Jika Blockholder memiliki informasi dari pihak dalam, hal ini memungkinkan mereka untuk meningkatkan (mengurangi) kepemilikannya karena mereka mengetahui nilai perusahaan akan naik (turun) pada periode mendatang.
Firm Value merupakan total nilai ekonomi dari sebuah perusahaan.
Nilai dari perusahaan terdiri dari 3 komponen:
a. Nilai sekarang dari arus kas operasional selama periode peramalan.
b. Nilai sekarang dari harga sekuritas pasar.
c. Nilai sisa, dimana menunjukan nilai sekarang dari akibat bisnis yang terjadi untuk periode diluar periode peramalan.
Dalam suatu perusahaan ketika terjadi peningkatan pada nilai perusahaan, peningkatan tersebut dinyatakan dengan meningkatnya kesejahteraan pemegang saham dan harga saham.
2.2.2. Return On Asset
ROA merupakan gambaran yang dapat digunakan oleh pemegang saham dan kreditor untuk melihat bagaimana manajemen mengelola aset untuk menghasilkan laba. Selain itu, ROA merupakan salah satu rasio keuangan yang dapat digunakan untuk memprediksi return saham. ROA menunjukan pendapatan yang dihasilkan dari investasi modal (aset). Aktiva dalam perusahaan merupakan penjumlahan dari utang dan modal. Kedua tipe pendanaan ini digunakan untuk membiayai kegiatan dalam perusahaan.
Aktiva suatu perusahan didanai oleh pemegang saham dan kreditor, sehingga aktiva tersebut menjadi modal kerja bagi perusahaan dalam melakukan usahanya. Sedangkan hasil usaha perusahaan dinyatakan dalam bentuk laba atau Net Income After Tax (NIAT). Dengan demikian rasio antara net income after tax terhadap aset secara keseluruhan akan menunjukan ukuran produkvitas aktiva dalam memberikan pengembalian kepada penanam modal (Sawir, 2001).
Pendapat ini dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut:
NIAT ROA =
Total Assets
(2.3)
Dimana:
ROA: return On Assets
NIAT: Net Income After Tax atau laba bersih Total Assets: Total aset
Semakin tinggi rasio ini menunjukan bahwa perusahan semakin efektif dalam memanfaatkan aktiva untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak.
Dengan demikian, dapat dikatakan semakin tinggi ROA menunjukan kinerja perusahaan yang baik. Hal ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada investor. Peningkatan daya tarik perusahaan menjadikan perusahaan tersebut makin diminati investor, karena tingkat pengembalian akan semakin besar (Ang, 1997).
2.3. System effect
System effect dapat dibagi menjadi:
1. Market-Based Governance System mempunyai karakteristik khusus dimana kepemilikan saham menyebar pada investor institusional, individu dan investor minoritas lainnya.
2. Control-Based Governance Systems mempunyai karakteristik dimana kepemilikan saham terpusat dan mempunyai level yang lebih tinggi pada Blockholder Ownership, biasanya dimiliki oleh keluarga, corporate investors (cross holding) dan pemerintah.
La Porta et al (1998, 1999, 2000) menyatakan bahwa penentuan system effect dapat dilakukan berdasarkan legal system dan investor protection. Legal system dapat dibagi menjadi: Common Law, Civil Law, Customary Law, Religious Law, Socialist Law, International Law.
Pada Market-Based Governance System, biasanya menganut sistem Common Law (contoh negara: United State, United Kingdom, Australia).
Sedangkan pada Control-Based Governance System, biasanya menganut sistem Civil Law (contoh negara: Continental Europe, Latin America, South Korea).
Investor protection adalah peningkatan investasi oleh pemegang saham kecil karena hal tersebut akan menurunkan private benefits dari pemegang saham dan manajer yang mengambil keuntungan dari minoritas investor. Pada negara yang memiliki investor protection yang rendah, besarnya private benefit of control akan memberikan keuntungan lebih bagi Blockholder (La Porta et al, 1998). Negara yang berdasarkan Control-Based Governance System umumnya memilki investor protection yang rendah, sedangkan pada negara yang berdasarkan Market-Based Governance System memiliki investor protection yang tinggi.
2.4. Kaitan Antar Konsep
2.4.1. Kaitan Antara Blockholder dan Firm Performance
Pound (1988) menyatakan hipotesa tentang hubungan antara kepemilikan institusional (blockholder) dengan nilai perusahaan. Pound memprediksikan bahwa investor institusional yang besar adalah pengawas yang kuat atas lebih besarnya keahlian dan rendahnya biaya marginal. Bertentangan dengan hipotesa Pound, investor institusional seperti bank dan perusahaan asuransi seringkali mengorbankan peran pengawasan mereka untuk memungkinkan hubungan bisnis dengan perusahaan atau manajemen. Pound berpendapat bahwa investor institusional yang besar memiliki ketertarikan bekerjasama dengan manajeman untuk memperoleh keuntungan atas informasi pribadi dengan biaya yang murah.
Hipotesa Pound ini juga berlaku untuk non-institusional investor. Sheifer and Vishny (1986) menyatakan pemegang saham besar akan memonitor manajer sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan (Blockholder Ownership: Effects on Firm Value in Market-Based and Control-Based Governace Systems, 2005)
A. Kaitan Antara Blockholder dan Firm Value
Pengaruh dari Blockholder Ownership pada Firm Value dapat bersifat positif atau negatif. Berpengaruh positif jika Blockholder mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang lebih besar untuk menjamin maksimalnya nilai shareholder, sedangkan dikatakan berpengaruh negatif jika Blockholder lebih mengutamakan kepentingan owner-managers (Blockholder) yang pada akhirnya dapat mempengaruhi penurunan kesejahteraan pemegang saham minoritas (Fama and Jensen, 1983; Morck, Shleifer and Vishny, 1988 dan Shleifer and Vishny, 1997 dalam jurnal Blockholder Ownership: Effects on Firm Value in Market-Based and Control-Based Governace Systems).
B. Kaitan Antara Blockholder dan Return On Asset (ROA)
Suatu perusahaan yang memiliki rasio ROA yang cukup tinggi, maka dapat diasumsikan bahwa perusahaan tersebut beroperasi secara efektif. Hal ini akan menjadikan daya tarik bagi investor sehingga mengakibatkan peningkatan nilai saham perusahaan yang bersangkutan, dan karena nilainya meningkat maka saham perusahaan tersebut akan diminati oleh Blockholder, yang pada akhirnya akan meningkatkan harga saham perusahaan tersebut.
2.5. Kerangka Pemikiran
2.6. Hipotesa
Berdasarkan kajian teori yang telah dikemukakan sebelumnya, maka hipotesa penelitian ini, sebagai berikut:
1. Diduga ada hubungan timbal balik antara Blockholder Ownership dengan Firm Value pada Market- Based Governance System.
2. Diduga ada hubungan timbal balik antara Blockholder Ownership dengan Firm Value pada Control-Based Governance System.
3. Diduga ada hubungan timbal balik antara Blockholder Ownership dengan ROA pada Market-Based System.
4. Diduga ada hubungan timbal balik antara Blockholder Ownership dengan ROA pada Control-Based System.
System effect
Control based system:
• Low investor protection
• Concentrated ownership Firm Performance:
• Firm Value
• Return On Asset (ROA)
Blockholder Ownership
Market based system:
High investor protection Dispered ownership