PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2015

Teks penuh

(1)

commit to user

i

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA LINGKUNGAN HIDUP (Studi Kasus Pada Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray Jo. Putusan

Pengadilan Tinggi Semarang No.139/Pid.B/2005/PT.Smg Jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006)

TESIS

Untuk memenuhi Sebagian Persyaratan mencapai Derajat Magister Program Studi Ilmu Hukum

Disusun oleh :

RR ENDANG DWI HANDAYANI

NIM: 331202008

PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2015

(2)

commit to user

ii

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA LINGKUNGAN HIDUP (Studi Kasus Pada Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray Jo. Putusan

Pengadilan Tinggi Semarang No.139/Pid.B/2005/PT.Smg Jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006)

DISUSUN OLEH :

RR ENDANG DWI HANDAYANI NIM: 331202008

Telah disetujui oleh Tim Pembimbing Dewan Pembimbing

Jabatan Nama Tanda Tangan Tanggal

1. Pembimbing I Burhanudin Harahap SH.MH.MSI.Ph.D NIP:196007161 98503 1 004 ………. ……… 2. Pembimbing II Rofikah .SH.MH NIP:19551212 198303 2 001. ………. ……… Mengetahui :

Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum

Prof. Dr. Supanto, SH, M.Hum NIP. 19601107 198601 1 001

(3)

commit to user

iii

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA LINGKUNGAN HIDUP (Studi Kasus Pada Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray Jo. Putusan

Pengadilan Tinggi Semarang No.139/Pid.B/2005/PT.Smg Jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006)

Oleh :

RR ENDANG DWI HANDAYANI NIM: 3312020081

Telah disetujui dan disahkan oleh Tim Penguji

Jabatan Nama Tanda Tangan Tanggal

1. Ketua 2. Sekretaris 3. Anggota 4. Anggota Mengetahui : Direktur Program Pasca Sarjana,

Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, MS NIP. 19610717 198601 1 001

Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum,

Prof. Dr. Supanto, SH, M.Hum NIP. 19601107 198601 1 001

(4)

commit to user

iv

PERNYATAAN

Nama : RR ENDANG DWI HANDAYANI NIM : 3312020081

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis berjudul “ ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA LINGKUNGAN HIDUP (Studi Kasus Pada Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No.139/Pid.B/2005/PT.Smg Jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006)” adalah betul-betul karya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya, dalam tesis tersebut diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan tesis dan gelar yang saya peroleh dari tesis tersebut.

Surakarta, 30 Juni 2015 Yang membuat pernyataan

(5)

commit to user

v

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur alhamdulillah kepada Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan segenap kemampuan yang ada. Adapun judul tesis ini adalah “ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA LINGKUNGAN HIDUP (Studi Kasus Pada Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/ 2005/ PN. Kray Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No.139/Pid.B/2005/PT.Smg Jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006)”.

Tesis ini disusun untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat guna mencapai Gelar Magister Ilmu Hukum pada Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

1. Prof. Dr. Ravik Karsidi MS, selaku Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, MS, selaku Direktur Program Pascasarjana

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Prof. Dr. Hartiwiningsih, S.H, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Prof. Dr. Supanto, SH, M.Hum, selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

5. Dr. M. Hudi Asrori S, SH, M.Hum, selaku Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.

6. Seluruh staf Pengajar Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan bekal kepada penulis dengan ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat dalam masyarakat.

7. Teman-teman seangkatan yang selalu memberi dorongan dan motivasi untuk menyelesaikan tesis ini.

8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan bantuan dan dukungan baik langsung maupun tidak langsung selama penulis menyelesaikan tesis ini.

(6)

commit to user

vi

Dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kepada para pembaca untuk dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun di mana nantinya akan dapat penulis pergunakan dan sebagai penyempurnaan dalam penyusunan tulisan selanjutnya.

Akhirnya penulis berharap semoga dengan adanya tesis ini dapat bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Surakarta, 30 Juni 2015 Penulis

(7)

commit to user vii DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ... i HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

ABSTRAK ... ix

ABSTRACT ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Perumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 9

1. Manfaat Praktis ... 9

2. Manfaat Teoretis ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori ... 10

1. Pengertian Korporasi ... 10

2. Kewenangan Hakim dalam UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman ... 23

3. Tinjauan tentang Pidana Bersyarat... 29

B. Penelitian Yang Relevan ... 36

C. Kerangka Pemikiran ... 38

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 41

B. Sifat Penelitian ... 42

C. Pendekatan Penelitian ... 43

(8)

commit to user

viii

E. Teknik Pengumpulan Data ... 44

F. Jenis dan Sumber Data ... 45

G. Teknik Analisis Data ... 47

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 50 1. Kasus Posisi ... 50 2. Dakwaan ... 50 3. Pertimbangan Hakim ... 52 4. Putusan Hakim ... 58 B. Pembahasan ... 60

1. Pertimbangan Hakim Memutuskan Pidana Bersyarat terhadap Korporasi ... 60

2. Pertanggungjawaban Pidana Korporasi terhadap Tindak Pidana dalam Bidang Lingkungan Hidup Ideal ... 68

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 77 B. Implikasi ... 78 C. Saran ... 78 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(9)

commit to user

ix ABSTRAK

RR Endang Dwi Handayani, 331202008, adalah “ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA LINGKUNGAN HIDUP (Studi Kasus Pada Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/ 2005/ PN. Kray Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No.l39/Pid.B/2005/PT.Smg Jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006)”. TESIS : Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2015.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertimbangan hakim menjatuhkan putusan bersyarat terhadap korporasi dalam tindak pidana lingkungan hidup dan model ideal pertanggungjawaban pidana korporasi dalam tindak pidana lingkungan hidup. Penelitian ini merupakan penelitian doktrinal dengan sifat penelitian deskriptif dan menggunakan pendekatan studi kasus (case approach). Sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan hakim menjatuhkan putusan pidana bersyarat terhadap korporasi adalah untuk membatasi kerugian-kerugian dari penerapan pidana pencabutan kemerdekaan khususnya bagi pekerja yang

menggantungkan hidupnya di korporasi. Selain itu, juga untuk mengurangi

biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh masyarakat guna memperbaiki ekosistem yang

merupakan tanggung jawab korporasi. Adapun model ideal pertanggungjawaban

pidana korporasi terhadap tindak pidana dalam bidang lingkungan hidup adalah strict

liability.

(10)

commit to user

x ABSTRACT

RR Endang Dwi Handayani, 331202008, “CORPORATE CRIMINAL RESPONSIBILITY IN THE CRIME OF ENVIRONMENT (Case study Court Karanganyar 18 / Pid.B / 2005 / PN.Kray jo High Court Semarang No. 139 / Pid.B / 2005 / PT.Smg jo Supreme Court Decision No.2077 / K / Pid / 2006)”. Thesis : University Graduate program March Surakarta, 2015.

The purpose of this study was to determine the conditional consideration of the judge ruled against the corporation in the environmental crime and criminal responsibility corporate in ideal model of environmental crime. This research is a descriptive study doctrinal in nature and uses a case study approach (case approach). Source of data used is the data source is a source of primary data and secondary data sources. The technique used is the analysis of qualitative data analysis techniques. The results showed that the consideration of criminal conditional judge ruled against the corporation is to limit losses from the application of criminal revocation of independence, especially for workers who rely on corporate. Besides, also to reduce the costs to be incurred by the society in order to improve the ecosystem is the responsibility of the corporation.

The ideal model of corporate criminal liability for criminal acts in the environmental field is strict liability.

(11)

commit to user BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Lingkungan hidup dalam perspektif teoretis dipandang sebagai bagian mutlak dari kehidupan manusia, tidak terlepas dari kehidupan manusia itu sendiri. Dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti termuat dalam Undang-Undang Dasar Negara Reepublik Indonesia Tahun 1945 dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila, perlu diusahakan pelestarian lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan dilaksanakan dengan kebijaksanaan terpadu dan menyeluruh serta memperhitungkan kebutuhan generasi sekarang dan mendatang.

Untuk menjamin adanya kepastian hukum agar masyarakat mempunyai kesadaran untuk turut serta dalam melestarikan lingkungan mereka, pemerintah telah menyiapkan perangkat hukum khususnya hukum lingkungan untuk menjerat para pencemar dan perusak lingkungan hidup. Undang -Undang yang dimaksud adalah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Lingkungan Hidup (UULH) serta Undang-Undang Nomor Nomor 4 Tahun 1982 tentang Lingkungan Hidup (UULH ) serta Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) dan disempurnakan dengan Undang-Undang yang terbaru yaitu Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) yang sampai saat tulisan ini dibuat peraturan pelaksananya (PP) belum keluar.

Keberadaan undang-undang ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi aparat penegak hukum untuk menindak fihak-fihak yang telah sengaja atau tidak sengaja telah melakukan pencemaran lingkungan. Para penegak hukum dapat menyelesaikan kasus-kasus tindak pidana lingkungan yang terjadi, khususnya masalah pencemaran air oleh limbah industri yang sering terjadi terutama di kota-kota besar.

(12)

commit to user

Saat ini hukum lingkungan telah berkembang dengan pesat, bukan saja dalam hubungannya dengan fungsi hukum sebagai perlindungan, pengendalian dan kepastian hukum bagi masyarakat (social control) dengan peran agent of

stability, tetapi lebih menonjol lagi sebagai sarana pembangunan (a tool of social engineering) dengan peran sebagai agent of development atau agent of change.1

Persoalan lingkungan menjadi semakin kompleks, tidak hanya bersifat praktis, konseptual, ekonomi saja, tetapi juga merupakan masalah etika baik sosial maupun bisnis. Hukum pidana tidak hanya melindungi alam, flora dan fauna (the

ecological approach), tetapi juga masa depan kemanusiaan yang kemungkinan

menderita akibat degradasi lingkungan hidup (the antropocentris approach). Dengan demikian muncul istilah “the environmental laws carry penal sanction

that protect a multimedia of interest”. Perkembangan undang-undang tentang

lingkungan hidup khususnya di Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari gerakan sedunia untuk memberikan perhatian lebih besar kepada lingkungan hidup, mengingat kenyataan bahwa lingkungan hidup telah menjadi masalah yang perlu ditanggulangi bersama demi kelangsungan hidup di dunia ini. Perhatian terhadap masalah lingkungan hidup ini dimulai di kalangan Dewan Ekonomi dan Sosial PBB pada waktu diadakan peninjauan terhadap hasil-hasil gerakan “Dasawarsa Pembangunan Dunia ke-1 (1960-1970) guna merumuskan strategi “Dasawarsa Pembangunan Dunia ke-2 (1970-1980).2

Konferensi Internasional tentang lingkungan hidup pada bulan Juni 1972 tersebut telah menghasilkan “Deklarasi Stockhlom” yang berisi 26 asas berikut 109 rekomendasi pengimplementasiannya dan sebagai tindak lanjut dari konferensi tersebut 10 tahun kemudian, pada tanggal 11 Maret 1982 lahirlah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) yang telah menandai awal

1

Indriati Amarini, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi dalam Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Jurnal UMP, Purwokerto, 2010, hlm. 27.

2 Koesnadi Hardjasumatri, Hukum Tata Lingkungan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, 1999,

(13)

commit to user

pembangunan perangkat hukum sebagai dasar bagi upaya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup.3

Hukum Lingkungan mencakup penataan dan penegakan hukum

(compliance and enforcement), yang meliputi bidang hukum administrasi negara,

bidang hukum perdata dan bidang hukum pidana. Secara terminologi istialah penataan mempunyai arti tindakan preemtif, preventif dan proaktif. Penegakan mempunyai arti tindakan represif. Apalagi diformulasikan antara preventif dengan represif maka akan berwujud berupa sanksi. Pada hakekatnya Hukum Lingkungan lebih menekankan kepada nilai-nilai penataan hukum terhadap pelestarian fungsi lingkungan hidup, dibandingkan pada nilai-niali penegakan hukumnya. Nilai-nilai penataan hukum harus diberikan bobot yang kuat dan harus dapat diformalkan ke dalam rumusan peraturan perundang-undangan.4

Permasalahan hukum lingkungan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat semakin kompleks, sehingga memerlukan suatu regulasi yang secara komprehensif dan integral mampu digunakan sebagai pijakan dalam melaksanakan penegakan hukum. Dalam mencermati perkembangan tersebut, maka perlu suatu upaya untuk menyempurnakan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 jo. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang selanjutnya disebut dengan UUPPLH yang memiliki tujuan Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup adalah: menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia, menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem; menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup; mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup; menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa depan; menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia; mengendalikan

3 Op. cit, hlm. 6.

4 Amiruddin A. Dajaan Imami, dkk, Asas Subsidaritas : Kedudukan dan Impelementasi dalam

(14)

commit to user

pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; mewujudkan pembangunan berkelanjutan; dan mengantisipasi isu lingkungan global.5

UUPPLH mengatur ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup yang memuat asas-asas dan prinsip pokok, sehingga berfungsi sebagai payung bagi penyusun peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan bagi penyesuaian peraturan perundang-undangan yang telah ada.

Sebagaimana diketahui bahwa agar suatu norma atau suatu peraturan perundang-undangan itu dapat dipatuhi oleh setiap warga masyarakat, maka di dalam norma atau peraturan perundang-undangan biasanya diadakan sanksi atau penguat. Sanksi tersebut bisa bersifat sosial bagi mereka yang melakukan pelanggaran, akan tetapi juga bersifat positif bagi mereka yang mematuhi atau mentaatinya. Hukum pidana di Indonesia sebagai sarana untuk menanggulangi kejahatan nampaknya tidak menjadi persoalan. Hal ini terlihat dari praktek perundang-undangan selama ini yang menunjukkan bahwa penggunaan hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan atau politik hukum pidana yang dianut di Indonesia. Penggunaan hukum pidana dianggap sebagai hal yang wajar dan normal, seolah-olah eksistensinya tidak dipersoalkan.

Sebagai masalah nasional, secara yuridis persoalan kejahatan lingkungan dikategorikan sebagai tindak pidana administrasi (administrative penal law) atau tindak pidana yang mengganggu kesejahteraan masyarakat (public welfare

offences). Tindak pidana ini semakin kuat dengan diundangkannya UUPPLH yang

telah menunjukkan kepada bangsa Indonesia bahwa pengaturan tindak pidana lingkungan hidup yang secara idiil dimaksudkan untuk dapat melakukan rekayasa sosial (social engineering), masih memerlukan penyempurnaan ditinjau dari seluruh permasalahan pokok hukum pidana, yakni: perumusan tindak pidana (criminal act), pertanggungjawaban pidana (criminal responsibility) dan sanksi

5 Pasal 3 Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan

(15)

commit to user

(sanction) baik yang merupakan pidana (punishment) maupun tindakan pidana tertib (treatment).6

Di Indonesia prinsip pertanggungjawaban korporasi (corporate liability) tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana selanjutnya disebut dengan KUHP, melainkan diatur dalam peraturan perundangan organik yang merupakan hukum pidana khusus. Tidak dikenalnya prinsip pertanggungjawaban korporasi dalam KUHP disebabkan karena subjek tindak pidana yang dikenal dalam KUHP adalah orang dalam konotasi biologis yang alami (natuurlijke

persoon). Di samping itu, KUHP juga masih menganut asas sociates delinquere non potest yaitu badan hukum (rechtperson) dianggap tidak dapat melakukan

tindak pidana. Dengan demikian, pemikiran fiksi tentang sifat badan hukum (rechspersoonlijkheid) tidak berlaku dalam bidang hukum pidana.7

Proses globalisasi dan peningkatan interdependensi antar negara di semua aspek kehidupan terutama di bidang ekonomi semakin meningkatkan peran korporasi, baik nasional maupun multi nasional sebagai pendorong dan penggerak globalisasi. Untuk itu, kerjasama internasional guna mengatur peran korporasi antar negara semakin dibutuhkan di berbagai bidang hukum bahkan di bidang kode etik. Globalisasi yang ditandai oleh pergerakan yang cepat dari manusia, informasi, perdagangan dan modal, di samping menimbulkan manfaat bagi kehidupan manusia juga harus diwaspadai efek sampingannya yang bersifat negatif yaitu globalisasi kejahatan dan meningkatnya kuantitas serta kualitas kejahatan di pelbagai negara dan antar negara, antara lain dalam bentuk kejahatan ekonomi. White collar crime termasuk di dalamnya kejahatan korporasi

(corporate crime), perlu mendapat perhatian khusus mengingat tingkat

viktimisasinya yang bersifat multidimensional.8

Tidak dapat diingkari lagi bahwa korporasi memiliki identitas hukum tersendiri, yang terpisah dari pemegang saham, direktur dan para pejabat korporasi

6 Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, Alumni, Bandung, 1998, hlm.

89.

7 Asmani, Jentera Jurnal Hukum, diakses pada tanggal 16 Pebruari 2013, Pukul 11.00. WIB. 8 Muladi, Makalah Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum Pidana (Corporate Criminal

(16)

commit to user

lainnya. Korporasi dapat menguasai kekayaan, mengadakan kontrak, dapat menggugat dan dapat pula digugat pemilik atau pemegang saham dapat menikmati tanggung jawab terbatas (limited liability); mereka tidak secara personal bertanggung jawab atas utang atau kewajiban korporasi. Dengan pendekatan teori organik (organic theory), maka tangggung jawab yang sebenarnya dari korporasi terletak pada struktur organisasionalnya, kebijakannya dan kultur yang diterapkan dalam korporasi. Perkembangan teori dan konsep serta penerapan pertanggungjawaban pidana dari korporasi (corporate criminal liability) semakin urgen untuk dikaji dan dikembangkan baik berdasarkan teori-teori dari negara-negara yang menganut sistem common law dan civil law.9

Dalam wilayah eks-Karesidenan Surakarta yang lebih dikenal dengan sebutan Subosukawonosraten, Kabupaten Karanganyar merupakan daerah yang pernah menjadi locus delicti pencemaran lingkungan, mengingat tidak sedikit industri yang berdomisili di wilayah tersebut. Salah satu contoh kasus pencemaran lingkungan yang terjadi di wilayah Kabupaten Karanganyar adalah kasus pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh Industri Textil PT SARI WARNA ASLI III pada tahun 2004. PT SARI WARNA ASLI III bergerak di bidang usaha industri tekstil yang berkapasitas produksi sebesar kurang lebih 2 juta yard per bulan dan dari produksi tersebut dihasilkan pula limbah cair dan padat. Dengan demikian Drs. SUTEDJO Bin LISTYO SUSENO selaku Plant Manager, bertanggung jawab terhadap atas hasil pengolahan limbah PT SARI WARNA ASLI III yang menghasilkan limbah cair dengan debit sebesar kurang lebih antara 400 M3 sampai 500 M3 per hari dan limbah cair tersebut dilakukan pengolahan limbah (UPL), untuk selanjutnya dibuang di sungai Sroyo. Selaku Plant Manager, Drs. SUTEDJO Bin LISTYO SUSENO mengetahui limbah cair yang dihasilkan tersebut melebihi batas baku mutu limbah cair bagi kegiatan industri tekstil atau tidak mempunyai persyaratan sebagaimana ketentuan yang diatur dalam Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor : 660.1/02/1997 tanggal 9 Mei 1997.

9 Nyoman Serikat Putra Jaya, Hukum dan Hukum Pidana di Bidang Ekonomi, Badan Penerbit

(17)

commit to user

Oleh karena itu kasus pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang akan dibahas penulis, yaitu kasus yang dilakukan atas nama Terdakwa Drs SUTEDJO bin LISTYO SUSENO.10 Kasus ini sudah diputuskan sebagaimana yang tertuang dalam Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray jo. Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No. 139/Pid/2005/PT.Smg jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006 dengan amar putusan terdakwa terbukti sah dan meyakinkan melanggar Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 43 ayat (1) Jo. Pasal 45 Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup berhubung kasus ini dilakukan pada tahun 2006, maka yang dipakai sebagai dasar hukum yaitu masih UU No.23 tahun 2007. Untuk lebih memperjelas kasus ini, maka penulis menganalisisnya memakai pisau bedah yang lebih tajam dalam hal ini UU No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Mencermati putusan tersebut di atas, bila mendasari salah satu pertimbangan Majelis Hakim yang telah diuraikan di atas sesuai dengan Teori Identifikasi (Identification Theory) atau the alter Ego Theory. Atas dasar teori tersebut, maka semua tindakan atau tindak pidana yang dilakukan oleh orang-orang yang dapat diidentifikasikan dengan organisasi atau mereka yang disebut

who constitute its directing mind and will of the corporation yaitu

individu-individu yang mempunyai tingkatan manager, yang dalam tugas dan kewenangannya tidak di bawah perintah atau arahan dari kewenangan atasan yang lain dalam suatu perusahaan, dapat diidentifikasikan sebagai perbuatan atau tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi. Dengan demikian pertanggungjawaban korporasi tidak didasarkan atas konsep tanggung jawab pengganti (vicarious

liability).11

Mengacu pada teori dan salah satu pertimbangan Majelis Hakim Pemeriksa perkara tersebut nampaknya tidak sesuai dengan amar putusan yang dijatuhkan. Hal itu dapat dilihat dari amar putusan yang menyatakan bahwa

10 Berdasarkan data dari Kepaniteraan Pengadilan Negeri Karanganyar. 11 Ibid hlm. 26.

(18)

commit to user

Terdakwa dinyatakan bersalah dan dijatuhi Pidana bersyarat. Adapun pertimbangan Hakim yang lain juga menyebutkan bahwa keberadaan PT. Sari Warna Asli III mempunyai ribuan karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Sehingga Majelis Hakim memandang bahwa pidana bersyarat akan lebih tepat dan efektif untuk diterapkan kepada Terdakwa yang berfungsi sebagai penangkal

(deterrence) diulanginya perbuatan tersebut.

Berdasarkan putusan tersebut Majelis Hakim tidak memperhatikan Pasal 46 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menyatakan, “Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain, tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya. Sedangkan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menyatakan bahwa selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam KUHP dan undang-undang ini, terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa: : 1. Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana; dan/atau

2. Penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan; dan/atau 3. Perbaikan akibat tindak pidana; dan/atau

4. Mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak; dan/atau 5. Meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak; dan/atau

6. Menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama tiga tahun. Mencermati beberapa uraian tersebut di atas, sangatlah menarik untuk dikaji terkait dengan pertanggungjawaban pidana korporasi dengan peraturan organik tentang lingkungan hidup serta fakta-fakta dan faktor-faktor yang saling mempengaruhi. Oleh karena itu, penulis mengangkat masalah penulisan tesis dengan judul “PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DALAM TINDAK PIDANA LINGKUNGAN HIDUP (Studi Kasus Pada

(19)

commit to user

Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No.139/Pid.B/2005/PT.Smg Jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006)”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan apa yang yang telah dikemukakan di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Mengapa Hakim menjatuhkan putusan bersyarat terhadap korporasi dalam tindak pidana lingkungan hidup Pada Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No.139/Pid.B/2005/PT.Smg Jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006 ?

2. Bagaimana model ideal Pertanggungjawaban Pidana Korporasi dalam tindak pidana Lingkungan Hidup pada Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No.139/Pid.B/2005/PT.Smg Jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006 ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini antara lain:

1. Untuk mengetahui alasan hakim menjatuhkan putusan bersyarat terhadap korporasi yang melakukan tindak pidana lingkungan hidup pada Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No.139/Pid.B/2005/PT.Smg Jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006.

2. Untuk mendeskripsikan model ideal pertanggungjawaban pidana korporasi terhadap tindak pidana dalam bidang lingkungan hidup Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No.139/Pid.B/2005/PT.Smg Jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006.

(20)

commit to user D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, mampu memberikan pandangan pemikiran berupa konsep atau teori, asumsi mengenai analisis pertanggungjawaban pidana korporasi dalam Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray jo. Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No. 139/Pid/2005/PT.Smg jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006Tentang Tindak Pidana Lingkungan Hidup.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, mampu menunjukkan arti penting adanya bentuk pertanggungjawaban pidana korporasi atas tindak pencemaran lingkungan hidup pada kasus Putusan Pengadilan Negeri Karanganyar No. 18/Pid.B/2005/PN. Kray jo. Putusan Pengadilan Tinggi Semarang No. 139/Pid/2005/PT.Smg jo. Putusan Mahkamah Agung No. 2077 K/Pid/2006. Di samping itu hasil penelitian ini dapat pula digunakan sebagai masukan bagi penelitian yang akan datang.

(21)

commit to user BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Korporasi a. Pengertian Korporasi

Kata korporasi berasal dari bahasa Inggris, yakni corporation yang diartikan sebagai badan hukum.12 Dalam bahasa Belanda disebut corporatie

recht persoon yang diartikan sebagai korporasi atau badan hukum korporasi

juga diartikan sebagai badan hukum yang maksudnya suatu perkumpulan atau organisasi yang oleh hukum diperlakukan seperti rnanusia (Personal), yaitu memiliki persamaan hak dan kewajiban, dan memililu hak digugat dan menggugat dimuka pengadilan.13

Dari pengertian tersebut, maka suatu kejahatan yang dilakukan oleh korporasi adalah suatu bentuk kejahatan yang dilakukan berhubungan dengan badan hukum. Suatu badan hukum yang telah mendapatkan pengesahan pendiriannya, sejak saat itu pula badan hukum tersebut memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan kegiatannya serta mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah untuk setiap kegiatan usaha yang dilakukannya sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut pendapat Salman Luthan bentuk kejahatan yang dilakukan oleh korporasi dapat digolongkan dalam tiga pengertian sebagai berikut:14 1. Crime for corporation yaitu kejahatan yang dilakukan oleh korporasi itu

sendiri atau dapat dikatakan sebagai corporate crime are clearly

committed for the corporate.

2. Crime against corporation atau yang disebut dengan employee crime.

12 Kamus Inggris-Indonesia, Jhon M.Echols dan Hasan Shadily, Penerbit PT Gramedia Jakarta. 13

Albertus Magnus Sunur. Pertanggungjawaban Korporasi Sebagai Pelaku Tindak Pidana , Jurnal Cendekia, Vol. 1, No. 2, Oktober 2012. Hlm. 1

14 Salman Luthan, Anatomi Kejahatan Korporasi dan Penanggulangan, Jurnal Hukum, Penerbit Pusat

Studi Hukum UI, Jogjakarta, 1994, hlm. 18

(22)

commit to user

3. Criminal corporation yaitu korporasi yang sengaja dibentuk dan dikendalikan untuk melakukan kejahatan.

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa korporasi adalah kumpulan organ yang terbentuk secara terorganisir dan memiliki tujuan antara lain mencari keuntungan. Dalam menjalankan korporasi tersebut kadang kala korporasi tersebut, baik disengaja atau tidak disengaja dapat melakukan perbuatan pidana atau perbuatan melawan hukum yang menimbulkan kerugian pada pihak lainnya.

Pertanggungjawaban pidana, sangat erat kaitannya dengan perbuatan pidana serta pelaku tindak pidana itu sendiri. Dalam arti bahwa apakah pelaku tindak pidana dimaksud telah memiliki unsur kesalahan dan atas unsur kesalahan dimaksud mampu atau tidak untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah dilakukannya. Apabila korporasi melakukan perbuatan pidana, maka yang berkedudukan sebagai pelaku atau dader adalah para pengurus korporasi, sedangkan terhadap korporasi tidaklah dapat dimintakan pertanggungjawaban pidananya. Hal demikian dapat dijumpai dalam ketentuan pasal 59 KUHP yang menentukan "Dalam hal-hal dimana karena pelanggaran ditentukan pidana terhadap pengurus, anggota-anggota pengurus atau komisaris-komisaris, maka pengurus, anggota pengurus atau komisaris yang temyata tidak ikut campur melakukan pelanggaran tidak dipidana".15

Mencermati ketentuan pasal 59 KUHP dimaksud, yang dianggap pelaku tindak pidana dilakukan oleh korporasi adalah mereka sebagai pengurus korporasi, sedangkan korporasi tidaklah dapat dikatakan sebagai pelaku tindak pidana, karena yang berkedudukan sebagai pelaku tindak pidana dalam ketentuan KUHP adalah rnereka yang melaksanakan perbuatan pidana secara nyata, sedangkan korporasi tidak melakukan perbuatan secara nyata. Melihat pada rumusan delik pasal 59 KUHP dimaksud dapat dikatakan bahwa para penyusun KUHP dahulu dipengaruhi

15

Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggung jawaban Pidana: Dua Pengertian Dasardalam Hukum Pidana, Aksara Baru, Jakarta, 1994, hlm. 13.

(23)

commit to user

asas "societas delinquere nonpotest " yaitu badan-badan hukum tidak dapat melakukan perbuatan pidana.

Dengan demikian, dalam ketentuan KUHP yang ada sekarang, korporasi tidak dapat dikatakan sebagai pelaku (dader) tindak pidana, sehingga kesalahan yang ada pada korporasi menjadikan kesalahan dari para pengurus korporasi tersebut. Hal ini terjadi karena KUHP masih berpedoman kepada bahwa pelaku (dader) tindak pidana hanya dapat dilakukan oleh manusia atau j'jaieke daderschapbegrip, dimana yang dianggap sebagai pelaku adalah yang melakukan perbuatan secara nyata saja. Korporasi dalam ha1 ini tidak dapat melakuan perbuatan pidana secara nyata. Korporasi dalam melakukan perbuatan pidana dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam kepengurusan korporasi tersebut. Mereka tersebut antara lain adalah Direksi dan Komisaris, sehingga rnereka inilah yang akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan pidana yang dilakukan oleh korporasi tersebut.16

b. Pertanggungjawaban Pidana Korporasi menurut Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

Korporasi disebut sebagai legal personality. Ini artinya korporasi dapat memiliki kekayaan sebagaimana manusia dan dapat menuntut dan dituntut dalam kasus perdata. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah korporasi juga dapat dipertangungjawabkan dalam hukum pidana?

Bila mencermati lex generalis penal yang telah dikodifikasi sejatiya tidak mengenal subjek hukum korporasi (recht person), mengingat korporasi tidak memiliki mens rea dalam melakukan kesalahan (schuld). Sanksi pidana penjara juga tidak mungkin dijatuhkan untuk korporasi. Hal tersebut nampaknya tidak menjadi hambatan untuk penjatuhan pertanggungjawaban terhadap korporasi, karenakan dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan korporasi yang semakin masif dilakukan, maka

(24)

commit to user

dari itu timbulah suatu gagasan tentang pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi.

Kejahatan korporasi biasanya dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai status ekonomi yang tinggi dan terhormat. Biasanya kejahatan tersebut dilakukan dalam kaitan dengan pekerjaan. Sisi lain yang menjadi pusat perhatian dalam perkembangan dan perubahan dalam bidang kegiatan sosial-ekonomi adalah penyimpangan perilaku korporasi yang bersifat merugikan dan membahayakan masyarakat dalam berbagai bentuk yang berskala luas.

Kejahatan korporasi dilakukan tanpa kekerasan tetapi selalu disertai kecurangan, penyesatan, manipulasi, akal-akalan atau pengelakan terhadap peraturan. Di samping itu, kejahatan korporasi itu biasanya dilakukan oleh orang-orang yang cukup pandai, oleh karena itu pengungkapan terhadap kejahatan yang terkait dengan korporaso tidaklah mudah, apalagi jika dikaitkan dengan karakteristik sebagaimana diuraikan sebagai berikut:17 1. Kejahatan tersebut sulit dilihat, karena biasanya tertutup oleh kegiatan

pekerjaan yang normal dan rutin, melibatkan keahlian profesional dan organisasi yang kompleks;

2. Kejahatan tersebut sangat kompleks, karena selalu berkaitan dengan kebohongan, penipuan, dan pencurian serta sering kali berkaitan dengan sesuatu yang ilmiah, teknologis, finansial atau keuangan, legal, terorganisasikan dan melibatkan orang banyak serta berjalan bertahun-tahun;

3. Terjadinya penyebaran tanggung jawab yang semakin luas akibat kompleksitas organisasi;

4. Penyebaran korban sangat luas seperti kolusi dan penipuan;

5. Hambatan dalam pendeteksian dan penuntut sebagai akibat profesionalisme yang tidak seimbang antara penegak hukum dengan pelaku kejahatan;

17 Muladi & Dwidja Priyatno, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Kencana Prenada Media

(25)

commit to user

6. Peraturan yang tidak jelas sehingga sering menimbulkan kerugian dalam penegakkan hukum;

7. Sikap mendua status Pelaku Tindak Pidana.

Dalam bidang hukum pidana, keberadaan suatu badan hukum atau badan usaha yang manyandang istilah korporasi diterima dan diakui sebagai subjek hukum yang dapat melakukan tindak pidana serta dapat pula dipertanggungjawabkan. Menurut Mardjono Reksodiputro terdapat tiga bentuk sistem pertanggungjawaban pidana korporasi, yaitu sebagai berikut:18

1. Pengurus korporasi sebagai pembuat tindak pidana dan pengurus korporasilah yang bertanggung jawab secara pidana;

2. Korporasi sebagai pembuat tindak pidana, namun pengurus korporasilah yang bertanggung jawab secara pidana;

3. Korporasi sebagai pembuat tindak pidana dan korporasi yang bertanggung jawab secara pidana.

Korporasi dapat dipidana melalui dua cara, yaitu:

1. Korporasi dapat dikenakan pidana berdasarkan asas strict liability atas kejahatan yang dilakukan oleh pegawainya;

2. Korporasi dapat dikenakan pidana berdasarkan asas identifikasi. Sementara itu, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup juga mengatur tentang pertanggungjawaban korporasi. Pengaturan pertanggungjawaban korporasi dalam UU PPLH, yaitu berupa sanksi administratif, sanksi perdata maupun sanksi pidana. Sanksi administratif berupa teguran tertulis, paksaan pemerintah, pembekuan izin lingkungan atau pencabutan izin lingkungan. Sedangkan sanksi perdata berupa gugatan ganti rugi dan pemulihan lingkungan serta tanggung jawab mutlak (strict liability), gugatan Pemerintah dan Pemerintah Daerah, gugatan perwakilan yang diajukan oleh masyarakat, gugatan organisasi lingkungan hidup dan gugatan administrasi.

18 Mardjono Reksodiputro, Tindak Pidana Korporasi dan Pertanggungjawabannya Perubahan Wajah

Pelaku Kejahatan di Indonesia,” dalam Kemajuan Pembangunan Ekonomi dan Kejahatan, Kumpulan Karangan Buku Kesatu, Pusat Layanan Keadilan dan Pengabdian Hukum, Jakarta, 2007, hlm. 72.

(26)

commit to user

Selanjutnya dalam kaitan dengan sanksi pidana, Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) membagi tindak pidana lingkungan menjadi 2 (dua) yaitu Tindak Pidana Materiil dan Formil. Tindak Pidana dalam arti Materiil adalah Tindak Pidana yang menitikberatkan pada akibat dari perbuatan itu, yang mana unsur kausalitas harus dibuktikan yang mana bersifat mandiri dan terkait izin. Mengingat pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh rumah sakit yang merupakan suatu bentuk korporasi maka wajar apabila badan hukum tersebut dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.

c. Teori Pertanggungjawaban Pidana Korporasi

Pembebanan pertanggungjawaban pidana terhadap kejahatan yang dilakukan oleh korporasi, terdapat beberapa teori atau ajaran yang dapat dijadikan dasar dalam pembebanan pertanggungjawaban pidana tersebut. Teori pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan pembebanan pertanggungjawaban korporasi, diantaranya:19

1. Teori Identifikasi (Identification theory)

Teori identifikasi merupakan salah satu teori yang digunakan dalam pembebanan pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi yang melakukan kejahatan. Secara garis besar, teori ini mengemukakan bahwa agar suatu korporasi dapat dibebani pertanggungjawaban pidana, orang yang melakukan tindak pidana harus dapat didentifikasi terlebih dahulu. Pertanggungjawaban pidana baru dapat benar-benar dibebankan kepada korporasi apabila perbuatan pidana tersebut dilakukan oleh orang yang merupakan pembuat kebijakan korporasi untuk menjalankan kegiatan dari korporasi tersebut.20

19

Bismar Nasution, Kejahatan Korporasi dan Pertanggungjawabannya, disampaikan dalam ceramah di Jajaran Kepolisian Daerah Sumatera Utara, tanggal 27 April 2006.

20Muladi, Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum Pidana, Sekolah Tinggi Hukum, Bandung

(27)

commit to user

Sedangkan menurut Ferguson sebagaimana dikutip Muladi, menyatakan:21

”The identification doctrine, as median rule, states that the action and mental state of the corporations will be found in the actions and states of mind of employees or officers of the corporation who may be considered the directing mind and will of the corporation in a given sphere of the corporation’s activities”.

Teori identifikasi atau biasa yang disebut doctrine identification merupakan salah satu doktrin yang digunakan untuk membebankan pertangggungjawaban pidana kepada korporasi. Korporasi dipandang dapat melakukan tindak pidana melalui individu-individu yang dipandang mempunyai hubungan yang erat dengan korporasi atau dapat dipandang sebagai korporasi itu sendiri.22

Richard Card menyatakan bahwa teori identifikasi adalah salah satu teori yang menjustifikasi pertanggungjawaban korporasi dalam hukum pidana. Teori ini menyebutkan bahwa tindakan atau kehendak direktur adalah juga merupakan tindakan atau kehendak korporasi (the

act and state of mind of the person are the acts and state of mind of the corporation).23

Ada beberapa permasalahan terkait dengan pelaksanaan prinsip identifikasi, antara lain:24

a) Semakin besar dan semakin banyak bidang usaha sebuah perusahaan, maka semakin besar kemungkinan perusahaan tersebut akan menghindar dari tanggung jawab;

b) Pada korporasi terdapat direktur dan manajer yang mengontrol kegiatan korporasi dan para pegawai atau agen yang melaksanakan kebijakan dari direktur atau manajer. Namun demikian, sikap batin

21 Nyoman Serikat Putra Jaya, op.cit, hlm. 27.

22 Mahrus Ali, Kejahatan Korporasi Kajian Relevansi Sanksi Tindakan Bagi Penanggulangan

Kejahatan Korporasi, Arti Bumintaran, Yogyakarta, 2008, hlm. 19.

23 Hanafi, Reformasi Sistem Pertanggungjawaban Pidana, Jurnal Hukum Vol 6, 1999.

24 Dwidja Priyatno. Pertanggungjawaban Korporasi Dalam Hukum Pidana, Sekolah Tinggi Hukum,

(28)

commit to user

dan keinginan dari para pegawai tersebut tidak dapat dianggap sebagai keinginan dan sikap batin dari korporasi. Berbeda dengan sikap batin dan keinginan dari direktur atau manajer yang dapat dianggap sebagai sikap batin dan keinginan dari korporasi, karena direktur atau manajer merupakan pembuat kebijakan dari korporasi. Hal tersebut sebagaimana menurut pendapat Hanafi yang menyebutkan bahwa sikap batin orang tertentu yang memiliki hubungan erat dengan pengelolaan urusan korporasi dipandang sebagai sikap batin korporasi. Orang-orang tersebut, disebut sebagai “senior officers” (pejabat senior) dari perusahaan.25

2) Teori Pertanggungjawaban Pengganti (Vicarious Liability)

Pertanggungjawaban pengganti adalah suatu pertanggungjawaban pidana yang dibebankan kepada seseorang atas perbuatan pidana yang dilakukan oleh orang lain. (a vicariuos liability is one person, though

without personal fault, is more liable for the conduct of another).26

Menurut doktrin vicarious liability, seseorang dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatan dan kesalahan orang lain. Pertanggungjawaban demikian hampir semuanya ditujukan pada delik undang-undang (statutory offences). Dengan kata lain, tidak semua delik dapat digantikan pertanggungjawabannya. Pengadilan telah mengembangkan sejumlah prinsip-prinsip mengenai hal ini, salah satunya adalah employment principle. Dalam employment principle, majikan adalah pihak yang utama yang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan oleh buruh di mana perbuatan tersebut dilakukan dalam lingkup pekerjaannya.27

Berdasarkan prinsip employment principle, korporasi bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan oleh pegawai-pegawainya, agen/perantara atau pihak-pihak lain yang menjadi tanggung jawab korporasi. Dengan kesalahan yang dilakukan oleh salah

25 Hanafi, op. cit. 26 ibid

(29)

commit to user

satu individu tersebut, kesalahan itu secara otomatis diatribusikan kepada korporasi.

Menurut Marcus Flatcher, terdapat dua syarat penting dalam hukum pidana yang harus dipenuhi untuk dapat menerapkan perbuatan pidana dengan pertanggungjawaban pengganti. Syarat-syarat tersebut adalah:28

a) Harus terdapat suatu hubungan pekerjaan, seperti hubungan antara majikan dan pegawai/pekerja (there must be relationship, such as the

employment relationship, between X and Y which is sufficient to justify the imposition of vicarious liability);

b) Perbuatan pidana yang dilakukan oleh pegawai atau pekerja tersebut harus berkaitan atau masih dalam ruang lingkup pekerjaannya (the

criminal conduct committed by Y must be referable in some particular way to relationship between X and Y).

Selain dua syarat sebagaimana disebutkan di atas, terdapat dua prinsip yang harus dipenuhi dalam menerapkan vicarious liability, yaitu prinsip pendelegasian (the delegation principle) dan prinsip perbuatan buruh merupakan perbuatan majikan (the servant’s act is the master’s act

in law).

3) Teori pertanggungjawaban mutlak menurut undang-undang (strict

liability)

Pertanggungjawaban mutlak adalah pertanggungjawaban tanpa kesalahan. Artinya, pembuat sudah dapat dipidana apabila telah melakukan perbuatan pidana sebagaimana telah dirumuskan dalam undang-undang tanpa melihat bagaimana sikap batinnya. Asas ini diistilahkan dengan liability without fault. Jadi unsur pokok dalam strict

liability adalah actus reus (seseorang telah melakukan suatu perbuatan)

bukan mens rea (si pelaku mempunyai kesalahan atau tidak).

(30)

commit to user

Penerapan strict liability sangat erat kaitannya dengan ketentuan tertentu dan terbatas. Berikut merupakan landasan penerapan strict

liability:

a) Tidak berlaku umum terhadap semua jenis perbuatan pidana, tetapi sangat terbatas dan tertetu terutama mengenai kejahatan anti sosial atau yang membahayakan sosial;

b) Perbuatan itu benar-benar bersifat melawan hukum yang bertentangan dengan prinsip kehati-hatian yang diwajibkan hukum dalam kepatutan;

c) Perbuatan tersebut dilarang dengan keras oleh undang-undang karena dikategorikan sebagai aktifitas atau kegiatan yang sangat potensial mengandung bahaya kesehatan, keselamatan dan moral publik (a

particular activity potential danger of public health, safety, or moral);

d) Secara keseluruhan perbuatan tersebut tidak melakukan pencegahan yang wajar (unreasonable precausions).29

Menurut Romli Atmasasmita menyatakan bahwa hukum pidana Inggris selain menganut asas actus non facit reum nisi mens sit rea, juga menganut prinsip pertanggungjawab mutlak tanpa harus membuktikan ada atau tidak adanya unsur kesalahan pada si pelaku tindak pidana. Pertanggungjawaban tersebut dikenal dengan strict liability crimes.30 Sementara itu, Barda Nawawi Arief memandang bahwa strict liability merupakan pengecualian berlakunya asas tiada pidana tanpa kesalahan. Dengan demikian, strict liability akan efektif apabila diterapkan pada delik korporasi.

Pertanggungjawaban pidana ketat ini juga dapat hanya berdasarkan undang-undang, yaitu dalam hal korporasi melanggar atau

29

Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan tentang Permasaahan Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung. 1997.

30 Romli Atmasasmita, Perbandingan Hukum Pidana,Mandar Maju, Cetakan II, Bandung, 2000, hlm.

(31)

commit to user

tidak memenuhi kewajiban/kondisi/situasi tertentu yang ditentukan oleh undang-undang. Dalam hal ini undang-undang menetapkan delik bagi: 31 a) Korporasi yang menjalankan usahanya tanpa ijin;

b) Korporasi pemegang ijin yang melanggar syarat-syarat (kondisi/situasi) yang ditentukan dalam ijin itu;

c) Korporasi yang mengoperasikan kendaraan yang tidak diasuransikan.

d. Pertanggungjawaban Pidana Korporasi menurut RUU KUHP

Adanya korporasi yang melakukan kejahatan sekarang ini bukanlah hal yang baru. Media massa seringkali memberitakan tentang tindak pidana yang dilakukan oleh Korporasi baik di luar maupun di dalam negeri. Kejahatan yang dilakukan oleh Korporasi ini ternyata tidak hanya terjadi pada masa-masa sekarang saja, tetapi sudah berlangsung sejak lama. Hal ini dapat dilihat dari munculnya berbagai teori pertanggungjawaban pidana Korporasi yang dilahirkan dalam rangka menghentikan atau menghukum Korporasi yang melakukan tindak pidana. Di Indonesia juga terdapat beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur korporasi, salah satunya adalah Undang-Undang Lingkungan Hidup. Bahkan saat ini, pertanggungjawaban korporasi dimasukkan dalam RUU KUHP.

Ketentuan umum tentang pertanggungjawaban pidana korporasi dalam RUU KUHP diatur dalam Buku I, dalam pasal-pasal sebagai berikut: 1. Pasal 47 yang menyebutkan bahwa “Korporasi sebagai subjek tindak

pidana ”.

2. Pasal 48 yang menyebutkan bahwa “Tindak pidana dilakukan oleh korporasi apabila dilakukan oleh orang-orang yang bertindak untuk dan atas nama korporasi, berdasarkan hubungan kerja atau berdasar hubungan lain, dalam lingkup usaha korporasi tersebut, baik sendiri-sendiri atau bersama-sama”.

31 Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana,Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003, hlm.

(32)

commit to user

3. Pasal 49 yang menyebutkan bahwa “Jika tindak pidana dilakukan oleh korporasi, pertanggungjawaban pidananya dapat dikenakan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya”.

4. Pasal 50 yang menyebutkan bahwa “Korporasi dapat dipertanggungjawabkan secara pidana terhadap suatu perbuatan yang dilakukan untuk dan/atau atas nama korporasi, jika perbuatan tersebut termasuk dalam lingkup usahanya sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar atau ketentuan lain yang berlaku bagi korporasi yang bersangkutan”.

5. Pasal 51 yang menyebutkan bahwa “Pertanggungjawaban pidana pengurus korporasi dibatasi sepanjang, pengurus mempunyai kedudukan fungsional dalam struktur organisasi korporasi”.

6. Pasal 52 :

(1) Dalam mempertimbangkan suatu tuntutan pidana, harus dipertimbangkan apakah bagian hukum lain telah memberikan perlindungan yang lebih berguna daripada menjatuhkan pidana terhadap korporasi.

(2) Pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dinyatakan dalam putusan hakim.

7. Pasal 53 yang menyebutkan bahwa “Alasan pemaaf atau alasan pembenar yang dapat diajukan oleh pembuat yang bertindak untuk dan/atau atas nama korporasi, dapat diajukan oleh korporasi sepanjang alasan tersebut langsung berhubungan dengan perbuatan yang didakwakan pada korporasi.

e. Korporasi Sebagai Subjek Hukum

Subekti dan R. Tjitrosudibio menyatakan bahwa yang dimaksud dengan corporatie atau korporasi adalah suatu perseoran yang merupakan badan hukum. Dengan demikian, maka dikenal adanya subjek hukum manusia dan subjek hukum bukan manusia yaitu badan hukum seperti Perseroan Terbatas (PT), Negara, Badan-badan internasional dan lain-lain

(33)

commit to user

serta bukan badan hukum, seperti maatschap atau persekutuan perdata, Persekutuan Komanditer (CV) dan Persekutuan Firma (Fa). Sebagai subjek hukum, perbuatan korporasi selalu diwujudkan melalui perbuatan manusia (direksi; manajemen), sehingga pelimpahan pertanggung jawaban manajemen (manusia; natural person), menjadi perbuatan korporasi (badan hukum, legal person).

Tanggung jawab korporasi juga diatur dalam Undang-Undang Lingkungan Hidup. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup diatur mengenai tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi atau kejahatan korporasi (corporate liability). Tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi diatur dalam Pasal 45 dan Pasal 46 UUPLH.

Sementara itu, dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH), tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi diatur dalam Pasal 116. Berdasarkan Pasal 116 UUPPLH dapat dikatakan bahwa tindak pidana korporasi di bidang lingkungan hidup adalah tindak pidana yang dilakukan oleh atau atas nama badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain. Adapun sanksi pidana dijatuhkan selain kepada korporasi itu, juga kepada mereka yang memberi perintah melakukan tindak pidana, atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau kedua-duanya. Selanjutnya, berdasarkan Pasal 117 UUPPLH menyebutkan bahwa jika tuntutan pidana diajukan kepada pemberi perintah atau pemimpin tindak pidana,maka ancaman pidana yang dijatuhkan berupa pidana penjara dan denda diperberat dengan sepertiga. Tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan kepada mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa perlu mengingat apakah orang-orang itu melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama.

Pada awalnya, pembuat undang-undang berpandangan bahwa hanya manusia (orang per orang/individu) yang dapat menjadi subjek tindak pidana. Jadi korporasi tidak dapat menjadi subjek tindak pidana. Hal ini

(34)

commit to user

dapat kita lihat dari sejarah perumusan ketentuan Pasal 51 Sr. (Pasal 59 KUHP) terutama dari cara bagaimana delik dirumuskan (yang selalu dimulai dengan frasa hij die, ‘barangsiapa’). Sebagaimana juga patut dicermati adalah hukum pidana substantive dan hukum pidana prosesuil. Untuk yang terakhir disebut, fakta menunjukkan bahwa kita tidak akan menemukan pengaturan peluang menuntut korporasi kehadapan pengadilan pidana. Pembuat undang-undang dalam merumuskan delik sering terpaksa turut memperhitungkan kenyataan bahwa manusia melakukan tindakan di dalam atau melalui organisasi yang dalam hukum keperdataan maupun di luarnya (misalnya dalam hukum administrasi), muncul sebagai satu kesatuan yang arena itu diakui serta mendapat perlakuan sebagai badan hukum/korporasi. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pembuat undang-undang akan merujuk pada pengurus atau komisaris korporasi jika mereka berhadapan dengan situasi seperti itu.32

Disamping itu, berkenaan dengan ihwal pelanggaran, sering juga terjadi bahwa di dalam perundang-undangan atau peraturan khusus di luarnya, pengurus perhimpunan atau persekutuan perdata dibebeani sejumlah kewajiban yang jika dilanggar akan menimbulkan ancaman pidana. Dengan cara ini, tuntutan pertanggungjawaban terhadap pelanggaran yang terjadi dituntut secara en bloc (keseluruhan). Misalnya, kewajiban pengurus suatu perhimpunan untuk memberikan sejumlah keterangan kepada penguasa. Bahkan tatkala rancangan KUHPidana (Belanda) sedang digodok, dapat menemukan sejumlah peraturan seperti yang digambarkan di atas.33

Pemerintah berpandangan bahwa korporasi mengikuti pandangan Von Savigny (ahli hukum Romawi dari Jerman) yang menyatakan korporasi sebagai suatu fiksi hukum yang diterima dalam lingkup hukum keperdataan merupakan gagasan yang tidak cocok diambil alih begitu saja untuk kepentingan hukum pidana. Jika ihwal menghukum atau menjatuhkan

32 Jan Remmelink, Hukum Pidana, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003, hal. 97 33 Ibid, hal. 98

(35)

commit to user

sanksi (pidana) kita pandang semata-mata sebagai system pengaturan masyarakat, baru semuanya bisa berubah. Karena itu, disamping manusia, korporasi juga selayaknya dapat dimintai tanggung jawab atas tindakan-tindakannya di dalam masyarakatnya dan perlu ada perangkat sanksi khusus bagi korporasi. Dengan cara ini kita dapat menjatuhkan sanksi pidana berupa penjatuhan denda, penyitaan harta kekayaan korporasi dan lain-lain. Kita bahkan juga dapat menjatuhkan putusan likuidasi sebagai sanksi terhadap korporasi.

Melalui Undang-Undang tanggal 23 Juni 1976, sifat dapat dipidananya korporasi sebagaimana diatur dalam bagian umum KUHPidana dianggap berlaku untuk keseluruhan system hukum pidana. Pada saat yang sama, semua peraturan lain yang secara langsung menetapkan korporasi sebagai pihak yang dapat dipisana juga dihapuskan, termasuk peraturan-peraturan yang menetapkan pengurus sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi. Pemahaman di atas dimasukkan ke dalam ketentuan Pasal 51 Sr. yang kemudian memuat isi yang jauh berbeda dan berbunyi:

1. Tindak pidana dapat dilakukan baik oleh perorang maupun oleh korporasi;

2. Jika suatu tindak pidana dilakukan oleh korporasi, penuntutan pidana dapat dijalankan dan sanksi pidana maupun tindakan (maatregelen) yang disediakan dalam perundang-undangan sepanjang berkenaan dengan korporasi dapat dijatuhkan. Dalam hal ini, pengenaan sanksi dapat dilakukan terhadap:

a) Korporasi sendiri, atau

b) Mereka yang secara faktual memberikan perintah untuk melakukan tindak pidana yang dimaksud, termasuk mereka yang secara faktual memimpin pelaksanaan tindak pidana dimaksud, atau

c) Korporasi atau mereka yang disebut dalam butir b) bersama-sama secara tanggung renteng

(36)

commit to user

3. Berkenaan dengan penerapan butir-butir sebelumnya, yang disamakan dengan korporasi: persekutuan bukan badan hukum, maatschap

(persekutuan perdata), rederij (perusahaan perkapalan) dan

doelvermogen (harta kekayaan yang dipisahkan demi pencapaian tujuan

tertentu; social fund atau yayasan).34

2. Hakim dan Perilaku Rasional dalam Mengambil Putusan

Hakim merupakan salah satu catur wangsa dalam sistem penegakan hukum, yang mempunyai tugas pokok menerima, memeriksa dan memutuskan dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya. Oleh karena itu seorang Hakim mempunyai peran yang sangat penting dalam menegakkan hukum dan keadilan melalui putusan-putusannya. Sehingga para pencari keadilan selalu berharap, perkara yang diajukannya dapat diputus oleh Hakim yang profesional dan memiliki integritas moral yang tinggi sehingga putusannya nanti tidak hanya bersifat legal justice (keadilan menurut hukum) tetapi juga mengandung nilai moral justice (keadilan moral) dan social justice (keadilan masyarakat).

Hakim sebagai penegak hukum dalam memeriksa dan memutus perkara di persidangan, sering menghadapi kenyataan bahwa ternyata hukum tertulis (Undang-undang) tidak selalu dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Bahkan seringkali atas inisiatif sendiri hakim harus menemukan hukumnya (rechtsvinding) dan atau menciptakan hukum (rechtsschepping) untuk melengkapi hukum yang sudah ada. Karena sesuai UU Kekuasaan Kehakiman, hakim tidak boleh menolak perkara dengan alasan hukumnya tidak ada, tidak lengkap atau hukumnya masih samar.

Disinilah letak pentingnya penemuan hukum oleh Hakim, untuk mengisi kekosongan hukum sehingga tercipta putusan Pengadilan yang baik yang dapat digunakan sebagai sumber pembaharuan hukum atau perkembangan ilmu hukum. Permasalahannya adalah bagaimana seharusnya seorang Hakim berfikir dalam rangka penemuan hukum agar dapat

(37)

commit to user

menghasilkan putusan yang berkualitas dalam setiap menyelesaikan sengketa yang dihadapi. Tentunya Hakim sebagai lembaga pengadil dalam setiap putusannya harus senantiasa mengisi kekosongan hukum melalui proses berfikir tidak hanya berdasarkan Ilmu hukum dan berbagai ilmu-ilmu bantuannya tetai juga melibatkan Filsafat hukum dan teori hukum. Hakim dalam memutus sengketa tidak boleh hanya membaca teks-teks formal UU secara normatif melainkan harus mampu merenungkan hal-hal yang melatarbelakangi ketentuan tertulis secara filsafat dan bagaimana rasa keadilan dan kebenaran masyarakat akan hal itu. Disinilah pentingnya seorang Hakim harus menghayati dan mendalami filsafat hukum dalam setiap langkahnya menemukan hukum.

Begitu pentingnya peran Hakim dalam penegakan hukum, sehingga dalam Hukum acara Hakim dianggap mengetahui semua hukumnya (ius curia

novit) yang akan menentukan hitam putihnya hukum melalui putusannya.

Namun dalam prakteknya penegakan hukum sering dijumpai ada peristiwa yang belum diatur dalam dalam perundang-undangan. Atau meskipun sudah diatur tetapi tidak lengkap dan tidak jelas, karena memang tidak ada satu hukum atau UU mengatur yang selengkap-lengkapnya mengingat masyarakat yang diatur oleh hukum senantiasa berubah (dinamis).

Oleh karena itu kekurangan atau ketidaklengkapan aturan hukum atau Undang-undang harus dilengkapi dengan jalan menemukan hukum agar aturan hukumnya dapat diterapkan terhadap peristiwanya. Dan subyek yang memiliki wewenang dalam menegakan hukum cq.menemukan hukum itu adalah Hakim. Pada hakekatnya semua perkara yang harus diselesaikan oleh Hakim di Pengadilan membutuhkan metode penemuan hukum agar aturan hukumnya dapat diterapkan secara tepat terhadap peristiwanya sehingga dapat dihasilkan putusan yang ideal, yang mengandung aspek yuridis (kepastian), filosofis (keadilan) dan kemanfaatan (sosiologis).

Menurut Soejono Koesoemo Sisworo, penegakan hukum oleh Hakim melalui penemuan hukum itu termasuk obyek pokok dari telaah filsafat hukum.

(38)

commit to user

Di samping masalah lainnya seperti hakekat pengertian hukum, cita/tujuan hukum dan berlakunya hukum.35

Sedangkan menurut Lili Rasyidi, obyek pembahasan filsafat hukum masa kini memang tidak terbatas pada masalah tujuan hukum melainkan juga setiap masalah mendasar yang muncul dalam masyarakat dan memerlukan pemecahan. Masalah itu antara lain : (1) hubungan hukum dengan kekuasaan ; (2) hubungan hukum dengan nilai-nilai sosial budaya ; (3) apa sebabnya negara berhak menghukum seseorang ; (4) apa sebab orang menaati hukum ; (5) masalah pertanggungjawaban ; (6) masalah hak milik ; (7) masalah kontrak ; (8) dan masalah peranan hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat (socialengineering).36

Sedangkan menurut Theo Huybers, unsur yang menonjol dalam telaah filsafat hukum antara lain tentang arti hukum kaitannya dengan hukum alam serta prinsip etika, kaitan hukum dengan pribadi manusia dan masyarakat, pembentukan hukum, serta perkembangan rasa keadilan dalam Hak Asasi manusia.37

Dengan demikian dalam menjalankan tugasnya memeriksa dan memutus perkara terutama dalam menemukan hukum dan nilai-nilai keadilan, seorang Hakim dituntut selain menguasai teori ilmu hukumnya juga harus menguasai filsafat hukum. Namun tidak mudah bagi seorang Hakim untuk membuat putusan yang idealnya harus memenuhi unsur filsafat seperti Keadilan (filosofis), kepastian hukum (yuridis) dan kemanfaatan(sosiologis) sekaligus. Oleh karena itu, diperlukan keberanian Hakim melalui diskresi/kewenangan yang dimilikinya untuk dapat menemukan hukumnya (rechtsfinding) berdasarkan pendekatan yang lebih komprehensif dan integral melalui analisis filsafat.

35 Soeyono Koesoemo Sisworo, Pidato ilmiah Dies Natalis ke-25 UNISSULA, Dengan semangat

Sultan agung Kita tegakkan Hukum dan Keadilan berdasarkan kebenaran, Suatu perjuangan yang tidak pernah tuntas, Universitas Diponegoro Semarang, hlm. 97.

36 Lily Rasyidi, Dasar-dasar Filsafat Hukum penerbit Alumni Bandung, 1982, hal.10.

37 Theo Huijbers, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah. Penerbit yayasan Kanisius, Yogjakarta,

(39)

commit to user 3. Tinjauan tentang Pidana Bersyarat

a. Pengertian Pidana Bersyarat

Pemidanaan merupakan perlindungan kepada masyarakat dan pembalasan atas suatu perbuatan hukum. Dalam kebijakan pemidanaan, khususnya mengenai penetapan jumlah atau lamanya ancaman pidana, dikenal 2 (dua) sistem atau pendekatan, yaitu:38

1. Sistem atau pendekatan absolute

Yang dimaksud dengan sistem ini adalah untuk setiap tindak pidana ditetapkan bobot/kualitasnya sendiri-sendiri, yaitu dengan menetapkan ancaman pidana maksimum (dapat juga ancaman minimumnya) untuk setiap tindak pidana. Penetapan maksimum pidana untuk tiap tindak pidana ini dikenal pula dengan sebutan “sistem indefinite” atau “sistem maksimum”. Dapat juga disebut dengan sistem atau pendekatan tradisional, karena selama ini memang biasa digunakan dalam perumusan KUHP berbagai negara termasuk dalam praktik legislatif di Indonesia.

2. Sistem atau pendekatan relative

Dimaksud dengan sistem ini adalah bahwa untuk tiap tindak pidana tidak ditetapkan bobot/kualitas (maksimum pidananya) sendiri-sendiri, tetapi bobotnya direlatifkan, yaitu dengan melakukan penggolongan tindak pidana dalam beberapa tingkatan dan sekaligus menetapkan maksimum pidana untuk tiap kelompok tindak pidana itu. Sistem atau pendekatan relatif dapat juga disebut pendekatan imaginatif.

Hukuman apa atau seberapa besar denda yang harus dikenakan pada individu untuk suatu kejahatan tergantung pada tujuan dari suatu sanksi pidana. Termasuk apabila hakim menjatuhkan pidana bersyarat kepada pelaku kejahatan.

Terdapat beberapa pengertian mengenai pidana bersyarat oleh beberapa ahli, diantaranya:

38 Sigid Suseno dan Nella Sumika Putri, Hukum Pidana Indonesia: Perkembangan dan Pembaharuan,

(40)

commit to user

Menurut P.A.F. Lamintang39, pidana bersyarat adalah suatu pemidanaan yang pelaksanaannya oleh hakim telah digantungkan pada syarat-syarat tertentu yang ditetapkan dalam putusannya.

Sedangkan menurut Muladi, pidana bersyarat adalah suatu pidana, dalam hal mana si terpidana tidak usah menjalani pidana tersebut, kecuali bilamana selama masa percobaan terpidana telah melanggar syarat-syarat umum atau khusus yang telah ditentukan oleh pengadilan. Dalam hal ini pengadilan yang mengadili perkara tersebut mempunyai wewenang untuk mengadakan perubahan syarat-syarat yang telah ditentukan atau memerintahkan agar pidana dijalani apabila terpidana melanggar syarat-syarat tersebut. Pidana bersyarat-syarat ini merupakan penundaan terhadap pelaksanaan pidana.40

R. Soesilo menyatakan Pidana bersyarat yang biasa disebut peraturan tentang “hukum dengan perjanjian” atau “hukuman dengan bersyarat” atau “hukuman janggelan” artinya adalah: orang dijatuhi hukuman, tetapi hukuman itu tidak usah dijalankan, kecuali jika kemudian ternyata bahwa terhukum sebelum habis tempo percobaan berbuat peristiwa pidana atau melanggar perjanjian yang diadakan oleh hakim kepadanya, jadi keputusan penjatuhan hukuman tetap ada.41

Sedangkan Maksud dari penjatuhan pidana bersyarat ini, menurut R. Soesilo adalah untuk memberikan kesempatan kepada terpidana supaya dalam tempo percobaan itu ia memperbaiki dirinya dengan jalan menahan diri tidak akan berbuat suatu tindak pidana lagi atau melanggar perjanjian yang telah ditentukan oleh hakim kepadanya.42

b. Pengaturan Pidana Bersyarat dalam KUHP

Pidana bersyarat diberlakukan di Indonesia dengan Staatblad 1926 No. 251 jo. 486, pada bulan Januari 1927 yang kemudian diubah dengan

39 P.A.F Lamintang, Hukum Penintensier Indonesia, hlm. 136 40

Muladi, Lembaga Pidana Bersyarat, alumni, Bandung, 1985, hlm. 195-196.

41 R. Soesilo, Pokok-pokok Hukum Pidana, Peraturan Umum dan Delik-delik Khusus, Politeia, Bogor,

1991, hlm. 53.

Figur

Gambar 3.1 Analisis Data Model Interaktif (H.B. Sutopo) Pengumpulan Data  Penyajian Data Penarikan Kesimpulan/Verifikasi Reduksi Data

Gambar 3.1

Analisis Data Model Interaktif (H.B. Sutopo) Pengumpulan Data Penyajian Data Penarikan Kesimpulan/Verifikasi Reduksi Data p.56
Tabel 2  Hasil Uji Limbah

Tabel 2

Hasil Uji Limbah p.59
Related subjects :