V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

22 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

43

V.

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1 Gambaran Umum Desa Citapen

5.1.1 Letak Geografis dan Pembagian Administrasi

Desa Citapen terletak di wilayah Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa Citapen adalah salah satu dari 13 desa yang ada di Kecamatan Ciawi yang berpotensi di bidang pertanian. Desa Citapen terletak kurang lebih 30 km dari Ibukota Kabupaten Bogor, 120 km dari Ibukota Provinsi Jawa Barat, dan 70 km dari Ibukota Negara Republik Inonesia.

Berdasarkan keadaan topografinya, Desa Citapen merupakan dataran tinggi dimana ketinggian tempatnya yaitu mencapai 800 meter

-- Celcius (Desa Citapen, 2010). Batas wilayah Desa Citapen adalah

sebagai berikut :

Sebelah Utara : Desa Banjarsari

Sebelah Selatan : Desa Cileungsi

Sebelah Timur : Desa Cibedug

Sebelah Barat : Desa Cideurum

Luas wilayah Desa Citapen adalah 268.660 ha , dimana Desa Citapen terbagi atas dua Dusun yang terdiri dari tujuh Rukun Warga (RW), dan 26 Rukun Tangga (RT). Luas wilayah Desa Citapen menurut penggunaannya dapat dilihat pada Tabel 4.

Berdasarkan data pada Tabel 4 wilayah persawahan memiliki nilai presentasi yang terbesar dibanding wilayah lainnya yaitu 52,11 persen dari total luas wilayah Desa Citapen. Besarnya angka dalam penggunaan lahan persawahan mengindikasikan atau menunjukan bahwa usaha pertanian di Desa Citapen berpotensi untuk dikembangkan, termasuk usahatani sayuran. Salah satu sayuran yang dapat berkembang di Desa Citapen yaitu Mentimun.

(2)

44

Tabel 4. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan di Desa Citapen Tahun 2010

Wilayah Luas (ha/m²) Presentase (%)

Luas Tanah Sawah 140 54,9

Permukiman 110,366 43,3 Perkantoran 0,040 0,03 Pasar - - Kawasan Industri - - Sarana Pendidikan 0,250 0,10 Sarana Olahraga 1,2 0,47 Lahan Sawah 0,25 0,10 Kebun 2,804 1,10 Total Luas 254,91 100,00

Sumber : Desa Citapen, 2010

5.1.2 Keadaan Sosial Ekonomi

Perkembangan dan pembangunan suatu wilayah dapat dilihat salah satunya dari pertumbuhan penduduk, sehingga pertumbuhan penduduk perlu diperhatikan dengan baik. selain itu pembangunan suatu wilayah juga perlu diperhatikan dengan melihat pertumbuhan ekonomi dan sumberdaya manusianya. Desa Citapen pada tahun 2010 berjumlah 8.894 jiwa yang terdiri dari 4.637 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan yang berjenis kelamin perempuan terdiri dari 4.257 jiwa. Jumlah kepala kelurga (KK) di Desa Citapen yaitu 2.173 KK dengan tingkat kepadatan penduduk 338 jiwa per km. Banyaknya jumlah Jumlah keluarga yang memiliki lahan pertanian tanaman pangan dan sayuran di Desa Citapen terdiri dari 2.739 keluarga yang memiliki lahan kurang dari satu hektar dan 183 keluarga yang memiliki lahan seluas 1-5 hektar (Desa Citapen, 2010). Hal ini juga menunjukan bahwa Desa Citapen berpotensi dalam bidang pertanian, baik dalam mengusahakan tanaman pangan atau sayuran, khususnya mentimun.

Penduduk Desa Citapen merupakan penduduk asli daerah. dan agama yang dianut penduduk Desa Citapen hampir secara keseluruhan beragama Islam. dari total jumlah penduduk Desa Citapen sebesar 8.894 jiwa, jumlah penduduk yang pernah mengenyam bangku pendidikan sebesar 4336 jiwa (48,75 %) dan untuk lulusan sekolah dasar sebesar 1899 jiwa (43,79 %). Tingkat Pendidikan penduduk Desa Citapen dengan mayoritas petani dapat mempengaruhi tingkat pemahaman dalam menjalankan usahatani mentimun.

(3)

45 Ditinjau dari jenis mata pencaharian pokok masyarakat Desa Citapen, secara umum kegiatan ekonomi bergerak di sektor pertanian dengan profesi utama sebagai petani dan buruh tani. Selain itu, profesi masyarakat Desa Citapen adalah sebagai pegawai negeri dan swasta, pengrajin, pedagang, peternak, guru dan lain-lain. Secara rinci jenis mata pencaharian pokok penduduk Desa Citapen dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Jenis Mata Pencaharian Pokok Penduduk Desa Citapen Tahun 2010

No Jenis Pekerjaan Jumlah (Orang) Presentase (%)

1 Petani 710 20,25 2 Buruh Tani 1950 55,62 3 Buruh 250 7,13 4 Pegawai Swasta 25 0,71 5 Pegawai Negeri 76 2,17 6 Pengrajin/Penjahit/Jasa 7 0,2 7 Pedagang 76 2,17 8 Peternak 8 0,23 9 TNI/POLRI 2 0,06 10 Tukang Kayu 50 1,43 11 Tukang Batu 25 0,71 12 Guru Swasta 7 0,2

13 Buruh Industri Kerajinan 320 9,13

TOTAL 3506 100

Sumber : Desa Citapen, 2010

Tabel 5 menunjukan bahwa presentase terbesar dari berbagai jenis mata pencaharian pokok yang ada di Desa Citapen yang bergerak di bidang pertanian yaitu sebesar 75,87 persen dari jumlah penduduk yang bekerja. Dimana mata pencaharian tersebut adalah sebagai petani dan buruh petani. sedangkan mata pencaharian yang memiliki presentase terkecil adalah TNI/POLRI yaitu 0,06 persen setiap jenis pekerjaannya dari total penduduk yang bekerja.

(4)

46

5.1.3 Gapoktan Rukun Tani

Kehidupan bertani merupakan kegiatan turun temurun sebagian besar penduduk Desa Citapen. Teknik budidaya yang diterapkan dalam pengolahan lahannya secara umum menggunakan jasa ternak kerbau dan traktor. Selain itu para petani sudah mengenal adanya pergantian musim tanam.

Desa Citapen merupakan desa yang kaya akan potensi pertaniannya seperti tanaman pangan, sayuran dan buah-buahan. Berdasarkan ketiga komoditas tersebut umumnya petani di Desa Citapen bergerak di bidang tanaman pangan dan sayuran. Komoditas unggulan yang ada di Desa Citapen yaitu Padi dan Cabai Keriting tetapi tidak menutup kemungkinan untuk komoditas mentimun terus berkembang dan menjadi komoditas unggulan.

Pada tahun 2001, berawal dari adanya persamaan kepentingan diantara petani-petani yang ada di wilayah desa Citapen Kecamatan Ciawi dalam hal komoditi hortikultura yang ditanam terutama komoditi sayuran dan juga dalam hal pemasaran hasil panen. Saat itu, atas prakarsa petugas lapangan dari PT. TANINDO, dibentuklah satu kelompok tani yang bernama Kelompok Tani Pondok Menteng yang beranggotakan 25 orang.

Dalam rangka menyatukan kepentingan yang sama ke arah usaha Agribisnis terpadu terutama dalam mengakses pasar dan permodalan, petani – petani lainnya yang tergabung dalam kelompok tani tanaman pangan, kelompoktani ternak dan kelompoktani pengrajin olahan hasil pertanian, bergabung manjadi satu membentuk satu himpunan kelompok tani yang bernama ’Himpunan Rukun Tani’

Pada tanggal 29 Juni 2007 melalui bimbingan Petugas Penyuluh Pertanian, ’Himpunan Rukun Tani’ dikukuhkan melalui rapat pengukuhan Gapoktan yang disahkan oleh Kepala desa dan Camat menjadi Gapoktan Rukun Tani dengan anggota 236 orang. Sebagai legalitas Gapoktan, tanggal 26 November 2008, Gapoktan Rukun Tani telah dikukuhkan dihadapan Notaris.

Para petani yang ada di Desa Citapen menjual atau memasarkan sayurannya kepada Gapoktan Rukun Tani. Melalui Gapoktan Rukun Tani Petani tidak mengalami kesulitan untuk memasarkan produknya, karena Gapoktan Rukun Tani yang akan memasarkannya di pasar-pasar daerah Bogor.

(5)

47 Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Rukun Tani tidak hanya sebagai wadah menyalurkan hasil panen para petani, tetapi merupakan juga suatu wadah dalam mengumpulkan dan membina petani untuk saling berbagi informasi dalam bidang usahatani sayuran khususnya mentimun dan pertanian atau komoditas lainnya. Gapoktan Rukun Tani juga menyediakan berbagai macam input atau saprodi yang diperlukan petani dalam melakukan budidaya sayurannya, mulai dari benih, obat-obatan, pupuk, vitamin daun, serta tenaga kerja.

Gapoktan Rukun Tani memiliki tujuh kelompok tani yaitu Kelompok Tani Pondok Menteng, Kelompok Tani Silih Asih, Kelompok Tani Sukamaju, Kelompok Tani Bina Mandiri, Kelompok Tani Tani Jaya, Kelompok Tani Sawah Lega, dan Kelompok Tani Wanita Citapen Berkarya. Berdasarkan ketujuh kelompok tani, enam diantaranya merupakan kelompok tani yang bergerak dibidang pertanian dan perternakan. Selain itu, satu kelompok tani yaitu kelompok tani wanita citapen berkarya merupakan kelompok tani yang bergerak di pengolahan hasil.

Kelompok Tani Pondok Menteng merupakan salah satu dari tujuh kelompok tani yang ada di Gapoktan Rukun Tani yang memiliki jumlah anggota terbanyak yaitu 104 anggota. Kelompok Tani Pondok Menteng juga merupakan pelopor terbentuknya Gapoktan Rukun Tani serta kelompok tani lainnya. Kelompok Tani Pondok Menteng berdiri sejak tahun 2001 yang diketuai oleh bapak H. Misbah hingga sekarang. Sekretariat Kelompok Tani Pondok Menteng beralamat di jl. Raya Tapos Pondok Menteng Desa Citapen Kecamatan Ciawi Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.

Terbentuknya Kelompok Tani Pondok Menteng dapat mendorong dan menumbuhkan usaha produktif dalam rangka meningkatkan produktivitas dan pendapatan para petani anggotanya, menggalang persatuan dan kesatuan masyarakat, dan memperkuat perekonomian di pedesaan. Kelompok Tani Pondok Menteng memberikan juga pembinaan dan penyuluhan kepada para petani anggotanya yang berkaitan dengan pertanian seperti pola tanam, kegiatan budidaya hingga dalam penanganan pasca panen. Struktur kepengurusan organisasi Kelompok Tani Pondok Menteng cukup sederhana, dimana hanya terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris dan bendahara.

(6)

48

5.2 Karakteristik Petani Responden

Petani responden dalam penelitian ini adalah petani yang peranah mengusahakan mentimun dan tergabung dalam kelompok tani pondok menteng. Karakteristik petani yang dianggap penting mencakup Status usaha, umur, tingkat pendidikan, pengalaman bertani mentimun, luas lahan yang digunakan dalam bertani mentimun, dan status kepemilikan lahan. Karakteristik tersebut dipilih karena dianggap mempengaruhi dalam pelaksanaan usahatani mentimun terutama dalam pelaksanan teknik budidaya yang dapat berpengaruh terhadap produksi mentimun.

5.2.1 Status Usaha

Pada umumnya pekerjaan utama petani responden dalam penelitian ini adalah sebagai petani dan buruh tani yaitu sebanyak 32 orang (91,4%) dari total responden sebanyak 35 orang dan sisanya memilih pekerjaan lain. Pekerjaan utama responden mayoritas sebagai petani dan buruh tani dengan usahatani mentimun, caisin, cabai, buncis, kacang panjang dan sayuran lainnya. adapun pekerjaan sampingan yang diusahakan petani responden antara lain buruh bangunan, tukang ojek, pedagang dan peternak. Karakteristik petani responden berdasarkan status usaha dapat di lihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Status Usaha di Kelompok Tani Pondok Menteng Tahun 2010

Status Usaha Jumlah Responden (Orang) Presentase (%)

Utama 32 91,43

Sampingan 3 8,57

Jumlah 35 100

5.2.2 Umur

Petani responden mentimun didaerah penelitian yaitu Desa Citapen memiliki umur yang berkisar antara 25-65 tahun, sehingga berdasarkan tingkat umurnya dapat dikelompokan menjadi empat kelompok, yaitu petani responden

(7)

49 berkisar antara 25-34 tahun, 35-44 tahun, 45-54 tahun, dan kelompok usiah diatas 55 tahun.

Gambaran kelompok usia tersebut memperlihatkan kegiatan bertani banyak dilakukan oleh penduduk yang berusia produktif. Dimana usia produktif memiliki kekuatan fisik yang baik dan semangat yang tinggi untuk terus bekerja dimana mereka mempunyai tanggungan kelurga yang perlu mereka hidupi. lain halnya untuk kelompok usia di atas 55 tahun, kemampuan fisiknya kurang baik atau dengan kata lain kekuatan fisik yang dimiliki terbatas sehingga dalam melakukan pekerjaannya akan mudah lelah. Rincian sebaran umur responden dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur di Kelompok Tani Pondok Menteng Tahun 2010

Kelompok Umur (Tahun) Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)

25-34 7 20

35-44 15 42,86

45-54 7 20

≥ 55 6 17,14

Total 35 100

Pada Tabel 7 dapat dilihat jumlah umur tertinggi berada pada kelompok umur produktif yaitu 24-34 tahun, 35-44 tahun, dan 45-54 tahun, dimana presentasenya sebesar 20 persen, 42,86 persen, dan 20 persen. Sedangkan untuk jumlah umur terendah atau berada pada kelompok umur lebih besar dari 55 tahun yang berjumlah enam orang dari total petani responden dengan presentase sebesar 17,14 persen.

5.2.3 Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan memiliki pengaruh dalam melaksanakan kegiatan usahatani, karena dengan tingkat pendidikan diharapkan para petani dapat atau mampu menjalankan usahataninya dengan lebih baik, dimana didukung dengan pengetahuan wawasan yang semakun luas. Pada umumnya petani yang memiliki

(8)

50 tingkat pendidikan yang terbatas masih menggunakan teknologi secara sederhana dan turun temurun dalam kegiatan usahanya. Oleh karena tingkat pendidikan juga cukup berpengaruh dalam tingkat penyerapan teknologi baru selain dalam pelaksanaan usahatani mentimun.

Tingkat pendidikan petani responden terdiri dari Sekolah Dasar (SD) hingga perguruan tinggi, tetapi ada pula petani yang tidak tamat sekolah dasar. Pada Tabel 8 tingkat pendidikan yang paling banyak dimiliki petani responden yaitu tingkat pendidikan sekolah dasar sebanyak 17 petani responden yang lulus sekolah dasar dengan presentase sebesar 48,57 persen. Karakteristik dari petani mentimun yang menjadi responden dapat dilihat pada Tabel 8

Tabel 8. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kelompok Tani Pondok Menteng Tahun 2010

Tingkat Pendidikan Jumlah Responden (Orang) Presentase (%)

Tidak Tamat SD 8 22,86 Tamat SD 17 48,57 SMP/Sederajat 3 8,57 SMA/Sederajat 6 17,14 Perguruan Tinggi 1 2,86 Total 35 100 5.2.4 Pengalaman Bertani

Pengalaman dalam usahatani dapat menentukan suatu keberhasilan usahatani mentimun dan dapat mempengaruhi pada tingkat produktivitas usahatani mentimun. Petani responden dengan pengalaman yang cukup lama mempunyai pemahaman yang lebih baik dalam menangani masalah yang ada. Kemampuan tersebut dapat seperti kemampuan menentukan dalam faktor produksi yang digunakan dalam usahatani. Oleh karena itu tingkat pengalaman petani dapat dilihat dari berapa lama petani terjun dalam usahatani.

Pada umumnya petani responden memiliki pengalaman dalam usahatani mentimun cukup lama, karena profesi sebagai petani merupakan mata pencarian yang dilakukan secara turun temurun. Dengan demikian petani responden tahu

(9)

51 kapan harus menanam mentimun dan dapat mengatasi masalah yang terjadi dalam kegiatan usahatani secara teknisnya.

Presentase terbesar pada pengalaman usahatani yaitu lebih dari 10 tahun yaitu sebanyak 23 orang dengan presentase sebesar 65,71 persen dari total petani responden. Sedangkan jumlah terkecil ada pada rentan pengalaman kurang dari lima tahun yaitu sebanyak lima orang dengan presentase sebesar 14,29 persen. karakteristik petani responden berdasarkan pengalaman bertani dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Bertani di Kelompok Tani Pondok Menteng Tahun 2010

Pengalaman Bertani (Tahun) Jumlah Responden (Orang) Presentase (%)

< 4,9 tahun 5 14,29

5,1-9,9 tahun 7 20

≥10 Tahun 23 65,71

Total 35 100

5.2.5 Luas Lahan Mentimun

Petani responden di Kelompok Tani Pondok Menteng memiliki luas lahan yang digunakan dalam usahatanu cukup beragam yaitu antara 0,03-2 hektar. Sedangkan untuk luas lahan yang digunakan dalam bertani mentimun berkisar antara 0,03-1 hektar. Luas lahan tertinggi berada pada katagori luas lahan lebih dari 1 hektar yaitu sebanyak 11 petani responden dengan presentase sebesar 31,43 persen, sedangkan tiga petani dari total petani responden menggunaan luas lahan dengan katagori yang terendah berada di luas lahan antara 0,7-0,99 hektar atau 8,57 persen. Secara rinci jumlah penguasaan lahan dapat dilihat pada Tabel 10.

(10)

52

Tabel 10. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas lahan Mentimun di Kelompok Tani Pondok Menteng Tahun 2010

Luas Lahan (Ha) Jumlah Responden (Orang) Presentase (%)

< 0,1 6 17,14 0,1-0,39 8 22,86 0,4-0,69 7 20 0,7-0,99 3 8,57 ≥1 11 31,43 Total 35 100

5.2.6 Status Kepemilikan Lahan

Status kepemilikan lahan petani responden terdiri dari milik sendiri, sewa, pengelola, dan bagi hasil. Jumlah petani responden yang memiliki status lahannya sebagai lahan milik sendiri sebanyak 12 orang dengan presentase 34,28 persen, untuk petani responden yang melakukan usahatani dengan menyewa lahan yaitu sebanyak 14 orang petani responden dengan presentase sebesar 40 persen, sedangkan untuk lima orang petani responden menggunakan lahan untuk usahatani dengan status lahan yaitu sebagai penggarap atau pengelola dengan presentase sebesar 14,29 persen, sedangkan ada empat orang atau 11,43 persen dari total keseluruhan petani responden yang mempunyai sistem bagi hasil dalam melakukan usahatani. Status kepemilikan lahan petani responden secara rinci dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Karakteristik Petani Responden Mentimun Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan di Kelompok Tani Pondok Menteng Tahun 2010

Status Kepemilikan lahan Jumlah Responden (Orang) Presentase (%)

Sendiri 13 37,14

Sewa 14 40

Pengelola 4 11,43

Bagi Hasil 4 11,43

(11)

53

5.2.7 Pola Tanam Mentimun

Pola tanam perlu dilakukan oleh petani dalam memanfaatkan luas lahan yang dimilikinya. Pada tahun 2010, petani responden yang ada di daerah penelitian memiliki pola tanam dalam satu tahun dengan komoditas yang berbeda-beda. Para petani responden atau petani mentimun dalam melakukan usahatani mentimun menggunakan pola tanam monokultur. Sebanyak 35 petani responden menanam mentimun dengan pola tanam monokultur yaitu menanam satu jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama.

Pola tanam terkait dengan penggunaan lahan tanam yang ditanami, yaitu penggunaan lahan secara total keseluruhan lahan dan penggunaan sebagian lahan dari total lahan. Sebanyak 35 petani responden, dimana enam petani responden menggunakan lahan tanam secara menyeluruh untuk tanaman mentimun. Sedangkan 29 petani responden lainnya menggunakan sebagian lahan tanam dari total lahan untuk mentimun. Setiap musimnya 29 petani responden tersebut melakukan usahatani lebih dari satu jenis tanaman sayuran secara monokultur, yang sisa lahan tanam lainnya di tanami sayuran lainnya. Tujuan dilakukan penanaman dengan komoditas yang berbeda pada persil yang berbeda atau sama oleh petani responden yaitu untuk mengatasi adanya kegagalan selama produksi.

Umumnya pola tanam yang dilakukan oleh petani responden pada musim tanam pada tahun 2010 dari bulan januari hingga bulan desember secara

monokultur dapat dilihat pada Gambar 7.

Keterangan : = Caisin = Cabai/Tomat

= Mentimun

Gambar 7. Pola Tanam Pertama Komoditas Sayuran Petani Responden di Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen Tahun 2010

0 0,5 1 1,5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan

(12)

54 Pada Gambar 7 umumnya pola tanam yang dilakukan para petani yaitu pada bulan januari hingga bulan april menanam mentimun. Pada bulan april hingga juni menanam sayuran caisin dan pada bulan berikutnya dilanjutkan dengan menanam tanaman cabai atau tomat atau dapat ditanam dengan sayuran lainnya. Selain itu, petani mentimun ada yang dalam satu tahun dapat menanam mentimun dua kali. Adapun pola tanam yang kedua dapat dilihat pada Gambar 8.

Keterangan : = Caisin = Padi

= Mentimun

Gambar 8. Pola Tanam Kedua Komoditas Sayuran Petani Responden di Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen Tahun 2010

Berdasarkan Gambar 7 dan Gambar 8 bahwa tanaman mentimun umumnya ditanam saat musim hujan yaitu pada bulan desember hingga bulan mei. Pertumbuhan tanaman mentimun lebih baik saat musim hujan dibandingkan musim kemarau. Hal ini dikarenakan tanaman mentimun membutuhkan banyak air bagi pertumbuhannya sama halnya dengan tanaman caisin yang juga memrlukan banyak air dalam pertumbuhannya. Tanaman mentimun salah satu tanaman sayuran yang memiliki masa tanam yang singkat yaitu memiliki masa tanam selama tiga bulan hingga panen habis.

Pola tanam yang telah diterapkan oleh petani responden telah mengikuti prinsip dalam melakukan teknik budidaya tanaman, yaitu lahan yang telah digunakan atau ditanami satu jenis tanaman, maka untuk musim tanam selanjutnya dengan lahan yang sama tidak dapat ditanami kembali dengan jenis tanaman yang sama atau dalam famili yang sama. Hal tersebut dikarenakan bahwa lahan yang sudah ditanami oleh tanaman yang sama berulang kali secara berturut-turut setiap musimnya maka siklus atau rantai hama dan penyakit yang ada tidak dapat terputus. Oleh karena itu, petani responden melakukan penanaman tanaman

0 0,5 1 1,5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan 1 Ha

(13)

55 sayuran yang berbeda setiap musimnya untuk memutus rantai hama dan penyakit pada satu tanaman sayuran.

5.2.8 Penggunaan Input Produksi Mentimun

Faktor-faktor produksi atau input produksi yang digunakan dalam budidaya mentimun yaitu benih mentimun dengan varietas wulan F1, pupuk kandang, kapur, pupuk kimia (pupuk ZA, pupuk NPK, pupuk urea, pupuk KCL, dan Pupuk TSP), pupuk daun dan buah, pestisida padat, pestisida cair, serta tenaga kerja. Petani responden dalam penggunaan input produksi berbeda-beda. Adapun rata-rata penggunaan input produksi mentimun dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Rata-Rata Penggunaan Input Produksi Mentimun Per Hektar di Kelompok Tani Pondok Menteng Tahun 2010

No Input Produksi Satuan Musim Hujan Musim Kemarau

1. Benih Gram 1.139,095 1.298,33

2. Pupuk Kandang Kilogram 14.859,21 14.859,21

3. Kapur Kilogram 1.601,92 1.601,92 4. Pupuk Kimia Pupuk ZA Pupuk NPK Pupuk urea Pupuk KCL Pupuk TSP Kilogram Kilogram Kilogram Kilogram Kilogram 295,192 329,881 279,839 239,32 163,4 291,96 327,381 279,839 239,32 163,4 5. Pupuk Daun & Buah Kilogram 3,46 3,46

6. Pestisida Padat Antrakol Sevin Khardan Lanet Kilogram Kilogram Kilogram Kilogram 4,56 2,21 1 1,98 4,53 2,27 1 2,23 7. Pestisida Cair Winder Churacon Plengket Liter Liter Liter 1,97 2,79 1,13 1,96 2,95 0,81

(14)

56

5.3 Gambaran Umum Usahatani Mentimun Di Desa Citapen

Berdasarkan hasil penelitian dilapangan,sebagain besar penduduk di Desa Citapen berprofesi sebagai petani dan buruh tani (Tabel 5). Para petani tersebut melakukan berbagai macam usahatani mulai dari tanaman pangan, buah-buahan dan sayuran. Banyak jenis sayuran yang diusahakan oleh para petani di Desa Citapen, yaitu caisin, mentimun, cabai, tomat, buncis dan masih banyak sayuran lainnya. Sebagian besar petani responden membudidayakan mentimun secara monokultur. Berdasarkan wawancara kepada petani responden di lokasi penelitian usahatani mentimun yang di lakukan di Kelompok Tani Pondok Menteng dimulai dari persiapan lahan (pemupukan), penanaman, pemupukan susulan, pemeliharaan tanaman, pengecoran, pengendalian hama dan penyakit, serta panen dan pascapanen.

5.3.1 Persiapan Lahan a. Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, sehingga tanah menjadi gembur serta aerasi dan drainase tanah menjadi lebih baik. Menurut Wahyudi (2010) pembajakan atau mencangkul lahan untuk membalik tanah dan memperbaiki struktur tanah. Pengolahan tanah untuk tanaman mentimun yang dilakukan petani responden berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara di lokasi penelitian yaitu dengan cara tanah diolah terlebih dahulu hingga gembur. Pengolahan tanah tersebut dilakukan dengan menggunakan cangkul, dengan menggemburkan tanah hal itu juga berarti dapat memusnahkan hama dan penyakit yang ada di dalam tanah.

b. Pembuatan Bedengan

Tanah yang telah di gemburkan telah siap untuk di buat bedangan. Di Desa Citapen rata-rata petani responden membuat bedengan yang sederhana dimana lebar bedengan 120 cm, lebar selokan 50 cm dan tinggi bedengan 40 cm saat musim hujan berbeda tinggi bedengan saat musim kemarau yaitu 30 cm. Perbedaan tinggi bedengan saat musim hujan lebih tinggi dibandingkan bedengan saat musim kemarau dikarenakan agar pupuk yang ada di dalam lubang bedengan tidak keluar. Menurut Wahyudi (2010) bedengan yang sederhana memiliki ukuran

(15)

57 untuk lebar bedengan 110 cm, lebar selokan 50-60 cm, dan tinggi bedengan 15-20 cm. Bedengan yang digunakan oleh petani responden berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan mendekati ukuran yang telah dijelaskan oleh Wahyudi (2010).

c. Pemupukan dan Pengapuran

Berdasarkan wawancara terhadap petani responden di tempat penelitian penggunaan kapur dan pemupukan dasar dilakukan dengan cara diberikan disetiap lubang tanam lalu pupuk dan kapur di campur dengan tanah dan tanah tersebut diistirahtkan selama tujuh hari, hal ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan pH tanah dan menyuburkan tanah dan menetralkan pH agar siap untuk ditanami. Dalam pemupukan dasar dan pengapuran lubang tanam yang ada pada bedengan berkisar antara 8-10 cm, dan petani responden dalam pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang. Di bawah ini dapat dilihat gambar mengenai setiap lubang tanam yang telah dilakukan pemupukan dasar dan pengapuran.

Gambar 9. Pemupukan dan Pengapuran

5.3.2 Penanaman

Penanaman mentimun perlu memperhatikan pengaturan waktu tanam, pengaturan jarak tanam, dan cara tanam. Berdasarkan hasil wawancara penanaman mentimun baik dilakukan di lahan bekas sawah. Bulan yang baik untuk mentimum saat musim hujan (oktober-maret). Selain pengaturan waktu yang baik dalam penanaman mentimun berdasarkan musim, penentuan penanaman mentimun dapat dilakukan berdasarkan harga dipasar.

(16)

58 Jarak tanam yang digunakan petani responden yaitu 60 x 50 cm. Jarak tanam yang terlalu rapat menyebabkan tanaman mudah diserang hama penyakit. Jarak tanaman yang terlalu jauh dalam pemanfaatan lahan kurang efektif sehingga berdampak pada hasil produksi yang kurang maksimal. Para petani responden di tempat penelitian pada umumnya melakukan penanaman secara monokultur atau tunggal. Menurut Wahyudi (2010) sebelum penanaman di lahan, siram bibit dipersemaian sampai media benar-benar lembab hingga kebagian dasarnya, tetapi berdasarkan wawancara di tempat penelitian para petani responden dalam cara menanam mentimun tidak dilakukan persemaian terlebih dahulu dikarenakan benih mentimun yang digunakan memiliki mutu yang baik sehingga hasil yang didapatkan pun cukup baik.

Penanaman dilakukan setelah lahan yang dipersiapkan di istirahatkan selama kurang lebih tujuh hari. Dalam satu lubang tanam diberi dua benih mentimun dengan diberi jarak dua centimeter dimana dimaksudkan agar setiap benih mendapat nutrisinya masing-masing. Benih tersebut ditaruh dilubang tanam dengan kedalaman antara 3-5 cm, jika terlalu dalam dikhawatirkan titik tumbuhnya tergangu oleh percikan air dan tanah. Jika terlalu dangkal dikhawatirkan benih yang telah tumbuh akan patah, mengingat batang bibit mentimun bersifat sukulen (tidak berkayu).

(17)

59

5.3.3 Pemupukan Susulan

Tujuan pemupukan adalah meningkatkan pertumbuhan dan mutu hasil tanaman. Pemupukan diberikan pada saat tanaman menunjukkan sejumlah kebutuhan unsur hara agar diperoleh keefisienan yang maksimal. Pemberian pupuk padat dilakukan dengan cara ditugal, disebar di atas tanah atau di sebelah tanaman, sedangkan pemberian pupuk daun atau vitamin tumbuh dengan cara menyemprotkan pada daun, bersama air disemprotkan sebagai perlakuan tambahan.

Berdasarkan hasil wawancara, para petani responden melakukan pemupukan lanjutan dengan dua cara. Pemupukan tahap pertama dilakukan secara ditugal dan pemupukan kedua dilakukan dengan cara pengecoran.

Pemupukan lanjutan pertama yang dilakukan secara tugal dilakukan setelah tanaman berumur tujuh hari setelah tanam dengan pemberian pupuk kimia. Pupuk kimia yang biasa digunakan yaitu pupuk ZA, pupuk NPK, pupuk Urea, pupuk KCL, dan pupuk TSP. Pemupukan selanjutnya yaitu dengan cara pengecoran dimana pupuk yang digunakan terdiri dari pupuk kandang yang telah dimatangkan terlebih dahulu lalu ditambahkan dengan pupuk ZA dan pupuk NPK, ketiga pupuk tersebut dicampur jadi satu menggunakan air. Pengecoran dilakukan pada saat tanaman 10 HST dan pengecoran dilakukan sebanyak lima kali hingga panen habis dengan jarak setiap 10 hari. Adapun beberapa pupuk kimia yang digunakan dalam budidaya mentimun dapat dilihat pada Gambar 11

(18)

60

5.3.4 Pemeliharaan Tanaman

Tanaman yang telah ditanam perlu mendapatkan perhatian yang baik yaitu dengan cara pemeliharaan tanaman. Pemeliharaan tanaman bertujuan untuk menjaga tanaman agar pertumbuhan tanaman normal dan sehat, sehingga produksi yang dihasilkan pun maksimal. Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan kepada petani responden di Desa Citapen, pemeliharaan tanaman mentimun yang dilakukan oleh petani responden meliputi penyulaman, pemasangan ajir, penyiangan, dan perlindungan dari hama dan penyakit.

a. Penyulaman

Penyulaman dilakukan dengan tujuan untuk menggantikan tanaman yang mati, rusak atau kurang dalam pertumbuhannya (kerdil) kemudian ditanam kembali benih baru. Pada umumnya petani responden melakukan Penyulaman tersebut saat tanaman berumur 5-7 HST dan hanya dilakukan satu kali penyulaman.

b. Pemasangan Ajir

Menurut Wahyudi (2010) fitrah tanaman mentimun sebenarnya menjalar dipermukaan tanah. Namun, karena menginginkan permukaan kulit buahnya mulus dengan warna yang tidak belang, maka diperlukan ajir penopang agar buah mentimun menggantung. Pemasangan ajir berfungsi untuk membantu tanaman tumbuh tegak. Berdasarkan wawancara kepada petani responden, pada umumnya para petani memakai turus yang terbuat dari bambu yang memiliki panjang kurang lebih 1,5-2,5 meter. Menancapkan ajir disamping tanaman, sekitar 7-10 cm dari pangkal tanaman, dengan posisi miring kedalam bedengan hingga bersilang di bagian ujung ajir tanaman didepannya lalu ikat menggunakan tali rafia pada pertemuan ajir. Bagian bawah dibuat runcing agar mudah untuk ditancapkan didalam tanah. Satu tanaman mentimun menggunakan satu turus. Pemasangan ajir dilakukan saat tanaman berumur 10 HST dimana saat tanaman mentimun masih berukuran kecil.

(19)

61

c. Penyiangan

Salah satu penghambat produksi mentimun adalah adanya penyakit yang lebih dominan dari pada hama (Wahyudi, 2010), Oleh karena itu perlu dilakukan penyiangan. Penyiangan perlu dilakukan untuk membersihkan tanaman mentimun dari tanaman gulma (tanaman penggangu) seperti rumput liar dan tanaman lain yang berada disekitar tanaman mentimun. Penyiangan dilakukan pada saat tanaman telah berumur 10 HST. Alat yang biasa digunakan untuk melakukan penyiangan adalah cangkul kecil atau kored.

d. Penyiraman

Penyiraman dilakukan oleh petani responden ketika musim kemarau atapun saat hujan jarang terjadi, hal tersebut dilakukan guna membantu tanaman mentimun untuk tumbuh. Penyiraman dilakukan saat tanaman mentimum masih kecil hingga 7-14 HST selanjutnya penyiraman tersebut dapat digantikan oleh pengecoran dimana pengecoran tersebut sudah mengandung air. Penyiraman pada umumnya dilakukan oleh petani responden seminggu tiga kali dikarenakan susahnya memperoleh sumber air. Sumber air yang digunakan oleh petani responden yaitu berasal dari parit yang dialirkan ke dalam selokan bedengan sehingga air dapat terserap oleh tanah. Petani responden yang memiliki lahan di daerah pegunungan membutuhkan kegiatan penyiraman lebih banyak atau intens dibandingkan dengan petani responden yang memiliki lahan di sawah atau dekat dengan persawahan, dikarenakan lahan di daerah pegunungan memiliki tanah yang lebih kering saat musim panas.

e. Perlindungan Hama dan Penyakit

Pencegahan dan pemberantasan hama penyakit dilakukan secara intensif, dengan selang waktu tujuh hari setelah tanam dan selanjutnya selang waktu 10 hari dilakukan penyemprotan. Penyemprotan pestisida yang baik yaitu dalam penggunaanpupuk daun dan buah, Insektisida, dan fungisida tidak dilakukan bersamaan. Seperti penggunaan pertama yaitu penyemprotan insektisida dilakukan lalu dua hari kemudian dilakukan penyemprotan fungisida, setelah itu dua hari kemudian dilakukan penyemprotan pupuk daun dan buah. Tetapi

(20)

62 berdasarkan wawancara dilapangan, para petani responden kebanyak mencampur jadi satu pupuk daun dan buah, Insektisida, dan fungisida dengan alasan meminimalkan penggunaan tenaga kerja. Adapun Pestisida yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 12 a dan b

Gambar 12. a. Pestisida Padat

Gambar 12. b Pestisida Cair

5.3.5 Panen

Mentimun memiliki banyak varietas sehingga umur panennya pun

berbeda-beda seperti varietas mayapanda F1dan Venus dapat dipanen saat umur

32 HST, Panda dapat dipanen pada umur 33 HST (Wahyudi,2011). Mentimun

yang ditanam para petani responden di kelompok tani pondok menteng sebagian

(21)

63 dipanen ketika tanaman berumur 33-35 HST. Pemanenan dilakukan setiap dua hari atau tiga hari sekali dengan depalan hingga 15 kali pemanenan dikarenakan perkembangan buah mentimun termasuk cepat. Satu tanaman mentimun yang baik pada umumnyamenghasilkan dua kilogram mulai dari awal pemanenan hingga panen habis. Waktu panen biasa dilakukan pada pagi hari.

Gambar 13. Mentimun varietas Wulan F1 dan Mentimun Siap Kirim

5.3.6 Hama dan Penyakit

Seperti pada tanaman lainnya, keberadaan hama dan penyakit pada tanaman mentimun dapat merugikan para petaninya. Masalah tersebut pada umumnya dapat diatasi dengan mengetahui secara baik hama dan penyakit yang menyerang tanaman mentimun, sehingga dalam pemilihan pestisida yang akan digunakan sesuai untuk diaplikasikan. Kesalahan yang sering dilakukan para petani terjadi dalam pemberian pestisida yaitu dosis yang tidak tepat dimana para petani kurang memperhatikan cara pemakaian yang telah ditentukan sehingga penggunaan atau pemakaian pestisida melebih dari aturan yang telah ditetapkan. Selain itu sebagaian besar petani dalam memberikan pestisida juga hanya berdasarkan pengalamannya. Menurut Wahyudi (2010) hama dan penyakit yang

sering menyerang dalam usahatani mentimun adalah Thrips dan Aphids, Mites,

Downy Mildew, dan Powdery Mildew. Berdasarkan wawancara kepada petani responden kelompok tani pondok menteng hama dan penyakit yang sering menyerang mentimun yaitu cacantal, ulat daun, kutu daun, thrips, kresek daun dan embun tepung.

(22)

64 Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman mentimun dapat dilakukan dengan cara pemberian pestisida Pengendalian hama dengan pengendalian penyakit dilakukan berbeda, dimana untuk pengendalian penyakit dapat dicegah dengan penyiangan secara rutin dan pergantian tanaman karena jika setelah panen tetap ditanami mentimun atau tanaman yang sama secara terus menerus makan penyakit sebelumnya akan berpindah ke tanaman yang baru. Sedangkan untuk pengendalian hama yaitu dengan Pemberian fungisida bertujuan untuk mencegah hama sedangkan pemberian insektisida bertujuan untuk memberantas hama. Hama dan penyakit disebebkan oleh cuaca yang berubah-ubah seperti dalam satu hari terjadi hujan dan panas atau bisa dari cipatran obat pestisida yang mengenai tanaman mentimun saat hujan ditandai dengan adanya bintik-bintik hitam.

Petani responden di Kelompok Tani Pondok Menteng dalam membrantas hama menggunakan insektisida dan fungisida. Insektisida yang biasa digunakan petani dalam usahatani mentimun yaitu lanet, sevin, winder, khardan, curachron sedangkan untuk fungisida, petani responden menggunakan antrakol atau dittane. Setiap kali penyemprotan pada umumnya para petani responden menggabungkan fungisida dan insektisida serta di tambah penggunaan pupuk daun dan buah. Pemberian pupuk daun dilakukan satu atau dua kali dalam penyemprotan untuk merangsang tumbuhnya bunga, setelah tumbuh bunga pupuk daun lalu digantikan pupuk buah agar buah cepat tumbuh. Untuk pestisida padat para petani responden menggunakan satu sendok makan untuk dosisnya sedangkan untuk pestisida cair ukuran yang digunakan yaitu satu tutup botol. Pestisida dan pupuk tersebut lalu dicampur 14 liter air. Pada umumnya petani responden melakukan penyemprotan secara massal, dalam satu periode musim tanam penyemprotan dilakukan sebanyak 4-5 penyemprotan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :