• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian Ekonomi Regional Provinsi DKI Jakarta

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kajian Ekonomi Regional Provinsi DKI Jakarta"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

Kajian Ekonomi Regional

Kajian Ekonomi Regional

Kajian Ekonomi Regional

Kajian Ekonomi Regional

Provinsi DKI

Provinsi DKI

Provinsi DKI

Provinsi DKI Jakarta

Jakarta

Jakarta

Jakarta

Triwulan

Triwulan

Triwulan

Triwulan IIIIIIII 201

201

201

2013

3

3

3

(2)

ii

(3)

Kata Pengantar

Kata Pengantar

Kata Pengantar

Kata Pengantar

Perekonomian Jakarta pada triwulan II 2013 tumbuh sebesar 6,30% (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan perekonomian nasional sebesar 5,81% (yoy). Masih tingginya pertumbuhan ekonomi Jakarta bersumber dari sektor perdagangan, hotel, dan restoran; sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan; dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Bahkan sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh 11,40% dibandingkan tahun lalu. Dari sisi permintaan, kuatnya konsumsi rumah tangga yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan lalu, juga mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta triwulan ini tetap tinggi.

Inflasi Jakarta pada triwulan II 2013 tercatat sebesar 5,67% (yoy). Realisasi inflasi tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan lalu, karena koreksi beberapa harga komoditas hortikultura seperti seperti bawang putih, bawang merah, dan tomat sayur selama triwulan laporan. Kendati demikian, kenaikan harga BBM pada akhir triwulan laporan menahan penurunan inflasi lebih lanjut. Dampak kenaikan BBM tersebut diperkirakan mencapai puncaknya pada awal triwulan mendatang.

Perekonomian Jakarta pada triwulan III 2013 diprakirakan tumbuh stabil pada kisaran 6,3% (yoy), dengan inflasi berada di kisaran 8,3% - 8,7% (yoy). Relatif stabilnya perekonomian Jakarta ditopang oleh pertumbuhan ketiga sektor utama (sektor perdagangan, hotel, dan restoran; sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan; dan sektor pengangkutan dan komunikasi) dan akselerasi konsumsi pemerintah pada triwulan mendatang. Sementara itu, kenaikan harga BBM pada tanggal 22 Juni 2013 diprakirakan memberikan tekanan inflasi yang tinggi pada triwulan mendatang, khususnya pada awal triwulan III 2013.

Uraian lebih rinci terkait perkembangan terkini dan prospek perekonomian Jakarta disajikan dalam publikasi Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi DKI Jakarta. Tujuan dari penyusunan KER triwulanan ini selain untuk memenuhi kepentingan Bank Indonesia dalam mendukung perumusan kebijakan moneter, juga diharapkan dapat menjadi sumber referensi bagi pembuat kebijakan publik di Jakarta.

Akhir kata, semoga kajian ini dapat memberi manfaat bagi pembangunan ekonomi di Jakarta.

.

Jakarta, Agustus 2013 GRUP KEBIJAKAN MONETER

Wiwiek Sisto Widayat Wiwiek Sisto WidayatWiwiek Sisto Widayat Wiwiek Sisto Widayat

(4)

iv

(5)

Daftar Isi

Daftar Isi

Daftar Isi

Daftar Isi

RINGKASAN UMUM halaman vii

BAB I. EKONOMI MAKRO REGIONAL halaman 1

Dinamika Sisi Permintaan Perekonomian Jakarta halaman 1

Dinamika Sektor Ekonomi Utama Jakarta halaman 5

BAB II. INFLASI Boks 1: Kenaikan Harga Komoditas Hortikultura dan

Kebijakan Pengaturan Impor Hortikultura

halaman 11 halaman 14

BAB III. PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN halaman 17

Intermediasi Perbankan halaman 17

Sistem Pembayaran halaman 21

BAB IV. KEUANGAN PEMERINTAH halaman 23

Penerimaan Daerah halaman 23

Belanja Daerah Pembiayaan Daerah

halaman 25 halaman 28

BAB V. PROSPEK EKONOMI DAN INFLASI halaman 31

Beberapa Asumsi yang Melandasi Proyeksi Ekonomi Jakarta

halaman 31

Pertumbuhan Ekonomi halaman 33

(6)

vi

Halaman ini sengaja dikosongkan

(7)

Ringkasan Umum

Ringkasan Umum

Ringkasan Umum

Ringkasan Umum

Pada triwulan II 2013, ekonomi Jakarta tumbuh sebesar 6,3% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan I 2013. Perlambatan pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh melambatnya investasi khususnya investasi non bangunan dan ekspor. Meningkatnya impor terutama barang konsumsi terkait dengan masih kuatnya konsumsi rumah tangga juga menjadi salah satu faktor perlambatan pertumbuhan pada triwulan II 2013. Konsumsi masih tumbuh walaupun dalam level terbatas yang memberikan pengaruh pada kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh stabil ditengah permintaan properti yang relatif terjaga.

Sementara itu, tekanan inflasi di Kawasan Jakarta cenderung meningkat terkait dengan kenaikan beberapa komoditas pangan, biaya bahan bakar dan transportasi serta ekspektasi inflasi pada akhir triwulan II 2013. Inflasi di Jakarta mencapai 5,67% (yoy) di triwulan berjalan atau sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Setelah sempat mengalami peningkatan yang cukup tinggi pada triwulan sebelumnya, beberapa komoditas hortikultura mengalami penurunan harga yang cukup signifikan pada triwulan laporan. Hal ini juga didukung oleh membaiknya pasokan, baik yang bersumber dari produksi domestik maupun dari realisasi impor. Namun, koreksi harga beberapa komoditas pangan yang terjadi pada awal hingga pertengahan triwulan laporan tertahan oleh ekspektasi kenaikan harga BBM bersubsidi yang meningkat pada Juni 2013.

Kegiatan intermediasi perbankan Jakarta pada triwulan II 2013 juga terpantau mengalami perlambatan. Salah satu faktor perlambatan kredit termasuk kredit UMKM ditengarai adalah menurunnya persepsi terhadap kondisi perekonomian dan kegiatan dunia usaha ke depan. Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) di perbankan mengindikasikan adanya tren peningkatan. Realisasi APBD Pemprov DKI Jakarta triwulan II 2013 lebih rendah dibandingkan periode yang sama di 2012. Realisasi penerimaan Pemprov DKI Jakarta pada triwulan II 2013 sebesar Rp11,14 triliun atau 26,83% dari target yang ditetapkan. Sementara itu, realisasi belanja Pemprov DKI Jakarta tercatat sebesar Rp8,02 triliun atau 17,60% dari target yang ditetapkan. Upaya monitoring dan pemberian target penyerapan belanja Pemerintah masih terkendala oleh permasalahan teknis dan proses pengadaan. Adapun rendahnya realisasi belanja Pemerintah Pusat yang memiliki pangsa terbesar di Jakarta juga secara khusus dipengaruhi oleh kebijakan pengetatan

(8)

viii

anggaran pada beberapa lembaga dalam rangka menjaga kondisi fiskal nasional yang terbebani oleh besarnya subsidi dan impor.

Perekonomian Jakarta di triwulan III 2013 diprakirakan tumbuh pada kisaran 6,2% - 6,6%. Prediksi kenaikan pertumbuhan ekonomi di triwulan III 2013 didukung oleh optimisme adanya perbaikan ekonomi global yang mendorong peningkatan permintaan ekspor serta kenaikan permintaan domestik. Konsumsi yang meningkat terkait dengan perayaan Lebarandiperkirakan akan meningkatkan kinerja sektor PHR dan sektor industri pengolahan. Investasi khususnya di bangunan diperkirakan mampu tumbuh walaupun dalam level yang terbatas.

Tekanan inflasi pada triwulan III 2013 diprakirakan pada kisaran 8,3% - 8,7%, meningkat signifikan sebagai dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi. Dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi terbesar selain dari dampak langsung, juga dari kenaikan tarif angkutan yang mencapai rata-rata 41%.Hal tersebut memicu kenaikan biaya logistik dan distribusi, biaya produksi maupun biaya operasional yang berpotensi menurunkan daya saing produk barang dan jasa Jakarta.

(9)

Tabel Indikator Ekonomi Provinsi DKI Jakarta

Total Total I II III IV Total I II

Ekonomi Makro Regional

Produk Domestik Regional Bruto (%, yoy) 6.5 6.7 6.4 6.7 6.4 6.5 6.5 6.5 6.3

Berdasarkan Sektor:

1 Pertanian 1.7 0.8 0.5 0.9 0.1 1.4 0.8 1.5 0.7

2 Pertambangan & Penggalian 1.5 8.6 -1.1 -1.1 -0.3 -0.4 -0.9 -0.4 -0.7 3 Industri Pengolahan 3.6 2.4 1.5 4.0 3.3 1.9 2.4 1.9 1.5 4 Listrik, Gas, & Air Bersih 5.6 4.0 3.8 3.8 4.2 4.5 4.5 3.8 2.6 5 Konstruksi 7.1 7.9 6.2 6.2 6.6 7.8 6.9 6.5 6.3 6 Perdagangan, Hotel, & Restoran 7.3 7.4 7.0 7.2 6.7 7.6 7.2 7.2 7.2 7 Pengangkutan dan Komunikasi 14.8 13.9 13.8 12.5 10.8 10.6 11.8 11.4 11.4 8 Keuangan, Persewaan, % Jasa Usaha 4.2 5.0 5.1 5.3 5.4 5.4 5.4 5.7 5.4

9 Jasa-jasa 6.6 6.9 7.8 7.8 7.1 7.2 7.6 7.5 7.4

Berdasarkan Permintaan:

1 Konsumsi Rumah Tangga 6.4 6.2 6.1 6.4 6.6 6.1 6.3 5.7 5.9 2 Konsumsi Pemerintah 0.7 3.7 5.1 7.1 -0.4 -4.8 1.1 0.4 2.8

3 PMTB 8.8 8.0 8.0 11.0 7.1 8.2 9.0 5.9 5.0

4 Ekspor 7.3 12.2 8.7 6.5 4.3 5.8 6.3 5.7 4.7

5 Impor 8.1 12.7 9.5 8.5 4.3 5.3 7.0 4.3 3.2

Ekspor *)

- Nilai Ekspor Non Migas (USD Juta) 8,398 10,973 2,958 2,891 2,787 2,942 11,578 2,765 1,889 - Volume Ekspor Non Migas (ribu ton) 2,202 2,793 719 768 732 833 3,053 704 492 Impor *)

- Nilai Impor Non Migas (USD Juta) 44,527 57,460 15,425 17,315 15,347 15,790 63,877 14,463 11,283 - Volume Impor Non Migas (ribu ton) 24,394 27,663 7,423 7,879 7,213 7,868 30,382 7,347 9,122 Indeks Harga Konsumen 122.92 127.80 128.86 129.68 131.95 133.58 133.58 136.20 137.03 Laju Inflasi Tahunan (%, yoy) 6.21 3.97 4.13 4.12 3.97 4.52 4.52 5.70 5.67

Dana Pihak Ketiga (Rp Triliun) 1,198 1,417 1,411 1,478 1,511 1,630 1,630 1,636 1,707

- Tabungan 209 257 265 277 289 309 309 314 317 - Giro 328 395 361 407 393 453 453 423 460 - Deposito 661 766 784 794 829 868 868 900 930 Kredit (Rp Triliun) 864 1,080 1,114 1,201 1,243 1,311 1,305 1,336 1,401 - Modal Kerja 454 557 574 627 645 684 684 708 752 - Investasi 219 286 300 321 340 357 357 364 379 - Konsumsi 191 237 239 253 257 270 264 265 270

Kredit UMKM (Rp Triliun) n.a. 82 81 88 83 93 93 90 95

Loan to Deposit Ratio (%) 72.15 76.23 78.95 81.13 82.26 80.42 80.42 81.68 82.07

NPL Gross (%) 2.94 2.07 2.14 1.96 1.74 1.55 1.55 1.56 1.48

Sistem Pembayaran

Transaksi RTGS

- Rata-rata Harian Nominal Transaksi (Rp Triliun) 78.5 87.2 64.4 90.3 89.9 95.6 85.0 82.0 101.5 - Rata-rata Harian Volume Transaksi (ribu) 22.5 23.3 19.8 23.3 23.6 25.9 23.2 23.9 25.2

Transaksi Kliring (Rp Triliun)

- Rata-rata Harian Nominal Transaksi (Rp Triliun) 3.7 4.2 4.2 4.6 4.7 5.1 4.6 4.7 5.0 - Rata-rata Harian Volume Transaksi (ribu) 235.5 268.1 251.7 292.1 295.4 317.7 289.2 258.0 251.6 *) Data Februari

2013

Perbankan *)

(10)

x

(11)

BAB I BAB I BAB I BAB I

EKONOMI MAKRO REGIONAL EKONOMI MAKRO REGIONAL EKONOMI MAKRO REGIONAL EKONOMI MAKRO REGIONAL

Pada triwulan II 2013, ekonomi Jakarta tumbuh sebesar 6,3% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan I 2013. Perlambatan pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh melambatnya investasi khususnya investasi non bangunan dan ekspor. Meningkatnya impor terutama barang konsumsi terkait dengan masih kuatnya konsumsi rumah tangga juga menjadi salah satu faktor perlambatan pertumbuhan pada triwulan II 2013. Konsumsi masih tumbuh walaupun dalam level terbatas yang memberikan pengaruh pada kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh stabil ditengah permintaan properti yang relatif terjaga.

A. A. A.

A. Dinamika Sisi Permintaan Perekonomian Dinamika Sisi Permintaan Perekonomian Dinamika Sisi Permintaan Perekonomian Dinamika Sisi Permintaan Perekonomian JakartaJakartaJakartaJakarta Konsumsi Jakarta tercatat

Konsumsi Jakarta tercatat Konsumsi Jakarta tercatat

Konsumsi Jakarta tercatat mengalami mengalami mengalami mengalami peningkatan peningkatan peningkatan peningkatan pertumbuhanpertumbuhanpertumbuhanpertumbuhan pada pada pada pada triwulan

triwulan triwulan

triwulan IIIII I I I 2013 2013 2013 2013 dibandingkan dibandingkan dibandingkan dibandingkan dengan dengan dengan dengan triwulan triwulan triwulan triwulan sebelumnyasebelumnyasebelumnyasebelumnya. . . . Meningkatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga terutama didukung oleh pola musiman libur sekolah dan persiapan menjelang masa puasa dimana terdapat berbagai event penjualan untuk menggairahkan aktivitas belanja masyarakat. Namun, pertumbuhan konsumsi yang lebih tinggi pada triwulan berjalan juga dikaitkan dengan adanya faktor base effect dimana kinerja konsumsi pada triwulan I 2013 relatif rendah sebagai akibat dari banjir yang melanda wilayah DKI Jakarta. Hal yang sama juga terjadi pada kinerja pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan II 2013 yang menunjukkan perbaikan secara triwulanan terkait dengan realisasi belanja yang rendah di triwulan I 2013 sebagai akibat dari keterlambatan pengesahan APBD. Dengan demikian, melambatnya perekonomian Jakarta juga dipengaruhi oleh tertahannya tingkat konsumsi rumah tangga maupun pemerintah.

P PP

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ertumbuhan konsumsi rumah tangga ertumbuhan konsumsi rumah tangga ertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2013 pada triwulan II 2013 pada triwulan II 2013 meningkat pada triwulan II 2013 meningkat meningkat meningkat sebesar

sebesar sebesar

sebesar 5,95,95,95,9% (yoy), % (yoy), % (yoy), % (yoy), meningkat meningkat meningkat meningkat dibandingkan dengan triwulan dibandingkan dengan triwulan dibandingkan dengan triwulan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya

sebelumnya sebelumnya

sebelumnya. . . Adanya peningkatan konsumsi rumah tangga pada triwulan . laporan berkontribusi pada pertumbuhan PDRB Jakarta mengingat pangsa konsumsi rumah tangga pada PDRB Jakarta yang besar. Namun, pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2013 ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama di 2012 (6,4%, yoy). Survei penjualan eceran mengkonfirmasi pertumbuhan penjualan barang eceran yang lebih baik secara tahunan pada triwulan laporan (Grafik I.2), meskipun juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan penjualan eceran sesuai pola musiman menjelang Lebaran dalam 3 tahun sebelumnya. Dengan demikian,

(12)

2

diyakini bahwa konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2013 tumbuh relatif terbatas. Adapun peningkatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan laporan diprediksi merupakan dampak dari faktor base effect dimana pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2013 mengalami kontraksi cukup dalam sebagai akibat dari banjir. Sentimen atau persepsi negatif masyarakat terhadap kondisi perekonomian pada triwulan laporan juga memiliki andil pada terbatasnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia (Grafik I.1) menunjukkan tren penurunan persepsi masyarakat yang cukup dalam hingga berada di bawah batas ambang optimisme untuk keseluruhan indeks keyakinan konsumen. Pesimisme terhadap kondisi perekonomian domestik saat ini tak lepas dari dinamika pemulihan ekonomi global yang relatif lamban. Di samping itu, perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga diperkirakan sebagai pengaruh dari ekspektasi inflasi yang meningkat signifikan terkait dengan proses pengambilan kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi. Selain itu, perlemahan nilai tukar sebagai pengaruh dari kondisi ketidakseimbangan pada neraca perdagangan dan faktor global juga diprediksi. Mencermati dinamika perekonomian yang terjadi sepanjang triwulan laporan, kecenderungan pembatasan pengeluaran rumah tangga telah terlihat. Hal ini juga terindikasi dari stagnannya penyaluran kredit konsumsi di Jakarta (Grafik I.3). Meski demikian, level penghasilan dan ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan tetap terjaga (Grafik V.3).

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.I.I.I.111 Indeks Keyakinan Konsumen 1 Grafik I.2Grafik I.2Grafik I.2Grafik I.2 Indeks Penjualan Eceran

Grafik I. Grafik I.Grafik I.

Grafik I.3333 Perkembangan Kredit Konsumsi

Grafik I.

Grafik I. Grafik I.

Grafik I.4444 Perkembangan Belanja Pemerintah Daerah 60 70 80 90 100 110 120 130 140 150 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 2010 2011 2012 2013 Indeks

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)

Optimis Pesimis 0 20 40 60 80 100 120 140 160 -50 -40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 2010 2011 2012 2013 %

Indeks Penjualan Eceran (rhs) g.Indeks Penjualan Eceran (yoy)

0 5 10 15 20 25 30 35 0 50 100 150 200 250 300 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 2010 2011 2012 2013 %, yoy Rp triliun

Nilai Kredit Konsumsi Growth Riil (%,yoy) - rhs

-40 -20 0 20 40 60 80 100

I II III IV I II III IV I II III IV I II

2010 2011 2012 2013

Persentase Realisasi Total Belanja Persentase Realisasi Belanja Modal gRealisasi Belanja Daerah

(13)

Konsumsi pemerintah Konsumsi pemerintah Konsumsi pemerintah

Konsumsi pemerintah tercatat tercatat tercatat tercatat tumbuh sebesar tumbuh sebesar tumbuh sebesar tumbuh sebesar 2,82,82,82,8% (yoy) pada triwulan % (yoy) pada triwulan % (yoy) pada triwulan % (yoy) pada triwulan II 2013

II 2013 II 2013

II 2013. . . . Secara triwulanan, kinerja konsumsi pemerintah di triwulan laporan mengalami peningkatan yang signifikan (25,9% qtq) mengingat realisasi anggaran pemerintah yang sangat rendah di triwulan I 2013. Namun, pertumbuhan konsumsi pemerintah pada triwulan II 2013 ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal tersebut disebabkan oleh lebih rendahnya penyerapan anggaran belanja Pemerintah Pusat dan Daerah di tahun berjalan. Penyerapan total anggaran belanja Pemerintah Pusat hingga semester I 2013 baru mencapai 35,2% dengan belanja modal hanya terealisasi sebesar 18,1%, walaupun realisasi belanja pegawai mencapai 45,9% dan belanja barang mencapai 22,2%. Realisasi belanja Pemerintah Pusat yang sangat berpengaruh di Jakarta sebagai ibukota pemerintahan pada semester I 2013 ini jauh lebih rendah dibandingkan capaian pada semester I 2012 dimana penyerapan total anggaran belanja sebesar 40,7%. Salah satu faktor penyerapan anggaran yang lebih tinggi pada periode yang sama di 2012 adalah lebih awalnya pencairan gaji ke-13 yang dilakukan pada bulan Juni. Sedangkan di 2013, pencairan baru dilakukan pada awal triwulan III (Juli 2013). Dari sisi belanja Pemerintah Daerah juga terjadi penurunan penyerapan anggaran yang cukup signifikan dimana hingga akhir triwulan II 2013, realisasi belanja Provinsi DKI Jakarta hanya mencapai 17,6% dengan belanja modal hanya terealisasi sebesar 2,87% dari pagu APBD-P (Grafik I.4). Sebagai perbandingan, di periode yang sama di 2012, total belanja Provinsi DKI Jakarta telah mencapai 23,7%. Di tengah berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk mengakselerasi realisasi belanja, masih ditemui berbagai masalah terutama terkait dengan proses administrasi pengadaan dan masalah teknis implementasi program. Sejumlah dana anggaran yang tidak dapat diserap bahkan dikembalikan ke kas Pemerintah Daerah untuk digunakan keperluan lain di semester II 2013.

Pertumbuhan Pertumbuhan Pertumbuhan

Pertumbuhan iiiinvestasi di Jakarta pada triwulan Investasi di Jakarta pada triwulan Investasi di Jakarta pada triwulan Investasi di Jakarta pada triwulan IIIII 2013 2013 2013 2013 melambat melambat melambat melambat terutama di investasi non bangunan

terutama di investasi non bangunan terutama di investasi non bangunan

terutama di investasi non bangunan. . . . Pertumbuhan investasi tercatat sebesar 5,0% (yoy) pada triwulan laporan, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan di triwulan sebelumnya sebesar 5,9%. Perlambatan pertumbuhan investasi dipengaruhi oleh masih adanya ketidakpastian ekonomi global dan indikasi semakin melambatnya ekonomi domestik yang berdampak pada penundaan atau pembatalan rencana ekspansi bisnis dan investasi. Dinamika ekonomi domestik dengan risiko perlambatan konsumsi rumah tangga menjadi salah satu perhatian dan pertimbangan investor. Di samping itu, kenaikan suku bunga acuan, perlemahan mata uang Rupiah dan kebijakan menjelang Pemilu juga ditengarai memberikan sentimen negatif terhadap kinerja pertumbuhan investasi di triwulan laporan. Adapun

(14)

4

perlambatan pertumbuhan investasi terutama pada investasi non bangunan yang sebagian besar pada sektor industri manufaktur sejalan dengan melambatnya impor barang modal berupa mesin, peralatan serta alat angkutan (Grafik I.10). Selain itu, rencana ekspansi produksi manufaktur lebih diarahkan ke luar wilayah Jakarta mengingat harga lahan industri yang jauh lebih rendah dan infrastruktur yang lebih memadai. Sementara, investasi bangunan relatif stabil dengan masih terjaganya permintaan pada produk properti komersial dan residensial. Tingkat okupansi apartemen sewa dan kondominium masih dalam tren meningkat (Grafik I.7 dan I.8), sedangkan untuk ritel dan kantor cenderung stabil. Dari kontak liaison diperoleh informasi terkait ekspansi dan revitalisasi outlet retail untuk mendukung peningkatan penjualan di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Investasi dari su Investasi dari su Investasi dari su

Investasi dari sumber mber mber Penanaman Modal Asing (mber Penanaman Modal Asing (Penanaman Modal Asing (PMAPenanaman Modal Asing (PMAPMAPMA)))) pada triwulan pada triwulan pada triwulan pada triwulan laporan mengalami kenaikan cukup signifikan

laporan mengalami kenaikan cukup signifikan laporan mengalami kenaikan cukup signifikan

laporan mengalami kenaikan cukup signifikan sebagai dampak dari sebagai dampak dari sebagai dampak dari sebagai dampak dari ber

ber ber

berlanjutnya kebijakan stimulus di negara maju yang mendorolanjutnya kebijakan stimulus di negara maju yang mendorolanjutnya kebijakan stimulus di negara maju yang mendorolanjutnya kebijakan stimulus di negara maju yang mendorong ng ng ng ketersediaan dana investasi

ketersediaan dana investasi ketersediaan dana investasi

ketersediaan dana investasi.... Dari target total investasi sebesar Rp59,07 triliun dalam tahun 2013, realisasi investasi di Jakarta hingga akhir semester I 2013 diperkirakan baru mencapai Rp17,6 triliun atau sekitar 30% dari yang ditargetkan. Realisasi investasi PMA di triwulan II 2013 sebesar USD960.7 juta dengan jumlah proyek sebanyak 872 proyek. Sementara realisasi investasi dari sumber Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di triwulan II 2013 mencapai Rp1,3 triliun dengan jumlah proyek investasi yang sedikit lebih kecil dibandingkan jumlah proyek investasi di triwulan sebelumnya (Grafik I.5). Secara triwulanan, realisasi investasi PMDN pada triwulan II 2013 mengalami perlambatan yang lebih dalam dibandingkan dengan triwulan I 2013. Hal tersebut sejalan juga terlihat dari penurunan indeks ekspektasi kegiatan dunia usaha semenjak awal tahun 2013 yang mengindikasikan sentimen negatif dari pelaku usaha dan investor domestik pada kondisi perekonomian secara umum (Grafik V.4). Melambatnya pertumbuhan kredit investasi sejalan tren perlambatan investasi PMDN (Grafik I.6).

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.I.I.I.5555 Realisasi Investasi di Jakarta (Sumber: BKPM)

Grafik I. Grafik I.Grafik I.

Grafik I.6666 Perkembangan Kredit Investasi 0 1 1 2 2 3 3 4

I II III IV I II III IV I II III IV I II

2010 2011 2012 2013

Juta USD/Triliun Rp

Realisasi Investasi PMA Realisasi Investasi PMDN

0 5 10 15 20 25 30 35 40 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121 2 3 4 5 6 2010 2011 2012 2013 %, yoy Rp Triliun

(15)

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.7I.7I.7I.7 Tingkat Okupansi Apartemen Sewa di Jakarta (Sumber: Colliers

Indonesia)

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.8I.8I.8 Tingkat Okupansi I.8 Kondominium di Jakarta (Sumber:

Colliers Indonesia)

Kinerja Kinerja Kinerja

Kinerja pertumbuhan pertumbuhan pertumbuhan ekspor Jakarta pada triwulan Ipertumbuhan ekspor Jakarta pada triwulan Iekspor Jakarta pada triwulan Iekspor Jakarta pada triwulan IIIII 2013 2013 2013 kembali2013 kembalikembalikembali tumbuh

tumbuh tumbuh

tumbuh melambatmelambatmelambat sebesar melambat sebesar sebesar 4,7sebesar 4,74,7% (yoy)4,7% (yoy)% (yoy)% (yoy) dibandingkan pertumbuhan pada dibandingkan pertumbuhan pada dibandingkan pertumbuhan pada dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya

triwulan sebelumnya triwulan sebelumnya

triwulan sebelumnya. Perlambatan pertumbuhan ekspor Jakarta dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global, dimana pemulihan ekonomi global tidak seperti prakiraan awal. Dibandingkan dengan tiga triwulan terakhir, maka perlambatan pertumbuhan ekspor pada triwulan laporan merupakan yang terdalam. Memburuknya kondisi perekonomian negara mitra dagang di Asia diprediksi sebagai faktor utama menurunnya permintaan ekspor produk Jakarta terutama pada paruh akhir triwulan berjalan. Perlambatan ekspor produk Jakarta baik yang diekspor melalui pelabuhan di Jakarta maupun pelabuhan lainnya terutama pada produk manufaktur, yaitu kendaraan bermotor dan bagiannya, produk perikanan serta minyak nabati (CPO). Turunnya ekspor kendaraan bermotor terkait dengan penjualan kendaraan bermotor yang menurun di sebagian kawasan Asia. Hal yang sama juga dialami produsen kendaraan bermotor lainnya seperti Jepang dan China. Penurunan ekspor juga terjadi pada produk perikanan (ikan dan udang) baik untuk konsumsi langsung maupun sebagai bahan baku makanan olahan. Turunnya ekspor produk perikanan tersebut ditengarai untuk pasar tujuan China, Amerika dan Rusia, sedangkan ekspor ke negara Eropa dan Jepang masih prospektif. Adanya pengetatan standar mutu kualitas impor produk perikanan oleh beberapa negara juga diperkirakan berdampak pada penurunan ekspor. Sementara, penurunan ekspor minyak nabati, utamanya CPO yang diolah di Jakarta terkait dengan harga komoditas CPO di pasar dunia yang belum mengalami perbaikan signifikan pada triwulan laporan.

(16)

6

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.I.I.I.999 Pertumbuhan Nilai & Volume 9

Ekspor Jakarta Grafik I.Grafik I.Grafik I.Grafik I.10101010 Pertumbuhan Nilai Ekspor Komoditas Utama Jakarta

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.I.I.11I.111111 Pertumbuhan Volume Impor Barang Konsumsi Jakarta

G G G

Grafik rafik rafik I.rafik I.I.I.1111222 Pertumbuhan Volume Impor 2 Barang Modal Jakarta

Impor Jakarta pada triwulan I Impor Jakarta pada triwulan I Impor Jakarta pada triwulan I

Impor Jakarta pada triwulan IIIII 2013 mengalami perlambatan 2013 mengalami perlambatan 2013 mengalami perlambatan 2013 mengalami perlambatan pertumbuhan, walaupun secara nilai mengalami peningkatan cukup pertumbuhan, walaupun secara nilai mengalami peningkatan cukup pertumbuhan, walaupun secara nilai mengalami peningkatan cukup pertumbuhan, walaupun secara nilai mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan dengan

signifikan dibandingkan dengan signifikan dibandingkan dengan

signifikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. triwulan sebelumnya. triwulan sebelumnya. Laju pertumbuhan triwulan sebelumnya. impor melalui Jakarta tercatat sebesar 3,2% (yoy) pada triwulan laporan, lebih lambat dibandingkan pertumbuhan di triwulan sebelumnya (4,3%). Namun, impor secara triwulanan naik sebesar 3,7% (qtq) atau secara nominal berdasarkan harga berlaku naik sebesar Rp9,71 triliun. Kenaikan impor terutama terjadi untuk barang kebutuhan konsumsi dan bahan baku industri (Grafik I.11 dan Grafik I.12). Peningkatan impor untuk kedua jenis barang impor ini terkait dengan persiapan industri manufaktur dan importir dalam menghadapi peningkatan permintaan menjelang Lebaran. Meningkatnya konsumsi rumah tangga pada triwulan laporan juga memicu peningkatan barang konsumsi. Melambatnya impor barang modal terkait dengan terbatasnya pertumbuhan investasi dan masih memadainya kapasitas utilisasi produksi industri manufaktur. Berdasarkan dari jenis golongan barang, peningkatan impor terjadi di komoditas bahan pangan, komponen kendaraan bermotor dan peralatan listrik. Di sisi lain, kendaraan dan bagiannya, besi dan baja serta bahan kimia organik mengalami penurunan. Secara agregat, Jakarta mengalami defisit perdagangan yang lebih besar di triwulan II 2013 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Defisit perdagangan di triwulan

-40% -20% 0% 20% 40% 60% 80% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 2011 2012 2013

gNilai Ekspor gVolume Ekspor (CMA)

(60) (40) (20) 0 20 40 60 80 100 120 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 2010 2011 2012 2013 % yoy (CMA)

Alat Angkutan Tekstil Peralatan Listrik

-60% -40% -20% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 2010 2011 2012 2013 yoy, CMA

gTotal Volume Impor gVol Impor Barang Konsumsi

-40% -20% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 2010 2011 2012 2013 yoy, CMA

(17)

laporan mencapai sekitar Rp15,2 triliun (berdasarkan harga berlaku) atau sekitar dua kali lebih besar dibandingkan triwulan I 2013.

B. B. B.

B. Dinamika Sektor Ekonomi Utama JakartDinamika Sektor Ekonomi Utama JakartDinamika Sektor Ekonomi Utama JakartDinamika Sektor Ekonomi Utama Jakartaaaa Di

Di Di

Dinamika pertumbuhannamika pertumbuhannamika pertumbuhan sisi sektoralnamika pertumbuhan sisi sektoralsisi sektoralsisi sektoral dari perekonomian Jakarta dari perekonomian Jakarta dari perekonomian Jakarta pada dari perekonomian Jakarta pada pada pada triwulan II 2013

triwulan II 2013 triwulan II 2013

triwulan II 2013 ditopang oleh kinerja sektor ditopang oleh kinerja sektor ditopang oleh kinerja sektor perdagangan, hotel dan ditopang oleh kinerja sektor perdagangan, hotel dan perdagangan, hotel dan perdagangan, hotel dan restoran (PHR), sektor

restoran (PHR), sektor restoran (PHR), sektor

restoran (PHR), sektor pengangkutan dan komunikasi. pengangkutan dan komunikasi. pengangkutan dan komunikasi. pengangkutan dan komunikasi. Adanya peningkatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga ditengah melambatnya perekonomian domestik menjadi faktor utama stabilnya kinerja kedua sektor tersebut pada triwulan laporan. Pertumbuhan di ketiga sektor tersebut juga dipengaruhi olehnya terjaganya tingkat penghasilan konsumen khususnya kelas menengah atas yang tetap melakukan pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder walaupun dalam level yang diperkirakan terbatas. Pada triwulan II 2013, sektor PHR memberikan kontribusi terbesar kepada perekonomian Jakarta yaitu sebesar 1,6%. Sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi terbesar kedua bersama dengan sektor jasa keuangan, persewaan dan real estate masing-masing sebesar 1.5%. Selanjutnya, kontribusi sektor jasa lainnya terhadap pertumbuhan ekonomi Jakarta tercatat sebesar 0,9%. Secara keseluruhan, sektor-sektor ekonomi di Jakarta tumbuh positif kecuali sektor pertambangan yang kembali mengalami kontraksi di triwulan II 2013. Meskipun demikian, pada triwulan laporan tidak terdapat sektor yang tumbuh lebih tinggi (yoy) dibandingkan dengan triwulan I 2013. Adapun sektor yang tumbuh melambat adalah sektor primer (pertanian dan pertambangan), sektor industi, listrik, gas dan air bersih, konstruksi dan jasa baik jasa keuangan, persewaan, real estate dan jasa lainnya. Pelambatan di sektor industri sejalan dengan adanya penurunan ekspor produk manufaktur. Sektor konstruksi tumbuh sedikit melambat terutama terkait dengan terbatasnya realisasi proyek infrastruktur Pemerintah. Adapun perlambatan di sektor jasa sejalan dengan perlemahan kinerja perekonomian dan investasi yang menyebabkan turunnya permintaan akan jasa.

Sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) tumbuh stabil sebesar Sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) tumbuh stabil sebesar Sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) tumbuh stabil sebesar Sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) tumbuh stabil sebesar 7,2% (yoy) pada triwulan II 2013

7,2% (yoy) pada triwulan II 2013 7,2% (yoy) pada triwulan II 2013

7,2% (yoy) pada triwulan II 2013.... Stabilnya pertumbuhan sektor PHR didukung oleh permintaan domestik yang masih cukup kuat. Selain itu pada triwulan laporan terdapat beberapa kegiatan promosi penjualan yang berkontribusi pada peningkatan penjualan, utamanya adalah Jakarta Fair dan Jakarta Great Sale. Pengunjung Jakarta Fair 2013 mencapai lebih dari 4,5 juta orang dengan total nilai penjualan sekitar Rp4,5 triliun. Total nilai penjualan tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian baik di 2012 maupun 2011 dan

(18)

8

melampaui target untuk 2013. Penjualan terbesar pada Jakarta Fair 2013 tetap berasal dari penjualan produk otomotif. Sementara, Jakarta Great Sale 2013 yang berlangsung selama lebih kurang 1,5 bulan dalam rangka perayaan hari ulang tahun Kota Jakarta juga melampaui target penjualan sebesar Rp11,8 triliun, lebih tinggi dibandingkan nilai penjualan di 2012 sebesar Rp10,7 triliun. Dalam rangka perayaan HUT kota Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengadakan Pekan Raya/Rakyat Jakarta (PRJ) dan Pekan Produk Kreatif 2013 dengan orientasi pada Usaha Kecil Menengah (UKM). UKM memegang peranan cukup penting pada kinerja subsektor perdagangan Jakarta dimana dukungan pembiayaan kredit menjadi faktor dominan. Penyaluran kredit modal kerja dan UKM di Jakarta masih dalam tren meningkat pada triwulan laporan (Grafik III.3 dan III.4). Meskipun terdapat berbagai indikator kinerja perdagangan yang positif, ditengarai perdagangan domestik antara Jakarta dengan kawasan lainnya tumbuh dalam level terbatas sebagai pengaruh dari perlambatan konsumsi. Hal ini terlihat dari data bongkar muat barang di Pelabuhan Tanjung Priok (Grafik I.13) serta hasil liaison dengan perusahaan produk makanan jadi dan consumer goods. Melambatnya perekonomian domestik juga mempengaruhi penjualan kendaraan bermotor khususnya motor (Grafik I.16), meskipun terlihat adanya peningkatan penjualan mobil menjelang Lebaran. Kontak liaison salah satu distributor kendaraan bermotor terbesar telah menurunkan target penjualan di 2013 mengamati perkembangan terakhir dimana terjadi kenaikan harga BBM bersubsidi dan inflasi yang menekan daya beli dan berpotensi menaikkan suku bunga pinjaman. Hingga Mei 2013, target penjualan kendaraan bermotor baru mencapai sekitar 34%. Indeks Penjualan Eceran di Jakarta juga menunjukkan pola yang sama, dimana penjualan eceran tumbuh terbatas pada triwulan laporan (Grafik I.15). Perkembangan pariwisata di Jakarta pada triwulan II 2013 menunjukkan adanya lonjakan yang signifikan dari pertumbuhan jumlah pengunjung melalui Bandara Soekarno Hatta pada masa libur sekolah. Sementara, tingkat okupansi hotel berbintang di Jakarta relatif stabil dengan kenaikan tingkat okupansi pada hotel kelas atas lebih tinggi dibandingkan hotel kelas menengah (Grafik I.17). Peningkatan jumlah pengunjung ke Jakarta juga diimbangi oleh penambahan jumlah kamar hotel yang mana sepanjang 2013 akan ada tembahan sekitar 2000 unit kamar hotel di Jakarta dalam berbagai kategori.

(19)

Grafik

Grafik Grafik

Grafik I.1I.1I.13I.1333 Bongkar dan Muat Melalui Pelabuhan Tg. Priok

Grafik I.1 Grafik I.1 Grafik I.1

Grafik I.15555 Penjualan Eceran berdasarkan Komponen Produk

Grafik I.1 Grafik I.1 Grafik I.1

Grafik I.1444 Konsumsi Listrik 4

Grafik I.1

Grafik I.1 Grafik I.1

Grafik I.1666 Penjualan Kendaraan 6 Bermotor

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.1I.1I.17I.177 Tingkat Hunian Hotel dan 7 Pertumbuhan Kunjungan Wisatawan

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.1I.1I.1I.18888 Perkembangan Jumlah Penumpang KA Jabodetabek dan

TransJakarta

Sektor pengangkutan dan komunikasi Jakarta tumbuh Sektor pengangkutan dan komunikasi Jakarta tumbuh Sektor pengangkutan dan komunikasi Jakarta tumbuh

Sektor pengangkutan dan komunikasi Jakarta tumbuh sebesar 11,4% sebesar 11,4% sebesar 11,4% sebesar 11,4% (yoy)

(yoy) (yoy)

(yoy) padapadapadapada triwulan Itriwulan Itriwulan IIIII 2013.triwulan I 2013.2013.2013. Pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi pada triwulan laporan yang stabil dibandingkan dengan realisasi pada triwulan sebelumnya sejalan dengan kinerja sektor PHR. Di sisi subsektor pengangkutan terlihat dari peningkatan jumlah penumpang transportasi publik baik dengan moda busway TransJakarta maupun KRL komuter Jabodetabek (Grafik I.18). Mengikuti tren pertumbuhan pengguna transportasi publik yang sangat tinggi semenjak triwulan I 2013, ditengarai kebijakan pengendalian subsidi BBM dengan menaikkan harga memberikan pengaruh positif pada perkembangan subsektor pengangkutan. Dengan kondisi kemacetan di Jakarta yang tinggi dan harga BBM bersubsidi yang naik

(30) (20) (10) 0 10 20 30 40 50 60 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 2010 2011 2012 2013 %,yoy CMA g.Bongkar g.Muat -10% -5% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 0 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 3,000,000 3,500,000 4,000,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2010 2011 2012 2012 MwH

Konsumsi Listrik gKonsumsi Listrik

-60% -40% -20% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121 2 3 4 5 6 7 8 9 1011121 2 3 4 5 6 2010 2011 2012 2013 Unit

Penjualan Kendaraan Bermotor gPenjualan Mobil (rhs, yoy) gPenjualan Motor (rhs, yoy)

0 10 20 30 40 50 60 70 (30) (20) (10) 0 10 20 30 40 50 60 70 80 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 2010 2011 2012 2013 %

Tingkat Okupansi Hotel Berbintang (rhs) gPengunjung melalui Bandara Soekarno-Hatta

(10.00) (5.00) 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 0 2 4 6 8 10 12 14 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 2010 2011 2012 2013 Juta

Penumpang KRL Komuter Penumpang TransJakarta gPengguna Tarnsportasi Publik

(20)

10

hingga 44%, maka transportasi umum menjadi opsi mobilitas yang semakin dipilih masyarakat Jakarta. Indikator proksi lain terkait dengan perkembangan subsektor pengangkutan adalah jumlah kedatangan di Bandara Soekarno Hatta yang mengalami peningkatan saat musim libur sekolah. Namun, angkutan barang diperkirakan tumbuh terbatas merujuk pada data bongkar dan muat barang melalui Pelabuhan Tanjung Priok (Grafik I.13). Sementara itu, pertumbuhan subsektor komunikasi pada pertumbuhan di triwulan laporan cenderung stabil didukung oleh jasa layanan data internet. Meskpun demikian, informasi liaison mengindikasikan adanya stagnasi pada jasa layanan telekomunikasi terkait dengan lambatnya penggunaan telpon seluler berbasis teknologi 3G. Padahal perusahaan telekomunikasi telah merealisasikan komitmen investasi pada sistem jaringan berbasis 3G. Pertumbuhan yang lebih prospektif di subsektor komunikasi khususnya terjadi pada jasa infrastruktur telekomunikasi, seperti penyediaan menara yang tumbuh diatas 50% pada semester I/2013. Berdasarkan informasi dari kontak liaison, kompetisi yang kuat terkait dengan kondisi pangsa pasar pengguna telekomunikasi yang semakin luas dan matang mengharuskan perusahaan operator telpon seluler untuk terus berekspansi memperluas jangkauan layanannya untuk mempertahankan jumlah pelanggan.

Sektor jasa Sektor jasa Sektor jasa

Sektor jasa mengalami perlambatan pada triwulan II 2013 seiring dengan mengalami perlambatan pada triwulan II 2013 seiring dengan mengalami perlambatan pada triwulan II 2013 seiring dengan mengalami perlambatan pada triwulan II 2013 seiring dengan perlambatan ekonomi Jasa.

perlambatan ekonomi Jasa. perlambatan ekonomi Jasa.

perlambatan ekonomi Jasa. Sektor jasa keuangan, real estate (persewaan) dan jasa perusahaan tumbuh sebesar 5,4% (yoy) pada triwulan II 2013, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada triwulan I 2013 sebesar 5,7% (yoy). Namun, apabila dibandingkan dengan periode yang sama di 2012 maka pertumbuhan pada triwulan laporan sedikit lebih tinggi. Sedangkan pertumbuhan sektor jasa-jasa lainnya di luar jasa keuangan, real estate, dan jasa perusahaan 0,1% (yoy) lebih lambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Kontraksi pertumbuhan subsektor jasa keuangan terutama terkait oleh penurunan kinerja perbankan dan lembaga keuangan non perbankan yang terindikasi dai pertumbuhan penyaluran kredit (Grafik I.19 & I.20). Aktivitas perekonomian yang melambat membuat pelaku usaha maupun konsumen membatasi penggunaan kredit dan lebih menggantungkan pada modal sendiri untuk modal kerja serta investasi dalam level yang terbatas. Secara spesifik, pertumbuhan kredit di sektor PHR turun cukup signifikan. Pembiayaan kredit melalui lembaga keuangan non perbankan juga dalam tren menurun terutama sebagai pengaruh melambatnya kredit kendaraan bermotor. Kontak liaison mengkonfirmasi kinerja pembiayaan yang lebih rendah di 2013 dan terkait dengan hal tersebut, berbagai langkah efisiensi ditempuh termasuk pembatasan tenaga kerja. Meskipun demikian, secara nominal penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek di Jakarta masih mengalami peningkatan, demikian pula dengan Rasio Loan to Deposit Ratio

(21)

(LDR). Di sisi jumlah transaksi keuangan di Jakarta juga terlihat adanya peningkatan sesuai dengan siklus musiman masa libur sekolah. Sementara, subsektor jasa real estate (persewaan) dan jasa perusahaan ditengarai tumbuh dalam level terbatas pada triwulan laporan terkait dengan perlambatan konsumsi rumah tangga dan pemerintah serta investasi. Kontak liaison perusahaan outsourcing tenaga kerja di Jakarta mengindikasikan tren penurunan management fee sebagai akibat dari dari semakin tingginya kompetisi dan jumlah tenaga kerja yang menurun. Selain itu, juga terdapat tantangan dalam aktivitas usaha jasa outsourcing yang merupakan salah satu dari jasa perusahaan cukup dominan di Jakarta. Implementasi dari Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Permenakertrans) No. 19/2012 yang membatasi pekerjaan outsourcing dirasakan sebagai salah satu penyebab menurunnya jumlah tenaga kerja yang direkrut akibat dari pemutusan kontrak kerjasama.

Terkait dengan Terkait dengan Terkait dengan

Terkait dengan kinerja pasar modalkinerja pasar modalkinerja pasar modalkinerja pasar modal yang juga turut memengaruhi yang juga turut memengaruhi yang juga turut memengaruhi yang juga turut memengaruhi pertumbuhan sektor jasa keuangan di Jakarta, terlihat pula adanya pertumbuhan sektor jasa keuangan di Jakarta, terlihat pula adanya pertumbuhan sektor jasa keuangan di Jakarta, terlihat pula adanya pertumbuhan sektor jasa keuangan di Jakarta, terlihat pula adanya penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada triwulan laporanpada triwulan laporanpada triwulan laporanpada triwulan laporan.... Tekanan di pasar modal pada triwulan II 2013 bersumber dari arus keluar modal asing (capital outflow) yang dipicu sentimen terkait rencana pengurangan stimulus moneter Bank Sentral Amerika Serikat. Selain perlemahan ekspor dan nilai tukar Rupiah, arus keluar modal asing juga turut menyumbang melebarnya defisit neraca perdagangan. Penyesuaian kepemilikan non-residen di aset keuangan domestik mendorong penurunan IHSG dan peningkatan volatilitas indeks yang cukup signifikan.1 Indeks emiten di bidang keuangan, properti dan perdagangan yang secara umum masih kuat juga mengalami kontraksi cukup dalam (Grafik I.22). Meskipun demikian, aliran dana ke pasar modal melalui Initial Public Offering (IPO) masih mampu mencatatkan peingkatan pada triwulan II 2013. Jumlah IPO di triwulan II 2013 sebesar Rp7,97 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar Rp2,15 triliun. Dari sisi domestik, penurunan IHSG tidak direspons dengan melepas saham, namun sebaliknya investor domestik melakukan aksi beli selektif. Hal tersebut tercermin dari peningkatan baik frekuensi maupun nilai saham yang diperdagangkan (Grafik I.21) yang turut mendukung kinerja industri jasa keuangan Jakarta.

1IHSG mencapai level 5.176,23 pada 20 Mei 2013 yang merupakan rekor tertingginya. Pada

(22)

12

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.I.I.I.1111999 Pertumbuhan Kredit Sektor 9 Utama Jakarta

Gr GrGr

Grafik afik afik afik I.I.I.I.202020 Kinerja Lembaga Non 20 Perbankan

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.I.I.I.21212121 Nilai & Frekuensi Pedagangan Saham

Gr GrGr

Grafik afik afik afik I.I.I.I.222222 IHSG & Indeks Emiten Sektor 22 Utama Jakarta

S

SS

Seeeektor konstruksi ktor konstruksi ktor konstruksi ktor konstruksi di Jakarta di Jakarta di Jakarta di Jakarta mengalami perlambatan mengalami perlambatan mengalami perlambatan pada triwulan Imengalami perlambatan pada triwulan Ipada triwulan Ipada triwulan IIIII 2013.

2013. 2013.

2013. Sektor konstruksi tumbuh sebesar 6,3% (yoy) pada triwulan laporan atau 0,2% lebih lambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan sektor konstruksi terlihat dari stagnannya konsumsi semen dan penjualan bahan bangunan (Grafik I.23 dan Grafik I.24). Belum dimulainya berbagai proyek pembangunan prasarana maupun sarana fisik di Jakarta yang didanai anggaran belanja pemerintah ditengarai merupakan faktor utama melambatnya kinerja sektor konstruksi. Meskipun anggaran proyek konstruksi pemerintah meningkat signifikan di 2013, namun masih terdapat proyek multiyear yang tertahan proses perijinan dengan instansi terkait. Informasi tersebut didapatkan dari hasil liaison ke Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesi (Gapensi) pada awal Mei 2013. Selain itu juga didapatkan informasi terkait dengan risiko menipisnya margin keuntungan perusahaan konstruksi sebagai dampak dari kenaikan biaya buruh (UMP), material dan transport akibat dari kenaikan harga BBM. Namun hingga saat ini, kinerja emiten perusahaan konstruksi masih sangat baik terutama perusahaan konstruksi BUMN yang mengalami peningkatan profitabilitas cukup sigifikan di semester I 2013. Hal tersebut merupakan pengaruh dari masih berlangsungnya proyek konstruksi infrastruktur yang sifatnya multiyear. Sementara itu, pembangunan konstruksi properti komersial maupun residensial di Jakarta masih cukup tinggi pada triwulan II 2013. Hal ini terkait dengan masih

(20.0) (10.0) 0.0 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9101112 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 2010 2011 2012 2013

gTotal Kredit gKredit Konstruksi gKredit PHR gKredit Jasa Dunia Usaha

-20 0 20 40 60 80 100 0 5 10 15 20 25 30 35 40 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 2009 2010 2011 2012 2013 %, yoy %, yoy

g.Pembiayaan Konsumen g.Leasing riil (rhs)

-100 -50 0 50 100 150 200 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2010 2011 2012 2013

%, yoy gFrekuensi Saham Diperdagangkan

gNilai Saham Diperdagangkan

-20% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 2010 2011 2012

gIHSG gIndeks Emiten Keuangan

(23)

tingginya permintaan akan properti komersial terutama hunian (apartemen dan kondominium) serta suku bunga kredit properti yang relatif rendah. Merujuk pada rilis konsultan real estate Cushman & Wakefield, sekitar 431,550 meter persegi ruang kantor sedang dalam tahap konstruksi dengan target penyelesaian di tahun 2013. Sedangkan untuk ruang ritel sekitar 268,400 meter persegi dalam tahap konstruksi saat ini yang juga direncanakan akan selesai di 2013.

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.I.I.I.232323 Konsumsi Semen di Jakarta 23 Grafik I.Grafik Grafik Grafik I.I.24I.242424 Penjualan Bahan Bangunan di Jakarta

Grafik Grafik Grafik

Grafik I.I.I.I.252525 Produksi Kendaraan Bermotor 25 & Indeks Produksi Industri

G

G G

Grafik rafik rafik rafik I.I.I.26I.262626 Pertumbuhan Produksi Manufaktur Jakarta

Sektor industri Sektor industri Sektor industri

Sektor industri mengalami mengalami mengalami mengalami perlambatan perlambatan perlambatan pertumbuhan perlambatan pertumbuhan pertumbuhan pertumbuhan sebesar sebesar sebesar sebesar 1,1,41,1,444% (% (% (% (yoyyoyyoyyoy) ) ) ) pada

pada pada

pada triwulan Itriwulan Itriwulan Itriwulan IIIII 2013. 2013. 2013. Sejalan dengan melambatnya ekspor, pertumbuhan 2013. sektor industri di triwulan laporan mengalami perlambatan secara tahunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 1,9% (yoy). Meskipun demikian, secara triwulanan (qtq) laju pertumbuhan sektor industri mengalami perbaikan signifikan. Pertumbuhan sektor industri pada triwulan laporan kembali ke level positif sebesar 2,5% (qtq). Hal tersebut didukung oleh produksi manufaktur Jakarta yang menunjukkan adanya peningkatan pada triwulan laporan yang ditengarai sebagai persiapan stok menjelang meningkatnya permintaan pada masa puasa dan Lebaran. Peningkatan produksi industri manufaktur besar dan sedang terpantau mengalami peningkatan sebesar 2,16% (qtq) atau 4,84% (yoy). Dibandingkan dengan pertumbuhan Indeks Produksi Industri (IPI) nasional, maka kinerja produksi

-40 -20 0 20 40 60 80 100 0 100 200 300 400 500 600 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 2010 2011 2012 2013 %

Konsumsi Semen (ribu ton) g.Konsumsi Semen (rhs) 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 2010 2011 2012 2013

Pasir Bahan Konstruksi Logam Bahan Konstruksi Kayu

-15 0 15 30 45 60 75 90 0 20 40 60 80 100 120 140 1 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 7 8 91011121 2 3 4 5 6 2010 2011 2012 2013 %, yoy Indeks

Indeks Produksi Industri gPertumbuhan Produksi Kendaraan Bermotor -4% -2% 0% 2% 4% 6% 8% 10%

I II III IV I II III IV I II III IV I II

2010 2011 2012 2013

gIPI (Nasional, yoy) gProduksi Manufaktur (qtq) gProduksi Manufaktur (yoy)

(24)

14

industri manufaktur di Jakarta jauh lebih baik (Grafik I.26). Adapun jenis industri manufaktur besar dan sedang yang mengalami kenaikan produksi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (qtq) adalah industri kendaraan bermotor, pakaian jadi (garmen) dan peralatan listrik. Secara tahunan dibandingkan dengan periode yang sama, maka peningkatan tertinggi terjadi di industri kendaraan bermotor, percetakan dan media rekaman serta bahan kimia (Tabel I.1). Kontak liaison perusahaan produsen spare part kendaraan bermotor mengkonfirmasi kapasitas utilisasi yang relatif masih rendah terkait dengan investasi automatisasi mesin beberapa tahun terakhir, sehingga peningkatan produksi masih dimungkinkan. Sementara, dari hasil liaison ke perusahaan bahan kimia dasar yang menjadi bahan baku berbagai industri hilir, didapatkan informasi penjualan yang masih cukup baik walaupun pertumbuhan relatif menurun dibandingkan tahun 2012. Kenaikan harga jual yang terutama disebabkan oleh kenaikan UMP dan TTL menyebabkan penurunan penjualan, dimana sebagian konsumen produk industri hilir berpindah ke produk lain yang lebih murah atau mengurangi stok. Terkait dengan peningkatan produksi di industri percetakan dan media rekaman, di tengarai telah ada belanja kampanye Pemilu 2014 pada triwulan laporan, walaupun dalam level terbatas.

Di tengah Di tengah Di tengah

Di tengah masih terbatasnyamasih terbatasnyamasih terbatasnyamasih terbatasnya kinerja sektor industri, kinerja sektor industri, kinerja sektor industri, kinerja sektor industri, iiiindustri ndustri ndustri mikrondustri mikromikromikro dan dan dan dan kecil

kecil kecil

kecil di Jakarta di Jakarta di Jakarta di Jakarta mengalami peningkatan produksi pada triwulan II 2013mengalami peningkatan produksi pada triwulan II 2013mengalami peningkatan produksi pada triwulan II 2013mengalami peningkatan produksi pada triwulan II 2013. Peningkatan produksi industri mikro dan kecil sebesar 9,67% (qtq) atau 21,23% (yoy). Adapun jenis industri yang mengalami pertumbuhan adalah industri makanan dan minuman, pakaian jadi, kulit dan alas kaki serta percetakan dan media rekaman (Tabel I.2). Pertumbuhan yang lebih tinggi dari industri mikro kecil didukung oleh faktor pembiayaan yang salah satunya melalui penyaluran kredit modal kerja dan UMKM di Jakarta (Grafik III.3 dan III.4). Peningkatan produksi makanan terutama makanan jadi, pakaian jadi (garmen) dan produk barang kulit dan alas kaki pada triwulan laporan diyakini untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi masyarakat terkait dengan persiapan masa puasa dan Lebaran.

(25)

Tabel I.1 Tabel I.1 Tabel I.1

Tabel I.1 Pertumbuhan Produksi Industri Manufaktur Besar dan Sedang

Sumber : BPS DKI Jakarta

Tabel I.

Tabel I. Tabel I.

Tabel I.2222 Pertumbuhan Produksi Industri Mikro dan Kecil

Sumber : BPS DKI Jakarta

Tw I Tw II Tw I Tw II Industri Makanan -3.47 1.90 -3.88 4.26 Industri Tekstil 0.62 -3.73 5.49 4.81 Industri Garmen -7.25 4.50 -2.10 -4.08

Industri Pencetakan & Media Rekaman 3.17 2.20 16.29 7.13

Industri Bahan Kimia -0.37 2.73 6.77 4.90

Industri Logam Dasar -2.77 -3.56 -12.28 -9.62

Industri Barang Logam (Non Mesin & Peralatan) -1.12 2.99 2.72 1.04

Industri Peralatan Listrik -5.77 3.62 0.49 2.06

Industri Mesin & Perlengkapan -5.96 -2.61 -13.41 -10.45

Industri Kendaraan Bermotor 3.00 4.75 7.06 9.41

Pertumbuhan qtq Pertumbuhan yoy

Jenis Industri Manufaktur

qtq yoy

Industri Makanan 12.09 30.66

Industri Minuman 7.98 24.16

Industri Garmen 8.83 19.05

Industri Kulit dan Alas Kaki 4.28 15.37 Industri Percetakan & Media Rekaman 5.62 7.49

Industri Bahan Kimia -0.57 2.75

Industri Karet & Plastik -3.51 4.96 Industri Komputer & Barang Elektronik -4.14 24.87 Industri Peralatan Listrik -5.04 4.55 Industri Mesin & Perlengkapannya -2.74 1.44

Industri Furnitur 2.03 5.65

Jasa Reparasi & Pemasangan Mesin/Peralatan -4.28 6.17

(26)

16 BAB II BAB II BAB II BAB II INFLASI INFLASI INFLASI INFLASI

Inflasi Jakarta pada akhir triwulan II 2013 tercatat sebesar 5,67% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan periode akhir triwulan sebelumnya yang mencapai 5,70% (yoy). Sedikit lebih rendahnya inflasi dipengaruhi oleh terjadinya koreksi harga beberapa komoditas pangan setelah sempat melambung tinggi pada triwulan pertama 2013. Namun, bergulirnya rencana kenaikan BBM bersubsidi selama triwulan laporan menahan penurunan inflasi lebih lanjut. Ditetapkannya kenaikan harga BBM bersubsidi pada akhir Juni 2013 diperkirakan mulai memberikan dampak signfikan pada awal triwulan mendatang. Di samping itu, perkembangan harga beberapa komoditas pangan strategis di pasar utama Jakarta yang mulai kembali meningkat di penghujung triwulan laporan perlu dicermati lebih lanjut.

Tekanan inflasi Jakarta yang Tekanan inflasi Jakarta yang Tekanan inflasi Jakarta yang

Tekanan inflasi Jakarta yang tercatat tercatat tercatat sedikit lebih rendah pada akhir tercatat sedikit lebih rendah pada akhir sedikit lebih rendah pada akhir sedikit lebih rendah pada akhir triwulan laporan terutama disebabkan oleh koreksi harga beberapa triwulan laporan terutama disebabkan oleh koreksi harga beberapa triwulan laporan terutama disebabkan oleh koreksi harga beberapa triwulan laporan terutama disebabkan oleh koreksi harga beberapa komoditas hortikultura

komoditas hortikultura komoditas hortikultura

komoditas hortikultura. Penurunan harga terjadi pada beberapa komoditas pangan seperti bawang putih, bawang merah, dan tomat sayur selama triwulan laporan setelah sempat mengalami lonjakan kenaikan harga yang signfikan pada triwulan sebelumnya. Kebijakan Pemerintah untuk merelaksasi pengaturan importasi hortikultura yang ditempuh oleh Pemerintah berdampak pada membaiknya pasokan di pasar domestik. Meski demikian, secara keseluruhan inflasi kelompok komoditas yang termasuk dalam volatile foods masih berada pada level yang yang cukup tinggi (Grafik II.1).

Grafik II.1 Grafik II.1Grafik II.1

Grafik II.1. Disagregasi Inflasi Jakarta Grafik II.1Grafik II.1. Inflasi Jakarta berdasarkan Grafik II.1Grafik II.1 Subkelompok

Membaiknya pasokan beberapa komoditas pangan di Jakarta disertai Membaiknya pasokan beberapa komoditas pangan di Jakarta disertai Membaiknya pasokan beberapa komoditas pangan di Jakarta disertai Membaiknya pasokan beberapa komoditas pangan di Jakarta disertai penurunan harga yang cukup besar.

penurunan harga yang cukup besar. penurunan harga yang cukup besar.

penurunan harga yang cukup besar. Hal ini antara lain terlihat dari data pasokan komoditas bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati yang kembali meningkat sejak awal triwulan laporan dan diikuti penurunan harga jual baik di tingkat eceran maupun grosir. Meski demikian, penurunan harga bawang merah yang terjadi belum mampu membawa tingkat harga kembali ke rata-rata selama 2011-2012. (Grafik II.2). Sementara itu, harga beras di Pasar

0% 1% 2% 3% 4% 5% 6% 7% 8% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2011 2012 2013

(27)

Induk Beras Cipinang relatif masih stabil didukung panen raya yang berlangsung di sejumlah daerah sentra pemasok utama beras. (Grafik II.3). Tekanan kenaikan harga masih terlihat pada komoditas cabai dan daging sapi (Grafik II.4 dan Grafik II.5). Terbatasnya pasokan komoditas cabai dipengaruhi oleh terjadinya gagal panen di sejumlah daerah sentra karena faktor cuaca, sedangkan tingginya harga daging sapi terkait dengan permasalah kuota impor yang masih belum teratasi pada akhir triwulan laporan.

Sumber: Tim Ketahanan Pangan Pemprov DKI Jakarta Sumber: Tim Ketahanan Pangan Pemprov DKI Jakarta

Grafik II.2. Grafik II.2.Grafik II.2.

Grafik II.2. Pasokan dan Harga Bawang Merah di Pasar Induk Kramat Jati

Grafik II.3 Grafik II.3 Grafik II.3

Grafik II.3. Pasokan dan Harga Beras Di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC)

Grafik II. Grafik II. Grafik II.

Grafik II.4444.... Pasokan dan Harga Cabai di Pasar Kramat Induk Kramat Jati

Grafik II. Grafik II.Grafik II.

Grafik II.5555. Harga Daging Ayam, Telur Ayam, dan Daging Sapi di Jakarta Namun, bergulirnya rencana kenaikan harga BBM bersubsidi sepanjang Namun, bergulirnya rencana kenaikan harga BBM bersubsidi sepanjang Namun, bergulirnya rencana kenaikan harga BBM bersubsidi sepanjang Namun, bergulirnya rencana kenaikan harga BBM bersubsidi sepanjang triwulan laporan menyebabkan tertahannya penurunan laju inflasi lebih triwulan laporan menyebabkan tertahannya penurunan laju inflasi lebih triwulan laporan menyebabkan tertahannya penurunan laju inflasi lebih triwulan laporan menyebabkan tertahannya penurunan laju inflasi lebih lanjut.

lanjut. lanjut.

lanjut. Ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan inflasi mengalami peningkatan sebagaimana terindikasi pada hasil survei konsumen sehingga diperkirakan turut memicu kenaikan tekanan inflasi. Keputusan kenaiakan harga BBM bersubsidi pada akhir Juni 2013 pada akhirnya mendorong kenaikan harga-harga umum lebih lanjut. Sementara itu, tren penurunan harga emas global menyebabkan deflasi emas masih terjadi meskipun tidak sedalam koreksi yang terjadi pada periode sebelumnya. Berlanjutnya penurunan harga emas terkait dengan dinamika ekonomi global yang masih dibayangi tingginya ketidakpastian.

200 300 400 500 600 700 800 900 1.000 1.100 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 13131352424241313135242424242413131352424241313524242413131352424 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2011 2012 2013 Rp/kg

Pasokan Bawang Merah, Rhs Harga Bawang Merah Grosir Harga Bawang Merah Eceran

Ton/Mgu 2.000 5.000 8.000 11.000 14.000 17.000 20.000 23.000 6.000 6.500 7.000 7.500 8.000 8.500 9.000 9.500 10.000 1313135242 424131313524242424241313135242424131352424 2413131352424 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2011 2012 2013

Pasokan Beras PIBC (rhs) Harga Beras Grosir Harga Beras Eceran

Ton/Mgu Rp/Kg 200 400 600 800 1.000 1.200 1.400 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 13131352424241313135242424242413131352424241313524242413131352424 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2011 2012 2013

Rp/kg Pasokan Cabe Merah TW (rhs)

Harga Cabe Tw Grosir Harga Cabe Tw Eceran

Ton/Mgu 62.000 67.000 72.000 77.000 82.000 87.000 92.000 97.000 102.000 107.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 13131352424241313135242424242413131352424241313524242413131352424 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 2011 2012 2013 Rp/Kg Rp/Kg Daging Ayam Telur Ayam Daging Sapi (rhs)

(28)

18

Sumber: BPS dan Bloomberg (diolah) Sumber: BPS dan Survei Konsumen BI

Grafik II. Grafik II. Grafik II.

Grafik II.666.... Inflasi Emas Global dan 6 Inflasi Emas Perhiasan di Jakarta

Grafik II. Grafik II.Grafik II.

Grafik II.7777. Ekspektasi Inflasi Masyarakat Jakarta 0 1 2 3 4 5 6 7 0 50 100 150 200 250 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112 1 2 3 4 5 6 2011 2012 2013 % yoy Indeks

(29)

BOKS BOKS BOKS BOKS 1111 Kenaikan Harga Kenaikan Harga Kenaikan Harga

Kenaikan Harga PropertiPropertiPropertiProperti

Inflasi subkelompok biaya tempat tinggal Jakarta mengalami kenaikan yang cukup signifikan sejak akhir tahun 2012. Pada triwulan II 2013, inflasi biaya tempat tinggal Jakarta mencapai 5,45% (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai 2,30% (yoy). Kenaikan inflasi biaya tempat tinggal ini diperkirakan dipengaruhi oleh kenaikan harga properti yang meningkat cukup signifikan sepanjang paruh pertama 2013.

Grafik Grafik Grafik

Grafik 111.1 1.1 .1 Inflasi Biaya Tempat Tinggal Jakarta .1

Selain karena tingginya permintaan masyarakat akan properti, baik untuk kebutuhan tempat tinggal maupun untuk ruang usaha, laju pasokan properti yang belum dapat mengimbangi permintaan juga diperkirakan mempengaruhi kenaikan harga properti di Jakarta. Berdasarkan hasil survei lembaga riset properti internasional di Jakarta, harga sewa properti (asking base rental rates) baik untuk perkantoran, retail, dan industri serta harga jual apartemen terus mengalami peningkatan harga yang cukup signifikan. Kenaikan harga properti ini diperkirakan akan terus berlanjut mengingat sebagian besar properti yang tengah dibangun saat ini telah mendapatkan komitmen pembelian di awal. Sebagai contoh, berdasarkan data lembaga riset properti internasional di Jakarta, dari total 313.500 meter persegi pembangunan lahan untuk retail yang akan diselesaikan pada tahun 2013, sekitar 82% telah terjual melalui transaksi pembelian di muka.

(30)

20

Grafik Grafik Grafik

Grafik 1111....222 Excess Demand Sewa Properti Komersial Jabodetabek 2

Sumber : Survei Perkembangan Properti Residensial, Bank Indonesia

Keterangan: negatif berarti tambahan pasokan lebih rendah dari tambahan permintaan

Dari sisi properti residensial, peningkatan harga rumah untuk tempat tinggal di Jakarta terutama terjadi pada rumah tinggal berukuran kecil (tipe 27-45 m²). Berdasarkan hasil survei properti residensial yang dilakukan oleh Bank Indonesia, kenaikan harga rumah tinggal berukuran kecil pada triwulan II 2013 tercatat mencapai ±19%, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan

harga rumah tinggal berukuran sedang (tipe 46-70 m²) dan besar (tipe > 70 m²) yang masing-masing tercatat sebesar ±7% dan ±9%. Tingginya

kenaikan harga rumah tinggal berukuran kecil diperkirakan disebabkan oleh masih tingginya permintaan masyarakat untuk rumah pertama, yang biasanya merupakan rumah berukuran kecil. Selain itu, beberapa faktor lain seperti harga tanah, harga bahan bangunan, upah buruh dan biaya perizinan diperkirakan turut mendorong meningkatnya harga rumah tipe kecil. Perkembangan harga yang cukup akseleratif ini perlu dicermati, khususnya pada pemenuhan kebutuhan masyakarat berpenghasilan rendah terhadap perumahan. Selain itu, tambahan pasokan rumah tipe kecil yang relatif terbatas dibandingkan kebutuhannya diperkirakan dapat meningkatkan harga rumah tipe ini lebih tinggi lagi ke depannya. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kemampuan pengembang untuk membangun rumah hanya sekitar 200 ribu hingga 300 ribu unit setiap tahunnya sementara kebutuhan rumah diperkirakan mencapai lebih dari 350 ribu unit.

-400,000 -350,000 -300,000 -250,000 -200,000 -150,000 -100,000 -50,000 0 50,000 100,000 -800 -600 -400 -200 0 200 400 I II III IV I II III IV I 2011 2012 2013 M2 M2

(31)

BAB III BAB III BAB III BAB III PERBANKAN PERBANKAN PERBANKAN

PERBANKAN2222 DAN SISTEM PEMBAYARANDAN SISTEM PEMBAYARANDAN SISTEM PEMBAYARAN DAN SISTEM PEMBAYARAN

Kegiatan intermediasi perbankan Jakarta pada triwulan II 2013 (data hingga Mei 2013) masih mengalami perlambatan seperti halnya di triwulan sebelumnya. Kredit baik berdasarkan lokasi proyek maupun lokasi bank meningkat secara nominal namun melambat secara pertumbuhan. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat tumbuh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara risiko kredit tercatat rendah didukung oleh fundamental perekonomian Jakarta yang masih kuat. Dari sisi pembayaran, seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian masyarakat aktivitas transaksi masyarakat Jakarta pun tercatat mengalami peningkatan pada triwulan laporan.

A. A. A.

A. Intermediasi PerbankanIntermediasi PerbankanIntermediasi PerbankanIntermediasi Perbankan Kinerja

Kinerja Kinerja

Kinerja perbankan Jakarta mengindikasikan kegiatan intermediasi perbankan Jakarta mengindikasikan kegiatan intermediasi perbankan Jakarta mengindikasikan kegiatan intermediasi perbankan Jakarta mengindikasikan kegiatan intermediasi perbankan yang

perbankan yang perbankan yang

perbankan yang masih melambatmasih melambatmasih melambat pada triwulan II 2013 (data hingga masih melambat pada triwulan II 2013 (data hingga pada triwulan II 2013 (data hingga pada triwulan II 2013 (data hingga Mei 2013)

Mei 2013) Mei 2013)

Mei 2013).... Pertumbuhan kredit berada pada kisaran 18,8% untuk kredit berdasarkan lokasi bank dan 18,3% untuk kredit berdasarkan lokasi proyek, lebih lambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya maupun dengan periode yang sama di 2012. Penghimpunan dana masyarakat mengalami pertumbuhan yang meningkat menjadi sebesar 17,0% (data hingga Mei 2013) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 16,0%, meskipun juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Rasio kredit terhadap penghimpunan dana masyarakat (Loan to Deposit Ratio) pada triwulan laporan sedikit meningkat (masing-masing sebesar 82,1% berdasarkan lokasi bank dan 56,3% berdasarkan lokasi proyek). Angka LDR tersebut masih relatif tinggi dan mengindikasikan stabilnya dukungan perbankan pada sektor riil dan kinerja perekonomian secara umum. Sementara risiko kredit sebagaimana tercermin pada indikator NPL tercatat rendah sebesar 1.6%. Angka NPL tersebut stabil dalam 3 triwulan terakhir yang mengindikasikan masih cukup amannya kondisi perbankan di Jakarta saat ini.

2

Data yang disajikan dan dianalisis adalah data yang didasarkan pada kegiatan kantor bank yang berlokasi di wilayah Jakarta, bukan data menurut kriteria lokasi proyek, kecuali dinyatakan sebaliknya. Sumber data berasal dari Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan.

Gambar

Grafik Grafik Grafik
Grafik Grafik Grafik
Grafik I. I.I. I.9 9 9 Pertumbuhan Nilai & Volume  9
Grafik Grafik Grafik
+7

Referensi

Dokumen terkait

PROSPEK PEREKONOMIAN Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2014 diperkirakan tumbuh sebesar 5% - 5,5% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan

Kinerja sektor pertanian mengalami perlambatan walaupun masih tumbuh pada level yang cukup tinggi, yaitu sebesar 7,9% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya

konsumsi pada triwulan laporan tersebut tumbuh sebesar 49,85% (y-o-y), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 36,02% (y-o-y). Selain adanya kekhawatiran konsumen

Pada triwulan laporan, kinerja sektor pertambangan Kalimantan Selatan tumbuh sebesar 5,97% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan di triwulan sebelumnya yang

Namun demikian, secara kuartalan pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan laporan mengalami kontraksi dibandingkan triwulan sebelumnya, Pertumbuhan

Untuk konsumsi pemerintah, pada triwulan III 2013 tumbuh mencapai 4,87% (yoy), lebih tinggi bila dibandingkan angka pertumbuhan pada triwulan II 2013 sebesar

Jumlah transaksi tersebut juga mengalami penurunan sebesar 6,17% (qtq) dibandingkan.. dengan periode sebelumnya yang tercatat sebesar 8,54 juta transaksi dengan nilai

Pertumbuhan sektor ini pada triwulan laporan tercatat mengalami perlambatan dari 25,15% pada triwulan I-2010 menjadi sebesar 14,46% (yoy), namun diperkirakan lebih tinggi