DI RSUP H. ADAM MALIK
SKRIPSI
Oleh :
CJ RANDAS SENGGADO
180100041
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
DI RSUP H. ADAM MALIK
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh :
CJ RANDAS SENGGADO
180100041
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
Universita Sumatera Utara KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan keberkahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, sebagai salah satu syarat untuk mencapai kelulusan sarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Shalawat beriring salam kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mengajarkan AlQur’an sebagai jalan kebenaran.
Penulisan skripsi ini adalah penggambaran mengenai landasan teori dan konsep penelitian yang penulis laksanakan. Penelitian yang berjudul “Gambaran karakteristik pasien covid-19 pada anak yang di rawat di RSUP H Adam Malik”
dilaksanakan pada masa pandemi COVID-19 di Indonesia. Namun dalam keterbatasan waktu dan ruang, serta dengan bantuan berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Dengan penuh rasa hormat penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Dr. dr Aldy Safruddin Rambe, Sp. S (K), selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
2. dr. Ayodhia Pitaloka Pasaribu,M.Ked(Ped),Sp.A(K),Ph.D(CTM), selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan membimbing dan mendampingi penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
3. dr. Ricke Loesnihari, M. Ked (Clin. Path) Sp.PK(K) dan dr. Andika Pradana, Sp.P, selaku Ketua dan Anggota Penguji yang telah memberikan nasihat dan arahan yang baik untuk menyempurnakan skripsi ini.
4. dr.Steven Tandean, M.ked, Sp.BS, selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
5. Orang tua dan keluarga penulis yang selalu memberikan dukung penulis dalam suka maupun duka, sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini.
Universita Sumatera Utara 6. Keluarga besar HMI Komisariat FK USU. Teman-teman yang di dalam kepengurusan maupun diluar kepengurusan, senior dan alumni yang selalu memberi semangat dan dukungan
Penulis memahami sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, diharapkan pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan hasil penelitian ini.
Medan, 22 November 2021
Penulis
Universita Sumatera Utara Halaman
Halaman Pengesahan ... i
Kata Pengantar... ii
Daftar Isi ... iv
Daftar Gambar ... vi
Daftar Tabel ... vii
Daftar Singkatan ... viii
Abstrak...x
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Rumusan Masalah ...3
1.3 Tujuan Penelitian ...3
1.3.1 Tujuan Umum ...3
1.3.2 Tujuan Khusus ...3
1.4 Manfaat ...3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Coronavirus ...5
2.2 SARS-CoV-2 ...6
2.3 Epidemiologi ...7
2.4 Patogenesis...7
2.5 Covid-19 pada Anak ... 10
2.6 Transmisi Covid-19 pada Anak ... 11
2.7 Klasifikasi Kasus dan Derajat Penyakit Covid-19 ... 12
2.8 Kerangka Teori ... 23
2.9 Kerangka Konsep ... 24
BAB III METODE PENELITIAN ... 26
3.1 Rancangan Penelitian ... 26
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 26
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 26
3.3.1 Populasi ... 26
3.3.2 Sampel ... 26
3.3.3 Besar Sampel ... 26
3.3.4 Teknik Pengambilan Sampel ... 26
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 26
3.5 Defenisi Operasional ... 28
3.6 Metode Analisis Data ... 30
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 31
Universita Sumatera Utara BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 35
5.1 kesimpulan ... 35 5.2 saran ... 36
DAFTAR PUSTAKA
Universita Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Struktur Coronavirus ... 5
2.2 Genom Coronavirus ... 6
2.3 Asal Penyebaran Coronavirus ... 9
2.4 Patogenesis Coronavirus ... 10
2.5 Patogensis ARDS pada Covid-19 ... 10
2.6 Kerangka Teori ... 23
2.7 Karangka Konsep ... 24
Universita Sumatera Utara
Nomor Judul Halaman
3.5 Defenisi operasional... 28
4.1 Jumlah pasien laki-laki dan perempuan... 32
4.2 Kelompok usia... 33
4.3 Gejala klinis... 34
4.4 Komorbid... 35
Universita Sumatera Utara DAFTAR SINGKATAN
2019-nCoV ACE 2 APC APD ARDS ASCs ASI CD CDC CFR CoV Covid-19 HCoV IDAI Ig IL ISPA MERS-CoV
PDP PHIC PRRs RBD RNA
: 2019 novel Coronavirus
: Angiotensin Converting Enzym 2 : Antigen Precenting Cell
: Alat Pelindung Diri
: Acute Respiratory Distress Syndrome : Antibody Secreting Cells
: Air Susu Ibu
: Cluster of Differentiaton : Central for Disease Control : Case Fatality Rate
: Coronavirus
: Coronavirus Disease 2019 : Human Coronavirus
: Ikatan Dokter Anak Indonesia : Imunoglobulin
: Interleukin
: Infeksi Saluran Pernapasan Atas
: Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus : Pasien Dalam Pengawasan
: Public Health Emergency of Internasional Concern
: Pattern Recognition Receptors : Receptor Binding Domain : Ribonucleic Acid
Universita Sumatera Utara RSUP
RT-PCR SARS-CoV-2
SpO2 TMPRSS2 TNF WHO
: Rumah Sakit Umum pusat
: Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction : Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 : Saturasi Oksigen Darah
: Transmembrane Serine Protease 2 : Tumor Necrosis Factor
: World Health Organization
Universita Sumatera Utara
ABSTRAK
1. Latar Belakang. Sejak Desember 2019, dilaporkan kasus pneumonia misterius pertama di Wuhan, provinsi Hubei. Penyakit pneumonia ini belum diketahui secara pasti penularannya.
namun untuk kasus pertama diduga bersumber dari salah satu pasar ikan di Wuhan. Pada 11 februari 2020 WHO mengumumkan nama baru untuk penyakit ini yaitu Coronavirus disease (Covid-19) yang disebabkan oleh virus severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) Tujuan. Mengetahui gambaran karakteristik pasien Covid-19 pada anak yang dirawat di RSUP H. Adam Malik Metode. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain penelitian Retrospektif. Pengambilan data dilakukan menggunakan data sekunder berupa data rekam medik pasien di RSUP H. Adam Malik. Teknik Total sampling digunakan untuk menentukan besar sampel. Hasil didapatkan 264 pasien dengan pembagian laki-laki sebanyak 143 (54,2%), dan perempuan sebanyak 121(45,8%). Prevalensi kelompok usia 12-
<18 tahun merupakan prevalensi terbanyak. Karakteristik klinis yang paling banyak dijumpai adalah demam (71,6%), Kesimpulan prevalensi demografi yang didapatkan pada penelitian ini yaitu didominasi laki-laki kelompok usia 12-<18 tahun dengan karakteristik klinis demam
Kata kunci : Covid-19, SARS-CoV-2, Coronavirus
Universitas Sumatera Utara 1.1 LATAR BELAKANG
Sejak Desember 2019, dilaporkan kasus pneumonia misterius pertama di Wuhan, provinsi Hubei. Penyakit pneumonia ini belum diketahui secara pasti penularannya, namun untuk kasus pertama diduga bersumber dari salah satu pasar ikan di Wuhan. Pada awalnya berdasarkan data epidemiologi, menunjukkan bahwa 66 % pasien berkaitan atau terpajan dari salah satu pasar seafood atau live market di Wuhan, provinsi Hubei. Dan berdasarkan sampel dari pasien yang diteliti menunjukkan hasil adanya infeksi dari Coronavirus, jenis beta-Coronavirus tipe baru dan diberi nama 2019 novel Coronavirus (2019-ncoV) (Huang et al., 2020).
Pada 11 Februari 2020 WHO mengumumkan nama baru untuk penyakit ini yaitu Coronavirus disease (Covid-19) yang disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Virus ini diketahui dapat ditularkan dari manusia-ke manusia dan telah menyebar luas di China bahkan seluruh dunia dan Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO pada tanggal 11 Maret 2020.
Virus Sars-Cov 2 dalam proses penularannya melalui jalur transmisi utama yaitu inhalasi langsung droplet saluran napas (dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi) dan kontak langsung. Masa inkubasi virus ini adalah berkisar 2-14 hari, sebagian besar adalah 3-7 hari. Dan sebagian peneliti yang lain berpendapat masa inkubasi diperkirakan 5-6 hari dengan kisaran 2-26 hari (Zimmermann et al., 2020).
Sampai tanggal 19 Maret 2020 terdapat 209.839 kasus Covid-19 pada lebih dari 170 negara yang terjangkit Covid-19. Kasus kematian mencapai 8.778 dengan case fatality rate 4.18%. Pada pertengahan Maret 2020 pasien anak terdiri antara 1% anak berusia <10 tahun dan 2,4% anak berusia kurang dari 18 tahun. Berdasarkan hasil deteksi Covid -19 yang terkonfirmasi laboratorium di China, Italia, dan Amerika. Berdasarkan data dari Center for Disease Control (CDC) mencatat bahwa distribusi pasien tersebut terdiri dari
1
Universitas Sumatera Utara usia berikut : 15-17 tahun (32%), 10-14 tahun (27%), 5-9 tahun (15%), 1-4 tahun (11%), dan <1 tahun (15%), dan dari keseluruhan kasus adalah dengan usia rata-rata 11 tahun. Anak didefenisikan sebagai kelompok usia dari baru lahir hingga usia 19 tahun. (Stokes et al., 2020).
Di Indonesia berdasarkan data dari IDAI hingga 18 Maret 2020 terdapat 584 anak terkonfirmasi positif Covid-19, 3324 anak berstatus PDP, 129 anak berstatus PDP meninggal, dann 14 Anak meninggal akibat Covid-19 (IDAI, 2020).
Beberapa rangkaian kasus positif Covid-19 pada anak memberikan gambaran yang berbeda dengan orang dewasa berdasarkan tingkat keparahan penyakit dan gejala penyakit. Berdasarkan tingkat keparahan penyakit, Penyakit tingkat ringan-sedang dijumpai pada 96% anak, dengan gejala demam, gejala pernafasan, atau pneumonia radiografi tanpa hipoksemia, dan 3% anak mengalami sakit tingkat berat yang membutuhkan suplementasi oksigen dan
<1% anak mengalami sakit kritis (Dong et al., 2020).
Dalam beberapa rangkaian kasus lain, sebagian besar anak diidentifikasikan berdasarkan gejala sehingga pada pasien anak tanpa gejala tidak diketahui. Diantara 17.877 anak yang dilaporkan oleh CDC Amerika, gejala yang paling umum adalah demam (46%), batuk (37%), sakit kepala (15%), diare (14%), dan sakit tenggorokan (13%) Pada kelompok anak usia <9 tahun, sakit kepala (42%), batuk (41%), demam (35%), mialgia (30%), sakit tenggorokan(29%), sesak napas (16%), dan diare (14%) pada kelompok anak usia 10-19 tahun (Stokes et al., 2020).
Dalam penelitian Shen et al., 2020, menyatakan bahwa mayoritas anak yang mengalami manifestasi klinis yang ringan, tanpa demam atau gejala pneumonia, memiliki prognosis baik dan akan sembuh dalam 1-2 minggu setelah onset dan sebagian kecil berlanjut menjadi infeksi saluran napas bawah.
Kasus dapat memberat menjadi sindrom distress pernapasan akut (ARDS), syok sepsis, asidosis metabolik, refrakter, dan disfungsi koagulasi.
Hingga saat ini secara keseluruhan untuk prevalensi penyakit Covid-19 pada anak relatif kecil dan sebagian besar kasus merupakan kasus tanpa gejala
Universitas Sumatera Utara dan dengan semakin luasnya penyebaran Covid-19 gambaran karakteristik gejala yang dijumpai pada pasien juga berbeda. sehingga di beberapa negara memiliki prosedur dan kategori sendiri dalam mendiagnosis dan menatalaksana kasus Covid-19 pada anak.
Melihat hal ini membuat peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh bagaimana karakteristik pasien Covid-19 anak yang di rawat di kota Medan khususnya di RSUP Haji Adam malik. Untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik dan gejala yang dialami pasien anak.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang, peneliti ingin mengetahui “ Bagaimana gambaran karakteristik pasien Covid-19 pada anak yang dirawat di RSUP H.
Adam Malik ?”
1.3 TUJUAN PENELITIAN
1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui bagaimana gambaran karakteristik pasien Covid-19 pada anak yang dirawat di RSUP H. Adam Malik.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui prevalensi jenis kelamin pada pasien Covid-19 anak di RSUP H Adam malik
2. Mengetahui prevalensi usia menurut tingkatan usia pada pasien Covid-19 anak di RSUP H Adam Malik
3. Mengetahui prevalensi gejala Klinis pada pasien Covid-19 anak di RSUP H Adam Malik
4. Mengetahui prevalensi adanya komorbid pada pasien Covid-19 anak di RSUP H Adam Malik
1.4 MANFAAT
1. Sebagai bahan informasi mengenai pasien Covid-19 pada anak yang dirawat di RSUP H. Adam Malik
Universitas Sumatera Utara 2. Sebagai Referensi bagi peneliti untuk melanjutkan penelitian mengenai
Covid-19 pada anak
3. Sebagai wawasan dan pengalaman bagi peneliti dan pembaca tentang gambaran pasien Covid-19 pada anak yang dirawat di RSUP H. Adam Malik
Universitas Sumatera Utara BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Coronavirus
Coronavirus (CoVs) merupakan virus yang termasuk ke dalam keluarga Coronaviridae, dalam ordo nidovirales. Diberi nama Coronavirus karena penampakan permukaannya yang terlihat seperti mahkota (Latin: corona=crown).
Berdasarkan struktur genomnya Corona virus memiliki empat subfamili yaitu, Alpha, Beta, Gamma, dan Delta. Ditemukan bahwasanya subfamili Alpha dan Beta-Coronavirus yang menginfeksi mamalia. Yang mana biasanya menyebabkan gejala pernafasan pada manusia dan gastroenteritis pada hewan lain (Jin Y et al., 2020).
Gambar 2.1 Struktur Coronavirus (Jin Y et al., 2020).
Virus Corona pertama kali diidentifikasi pada tahun 1960-an dan semenjak tahun 1960-an terdapat tujuh virus corona yang teridentifikasi dapat menginfeksi manusia (HCoV) ( Yang et al., 2020).
CoV memiliki envelope dan RNA single strain positif, dan terdiri dari empat protein struktural, yaitu E (Envelope), M (protein membran), N (protein nukleokapsid), dan S (protein Spike) dengan struktur genom :
5’-leader-UTR-replicase-S(Spike)-E(Envelope)-M(Membrane)-N(Nucleocapsid)-3’.
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.2 Genom Coronavirus (Susilo et al., 2020).
2.2 SARS-CoV-2
Semua virus corona yang menyebabkan penyakit pada manusia, pada umumnya berasal dari kelelawar atau hewan pengerat. Selain itu pada wabah beta-Coronavirus yang dihadapi sebelumnya yaitu pada kasus SARS-CoV dan MERS-CoV, melibatkan paparan langsung dari hewan selain kelelawar kepada manusia. mereka ditularkan langsung oleh musang dan unta.
Gambar 2.3 Asal penyebaran Coronavirus (Rabi FA et al., 2020).
SARS Coronavirus dilapisi oleh protein S(spike), protein S mengandung receptor binding domain (RBD). RBD ini berikatan langsung dengan ACE2 sehingga membantu virus untuk masuk ke sel target yang memiliki ACE2. RBD SARS-CoV-2 tampaknya merupakan versi mutasi dari virus RaTG13 yang merupakan sampel virus dari kelelawar (Rhinolophus
Universitas Sumatera Utara affinis). Oleh karena itu diyakini SARS-CoV-2 berasal dari kelelawar, dan setelah bermutasi dapat menginfeksi hewan lain dan diyakini bahwa mutasi inilah yang membuat afinitas RBD SARS-CoV-2 ini meningkat pada manusia.
Sebelum menginfeksi manusia, trenggiling diyakini sebagai inang sementara SARS-CoV-2. (Rabi FA et al., 2020)
2.3 Epidemiologi
Berawal pada Desember 2019 pada saat penemuan kasus pneumonia di Wuhan, Provinsi Hubei, China hanya dalam beberapa waktu terjadi peningkatan pesat kasus terkonfirmasi Covid-19 di China. sedangkan beberapa negara di Asia, Eropa, dan Amerika juga mulai melaporkan penemuan kasus terkonfirmasi Covid-19 dan diikuti dengan peningkatan kasus yang pesat pula.
Berdasarkan kondisi ini WHO membunyikan alarm darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian seluruh dunia yaitu Public Health Emergency of Internasional Concern (PHIC).
Berdasarkan data WHO pada tanggal 1 Maret 2021 secara global kasus konfirmasi Covid-19 adalah 113.859.451 kasus dengan 2.528.890 kematian (CFR2,2%) dan total negara terjangkit adalah 222 negara. Penyebaran kasus pertama Covid-19 di Indonesia adalah pada tanggal 2 Maret 2020 yang terkonfirmasi 2 orang pasien berasal dari Jakarta. Semenjak kasus pertama, Berdasarkan data kementerian kesehatan hingga 01 Maret 2021, Indonesia menempati urutan pertama kasus konfirmasi tertinggi dengan total kasus konfirmasi 1.341.314 kasus. Di provinsi Sumatera Utara, pada tanggal 01 Maret 2021 melaporkan terdapat 24.666 kasus konfirmasi komulatif dan di kota medan yang dinyatakan sebagai zona merah melaporkan pada tanggal 01 Maret 2021 terhitung 12.644 kasus konfirmasi Covid-19.
2.4 Patogenesis
Universitas Sumatera Utara Gennaro et al., 2020 dalam penelitiannya yang berupa narrative review menjelaskan bahwasanya virus dapat melewati membran mukosa, terutama mukosa nasal dan laring, kemudian memasuki paru-paru melalui traktus respiratorius. Selanjutnya, virus menyerang organ target yang mengekspresikan angiotensin converting enzyme 2 (ACE2), seperti paru-paru, jantung, sistem renal, dan traktus gastrointestinal.
Adanya protein S yang dimiliki SARS-CoV-2 juga berperan penting dalam memfasilitasi masuknya virus corona ke sel target. Dan masuknya virus akan bergantung kepada kemampuan virus untuk berikatan dengan membran ekstraseluler yaitu ACE2, dan bergantung pada proses primming oleh protein S dengan seluler protease TMPRSS2 (Handayani et al., 2020). Protein S pada SARS-CoV-2 memiliki afinitas ikatan yang kuat pada ACE2 manusia. Dan ditemukan bahwa protein S ini memiliki sistem pengenalan yang lebih baik pada manusia dibandingkan dengan SARS-CoV (Zhang et al., 2020).
Faktor virus dengan respon imun menentukan keparahan dari infeksi pemyakit Covid-19 ini, efek sitopatik virus dan kemampuannya dalam mengalahkan respon imun merupakan faktor keparahan infeksi virus. Sistem imun yang tidak adekuat dalam merspon infeksi juga menentukan tingkat keparahan, di sisi lain respon imun yang berlebihan juga ikut andil dalam kerusakan jaringan.
Saat virus masuk ke dalam sel selanjutnya antigen virus akan dipresentasikan ke antigen presentation cell (APC). Presentasi sel ke APC akan merespon sistem imun humoral dan seluler yang dimediasi oleh sel T dan sel B. IgM dan IgG terbentuk dari sistem imun humoral. Pada SARS-CoV IgM akan hilang dalam 12 hari dan IgG akan bertahan lebih lama. Namun virus juga dapat menghindar dari sistem imun dengan cara menginduksi vesikel membran ganda yang tidak mempunyai pattern recognition receptors (PRRs) dan dapat bereplikasi di dalam vesikel tersebut sehingga tidak dikenali oleh sel imun.
(Levani, Y et al., 2021).
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.4 Patogenesis Covid-19 (Susilo et al., 2020).
Pasien konfirmasi positif Covid-19 dengan gejala klinis ringan menunjukkan respon imun didapatkan peningkatan sel T terutama CD8 pada hari 7-9, selain itu ditemukan T helper folikular dan antibody Secreting Cell (ASCs). Pada hari ke 7 hingga hari ke 20, ditemukan peningkatan IgM/IgG secara progresif. Jika dibandingkan dengan kontrol sehat, jumlah monosit CD14+ dan CD16+ mengalami penurunan. Namun pada orang terkonfirmasi Covid-19 dengan tanda dan gejala ringan tidak ditemukan peningkatan kemokin dan sitokin proinflamasi (Levani, Y et al., 2021).
Pada pasien konfirmasi Covid-19 dengan gejala klinis berat memberikan hasil profil imunologi yang berbeda dengan kasus klinis berat yang ditemukan hitung limfosit rendah, serta hasil monosit, basofil dan eosinofil lebih rendah pada pasien Covid-19 dengan klinis berat. Dan ditemukan peningkatan peningkatan mediator proinflamasi (TNF-a, IL 1,IL6, IL8). Namun pada sel helper T, T suppressor dan, T regulator mengalami penurunan pada kasus Covid-19 klinis berat. Pasien Covid-19 yang mengalami Acute Distress Tespiratory Syndrome (ARDS) juga ditemukan sel T CD4 dan CD8 mengalami penurunan, limfosit CD4 danCD8 mengalami hiperaktivasi. ARDS merupakan salah satu penyebab kematian pada kasus Covid-19 yang di akibatkan oleh peningkatan mediator proinflamasi (badai sitokin) yang tidak terkontrol. Dan
Universitas Sumatera Utara hal ini akan mengakibatkan kerusakan paru, terbentuknya jaringan fibrosis sehingga dapat terjadi kegagalan fungsi (Levani, Y et al., 2021).
Gambar 2.5 Patogenesis ARDS pada Covid-19.
2.5 Covid-19 pada Anak
Data epidemiologi menunjukkan bahwa 1% dari anak berusia <10 tahun terinfeksi Covid-19 dan 2,4 % kejadian pada anak usia <18 tahun. Kasus Covid-19 pada anak relatif rendah dan bahkan dengan tingkat kematian hampir 0.
Berdasarkan penelitian Hagmann et al., 2020, dalam studi kasus Covid- 19 pada pediatric dari 2.143 anak yang terkonfirmasi Covid-19 yang di analisa ditemukan 94,1% pasien tidak bergejala (asimptomatik) dan selebihnya digolongkan sebagai kasus ringan, hingga sedang.
Dong et al., 2020 juga melaporkan bahwa dari 2143 anak yang terkonfirmasi Covid-19 lebih dari 90% tidak memiliki gejala klinis, gejala ringan dan sedang. Sisanya 0,6-5,2 % memiliki gejala berat atau kritis.
Berdasarkan publikasi mengenai klasifikasi penyakit di Cina, penyakit parah
Universitas Sumatera Utara atau berat didefenisiskan sebagai dispneu, sianosis sentral, dan saturasi oksigen
<92%. Sedangkan keadaan kritis didefenisikan sebagai gagal nafas, ARDS, syok, dan kegagalan multi organ, koagulasi abnormal, dan gagal ginjal akut.
Besaran kasus Covid-19 yang memiliki gejala berat dan kritis terjadi pada anak adalah 10,6% di usia kurang dari 1 tahun, 7,3 % pada anak usia 1-5 tahun, 4,2 % pada anak usia 6-10 tahun, 4,1% pada anak usia 11-15 tahun, dan 3% pada anak usia 16-17 tahun (Anantyo, D. T et al., 2020).
2.6 Transmisi Covid-19 pada Anak
Covid-19 merupakan patogen yang sangat infeksius dan dapat menginfeksi semua populasi secara umum melalui droplet dan kontak langsung.selain itu transmisi secara focal-oral dan aerosol juga sangat memungkinkan untuk terjadi. Pada beberapa kasus RNA dari virus SARS CoV- 2 juga dijumpai didalam feses.
Dalam studi literatur oleh Anantyo, D. T et al., 2020 konfirmasi positif Covid-19. Sedangkan data lainnya berdasarkan data epidemiologi sebelumnya di Cina juga menunjukkan bahwa 34 anak dari 61 anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 memiliki riwayat kontak dengan keluarga yang terkonfirmasi Covid-19. 68% anak kontak dengan orang dewasa yang positif Covid-19 dan 3% kontak dengan pasien asimptomatik. Selain itu dijelaskan juga transmisi melalui fecal-oral dengan ditandai ditemukannya RNA virus di dalam feses anak. Untuk kasus neonatal masih belum jelas apakah terdapat tranmisi melalui transplasental atau transcervikal.
Derdasarkan data dari Cina, diremukan kasus Covid-19 pada 3 neonatus.
Dari 3 neonatus usia neonatus paling muda adalah 30 jam, dan lahir dalam kondisi ibu yang terkonfirmasi positif Covid-19. Dikarenakan kejadian ini maka dilakukan penelitian lanjutan pada ibu hamil yang terkonfirmasi Covid-19 di rumah sakit Zhongman, Universitan Wuhan. Bayi lahir dalam kondisi sectio dan setelah lahir diambil sampel dari cairan amnion, swab faringeal, kord, dan
Universitas Sumatera Utara ASI, namun semua hasilnya negatif. Hal ini membuat perlunya penelitian lanjutan untuk dilakukan (Anantyo, D. T et al., 2020).
2.7 Klasifikasi Kasus dan Derajat Penyakit Covid-19
Klasifikasi kasus Covid-19 yaitu kasus suspek, kasus probable, kasus konfirmasi, dan kontak erat (Panduan tatalaksana Covid edisi-3, 2020), yaitu : 1. Kasus suspek
Seseorang yang memiliki salah satu dari kriteria berikut :
a. Seseorang yang memenuhi salah satu kriteria klinis DAN salah satu kriteria epidemiologis:
Kriteria klinis :
• Demam akut (>380C)/riwayat demam dan batuk;
ATAU
• Terdapat 3 atau lebih gejala/tanda akut berikut: Demam/riwayat Demam, vatuk, keleahan, sakit kepala, myalgia, nyeri tenggorokan, coryza,/pilek/hidung tersumbat, sesak nafas, anoreksia/mual/muntah, diare, penurunan kesadaran
• Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat tinggal atau bekerja di tempat beresiko tinggi penularan:
ATAU
• Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat tinggal atau bepergian di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal; ATAU
• Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan, baik melakukan pelayanan medis, non medis, serta petugas yang melaksanakan kegiatan investigasi, pemantauan kasus dan kontak; ATAU
Universitas Sumatera Utara b. Seseorang dengan ISPA berat
c. Seseorang tanpa gejala yang tidak memenuhi kriteria epidemiologis dengan hasil rapid antigen SARS-CoV-2 positif
2. Kasus Probable
Seseorang yang memiliki salah satu kriteria berikut : a. Seseorang yang memenuhi kriteria klinis
DAN
Memiliki riwayat kontak erat dengan kasus probable AtAU terkonfirmasi; ATAU berkaitan dengan cluster Covid-19
b. Kasus suspek dengan gambaran Radiologis sugestif ke arah Covid-19 c. Seseorang dengan gejala akut (Anosmia) hilangnya kemampuan indra
penciuman, atau ageusia (hilangnya kemampuan indra perasa) dengan tidak ada penyebab lain yang dapat di identifikasi
d. Orang dewasa yang meninggal dengan distress pernafasan DAN
Memiliki riwayat kontak erat dengan kasus probable atau terkonfirmasi, atau berkaitan dengan cluster Covid-19.
3. Kasus konfirmasi
Seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus Covid-19 dengan kriteria sebagai berikut:
a. Seseorang dengan hasil RT-PCR positif
b. Seseorang dengan hasil rapid antigen SARS-CoV-2 positif DAN Memenuhi kriteria defenisi kasus probable ATAU kasus suspek (kriteria A atau B)
c. Seseorang tanpa gejala (asimptomatik) dengan hasil rapid antigen SARS-CoV-2 positif DAN memiliki riwayat kontak erat dengan kasus probable ATAU terkonfirmasi
Universitas Sumatera Utara Kasus terkonfirmasi terbagi menjadi 2 :
a. Kasus konfirmasi dengan gejala (Simptomatik) b. Kasus konfirmasi tanpa gejala (Asimptomatik) 4. Kontak Erat
Orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi Covid- 19. Riwayat kontak yang di maksud antara lain:
a. Kontak tatap muka/berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih.
b. Sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi (seperti bersalaman, berpegang tangan, dan lain-lain.)
c. Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probable atau konfirmasi tanpa menggunakan APD yang sesuia standar
d. Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat.
Berdasarkan beratnya kasus, Covid-19 dibedakan menjadi tanpa gejala, ringan, sedang, berat, dan kritis (Panduan tatalaksana Covid-19 edisi-3, 2020), yaitu :
1. Tanpa gejala
Kondisi paling ringan. Pasien tidak ditemukan gejala 2. Ringan
Pasien dengan gejala tanpa ada bukti pneumonia virus atau tanpa hipoksia.
Gejala yang muncul seperti demam, batuk, fatigue, anoreksia, napas pendek, mialgia. Gejala tidak spesifik lainnya seperti sakit tenggorokan, kongesti hidung, sakit kepala, diare, mual dan muntah, penghidu (anosmia), atau hilang pengecapan (ageusia) yang muncul sebelum onset gejala pernapasan juga sering dilaporkan. Pasien usia tua dan immunocompromised gejala atipikal seperti fatigue, penurunan
Universitas Sumatera Utara kesadaran, mobilitas menurun, diare, hilang nafsu makan, delirium, dan tidak ada demam.
3. Sedang
Pada pasien remaja atau dewasa: pasien dengan tanda klinis pneumonia (demam, batuk, sesak, napas cepat) tetapi tidak ada tanda pneumonia berat termasuk SpO2 >93% dengan udara ruangan ATAU
Pada anak-anak: pasien dengan tanda klinis pneumonia tidak berat (batuk atau sulit bernapas + napas cepat dan atau tarikan dinding dada) dan tidak ada tanda pneumonia berat. Kriteria napas cepat: usia <2 bulan, >60x/menit; usia 2-11 bulan, >50x/menit; usia 1-5 tahun,
>40x/menit; usia >5 tahun, >30x/menit.
4. Berat
Pada pasien remaja atau dewasa : pasien dengan tanda klinis pneumonia (demam, batuk, sesak, napas cepat) ditambah satu dari: frekuensi napas
>30x/menit, distress pernapasan berat, atau SpO2 <93% pada udara ruangan.
ATAU
Pada pasien anak: pasien dengan tanda klinis pneumonia (demam, batuk, sesak, napas cepat) ditambah setidaknya satu dari berikut ini:
• Sianosis sentral atau SpO2 <93%\
• Distres pernapasan berat (seperti napas cepat, grunting, tarikan dinding dada yang sangat berat)
• Tanda bahaya umum: ketidakmampuan menyusu atau minum, letargi, atau penurunan kesadaran, atau kejang.
• napas cepat/tarikan dinding dada/takipnea: usia <2 bulan,
>60x/menit; usia 2-11 bulan, >50x/menit; usia 1-5 tahun,
>40x/menit; usia >5 tahun, >30x/menit 5. Kritis
Pasein dengan Acute respiratory Distress Syndrome (ARDS), sepsis, dan syok sepsis.
Universitas Sumatera Utara 2.8 Definisi kasus
Definisi operasional kasus COVID-19 pada anak dan neonatus yaitu kasus suspek, kasus probable, kasus konfirmasi dan kontak erat.
Definisi kasus ini mengikuti Panduan Kementerian Kesehatan RI. Pada anak manifestasi klinis dari COVID-19 dapat meliputi manifestasi sistemik di luar gejala respirasi seperti demam yang disertai diare, muntah, ruam, syok, keterlibatan jantung dan organ lain yang dikenal sebagai multisystem inflammatory syndrome pada COVID-19 (MIS-C). Untuk itu, klinisi perlu mengetahui kondisi MIS-C pada anak dan menatalaksananya.
Apabila menemukan tanda dan gejala MIS-C pada anak, klinisi dapat menegakkan diagnosis berdasarkan pemeriksaan serologi antibodi.
Pemeriksaan RT-PCR swab dan Virus
Pemeriksaan swab mengikuti panduan pemeriksaan yang sudah dijelaskan di atas. Pada kasus suspek dan probable COVID-19 dengan hasil swab nasoorofaring negatif, maka pemeriksaan swab dapat dilakukan dari rektal atau spesimen saluran napas bawah (mis. sputum).
Pemeriksaan virus SARS-CoV-2 dapat diambil dari saluran napas, feses, maupun spesimen lain seperti plasenta.
Tata cara pemeriksaan PCR SWAB dan pada proses tatalaksana
• Pengambilan swab di hari ke-1 dan 2 untuk penegakan diagnosis.
Bila pemeriksaan di hari pertama sudah positif, tidak perlu lagi pemeriksaan di hari kedua. Apabila pemeriksaan di hari pertama negatif, diperlukan pemeriksaan di hari berikutnya (hari kedua).
• Pada pasien yang dirawat inap, pemeriksaan PCR maksimal hanya dilakukan sebanyak tiga kali selama perawatan.
• Untuk kasus tanpa gejala, ringan, dan sedang, tidak perlu dilakukan pemeriksaan PCR untuk follow-up. Pemeriksaan follow-up hanya dilakukan pada pasien yang berat dan kritis.
• Untuk PCR follow-up pada kasus berat dan kritis, dapat dilakukan setelah sepuluh hari dari pengambilan swab yang positif.
• Untuk kasus berat dan kritis, bila setelah klinis membaik, bebas demam selama tiga hari namun pada follow-up PCR menunjukkan hasil yang positif, kemungkinan terjadi kondisi positif persisten yang disebabkan oleh terdeteksinya fragmen atau partikel virus yang sudah tidak aktif. Pertimbangkan nilai Cycle Threshold (CT value) untuk menilai infeksius atau tidaknya dengan berdiskusi antara DPJP dan laboratorium pemeriksa PCR karena nilai cut-off
Universitas Sumatera Utara berbeda-beda sesuai dengan reagen dan alat yang digunakan
(PDPI et al., 2020).
Pemeriksaan rapid antibodi dan antigen terhadap SARS-COV-2 Pemeriksaan antibodi digunakan untuk mengetahui seroprevalensi yang membantu surveilans epidemiologi COVID-19. Pemeriksaan rapid antibodi positif pada anak dengan kecurigaan MIS-C, walaupun hasil PCR SARS-CoV- 2 negatif, diagnosis MIS-C tetap dapat ditegakkan. Hal ini didasarkan atas manifestasi klinis MIS-C dapat timbul setelah 2-4 minggu pasca awitan.
Pada saat ini WHO (16 Desember 2020) memasukkan rapid antigen sebagai tes diagnostik dalam penegakkan kasus COVID-19.
Penggunaan tes ini dapat membantu apabila sarana pemeriksaan RT-PCR terbatas, harganya lebih murah dan hasil lebih cepat. Namun, perlu ketepatan dalam waktu dan cara pengambilan sampel.
Tata laksana kasus suspek/probable/konfirmasi suspek COVID-19 Tata laksana kasus COVID-19 meliputi tata laksana standar yang terdiri atas tata laksana suportif meliputi farmakologis dan non
farmakologis serta tata laksana pemberian antivirus.
1. Kontak Erat Tanpa gejala a. Karantina dan Pemantauan
Karantina di rumah selama 14 hari
Pasien melakukan pemantauan mandiri di rumah dan dipantau melalui telepon/telekonsultasi oleh petugas FKTP atau tenaga kesehatan lainnya Kontrol di FKTP setelah 14 hari karantina untuk pemantauan klinis.
b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan PCR mengikuti panduan di atas c. Non-farmakologis
Nutrisi adekuat
Berikanedukasi terkait tindakan yang perlu dikerjakan (leaflet untuk dibawa ke rumah) Pasien:
- Pasien mengukur suhu tubuh 2 kali sehari, pagi dan malam hari
- Selalu menggunakan masker jika ke luar kamar dan saat berinteraksi dengan anggota keluarga - Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau
hand sanitizer
Universitas Sumatera Utara sesering mungkin
- Jaga jarak dengan keluarga (physical distancing) - Upayakan kamar tidur sendiri/terpisah
- Upayakan WC/toilet terpisah, apabila tidak memungkinkan menggunakan WC/toilet paling akhir (setelah anggota keluarga lainnya)
- Menerapkan etiket batuk (diajarkan oleh tenaga medis) - Alat makan-minum segera dicuci dengan air/sabun - Berjemur matahari minimal sekitar 10-15 menit setiap
harinya
- Pakaian yang telah dipakai sebaiknya dimasukkan dalam kantong plastik /wadah tertutup yang terpisah dengan pakaian kotor keluarga yang lainnya sebelum dicuci (siapa tau gak punya mesin cuci)
- Membersihkan lingkungan kamar dan WC/toilet yang digunakan
- Ukur dan catat suhu tubuh tiap jam 7 pagi, jam 12 siang dan jam 19 malam
- Segera berinformasi ke petugas pemantau/FKTP atau keluarga jika terjadi peningkatan suhu tubuh >38°C, sesak napas, atau munculnya keluhan kesehatan lainnya
Lingkungan/kamar:
- Perhatikan ventilasi, cahaya, dan udara - Membuka jendela kamar secara berkala
- Menggunakan APD saat membersihkan kamar (setidaknya masker, dan bila memungkinkan sarung tangan dan goggle)
- Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin
- Bersihkan kamar setiap hari, bisa dengan air sabun atau bahan desinfektan lainnya.
Keluarga:
Bagi anggota keluarga yang berkontak erat dengan pasien sebaiknya memeriksakan diri ke FKTP/Rumah Sakit
- Anggota keluarga senantiasa pakai masker - Jaga jarak minimal 1-meter dari pasien - Senantiasa mencuci tangan
- Jangan sentuh daerah wajah kalau tidak yakin tangan bersih
- Ingat senantiasa membuka jendela rumah agar sirkulasi udara tertukar
Universitas Sumatera Utara - Bersihkan sesering mungkin daerah yang
mungkin tersentuh pasien misalnya gagang pintu dll.
2. Tanpa gejala terkonfirmasi,
suspek/probable/terkonfirmasi ringan a. Isolasi dan Pemantauan
Rawat jalan, isolasi mandiri b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan PCR ulang mengikuti panduan di atas.
c. Non-farmakologis Nutrisi adekuat
Edukasi terkait tindakan yang harus dilakukan (sama dengan edukasi kontak erat tanpa gejala).
d. Farmakologis
Perawatan suportif
Pemberian Vit C (1-3 tahun maksimal 400mg/hari;
4-8 tahun maksimal 600mg/hari; 9-13 tahun maksimal 1,2gram/hari; 12-18 tahun maksimal 1,8gram/hari) dan Zink 20mg/hari atau obat suplemen lain dapat dipertimbangkan untuk diberikan meskipun evidence belum menunjukkan hasil yang meyakinkan.
Pada pasien dengan gejala ringan namun memiliki komorbid, perlu dipertimbangkan tata laksana sebagaimana pasien dengan gejala sedang 3. Suspek/Probable/ Terkonfirmasi Sedang
a. Isolasi dan Pemantauan Rawat inap isolasi b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan swab PCR mengikuti ulang mengikuti panduan di atas.
Pemeriksaan laboratorium darah rutin dengan hitung jenis dan foto toraks, jika memungkinkan diperiksa pula CRP. Pemeriksaan lain seperti fungsi hati, fungsi ginjal, dan pemeriksaan lainnya sesuai indikasi/sesuai komorbid.
Orangtua penunggu pasien diperiksakan swab naso-orofaring c. Non-farmakologis
Oksigenasi. Pada keadaan ini terdapat takipnu yang secara cepat menjadi hipoksia, maka perlu disiapkan oksigen
Infus cairan maintenance Nutrisi adekuat.
Universitas Sumatera Utara d. Farmakologis
Perawatan suportif
Pemberian antivirus untuk SARS-CoV-2 (Tabel 12) Antibiotik empirik lebih disukai dosis tunggal atau sekali sehari karena alasan infection control, yaitu ceftriaxon IV 50- 100 mg/kgBB/24jam pada kasus pneumonia komunitas atau terduga ko-infeksi dengan bakteri dan/atau Azitromisin 10 mg/kg jika dicurigai disertai dengan pneumonia atipikal (DPJP dapat memberikan jenis antibiotik lain sesuai dengan keputusan klinis, dengan menyesuaikan dengan pola kuman rumah sakit)
Jika dicurigai ko-infeksi dengan influenza diberikan Oseltamivir
o < 1 tahun: 3 mg/kg/dosis setiap 12 jam o > 1 tahun:
▪ BB < 15 kg: 30 mg setiap 12 jam
▪ BB 15-23 kg: 45 mg setiap 12 jam
▪ BB 23-40 kg: 60 mg setiap 12 jam
▪ >40 kg: 75 mg setiap 12 jam
Kortikosteroid
Pemberian Vit C (1-3 tahun maksimal 400mg/hari;
4-8 tahun maksimal 600mg/hari; 9-13 tahun maksimal 1,2gram/hari; 12-18 tahun maksimal 1,8gram/hari) dan Zink 20mg/hari atau obat suplemen lain dapat dipertimbangkan untuk diberikan meskipun evidence belum menunjukkan hasil yang meyakinkan.
4. Kasus suspek berat dan kritis a. Isolasi dan Pemantauan
Rawat inap – isolasi tekanan negatif.
b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan swab PCR mengikuti panduan di atas
Orangtua penunggu pasien diperiksakan swab naso-orofaring Pemantauan laboratorium darah rutin berikut dengan
hitung jenis dan foto toraks, ditambahkan dengan analisis gas darah untuk menilai kondisi hipoksia yang akurat dan CRP. Pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, elektrolit, faktor koagulasi seperti d- dimer, fibrinogen, PT/APTT, penanda inflamasi seperti ferritin, LDH, dan marker jantung seperti troponin/NT-pro BNP dan EKG sesuai indikasi.
Non-farmakologis Terapi Oksigen Infus cairan
Universitas Sumatera Utara Nutrisi adekuat, jika diputuskan menggunakan
OGT/NGT maka harus dilakukan di ruangan isolasi tunggal atau bertekanan negatif dengan menerapkan standard PPI dengan APD level 3.
c. Farmakologis
Perawatan suportif
Pemberian antivirus untuk SARS-CoV-2 (Tabel 2) Antibiotik empirik lebih disukai dosis tunggal atau sekali sehari karena alasan infection control, yaitu ceftriaxon IV 50- 100 mg/kgBB/24jam pada kasus pneumonia komunitas atau terduga ko-infeksi dengan bakteri dan/atau Azitromisin 10 mg/kg jika dicurigai disertai dengan pneumonia atipikal (DPJP dapat memberikan jenis antibiotik lain sesuai dengan keputusan klinis, dengan menyesuaikan dengan pola kuman rumah sakit)
Jika dicurigai ko-infeksi dengan influenza
diberikan Oseltamivir (dosis seperti di penanganan kasus sedang)
Kortikosteroid
Pemberian Vit C (1-3 tahun maksimal 400mg/hari;
4-8 tahun maksimal 600mg/hari; 9-13 tahun maksimal 1,2gram/hari; 12-18 tahun maksimal 1,8gram/hari) dan Zink 20mg/hari
atau obat suplemen lain dapat dipertimbangkan untuk diberikan meskipun evidence belum menunjukkan hasil yang meyakinkan.
5. Kasus probable/konfirmasi berat dan kritis, MIS-C a. Isolasi dan Pemantauan
Ruangan intensif tekanan negatif (sesuai kondisi setempat).
b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan swab PCR mengikuti panduan di atas Pemantauan laboratorium darah rutin berikut dengan hitung jenis dan foto toraks, ditambahkan dengan analisis gas darah untuk menilai kondisi hipoksia yang akurat dan CRP. Pemeriksaan fungsi ginjal, fungsi hati, elektrolit, faktor koagulasi seperti d-dimer, fibrinogen, PT/APTT, penanda inflamasi seperti ferritin, LDH, IL-6 dan marker jantung seperti troponin/NT-pro BNP,
ekokardiografi dan EKG sesuai indikasi.
c. Non-farmakologis Terapi oksigen Infus cairan
Nutrisi adekuat, jika diputuskan menggunakan
Universitas Sumatera Utara OGT/NGT maka harus dilakukan di ruangan
tekanan negatif dengan menerapkan standard PPI dengan APD level 3.
d. Farmakologis
Perawatan suportif
Pemberian antivirus untuk SARS-CoV-2 (Tabel 12) Antibiotik empirik lebih disukai dosis tunggal atau sekali sehari karena alasan infection control, yaitu ceftriaxon IV 50- 100 mg/kgBB/24jam pada kasus pneumonia komunitas atau terduga ko-infeksi dengan bakteri dan/atau Azitromisin 10 mg/kg jika dicurigai disertai dengan pneumonia atipikal (DPJP dapat memberikan jenis antibiotik lain sesuai dengan keputusan klinis, dengan menyesuaikan dengan pola kuman rumah sakit)
Jika dicurigai ko-infeksi dengan influenza boleh diberikan Oseltamivir
Kortikosteroid
Pemberian Vit C (1-3 tahun maksimal 400mg/hari;
4-8 tahun maksimal 600mg/hari; 9-13 tahun maksimal 1,2gram/hari; 12-18 tahun maksimal 1,8gram/hari) dan Zink 20mg/hari atau obat suplemen lain dapat dipertimbangkan untuk diberikan meskipun evidence belum menunjukkan hasil yang meyakinkan.
Pemberian IVIG, kortikosteroid, antikoagulan, antiinflamasi lain seperti anti IL-6 diberikan dengan pertimbangan hati-hati melalui diskusi dengan tim COVID-19 rumah sakit.
Pemberian antivirus potensial dan anti-inflamasi untuk infeksi COVID-19
Terapi definitif untuk COVID-19 masih terus diteliti, namun laporan efektivitas dan keamanan obat antivirus tersebut adalah pada pasien dewasa, sedangkan pada anak masih dalam penelitian. Pemberian anti SARS-CoV-2 pada anak harus mempertimbangkan derajat beratnya penyakit dan komorbid, serta persetujuan orang tua. Dosis pemberian antivirus potensial dan durasi pemberiannya dapat dilihat pada Tabel 12.
Pemantauan derajat keparahan pasien pada kasus anak dengan Covid-19
Pemantauan derajat keparahan pasien yang disepakati oleh pakar intensif anak adalah nilai rasio SpO2/FiO2 (SF ratio) Pada pasien dengan tunjangan pernapasan non-invasif dapat
Universitas Sumatera Utara digunakan indeks saturasi oksigen (Oxygen Saturation
Index/OSI)
Pada pasien dengan ventilasi mekanik invasif dapat dihitung indeks oksigenasi (Oxygenation Index/OI)
Kadar FiO2 disesuaikan untuk mencapai target saturasi perifer atau SpO2< 97% agar validitas penghitungan SF rasio dan OSI dapat dijaga
Prediksi perburukan pirau intrapulmonal dapat dilakukan dengan menghitung dan memantau AaDO2
Kriteria P-ARDS yang digunakan sesuai dengan kriteria Pediatric Acute Lung Injury Conference Consensus (PALICC)
2.8 Kerangka Teori
Struktur
Defenisi
patogenesis
Coronavirus
COVID 19
Gejala
Penegakan Diagnosis
Epidemiologi
Epidemiologi
Transmisi
Komorbid
Tatalaksana Prognosis
• Farmakologi
• Non Farmakologi
Gambar 2.6 kerangka Teori
Universitas Sumatera Utara 2.9 Kerangka Konsep
Gambar 2.7 Kerangka Konsep
COVID-19
1. Jenis kelamin 2. Usia
3. Demam 4. Batuk 5. Pilek 6. Sesak nafas 7. Anosmia 8. Ruam
9. Mual/Muntah 10. Sakit kepala 11. Diare 12. komo
Universitas Sumatera Utara BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain retrospektif. yang mana metode ini bertujuan untuk menggambarkan atau membuat deskripsi mengenai suatu kondisi atau keadaan secara objektif dengan melihat ke belakang. Dengan menggunakan data sekunder yang berasal dari rekam medik di RSUP H. Adam Malik.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini di lakukan di RSUP H. Adam Malik dengan waktu pengambilan data dilaksanakan di bualan Juni hingga Juli 2021
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien Covid-19 anak yang dirawat di RSUP H. Adam Malik.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel merupakan bagian dari populasi yang mewakili populasi penelitian.
Sampel pada penelitian ini adalah pasien Covid-19 anak yang memiliki data rekam medis yang dirawat di RSUP H. Adam Malik.
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik Total Sampling.
3.4 Kriteria inklusi dan ekslusi
Kriteria inklusi semua rekam medis pasien Covid-19 anak yang di rawat di RSUP H Adam Malik.
Kriteria ekslusi rekam medis yang tidak lengkap 3.5 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang berasal dari pencatatan rekam medik pasien Covid-19 anak yang dirawat di RSUP H. Adam Malik. Rekam medik di kumpulkan dan dilakukan tubulasi atau pencatatan sesuai dengan jenis variabel yang akan diteliti.
Universitas Sumatera Utara 1. Editing, yaitu data dimasukkan kedalam form excel dan melihat kembali
apakah ada data yang terlewat didata.
2. Coding, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
3. Data Entry, yakni memasukkan data yang telah diskor kedalam komputer/program SPSS
4. Cleaning, mengecek kembali data yang sudah di entry apakah ada kesalahan atau tidak sehingga terhindar dari kesalahan pengolahan data.
Universitas Sumatera Utara
3.5 Tabel defenisi operasional
No. Variabel Defenisi Cara
Ukur
Alat Ukur Hasil Ukur Skala
1 Jenis Kelamin
Jenis kelamin adalah karakteristik biologis anatomis diikuti dengan karakteristik fisiologis tubuh yang menentukan seseorang adalah laki-laki atau perempuan (Depkes RI 2002)
Melihat Data rekam medik
Data rekam medik RSUP H.
Adam Malik
1. Laki-laki 2. Perempuan
Nominal
2. Gejala Keadaan yang menjadi tanda-tanda akan timbulnya sesuatu (KBBI)
Melihat Data rekam medik
Data rekam medik RSUP H.
Adam Malik
1. gejala spesifik (demam, batuk, fatigue, anoreksia, napas pendek, mialgia.)
2. gejala tidak spesifik (sakit tenggorokan, kongesti hidung, sakit kepala, diare, mual, muntah, penghidu (anosmia), hilang pengecapan (ageusia))
Nominal
Universitas Sumatera Utara covid 19 19 berdasarkan hasil RT-PCR Data
rekam medik
rekam medik RSUP H.
Adam Malik
2. negatif
4. Swab PCR
Gold Standart Diagnostik Covid 19 (WHO)
Melihat Data rekam medik
Data rekam medik RSUP H.
Adam Malik
1. positif 2. negatif
Nominal
5. usia lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan) (KBBI)
Melihat Data rekam medik
Data rekam medik RSUP H.
Adam Malik
1. 0-<5tahun 2. 6-<11 tahun 3. 12-<18 tahun
Ordinal`
Universitas Sumatera Utara komorbiditas yaitu terdapatnya dua atau
lebih penyakit yang terdiagnosis medis secara bersamaan pada individu yang sama, dengan masing-masing diagnosis penyakit yang berkontribusi didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan dan dikenal luas
Data rekam medik
rekam medik RSUP H.
Adam Malik
2. Tidak ada
Universitas Sumatera Utara 3.6 Metode Analisis Data
Analisa data akan dilakukan secara bertahap, yaitu pengumpulan data, pengolahan data, penyajian data, analisis/interpretasi data, dan penentuan kesimpulan. Data yang dikumpulkan akan dideskripsikan atau digambarkan menggunakan perangkat lunak statistik dan di distribusikan secara deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi dan dilakukan pembahasan sesuai dengan pustaka yang ada.
Universitas Sumatera Utara BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik pada bagian rekam medis. Pada penelitian ini sampel yang digunakan merupakan seluruh rekam medis pasien covid pada anak di RSUP H. Adam Malik pada periode juli 2020- Januari 2021. Dan hasil dari data yang telah terkumpul akan disusun dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.
Berdasarkan rekam medis pasien Covid pada anak di RSUP H. Adam Malik pada periode juli 2020 sampai Januari 2021 menunjukkan terdapat total 264 pasien.
Pasien Covid pada anak cenderung didominasi oleh pasien dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 143 pasien (54,2%) dibandingkan dengan jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 121 pasien (45,6%). Sebagaimana terlihat pada tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 jumlah pasien laki-laki dan perempuan
Jenis kelamin Frekuensi (n=264) Persentase (%)
laki-laki 143 54,2
Perempuan 121 45,8
Berdasarkan hasil tersebut prevalensi kasus covid pada anak laki-laki cenderung lebih banyak dari pada anak perempuan. Dan hasil ini sama dengan hasil dari beberapa penelitian sebelumnya yaitu oleh Han et al (2020) yang mendapatkan hasil jumlah pasien anak laki-laki adalah (58%) sedangkan anak perempuan (42%). Selain itu pada penelitian Zheng et al 2020 juga mendapatkan hasil yang sama yaitu sebanyak (56%) anak laki-laki dan (44%) anak perempuan.
Namun untuk saat ini diketahui bahwasanya pada Penelitian Penna et al.
(2020) menemukan adanya perbedaan jumlah sel CD4+ T pada jenis kelamin, dan ditemukan sel CD4+ yang lebih tinggi pada perempuan dimana dengan
Universitas Sumatera Utara respon imun yang lebih baik. Selain itu, pada perempuan didapatkan bahwa ekspresi ACE-2 lebih rendah karena adanya kombinasi dari dua gen terkait-X dibandingkan dengan ekspresi yang timbul dari keterkaitan-X dan homolog Y pada laki-laki (Penna et al., 2020). Dan sedikit bertentangan dengan hasil pada penelitian Gemmati et al. (2020) dimana hasilnya menunjukkan tidak adanya perbedaan ekspresi terhadap imun tubuh yang dimediasi berdasarkan perbedaan jenis kelamin.
Tabel 4.2 Usia pasien
Usia Frekuensi (n=264) Persentase
(%)
0-<5 tahun 98 37,0
6-<11 tahun 67 25,3
12-<18 tahun 100 37,7
Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa kelompok usia pasien didominasi oleh anak dengan kelompok usia 12-<18 tahun yaitu sebanyak 100 anak (37,7%), diikuti oleh kelompok usia 0-<5 tahun sebanyak 98 anak (37%), Dan paling sedikit oleh kelompok usia 6-<11 tahun yaitu sebanyak 67 anak (25,3%).
Pada hasil ditemukan bahwasanya jumlah kelompok usia 0-<5 tahun hampir sama dengan kelompok usia 11-<18 tahun dimana memiliki persentase 37%. Dan memang secara mobilitas kelompok usia 11-<18 tahun akan memiliki mobilitas yang lebih banyak dibandingkan kelompok usia lainnya. namun secara tingkat imunitas kelompok usia 0-<5 tahun dianggap lebih rentan karena imun bayi baru lahir masih dalam tahap perkembangan dan hanya mengandalkan antibodi maternal. Namun pada rekam medis ditemukan informasi bahwasanya mayoritas anak yang terpapar memiliki riwayat kontak dengan keluarga yang terpapar
Pada beberapa penelitian memang ditemukan bahwasanya rata-rata usia pasien Covid-19 pada anak adalah 3,9 dan 11 tahun. penelitian Han et al. (2020)
Universitas Sumatera Utara menunjukkan bahwa kelompok usia yang mendominasi adalah kelompok usia 16-18 tahun sebanyak (36%). Sedangkan pada penelitian Zheng etal.(2020) menunjukkan bahwa kelompok usia yang mendominasi adalah kelompok usia 4- 18 tahun sebanyak (78,9%).
Dengan melihat hasil penelitian dan hasil dari penelitian sebelumnya bisa dikatakan bahwasanya hampir semua kelompok usia anak rentan terkena Covid- 19 dan dibutuhkan penelitian lebih lanjut
Tabel 4.3 karakteristik klinis
Gejala Frekuensi (n=264) Persentase
(%)
Demam 189 71,6
Batuk 163 61,7
Pilek 89 33,7
Sesak nafas 35 13,3
Anosmia 21 8,0
Ruam 2 0,8
Mual/muntah 31 11,7
Diare 37 14,0
Sakit kepala 25 9,5
Berdasarkan tabel 4.3 diatas ,ditemukan karakteristik klinis yang paling banyak dijumpai adalah demam, yang ditemukan pada 189 pasien(71,6%), diikuti oleh karakteristik klinis lain yaitu Batuk pada 163 pasien(61,7%), Pilek pada 89 pasien (33,7%), diare pada 37 pasien(14%), sesak nafas pada 35 pasien(13,3%), Mual dan muntah pada 31 pasien(11,7%), sakit kepala pada 25
Universitas Sumatera Utara pasien(9,5%), Anosmia pada 21 pasien(8%), Ruam pada 2 pasien(0,8%). Hasil ini sama dengan penelitian Zheng et al. (2020) yang mendapatkan bahwa gejala utama merupakan demam pada (52%) pasien dan diikuti oleh batuk (44%), dan selebihnya gejala yang lain.
Tabel 4.4 komorbid yang menyertai
Komorbid Frekuensi (n=264) Persentase (%)
tidak ada komorbid 258 97,7
ada komorbid 6 2,3
Pasien anak yang dirawat cenderung tidak memiliki komorbid yaitu sebanyak 258 anak 97,7% dibandingkan dengan anak yang memiliki komorbid.
Pada hasil didapatkan hanya 6 anak yang memiliki riwayat komorbid yaitu 2 anak memiliki riwayat osteosarcoma, 1 anak dengan epilepsi, 1 anak dengan gangguan hati, dan 2 anak dengan asma.
Pada anak yang memiliki riwayat komorbid berdasarkan penelitian Williams et al., 2020 menunjukkan jika anak memiliki penyakit penyerta (komorbid) juga memiliki kecenderungan untuk terkena penyakit kritis setelah terinfeksi Covid-19.
Hasil ini sama dengan penelitian Han et al. (2020) dimana dari hasil penelitiannya menunjukkan 93% pasien anak tidak memiliki penyakit yang mendasari, dan 7% anak memiliki penyakit yang mendasari (penyerta). Selain itu pada Hasil artikel Zheng et al. (2020) juga menunjukkan bahwa 2 dari 25 anak yang memiliki penyakit yang mendasari. Anak pertama menderita penyakit jantung bawaan, malnutrisi, dan dugaan penyakit metabolik keturunan.
Satu anak lainnya menderita penyakit jantung bawaan. Namun, kedua anak tersebut sudah menjalani operasi. Sementara itu, 52 anak pada artikel Zheng et al. (2020) tidak ada yang memiliki penyakit penyerta.
Universitas Sumatera Utara BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dideskripsikan sebelumnya, diambil kesimpulan sebagai berikut
1. Berdasarkan data jumlah dan jenis kelamin terdapat 264 pasien yang didominasi oleh pasien laki-laki sebanyak 143 (54,2%), dan perempuan sebanyak 121(45,8%).
2. Berdasarkan pengelompokan usia ditemukan bahwa pasien terbanyak terdapat pada kelompok usia usia 12-<18 tahun yaitu sebanyak 100 anak (37,7%) 3. Karakteristik klinis pada pasien covid anak yang paling utama adalah ditemukan karakteristik klinis yang paling banyak dijumpai adalah demam (71,6%), diikuti oleh Batuk (61,7%), dan Pilek (33,7%)
4. Pada pasien anak dijumpai tidak memiliki komorbid (97,7%) dibandingkan dengan anak yang memiliki komorbid (2,3%)
Universitas Sumatera Utara 5.2 Saran
1. Pada hasil dan pembahasan ditemukan bahwasanya jenis kelamin laki- laki lebih rentan terpapar Covid-19 namun terdapat beberapa penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwasanya jenis kelamin tidak mempengaruhi kerentanan terpapar Covid-19
2. Dari penelitian ini juga diharapkan adanya penelitian lebih lanjut dan berkelanjutan mengenai karakteristik Covid-19 Pada anak hal ini dilihat berdasarkan data yangj masih minim
Universitas Sumatera Utara Anantyo, D. T., Kusumaningrum, A. A., Rini, A. E., Radityo, A. N., Rahardjani, K. B., & Sarosa, G. I. (2020). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Pada Anak (Studi Literatur). Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine, 7(1A), 344-360.
Di Gennaro, F., Pizzol, D., Marotta, C., Antunes, M., Racalbuto, V., Veronese, N.,
Smith, L. (2020). Coronavirus diseases (COVID-19) current status and future perspectives: a narrative review. International journal of environmental research and public health, 17(8), 2690.
Dong, Y., Mo, X. I., Hu, Y., Qi, X., Jiang, F., Jiang, Z., & Tong, S. (2020).
Epidemiological characteristics of 2143 pediatric patients with 2019 coronavirus disease in China. Pediatrics, 145(6), e20200702.
Dong, Y., Mo, X., Hu, Y., Qi, X., Jiang, F., Jiang, Z., & Tong, S. (2020).
Epidemiology of COVID-19 among children in China. Pediatrics, 145(6).
Etika, R., Handayani, K. D., Hartiastuti, S. M., Diana, V., Harahap, A., Prasetya, O., & Masturina, M. (2021). Gambaran Klinis dan Karakteristik Neonatus dari Ibu Terkonfimasi Covid-2019 di Rumah Sakit Dr. Soetomo. Sari Pediatri, 22(5), 285-9.
Hagmann, S. H. (2020). COVID-19 in children: More than meets the eye.
Travel medicine and infectious disease.
Handayani, D., Hadi, D. R., Isbaniah, F., Burhan, E., & Agustin, H. (2020).
Penyakit Virus Corona 2019. Jurnal Respirologi Indonesia, 40(2), 119-129.
Huang, C., Wang, Y., Li, X., Ren, L., Zhao, J., Hu, Y., ... & Cao, B. (2020).
Clinical features of patients infected with 2019 novel coronavirus in Wuhan, China. The lancet, 395(10223), 497-506.
Huang, X., Wei, F., Hu, L., Wen, L., & Chen, K. (2020). Epidemiology and Clinical Characteristics of COVID-19. Archives of Iranian Medicine, 23(4), 268–
271. https://doi.org/10.34172/aim.2020.09
Ikatan Dokter Anak Indonesia. IDAI. Panduan klinis tata laksana COVID- 19 pada anak. 2020.
Universitas Sumatera Utara Jin, Y., Yang, H., Ji, W., Wu, W., Chen, S., Zhang, W., & Duan, G. (2020).
Virology, epidemiology, pathogenesis, and control of COVID-19. Viruses, 12(4), 372.
Levani, Y., Prastya, A. D., & Mawaddatunnadila, S. (2021). Coronavirus Disease 2019 (COVID-19): Patogenesis, Manifestasi Klinis dan Pilihan Terapi.
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan, 17(1), 44-57.
Mi Seon Hon, MD, PhD; Eun Hwa Choi, MD, PhD; Sung Hee Chang, MD;
Byoung-Lo Jin, MD; Eun Joo Lee, MD; Baek Nam Kim, MD; Min Kyoung Kim, MD; Kihyun Doo, MD; Ju-Hee Seo, MD, PhD; Yae-Jean Kim, MD, PhD; Yeo Jin Kim, MD; Ji Young Park, MD, PhD; Sun Bok Suh, MD, P. (2020). Clinical Characteristics and Viral RNA Detection in Children With Coronavirus Disease 2019 in the Republic of Korea. JAMA Pediatrics, 03080, 1–8.
https://doi.org/10.1001/jamapediatrics.2020.3988
Notoatmodjo, S. 2012, Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta. PENYUSUN, T. PEDOMAN TATALAKSANA COVID-19 edisi-3. 2020
Rabi, F. A., Al Zoubi, M. S., Kasasbeh, G. A., Salameh, D. M., & Al-Nasser, A. D. (2020). SARS-CoV-2 and coronavirus disease 2019: what we know so far.
Pathogens, 9(3), 231.
Stokes, E. K., Zambrano, L. D., Anderson, K. N., Marder, E. P., Raz, K. M., Felix, S. E. B., ... & Fullerton, K. E. (2020). Coronavirus disease 2019 case surveillance— United States, January 22–May 30, 2020. Morbidity and Mortality Weekly Report, 69(24), 759..
Susilo, A., Rumende, C. M., Pitoyo, C. W., Santoso, W. D., Yulianti, M., Herikurniawan, H., ... & Yunihastuti, E. (2020). Coronavirus disease 2019:
Tinjauan literatur terkini. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 7(1), 45-67.
Zhang, H., Penninger, J. M., Li, Y., Zhong, N., & Slutsky, A. S. (2020).
Angiotensin - Converting Enzyme 2 ( ACE2 ) as a SARS - CoV - 2 Receptor : Molecular Mechanisms and Potential Therapeutic Target. Intensive Care Medicine, 46(4), 586–590.
Zhang, Y., Zhang, C., Hu, Y., Yao, H., Zeng, X., Hu, C., Zhao, L., Zhang, X., & Ye, X. (2020). Clinical features and outcomes of seven patients with COVID-
Universitas Sumatera Utara 19 in a family cluster. BMC Infectious Diseases, 20(1), 1–14.
https://doi.org/10.1186/s12879-020-05364-1
Zheng, G., Wang, B., Zhang, H., Xie, C., Zhang, Y., Wen, Z., Guo, Q., Zhu, H., Ye, G., Liang, J., Meng, Q., Xie, J., Jiang, S., Liu, G., Gao, W., Wang, Y., &
Guo,
Y. (2020). Clinical characteristics of acute respiratory syndrome with SARS - CoV - 2 infection in children in South China. June, 1–8.
https://doi.org/10.1002/ppul.24921
Zimmermann, P., & Curtis, N. (2020). Coronavirus infections in children including COVID-19: an overview of the epidemiology, clinical features, diagnosis, treatment and prevention options in children. The Pediatric infectious disease journal, 39(5), 355.
Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama
Tempat/ Tanggal lahir Agama
Alamat
No. Telp/ Email
: Cj Randas Senggado
: Pondok Siguang/ 11 September 2000 : Islam
: jl. Sukabaru No. 18
: 082281967628/
Riwayat Pendidikan : 1. SDN/III Pondok Siguang 2. MTsn Danau Kerinci 3. MAN 1 Sungai Penuh
4. Fakultas Kedokteran USU : 2018-sekarang
Riwayat Pelatihan :
1. Peserta MMB FK USU 2018
2. Peserta LKMM ISMKI FK USU 2018
3. Basic Training (Latihan Kader I) HMI Cabang Medan dengan Panitia Pelaksana HMI Komisariat FK USU 2018
4. Intermediate Training (Latihan Kader II) HMI Cabang Jambi 2021
Universitas Sumatera Utara Riwayat Organisasi :
1. Wakil Sekretaris Umum HMI Komisariat FK USU 2018-2019 2. Sekretaris Umum HMI Komisariat FK USU 2018-2019 3. Ketua Umum HMI Komisariat FK USU Periode 2020-2021