2.1. Agency Theory dan Informasi Asimetri
Konsep Agency theory menurut Scott (1997:305) adalah hubungan atau kontrak antara principal dan agent, dimana principal adalah pihak yang memperkerjakan agent agar melakukan tugas untuk kepentingan principal sedangkan agent adalah pihak yang menjalankan kepentingan principal. Menurut Anthony dan Govindarajan yang dikutip oleh Widyaningdyah (2001:91) pada perusahaan yang modalnya terdiri atas saham, pihak yang disebut principal adalah pemegang saham dan pihak yang disebut agent adalah CEO (Chief Executive Officer).
Menurut De Angelo yang dikutip oleh Anwar (2005:46) menyatakan bahwa dalam agency theory, earnings management dipengaruhi oleh adanya konflik antara pihak principal dan agent yang memiliki kepentingan masing- masing. Pihak principal termotivasi untuk menyejahterakan dirinya dengan profitabilitas perusahaannya yang selalu meningkat. Agent termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan kebutuhan dirinya dan ekonomi, antara lain dalam memperoleh investasi, pinjaman, dan kompensasi. Konflik kepentingan semakin meningkat karena principal tidak dapat memonitor aktivitas CEO untuk memastikan bahwa CEO bekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham.
Dalam hubungan agent dan principal, asimetri informasi terjadi karena pihak principal tidak memiliki informasi yang cukup tentang kinerja agent sedangkan agent mempunyai lebih banyak informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan kerja, dan perusahaan. Adanya asimetri informasi dan konflik kepentingan yang terjadi antara principal dan agent mendorong agent untuk menyajikan informasi yang tidak sebenarnya kepada principal, terutama jika informasi tersebut berkaitan dengan pengukuran kinerja agent.
Menurut penelitian Watts dan Zimmerman yang dikutip oleh Widyaningdyah (2001:92) secara empiris membuktikan bahwa hubungan principal dan agent sering ditentukan oleh angka akuntansi. Hal ini membuat agent untuk berpikir bagaimana angka akuntansi dapat digunakan sebagai sarana
untuk memaksimalkan kepentingannya. Salah satu bentuk tindakan agent tersebut disebut sebagai earnings management.
2.2. Teori Akuntansi Positif ( Positive Accounting Theory )
Positive accounting theory sering dihubungkan dalam pembahasan earnings management karena teori akuntansi positif menjelaskan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi manajemen dalam memilih prosedur akuntansi yang optimal dengan tujuan tertentu (Scott, 1997:273).
Menurut teori akuntansi positif, pemilihan prosedur akuntansi yang digunakan perusahaan tidak harus sama dengan perusahaan lainnya. Perusahaan diberi kebebasan dalam memilih salah satu dari alternatif prosedur akuntansi yang tersedia untuk meminimumkan biaya kontrak dan memaksimumkan nilai perusahaan. Adanya kebebasan untuk memilih prosedur akuntansi maka manajer akan melakukan tindakan yang disebut tindakan oportunis (opportunistic behavior). Jadi, tindakan oportunis adalah suatu tindakan dimana manajer memilih kebijakan akuntansi yang menguntungkan dirinya atau memaksimumkan kepuasannya.
Menurut Watts dan Zimmerman yang dikutip oleh Scott (1997:276) ada 3 hipotesis yang secara umum dihubungkan dengan perilaku oportunistik manajer.
Berdasarkan ketiga hipotesis tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Bonus plan hypothesis
Bonus plan hypothesis menyatakan bahwa manajer yang menggunakan bonus plan akan cenderung untuk menggunakan metode-metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba yang dilaporkan pada periode berjalan. Tujuan manajer melakukan hal ini untuk memaksimumkan bonus yang akan mereka terima karena tingkat laba yang dihasilkan seringkali dijadikan dasar dalam mengukur keberhasilan kinerja manajer. Jika besarnya bonus tergantung pada besarnya laba, maka manajer akan meningkatkan bonusnya dengan meningkatkan laba setinggi mungkin.
2. Debt convenant hypothesis
Debt convenant hypothesis berkaitan dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi perusahaan dalam perjanjian hutang (debt convenant). Sebagian
besar perjanjian hutang mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi peminjam selama masa perjanjian. Dinyatakan jika semakin dekat perusahaan pada pelanggaran terhadap accounting-based debt convenant, maka semakin besar kecenderungan manajer perusahaan tersebut untuk menggunakan metode-metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba. Hal ini dilakukan karena dengan meningkatkan laba akan mengurangi kemungkinan terjadinya technical default. Pelanggaran terhadap debt convenant dapat menjadi suatu biaya dan dapat menghambat kerja manajemen, sehingga dapat meningkatkan laba (melakukan income increasing) dinilai dapat mencegah atau setidaknya menunda hal tersebut.
3. Political cost hypothesis
Political cost hypothesis menyatakan jika semakin besar biaya politis yang dihadapi perusahaan maka semakin besar pula kecenderungan perusahaan tersebut untuk menggunakan pilihan metode akuntansi yang dapat mengurangi laba yang dilaporkan, dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Tingkat laba yang tinggi akan mendapat perhatian luas dari kalangan konsumen dan media sehingga nantinya akan menarik perhatian pemerintah sehingga menyebabkan timbulnya biaya politis, antara lain dengan munculnya intervensi pemerintah, pengenaan pajak yang lebih tinggi, dan berbagai macam tuntutan lain yang dapat meningkatkan biaya politis.
2.3. Earnings Management
2.3.1. Pengertian Earnings Management
Beberapa peneliti memberikan penjelasan tentang earnings management dengan definisi yang berbeda, karena belum ada definisi yang jelas.
Menurut Sugiri yang dikutip oleh Widyaningdyah (2001:92), definisi earnings management dibagi menjadi dua definisi, yaitu definisi sempit dan definisi luas. Earnings management dalam arti sempit dijelaskan bahwa dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Selain itu juga didefinisikan sebagai perilaku manajer untuk bermain dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya earnings. Dalam arti luas dijelaskan bahwa earnings management merupakan tindakan manajer untuk
meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit.
Menurut Surifah yang dikutip oleh Widyaningdyah (2001:92) earnings management merupakan suatu bentuk manipulasi atas laporan keuangan yang menjadi sarana komunikasi antara manajer dan pihak eksternal perusahaan yang akan memberikan dampak terhadap kredibilitas laporan keuangan bila digunakan untuk pengambilan keputusan.
Menurut Setiawati dan Wa’im yang dikutip oleh Kusindratno (2005:211) earnings management adalah campur tangan manajemen dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri.
Menurut Scott (1997:370) earnings management merupakan intervensi manajemen dalam proses penyusunan pelaporan keuangan eksternal sehingga dapat menaikkan atau menurunkan laba akutansi. Earnings management dilakukan dengan memanfaatkan kelonggaran penggunaan metode akutansi, membuat kebijakan – kebijakan akutansi yang dapat mempercepat atau menunda biaya dan pendapatan agar laba perusahaan dapat lebih kecil atau lebih besar.
2.3.2. Kebijakan Akuntansi Akrual
Laporan keuangan disusun mengacu pada kepada dasar akrual. Seluruh transaksi ekonomi yang terjadi akan dicatat yaitu revenue diakui saat dihasilkan dan expense diakui pada saat dikeluarkan tanpa mempedulikan aliran kas masuk atas kas keluar yang terjadi. Suatu cara efektif untuk mengurangi pelaporan laba namun sukar dideteksi adalah melalui manipulasi kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan akrual. Kebijakan akuntansi akrual diterapkan melalui perlakuan transaksi yang berkaitan dengan laba yang mendekati nilai ekspektasi yang diharapkan oleh manajemen dan perusahaan. Menurut Healy dan De Angelo yang dikutip oleh Gumanti (2001:173) bahwa total accruals terdiri dari discretionary accruals dan non discretionary accruals.
Pihak manajemen memiliki kompetensi untuk mengendalikan suatu kuantifikasi terhadap kejadian yang berpengaruh terhadap laba. Tindakan inilah yang disebut dengan discretionary acrual yaitu akrual yang dapat diatur oleh
manajemen. Sebagai contoh pencatat kewajiban yang besar atas jaminan produk (garansi), dan pemilihan metode akuntansi. Sedangkan non discretionary accrual sebaliknya yaitu akrual yang tidak dapat diatur oleh manajemen.
Menurut Kiswara yang dikutip oleh Kusindratno (2005:212) mengemukakan terdapat dua keterbatasan pengguna laporan keuangan dalam menginterpretasi, yaitu mengingat kriteria penyajiannya yang rentan akan kebijakan manajemen, sehingga pihak manajemen perusahaan mempunyai peluang merekayasa kebijakan, dan tidak adanya observasi yang sempurna mengingat tidak semua kebijakan manajemen dapat terobservasi oleh para pemakai laporan keuangan.
Menurut Worthy dalam Kusindratno (2005:212) bahwa rekayasa kebijakan manajemen itu berupa fleksibilitas dalam memperhitungkan nilai laba yang dilaporkan yaitu mencatat fakta tertentu dengan cara tertentu, dan melibatkan subyektifitas dalam penyusunan estimasi.
Menurut penelitian Dechow, Sweeney dan Sloan yang dikutip oleh Kusindratno (2005:212) mengevaluasi berbagai alternatif model berbasis akrual yang mendeteksi manajemen laba dengan mengukur kebijakan akrual yang diperlihatkan berbagai model terhadap kinerja finansial.
2.3.3. Pemicu dan Motivasi Earnings Management
Adanya informasi akuntansi diharapkan dapat meminimalkan konflik antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Pihak-pihak yang berkepentingan tersebut adalah manajer, pemilik perusahaan, investor, kreditor, karyawan, pesaing, pemerintah. Faktor-faktor pemicu earnings management dalam kaitannya dengan pihak-pihak yang berkepentingan (manajer, pemilik atau pemegang saham, investor, kreditor, karyawan, pesaing, pemerintah) adalah pemakaian informasi akuntansi (Setiawati dan Na’im yang dikutip oleh Kusindratno, 2005:212):
a. Dalam kontrak antara manajer dan pemilik (melalui kompensasi) b. Sebagai sumber informasi bagi investor di pasar modal
c. Dalam kontrak utang
d. Dalam penetapan pajak oleh pemerintah, penentuan proteksi terhadap produk, penentuan denda dalam suatu kasus dan lain sebagainya
e. Oleh pesaing, seperti untuk penentuan keputusan ambil alih ataupun untuk penetapan strategi persaingan
f. Oleh karyawan untuk meminta kenaikan upah dan lain sebagainya
Menurut Scott yang dikutip oleh Lontoh dan Lindrawati (2004:8) menyatakan bahwa ada beberapa hal yang memotivasi manajer untuk melakukan earnings management yaitu:
1. Motif bonus, manajer berusaha agar laba yang ditargetkan dapat dicapai dalam pelaksanaannya.
2. Motif kontraktual, misal untuk memperbesar bonus yang akan diterima atau untuk mengurangi kemungkinan terjadinya pelanggaran perjanjian dalam kontrak hutang.
3. Motif yang bersifat politik, misalnya untuk menghindari kebijakkan atau regulasi tertentu.
4. Motif pergantian CEO, misalnya untuk menghindari penggantian CEO karena kinerja yang dianggap buruk.
5. Penawaran saham perdana kepada publik (Initial Publik Offerings), misalnya untuk mencapai harga saham yang lebih tinggi pada saat IPO.
6. Motif pasar modal, misalnya untuk mengungkapkan informasi private yang dimiliki perusahaan kepada investor.
7. Motif pajak, misalnya untuk menghindari pajak penghasilan perusahaan cenderung memakai metode pencatatan persediaan LIFO karena laba yang dihasilkan lebih rendah sehingga pajak yang dibayar juga rendah.
Selain 7 motif yang dikemukakan Scoot diatas, Widyaningdyah (2000:91) dalam penelitiannnya mengukur earnings management dengan menggunakan motif lain, yaitu reputasi auditor, jumlah dewan direksi dan dan leverage.
2.3.4. Bagaimana Manajer Melakukan Earnings Management
Menurut Ayres yang dikutip oleh Gumanti (2000:115), mengungkapkan secara sekilas tentang praktek-praktek yang dilakukan oleh manajer untuk
mengatur earnings atau keuntungan demi menunjukan prestasinya. Ada 3 cara yang dilakukan, yaitu:
1. Manajemen Akrual (accruals management). Hal ini sering dikaitkan dengan segala aktivitas yang dapat mempengaruhi aliran kas dan juga keuntungan yang secara pribadi merupakan wewenang dari para manajer (manager’s disretion). Dilakukan dengan mempercepat atau menunda pengakuan akan pendapatan (revenues), menganggap sebagai beban biaya atau menganggap sebagai suatu tambahan investasi atas suatu biaya (amortize or capitalize of an investment) misalnya biaya perawatan aktiva tidak lancar, kerugian/
keuntungan atas penjualan aktiva, dan perkiraan- perkiraan akuntasi lainnya seperti misalnya beban piutang ragu-ragu, dan perubahan-perubahan metode akuntansi.
2. Penerapan suatu akuntansi yang wajib (adoption of mandatory accounting changes). Hal ini berkaitan dengan keputusan manajer untuk menerapkan suatu kebijaksanaan akuntansi yang wajib diterapkan oleh perusahaan, yaitu antara menerapkan lebih awal dari waktu yang diterapkan oleh perusahaan, yaitu antara menerapkannya lebih awal dari waktu yang ditetapkan atau menundanya sampai saat berlakunya kebijaksanaan tersebut. Menurut Ayres yang dikutip oleh Gumanti (2000:109) menemukan bukti bahwa dengan mengadopsi lebih awal kebijaksanaan akuntansi tertentu dapat mempengaruhi prestasi usaha suatu perusahaan, yang sekaligus juga merupakan prestasi manajernya.
3. Perubahan akuntansi secara sukarela (voluntary accounting changes), yaitu perubahan akuntansi secara sukarela yang berkaitan dengan upaya manajer untuk mengganti atau mengubah suatu metode akuntansi tertentu diantara sekian banyak metode yang dapat dipilih yang tersedia dan diakui oleh badan akuntansi yang ada (Generally Accepted Accounting Principles = GAAP). Walaupun manajer tidak dapat melakukan perubahan metode akuntansi secara sering, mereka dapat melakukan dengan bentuk-bentuk perubahan akuntansi lain yang berbeda baik secara individu maupun bersama-sama untuk beberapa periode.
2.3.5. Pola Earnings Management
Menurut Scott (1997:383) ada 4 pola earning management antara lain Taking a bath, Income minimization, Income maximization, dan Income Smoothing, yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Taking a bath
Taking a bath dapat terjadi pada periode stress atau reorganisasi termasuk pengangkatan CEO baru. Jika perusahaan harus melaporkan rugi maka manajemen akan berpikir untuk mencadangkan kemungkinan kerugiaan yang akan terjadi pada periode berikutnya. Manajemen melakukan dengan cara mencoba mengalihkan expected future value kemasa kini. Akibat dari tindakan ini maka manajemen memiliki peluang untuk mendapatkan laba yang lebih besar di masa yang akan datang.
2. Income Minimazation
Bentuk ini mirip dengan taking a bath, tetapi lebih sedikit ekstrim, yakni dilakukan pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud agar tidak mendapat perhatian secara politis, kebijakan yang diambil dapat berupa penghapusan atas barang modal dan aktiva tak berwujud, ongkos iklan dan pengeluaran research and development, hasil akuntansi untuk biaya eksplorasi minyak dan gas.
3. Income Maximization
Dalam bentuk ini tindakan atas income maximization bertujuan melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang lebih besar. Perencanaan bonus didasarkan pada data akuntansi mendorong manajer untuk memanipulasi data akuntansi tersebut guna menaikkan laba untuk meningkatkan pembayaran bonus tahunan. Jadi tindakan ini dilakukan pada saat laba menurun.
4. Income Smoothing
Hal ini dilakukan dengan meratakan laba yang dilaporkan untuk tujuan pelaporan eksternal, terutama bagi investor karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil. Menurut Beidelman (dalam Anwar, 2005:43) mendefinisikan income smoothing sebagai usaha yang disengaja
untuk meratakan atau memfluktuasikan tingkat laba sehingga pada saat sekarang dipandang normal bagi suatu perusahaan.
2.4. Leverage
Menurut Komaruddin (1994:482) leverage berarti kemampuan untuk mengadakan operasi dengan suatu rasio yang berarti dari hutang-hutang terhadap kekayaan kotor. Mengukur tingkat leverage berarti mengukur efisiensi penggunaan dana suatu perusahaan. Semakin efisien penggunaan dana suatu perusahaan, maka tingkat leverage akan semakin menguntungkan. Sebaliknya, semakin tidak efisien penggunaan dana, maka menunjukan besarnya kewajiban / hutang yang diemban perusahaan. Dengan demikian, leverage dapat diartikan sebagai hutang / kewajiban.
Dunia usaha (ekonomi industri) membagi leverage menjadi 3 kategori, yaitu: leverage operasi, leverage keuangan, dan kombinasi antara keduanya (kombinasi leverage). Yang dibahas di sini adalah leverage keuangan. Leverage keuangan terjadi pada saat perusahaan menggunakan sumber dana yang memberikan beban tetap dan sumber dana tersebut biasanya berasal dari hutang.
Leverage dapat diukur dengan menggunakan analisa ratio leverage yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibelanjai dengan hutang. Penggunaan leverage mengandung beberapa implikasi. Pertama, para kreditur akan melihat modal perusahaan, atau dana yang disediakan para penanam modal untuk menentukan besarnya margin of safety. Jika para penanam modal hanya menyediakan sebagian kecil dari seluruh pembiayaan, maka resiko perusahaan ditanggung terutama oleh para kreditur. Kedua, dengan mencari dana dari hutang, para pemiliki modal memperoleh manfaat mempertahankan kendali perusahaan dengan investasi yang terbatas. Pada kasus dimana aktiva memberikan pengembalian hasil lebih daripada biaya hutang, maka leverage lebih menguntungkan, sedangkan sebaliknya leverage akan merugikan. Meningkatnya beban tetap merupakan resiko sebagai akibat penggunaan leverage dalam struktur modal perusahaan. Namun penggunaan leverage juga tidak terlepas dari keuntungan. Hutang memberikan biaya eksplisit yang lebih rendah.
2.5. CEO (Chief Executive Officer)
CEO (Chief Executive Officer) adalah eksekutif yang ada dipuncak perusahaan yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dan keberhasilan perusahaan. CEO bekerja sebagai seorang pemikir yang reflektif dan tafakur yang merancang strategis, merancang organisasi untuk menerapkan rencana, dan memimpin pasukannya melalui maneuvers yang diperlukan untuk melaksanakan tujuan dengan menggunakan pengalamannya dan pandangannya yang luas. Dalam perusahaan CEO memegang peranan penting dalam menetapkan tujuan, membuat perencanan strategi, mengatur organisasi, memberikan arah, memegang control dan CEO harus dapat menangani berbagai kegiatan yang bermacam-macam dalam rencana pekerjaan dan melakukan pertimbangan yang tepat sehingga keputusan yang diambil sesuai dengan tujuan utama.
2.5.1. Kategori Peranan CEO (Chief Executive Officer)
Kategori peranan CEO (Chief Executive Officer) dapat dibagi menjadi 3, yaitu (Glueck dan Jauch, 1989:69):
1. Peranan Interpersonal
Sebagai manajer puncak, CEO akan melaksanakan sejumlah tugas rutin yang bersifat resmi dan sosial. Hal ini penting untuk memperkenalkan perusahaan pada orang luar. Sebagai seorang pemimpin (leader), CEO mempunyai tanggung jawab untuk menetapkan staf organisasi serta melatih dan memotivasi bawahannya. Dalam peranannya sebagai penghubung (liaison) manajer menjaga jaringan hubungan keluar untuk mendapatkan peluang dan informasi.
2. Peranan Informational
Dalam peranan ini CEO bertugas sebagai pemantau (monitor), membaca laporan, melakukan perjalanan atau mengikuti pertemuan untuk mencari informasi mengenai organisasi dan lingkungannya. Sebagai penyebar informasi, CEO meneruskan banyak informasi yang diterima kepada orang luar dan dalam. Informasi tentang organisasi juga diteruskan kepada orang luar melalui surat-menyurat, telepon, atau pertemuan dewan karena manajer bertindak sebagai juru bicara dari organisasinya.
3. Peranan Pengambil keputusan
Di dalam perusahaan, CEO bertugas secara strategis dengan memulai sesuatu proyek untuk mengambil keuntungan dari peluang yang ada. CEO mengadakan pertemuan, peninjauan untuk memulai suatu proyek, dan untuk membereskan masalah serta menyelesaikan krisis kalau tugasnya beralih menjadi menangani gangguan. Sebagai penjatah sumber dana, manajer mengerahkan anggaran dan menyetujui permintaan penjatahan sumber manusia, keuangan dan material. Manajer puncak atau CEO bertanggung jawab untuk mewakili perusahaan sebagai perunding (negotiator) untuk kontrak dengan serikat buruh, penyalur besar dan langganan besar.
2.5.2. Pergantian CEO
Dalam mengelola suatu perusahaan, CEO dapat membuat kesalahan, kelalaian atau kesalahan jabatan yang mengarah kepada pemecatannya. Kesalahan karena kelalaian termasuk kegagalan untuk menanggapi perubahan pasar dan kurang dapat mengendalikan operasi. Kesalahan jabatan termasuk ekspansi yang terlalu besar melebihi kemampuan sumber daya dan menggunakan leverage yang berlebihan.
Bagi perusahaan yang sedang mengalami penurunan prestasi yang drastis maka akan segera diadakan pemulihan dengan melakukan pergantian CEO.
Pemilihan CEO baru dapat dilakukan baik dari orang dalam atau orang luar tergantung daripada akibat yang menyebabkan kemunduran prestasi perusahaan.
Kalau sebab kemunduran itu dari dalam, sangat besar kemungkinannya bahwa orang luarlah yang akan diangkat. Kalau CEO itu datang dari luar, maka mungkin terjadi perubahan strategi yang mendasar karena CEO baru dari luar tidak akan terikat terhadap strategi yang lampau ataupun terhadap blok kekuatan di dalam yang bekerja untuk memperkuat status quo. CEO baru juga perlu berbicara tentang persoalan CEO yang lama dan harus berhati-hati benar untuk menghindari permulaan kebiasaan (departure) yang drastis dari praktek yang lalu.
Ada perbedaan dasar antara penggantian dari dalam dan penggantian dari luar. Pengambilan kekuasaan dari dalam bertujuan bahwa penggantian sebagai tujuan utama dan bukan hanya perubahan kebijaksanaan saja. Pengambilan
kekuasaan dari dalam yang dipimpin oleh bawahan CEO lebih mungkin terjadi jika:
a. Bawahan itu sangat tergantung pada CEO untuk jabatannya b. Tradisi organisasi untuk memilih CEO dari dalam
c. Komplotan mempunyai hubungan dengan anggota dewan yang menguasai banyak saham atau plafon kredit yang penting.
Ada beberapa bukti yang menguatkan bahwa ada strategi tertentu yang dapat digunakan untuk menurunkan CEO misalnya jika keuntungan perusahaan menurun, CEO dapat dipersalahkan karena membuat strategi yang buruk bagi perusahan. CEO yang gagal dalam menghadapi persaingan yang ketat dalam dunia usaha dapat menanggung resiko dan bahkan mengarah pada pergantian.
Menurut Salancik dan Pfeffer yang dikutip oleh Glueck (1990:86) mengemukakan bahwa masa jabatan tidak ada hubungannya dengan prestasi kerja bagi perusahaan yang dikelola tetapi berhubungan secara positif dengan margin keuntungan bagi perusahaan yang dikuasai dari luar, dan berhubungan secara positif dengan hasil pengembalian pasaran saham bagi perusahaan yang dikuasai oleh manajemen.
Fungsi kepala eksekutif yang unik adalah untuk menyelesaikan nilai-nilai yang saling bertentangan. Jika hal ini tidak dilakukan secara efektif, maka akan menimbulkan pertentangan tentang cara dan tujuan, sehingga kedudukan CEO akan menghadapi resiko (McDonald yang dikutip oleh Glueck, 1990:86).
2.6. Hipotesis
2.6.1. Motivasi Leverage Mempengaruhi Earnings Management
Menurut Weston dan Copeland (1990:229), rasio leverage merupakan rasio untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang. Semakin tinggi rasio leverage maka semakin besar resiko yang dihadapi, dan investor akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi. Ukuran ini berhubungan dengan keberadaan dan ketat tidaknya suatu persetujuan utang.
Perusahaan yang memiliki rasio leverage tinggi akibat besarnya jumlah hutang dibandingkan dengan aktiva diduga melakukan earnings management karena
perusahaan terancam default yaitu tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran hutang pada waktunya.
Penelitian yang pernah dilakukan oleh Widyaningdyah (2001) membuktikan bahwa debt motivation yang salah satu proxy-nya adalah leverage berpengaruh signifikan terhadap earnings management.
H1 : Motivasi leverage mempengaruhi manajemen perusahaan melakukan earnings management.
2.6.2. Motivasi Pergantian CEO Mempengaruhi Earnings Management
CEO bertugas sebagai agent dari pemegang saham bekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham. Pergantian CEO dapat terjadi bila pihak investor tidak puas terhadap kinerja CEO. Lebih lanjut CEO baru akan melakukan taking a bath untuk meningkatkan profitabilitas laba mendatang yang positif. Scott (2000:383) mengatakan taking a bath tercipta atau terjadi dalam hal perusahaan mengadakan restrukturisasi atau reorganisasi atau pergantian CEO. Jika perusahaan harus melaporkan rugi maka manajemen akan berpikir bahwa mereka dapat mencadangkan (reserve) kemungkinan kerugian yang akan terjadi di tahun atau periode berikutnya. Dengan kata lain manajemen mencoba mengalihkan expected future cost ke masa kini. Konsekuensi tindakan ini adalah manajemen memiliki peluang lebih besar mendapatkan laba di masa yang akan datang. Hasil penelitian ini juga didukung oleh Murphy dan Zimmerman yang dikutip oleh Rata (2003:186) menunjukan bahwa eksekutif yang baru (incoming CEO) akan melakukan “bath” untuk menaikkan laba ke depan dengan membebankan pada laba tahun transisi melalui penghapusan operasi yang tidak diinginkan dan divisi yang tidak menguntungkan. Sehingga hipotesis yang kedua:
H2: Motivasi Pergantian CEO mempengaruhi earnings management
2.7. Teori Pengujian dengan Binary Logistic
Binary Logistic merupakan metode statistik non linier regression yang bertujuan untuk memprediksi besar variabel tergantung yang berupa sebuah variabel binary dengan menggunakan data variabel bebas (Santoso, 2000:173).
Alasan menggunakan pemilihan metode ini karena data yang digunakan dalam
penelitian ini bersifat nonparametrik serta variabel dependen bersifat dichotomous (memiliki 2 nilai, yaitu ya atau tidak, sukses atau gagal). Yang dimaksud nonparametris adalah bahwa distribusi populasinya tidak harus merupakan distribusi normal (Johnson and Bhattacharyya, 1196:506). Hal ini juga diperkuat oleh Prof. Dr. Sugiyono (1999:145) yang mengatakan bahwa statistik nonparametris tidak harus berdistribusi normal dan sering disebut distribusi bebas (distribusi free).
Variabel binary adalah data jenis nominal dengan dua kriteria saja.
Sebagai contoh: gagal-sukses, pindah-tidak pindah. Data nominal sendiri merupakan data yang diperoleh dengan cara kategorisasi atau klasifikasi, dimana posisi data setara dan tidak bisa dilakukan operasi matematika terhadap data tersebut.
Di dalam program SPSS 10, ada 3 langkah untuk menganalisa output yang dihasilkan oleh metode Binary Logistics (Santoso, 2000:117), yaitu:
1. Menilai kelayakan model regresi
Penilaian kelayakan model regresi bertujuan untuk melihat apakah model regresi binary layak untuk dipakai untuk analisa selanjutnya di masa depan atau tidak. Hal ini dilakukan dengan melihat output dari Hosmer and Lemeshow dengan menggunakan hipotesis sebagai berikut:
H0 = Tidak ada perbedaan yang nyata antara klasifikasi yang diprediksi dengan klasifikasi yang diamati.
H1 = Ada perbedaan yang nyata antara klasifikasi yang diprediksi dengan klasifikasi yang diamati.
Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
• Jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima.
• Jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak.
Dimana probabilitas yang dimaksud adalah nilai goodness of fit test pada bagian bawah uji Hosmer and Lemeshow.
2. Menilai keseluruhan model (overall model fit)
Overall Model Fit bertujuan untuk menguji seberapa jauh model cocok dengan data yang ada. Overal model fit ini disebut juga dengan deviance dan
dilakukan dengan memperhatikan angka -2 Log Likelihood pada awal (Block Number=0) kemudian memperhatikan angka -2 Log Likelihood pada akhir (Block Number=1). Apabila ada penurunan, maka hal ini menunjukkan model regresi yang lebih baik. Semakin kecil angka yang dihasilkan semakin baik pula model regresi binary cocok dengan data.
3. Menguji koefisien regresi
Pengujian ini dilakukan dengan cara melakukan uji t. Uji t ini bertujuan untuk menguji signifikansi setiap variabel independen. Dengan melihat kolom Sig/Significance pada tabel variables in the equation yang terlihat pada bagian akhir output maka dilakukan pengambilan keputusan sebagai berikut:
• Jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima.
• Jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak.
Artinya jika probabilitas diatas 0,05 maka H0 diterima atau koefisien regresi tidak signifikan. Sebaliknya jika probabilitas dibawah 0,05, maka H0 ditolak atau koefisien regresi signifikan.