2.1. Pengukuran Kerja
Pengukuran kerja dan analisis metode kerja adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan cara yang tepat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Metode kerja yang efektif dan efisien sesuai dengan prinsip dari teknik pengaturan cara kerja akan menghasilkan metode kerja yang optimal. Jadi secara singkat, pengukuran kerja adalah suatu metode penetapan keseimbangan antara jalur manusia yang dikontribusikan dengan output yang dihasilkan.
Pengukuran kerja berfungsi untuk: (Niebel, Benjamin W., 1993) 1. Merencanakan kebutuhan tenaga kerja (human resource planning).
2. Mengestimasi biaya-biaya untuk upah pekerja.
3. Penjadwalan produksi dan penganggaran.
4. Menentukan output yang mampu dihasilkan oleh seorang pekerja.
5. Mengusahakan terjadinya keseimbangan lintasan (production line balancing).
6. Perencanaan sistem pemberian bonus dan insentif bagi pekerja yang berprestasi.
2.1.1. Pengukuran Waktu Kerja dengan Jam Henti
Pengukuran waktu kerja dengan jam henti merupakan metode yang dapat diaplikasikan pada pekerjaan yang berulang-ulang dan berlangsung dalam waktu yang singkat. Hasil pengukuran yang dilakukan akan menghasilkan waktu baku yang dapat dijadikan sebagai standar bagi semua pekerja.
Kriteria-kriteria yang harus dipenuhi dalam pengukuran waktu kerja dengan jam henti sebagai berikut: (Wignjosoebroto, Sritomo, 1995)
1. Pekerjaan yang diamati harus dilakukan secara berulang-ulang dan uniform.
2. Pekerjaan harus homogen.
3. Hasil kerja (output) harus dapat dihitung secara kuantitatif baik secara keseluruhan ataupun untuk tiap-tiap elemen kerja yang berlangsung.
4. Pekerjaan tersebut cukup banyak dilaksanakan dan bersifat teratur sehingga dapat diukur dan dihitung waktu bakunya.
Untuk memperoleh hasil yang baik dan dapat dipercaya, maka pengukuran waktu kerja harus mempertimbangkan banyak faktor, sehingga akan diperoleh suatu waktu standar untuk pekerjaan yang diukur. Faktor-faktor yang dimaksud antara lain kondisi kerja, cara pengukuran, jumlah siklus kerja yang diukur, dan lain-lain.
2.1.1.1. Penetapan Tujuan Pengukuran
Sebelum pengukuran kerja dilakukan, harus ditetapkan terlebih dahulu tujuan dari pengukuran kerja.
2.1.1.2. Persiapan Awal Pengukuran Waktu Kerja
Persiapan awal pengukuran waktu kerja antara lain mempelajari kondisi dan metode kerja kemudian memperbaiki dan membakukannya, serta memilih operator yang akan diukur. Operator yang akan diukur hendaknya memiliki skill normal dan dapat diajak bekerja sama di dalam kegiatan pengukuran kerja.
2.1.1.3. Pengadaan Kebutuhan Alat-alat Pengukuran Kerja
Peralatan utama yang digunakan dalam pengukuran kerja adalah jam henti (stopwatch). Selain stopwatch, lembar pengamatan merupakan alat pendukung pengukuran waktu kerja yang berfungsi untuk mencatat segala informasi yang berkaitan dengan operasi kerja yang diukur, antara lain deskripsi elemen kerja, nama operator mesin, data waktu pelaksanaan pengukuran, lokasi kerja, dan tempat mencatat pembacaan stopwatch untuk setiap elemen kerja.
2.1.1.4. Pembagian Elemen Kerja
Sebelum pengukuran kerja dilakukan, perlu adanya pembagian operasi menjadi elemen-elemen kerja agar pengukuran menjadi lebih terperinci. Awal dan akhir dari masing-masing elemen kerja harus ditetapkan dengan jelas untuk mempermudah dan menyeragamkan pengukuran waktu kerja.
Dalam proses pembagian elemen-elemen kerja, ada tiga aturan yang harus diikuti, yaitu: (Wignjosoebroto, Sritomo, 1995)
1. Elemen-elemen kerja dibuat sedetail dan sependek mungkin, akan tetapi masih memungkinkan untuk diukur dengan teliti.
2. Handling time seperti loading dan unloading harus dipisahkan dari machining time. Handling time adalah pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan secara manual oleh operator dan aktivitas pengukuran kerja akan terkonsentrasi di sini.
3. Elemen-elemen kerja yang konstan harus dipisahkan dengan elemen-elemen kerja variabel. Elemen kerja konstan adalah elemen-elemen kerja yang bebas dari pengaruh ukuran, berat, panjang, dan lain-lain.
2.1.1.5. Cara Pengukuran dan Pencatatan Metode Kerja
Metode yang umum digunakan untuk mengukur elemen-elemen kerja dengan menggunakan jam henti, yaitu pengukuran waktu secara terus-menerus (continuous timing) dan pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing atau metode snap back).
Pada pengukuran waktu secara terus-menerus (continuous timing), maka pengamat kerja akan menekan tombol jam henti pada saat elemen kerja pertama dimulai, dan membiarkan jam henti berjalan terus-menerus sampai periode atau siklus kerja selesai. Waktu dari masing-masing elemen kerja akan diperoleh dari pengurangan antar waktu elemen kerja akhir dengan waktu elemen-elemen kerja sebelumnya, pada saat pengukuran waktu selesai dilaksanakan.
Untuk pengukuran waktu secara berulang-ulang (repetitive timing atau metode snap back), jam henti selalu dikembalikan ke posisi nol pada setiap akhir elemen kerja yang diukur. Setelah pencatatan dilakukan, jam henti dijalankan lagi untuk pengukuran berikutnya. Dengan metode ini, pengukur waktu tidak perlu melakukan pengurangan seperti yang dijumpai pada metode pengukuran waktu secara terus-menerus.
2.1.2. Pengukuran Kerja dengan Metode Work Sampling
Work sampling adalah suatu teknik untuk melakukan pengamatan dalam jumlah besar terhadap aktivitas kerja dari mesin, proses, atau pekerja (operator).
Metode ini sangat efektif dan efisien untuk digunakan dalam mengumpulkan informasi mengenai kerja mesin atau operatornya. Metode sampling ini dapat digunakan untuk: (Wignjosoebroto, Sritomo, 1995)
1. Mengukur ratio delay dari mesin atau operator yang berfungsi untuk mengetahui distribusi pemakaian waktu sepanjang waktu kerja dan mengetahui intensitas penggunaan mesin.
2. Menetapkan performance level yang didasarkan pada waktu-waktu dimana orang bekerja atau tidak khususnya pekerjaan manual.
3. Menentukan waktu baku.
4. Mengetahui waktu-waktu menganggur, baik yang dialami oleh mesin, peralatan produksi, maupun aktivitas pekerjaan, sehingga aktivitas-aktivitas tersebut dapat ditekan seminimal mungkin dengan melakukan perbaikan metode kerja, alokasi pembebanan manusia maupun mesin secara tepat, dan lain-lain.
5. Menentukan waktu longgar (allowance time) yang tersedia untuk suatu pekerjaan.
Kelebihan metode work sampling bila dibandingkan dengan metode jam henti adalah sebagai berikut: (Wignjosoebroto, Sritomo, 1995)
1. Tidak memerlukan pengamatan terus menerus oleh pengamat pada waktu yang panjang.
2. Menghilangkan waktu pencatatan.
3. Waktu total yang dihabiskan oleh pangamat lebih sedikit.
4. Operator tidak diamati dalam waktu yang panjang.
5. Operasi-operasi dapat lebih cepat dipelajari oleh pengamat.
Langkah-langkah pelaksanaan pengukuran kerja dengan metode work sampling adalah sebagai berikut:
1. Mencatat segala informasi dari semua fasilitas yang ingin diamati.
2. Merencanakan jadwal waktu pengamatan berdasarkan prinsip randomisasi.
3. Melakukan pengamatan awal sejumlah pengamatan tertentu secara acak.
4. Menghitung pengamatan yang dibutuhkan untuk n pengamatan awal tersebut.
5. Melaksanakan pengamatan.
6. Melakukan uji keseragaman data dengan menggunakan bantuan software Minitab.
7. Melakukan uji kecukupan data dengan menggunakan rumus:
(Wignjosoebroto, Sritomo, 1995)
2 2
) (
) 1 ' (
sp p p
N = k − (2.1)
Yang mana:
N’ = Jumlah pengamatan.
k = Harga indeks yang besarnya tergantung dari tingkat kepercayaan yang diamati.
p = Probabilitas idle yang terjadi.
s = Derajat ketelitian.
Jika N’ N, maka dilakukan pengambilan data lagi sejumlah N’ – N.
8. Menghitung derajat ketelitian dari data pengamatan yang diperoleh dengan menggunakan rumus: (Wignjosoebroto, Sritomo, 1995)
N p k p
sp= (1− ) (2.2)
Yang mana:
N = Jumlah pengamatan yang harus dilakukan untuk sampling kerja.
k = Harga indeks yang besarnya tergantung dari tingkat kepercayaan yang diamati.
p = Probabilitas idle yang terjadi.
s = Derajat ketelitian.
9. Menganalisis hasil akhir yang berkaitan dengan % delay (p).
10. Menarik kesimpulan dan saran perbaikan untuk mengeliminir % delay yang terlalu besar.
2.2. Peta-peta Kerja
Peta kerja adalah suatu alat yang dapat menggambarkan kegiatan kerja secara sistematis dan jelas. Peta kerja digunakan untuk melihat semua langkah
atau kejadian yang dialami oleh suatu benda kerja dari mulai masuk ke pabrik kemudian menggambarkan semua langkah yang dialaminya sampai akhir.
Simbol-simbol yang digunakan: (Wignjosoebroto, Sritomo, 1995) 1. Operasi
Simbol:
Terjadi bila benda kerja mengalami perubahan sifat (fisik atau kimiawi) termasuk mengambil maupun memberikan informasi pada suatu keadaan 2. Pemeriksaan
Simbol:
Terjadi bila benda kerja (objek) mengalami pemeriksaan baik untuk segi kualitas maupun kuantitas dan tidak menjuruskan bahan ke arah menjadi suatu barang jadi
3. Transportasi Simbol:
Terjadi bila benda kerja (objek), pekerja, atau perlengkapan mengalami perpindahan tempat yang bukan merupakan bagian dari suatu operasi.
4. Delay Simbol:
Terjadi bila benda kerja, pekerja, atau perlengkapan tidak mengalami apa-apa selain menunggu. Hal ini menunjukkan bahwa suatu objek ditinggalkan untuk sementara tanpa pencatatan sampai diperlukan kembali
5. Penyimpanan Simbol:
Terjadi bila benda kerja disimpan untuk jangka waktu yang cukup lama. Jika benda kerja tersebut akan diambil kembali, biasanya memerlukan suatu perijinan tertentu.
6. Aktivitas gabungan Simbol:
Terjadi bila antara aktivitas operasi dan pemeriksaan dilakukan bersamaan atau dilakukan pada suatu tempat kerja
Peta kerja dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu: (Wignjosoebroto, Sritomo, 1995)
1. Peta kerja keseluruhan
Peta kerja keseluruhan digunakan apabila proses produksi melibatkan sebagian besar atau semua fasilitas yang diperlukan untuk membuat produk yang bersangkutan. Peta kerja keseluruhann ini dibagi lagi menjadi empat jenis, yaitu:
a. Peta Proses Operasi (PPO) atau Operation Process Chart (OPC)
Adalah suatu diagram yang menggambarkan langkah-langkah proses yang akan dialami bahan baku mengenai urutan operasi dan pemeriksaan sejak awal sampai menjadi produk jadi utuh/komponen. OPC juga memuat informasi tentang waktu yang diperlukan, material yang digunakan, dan alat yang dipakai dalam proses. Kegunaan dari OPC yaitu:
Dapat mengetahui tingkat kebutuhan akan mesin dan bahan baku.
Menentukan tata letak pabrik yang optimal.
b. Peta Aliran Proses (PAP)
Yaitu sebuah diagram yang menggambarkan tahapan-tahapan operasi, inspeksi, transportasi, delay, dan penyimpanan dari satu komponen perakitan atau produk. Kegunaan Peta Aliran Proses antara lain:
Mengetahui aliran bahan dari awal sampai akhir.
Mengetahui waktu penyelesaian.
Mengetahui jumlah kegiatan.
Dapat digunakan sebagai alat untuk memperbaiki metode kerja.
Menghilangkan ongkos tersembunyi.
c. Peta Proses Kelompok Kerja
Merupakan kumpulan dari beberapa peta aliran proses dimana tiap peta aliran proses tersebut menunjukkan satu rangkaian pekerjaan dari operator.
Peta Aliran Proses akan dipetakan dengan arah horizontal (kiri ke kanan) sehingga paralel satu sama lain. Peta Aliran Proses ini hanya bisa digunakan dalam suatu tempat kerja yang memerlukan kerjasama yang baik dari sekelompok pekerja.
d. Diagram Alir
Diagram Alir adalah suatu gambaran menurut skala dari susunan lantai dan gedung, yang menunjukkan lokasi dari semua aktivitas yang terjadi dalam Peta Aliran Proses. Kegunaan dari Diagram Alir ini adalah untuk:
Memperjelas Peta Aliran Proses.
Perbaikan tata letak tempat kerja.
2. Peta kerja setempat
Peta kerja setempat digunakan jika kegiatan tersebut terjadi di dalam suatu stasiun kerja yang biasanya hanya melibatkan orang dan fasilitas dalam jumlah terbatas. Peta kerja setempat ini dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Peta pekerja dan mesin
Merupakan suatu peta (grafik) yang menggambarkan koordinasi antara waktu bekerja dan waktu menganggur dari pekerja dan mesin.
Beberapa kegunaan dari peta pekerja dan mesin ini adalah:
Menata tata letak kerja.
Mengatur kembali gerakan-gerakan kerja.
Merancang mesin/peralatan.
Menambah/mengurangi pekerja/mesin.
b. Peta tangan kiri dan tangan kanan
Peta kerja ini menggambarkan semua gerakan saat bekerja dan waktu menganggur yang dilakukan oleh tangan kiri dan tangan kanan. Selain itu, peta kerja ini juga dapat menunjukkan perbandingan tugas yang dibebankan pada tangan kanan dan tangan kiri. Kegunaan peta ini adalah:
Menyeimbangkan gerakan kedua tangan.
Mengurangi gerakan tidak efektif.
Analisis tata letak stasiun kerja.
Alat melatih pekerja yang baru.
Elemen-elemen yang terdapat dalam peta kerja ini ada 17 elemen, yaitu:
Inspect (I) Grasp (G) Preposition (PP)
Transport Loaded (TL)/Move (M)
Plan (Pn) Assemble (A) Disassemble (DA) Release (Rl) Use (U) Search (Sh) Select (St)
Transport Empty (TE)/Reach (Re) Hold (H)
Position (P)
Unavoidable Delay (UD) Avoidable Delay (AD) Rest for overcoming fatigue
2.3. Konsep Simulasi
Simulasi dapat digunakan untuk mendapatkan respon dan perilaku yang menyerupai keadaan yang sesungguhnya tanpa melalui suatu proses yang sesungguhnya.
Keunggulan dari simulasi antara lain:
1. Membantu mendiagnosa permasalahan dan mengidentifikasikan kendala- kendala yang ada. Contoh: Analisis terhadap bottleneck dapat ditampilkan dengan mengindikasikan Work In Process serta material-material yang mengalami keterlambatan.
2. Kebijakan-kebijakan, prosedur operasi, peraturan-peraturan dan arus informasi yang baru dapat dipelajari dan diperkirakan tanpa harus menganggu operasi yang sedang berlangsung di lapangan.
3. Desain-desain perangkat keras, sistem transportasi yang baru dan lain sebagainya dapat dicoba tanpa harus mendatangkan sumber daya-sumber daya tersebut.
4. Menangani randomness dan uncertainty.
5. Fleksibel dan mudah diubah.
6. Membutuhkan asumsi-asumsi yang lebih sedikit.
7. Menampilkan perilaku-perilaku dinamis.
8. Pada umumnya sistem yang ada di lapangan bersifat kompleks dengan elemen-elemen stokastik yang tidak dapat digambarkan dengan menggunakan model matematika secara akurat.
9. Dapat dipercaya dan hasil-hasilnya mudah untuk dijelaskan.
Kelemahan dari simulasi antara lain:
1. Tidak dapat menghasilkan solusi yang optimal dengan sendirinya.
2. Membutuhkan pelatihan khusus untuk mempelajari dan menggunakannya.
3. Lebih ke arah menjalankan program daripada menyelesaikan permasalahan.
4. Setiap dijalankan, model simulasi stokastik hanya menghasilkan perkiraan output untuk sekumpulan parameter input saja.
5. Pembangunan model simulasi seringkali menghabiskan banyak waktu.
6. Mengeluarkan biaya, baik untuk hardware maupun software.
2.3.1. Konsep Sistem
Sistem adalah sekumpulan objek yang saling berinteraksi satu sama lain secara bersama-sama untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan tertentu. Contoh dari sistem antara lain: Pelayanan di bank, pelayanan kesehatan di rumah sakit dan lain-lain.
Komponen-komponen dari sistem antara lain:
1. Entitas (Entity) adalah objek sistem yang menjadi pokok perhatian.
2. Atribut (Attribute) adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh entitas.
3. Aktivitas (Activity) adalah proses yang menyebabkan perubahan dalam sistem yang dapat mengubah atribut ataupun entitas.
4. Kejadian (Event) adalah peristiwa sesaat yang dapat mengubah variabel status sistem.
5. Status adalah keadaan entity dan aktivitas pada saat tertentu atau kumpulan variabel yang penting untuk menggambarkan sistem pada seluruh waktu.
Sistem dapat dikategorikan menjadi dua macam yaitu:
1. Sistem diskrit
Sistem diskrit adalah sistem yang status variabelnya hanya akan berubah pada periode waktu tertentu saja. Salah satu contoh dari sistem diskrit adalah sistem dalam rumah sakit. Status variabelnya adalah berapa jumlah pasien yang ada di rumah sakit akan berubah hanya ketika kedatangan dan kepergian pasien saja.
2. Sistem kontinyu
Sistem kontinyu adalah sistem yang status variabelnya akan berubah secara kontinyu seiring dengan jalannya waktu. Salah satu contoh dari sistem kontinyu adalah sistem mobil yang sedang berjalan. Status variabelnya adalah berapa posisi dan kecepatan mobil akan berubah secara kontinyu seiring dengan jalannya waktu.
2.3.2. Konsep Model
Merupakan suatu perwakilan dari suatu sistem yang dibuat untuk tujuan tertentu. Ada dua jenis model simulasi berdasarkan bentuknya, yaitu:
1. Model Fisik (Physical Model)
Model Fisik ini dapat digunakan untuk mempelajari teknik dan manajemen sistem. Contoh: maket, miniatur dan lain-lain.
2. Model Matematis (Mathematical Model)
Adalah model yang menyatakan sistem dalam bentuk hubungan logika dan kuantitatif. Biasanya digunakan untuk manipulasi dan dapat diubah-ubah nilainya. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana reaksi dari sistem.
Berdasarkan cara penyelesaian, model matematis dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Solusi analitik
Sifatnya sederhana dan kurang mampu memuat dinamika dari proses, tetapi mampu untuk memberikan jawaban yang optimal untuk menyelesaikan masalah. Contohnya adalah Differential Calculus dan Queuing Model.
2. Simulasi
Banyak digunakan untuk sistem yang kompleks dan mampu untuk menjelaskan dinamika dari proses dan menggambarkan perilaku sistem.
Jika solusi analitik tersedia dan perhitungannya efisien, disarankan untuk lebih mempelajari model dengan solusi analitis daripada dengan simulasi. Metode simulasi digunakan apabila:
1. Rumusan matematika tidak ada atau solusi analitik tidak dapat dibangun.
2. Metode analitik tersedia, namun prosedur matematikanya sangat kompleks bila dibandingkan langsung dengan menggunakan metode simulasi.
3. Diinginkan untuk mengobservasi proses yang disimulasikan dalam kurun waktu tertentu dan memperkirakan performa dari sistem.
Model simulasi dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Model simulasi statis dan model simulasi dinamis
Model simulasi statis merupakan suatu perwakilan dari sistem pada suatu periode waktu saja, atau digunakan untuk menyatakan suatu sistem yang mana waktu tidak memegang peranan penting. Contoh dari model simulasi statis ini adalah Simulasi Monte Carlo, dan algoritma optimasi pada umumnya.
Sedangkan model simulasi dinamis adalah suatu model simulasi yang mana waktu memegang peranan yang penting, contohnya adalah simulasi pada lantai produksi dalam sebuah perusahaan dengan jam kerja pukul 08.00-16.00, Dynamic Programming, Control Models
2. Model simulasi deterministik dan model simulasi stokastik.
Jika suatu model simulasi tidak mengandung komponen atau variabel yang sifatnya probabilistik atau random maka disebut model simulasi deterministik.
Contoh dari model simulasi deterministik ini adalah Dynamic Programming, Linear Programming, dan Mixed Integer Programming. Akan tetapi jika dalam suatu model simulasi mengandung komponen atau variabel yang sifatnya random maka model simulasi tersebut adalah model simulasi stokastik. Contoh dari model simulasi stokastik adalah Stochastic Programming.
3. Model simulasi diskrit dan model simulasi kontinyu
Model simulasi diskrit adalah model sistem yang mana status variabelnya berubah pada periode waktu tertentu saja, contohnya adalah Integer Programming. Model simulasi kontinyu adalah model sistem yang mana status variabelnya berubah secara kontinyu seiring dengan jalannya waktu, contohnya adalah Control Models.
2.3.3. Pembangunan Model, Replikasi, Verifikasi, dan Validasi
Langkah pertama dalam pembangunan model adalah dengan melakukan observasi sistem nyata dan interaksi yang terjadi antara komponen-komponen yang bervariasi, serta pengumpulan data-data.
Langkah kedua adalah dengan pengkonstruksian dan pembuatan model konseptual. Model konseptual meliputi penentuan asumsi-asumsi dari komponen- komponen dan struktur sistem.
Langkah ketiga adalah penerjemahan model konseptual ke dalam model operasional, yaitu pembuatan model yang terkomputerisasi atau pembuatan model yang dikenal oleh bahasa komputer. Pada kenyataannya, pembuatan model tidak hanya berdasarkan ketiga tahapan di atas, melainkan harus kembali ke setiap tahapan secara berulang karena dilakukan pembuatan, verifikasi dan validasi model. Proses perbandingan secara berulang untuk menyesuaikan model yang telah diubah disebut dengan proses kalibrasi.
2.3.3.1. Konsep Replikasi
Replikasi dapat digunakan untuk mengetahui taksiran nilai rata-rata proses dengan menjalankan program yang dibuat selama beberapa kali. Hal ini tergantung dari selang kepercayaan, batas error dan replikasi awal yang dibutuhkan. Jumlah replikasi berbanding terbalik dengan selang kepercayaan, semakin besar replikasi maka selang kepercayaan semakin pendek. Jumlah replikasi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: (Law, Averill M., &
Kelton, W. David., 1991)
2 0 1
2, e
xS t
R≥ α R0− (2.3)
Yang mana:
e = Besarnya error yang diinginkan * mean dari parameter yang diamati.
R = Jumlah replikasi yang harus dilakukan.
R0 = Replikasi awal
S0 = Standar deviasi yang didapat dari replikasi awal.
Jika ternyata replikasi sesungguhnya yang diperlukan lebih besar daripada replikasi awal, maka untuk analisis output digunakan output dari replikasi sesungguhnya.
2.3.3.2. Konsep Verifikasi
Verifikasi adalah membandingkan konsep model yang dibuat dengan konsep dari model nyata. Verifikasi dikatakan berhasil jika model komputer yang dibuat dapat dijalankan dengan baik. Langkah-langkah verifikasi adalah:
1. Model yang dibuat diperlihatkan kepada orang lain yang juga ahli simulasi.
2. Dilihat apakah model dapat dijalankan tanpa adanya debug.
3. Melihat pergerakan animasi apakah sesuai dengan sistem nyata.
2.3.3.3. Konsep Validasi
Konsep validasi adalah membangun model yang benar atau proses membandingkan model beserta sifat-sifatnya dengan sistem nyata. Validasi mempunyai tujuan untuk mengetahui apakah model yang dibangun sudah mendekati sistem nyata atau belum. Selain itu juga untuk meyakinkan apakah model tersebut dapat dipercaya.
Ada satu hal yang perlu diketahui, yaitu tidak ada model simulasi yang benar-benar valid, karena model simulasi hanyalah merupakan sebuah model pendekatan/tiruan dari keadaan nyata, yang mana model ini tidak akan pernah sama persis dengan keadaan nyata walaupun dikerjakan dalam waktu yang tak terbatas.Validasi dapat dilakukan dengan tiga cara pendekatan sebagai berikut:
1. Face validity
Menunjukkan model yang telah penulis buat kepada orang lain yang juga ahli di bidang simulasi, untuk mengetahui apakah model yang sudah dibuat
memiliki kesamaan. Selain itu juga untuk mengetahui apakah model yang di buat ada kekurangan atau tidak, misalnya sesama ahli simulasi.
2. Validasi asumsi model
Asumsi model terdiri atas dua bagian, yaitu:
a. Asumsi struktural, yaitu asumsi akan struktur untuk menyederhanakan model dari sistem nyata. Contoh: Aturan dalam antrian FIFO, padahal dalam kenyataannya mungkin tidak menggunakan antrian FIFO.
b. Asumsi data, yaitu asumsi akan pengumpulan data yang dapat dipercaya dan analisis statistiknya. Contoh: Pengambilan data hanya dilakukan selama 2 jam, padahal jumlah data tersebut mungkin belum mewakili sistem nyata secara keseluruhan.
3. Validasi input-output transformation
Membandingkan data keluaran model dengan data kenyataan dengan menggunakan rumus: (Bhattacharya, Gouri K., & Johnson, Richard A., 1977)
a. One sample t: perbandingan dengan satu macam nilai, misalnya dengan nilai mean.
n s
) -
T0=(Χ µ0 (2.4)
Jika nilai dari T0 < t tabel maka data dapat dikatakan valid.
Yang mana:
T0 = nilai t hitung.
X = rata-rata sampel yang diambil.
0 = rata-rata populasi.
s = standar deviasi sampel.
n = ukuran sampel.
b. Two sample t: perbandingan dengan sekumpulan data. Two sample t dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
Untuk sampel kecil (n 30)
2 1 0 0
n 1 n Spooled 1
- Y T -
+
= Χ δ
; (2.5)
2 n n
) 1 (n ) 1 pooled (n
S
2 1
2 2 2 2 1 2 1
− +
− +
= − s s
(2.6)
bila T0 < t tabelmaka data dapat dikatakan valid.
Yang mana:
T0 = nilai t hitung.
X = rata-rata sampel 1.
Y = rata-rata sampel 2.
0 = rata-rata populasi.
s1 = standar deviasi sampel 1.
s2 =standar deviasi sampel 2.
n1 = ukuran sampel 1.
n2 = ukuran sampel 2.
Untuk sampel besar (n > 30)
2 2 2 1 2 1
0
n s n s
- Y Z -
+
= Χ δ (2.7)
bila
Z <Z
α/2 maka data dapat dikatakan valid.Yang mana:
Z = nilai Z hitung.
X = rata-rata sampel 1.
Y = rata-rata sampel 2.
0 = rata-rata populasi.
s1 = standar deviasi sampel 1.
s2 =standar deviasi sampel 2.
n1 = ukuran sampel 1.
n2 = ukuran sampel 2.