• Tidak ada hasil yang ditemukan

Market Brief: Herbs & Spices

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Market Brief: Herbs & Spices"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)

Market Brief: Herbs & Spices

ITPC Los Angeles

2013

(2)

Daftar Isi

Kata Pengantar ……….………...………5

Peta Amerika Serikat ………...………...…6

Bab I. Pendahuluan ……….………...………….………7

1.1. Pemilihan Negara ……….…..……….……….7

1.2. Pemilihan Produk ………...………..8

1.3. Profil Amerika Serikat ………..………...9

Bab II. Potensi Pasar Amerika Serikat ….……….………….………….……..12

2.1. Perdagangan Produk Bumbu dan Rempah-Rempah Amerika Serikat – Dunia …….15

2.2. Potensi Pasar Ekspor Bumbu dan Rempah-Rempah di Amerika Serikat …………..22

2.3. Kebijakan Impor Bumbu dan Rempah-Rempah di Negara Amerika Serikat ………23

2.4. Pemasaran Produksi ………...…………...………...………...……...26

Bab III. Peluang dan Strategi ………....29

3.1. Peluang ……….………...29

3.2. Strategi ………...32

Bab IV. Informasi Penting ………....34

4.1. TPO dan atau Kedutaan Negara Amerika Serikat di Indonesia ……..………...……34

4.2. Kamar Dagang Amerika Serikat ….…………...………...………...…...34

4.3. Daftar Pameran Bumbu dan Rempah-Rempah di Amerika Serikat...36

4.4. Perwakilan Indonesia di Amerika Serikat ……...………...………...37

4.5. Daftar Importir Bumbu dan Rempah-Rempah di Amerika Serikat ...39

(3)

Daftar Tabel dan Grafik

Tabel 1.1 Data Industri Bumbu dan Rempah-Rempah AS 2004-2018...8 Tabel 1.2 Perkembangan Impor HS 0901 Amerika Serikat dari Indonesia dan

Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012...17 Tabel 1.3 Perkembangan Impor HS 0902 Amerika Serikat dari Indonesia dan

Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012 ...17 Tabel 1.4 Perkembangan Impor HS 0903 Amerika Serikat dari Indonesia dan

Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012 ...18 Tabel 1.5 Perkembangan Impor HS 0904 Amerika Serikat dari Indonesia dan

Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012 ...18 Tabel 1.6 Perkembangan Impor HS 0905 Amerika Serikat dari Indonesia dan

Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012 ...19 Tabel 1.7 Perkembangan Impor HS 0906 Amerika Serikat dari Indonesia dan

Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012 ...19 Tabel 1.8 Perkembangan Impor HS 0907 Amerika Serikat dari Indonesia dan

Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012 ...20 Tabel 1.9 Perkembangan Impor HS 0908 Amerika Serikat dari Indonesia dan

Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012 ...20 Tabel 1.10 Perkembangan Impor HS 0909 Amerika Serikat dari Indonesia dan

Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012 ...21 Tabel 1.11 Perkembangan Impor HS 0910 Amerika Serikat dari Indonesia dan

(4)

Tabel 1.12 Perkembangan Impor HS 09 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008– 2012 ...22 Grafik 1.1 Komposisi Ekspor & Impor Produk Bumbu dan Rempah-Rempah di

Amerika Serikat ...16 Grafik 1.2 Gambaran Pasar Bumbu dan Remaph-Rempah AS ...29 Grafik 1.3 Tren Permintaan Pasar Amerika Serikat 2006-2018...31 Grafik 1.4 Segmentasi Produk Bumbu & Rempah-Rempah Amerika Serikat

(5)

Kata Pengantar

Penyusunan suatu Market Brief adalah untuk memberikan kajian singkat yang menggambarkan kondisi dan potensi pasar komoditi di Amerika Serikat (AS). Pada Market Brief kali ini edisi bulan November 2012 berjudul “Market Brief: Bumbu Rempah-Rempah”. Adapun hasil kajian berikut dibuat berdasarkan berbagai data dari US Department of Commerce (DOC) AS, sekaligus berbagai institusi-institusi lainnya.

Di samping itu, Market Brief disusun untuk memberikan informasi terkini mengenai pasar suatu komoditi, peraturan impor di Negara akreditasi setempat, potensi pasar, negara pesaing, strategi penetrasi pasar, dan informasi penting lainnya. Sehingga Market Brief diharapkan dapat menjadi informasi pendukung yang efektif dalam meningkatkan keunggulan komoditif Bumbu Rempah-Rempah Indonesia yang bersaing di pasar AS.

Akhir kata, Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Los Angeles berharap kiranya informasi berikut dapat bermanfaat bagi pemerintah selaku pembuat kebijakan, berikut para pelaku usaha dalam menentukan strategi ekspor komoditi Bumbu Rempah-Rempah ke AS.

(6)
(7)

Bab I. Pendahuluan

1.1. Pemilihan Negara

Sebagai mitra dagang strategis, Amerika Serikat (AS) menduduki peringkat ketiga setelah Cina dan Jepang dalam peringkat ekspor nonmigas Indonesia. Hal ini didukung oleh data US Department of Commerce (DOC) AS, dimana Indonesia menduduki urutan ke-34 sebagai negara terbesar tujuan ekspor AS, dengan jumlah nominal sebesar US$ 8,01 milyar (2012), naik 8,10% (US$ 7,4 milyar) dari tahun 2011. Di samping itu, Indonesia menduduki urutan ke-27 sebagai negara terbesar pengekspor barang ke AS, dengan jumlah nominal sebesar US$ 26,01 milyar (2012), turun 1,94% (US$ 26,52 milyar) dari tahun 2011.

Berdasarkan data tersebut, Indonesia berhasil mensuplai berbagai komoditi utama, seperti tekstil, karet, mesin, dan sepatu. Dari sekian banyak komoditi Indonesia yang diekspor ke AS, 10 komoditi utama adalah (berdasarkan HS 2 digit): Knit Apparel (US$ 2,8 milyar), Rubber (US$ 2,7 milyar), Woven Apparel (US$ 2,1 milyar), Electrical Machinery (US$ 1,6 milyar), Footwear (US$ 940 juta), Fish And Seafood (US$ 901,9 juta), Machinery (US$ 680,5 juta), Spices,Coffee And Tea (US$ 651,4 juta), Textile And Bedding (US$ 649,8 juta), dan Prepared Meat,Fish, (US$ 372,2 juta).

Sedangkan 10 komoditi utama AS yang dieskpor ke Indonesia adalah (berdasarkan HS 2 digit): Aircraft, Spacecraft (US$ 1,4 milyar), Misc Grain,Seed,Fruit (US$ 1,02 milyar), Machinery (US$ 1 milyar), Food Waste; Animal Feed (US$ 398,3 juta), Electrical Machinery (US$ 363,7 juta), Cereals (US$ 242,2 juta), Plastic (US$

(8)

230,2 juta), Iron And Steel (US$ 212,5 juta), Cotton and Yarn,Fabric (US$ 194,1 juta), Optic,Nt and Med Instrument (US$ 190,2 juta).

 

1.2. Pemilihan Produk

Latar belakang ITPC Los Angeles memilih produk saus dan bumbu dalam pembahasan Market Brief Edisi Oktober 2013 adalah ITPC Los Angeles bermaksud untuk memparkan potensi dari ekspor terbesar produk Indonesia ke AS selama beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data US Department of Commerce, negara AS memiliki potensi pasar domestik yang sangat untuk produk aquaculture. Seperti pada tabel 1.1 dibawah ini, terlihat revenue industri terus mengalami peningkatan.

Tabel 1.1. Data Industri Bumbu dan Rempah‐Rempah AS 2004‐2018   

(9)

1.3. Profil Amerika Serikat

 

1.3.a. Geografi

AS terletak di tengah-tengah benua Amerika Utara, dibatasi oleh Kanada di sebelah utara dan Meksiko di sebelah selatan. Negara AS terbentang dari Samudera Atlantik di pesisir timur hingga Samudera Pasifik di pesisir barat, termasuk kepulauan Hawaii di lautan Pasifik, negara bagian Alaska di ujung utara benua Amerika, dan beberapa teritori lainnya (Wikipedia).

1.3.b. Pemerintahan

AS terbentuk pada tahun 1787 dan terdiri dari 50 negara bagian. AS merupakan sebuah negara Republik Federal yang menganut sistem pemerintahan Presidensil dimana Presiden berperan sebagai badan esksekutif dan Kongres berperan sebagai badan legislatif. Sedangkan Majelis Tinggi ada di tangan Senate dan Majelis Rendah berada di tangan House of representative (Dewan Perwakilan Rakyat).

Di AS terdapat pemisahan kekuasaan yang tegas antara Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif. Pemisahaan ini terdiri dari pemisahan bagian pelaksana maupun fungsi serta kekuasaan dari badan-badan tersebut yang membatasai satu sama lain dengan menggunakan asas checks and balances yang berarti saling mengawasi untuk menjaga keseimbangan). Sedangkan keadilan ditegakkan melalui Badan Yudikatif atau Mahkamah Agung (Supreme Court) yang bebas dari pengaruh badan Legislatif dan

(10)

Eksekutif serta menjamin hak-hak kebebasan dan kemerdekaan individu serta menjamin tegaknya hukum (Carapedia).

1.3.c. Demografi

Jumlah penduduk di AS kini sebanyak lebih dari 308 juta jiwa setelah mengalami pertambahan hampir 10 persen sejak satu dekade lampau. Demikian hasil sensus yang diumumkan Biro Sensus AS, Selasa 21 Desember 2010, dan dikutip kantor berita Associated Press (AP). Menurut hasil sensus, jumlah populasi di AS per 1 April 2010 sebanyak 308.745.538 jiwa. Jumlah itu menandakan pertambahan penduduk sebanyak 9,7 persen dari data sepuluh tahun lalu, yaitu sebanyak 281,4 juta jiwa. Tingkat pertumbuhan penduduk tiap sepuluh tahun ini merupakan yang terendah sejak Era Depresi Besar di akhir dekade 1920-an. Jumlah penduduk AS dari 1990 hingga 2000 meningkat 13,2 persen (VIVAnews).

1.3.d. Ekonomi

AS menjalankan sistem ekonomi kapitalis. Pertumbuhan ekonomi negara ini kokoh di permukaannya, pengangguran dan inflasi rendah, dan defisit perdagangan yang rendah.Ekonomi AS ialah salah satu yang terpenting di dunia. Banyak negara telah menjadikan dolar AS sebagai tolok ukur mata uangnya.Bursa saham AS dipandang sebagai indikator ekonomi dunia.

(11)

Negara ini memiliki banyak sumber daya mineral, seperti emas, minyak, batu bara dan endapan uranium. Pertanian membuat negara ini berada di antara produsen utama, di antara lainnya, jagung, gandum, gula dan tembakau.AS memproduksi mobil, pesawat terbang dan benda elektronik (Wikipedia).

(12)

Bab II. Potensi Pasar Amerika Serikat

Bumbu dan rempah-rempah merupakan produk yang memiliki pasar sangat besar di AS. Negara ini adalah importir utama bumbu dan rempah-rempah dalam perdagangan internasional. Pada tahun 2012 saja, AS diimpor kopi, teh, bumbu, dan rempah-rempah lebih dari US$ 8 milyar. Beberapa negara mengekspor bumbu dan rempah-rempah mentah dan produk olahan ke AS setiap tahun. Konsumsi di AS sebagian besar bumbu dan rempah-rempah telah meningkat dari sedikit lebih dari satu pound per orang di tahun 1965 menjadi lebih dari tiga kilogram dalam 2012.

Dengan peningkatan konsumsi dan impor meningkat, industri ini mengalami perbedaan utama antara kualitas produk yang diterima dari berbagai negara dengan produk yang sama dari AS. Kualitas perbedaan diamati disebabkan oleh faktor-faktor kualitas seperti sanitasi, tanaman, jatuh tempo, warna, stabilitas, kandungan minyak dan komposisi, dan ukuran biji. Banyak dari perbedaan bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti variasi dalam panen, teknik pengolahan, atau hanya perbedaan penanaman. Masalah yang terkait dengan pengadaan produk mentah ke luar negeri memaksa industri bumbu dan rempah-rempah di AS untuk menghabiskan dana untuk memperbaiki perbedaan tersebut. Faktor-faktor berikut menyoroti beberapa masalah industri utama, yakni:

 Kualitas perbedaan dalam produk mentah menyebabkan biaya akhir yang lebih tinggi produk karena membutuhkan tambahan pada standarisasi agar nantinya menghasilkan produk yang seragam.

(13)

 Masalah politik, kondisi cuaca, dan fasilitasi campur tangan pemerintah pada fasilitasi arus perdagangan negara-negara pengekspor, sehingga sulit untuk secara konsisten mendapatkan kuantitas dan kualitas produk yang dapat diterima dengan harga yang dapat diterima.

 Kesadaran masyarakat untuk beberapa kandungan kimia pada bumbu dan rempah-rempah mentah dan produk pertanian lainnya, memaksa U.S. Department of Agriculture (USDA) dan U.S. Food and Drug Administration (FDA) memperketat impor produk pertanian mentah.

Sekitar 50 jenis bumbu dan rempah-rempah setiap tahun diimpor ke AS. Pengetahuan tentang sumber untuk produk ini dapat memberikan beberapa informasi tentang kebutuhan tumbuh dan praktek budidaya tanaman ini. Banyak bumbu dan rempah-rempah seperti lada hitam, kapulaga, kayu manis, cengkeh, buah-buahan atau biji dari tanaman berkayu disesuaikan dengan iklim tropis. Tanaman tersebut tidak dapat tumbuh pada skala komersial di AS, dimana sekitar 40% dari bumbu dan rempah-rempah dari daftar impor dari tanaman tahunan dan pendek musim tanam. Sejumlah tumbuhan bisa ditanam secara komersial di banyak daerah AS. Bahkan, sejumlah besar ini sekarang tumbuh pada skala komersial di lahan pertanian di Pantai Barat. Untuk berbagai alasan, petani AS tampaknya tidak sepenuhnya ingin menanam tumbuhan ini secara kontrak dan untuk skala komersial. Faktor-faktor yang menarik petani untuk menanam bumbu dan rempah-rempah adalah:

(14)

 Produksi bumbu dan rempah-rempah adalah padat karya dimana para petani akan banyak menggunakan peralatan tradisional. Sehingga ini berbeda dengan mayoritas petani AS yang banyak menggunakan peralatan mesin dan mekanis.  Pemasaran bumbu dan rempah-rempah masih dianggap sebagai produk yang sulit

untuk melakukan kontrak pembelian dan dinilai sangat berisiko.

 Sebagian besar petani merasa sulit untuk mendapatkan bantuan teknis dari lembaga pertanian atau spesialis ekstensi produk bumbu dan rempah-rempah.

Meskipun masalah yang banyak namun situasinya pada beberapa tahun terakhit menunjukan kondisi yang membaik. Petani sekarang dapat menghubungi USDA, universitas, American Spice Trade Association, atau pengusaha bumbu dan rempah-rempah, untuk mendapatkan bantuan dalam produksi dan pemasaran produk-produk ini. Beberapa perusahaan pengolahan di AS tertarik dalam mempromosikan produksi dalam negeri dari bahan-bahan impor.

Walaupun industri bumbu dan rempah-rempah AS menunjukkan pertumbuhan yang baik, namun permintaan dan konsumsi juga meningkat, sehingga kebutuhan impor untuk produk tersebut semakin dibutuhkan.

Selain kondisi industri bumbu dan rempah-rempah di AS, kondisi perekonomian memberikan dampak terhadap pertumbuhan pasar produk tersebut. Resesi yang terjadi di AS memberikan dampak bagi konsumen untuk memasak dan makan makanan di rumah daripada pergi keluar untuk makan di restoran mahal. Hal ini menyebabkan peningkatan permintaan untuk bumbu dan rempah-rempah di AS. Sebagai hasil dari tren, peningkatan permintaan diperkirakan tumbuh 2,5% per tahun rata-rata menjadi US $ 17,6 di lima

(15)

tahun hingga 2012. Pada 2012 saja, pendapatan meningkat 0,8% sebagai dampak dari pemulihan ekonomi yang mendorong kepercayaan konsumen sehingga mau berbelanja lebih banyak bumbu dan rempah-rempah. Keuntungan industri ini adalah naik sekitar 13,0% dari pendapatan tahun 2012 karena pelaku usaha mampu meningkatkan produksi.

2.1. Perdagangan Produk Bumbu dan Rempah-Rempah Amerika Serikat – Dunia

Impor mencakup 9,8% dari permintaan domestik pada tahun 2013, naik dari 7,5% di tahun 2008. Penduduk Amerika telah memperluas selera makan mereka termasuk untuk selera dan rasa dari seluruh dunia sehingga semakin banyak konsumen yang menginginkan rempah-rempah dan saus dari luar negeri. Selain itu, banyak produsen asing yang memiliki keuntungan dari harga input yang lebih murah dan kondisi perdagangan yang menguntungkan, sehingga meningkatkan tingkat daya saing mereka. Meski demikian, impor hanya mencakup sebagian kecil dari permintaan domestik karena produsen industri dalam negeri mampu memenuhi sebagian besar permintaan domestik tanpa perlu bergantung pada produsen luar negeri. Selain itu, produsen industri memiliki akses ke pasokan sayuran yang berlimpah, yang adalah komponen utama yang diperlukan untuk memproduksi sebagian besar produk industri. Dalam lima tahun terakhir hingga 2013, impor meningkat pada tingkat tahunan sebesar 7,5% dengan total sebesar $ 1,9 miliar.

Indonesia diperkirakan akan menjadi sumber terbesar impor untuk produk industri pada tahun 2013 (12,8%) karena berlimpah-limpah dengan rempah-rempah yang secara umum terdapat di masakan dan budaya Amerika. Dengan alasan yang sama, India berada

(16)

di peringkat kedua, dan mencakup 12,3% dari keseluruhan impor. Oleh karena itu, rempah-rempah dan saus dari Indonesia dan India memiliki harga yang lebih bersaing untuk Amerika Serikat. Kanada adalah sumber terbesar ketiga dari impor, mencakup 12,0% dari keseluruhan impor. Hal ini dikarenan kedekatan geografis dengan Amerika Serikat dan partisipasinya di North American Free Trade Agreement (NAFTA), yang mengurangi hambatan perdagangan. China mencakup 10,1% dari keseluruhan impor, yang mencerminkan perubahan etnisitas rakyat Amerika, dan dengan demikian, terjadi perubahan dalam pola diet dan konsumsi.

Grafik 1.1. Komposisi Ekspor & Impor Produk Bumbu dan Rempah-Rempah di Amerika Serikat

           

(17)

Tabel 1.2 Perkembangan Impor HS 0901 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012

(Dalam juta US$)

Change(%) Trend(%) 2008 2009 2010 2011 2012 12/11 08-12 0 -- World -- 4.121,0 3.747,0 4.560,8 7.651,5 6.533,7 -14,61 17,77 1 Brazil 748,8 756,9 1.092,0 1.939,4 1.349,3 -30,43 23,60 2 Colombia 816,5 716,2 808,6 1.316,4 902,4 -31,45 8,42 3 Vietnam 292,8 260,7 365,7 493,9 612,8 24,08 23,56 4 Guatemala 369,8 339,5 294,9 577,2 565,6 -2,00 14,81 5 Mexico 225,4 236,9 243,1 501,4 472,3 -5,80 24,97 ASEAN 7 Indonesia 240,1 202,7 236,6 325,6 399,5 22,72 16,10 43 Singapore 1,4 0,2 0,2 2,2 0,9 -61,57 16,98 53 Thailand 3,7 0,7 1,4 1,4 0,4 -73,30 -31,95 63 Malaysia 0,5 0,5 0,6 0,6 0,2 -64,70 -13,92 68 Philippines - 0,0 0,0 0,1 0,1 103,64 71 Laos 3,5 2,5 1,2 7,6 0,1 -98,76 -45,93 Source of Data:U.S. Dept. of Commerce, Bureau of Census

Value Rank Country

Tabel 1.3 Perkembangan Impor HS 0902 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012

(Dalam juta US$)

Change(%) Trend(%) 2008 2009 2010 2011 2012 12/11 08-12 0 -- World -- 318.53 308.43 378.82 416.45 414.18 -0.55 8.60 1 China 61.27 51.27 69.60 85.14 90.84 6.69 13.82 2 Argentina 43.41 48.30 63.59 70.06 77.26 10.28 16.47 3 India 35.16 38.60 46.96 53.61 49.54 -7.60 10.68 4 Canada 26.94 29.32 33.35 32.29 30.51 -5.50 3.52 5 Japan 18.28 21.26 23.78 31.64 29.02 -8.29 14.13 ASEAN 9 Vietnam 3.18 5.38 5.52 5.46 9.64 76.51 25.03 10 Indonesia 9.82 11.12 12.56 11.93 9.63 -19.30 0.31 22 Thailand 1.15 0.75 1.37 1.74 1.38 -21.05 12.76 40 Malaysia 0.14 0.13 0.02 0.10 0.13 24.97 -3.80 46 Singapore 0.27 0.16 0.12 0.16 0.08 -51.41 53 Philippines 0.01 0.00 0.02 0.03 0.03 -8.76

-Source of Data:U.S. Dept. of Commerce, Bureau of Census Value Rank Country            

(18)

Tabel 1.4 Perkembangan Impor HS 0903 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012

(Dalam juta US$)

Change(%) Trend(%) 2008 2009 2010 2011 2012 12/11 08-12 0 -- World -- 2.50 2.51 3.16 4.29 4.80 11.90 20.24 1 Argentina 1.14 1.12 1.42 1.36 1.75 28.67 11.17 2 Germany 0.34 0.55 0.87 1.57 1.20 -24.03 42.97 3 Brazil 0.51 0.47 0.74 0.99 1.14 15.52 26.60 4 Ecuador 0.00 0.00 0.01 0.06 0.38 497.46 -5 Paraguay 0.11 0.08 0.05 0.18 0.15 -18.85 14.71 ASEAN 26 Vietnam 0.002 0.000 0.000 0.000 0.000 -

-N/A Indonesia N/A N/A N/A N/A N/A N/A N/A

Source of Data:U.S. Dept. of Commerce, Bureau of Census Value Rank Country

Tabel 1.5 Perkembangan Impor HS 0904 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012

(Dalam juta US$)

Change(%) Trend(%) 2008 2009 2010 2011 2012 12/11 08-12 0 -- World -- 441.76 386.64 463.49 657.70 732.54 11.38 16.68 1 Indonesia 96.55 70.72 106.67 118.92 182.28 53.28 19.61 2 India 85.33 60.82 70.15 106.86 137.44 28.63 16.38 3 Vietnam 49.05 52.64 58.93 123.87 94.60 -23.63 24.23 4 China 50.00 42.92 50.47 73.21 79.14 8.10 15.63 5 Brazil 25.90 30.90 36.42 68.22 59.96 -12.11 28.03 ASEAN 18 Malaysia 2.33 0.63 1.54 2.26 1.45 -35.63 3.39 20 Thailand 0.63 0.80 0.99 0.98 1.28 30.61 17.63 21 Singapore 0.72 0.12 0.00 0.02 1.09 4,927.88 -8.72 65 Cambodia 0.00 0.00 0.01 0.00 0.00 - -69 Laos 0.09 0.00 0.00 0.00 0.00 -76 Philippines 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 -

-Source of Data:U.S. Dept. of Commerce, Bureau of Census Value Rank Country

   

(19)

Tabel 1.6 Perkembangan Impor HS 0905 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012

(Dalam juta US$)

Change(%) Trend(%) 2008 2009 2010 2011 2012 12/11 08-12 0 -- World -- 40.80 38.50 36.79 33.08 43.94 32.82 -0.03 1 Madagascar 27.67 26.28 26.41 23.00 34.62 50.51 3.20 2 Indonesia 4.41 3.52 3.43 3.98 3.75 -5.92 -2.04 3 Uganda 3.63 5.24 3.21 3.48 1.88 -46.06 -15.89 4 India 3.13 2.17 1.69 0.92 1.77 91.65 -18.13 5 French Polyne 0.41 0.39 0.74 0.46 0.50 7.93 5.40 ASEAN 33 Vietnam 0 0.003 0 0 0 -

-Source of Data:U.S. Dept. of Commerce, Bureau of Census Value Rank Country

Tabel 1.7 Perkembangan Impor HS 0906 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012

(Dalam juta US$)

Change(%) Trend(%) 2008 2009 2010 2011 2012 12/11 08-12 0 -- World -- 29.23 26.85 38.20 50.04 47.86 -4.36 17.45 1 Indonesia 17.31 15.23 21.58 31.42 26.31 -16.26 16.90 2 Sri Lanka 8.14 7.32 11.53 12.54 14.27 13.82 18.07 3 Vietnam 1.65 2.55 3.43 3.70 4.71 27.06 28.04 4 China 0.45 0.86 0.72 1.38 1.47 6.65 32.79 5 India 1.30 0.47 0.52 0.55 0.51 -8.51 -15.78 ASEAN 8 Malaysia 0.02 0.01 0.03 0.02 0.04 114.05 31.70 10 Singapore 0.00 0.00 0.12 0.12 0.04 -69.01 -14 Thailand 0.00 0.03 0.04 0.01 0.01 66.94 26.14

Source of Data:U.S. Dept. of Commerce, Bureau of Census Value Rank Country

(20)

Tabel 1.8 Perkembangan Impor HS 0907 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012

(Dalam juta US$)

Change(%) Trend(%) 2008 2009 2010 2011 2012 12/11 08-12 0 -- World -- 4.98 5.81 6.36 9.78 17.36 77.62 35.25 1 Madagascar 1.54 2.36 1.88 2.35 10.22 334.66 46.06 2 Indonesia 1.22 0.87 1.14 1.63 2.30 41.50 20.83 3 Comoros 0.51 0.66 1.34 1.75 1.90 8.32 43.47 4 Sri Lanka 0.57 0.50 0.83 0.92 1.44 56.51 28.12 5 India 0.07 0.09 0.28 0.74 0.98 33.13 109.11 ASEAN 8 Malaysia 0.02 0.00 0.00 0.00 0.02 - -9 Singapore 0.13 0.04 0.00 0.00 0.02 -

-Source of Data:U.S. Dept. of Commerce, Bureau of Census Value Rank Country

Tabel 1.9 Perkembangan Impor HS 0908 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012

(Dalam juta US$)

Change(%) Trend(%) 2008 2009 2010 2011 2012 12/11 08-12 0 -- World -- 19.59 17.80 29.84 50.19 46.51 -7.33 31.86 1 Indonesia 10.80 9.60 12.43 25.39 27.25 7.33 32.63 2 Guatemala 6.17 5.52 11.04 14.50 9.21 -36.47 19.33 3 India 1.06 1.60 4.12 6.76 6.55 -3.08 66.15 4 Sri Lanka 0.14 0.18 0.33 0.96 1.81 87.66 96.18 5 Grenada 0.67 0.58 1.12 0.72 0.85 18.42 7.26 ASEAN 19 Singapore 0.25 0.00 0.00 0.00 0.01 - -43 Malaysia 0.00 0.00 0.00 0.18 0.00 - -57 Vietnam 0.13 0.07 0.00 0.72 0.00 -

-Source of Data:U.S. Dept. of Commerce, Bureau of Census Value Rank Country

(21)

Tabel 1.10 Perkembangan Impor HS 0909 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012

(Dalam juta US$)

Change(%) Trend(%) 2008 2009 2010 2011 2012 12/11 08-12 0 -- World -- 49.75 46.11 56.43 63.32 62.94 -0.60 8.19 1 India 24.39 16.03 17.23 21.20 31.45 48.36 8.20 2 Syria 2.50 4.66 7.91 9.79 6.62 -32.39 30.85 3 Turkey 6.73 6.36 7.67 10.41 6.38 -38.71 3.94 4 Egypt 3.80 4.17 6.26 7.17 6.04 -15.72 15.83 5 Canada 7.84 8.21 7.64 4.87 4.56 -6.34 -14.84 ASEAN 9 Vietnam 0.09 0.14 0.49 0.44 0.52 17.24 59.63 40 Thailand 0.26 0.17 0.01 0.00 0.00 -14.42 -73.47 73 Singapore 0.03 0.01 0.00 0.08 0.00 -100.00 -85 Indonesia 0.00 0.07 0.00 0.08 0.00 -100.00

-Source of Data:U.S. Dept. of Commerce, Bureau of Census Value Rank Country

Tabel 1.11 Perkembangan Impor HS 0910 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012

(Dalam juta US$)

Change(%) Trend(%) 2008 2009 2010 2011 2012 12/11 08-12 0 -- World -- 139.49 125.56 167.88 180.84 162.15 -10.34 6.89 1 China 31.60 33.00 50.84 42.71 32.66 -23.53 3.29 2 India 17.36 15.27 25.81 37.65 30.70 -18.45 22.66 3 Spain 16.19 16.08 17.79 19.22 20.89 8.67 7.12 4 Turkey 16.47 11.56 11.44 13.07 16.63 27.20 1.43 5 Pakistan 3.72 4.66 6.74 8.26 8.50 2.81 24.95 ASEAN 9 Thailand 5.75 5.20 5.69 5.94 2.59 -56.32 -13.56 24 Vietnam 0.83 0.51 1.45 1.37 1.01 -26.25 14.59 37 Indonesia 0.18 0.21 0.95 1.04 0.29 -72.47 28.13 38 Philippines 0.34 0.23 0.29 0.26 0.26 0.20 -3.91 39 Malaysia 0.14 0.18 0.21 0.32 0.25 -23.07 18.08 59 Singapore 0.17 0.10 0.12 0.06 0.04 -41.97 -28.86 70 Cambodia 0.00 0.00 0.00 0.00 0.01 -

-Source of Data:U.S. Dept. of Commerce, Bureau of Census Value Rank Country

(22)

Tabel 2.1 s/d 2.10 menampilkan kegiatan impor AS dari dunia selama lima tahun terakhir (2008-2012). Apabila kita telusuri, pasar bumbu dan rempah-rempah di AS terus mengalami peningkatan. Bagi Indonesia, pertumbuhan pasar dari HS 09 ini terus mengalami peningkatan. Pada tabel di bawah ini terlihat terjadinya fluktuasi peningkatan tersebut. Pada tahun 2009, impor dari Indonesia mengalami penurunan dari US$ 3,9 milyar menjadi US$ 3,1 milyar. Di tahun 2012, impor dari Indonesia US$ 6,4 milyar, dan ini menempatkan Indonesia di peringkat ke 4 dengan pangsa pasar mencapai 7,5%.

Tabel 1.12 Perkembangan Impor HS 09 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing Periode: 2008 – 2012

(Dalam juta US$)

Change(%) Trend(%) 2008 2009 2010 2011 2012 12/11 08-12 0 -- World -- 5167.60 4705.22 5741.81 9117.16 8066.01 -11.53 16.79 1 Brazil 781.38 795.51 1137.44 2019.70 1418.09 -29.79 23.66 2 Colombia 822.90 722.98 817.23 1324.31 907.61 -31.47 8.34 3 Vietnam 347.76 322.03 435.52 629.44 723.27 14.91 23.80 4 Indonesia 380.38 314.08 395.35 519.97 651.35 25.27 17.11 5 Guatemala 376.76 345.73 307.11 593.24 576.87 -2.76 14.94 ASEAN 46 Thailand 11.53 7.64 9.51 10.10 5.65 -44.08 -10.87 60 Singapore 2.96 0.61 0.51 2.68 2.12 -20.97 8.48 61 Malaysia 3.13 1.44 2.38 3.46 2.10 -39.33 0.81 84 Philippines 0.35 0.26 0.34 0.35 0.40 15.51 5.76 104 Laos 3.62 2.49 1.22 7.57 0.09 -98.76 -46.18 120 Cambodia 0.00 0.00 0.01 0.01 0.02 224.93

-Source of Data:U.S. Dept. of Commerce, Bureau of Census Value Rank Country

 

 

2.2 Potensi Pasar Ekspor Bumbu dan Rempah-Rempah di Amerika Serikat

Selama lima tahun terakhir, gaya hidup dan pola konsumen telah berubah. Peningkatan kesadaran akan kesehatab mendorong konsumen AS untuk merubah

(23)

kebiasaan makan. Produsen menanggapi dengan memperkenalkan produk seperti pemanis buatan, rendah lemak perasa, dan saus rendah sodium. Perubahan demografi populasi juga telah menimbulkan selera baru dan preferensi, lebih lanjut mendorong produsen untuk menyesuaikan lini produk mereka untuk memenuhi keinginan konsumen.

Produsen makanan dan minuman, dan supermarket adalah pengecer utama jalur hilir untuk bumbu dan rempah-rempah. Produksi industri lebih rendah aktivitas atau menurun permintaan di salah satu industri hilir mengarah untuk menurunkan permintaan untuk saus, rempah-rempah dan lainnya. Pada akhirnya, permintaan dari masing-masing pasar mencerminkan permintaan konsumen untuk produk ini.

Kebiasaan konsumen AS lainnya dapat dilihat dari pengeluaran rumah tangga yang dilakukan dalam membelanjakan produk bumbu dan rempah-rempah. Biasanya, kenaikan pemasukan mereka diiringi dengan peningkatan pengeluaran konsumsi. Namun, peningkatan pendapatan akan mendorong konsumen untuk beralih ke produk yang lebih mahal makanan atau meningkatkan frekuensi makan di restoran, kafe dan pub.

2.3. Kebijakan Impor Bumbu dan Rempah-Rempah di Amerika Serikat

Hambatan masuk pada pasar bumbu dan rempah-rempah dapat dinilai sangat rendah, meskipun ada beberapa hambatan yang ada untuk pendatang. Tingkat investasi modal awal yang dibutuhkan adalah signifikan. Ini termasuk biaya yang berkaitan dengan pembangunan atau pembelian fasilitas pengolahan, mesin pabrik, dan peralatan, yang semuanya dapat menjadi penghalang bagi pemain kecil. Umumnya, produksi cukup padat

(24)

modal sehingga jika pendatang baru tidak mampu mengeluarkan investasi awal, mereka tidak akan bisa masuk ke industri.

Salah satu dari tantangan terbesar bagi pendatang baru adalah posisi pemain industri utama yang sangat baik. Perusahaan-perusahaan ini menikmati loyalitas konsumen atas merek mereka dan memiliki sumber daya yang cukup untuk berinvestasi dalam iklan dan promosi sehingga meningkatkan pangsa pasar mereka. Ini mengakibatkan sering kali pendatang baru tidak mendapatkan akses. Selanjutnya, para pemain utama menikmati kontrak menguntungkan dengan pemasok utama seperti toko kelontong, produsen makanan, industri jasa makanan, dan supermarket, yang mungkin sulit bagi pendatang baru untuk memasukinya. Meskipun hal-hal tersebut bukan merupakan hambatan untuk memasuki pasar tersebut, namun faktor-faktor ini dapat menghambat keberhasilan pendatang baru.

Namun, pendatang baru bisa dan telah masuk pada industri, terutama di segmen low-price dan non-branded. Pemain yang lebih kecil lainnya berhasil masuk pada pasar regional, sehingga mengurangi pasar dari pemain utama. Untuk pemain yang lebih kecil, membangun hubungan dengan ritel besar sangat penting untuk menghasilkan penjualan awal. Pengecer, seperti toko kelontong, sering kali stok produk-produk bermerek yang terbukti untuk menjual di daerah yang optimal dengan visibilitas yang tinggi. Pendatang baru mungkin tidak dapat memperoleh ruang pajang atau dapat ditempatkan di daerah dengan jarak pandang yang relatif rendah terhadap produk perusahaan besar.

Selain itu, pendatang baru biasanya dimulai dengan operasi kecil, menyebabkan biaya yang lebih besar per unit dibandingkan dengan perusahaan yang lebih besar. Meskipun ini bukan hambatan masuk, mereka mungkin menghambat keberhasilan

(25)

pendatang baru. Namun, penting untuk dicatat bahwa hambatan masuk mungkin berbeda antara berbagai segmen produk. Misalnya, masuk dalam rempah-rempah khusus cenderung kurang kompetitif karena merupakan pangsa pasar yang masih relatif belum dimanfaatkan.

FDA memiliki misi untuk mempromosikan dan melindungi kesehatan masyarakat dengan membantu produk yang aman dan efektif mencapai pasar dengan cara yang tepat waktu dan pemantauan produk untuk keselamatan setelah mereka digunakan. FDA mengatur industri pengolahan makanan, terutama dalam standar produksi dan pelabelan, melalui Food Drug and Cosmetic Act (FD&C Act) dan Fair Packaging and Labeling Act. Selanjutnya, FDA membuat Food Ingredient Safety Program yang mengatur dan mengevaluasi penjelasan tentang bahan-bahan, kandungan gizi dan penjelasan lain yang dibuat oleh produsen makanan.

AS dan konsumen menuntut aturan yang lebih ketat terkait dengan label makanan, iklan, kemasan dan klaim gizi lain yang dibuat oleh produsen. Kegagalan untuk mematuhinya dapat mengganggu kredibilitas produsen, ancaman hukuman perdata atau pidana. Penegakan peraturan FDA ini telah menciptakan peluang baru bagi produsen makanan untuk membedakan diri dari pesaing lainnya. Mereka yang dapat merespon secara proaktif mendapatkan keuntungan dari integritas efisiensi, kualitas dan merek.

The Environmental Protection Agency (EPA) dan pemerintah negara bagian menegakkan isu-isu lingkungan yang berkaitan dengan industri pengolahan makanan. Berbagai peraturan dan undang-undang, seperti Clean Water Act (CWA), Clean Air Act, Pollution Prevention Act (PPA), dan Resource Conservation and Recovery Act (RCRA), mengubah cara pengolahan produk mereka dan membuang limbah mereka. Peraturan

(26)

ketat CWA untuk pemakaian air limbah adalah kunci dari industri pengolahan makanan. Dalam fasilitas pembuangan limbah ke lingkungan, mereka diwajibkan untuk memiliki izin National Pollutant Discharge Elimination System (NPDES) sebagaimana diamanatkan dalam CWA. EPA dan pemerintah negara bagian terus mencari beberapa cara untuk mempromosikan pencegahan polusi secara sukarela dari para pelaku usaha.

2.4. Pemasaran Produksi

Industri produksi bumbu dan saus terutama memproduksi barang-barang seperti mayones, saus, rempah-rempah, ekstrak dan campuran makanan kering yang terbuat dari berbagai bahan. Pendapatan tumbuh selama lima tahun terakhir, khususnya selama resesi, karena lebih banyak konsumen yang memilih untuk memasak di rumah, mempertahankan permintaan untuk produk industri. Setelah resesi, tingkat pendapatan mulai pulih dan konsumen meningkatkan pembelian di tingkat ritel serta lebih sering memilih untuk makan di restoran. Tren ini menyebabkan permintaan meningkat dari pasar hilir seperti grosir kelontong, perusahaan pelayanan makanan dan produsen makanan yang menggunakan produk industri sebagai komponen atau tambahan. Secara keseluruhan, pendapatan tumbuh pada tingkat rata-rata 1,7% per tahunnya dengan total $ 18,3 milyar untuk lima tahun terakhir hingga 2013, termasuk pertumbuhan sebesar 2,4% pada tahun 2013.

Pendapatan tahun 2013 pada industri ini telah mengalami pertumbuhan yang konsisten selama lima tahun terakhir. Ini dikarenakan sebagian konsumen AS yang memasak di rumah atau membawa sandwich untuk makan daripada membeli makanan

(27)

dari restoran. Secara khusus, saus olahan menguasai pasar konsumen hingga 18,9% dari pendapatan tahun 2013. Ini termasuk saus barbecue, kecap, saus panas dan berbagai saus khusus lainnya. Sebuah pengecualian penting dari segmen ini adalah saus tomat, yang termasuk dalam Buah Kalengan dan industri Sayur Pengolahan. Segmen saus disiapkan sangat musiman; saus yang digunakan paling sering selama musim panas untuk barbecue, serta selama musim dingin untuk persiapan makan liburan. Banyak konsumen mengurangi pengeluaran, bahkan untuk perayaan, yang menyebabkan segmen ini turun sedikit sebagai bagian dari pendapatan selama lima tahun terakhir.

Penjualan makanan kering memberikan manfaat secara signifikan selama periode ekonomi yang sulit di akhir 2008 dan 2009. Segmen ini memberikan salah satu alternatif yang lebih hemat biaya untuk makanan siap saji atau makanan pelayanan makanan. Diperkirakan bahwa sejak tahun 2008 hingga 2010, segmen makanan kering tumbuh sekitar 5,0% per tahun. Sejak saat itu, segmen makanan kering diperkirakan akan menurun sedikit hingga tahun 2012 karena ekonomi pulih dan beberapa kembali makan di restoran. Di tahun 2013, segmen ini diharapkan meningkat hingga 18,1% dari pendapatan.

Garam, merica dan rempah-rempah membentuk 12,4% dari pendapatan bumbu dan rempah-rempah di tahun 2013 dan juga tumbuh sebagai bagian dari pendapatan selama lima tahun terakhir karena meningkatnya jumlah konsumen yang memilih untuk memasak di rumah daripada makan di restoran. Oleh karena itu, konsumen menggunakan garam, merica dan rempah-rempah lainnya untuk menambah rasa untuk makanan mereka karena pengetatan pengeluaran. Penjualan rempah-rempah diperkirakan akan terus

(28)

meningkat karena restoran dan penyedia layanan makanan lainnya mengalami permintaan yang tinggi selama pemulihan ekonomi dan akan membutuhkan bumbu lebih.

Segmen lainnya termasuk ekstrak untuk penyedap dan pewarna, saus cuka, sari dan lainnya khusus dan bumbu. Produk-produk ini cukup stabil pada tingkat ritel, dan diharapkan tumbuh di pelayanan makanan divisi untuk lima tahun berikutnya.

(29)

Bab III. Peluang dan Strategi

3.1 Peluang

 

Grafik 1.2 Gambaran Pasar Bumbu dan Remaph-Rempah AS

 

Industri produk bumbu dan saus mendapatkan manfaat yang signifikan dari meningkatnya permintaan untuk beberapa produk industri selama lima tahun terakhir. Bahkan selama resesi, ketika konsumen memiliki pendapatan yang lebih rendah, industri

(30)

bumbu dan saus mengalami pertumbuhan pendapatan yang stabil karena banyak konsumen yang membeli produk industri di tingkat ritel untuk memasak di rumah. Oleh karena itu, permintaan untuk bumbu, saus dan produk-produk serupa meningkat dari pasar hilir seperti supermarket grosir. Produsen makanan hilir juga meningkatkan permintaan untuk produk industri karena orang semakin banyak orang Amerika yang beralih ke makanan yang lebih cepat diproses dan mudah untuk dimakan. Bersama-sama, tren ini diharapkan akan meningkatkan pendapatan industri pada tingkat tahunan sebesar 1,7% selama lima tahun terkahir hingga 2013 menjadi US$ 18,3 milyar, termasuk pertumbuhan sebesar 2,4% yang diantisipasiakan terjadi di tahun ini.

Setelah resesi, jumlah pendapatan berangsur-angsur pulih dan konsumen mulai meningkatkan pembelian produk industri, mengangkat permintaan dari pasar hilir. Selain itu, lebih banyak konsumen yang mulai kemabli makan di restoran. Akibatnya, permintaan dari perusahaan pelayanan makanan untuk produk seperti mayones, mustard dan saus salad meningkat, memperkuat pendapatan industri.

Mengingat kondisi ini, margin keuntungan meningkat dari 5,4% dari pendapatan di tahun 2008 menjadi sekitar 6,0% pada tahun 2013. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga sayuran yang dilewatkan kepada konsumen dan semakin banyaknya teknologi yang mengotomatisasi proses produksi. Sebagai akibat dari meningkatnya profitabilitas dan permintaan untuk produk industri, semakin banyak perusahaan produksi bumbu dan saus yang memasuki industri. Jumlah perusahaan meningkat perlahan-lahan pada tingkat tahunan sebesar 0,2% menjadi 596 selama lima tahun terkahir hingga 2013.

(31)

Prospek industri untuk kedepan terlihat positif, dan diperkirakan bahwa pertumbuhan pendapatan akan stabil selama lima tahun ke depan. Perkiraan peningkatan pendapatan disposable per kapita akan mendorong permintaan untuk produk industri di tingkat ritel, dengan demikian mengangkat permintaan dari produsen makanan. Selain itu, konsumen diperkirakan akan lebih sering makan di restoran dengan meningkatnya pendapatan. Ditambah lagi, karena lebih banyak orang Amerika yang memperhatikan kesehatan, produsen akan merespon dengan memperkenalkan versi baru dari produk-produk mereka yang lebih sehat dan mengandung kadar natrium yang rendah. Sebagai hasil dari tren ini, para ekonom memproyeksikan bahwa pendapatan akan tumbuh pada tingkat tahunan 1,2% selama lima tahun kedepan hingga 2018 dengan total $ 19,4 milyar.

Grafik 1.3 Tren Permintaan Pasar Amerika Serikat 2006-2018

         

(32)

3.2 Strategi

Terdapat peluang bagi pemain baru untuk memasuki pasar domestik AS. Seperti pada grafik dibawah ini terlihat bahwa porsi terbesar adalah pada produk mayonnaise dan salad dressings dengan 23.,7%, dilanjutkan dengan saus jadi diluar saus tomat dengan 18,9%, campuran bumbu kering 18,1%, campuran perasa dan pewarna makanan 17,5%, lada dan rempah-rempah serupa 12,4%, dan lainnya 9,4%.

Grafik 1.4 Segmentasi Produk Bumbu & Rempah-Rempah Amerika Serikat 2013

   

Dari analisa pasar, terdapat beberapa kunci kesuksesan dari industri bumbu dan rempah-rempah di AS:

(33)

a. Kontrak pasokan di tempat- tempat kunci

Kontrak dan kerjasama yang dapat diandalkan dengan pemasok bahan baku utama sangat mengurangi volatilitas pasokan. Pasokan yang terjamin dengan harga tetap meminimalkan biaya pasokan dan perencanaan bantuan produksi.

b. Pengendalian pengaturan distribusi

Memastikan bahwa saluran distribusi digunakan dengan optimal akan memaksimalkan penjualan dan menyebabkan penetrasi merek serta pemosisian yang kuat di pasar.

c. Skala dan ruang lingkup ekonomi

Perusahaan-perusahaan yang sukses berhasil membentuk ekonomi berskala, yang memungkinkan mereka untuk mengurangi biaya per unit .

d. Inovasi produk

Dalam sebuah industri yang stagnan dan matang, inovasi produk merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam mempertahankan pangsa pasar dan meningkatkan pendapatan. Tujuan utamanya adalah untuk membedakan produk agar dapat mengurangi persaingan langsung.

e. Kemampuan untuk meneruskan kenaikan biaya

Perusahaan-perusahaan yang sukses memiliki merek yang konsumen anggap sebagai kualitas unggul. Oleh karena itu, meskipun harga komoditas meningkat, perusahaan-perusahaan tersebut mampu meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen dalam bentuk produk dengan yang lebih tinggi.

(34)

Bab IV. Informasi Penting

4.1. Kedutaan Negara Amerika Serikat di Indonesia

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta Duta Besar : Scot Marciel

Jl. Medan Merdeka Selatan No. 3 - 5 Jakarta 10110, Indonesia

Phone: (+62)(21) 3435-9000 Fax: (+62)(21) 386-2259

Website: http://jakarta.usembassy.gov/

4.2. Kamar Dagang Amerika Serikat

Kamar dagang AS bertujuan untuk membangun sebuah komunitas bagi pebisnis sehingga suara dan kebutuhan mereka dapat didengar oleh pemerintah pusat yang berada di Washington, D.C. Kamar dagang AS pada dasarnya dibagi ke dalam 3 kategori: kantor pusat (Washington, D.C.), kantor regional, dan kantor negara bagian serta lokal. Berikut merupakan kamar dagang AS berdasarkan kantor regional:

1. Great Lakes Region

 Ben Taylor, Director

 300 South Wacker Dr. STE 1600, Chicago, IL 60606  P: (312) 983-7113 F: (312) 386-7822

 Illinois, Indiana, Kentucky, Michigan, Ohio, Pennsylvania 2. Northwest Region

(35)

 3400 188th Street SW, Suite 403, Lynnwood, WA 98037  P: (425) 774-8094 F: (425) 778-8341

 Alaska, Idaho, Montana, Oregon, Washington, Wyoming 3. Western Region

 Dick Castner, Executive Director

 21243 Ventura Blvd. Suite 135, Woodland Hills, CA 91364  P: (818) 884-0702 F: (818) 884-2511

 Arizona, California, Hawaii, Nevada, Utah 4. Southwest & South Central

 John Gonzales, Senior Manager

 222 W Las Colinas Blvd, Suite 1560, Irving, TX 75039  P: (972) 387-1099 ex 4252 F: (972) 409-0453

 Arkansas, Colorado, Kansas, Louisiana, Missouri, New Mexico, Oklahoma, Texas

5. Southeastern Region

 Moore Hallmark, Executive Director

 501 Village Trance, NE, Building 9A – STE 201, Marietta, GA 30067  P: (770) 951-8864 F: (770) 956-1216

 Alabama, Florida, Georgia, N Carolina, S Carolina, Tennessee, Virginia, Mississippi

6. Eastern Region

 Geoffrey O’Hara , Executive Director

 One Davol Square, Suite 310, Providence, RI 02903  P: (401) 831-8885 F: (401) 831-1711

 Connecticut, Delaware, Maine, Maryland, Massachusetts, New Hampshire, New Jersey, New York, Rhode Island, Vermont, West Virginia

7. Midwest Region

 Doug Loon, Vice President

 11010 Prairie Lakes Drive, Suite 125, Eden Prairie, MN 55344  Cell: (612) 840-6953

(36)

4.3. Daftar Pameran Bumbu & Rempah-Rempah di Amerika Serikat

Natural Product Expo West (NPEW)

Pada tahun ini, Natural products Expo West dihadiri oleh kurang lebih 58,000 anggota industri, peserta yang mengikuti pameran sebanyak 2400 peserta yang terdiri dari para distributor, riteler, serta beberapa paviliun negara yaitu, Jepang, Korea Selatan, Peru, Meksiko, dan Brazil. Peserta pameran menampilkan produk dalam kategori makanan alami dan makan khusus, organik, supleme, kesehatan, dan kecantikan. Pengunjung pameran mencapai 65-70 ribu pengunjung.

Summer Fancy Food Show

Pameran Summer Fancy Food Show tahun 2013 dilaksanakan di New Yorl, NY, yakni pada tanggal 29 Juni – 1 Juli, 2013. Setaip tahun pameran ini dikunjungi lebih dari 17,000 pengunjung, 40,000 peserta pameran dari 80 negara di dunia. Para peserta menampilkan lebih dari 260,000 produk makanan dan minuman yang inovatif seperti keju, kopi, rempah-rempah dsb.

United Fresh 2012

Pameran ini dilaksanakan di negara bagian Dallas, TX, pada tanggal 14-16 Mei 2013. Pameran ini dihadiri oleh berbagai industri makanan yang datang lebih dari 33 negara.

(37)

Food & New Products Show (FNPS)

Pameran FNPS dilaksanakan di Honolulu, HI, pada tanggal 18-19 Oktober 2013. Pameran produk makanan dan minuman ini memamerkan berbagai hasil produk khas makanan dari berbagai negara. Diperkirakan pameran FNPS ini dihadiri lebih dari 18 ribu pengunjung.

World Wide Food Expo (WWFE)

Berbagai macam produk makanan dipamerkan pada pameran ini. Pameran ini juga menampilkan berbagai bentuk kemasan produk makanan dan minuman. Dihadiri lebih dari 1.200 supliyer dari 100 negara dan dikunjungi lebih dari 25 ribu pengunjung

4.4. Perwakilan Indonesia di Amerika Serikat Kedutaan / Konsulat di Amerika Serikat 

Permanent Mission of the Republic of Indonesia to the United Nations

Ambassador : H.E. Mr. Dr. Desra Percaya.

Address : 325 East 38th Street, New York, NY 10016, United States of America

Phone : (1- 212) 972-8333 Fax : (1-212) 972-9780

Email : [email protected]

Website : http://newyork-un.kemlu.go.id

Embassy of the Republic of Indonesia in Washington D.C. Ambassador : H. E. Mr. Dr. Dino Patti Djalal, M.A.

Address : 2020 Massachusetts Avenue, N.W. Washington D.C. 20036, United States of America Phone : (1-202) 775-5200

Fax : (1-202) 775-5365

Email : [email protected]

Website : http://www.embassyofindonesia.org / washington.kemlu.go.id (new)

Consulate General of the Republic of Indonesia in Houston

Consul General : H.E. Mr. Al Busyra Basnur

Address : 10900 Richmond Avenue, Houston, Texas 77042, United States of America Phone : (1-713) 785-1691

Fax : (1-713) 780-9644 Email : [email protected]

Website : http://houston.kemlu.go.id/ www.indonesiahouston.net.

(38)

Consul General : H.E. Mr. Hadi Martono

Address : 3457 Wilshire Boulevard, Los Angeles, C.A. 90010, United States of America Phone : (1-213) 383-5126

Fax : (1-213) 487-3971 Email : [email protected]

Website : http://losangeles.kemlu.go.id (new)

Consulate General of the Republic of Indonesia in New York

Consul General : H.E. Mr. Ghafur Akbar Darma Putra

Address : 5, East 68th Street, New York, NY 10065 USA, United States of America Phone : (1-212) 879-0600 to 15

Fax : (1-212) 570-6206

Email : [email protected]

Website : http://newyork.kemlu.go.id

Consulate General of the Republic of Indonesia in San Fransisco

Consul General : Mr. Asianto Sinambela, S.H., L.L.M

Address : 1111 Columbus Avenue, San Francisco, CA 94133-1707, United States of America Phone : (1-415) 474-9571

Fax : (1-415) 441-4320

Email : [email protected]

Website : www.indonesia-sanfrancisco.net / sanfrancisco.kemlu.go.id(new)

Honorary Consulate of the Republic of Indonesia in Hawaii

Honorary Consul : H.E. Mr. Patrick K. Sullivan

Address : 1001 Bishop Street, ASB Tower, Suite 2970, Honolulu, HI 96813, United States of America Phone : (1-808) 531-3017

Fax : (1-808) 531-3177 Email :

---Website :

---Consulate General of the Republic of Indonesia in Chicago

Consul General : H.E. Mr. Benny Bahanadewa

Address : 211 West Wacker Drive, 8th Floor, Chicago, Illinois 60606, United States of America Phone : (1-312) 920-1880

Fax : (1-312) 920-1881 Email : [email protected]

(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)
(46)
(47)
(48)
(49)

Daftar Pustaka http://www.ers.usda.gov/data-products/us-spices-imports.aspx http://www.usimportsdata.com/usa_spices_import.html http://www.bps.go.id/aboutus.php?news=1&nl=1 http://www.census.gov/foreign-trade/statistics/product/enduse/imports/c5600.html http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/JAE%2023-1a.pdf http://www.intracen.org/trade-support/trade-statistics/ http://jakarta.usembassy.gov http://www.embassyofindonesia.org http://www.kemlu.go.id/losangeles/Pages/default.aspx  

Gambar

Tabel 1.1. Data Industri Bumbu dan Rempah‐Rempah AS 2004‐2018   
Grafik 1.1. Komposisi Ekspor & Impor Produk Bumbu dan Rempah-Rempah di Amerika Serikat
Tabel 1.3 Perkembangan Impor HS 0902 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing  Periode: 2008 – 2012
Tabel 1.5 Perkembangan Impor HS 0904 Amerika Serikat dari Indonesia dan Negara Pesaing  Periode: 2008 – 2012
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jumlah permintaan pasar terhadap produk konfeksioner rupanya menunjukkan pertumbuhan yang positif dimana konsumen pada umumnya mencari camilan dengan variasi dan rasa yang berbeda

Untuk dapat meningkatkan penjualan dan memenuhi permintaan sesuai selera konsumen maka industri tetap mempertahankan kualitas dan manfaat yang dimiliki minuman khas Sinjai

Produk alas kaki yang terbuat dari karet dan plastik adalah segmen terbesar kedua, mencakup sebesar 20.8% dari total pendapatan industri terkait.. Produk-produk

Trend penjualan produk sets/kits di Malaysia dalam lima tahun terakhir 2010 – 2014 menunjukkan pertumbuhan positif, yang dapat dikatakan bahwa pasar produk sets/ kits masih

Pasar produk perawatan rambut dalam lima tahun terakhir (2010 – 2014) menunjukkan trend pertumbuhan positif, impor produk perawatan ram- but di Malaysia mengalami pertumbuhan

Dalam lima tahun terakhir, nilai ekspor dan impor dunia untuk komoditas tembakau dengan kode HS 2403 ini relatif sama.. Nilai tersebut tercatat di angka US$ 4 milyar hingga

 Potensi permintaan negara asia seperti Taiwan / RRT yang besar karena pestisida merupakan salah satu bahan utama dalam

Nilai tambah industri (IVA), yang kontribusi industri terhadap perekonomian, adalah diperkirakan akan tumbuh pada rata- rata tahunan tingkat 1,5% selama 10 tahun hingga 2019,