• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. PEMBAHASAN. 10 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. PEMBAHASAN. 10 Universitas Kristen Petra"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

4. PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Perusahaan

Gambaran umum perusahaan yang akan dibahas meliputi tinjauan umum perusahaan dan proses produksi. Tinjauan umum perusahaan meliputi sejarah perusahaan, jam kerja perusahaan dan juga keunggulan perusahaan. Profil perusahaan yang akan dibahas meliputi tinjauan umum perusahaan. Tinjauan umum perusahaan meliputi jam kerja perusahaan, fasilitas perusahaan dan juga keunggulan perusahaan. Proses produksi merupakan mesin yang digunakan, bahan baku yang digunakan dan tahapan proses produksi.

4.1.1 Tinjauan Umum Perusahaan

PT. X merupakan anak perusahaan dari Astra Otoparts. PT. X terbagi menjadi empat plant di tiga lokasi yang masing-masing terletak di kota Jakarta, Bogor dan Sidoarjo. PT. X di Kota Sidoarjo merupakan divisi filter. Produk yang di produksi saat ini diantaranya oil filter, air filter dan fuel filter. PT. X merupakan perusahaan yang sudah memiliki pasar konsumen cukup besar, diantaranya Honda, Yamaha, Suzuki dan Kawasaki.

PT. X terbagi menjadi tiga shift jam kerja. Shift pertama yaitu dari jam 08.00-16.00 WITA. Shift kedua yaitu 16.00-24.00 WITA. Shift ketiga yaitu 24.00- 08.00 WITA. Jam kerja karyawan ini diberlakukan secara bergantian untuk setiap minggunya. Penerapan tiga shift jam kerja ini juga didasarkan karena proses produksi yang berjalan secara terus-menerus. Setiap shift ini memiliki satu jam kosong yang diberikan kepada karyawan untuk beristirahat.

4.2. Proses Produksi

Proses produksi adalah suatu aktivitas penambahan nilai (value) dari bahan

baku menjadi produk akhir (barang atau jasa). Faktor-faktor yang mendukung

aktivitas produksi dari PT. X adalah bahan baku, mesin yang digunakan, tahapan

proses produksi. Faktor-faktor ini sangat memengaruhi output (Guide) yang

dihasilkan.

(2)

4.2.1 Bahan baku yang digunakan

Bahan baku yang digunakan untuk produksi guide adalah material import.

Material dalam bentuk gulungan kemudian dipotong menjadi bentuk lembar.

𝑆𝐸𝐶𝐷 0,4 𝑥 1200 𝑥 1219. Material tersebut merupakan bahan baku yang sama untuk semua tipe jenis guide.

Gambar 4.1 Material 𝑆𝐸𝐶𝐷 0,4 𝑥 1200 x 1219

4.2.2 Mesin yang digunakan

Mesin yang digunakan oleh PT. X dan supplier untuk melakukan proses produksi guide yaitu mesin cutting, mesin blanking draw, mesin piercing bore, mesin piercing samping dan mesin trimming embos. Mesin-mesin yang digunakan oleh PT. X dan supplier secara keseluruhan beserta keterangan fungsi mesin tersebut adalah sebagai berikut.

Tabel 4.1 Mesin di PT. X

No Mesin Keterangan

1 Mesin Cutting (Mc Shearing CCCU 06-01)

Mesin Cutting merupakan mesin untuk

potong lembar menjadi lajur

(3)

Tabel 4.1 merupakan tabel mesin di PT.X. Mesin cutting ini memiliki fungsi untuk melakukan potong lembar (plat) menjadi lajur. Hasil potong tergantung kebutuhan, untuk produksi komponen guide satu lembar akan menjadi tiga belas lajur.

Tabel 4.2 Mesin di Supplier

No Mesin Keterangan

1 Blanking Draw Mesin Blanking Draw merupakan mesin potong lajur dengan tujuan mendapatkan hasil potongan atau blank. Sisanya akan dibuang sebagai sisa potong yang disebut aval.

2 Trimming Emboss Mesin Trimming Emboss merupakan mesin potong sisa material yang tidak berguna untuk mendapat ukuran akhir yang dibutuhkan.

Mesin trimming akan meninggalkan bagian yang tidak berguna atau aval.

3 Piercing Bore Mesin Piercing Bore merupakan mesin potong lubang (punching). Lubang yang dihasilkan bisa bulat atau bentuk lainnya sesuai dengan bentuk punch (matras). Proses piercing bore untuk memotong bagian tengah. Pada proses piercing bore juga terdapat aval atau sisa potong.

4 Piercing Samping Mesin Piercing Samping merupakan mesin yang memiliki fungsi hampir sama dengan piercing bore. Piercing samping ini bertujuan untuk memotong sisa samping.

Tabel 4.2 merupakan mesin yang terdapat di Supplier. Keempat mesin

tersebut adalah mesin yang digunakan untuk produksi Guide. Proses pertama

dengan mesin Blanking Draw untuk mendapatkan hasil potong lajur. Kedua mesin

Trimming Emboss untuk mendapatkan hasil potong sisi samping bibir guide.

(4)

Ketiga mesin Piercing Bore untuk mendapatkan hasil potong sisi atas guide.

Keempat atau mesin terakhir yaitu Piercing Samping untuk mendapatkan hasil potong sisi bagian samping.

4.2.3 Tahapan Proses Produksi

Tahapan proses produksi guide terbagi menjadi beberapa tahapan. Diawali dengan pengiriman material dari supplier import berbentuk mother coil. Mother coil dikirim ke supplier jasa potong untuk di proses menjadi lembar atau coil (pita) sesuai dengan kebutuhan. Material lembar menggunakan ukuran potong 1219𝑚𝑚 𝑥 1200. Tahap berikutnya adalah tahap proses produksi inti, yaitu pertama dilakukan di PT. X. Pemotongan lembar menjadi lajur menggunakan mesin Cutting (Mc Shearing CCCU 06-01). Ukuran potong lajur adalah 95𝑚𝑚 𝑥 1200.

Tabel 4.3 Tahapan Proses Produksi di PT. X

No Proses Ket. Gambar

1 Cutting Lajur

Tabel 4.3 merupakan tahapan proses produksi di PT. X. Ketika ada order

untuk komponen guide maka material lajur dikirimkan ke supplier subcontract

dengan input ke sistem dan surat jalan keluar. Tahapan berikutnya dilakukan di

supplier, dimana terbagi menjadi empat proses diantaranya, proses blanking draw,

proses trimming emboss, proses piercing bore dan piercing samping. Tahapan

proses produksi untuk GD002 dan GD005 berbeda dengan guide lainnya, hanya

menggunakan tiga mesin yaitu blanking draw, trimming emboss dan piercing bore

tanpa piercing samping.

(5)

Tabel 4.4 Tahapan Proses Produksi di Supplier

No Proses Ket. Gambar

1 Blanking Draw

2 Trimming Emboss

3 Piercing Bore

4 Piercing Samping

Tabel 4.4 merupakan tahapan proses produksi di supplier. Rangkaian

tahapan proses produsi diawali blanking draw, trimming emboss, piercing bore,

dan piercing samping. Tahap berikutnya pengecekan oleh quality dan packing

doos. Komponen guide akan dikirimkan kembali oleh supplier ke PT. X dengan

dilengkapi dengan lampiran surat jalan masuk dan surat tagihan.

(6)

4.2.4 Output yang dihasilkan

Output yang dihasilkan oleh supplier adalah guide. Guide adalah komponen yang menempel di end plate A yang melalui proses spot welding dan berfungsi sebagai penyangga atau penambah kekuatan hubungan housing dengan filter. Dengan kata lain, guide merupakan bagian dari komponen yang mendukung fungsi oil filter dengan cara mengunci shaft engine yang berada ditengah oil filter serta penghubung antar dua elemen dan juga sebagai tempat dudukan packing yang berada di dalam filter. Guide hanya digunakan untuk oil filter yang memiliki dua elemen. Guide termasuk kedalam subcontract material, dimana material tersebut dialihkan untuk dikerjakan oleh jasa supplier. Jenis dan dimensi guide dijelaskan pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Jenis dan Dimensi Guide

No Guide Dimensi Guide

1 GD002 Tinggi Guide

30 𝑚𝑚

2 GD003 Tinggi Guide

15 𝑚𝑚

3 GD005 Tinggi Guide

30 𝑚𝑚

(7)

Tabel 4.5 Jenis dan Dimensi Guide (Lanjutan)

4 GD013 Tinggi Guide

15 𝑚𝑚

5 GD014 Tinggi Guide

18 𝑚𝑚

4.3 DMAIC

DMAIC merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah. DMAIC terbagi atas lima tahap yaitu define, measure, analyze, improve dan control. DMAIC yang digunakan untuk PT. X adalah sebagai berikut.

4.3.1 Define

Setiap proses pasti memiliki unsur-unsur utama yakni supplier, input,

process, output, customes. Dalam metode DMAIC proses seringkali dapat

digambarkan dalam format SIPOC Diagram. Tujuan SIPOC Diagram dibuat

untuk mengetahui proses yang terlibat, urutan proses dan interaksi antar proses,

serta hal-hal apa saja yang terlibat dalam proses. Adapun SIPOC Diagram

komponen guide dapat dilihat pada Gambar 4.2.

(8)

Gambar 4.2 Diagram SIPOC Komponen Guide

Dari SIPOC Diagram diatas dapat diuraikan sebagai berikut :

• Supplier, terdiri CV. X supplier jasa yang memproduksi komponen guide.

• Input, bahan baku berupa SECD 0,4 x 95 x 1200.

• Process, proses pertama proses kirim material (mesin cutting lajur, staff gudang, surat jalan keluar), proses kedua proses produksi (mesin blanking draw, mesin trimming emboss, mesin piercing bore, mesin piercing samping, dan manpower supplier), proses ketiga proses kirim guide (staff gudang receiving, surat jalan masuk).

• Output, yang dihasilkan adalah komponen guide.

• Customers, PT. X dan Dep. Procurement.

4.3.2 Measure

Pengukuran ini dilakukan dengan melakukan pengumpulan data varian komponen guide periode Juli 2018. Persentase perbandingan selisih nilai sistem

Proses kirim material

Proses produksi

guide

Proses kirim guide

Cutting Lajur

Staff Gudang PT. X

Surat Jalan Keluar

Blanking Draw

Trimming Emboss

Manpower Supplier

Piercing Bore

Piercing Samping

Surat Jalan Masuk Supplier

(CV. X)

Input (SECD 0,4 X

95 X 1200)

Output (Guide)

Customer (PT. X, Dept.

Procurement) Process

Staff Gudang PT. X

(9)

dan aktual mencapai 50%, dimana nilai aktual 4018,26 dan nilai aktual 2007,29.

Data varian komponen guide dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6 Data Varian Guide

Partnumber Deskripsi Warehouse Unit Sistem Aktual Varian RC0704-

0095M

CUTTING SECD 0,4 x95 x1200

WSPS1

(CV. X) KG 4018, 26

2007, 29

2010, 97

4.3.3 Analyze

Aktifitas pertama yang dilakukan mencari semua kemungkinan yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan proses produksi dengan melakukan kunjungan lapangan (genba) ke supplier. Hasil genba adalah sebagai berikut :

Tabel 4.7 Hasil Genba

No Faktor Hasil Genba Permasalahan

1 Metode Pengiriman material dilakukan ketika ada order guide

2 Manusia Reject guide penyok ✓

3 Manusia Reject guide pecah ✓

4 Mesin Hasil potong kurang dari standart ✓

5 Metode Selisih BOM ✘

6 Manusia Lubang guide tidak presisi

7 Manusia Reject guide kerut ✓

8 Manusia Salah kirim material ✓

Hasil genba proses produksi komponen guide terbagi menjadi dua,

permasalahan yang dipilih dan tidak dipilih. Permasalahan yang dipilih yaitu,

reject guide penyok, reject guide pecah, reject guide kerut, lubang guide tidak

presisi, hasil potong kurang dari standart dan salah kirim material. Permasalahan

yang tidak terpilih yaitu, pengiriman material dilakukan ketika ada order guide

(10)

dan selisih BOM. Permasalahan tersebut tidak terpilih dikarenakan setelah dilakukan evaluasi permasalahan tersebut tidak menggangu proses produksi komponen guide.

Aktifitas berikutnya pada tahap analyze adalah mencari akar permasalahan dan juga penyelesaian dari masalah tersebut. Tahap analyze ini dilakukan dengan menggunakan salah satu dari seven tools. Tool yang akan digunakan pada tahap analyze adalah fishbone diagram. Analisa fishbone diagram dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3 Fishbone Diagran Permasalahan Produksi Guide

Gambar 4.3 merupakan fishbone diagram dari permasalahan produksi guide. Faktor yang mempengaruhi adanya permasalahan tersebut terdiri dari dua faktor. Kedua faktor tersebut adalah faktor mesin (machine) dan faktor (man).

Faktor Mesin (Machine)

Faktor mesin, hasil potong material lajur oleh manpower supplier kurang

dari standart. Proses ini terjadi pada mesin potong pertama di supplier, mesin

Blanking Draw. Hasil potong lajur seharusnya menjadi tiga belas untuk satu lajur,

namun aktualnya bisa menjadi dua belas. Hasil potong kurang dari standart

disebabkan oleh jarak potong mesin yang tidak sama. Hasil potong kurang dari

standart dapat dilihat pada Gambar 4.4.

(11)

Gambar 4.4 Hasil potong kurang dari standart

Faktor Manusia (Man)

Faktor manusia yang menjadi penyebab permasalahan produksi guide adalah sebagai berikut. Pertama, kondisi guide penyok. Reject tersebut disebabkan oleh penggunaan stopper yang kurang diperhatikan oleh manpower, dimana manpower kurang paham menepatkan guide pada dies. Reject tersebut terjadi di mesin Trimming Emboss. Reject guide penyok dapat dilihat pada gambar Gambar 4.5.

Gambar 4.5 Guide penyok

Kedua, kondisi guide pecah. Reject tersebut tejadi saat proses potong di mesin Blanking Draw, kondisi dies dan material lajur yang lalai untuk dibaluri minyak. Hal tersebut terjadi karena tidak ada acuan kapan pemberian minyak dilakukan. Sehingga saat dies potong material yang terjadi adalah guide pecah.

Reject guide pecah dapat dilihat pada Gambar 4.6.

(12)

Gambar 4.6 Guide pecah

Ketiga, kondisi guide kerut. Reject tersebut disebabkan oleh double makan mesin potong yang terjadi karena gerakan menginjak push-button oleh manpower terjadi dua kali. Hal tersebut terjadi diluar kontrol manpower. Reject tersebut terjadi saat proses potong di mesin Trimming Emboss. Reject guide kerut dapat dilihat pada Gambar 4.7.

Gambar 4.7 Guide kerut

Keempat, kondisi lubang guide tidak presisi. Reject tersebut disebabkan oleh faktor manusia. Kondisi dies potong yang tidak tepat. Hal tersebut disebabkan karena skill manpower maintenance dies kurang. Reject lubang guide tidak presisi dapat dilihat pada Gambar 4.8.

Gambar 4.8 Lubang guide tidak presisi

(13)

Kelima, operator PT. X salah kirim material lajur ke supplier. Operator tersebut mengirimkan material dengan ukuran kurang atau lebih dari ukuran sebenarnya. Hal tersebut terjadi karena setelah proses cutting material lajur, tidak ada double check sebelum dikirim ke supplier. Salah kirim material lajur dapat dilihat pada Gambar 4.8.

Gambar 4.8 Salah kirim material lajur

4.3.4 Improvement

Improve merupakan tahap perbaikan dengan cara memberikan solusi- solusi terhadap masalah yang dapat diperbaiki. Rencana penanggulangan yang diberikan kepada PT. X dan supplier adalah sebagai berikut.

Tabel 4.8 Rencana Penanggulangan

Faktor Akar Masalah Solusi Dipilih Alasan

Manusia Operator kurang paham fungsi stopper

Trainning manpower, checksheet reject daily

✓ Menekankan aware manpower supplier, Menekankan persentase reject daily

Manusia Tidak ada acuan pemberian minyak

WI (Frekuensi oles minyak), Checksheet Reject

✓ Menekankan

prosedur kerja,

Menekankan

persentase reject

daily

(14)

Faktor Akar Masalah Solusi Dipilih Alasan Manusia Skill manpower

maintenance kurang

Trainning manpower, Checksheet Reject

✓ Menekankan quality awareness

manpower, Menekankan persentase reject daily

Manusia Gerakan double injak pada press- button mesin

WI, Tambahan bantuan pijakan kaki dibawah mesin, Checksheet reject

✓ Menekankan prosedur kerja, Menekankan persentase reject daily

Manusia Tidak ada double check material

Jig material lajur

✓ Mengurangi terjadinya retur material Mesin Jarak potong

tidak sama

WI dan II ✓ Menekankan

prosedur kerja Stopper ✓ Alat bantu sederhana

Menyamakan jarak potong dengan bantuan stopper yang memudahkan kerja manpower

Feeder conveyor

✘ Perawatan dan pemasangan mesin mahal

Checksheet material lajur

✓ Mengetahui kuantitas reject

• Solusi Berdasarkan Faktor Manusia

(15)

Solusi pertama, untuk reject bibir samping guide penyok, reject guide pecah, reject lubang guide tidak presisi dan reject guide kerut. Hal tersebut terjadi karena faktor manusia (man). Aktifitas yang dilakukan adalah diawali dengan mengevaluasi hasil genba. Hasil pengamatan di supplier tidak ada visualisasi pencatatan reject, maka dari itu usulan yang diberikan pencatatan dengan form checksheet reject. Form checksheet reject diberikan dan mulai diterapkan bulan September-November. Form checksheet reject dapat dilihat pada Gambar 4.10.

Gambar 4.10 Form Checksheet Reject Daily

Kemudian pertengahan bulan september dilakukan pengajuan usuluan

untuk melakukan trainning quaility awareness. Namun hasil reject komponen

guide masih terjadi sehingga usulan berikutnya adalah melakukan face-to-face

antar operator untuk mengetahui kendala yang masih menyebabkan reject tersebut

terjadi dan pembuatan work instruction untuk setiap tahapan proses. Hingga

pengamatan akhir pada bulan november didapatkan kesimpulan penurunan reject

komponen guide. Hasil solusi dapat dilihat pada Gambar 4.11.

(16)

Gambar 4.11 Grafik solusi pertama

Reject terbagi menjadi empat jenis, diantaranya penyok, kerut, tidak presisi dan pecah. Pada bulan September jenis reject untuk yang penyok sejumlah 35 pcs, kerut sejumlah 33 pcs, tidak presisi sejumlah 31 pcs dan pecah sejumlah 36 pcs. Pada bulan Oktober jenis reject untuk yang penyok sejumlah 50 pcs, kerut sejumlah 27 pcs, tidak presisi sejumlah 6 pcs dan pecah sejumlah 18 pcs. Pada bulan November jenis reject untuk penyok sejumlah 0 pcs, kerut sejumlah 0 pcs, tidak presisi sejumlah 0 pcs dan pecah sejumlah 17 pcs. Keterangan hasil form checksheet reject dapat dilihat pada Gambar 4.12.

Gambar 4.12 Grafik keterangan solusi pertama

Kedua, untuk operator PT. X yang salah kirim material lajur ke supplier.

Hal tersebut terjadi karena faktor manusia (man). Solusi yang dapat diberikan untuk masalah operator salah kirim lajur adalah dengan melakukan kontrol kedua

135

101

17

September Oktober November

35 33 31 36

50

27 6

18

0 0 0

17

0 10 20 30 40 50 60

Penyok Kerut Tidak Presisi

Pecah Penyok Kerut Tidak Presisi

Pecah Penyok Kerut Tidak Presisi

Pecah

September Oktober November

Total

(17)

(dual check), dimana tujuan dual check untuk mempermudah melakukan kontrol dan tidak membuang banyak waktu operator yaitu dengan menggunakan jig khusus ukuran lajur. Penggunaan jig juga dilengkapi dengan pembuatan inspection instruction pengecekan material lajur. Penggunaan jig pada lajur ini dikhususkan untuk material lajur, sehingga tidak ada retur karena alasan salah ukuran pada material guide. Ukuran lebar jig material lajur adalah 95 mm menyesuaikan dengan perhitungan hasil potong mother coil (plat) menjadi lajur.

Sehingga ketika material lajur didapati lebarnya lebih besar dibandingkan jig, maka material lajur tersebut diganti. Jig material lajur dapat dilihat pada Gambar 4.13.

Gambar 4.13 Jig material lajur

Kedua, salah kirim ukuran lajur diketahui dengan melihat surat jalan

masuk dari supplier terkait retur material lajur. Pada awal September ditemukan

dua kali salah kirim lajur sehingga setelah usulah jig material dan inspection

instruction diberikan tidak ada surat jalan masuk retur material. Hasil solusi

kedua dapat dilihat pada Gambar 4.14.

(18)

Gambar 4.14 Grafik solusi kedua

Solusi Berdasarkan Faktor Mesin

Solsui untuk hasil potong manpower supplier kurang dari standart. Hal tersebut terjadi karena faktor mesin (machine). Kondisi sebelumnya, mesin yang digunakan supplier adalah mesin non-automated dimana penggerak lajur dilakukan oleh manpower supplier. Penggerak untuk potong atau makan lajur dengan menekan penggerak tepat di bagian bawah kanan mesin dengan menggunakan kaki. Penggerak maju dan mundurnya lajur dengan menggeser manual dengan tangan operator. Ritme kaki dan tangan diciptakan harus sesuai dalam menjalankan mesin tersebut. Sehingga ketika lajur siap untuk di potong, saat itu juga kaki kanan operator siap untuk menekan penggerak mesin.

Solusi yang dapat diberikan adalah penggunaan alat bantu pada mesin Blanking Draw. Alat bantu tersebut berupa stopper untuk mempermudah manpower supplier dalam aktual mengatur jarak potong agar tetap konsisten.

Stopper merupakan alat bantu yang paling sederhana untuk mendukung kerja manpower supplier. Alat ini bekerja dengan cara ketika lajur pertama di potong, hasil potong yang berbentuk cekung kemudian ditempelkan di stopper untuk menjadi acuan sebelum mesin potong akan makan material lajur berikutnya dan seterusnya hingga material lajur habis terpotong menjadi tiga belas. Solusi ketiga dapat dilihat pada Gambar 4.15.

2

0 0

September Oktober November

(19)

Gambar 4.15 Stopper

Penerapan bulan pertama masih terdapat banyak reject, dimana hasil potong kurang dari 13. Penggunaan stopper yang membutuhkan penyeseuaian sehingga dapat dilihat terjadi penurunan sampai pada bulan November. Hasil Solusi ketiga dapat dilihat pada Gambar 4.16.

Gambar 4.16 Hasil solusi ketiga

4.3.5 Control

Tahap control merupakan tahap untuk mengawasi pelaksanaan dari solusi yang diberikan. Tahap control ini dapat menunjukkan apakah perbaikan yang diberikan menghasilkan hasil yang lebih baik atau buruk. Tahap control untuk memastikan keberlanjutan setiap solusi yang diberikan adalah work instruction dan inspection instruction yang diterapkan di supplier. PT. X hanya perlu untuk memastikan keberadaan work instruction dan inspection instruction tepat. Jika selama proses produksi ditemukan hal-hal lain yang tidak menunjang proses

35

12

0

Sepetember Oktober November

(20)

produksi, maka work instruction dan inspection instruction dilakukan penambahan dalam bentuk revisi.

4.4 Implementasi dan Analisa Hasil Implementasi

Selisih data aktual dan sistem (varian) saat dilakukan saat stock opname dapat terjadi karena proses administrasi sistem yang tidak tepat. Proses sistem administrasi yang tidak tepat berupa, salah input dan salah perhitungan sistem varian. Saat dilakukan Genba maka ditemukan beberapa penyebab lain seperti salah kirim material, reject material yang tidak tercatat, tidak ada work instruction dan inspection instruction pada tahapan proses yang bermasalah.

Setiap solusi yang diberikan untuk temuan hasil analyze di

implementasikan membuat permasalahan proses produksi guide menurun. Namun

hasil stock opname di supplier guide pada akhir tahun Desember 2018 masih

terdapat varian. Hasil stock opname periode Juli 2018 adalah 2010,97 kg dan

periode Desember 2018 adalah 1033,91 kg. Penurunan varian terjadi saat stock

opname berikutnya, namun itu belum menjadi kondisi yang diinginkan, karena

seharusnya nilai varian saat stock opname tidak ada selisih atau nol. Varian yang

menurun di periode berikutnya menjadi bukti bahwa improvement yang dilakukan

pada bulan September-November memberikan dampak walaupun hasilnya belum

sempurna.

Gambar

Gambar 4.1 Material
Tabel  4.1  merupakan  tabel  mesin  di  PT.X.  Mesin  cutting  ini  memiliki  fungsi  untuk  melakukan  potong  lembar  (plat)  menjadi  lajur
Tabel 4.3 Tahapan Proses Produksi di PT. X
Tabel 4.4 Tahapan Proses Produksi di Supplier
+7

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat dua usulan untuk mengatasi kecacatan dilihat dari segi method, yaitu dengan membuat work instruction yang baru dan merubah urutan proses produksi.. Perbaikan yang

operator pada proses persiapan bahan baku, pencampuran bahan pada mill base, dan memasukkan adonan kedalam mixer berjumlah 2 orang untuk mesin mixer besar.. sedangkan untuk

untuk engineered to order product adalah kegiatan dari operator saat proses produksi berlangsung, di mana operator bergerak keluar dari zona ergonomis (lebih dari

Tujuan dari pedoman klausul ini untuk merencanakan dan mengembangkan proses yang diperlukan untuk realisasi jasa, dalam hal ini alat berat dan vehicle & truck yang sesuai

Penerapan perbaikan ini dapat mempercepat lead time proses penerimaan barang karena menghilangkan 2 aktivitas perpindahan yaitu memindahkan hasil GRGI ke

Perancangan tata letak gudang merupakan salah satu metode untuk mengatur seluruh aktifitas yang ada di gudang.. Perancangan tata letak gudang berfokus kepada internal dan

Proses pelayanan kapal menunjukan terdapat 3 waste pada terminal berlian utara dan berlian timur utara yaitu kapal tugboat tidak tersedia sehingga kapal terlambat

Selain itu terdapat juga pengertian lain mengenai gudang, yaitu gudang adalah sebuah tempat dimana terjadi penghentian aliran barang dan material yang hanya akan meningkatkan