• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP)"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

 Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Kalimantan Tengah selama Juni 2016 sebesar 98,12 persen, naik 0,40 persen dibandingkan NTP bulan Mei 2016. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan NTP subsektor tanaman pangan (1,82 persen), peternakan (0,90 persen), dan hortikultura (0,43 persen).

 Indeks harga yang diterima petani (It) dan indeks harga yang dibayar petani (Ib) masing-masing naik 0,66 persen dan 0,26 persen.

 NTP tertinggi terjadi pada subsektor perikanan sebesar 106,77 persen, sedangkan NTP terendah terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 91,35 persen.

 Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP) sebesar 105,41 persen, naik 0,49 persen dibandingkan Mei 2016 yang sebesar 104,90 persen.

 Berdasarkan Indeks Konsumsi Rumahtangga (IKRT), terjadi inflasi sebesar 0,28 persen terutama disebabkan oleh naiknya indeks harga kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (1,14 persen), sandang (0,38 persen), dan perumahan (0,30 persen).

o. 04/04/62/Th. I, 2 Juni 2007

No. 03/07/62/Th.X, 1 Juli 2016

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP)

Selama Juni 2016, Nilai Tukar Petani (NTP) Sebesar 98,12 Persen

1. Nilai Tukar Petani (NTP)

Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan persentase yang diperoleh dari perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). NTP berperan sebagai indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan, yang menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian terhadap barang dan jasa baik yang dikonsumsi oleh rumahtangga maupun biaya produksi pertanian. Sehingga, semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat daya beli petani.

Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP) merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib) tanpa memperhitungkan pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga. Dengan demikian, NTUP mencerminkan kemampuan daya tukar secara langsung antara hasil produksi rumahtangga petani terhadap pengeluaran biaya selama proses produksi.

(2)

Dari hasil pemantauan harga penjualan komoditas hasil pertanian di tingkat produsen, biaya produksi, dan konsumsi rumah tangga terhadap barang/jasa di wilayah perdesaan selama Juni 2016, menunjukkan NTP Provinsi Kalimantan Tengah mengalami peningkatan sebesar 0,40 persen, yaitu dari 97,73 di Mei 2016 menjadi 98,12 di Juni 2016. Hal ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga yang diterima sebesar 0,66 persen, lebih tinggi dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang sebesar 0,26 persen.

1.

Indeks Harga yang Diterima Petani (It)

Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga komoditas hasil pertanian yang dihasilkan petani. Dibandingkan bulan sebelumnya, indeks harga yang diterima petani meningkat 0,66 persen selama Juni 2016. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya It pada tiga subsektor meliputi tanaman pangan sebesar 2,14 persen, peternakan sebesar 1,17 persen, dan hortikultura sebesar 0,66 persen.

2.

IndeksHarga yang Dibayar Petani (Ib)

Indeks harga yang dibayar petani (Ib) dipengaruhi oleh komponen pengeluaran rumahtangga terhadap fluktuasi harga barang dan jasa, baik untuk keperluan konsumsi maupun biaya produksi pertanian. Indeks Harga yang dibayar petani selama Juni 2016 meningkat 0,26 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya Ib pada keseluruhan subsektor meliputi subsektor tanaman pangan sebesar 0,32 persen, peternakan sebesar 0,26 persen, tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,25 persen, hortikultura sebesar 0,23 persen, dan perikanan sebesar 0,22 persen.

90,00 95,00 100,00 105,00 110,00 115,00 120,00 125,00 Jun 2015

Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan 2016

Feb Mar Apr Mei Jun Perkembangan NTP dan Indeks Harga yang Diterima/Dibayar Petani

Juni 2015 - Juni 2016

(3)

Tabel 1

Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Subsektor dan Perkembangannya Mei – Juni 2016

Mei Juni Perubahan 2016 2016 (%)

(1) (2) (3) (4)

1. Tanaman Pangan

a . Ni l a i Tuka r Peta ni Pa di & Pa l a wi ja (NTPP) 97,82 99,60 1,82 b. Ni l a i Tuka r Us a ha Ruma hta ngga Perta ni a n (NTUP) 99,83 101,78 1,95 c. Indeks Ha rga ya ng Di teri ma Peta ni (It) 120,63 123,21 2,14

- Pa di 121,12 123,90 2,30

- Pa l a wi ja 112,22 111,42 -0,71

d. Indeks Ha rga ya ng Di ba ya r Peta ni (Ib) 123,32 123,71 0,32 - Indeks Kons ums i Ruma h Ta ngga 123,87 124,30 0,35

- Indeks BPPBM 120,84 121,05 0,17

2. Hortikultura

a . Ni l a i Tuka r Peta ni Horti kul tura (NTPH) 105,70 106,15 0,43 b. Ni l a i Tuka r Us a ha Ruma hta ngga Perta ni a n (NTUP) 118,36 118,91 0,46 c. Indeks Ha rga ya ng Di teri ma Peta ni (It) 128,20 129,05 0,66 - Sa yur-s a yura n 114,41 116,59 1,91

- Bua h-bua ha n 132,71 133,08 0,28

- Ta na ma n Oba t 136,58 138,65 1,52

d. Indeks Ha rga ya ng Di ba ya r Peta ni (Ib) 121,30 121,58 0,23 - Indeks Kons ums i Ruma h Ta ngga 123,63 123,93 0,24

- Indeks BPPBM 108,31 108,52 0,19

3. Tanaman Perkebunan Rakyat

a . Ni l a i Tuka r Peta ni Ta na ma n Perkebuna n Ra kya t (NTPR) 92,08 91,35 -0,79 b. Ni l a i Tuka r Us a ha Ruma hta ngga Perta ni a n (NTUP) 100,07 99,44 -0,63 c. Indeks Ha rga ya ng Di teri ma Peta ni (It) 112,01 111,39 -0,55 - Ta na ma n Perkebuna n Ra kya t 112,01 111,39 -0,55 d. Indeks Ha rga ya ng Di ba ya r Peta ni (Ib) 121,64 121,94 0,25 - Indeks Kons ums i Ruma h Ta ngga 123,80 124,14 0,27

- Indeks BPPBM 111,92 112,03 0,10

4. Peternakan

a . Ni l a i Tuka r Peta ni Peterna ka n (NTPT) 97,59 98,47 0,90 b. Ni l a i Tuka r Us a ha Ruma hta ngga Perta ni a n (NTUP) 106,13 107,15 0,96 c. Indeks Ha rga ya ng Di teri ma Peta ni (It) 115,80 117,15 1,17

- Terna k Bes a r 122,52 123,81 1,05

- Terna k Keci l 110,19 111,68 1,35

- Ungga s 111,83 113,05 1,09

- Ha s i l Terna k 129,07 130,73 1,29 d. Indeks Ha rga ya ng Di ba ya r Peta ni (Ib) 118,66 118,97 0,26 - Indeks Kons ums i Ruma h Ta ngga 123,60 123,96 0,29

- Indeks BPPBM 109,10 109,33 0,21

5. Perikanan

a . Ni l a i Tuka r Nel a ya n (NTN) 107,26 106,77 -0,46 b. Ni l a i Tuka r Us a ha Ruma hta ngga Perta ni a n (NTUP) 116,06 115,38 -0,59 c. Indeks Ha rga ya ng Di teri ma Peta ni (It) 129,02 128,71 -0,24

- Pena ngka pa n 135,22 134,23 -0,73

- Budi da ya 117,20 118,19 0,84

d. Indeks Ha rga ya ng Di ba ya r Peta ni (Ib) 120,29 120,55 0,22 - Indeks Kons ums i Ruma h Ta ngga 126,37 126,55 0,14

- Indeks BPPBM 111,16 111,55 0,35

Gabungan

a . Ni l a i Tuka r Peta ni (NTP) 97,73 98,12 0,40 b. Ni l a i Tuka r Us a ha Ruma hta ngga Perta ni a n (NTUP) 104,90 105,41 0,49 c. Indeks Ha rga ya ng Di teri ma Peta ni (It) 118,74 119,52 0,66 d. Indeks Ha rga ya ng Di ba ya r Peta ni (Ib) 121,50 121,81 0,26 - Indeks Kons ums i Ruma h Ta ngga 123,94 124,29 0,28

- Indeks BPPBM 113,20 113,39 0,17

(4)

3.

NTP Menurut Subsektor

Meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,40 persen selama Juni 2016, secara umum dipengaruhi oleh kenaikan nilai tukar tiga subsektor meliputi tanaman pangan sebesar 1,82 persen, peternakan sebesar 0,90 persen, dan hortikultura sebesar 0,43 persen. Kenaikan NTP subsektor tanaman pangan terutama dipengaruhi oleh meningkatnya indeks harga kelompok padi sebesar 2,30 persen, yakni dari 121,12 di Mei 2016 menjadi 123,90 di Juni 2016. Pada subsektor peternakan, dipengaruhi oleh meningkatnya indeks harga kelompok ternak besar sebesar 1,05 persen, ternak kecil sebesar 1,35 persen, unggas sebesar 1,09 persen, dan hasil ternak sebesar 1,29 persen. Sementara pada subsektor hortikultura dipengaruhi oleh meningkatnya indeks harga kelompok sayur-sayuran sebesar 1,91 persen, buah-buahan sebesar 0,28 persen, dan tanaman obat sebesar 1,52 persen.

Pada bulan yang sama, NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat dan perikanan mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,79 persen dan 0,46 persen. Menurunnya NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat dipengaruhi oleh penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,55 persen, namun indeks harga yang dibayar petani meningkat 0,25 persen. Sedangkan penurunan NTP subsektor perikanan disebabkan oleh merosotnya indeks harga yang diterima petani sebesar 0,24 persen, sebaliknya indeks harga yang dibayar petani meningkat 0,22 persen. Penurunan pada subsektor perikanan secara umum lebih dipengaruhi oleh kondisi harga hasil perikanan tangkap di pasaran.

Tabel 2

Inflasi/Deflasi Perdesaan Menurut Kelompok Pengeluaran Juni 2016

Laju Inflasi Laju

Inflasi Tahun Inflasi

Juni Des Mei Juni Juni Kalender Tahun ke

2016 2015 2016 2016 2016 2016 Tahun

[2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

Konsumsi Rumah Tangga 120,53 122,91 123,94 124,29 0,28 1,12 3,12

1 Ba ha n ma ka na n 122,94 126,35 128,54 128,58 0,03 1,77 4,59 2 Ma ka na n ja di , mi numa n, 118,67 120,92 123,78 125,20 1,14 3,54 5,50 rokok, da n temba ka u 3 Peruma ha n 113,82 115,43 117,22 117,57 0,30 1,85 3,29 4 Sa nda ng 116,82 119,19 120,52 120,97 0,38 1,50 3,56 5 Kes eha ta n 115,07 117,22 118,93 119,10 0,14 1,61 3,51 6 Pendi di ka n, rekrea s i , da n 111,82 112,72 113,95 114,13 0,16 1,25 2,07 ol a hra ga

7 Tra ns porta s i , komuni ka s i , 126,87 126,69 118,27 117,79 -0,41 -7,02 -7,16

da n ja s a keua nga n

Kelompok Pengeluaran

[1]

Indeks Konsumsi Rumahtangga (IKRT)

(5)

NTUP dibandingkan NTP yang sebesar 98,12 persen pada bulan yang sama, mengindikasikan secara umum tingkat pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga petani, termasuk peternak dan nelayan, selalu berperan cukup signifikan dalam menurunkan nilai tukar dari waktu ke waktu.

5.

Inflasi/Deflasi Perdesaan Menurut Kelompok Pengeluaran

Perubahan indeks harga kebutuhan konsumsi rumahtangga petani di perdesaan pada hakekatnya mencerminkan tingkat inflasi atau deflasi yang terjadi di wilayah pedesaan secara umum. Dilihat dari kelompok pengeluaran rumahtangga selama Juni 2016, terjadi inflasi sebesar 0,28 persen. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh lonjakan indeks harga pengeluaran konsumsi rumahtangga selama bulan ramadhan dan menjelang lebaran tahun 2016. Tingkat inflasi yang cukup tinggi terjadi pada pengeluaran konsumsi untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 1,14 persen, sandang sebesar 0,38 persen, dan perumahan sebesar 0,30 persen.

Tabel 3

Perkembangan Inflasi/Deflasi Bulanan di Pedesaan Juni 2015 - Juni 2016

Tahun Bulan Inflasi/Deflasi Bulanan Laju Inflasi Tahun Kalender Laju Inflasi Tahun ke Tahun (1) (2) (3) (4) (5) 2015 Juni 0,57 1,73 6,96 Juli 0,38 2,11 6,75 Agustus 0,18 2,29 6,66 September -0,27 2,01 5,60 Oktober 0,20 2,21 5,83 November 0,43 2,65 2,59 Desember -0,41 0,42 3,99 2016 Januari 0,38 0,38 4,04 Februari -0,10 0,28 4,58 Maret 0,55 0,84 4,82 April -0,41 0,42 3,99 Mei 0,41 0,84 3,42 Juni 0,28 1,12 3,12

Selama setahun terakhir, tingkat inflasi tertinggi terjadi di Juni 2015 sebesar 0,57 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Agustus 2015 sebesar 0,18 persen. Sementara itu, tingkat deflasi tertinggi terjadi di Desember 2015 dan April 2016 masing-masing sebesar 0,41 persen. Laju inflasi tahun kalender selama Juni 2016 sebesar 1,12 persen dan inflasi tahun ke tahun mencapai 3,12 persen.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dapat dijelaskan bahwa apabila mahasiswa memiliki daya ledak lengan, daya ledak tungkai dan koordinasi mata tangan yang baik maka akan bagus dalam

William Safran mendefinisikan orang-orang yang merupakan diaspora dengan menampakkan enam ciri utama: mereka (atau nenek moyang mereka) yang tersebar dari satu

Pengembangan delivery channel baru yang disediakan Artajasa adalah untuk memperluas channel yang dapat digunakan pelanggan dalam melakukan transaksi elektronis

Wilayah kabupaten yang memiliki jumlah penduduk yang padat, dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang menunjukkan grafik meningkat meski dalam nilai kecil, mengemban

Kecenderungan kedua iklim ekstrim tersebut mengindikasikan bahwa pembangunan pertanian dalam delapan tahun ke depan akan dihadapkan pada masalah iklim ekstrim El Nino dan La

ANALISIS BOOK TAX DIFFERENCES TERHADAP PERSISTENSI LABA (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index Tahun 2011-2013). adalah hasil karya

Di antara konsep integrasi keilmuan berdasarkan paradigma keilmuan yang dikembangkan oleh beberapa UIN di Indonesia yang penulis kaji dalam tulisan ini adalah

Bentuk RIP siswa yang dominan muncul adalah bentuk interogatif yang berfungsi untuk bertanya, dengan penanda kesantunan berupa tuturan yang panjang disertai ungkapan