PENGARUH NORMA SUBYEKTIF, SIKAP PADA PERILAKU,
PERSEPSI KONTROL PERILAKU TERHADAP NIAT MELAKUKAN
PENGUNGKAPAN KECURANGAN (WHISTLEBLOWING)
(Studi Empiris Pada Mahasiswa Akuntansi Program S1 dan Program
D3 Universitas Pendidikan Ganesha)
1
Kadek Shintya Rahayu Dewi Damayanthi
1Edy Sujana,
2Nyoman Trisna Herawati
Jurusan Akuntansi Program S1
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail:
{[email protected]
,
[email protected]
,
[email protected]}@undiksha.ac.id
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel norma subyektif, sikap pada perilaku, dan persepsi kontrol perilaku terhadap niat melakukan pengungkapan kecurangan (whistleblowing) pada mahasiswa akuntansi program S1 dan program D3 Universitas Pendidikan Ganesha. Penelitian ini menggunakan data primer dengan metode yang digunakan untuk memperoleh data adalah metode kuantitatif dan menggunakan teknik kuesioner yang merupakan daftar pernyataan terstruktur. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi program S1 dan program D3 angkatan 2014 yang berjumlah 371 orang. Sampel diambil dengan menggunakan teknik probability sampling, yaitu propostionatestratified random sampling dan didapat jumlah responden sebanyak 79. Analisis data penelitian menggunakan analisis regresi linier berganda dengan menggunakan program SPSS versi 22.0.
Hasil penelitian secara parsial membuktikan bahwa, variabel norma subyektif, sikap pada perilaku, dan persepsi kontrol perilaku mempengaruhi niat melakukan pengungkapan kecurangan (whistleblowing) dengan hasil thitung masing-masing sebesar
2,806 dengan tingkat signifikansi 0,006, 2,217 dengan tingkat signifikansi 0,030 dan 5,365 dengan tingkat signifikansi 0,000 . Secara simultan ketiga variabel bebas pada penelitian ini mempengaruhi variabel terikat dengan hasil Fhitung sebesar 37,988 dengan
tingkat signifikansi 0,000.
Kata Kunci: Norma Subyektif, Sikap pada Perilaku, Persepsi Kontrol Perilaku, Niat Pengungkapan Kecurangan (Whistleblowing).
Abstract
This study aimed at knowing the effect of variables subjective norm, attitude on behavior, and perception of behavioral control toward intention of doing fraud disclosure (whistleblowing) on accounting students of S1 and D3 program of Ganesha University of Education. This study used primary data with a quantitative method using questionnaire technique, a list of structured statements. The population in this study were accounting students of S1 and D3 program period 2014 as many as 371 people. The sample was taken by using probability sampling technique, that was propostionate stratified random sampling, and got the number of respondents as many as 79. The data were analyzed by multiple linear regression analysis by using SPSS program version 22.0.
The result of this research partially proved that the variables of subjective norm, attitude on behavior, and perception of behavior control had an effect on the intention of do fraud disclosure (whistleblowing) with the result of tcount each 2,806 with significance
level 0,006, 2,217 with significance level 0,030 and 5,365 with significance level 0,000. Simultaneously, the three independent variables in this study affect the dependent variable with the Fcount with a result of of 37.988 with a significance level of 0.000.
Keywords: subjective norm, attitude on behavior, perception of behavioral control, fraud fraud disclosure (whistleblowing).
PENDAHULUAN
Whistleblowing selama ini semakin mencuat karena berperan besar dalam
penyelesaian kasus-kasus kecurangan
yang terjadi di sektor pemerintahan maupun sektor swasta. Maraknya kasus korupsi dan praktik-praktik kecurangan yang selama ini
terekspos oleh pers, telah menarik
perhatian yang besar karena beberapa ditemukan kasus kecurangan yang pada akhirnya terbongkar berkat peran aktif whistleblower. Kecurangan yang sering terjadi di perusahaan maupun lembaga pemerintahan adalah kecurangan akuntansi (fraud accounting). Kecurangan akuntansi
merupakan bentuk kecurangan yang
disengaja dilakukan yang menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang
dirugikan tersebut dan memberikan
keuntungan bagi pelaku kecurangan. Dari kasus-kasus kecurangan baik di luar maupun dalam negeri, menyebabkan profesionalisme dan perilaku etis profesi akuntan begitu juga independensi auditor
internal maupun eksternal dalam
melaksanakan tugasnya dipertanyakan dan diragukan oleh masyarakat (Sweeney dan
Pierce, 2009). Sehingga dalam
mengembalikan kepercayaan masyarakat dan salah satu cara mencegah kecurangan
akuntansi adalah dengan melakukan
whistleblowing (Merdikawati, 2012). Whistleblowing merupakan pelaksanaan yang efektif dilakukan dalam pengungkapan
kasus kecurangan (Sweeney, 2008).
Pernyataan tersebut selaras dengan studi
dari Association of Certified Fraud
Examiners (ACFE), yaitu upaya pendeteksian awal adanya kecurangan lebih
efektif apabila entitas memanfaatkan
whistleblower.
Dalam melakukan whistleblowing
bukanlah sesuatu perkara mudah dalam pratiknya karena diperlukan keberanian yang sangat besar untuk mengungkap kecurangan yang terjadi. Begitu juga resiko
yang mungkin harus ditanggung oleh whistleblower, antara lain: keamanan pekerjaan (pemecatan) dan mendapatkan
teror dari oknum-oknum yang tidak
menyukai keberadaaanya setelah
melakukan whistleblowing, hal-hal lainnya
seperti pengucilan di tempat kerja, fitnah, bullying dan lain sebagainya. Selain itu, di satu sisi mereka akan dianggap sebagai
pengkhianat perusahaan karena telah
mengungkap “sisi gelap” perusahaan. Di
satu sisi lainnya whistleblower akan
dianggap sebagai pahlawan yang
menjunjung tinggi nilai-nilai moral, sehingga ketika seseorang melakukan tindakan yang tidak etis, mereka akan mengungkapkan
tindakan tersebut sekalipun yang
melakukannya adalah teman maupun
atasannya di perusahaan tempatnya
bekerja. Dampak yang bertentangan
tersebut menyebabkan calon whistleblower
mengalami dilema dalam menentukan niat whistleblowing itu sendiri. Hal tersebut
merupakan salah satu alasan yang
membuat peneliti tertarik untuk meneliti niat
individu untuk mengungkapkan
kecurangan.
Theory of Planned Behavior (TPB)
merupakan pengembangan dari Theory of
Reasoned Action (TRA) yang telah dikemukakan sebelumnya oleh Fishbein
dan Ajzen. Dalam Theory of Reasoned
Action (TRA) dijelaskan bahwa niat seseorang terhadap perilaku dibentuk oleh dua faktor utama, yaitu norma subyektif dan sikap pada perilaku, sedangkan dalam Theory of Planned Behavior ditambahkan satu faktor lagi yaitu persepsi kontol perilaku (Ajzen, 2010).
Theory of Planned Behavior
menjelaskan mengenai perilaku yang
dilakukan individu timbul karena adanya niat dari individu tersebut untuk berperilaku dan niat individu disebabkan oleh beberapa faktor internal dan eksternal dari individu tersebut.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa persepsi memiliki pengaruh positif terhadap niat dan perilaku melakukan suatu tindakan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan Suryono (2014) memberikan bukti bahwa norma subyektif berpengaruh pada intensi Pegawai Negeri Sipil (PNS)
untuk melakukan pengungkapan
kecurangan. Berdasarkan hal tersebut,
maka dapat dikemukakan:
H1: Norma Subyektif pada Whistleblowing
Berpengaruh terhadap Niat Melakukan
Pengungkapan Kecurangan
(Whistleblowing).
Ajzen dan Fishbein (2010)
menjelaskan dalam konteks sikap terhadap perilaku, keyakinan yang paling kuat (salient beliefs) menghubungkan perilaku untuk mencapai hasil yang berharga baik positif atau negatif. Sikap pada perilaku yang dianggapnya positif itu yang nantinya akan dipilih individu untuk berperilaku dalam kehidupannya.
Secara umum, seseorang akan melakukan suatu perilaku tertentu yang diyakini dapat memberikan hasil positif (sikap yang menguntungkan), dibandingkan melakukan perilaku yang diyakin dapat memberikan hasil negatif (sikap yang tidak
menguntungkan). Keyakinan yang
mendasari sikap seseorang terhadap
perilaku ini disebut dengan keyakinan
perilaku (behavioural beliefs). Selain itu,
faktor kedua yang menentukan sikap
adalah evaluasi hasil (outcome evaluation).
Evaluasi hasil yang dimaksud ialah
pertimbangan pribadi bahwa konsekuensi atas perilaku yang diambil itu disukai atau tidak disukai. Konsekuensi yang disukai atas tindakan perilaku tertentu, cenderung meningkatkan intensi seseorang untuk
melakukan perilaku tersebut
(Trongmateerut dan Sweeney, 2012).
Seperti penelitian yang dilakukan oleh Yobapritika (2014) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara sikap dengan intensi niat kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dikemukakan:
H2: Sikap pada Perilaku Berpengaruh
terhadap Niat Melakukan Pengungkapan
Kecurangan (Whistleblowing).
Seseorang akan memilki niat untuk melakukan suatu perilaku ketika mereka
memiliki persepsi bahwa perilaku tersebut mudah untuk ditunjukkan atau dilakukan, karena adanya hal-hal yang mendukung perilaku tersebut. Sehingga persepsi kontrol perilaku ini seseorang merasa yakin jika persepsi yang dimilikinya adalah hasil kontrol terhadap dirinya sendiri mengenai
persepsi perilaku tersebut. Penelitian yang
dilakukan Sulistimo (2009) menunjukkan bahwa ada pengaruh terhadap niat
whistleblowing pada mahasiswa
akuntansi UGM dan Undip.. Berdasarkan
uraian tersebut, maka dapat
dikemukakan:
H3: Persepsi Kontrol Perilaku Berpengaruh
Terhadap Niat Melakukan Pengungkapan
Kecurangan (Whistleblowing).
Whistleblowing bukanlah perkara mudah untuk dilakukan karena adanya resiko positif maupun resiko negatif yang
akan dihadapi whistleblower sehingga
diperlukan keberanian dan niat untuk melakukan hal tersebut. Menurut Jogiyanto
(2007:29), niat didefinisikan sebagai
keinginan untuk melakukan perilaku. Niat merupakan topik yang penting terutama
dalam hubungannya dengan prediksi
tingkah laku. Individu akan melakukan suatu tingkah laku hanya jika ia benar-benar ingin melakukannya, untuk itu
individu tersebut membentuk niat.
Berdasarkan Theory of Planned Behavior
(TPB), niat dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu norma subyektif, sikap pada perilaku, dan persepsi kontrol perilaku.Berdasarkan hal tersebut, semakin tinggi norma subyektif, semakin positif sikap pada perilaku, dan semakin besar persepsi kontrol peilaku maka semakin tinggi pula niat melakukan
pengungkapan kecurangan
(whistleblowing). Oleh karena itu, hipotesis yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
H4: Norma Subyektif, Sikap Pada Perilaku, dan Persepsi Kontrol Perilaku Berpengaruh Terhadap Niat Melakukan Pengungkapan
Kecurangan (Whistleblowing)
METODE
Penelitian ini menggunakan metode
kuantitatif yang berbentuk asosiatif.
Sugiyono (2010:13) menyatakan bahwa pendekatan kuantitatif adalah metode yang
digunakan untuk meneliti populasi dan sampel tertentu yang bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Penelitian asosiatif adalah dugaan tentang adanya hubungan antar variabel dan populasi yang akan diuji melalui hubungan variabel dalam sampel yang diambil dari populasi tersebut.
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ekonomi Universitas Pendidikan Ganesha yaitu jurusan Akuntansi Program S1 dan Akuntansi Program D3. Teknik penarikan
sampel adalah menggunakan probability
sampling, yaitu propostionate stratified random sampling. Teknik ini digunakan
karena populasinya tidak homogen,
mengacu pada pendapat Sugiyono
(2010:82). Sampel didapatkan dengan menggunakan rumus slovin (Husein Umar, 2008:67) yaitu sebanyak 79 yang terdiri dari 67 mahasiswa Akuntansi Program S1 dan 10 mahasiswa Akuntansi Program D3.
Data penelitian akan dikumpulkan menggunakan kuesioner yang kemudian diolah dengan menggunakan uji statistik, yaitu (1) Uji Statistik Deskripstif; (2) Uji Kualitas Data: Uji Validitas dan Uji Reliabilitas; (3) Uji Asumsi Klasik: Uji Normalitas, Uji Multikolonieritas, dan Uji Heteroskedastisitas; (4) Uji Hipotesis: Analisis Regresi Linear Berganda, Uji Statistik t dan Uji Statistik F.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil uji kualitas data menunjukkan bahwa data memiliki rhitung > nilai rtabel
dengan rtabel sebesar 0,224 yang tingkat
signifikansinya 0,05 sehingga seluruh butir pernyataan valid dan reliabel dengan nilai Alpha Cronbroach lebih besar 0,60.
Uji asumsi klasik pada penilitian ini menggunakan tiga cara yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolonieritas, dan uji heteroskedastisitas. Pengujian normalitas data menggunakan uji dengan grafik dan
didukung dengan uji Kolmogorov-Smirnov.
Uji dengan grafik menunjukkan bahwa data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka model
regresi memenuhi asumsi normalitas.
Begitu juga hasil uji normalitas
menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov
diperoleh nilai Signifikan sebesar 0,200 lebih besar 0,05 sehingga residual data berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Berdasarkan pengujian normalitas yang digunakan tersebut dapat dikatakan
bahwa norma subyektif, sikap pada
perilaku, persepsi kontrol perilaku, dan niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing) memiliki sebaran data yang berdistribusi normal.
Hasil Uji Multikolonieritas
menunjukkan bahwa nilai Variance Inflation
Factor (VIF) masing-masing variabel bebas
lebih rendah dari 10 yaitu X1 sebesar 0,614;
X2 sebesar 0,623; dan X3 sebesar 0,694.
Selain itu, nilai Tolerance lebih dari 0,1
yaitu X1 sebesar 1,628; X2 sebesar 1,606;
dan X3 sebesar 1,441. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa antara variabel norma subyektif, sikap pada perilaku dan persepsi
kontrol perilaku tidak terdapat
multikolonieritas.
Uji asumsi klasik yang terakhir
adalah uji heteroskedastisitas untuk
menguji dalam model regresi tersebut
terjadi ketidaksamaan variance dari residual
satu pengamatan ke pengamatan lain. Untuk mengetahui ada atau tidaknya heteroskedastisitas maka digunakan uji grafik scatter plot dan uji glejser. Hail uji
heteroskedastisitas dilakukan
menggunakan grafik plot antara nilai
prediksi variabel dependen (ZPRED)
dengan residualnya (SRESID) didapatkan hasil bahwa tidak ada pola tertentu yang
terbentuk. Hasil pengujian
Heteroskedastisitas dengan uji glejser
terhadap masing-masing variabel
independen diperoleh (Sig-t) lebih dari 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas pada masing-masing variabel independen.
Uji selanjutnya yang dilakukan
adalah analisis regresi linear berganda
yang bertujuan mengetahui besarnya
pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang mempunyai hubungan dengan variabel moderasi. Hasil analisis dapat
Tabel 1 Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta (Constant) -2,381 1,369 -1,740 0,086 Norma Subyektif (X1) 0,311 0,111 0,262 2,806 0,006
Sikap Pada Perilaku (X2) 0,201 0,091 0,205 2,217 0,030
Persepsi Kontrol Perilaku
(X3) 0,205 0,038 0,471 5365 0,000
a. Dependent Variable: Niat Melakukan Pengungkapan Kecurangan (Whistleblowing) (Y)
Sumber : Output SPSS 22 (2017)
Sehingga dari tabel 1 di atas didapat
persamaan Y = -2,381+ 0,311X1 + 0,201X2
+ 0,205X3 yang menunjukkan bahwa Nilai
konstanta sebesar -2,381 menyatakan bahwa jika variabel independen norma
subyektif (X1), sikap pada perilaku (X2), dan
persepsi kontrol perilaku (X3) dianggap nol
maka variabel dependen niat melakukan
pengungkapan kecurangan (whistleblowing)
(Y) adalah sebesar -2,381. Koefisien
regresi norma subyektif (X1) sebesar 0,311
berarti apabila terdapat penambahan norma subyektif sebesar satu satuan, maka niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing) (Y) meningkat sebesar 0,311. Koefisien regresi sikap pada perilaku
(X2) sebesar 0,201 berarti apabila terdapat
penambahan sikap pada perilaku sebesar
satu satuan, maka niat melakukan
pengungkapan kecurangan (whistleblowing)
(Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,201. Koefisien regresi persepsi kontrol
perilaku (X3) sebesar 0,205 berarti apabila
terdapat penambahan persepsi kontrol perilaku sebesar satu satuan, maka niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing) (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,205.
Uji selanjutnya yang dilakukan
adalah uji koefisien determinasi yang memiliki tujuan untuk mengukur seberapa
jauh kemampuan model dalam
menerangkan variasi variabel terikat
(Ghozali, 2011) Hasil perhitungan Adjusted
R2dalam penelitian ini dapat disajikan pada
tabel 2 berikut ini: Tabel 2 Hasil Pengujian Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 0,781a 0,610 0,594 1,292
a. Predictors: (Constant), Persepsi Kontrol Perilaku, Sikap Pada Perilaku, Norma Subyektif
b. Dependent Variable: Niat Melakukan Pengungkapan Kecurangan (Whistleblowing)
Sumber: Output SPSS 22 (2017)
Berdasarkan tabel 2 menunujukkan bahwa hasil analisis koefisien determinasi
dapat terlihat dari Adjusted R Square
sebesar 0,594. Hal ini mengindikasikan bahwa kontribusi norma subyektif, sikap pada perilaku, dan persepsi kontrol perilaku sebesar 0,594 yang Dapat diartikan bahwa
besarnya pengaruh variabel-variabel
bebasnya terhadap variabel terikatnya adalah sebesar 59,4%, sedangkan sebesar 40,6% dijelaskan oleh faktor-faktor lainnya
yang tidak diuji dalam penelitian ini. Uji Signifikan Parsial (Uji Statistik t) digunakan
untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh dari variabel-variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. Uji t dilakukan dengan membandingkan t hitung terhadap t tabel dengan kriteria jika probabilitas lebih dari 0,05 maka hipotesis ditolak dan jika probabilitas kurang 0,05 maka hipotesis diterima. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel 3 sebagai berikut:
Tabel 3 Hasil Uji t (Signifikansi Parsial) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta (Constant) -2,381 1,369 -1,740 0,086 Norma Subyektif (X1) 0,311 0,111 0,262 2,806 0,006
Sikap Pada Perilaku (X2) 0,201 0,091 0,205 2,217 0,030
Persepsi Kontrol Perilaku
(X3) 0,205 0,038 0,471 5365 0,000
a. Dependent Variable: Niat Melakukan Pengungkapan Kecurangan
(Whistleblowing) (Y)
Sumber: Output SPSS 22 (2017)
Nilai
t
tabel untuk
= 0.05 dan n = 77 adalah 1,993. Berdasarkan hasil uji statistik t pada Tabel 3, Norma Subyektif diperoleh hasil yaitu sebesar 2,806 dengan signifikansi yaitu 0,006. Karena signifikansi atau probabilitasnya lebih kecil dari 0,05dan perbandingan antara thitung dan ttabel
diperoleh hasil thitung > ttabel atau 2,806 >
1,993 yang berarti Ha diterima. Dari
persamaan regresi menunjukkan koefisien Norma Subyektif bernilai positif yang berarti terdapat pengaruh positif (searah) antara Norma Subyektif dengan Niat Melakukan
Pengungkapan Kecurangan
(Whisteblowing). Jadi dapat disimpulkan bahwa Norma Subyektif berpengaruh positif dan signifikan terhadap Niat Melakukan
Pengungkapan Kecurangan
(Whisteblowing).
Sikap Pada Perilaku berdasarkan hasil uji statistik t pada Tabel 3, diperoleh
hasil yaitu sebesar 2,217 dengan
signifikansi yaitu 0,03. Karena signifikansi atau probabilitasnya lebih kecil dari 0,05
dan perbandingan antara thitung dan ttabel
diperoleh hasil thitung > ttabel atau 2,217 >
1,993 yang berarti H2 diterima. Dari
persamaan regresi menunjukkan koefisien Sikap Pada Perilaku bernilai positif yang berarti terdapat pengaruh positif (searah) antara Sikap Pada Perilaku dengan Niat
Melakukan Pengungkapan Kecurangan
(Whisteblowing). Jadi dapat disimpulkan bahwa Sikap Pada Perilaku berpengaruh
positif dan signifikan terhadap Niat
Melakukan Pengungkapan Kecurangan
(Whisteblowing).
Berdasarkan hasil uji statistik t pada Tabel 3, Persepsi Kontrol Perilaku diperoleh
hasil yaitu sebesar 5,365 dengan
signifikansi yaitu 0,000. Karena signifikansi atau probabilitasnya lebih kecil dari 0,05
dan perbandingan antara thitung dan ttabel
diperoleh hasil thitung > ttabel atau 5,365 >
1,993 yang berarti H3 diterima. Dari
persamaan regresi menunjukkan koefisien Persepsi Kontrol Perilaku bernilai positif yang berarti terdapat pengaruh positif (searah) antara Persepsi Kontrol Perilaku dengan Niat Melakukan Pengungkapan
Kecurangan (Whisteblowing). Jadi dapat
disimpulkan bahwa Persepsi Kontrol
Perilaku berpengaruh positif dan signifikan terhadap Niat Melakukan Pengungkapan
Kecurangan (Whisteblowing).
Pengujian Statistik F adalah
pengujian untuk hipotesis keempat. Cara melakukan uji F adalah membandingkan
hasil besarnya peluang melakukan
kesalahan (tingkat signifikansi) yang
muncul, dengan tingkat peluang munculnya kejadian (probabilitas) yang ditentukan sebesar 5% atau 0,05 pada output. Kemudian membandingkan nilai statistik F hitung dengan nilai statistik F tabel. Jika Fhitung > Ftabel dengan signifikansi 0,05 dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen atau dapat dilakukan dengan melihat signifikansi di bawah 0,05. Sebaliknya, jika Fhitung < Ttabel dengan signifikansi 0,05, dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama variabel independen
tidak berpengaruh terhadap variabel
dependen. Pengujian Statistik F pada
penelitian ini apablia Ha diterma dengan
kriteria penerimaan Fhitung > Ftabel, dengan
= 0,05 dan n = 77. Hasil uji simultanvariabel penelitian ini dapat disajikan pada tabel 4 berikut ini:
Tabel 4 Hasil Uji Statistik F ANOVAa Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression 190,147 3 63,382 37,988 0,000b Residual 121,801 73 1,669 Total 311,948 76
a. Dependent Variable: Niat Melakukan Pengungkapan Kecurangan (Whistleblowing)
b. Predictors: (Constant), Persepsi Kontrol Perilaku, Sikap Pada Perilaku, Norma Subyekif
Sumber: Output SPSS 22 (2017)
Nilai
F
tabel untuk
= 0,05 dan n = 77adalah 2,73. Berdasarkan hasil uji statistik F pada Tabel 4, diperoleh hasil yaitu sebesar 37,988 dengan signifikansi 0,000. Karena signifikansi atau probabilitasnya jauh lebih kecil dari 0,05 dan perbandingan antara Fhitung dan Ftabel diperoleh hasil Fhitung > Ftabel atau 37,988 > 2,73 yang berarti Ha
diterima, maka model regresi dapat
digunakan untuk memprediksi pengaruh
variabel dependen atau Niat Melakukan
Pengungkapan Kecurangan
(Whistleblowing). Jadi dapat disimpulkan bahwa Norma Subyektif, Sikap Pada Perilaku, dan Persepsi Kontrol Perilaku
secara bersama-sama atau simultan
berpengaruh Terhadap Niat Melakukan
Pengungkapan Kecurangan
(Whistleblowing).
PEMBAHASAN
Pengaruh Norma Subyektif Terhadap Niat Melakukan Pengungkapan Kecurangan (Whistleblowing).
Berdasarkan persamaan regresi
yang diperoleh dari hasil analisis regresi
liniear berganda adalah Y = -2,381 +
0,311X1 + 0,201X2 + 0,205X3 menjelaskan
bahwa koefisien regresi norma subyektif sebesar 0,311 berarti apabila terdapat penambahan norma subyektif sebesar satu
satuan, maka niat melakukan
pengungkapan kecurangan (whistleblowing)
akan meningkat sebesar 0,311. Nilai koefisien regresi menunjukkan hubungan yang positif antara norma subyektif dan niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing). Hal ini berarti setiap peningkatan norma subyektif, maka niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing) juga akan meningkat. Berdasarkan hasil pengujian secara parsial yang telah dilakukan menunjukkan
bahwa norma subyektif berpengaruh
terhadap niat melakukan pengungkapan
kecurangan (whistleblowing). Sehingga
hipotesis satu yang menyatakan bahwa
norma subyektif berpengaruh terhadap niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing) diterima. Sehingga dapat
ditarik kesimpulan bahwa terdapat
pengaruh positif dan signifikan mengenai norma subyektif terhadap niat melakukan
pengungkapan kecurangan
(whistleblowing).
Dari pengujian hipotesis satu ini menunjukkan bahwa ketika nilai lingkungan seorang mahasiswa akuntansi semakin mendukung untuk mahasiswa tersebut
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing) maka mahasiswa tersebut akan semakin memiliki niat melakukan
pengungkapan kecurangan
(whistleblowing). Hal ini berarti bahwa pandangan atau anggapan orang-orang di sekitarnya (keluarga, teman, dan lain-lain) dapat mempengaruhi atau memotivasi keinginan mahasiswa untuk melakukan
whistleblowing, dan mereka akan
cenderung mengikuti pendapat orang-orang yang berada disekitarnya tersebut. Seperti
yang dijelaskan dalam theory of planned
behavior bahwa seorang individu akan melakukan suatu perilaku tertentu jika
perilakunya dapat diterima oleh orang-orang yang dianggapnya penting, keluarga atau teman-teman dalam kehidupannya
dapat menerima apa yang akan
dilakukannya. Menurut Ajzen (2010), norma subyektif juga diasumsikan sebagai fungsi dari suatu keyakinan, yaitu keyakinan seseorang atas orang lain atau sekelompok orang lain yang memandang bahwa dirinya harus melakukan (atau tidak melakukan) suatu tindakan perilaku.
Berdasarkan hasil yang telah
dikumpulkan melalui kuesioner, norma
subyektif pada mahasiswa Jurusan
Akuntansi Program S1 dan Program D3 Universitas Pendidikan Ganesha dalam niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing) banyak didukung oleh
lingkungan sekitarnya. Hasil dari
keseluruhan pernyataan dalam lingkungan pergaulan seperti teman-teman responden
untuk mendukung niat melakukan
pengungkapan kecurangan (whistleblowing)
menunjukkan hasil yang paling rendah. Namun di sisi lain, norma subyektif pada
mahasiswa dalam niat melakukan
pengungkapan kecurangan (whistleblowing)
banyak didukung oleh keluarga. Peneliti berpendapat bahwa norma pertama kali ditanamkan adalah di lingkungan keluarga. Pada umumnya kehidupan keluarga dan orang tua pada khususnya mengharapkan agar anaknya menjadi anak yang baik dan berguna di setiap lapisan masyarakat.
Hasil penelitian yang telah dilakukan
konsisten dengan penelitian Suryono
(2014) memberikan bukti bahwa norma
subyektif berpengaruh pada intensi
Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk
melakukan whistleblowing. Senada dengan
penelitian yang dilakukan Daivitri (2013)
menunjukkan bahwa norma subjektif
memiliki pengaruh terhadap intensi
whistleblowing pada Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Pengaruh Sikap Pada Perilaku Terhadap Niat Melakukan Pengungkapan Kecurangan (Whistleblowing)
Berdasarkan persamaan regresi
yang diperoleh dari hasil analisis regresi
liniear berganda adalah Y = -2,381 +
0,311X1 + 0,201X2 + 0,205X3 menjelaskan
bahwa koefisien regresi sikap pada perilaku
sebesar 0,201 berarti apabila terdapat penambahan sikap pada perilaku sebesar
satu satuan, maka niat melakukan
pengungkapan kecurangan (whistleblowing)
akan meningkat sebesar 0,201. Nilai koefisien regresi menunjukkan hubungan yang positif antara sikap pada perilaku dan niat melakukan pengungkapan kecurangan (whistleblowing). Hal ini berarti semakin
positif sikap pada perilaku whistleblowing,
maka niat melakukan pengungkapan
kecurangan (whistleblowing) juga akan
meningkat. Berdasarkan hasil pengujian
secara parsial yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa sikap pada perilaku berpengaruh terhadap niat melakukan
pengungkapan kecurangan
(whistleblowing). Sehingga hipotesis dua yang menyatakan bahwa sikap pada
perilaku berpengaruh terhadap niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing) diterima. Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, maka terdapat pengaruh positif dan signifikan mengenai sikap pada perilaku terhadap niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing).
Hasil pengujian hipotesis dua ini menunjukkan bahwa semakin seorang mahasiswa akuntansi memiliki sikap yang
positif terhadap perilaku whistleblowing
maka mahasiswa tersebut akan memiliki
niat melakukan whistleblowing. Seperti
yang dijelaskan oleh Theory of Planned
Behavior, bahwa seorang individu akan melakukan sesuatu sesuai dengan sikap yang dimilikinya terhadap suatu perilaku.
Sikap pada perilaku yang dianggap
positiflah yang akan ditunjukkan oleh
indvidu tersebut. Ajzen (2010)
mendefinisikan sikap sebagai jumlah dari
afeksi (perasaan) yang dirasakan
seseorang untuk menerima atau menolak
suatu perilaku dan diukur dengan
menempatkan individu pada skala evaluatif dua kutub, misalnya baik atau buruk, setuju atau menolak, dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil yang telah
dikumpulkan melalui kuesioner tentang sikap pada perilaku pada mahasiswa
Jurusan Akuntansi Program S1 dan
Program D3 Universitas Pendidikan
Ganesha dalam niat melakukan
menunjukkan sikap positif pada perilaku whistleblowing. Ini terlihat hasil yang tinggi
pada manfaat melakukan whistleblowing
adalah melindungi organisasi dari dampak
negatif dan dapat memberantas
kecurangan. Namun dari keseluruhan
pernyataan yang terdapat dalam kuesioner,
menjadi whistleblower merupakan perilaku
yang harus dilaksanakan apabila
mahasiswa bekerja memiliki hasil yang paling rendah. Peneliti berpendapat bahwa melalui pernyataan tersebut mahasiswa
masih dilema akan tekanan-tekanan
maupun resiko negatif yang dihadapi, seperti pengucilan, ancaman, dan lain sebagainya yang membuat mahasiswa takut
dalam melakukan pengungkapan
kecurangan (whistleblowing).
Hasil penelitian ini sama halnya dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Yobapritika (2014) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara sikap dengan intensi niat kepatuhan wajib pajak orang
pribadi. Begitu juga pada penelitian
Kusuma Dewi (2012) yang menunjukkan sikap pada perilaku berpengaruh signifikan
terhadap niat whistleblowing Pegawai
Negeri Sipil (PNS) di Kantor Dinas Kota Metro.
Pengaruh Persepsi Kontrol Perilaku
Terhadap Niat Melakukan
Pengungkapan Kecurangan
(Whistleblowing)
Berdasarkan persamaan regresi
yang diperoleh dari hasil analisis regresi
liniear berganda adalah Y = -2,381 +
0,311X1 + 0,201X2 + 0,205X3 menjelaskan
bahwa koefisien regresi persepsi kontrol perilaku sebesar 0,205 berarti apabila terdapat penambahan persepsi kontrol perilaku sebesar satu satuan, maka niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing) akan meningkat sebesar 0,205. Nilai koefisien regresi menunjukkan hubungan yang positif antara persepsi
kontrol perilaku dan niat melakukan
pengungkapan kecurangan
(whistleblowing). Hal ini berarti semakin baik persepsi kontrol perilaku, maka niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing) juga akan meningkat. Berdasarkan hasil pengujian secara parsial
yang telah dilakukan menunjukkan bahwa
persepsi kontrol perilaku berpengaruh
terhadap niat melakukan pengungkapan
kecurangan (whistleblowing). Sehingga
hipotesis dua yang menyatakan bahwa
persepsi kontrol perilaku berpengaruh
terhadap niat melakukan pengungkapan
kecurangan (whistleblowing) diterima.
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat pengaruh positif dan
signifikan mengenai persepsi kontrol
perilaku terhadap niat melakukan
pengungkapan kecurangan
(whistleblowing).
Hasil pengujian hipotesis tiga ini menunjukkan bahwa semakin seorang mahasiswa akuntansi dapat mengendalikan dirinya sesuai dengan persepsi yang
dimilikinya terhadap perilaku whistleblowing
dengan baik maka akan memunculkan niat
pada diri mahasiswa tersebut untuk
melakukan whistleblowing. Hal ini sesuai
dengan Theory of Planned Behavior,
bahwa seseorang akan semakin yakin dalam berperilaku ketika orang tersebut memiliki keyakinan yang muncul dalam dirinya. Icek Ajzen (2002) mengatakan
bahwa Persepsi Kontrol Perilaku (perceived
behavioral control) mempengaruhi niat karena semakin individu merasakan banyak
kemampuan yang dimilikinya dan
merasakan sedikit faktor penghambat maka lebih besar pula persepsi kontrol yang mereka rasakan terhadap suatu perilaku. Hal ini berdasarkan atas asumsi bahwa persepsi kontrol perilaku oleh individu akan memberikan implikasi berupa motivasi
terhadap orang tersebut. Maksudnya
adalah niat akan terbentuk dengan
sendirinya apabila individu merasa mampu
untuk menampilkan perilaku.
Berdasarkan hasil kuesioner yang telah dikumpulkan, persepsi kontrol perilaku
pada mahasiswa Jurusan Akuntansi
Program S1 dan Program D3 Universitas Pendidikan Ganesha dalam niat melakukan
pengungkapan kecurangan (whistleblowing)
menunjukkan persepsi yang dimilikinya merupakan hasil persepsi kontrol perilaku yang tinggi. Hal ini dilihat dari hasil distribusi skor jawaban kuesioner yang tinggi pada pernyataan bahwa mahasiswa bercerita dengan mudah mengenai kejadian tindak
kecurangan akuntansi yang diketahui kepada orang lain mengenai kecurangan
akuntansi yang diketahuinya. Peniliti
berpendapat bahwa pernyataan tersebut memiliki hasil yang tinggi karena mahasiswa memiliki keyakinan dan kapasitas diri sehingga mampu bercerita dengan orang lain. Selain itu, adanya perlindungan
terhadap whistleblower dapat menjadikan
faktor pendukung bagi mahasiswa sehingga mereka merasa memiliki kesempatan dan
merasa mudah untuk melakukan
pengungkapan kecurangan
(whistleblowing).
Namun dari keseluruhan pernyataan
yang terdapat di dalam kuesioner,
mahasiswa akan tetap mengungkapkan kecurangan walaupun ada larangan dari orang lain memiliki distribusi skor rendah. Peneliti berpendapat bahwa karena norma subyektif yang dimiliki mahasiswa itu sendiri. Seperti pendapat Ajzen (2010) bahwa norma subyektif juga diasumsikan sebagai fungsi dari suatu keyakinan, yaitu keyakinan seseorang atas orang lain atau sekelompok orang lain yang memandang bahwa dirinya harus melakukan (atau tidak melakukan) suatu tindakan perilaku. Hal ini berarti bahwa pandangan atau anggapan
orang-orang disekitarnya dapat
mempengaruhi atau memotivasi keinginan
mahasiswa untuk melakukan
whistleblowing, dan mereka akan
cenderung mengikuti pendapat orang-orang
yang berada disekitarnya tersebut. Hasil penelitian yang sama juga
dilakukan Sulistimo (2009) menunjukkan
bahwa ada pengaruh terhadap niat
whistleblowing pada mahasiswa akuntansi UGM dan Undip. Sama hal nya yang dilakukan Daivitri (2013) yang menyatakan bahwa persepsi kontrol perilaku memiliki
pengaruh terhadap intensi whistleblowing
pada Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan (PPATK).
Pengaruh Norma Subyektif, Sikap Pada Perilaku, dan Persepsi Kontrol Perilaku Terhadap Niat Melakukan Pengungkapan Kecurangan (Whistleblowing)
Berdasarkan hasil uji statistik F, diperoleh hasil yaitu sebesar 37,988
dengan signifikansi 0,000. Karena
signifikansi atau probabilitasnya jauh lebih
kecil dari 0,05 dan perbandingan antara Fhitung dan Ftabel diperoleh hasil Fhitung
sebesar 37,988 lebih besar Ftabel sebesar
2,73 yang berarti H4 diterima, maka model
regresi dapat digunakan untuk memprediksi pengaruh variabel dependen atau Niat
Melakukan Pengungkapan Kecurangan
(Whistleblowing). Jadi dapat disimpulkan bahwa Norma Subyektif, Sikap Pada Perilaku, dan Persepsi Kontrol Perilaku
secara bersama-sama atau simultan
berpengaruh Terhadap Niat Melakukan
Pengungkapan Kecurangan
(Whistleblowing). Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda yang telah dilakukan
menunjukkan masing-masing memiliki
hubungan yang positif antara norma subyektif, sikap pada perilaku, dan persepsi kontrol perilaku terhadap niat melakukan
pengungkapan kecurangan
(whistleblowing), maka semakin tinggi niat
melakukan pengungkapan kecurangan
(whistleblowing). Berdasarkan hal tersebut diperoleh suatu justifikasi bahwa secara bersama-sama terdapat pengaruh yang positif dan signifikan mengenai norma subyektif, sikap pada perilaku, dan persepsi kontrol perilaku terhadap niat melakukan
pengungkapan kecurangan
(whistleblowing). Justifikasi diambil dengan
mempertimbangkan kajian teori dan
empiris.
Berdasarkan teori, norma subyektif adalah persepsi atau pandangan seseorang terhadap kepercayaan-kepercayaan orang lain yang akan mempengaruhi niat untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang sedang dipertimbangkan (Jogiyanto, 2007). Seorang individu akan melakukan suatu perilaku tertentu jika perilakunya dapat didukung oleh lingkungan sekitar
dalam kehidupannya. Ajzen (2010)
mendefinisikan sikap sebagai jumlah dari
afeksi (perasaan) yang dirasakan
seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek atau perilaku dan diukur dengan menempatkan individu pada skala evaluatif dua kutub, misalnya baik atau buruk, setuju atau menolak, dan lain sebagainya. Selain norma subyektif dan
sikap pada perilaku, dalam Theory of
Planned Behaviour terdapat persepsi
kontrol perilaku yang merupakan
perilaku yang akan ditunjukkannya
merupakan hasil pengendalian yang
dilakukan oleh dirinya. Ketiga konsep
tersebut dapat membuat menjadi predictor
dalam melakukan suatu perilaku
berdasarkan konsekuensi yang telah
dipertimbangkan dan dievaluasi
sebelumnya (Sweeney, 2008)
Berdasarkan konsep-kensep
tersebut, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa norma subyektif, sikap pada
perilaku, dan persepsi kontrol perilaku secara simultan berpengaruh terhadap niat
pengungkapan kecurangan
(whistleblowing).
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, serta teori dan penelitian terdahulu yang telah dipaparkan, maka kesimpulan yang diperoleh adalah: (1) Norma Subyektif memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap terhadap Niat
Melakukan Whistleblowing; (2) Sikap Pada
Perilaku memiliki pengaruh yang positif dan
signifikan terhadap Niat Melakukan
Whistleblowing; (3) Persepsi Kontrol Perilaku memiliki pengaruh yang positif dan
signifikan terhadap Niat Melakukan
Whistleblowing; (4) Norma Subyektif, Sikap Pada Perilaku, dan Persepsi Kontrol
Perilaku secara bersama-sama
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
Niat Melakukan Whistleblowing.
Saran
Saran yang dapat diberikan oleh
peneliti adalah: (1) Bagi Mahasiswa
Akuntansi Program S1 dan Program D3:
Berdasarkan
penelitian
yang
telah
dilakukan, maka beberapa saran yang
dapat dipertibangkan yaitu peningkatan
niat dalam pengungkapan kecurangan
(
whistleblowing
),
maka
diperlukan
norma subyektif yang tinggi, sikap
positif, dan persepsi yang baik pada
perilaku
whistleblowing
.
Sehinngga
apabila mahasiswa bekerja di suatu
entitas tidak mengalami dilema akan
tekanan, larangan dari orang lain
maupun resiko negatif yang dihadapi
nantinya,
yang
menyebabkan
mahasiswa takut dalam melakukan
pengungkapan kecurangan. Selain itu,
mahasiswa
diharapkan
menjadi
whistleblower
yang merupakan perilaku
yang harus dilaksanakan apabila ketika
bekerja di suatu entitas karena dapat
melindungi entitas dari dampak negatif
dan memberantas kecurangan.
(2) Bagi Universitas Pendidikan Ganesha disarankan khususnya bagi para
dosen agar tindakan pengungkapan
kecurangan (whistleblowing) sebagai salah
satu bahan pertimbangan pentingnya aspek etika dalam penyusunan kurikulum dan sistem pembelajaran untuk membimbing mahasiswanya. Selain itu, para dosen untuk memberikan pembelajaran bahwa whistleblowing merupakan tindakan yang
positif yang dilakukan karena dapat
mencegah upaya kecurangan yang terjadi di perusahaan maupun menyelamatkan uang negara dari tindakan ilegal yang dilakukan oleh oknum-oknum yang kurang bertanggungjawab. Kemudian para dosen menanamkan sikap moral dan mental yang kuat agar mahasiswanya nanti memiliki
keberanian yang lebih kuat untuk
melakukan whistleblowing tanpa
menghiraukan dampak negatif atau sanksi sosial yang akan didapat oleh calon whistleblower.
(3) Bagi Peneliti Selanjutnya
Disarankan untuk memperbanyak jumlah populasi selain mahasiswa. Penelitian ini hanya menggunakan responden dari
mahasiswa akuntansi Universitas
Pendidikan Ganesha, sehingga tidak dapat memberikan kesimpulan bahwa mahasiswa akuntansi universitas lainnya juga memiliki niat yang sama. Jadi, diharapkan untuk penelitian berikutnya dapat menggunakan
mahasiswa akuntansi universitas lain
sebagai respondennya. Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk lebih bisa mengatur waktu penelitian agar ketika ingin
mengambil sampel tidak mengalami
kendala. Seperti pengambilan sampel pada bulan yang merupakan libur semester atau sedang dalam mengikuti Praktek Kerja Lapangan (PKL).
DAFTAR PUSTAKA
Ajzen, I dan Fishbein M. 2010.
Understanding Attitudes and Predicting Social Behaviour. Englewood Cliffs. NJ: Prentice Hall. Ajzen, Icek. 2002. The Theory of Planned
Behavior. Organizational Behavior
and Human Decision Processes Journal,Vol. 50, No. 4, Hal:179-211. ---. 2010. Perceived Behavioral
Control, Self-efficacy, Locus of Control, and The Theory of Planned
Behavior. Journal of Applied Social
Psychology, Vol. 32, No .4, Hal: 665-683.
Daivitri, A. N. (2013). Pengaruh
Pertimbangan Etis dan Komponen Perilaku Terencana Pada Niat Whistleblowing Internal dengan Locus of Control sebagai Variabel Pemoderasi. Skripsi. Universitas Gadjah Mada.
Dewi, Kusuma. 2016 Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Intensi Pegawai Negeri Sipil Untuk Melakukan Tindakan Whistleblowing Aplikasi Theory of Planned Behaviour. Skripsi. Universitas Lampung
Husein, Umar. 2008. Metode Penelitian
Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Jogiyanto. 2007. Sistem Informasi
Keperilakuan. Yogyakarta: Andi Offset.
Merdikawati, Risti. 2012. Hubungan
Komitmen Profesi dan Sosialisasi Antisipatif Mahasiswa Akuntansi dengan Niat Whistleblowing (Studi Empiris pada Mahasiswa Strata 1 Jurusan Akuntansi di Tiga
Universitas Teratas di Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta). Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian
Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suryono, Arwan. 2014. Pengaruh Sikap
Dan Norma Subyektif Terhadap Intensi Pegawai Negeri Sipil Untuk Mengadukan Pelanggaran. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang. Sweeney, Breda, Don Arnold dan Bernard
Pierce. 2009. The Impact of
Perceived Ethical Culture of the Firm and Demographic Variables on Auditors’ Ethical Evaluation and
Intention to Act Decisions. Journal
of Business Ethics. Spriager, Vol.20, No. 5, Hal: 218-222
Sweeney, J.C dan Pailin Trongmateerut. 2012. The Influence of Subjective Norms on Whistleblowing: A Cross
Cultural Investigation. Journal of
Bussiness Ethics, Vol.112, No. 3, Hal: 437-451.
Sweeney, J. C. 2008. Cognitive Dissonance
After Purchase: A Multidimentional Scale. Journal of Psychology & Marketing, Vol.17, No. 5, Hal: 369-385.
Yobapritika, Layli. 2014. Pengaruh Sikap,
Norma Subyektif, dan Kontrol Keprilakuan yang Dipersepsikan terhadap Niat Kepatuhan Wajib Pajak di Kota Yogyakarta. Skripsi.
Universitas Negeri Yogyakarta.