33
HASIL PENELITIAN 4.1 Sejarah Organisasi
4.1.1 Profil Prodia Klinik Laboratorium
(Sumber: www.prodia.co.id)
Gambar 4.1 Logo Prodia Klinik Laboratorium
Berdasarkan company profile (Prodia,2010:3), Prodia memaparkan bahwa dalam catatan sejarah, Prodia didirikan sebagai laboratorium kecil pada tanggal 7 Mei 1973 di kota Solo, oleh beberapa idealis yang berlatar belakang pendidikan farmasi. Dalam waktu lebih dari 30 tahun, prodia telah berkembang menjadi laboratorium klinik yang terkemuka.
Pada saat ini, Prodia adalah laboratorium Klinik yang terbesar di Indonesia.Dengan jaringan 109 cabang yang tersebar di 73 kota di 25 propinsi.Prodia mampu melayani sekitar 1,5 juta pelanggan per tahun di seluruh Nusantara.Di dukung oleh lebih 2000 karyawan yang profesional dan berdedikasi tinggi. Prodia melayani para pelanggannya yaitu para dokter, perusahaan, rumah sakit, perguruan tinggi, perusahaan farmasi, laboratorium serta institusi lain dan masyarakat umum yang membutuhkan jasanya.
Dengan modal manajemen yang tangguh, fasilitas peralatan dan layanan pemeriksaan yang berkualitas, ditambah kemampuan melayani 2000 jenis pemeriksaan, Prodia telah berperan sebagai laboatorium rujukan berskala Nasional.Laboratorium Pusat Rujukan yang berlokasi di
Kramat Raya Jakarta beroperasi 24 jam sehari , melayani rujukan dari berbagai tempat diseluruh Nusantara seperti rumah sakit, laboratorium lain dan lembaga kesehatan.
Dalam mengembangkan perannya sebagai sarana pelayanan kesehatan Prodia memilih untuk memfokuskan perhatiannya pada aspek ilmiah. Karena itu perkembangan teknologi dan sains di bidang laboratorium kedokteran senantiasa menjadi bagian dari inovasi edukasi dan pelayanan Prodia. Dengan latar belakang inilah, Prodia Memiliki reputasi laboratorium yang paling aktif menunjang berbagai kebutuhan penelitian kedokteran, untuk tujuan akademis, epidemologis, dan publikasi ilmiah. Untuk uji klinis obat, prodia juga melayani kebutuhan pemeriksaan laboratorium khusus, yang pelayanannya menjangkau hingga seluruh wilayah Asia Pasifik.
Rasa ingin memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan Prodia, Pada 15 September 2011, Prodia membuka layanan khusus anak-anak yaitu, PRODIA CHILD LAB. Prodia Child Lab merupakan layanan yang ditujukan untuk anak, dengan desain ruang bertema anak-anak sehingga memberi kesan bahwa laboraturium klinik yang bersahabat dengan anak. Saat ini Laboratorium khusus anak ini hanya ada di Jalan Kramat Raya Jakarta, dan rencananya akan dikembangkan di wilayah Indonesia lainnya. Prodia pun bangga menjadi pionir laboratorium pertama untuk anak di Indonesia.
4.1.2 Visi, Misi & Falsafah Prodia Klinik Laboratorium Visi Prodia Klinik Laboratorium adalah:
a) Menjadi laboratorium dan pusat rujukan diagnostik terbaik dan terbesar.
b) Sebagai centre of excellence
Misi Prodia Laboratorium Klinik adalah: a) Untuk diagnosa yang lebih baik
b) Untuk si DIA yang bergabung dengan Prodia. Sedangkan Falsafah Prodia Laboratorium Klinik adalah: a) Mengutamakan pelanggan
b) Mengutamakan mutu (quality as a way of life) c) Menjaga keseimbangan bisnis dan ilmu d) Memiliki semangat "The Spirit of Prodia" e) Sikap mental positif
f) Kekompakan tim (HPTs) g) Keterbukaan
4.1.3 Kebijakan Mutu Prodia Laboratorium Klinik
Melalui kinerja berlandaskan mutu, manajemen dan karyawan Prodia memiliki komitmen untuk menghasilkan pemeriksaan dan layananan kesehatan prima yang memuaskan pelanggan dan pihak terkait, serta melakukan perbaikan berkesinambungan.
Kualitas pemeriksaan di Prodia adalah yang terbaik. Melalui sistem manajemen mutu Prodia, maka hasil terbaik itu juga didapatkan secara konsisten di setiap cabang Prodia di Indonesia. Sistem mutu tersebut meliputi :
Bagian Pengawasan Manajemen Mutu dan Technical Quality Assurance (TQA)
1. Memastikan Standard Operating Procedure (SOP) Prodia terimplementasi sempurna dan menyeluruh di setiap cabang Prodia
2. Memastikan setiap kantor cabang prodia memenuhi persyaratan ISO 9001 : 2008 dan ISO 15189
3. Melakukan program audit mutu internal dan eksternal dari badan sertifikasi secara berkala
Mengikuti Program Pemantapan Mutu Nasional dan Internasional 1. Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal - Depkes RI
2. External Quality Assurance (EQAS) Biorad - USA
3. Royal College of Pathologists of Australasia (RCPA) - Australia 4. College of American Pathologist ( CAP ) - USA
Stuktur Organisasi PT. Prodia Widyahusada
Gambar 4.2 Struktur Organisasi perusahaan PT. Prodia Widyahusada (Sumber: Prodia,2010:10)
Komisaris Utama Pendiri Utama Prodia
Bpk. Andi Wijaya, Apt., Ph. D., MBA
Pendiri Utama Prodia Gunawan Prawira
Pendiri Utama Prodia Hamdono Widjoyo
Pendiri Utama Prodia Singgih Hidayat
Vice President Marketing Dra. Luscie Pangajaya
Presiden Director Dr. Dewi Muliaty, M. Si
Vice President Finance Lina Kuswandi, M. Fin
Vice President Operation Dra. Tetty Hendrawati, M. Kes
4.2 Penyajian Data Penelitian
Penyajian data dalam penelitian ini, penulis akan memaparkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan adalah dengan menggunakan in – depth interview kepada Ketua dari divisi AWAM sekaligus Ketua Pelaksana PT. Prodia Klinik Laboratorium yang bertanggung jawab dalam Ambianc Wedding Exhibition Event yang memfokuskan pada strategi Public Relations dalam memperkenalkan premarital check up dalam Wedding Event. Adapun penyajian data yang diambil berdasarkan informan – informan ini adalah sebagai berikut:
1. Informan pertama adalah seorang Perempuan dengan inisial ML. Beliau adalah Supervisor dari divisi AWAM Pemasaran dengan Latar belakang pendidikan dibidang Public Relations (S1) dari Universitas Mercu Buana Jakarta. Beliau merupakan supervisor yang menanggani berbagai event yang akan di ikutsertakan oleh perusahan Prodia, yang berhubungan dengan masyarakat awam bukan dokter atau perusahaan. yang bertanggung jawab untuk mengontrol timnya dan membagi tugas pada timnya.
2. Informan kedua adalah seorang Perempuan dengan inisial H. Beliau menjabat sebagai Regional Marketing Komunikasi. Kegiatan sehari-hari beliau adalah mengurusi event yang di serahkan dari supervisor, betanggung jawab mengurus kebutuhan lapangan, sekaligus bertanggung jawab selama pengawasan selama event berlangsung, lalu membuat kuisioner untuk pengunjung, dan selesai event biasanya bertanggung jawab untuk mengevaluasi event tersebut.
3. Informan ketiga adalah seorang Pria dengan inisial DW. DW adalah pengunjung yang merupakan seorang karyawan swasta di Jakarta Barat yang akan melangsungkan pernikahan pada 28 Januari 2016. DW adalah pengunjung yang mengunjungi dan kemudian berminat untuk membeli produk Premarital Check Up dari Prodia melalui Ambiance Wedding Exhibition Event.
Pengolahan data yang terkumpul yang dilakukan oleh penulis adalah dengan meneliti secara keseluruhan data yang tersedia dari Studi Dokumentasi (Document Review) dan Observasi. Studi Dokumentasi (Document Review)
merupakan suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan - catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, sehingga akan diperoleh data yang lengkap, sah dan bukan berdasarkan perkiraan (Basrowi dan Suwandi, 2008 : 158).
Observasi dari kegiatan yang dilakukan penulis pada tanggal 28 February – 1 Maret 2014. Dalam observasi ini, penulis melakukan observasi di salah satu event yaitu event Ambiance Wedding Exhabitations di hotel Pulman dan mewawancarai salah satu pengunjung dari event tersebut yang mengikuti talkshow Premarital chack up yang digagas oleh Prodia , dalam observasi penulis mengamati bagaimana cara tim pemasaran dalam rangka menginformasikan premarital chack up pada pegunjung dan tanggapan pengunjung akan hal yang sudah di jelaskan oleh pihak tim Prodia , adapun hasil observasi yang diamati pelis melihat bahwa pengunjung rata rata merasa puas akan penjelasan yang di berikan oleh pihak tim Prodia dimana kebanyakan yang tadinya pengunjung tida mengetahui akan aa yang di sebut premarital menjadi lebih mengetahui setelah menerima informasi akan hal tersebut. Observasi merupakan metode atau cara – cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung (Basrowi dan Suwandi, 2008 : 93 - 94).
Dokumentasi yang berhasil penulis kumpulkan dari perusahaan meliputi sejarah perusahaan, profil perusahaan, majalah perusahaan, buku – buku perusahaan, dan kegiatan kerja perusahaan. Selain itu adapun dokumentasi lain yang penulis dapatkan dari luar perusahaan meliputi artikel – artikel, jurnal, buku, dan internet, dokumentasi yang berkaitan dengan event didapat penulis berupa hasil wawancara, document tertulis dan juga foto padasaat berlaungsungya event tersebut.
Penulis juga mendapatkan hasil penelitian yang lebih dalam dengan melakukan in – depth interview kepada para narasumber. Wawancara mendalam (in – depth interview) merupakan percakapan dengan maksud tertentu oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) sebagai pengaju atau pemberi
pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) sebagai pemberi jawaban atas pertanyaan itu (Basrowi dan Suwandi, 2008 : 127).
Dengan melakukan wawancara mendalam kepada narasumber maka penulis mendapatkan hasil dan tujuan penelitian secara langsung melalui tatap muka dengan melakukan tanya jawab menggunakan atau tanpa daftar (list) wawancara. Penulis melakukan wawancara dengan Ketua Pelaksana atau Ketua Public Relations divisi Awam Prodia yang bertanggung jawab dalam memperkenalkan premarital check up dalam Ambiance Wedding Exhibition Event.
Dalam penelitian ini, penyajian datanya akan dibuat dalam bentuk deskriptif yaitu data dikumpulkan berupa kata - kata, gambar, dan bukan angka. Laporan penelitiannya akan berisi kutipan - kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, foto, videotape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya (Basrowi dan Suwandi, 2008 : 28).
Wawancara yang penulis lakukan kepada narasumber menyangkut bagaimana strategi Public Relations dalam memperkenalkan premarital check up kepada para calon mempelai yang menjadi target. Berikut adalah hasil wawancara dari peneliti dengan narasumber dengan mengunakan wawancara mendalam dan semi terstruktur, wawancara dilakukan dua kali dengan hari dan jam yang berbeda di mana pada wawancara pertama penulis belum merasa cukup menjawab jadi dilakukan wawancara kedua dan hal tersebut di lakukan kepada narasumber yang sama, berikut hasil yang didapat oleh peneliti setelah melakukan dua kali wawancara semi terstruktur.
Tabel 4.1 Ringkasan Wawancara Semi Terstruktur dengan Magdalena Lubis Dari hasil yang didapatkan dari dua kali hasil wawancara di dapatkan hasil sebgaiman berikut :
Narasumber : Magdalena Lubis
Berdasarkan hasil wawancara dengan Magdalena Lubis selaku Ketua Public Relations divisi AWAM Prodia Laboratorium Klinik dapat disimpulkan bahwa yang melatar belakangi Prodia Laboratorium Klinik dalam keikutsertaaannya dalam Ambiance Wedding Exhibitions dan menggunakan mengunakan strategi public relations melalui event tersebut dibandingkan strategi public relations yang lain karena dengan mengunakan strategi event lebih dapat menjangkau pasar secara tepat, yang ingin dituju dimana dalam memperkenalkan produk ini yaitu pasangan sebelum melangsungkan pernikahan, dan masyarakat kebanyakan yang juga belum mengetahui akan produk ini jadi dengan event menjadi suatu cara yang efektif karena melalui event dapat berinteraksi dengan masyarakat dan dapat mengedukasi mereka secara langsung. Meskipun selama ini Prodia Laboratorium Klinik mengunakan web, majalah atau radio juga untuk memperkenalkan produk premarital check up tersebut, tapi strategi menggunakan media-media itu bersifat atau membangun komunikasi satu arah, dimana masyarakat yang menjadi target hanya menerima informasi dan belum tentu mereka paham dengan benar apa yang akan di sampaikan. Alasan penting lainnya atas keikutsertaan Prodia Laboratorium Klinik dalam Ambiance Wedding Exhibitions adalah untuk memperkenalkan karena yang hadir dalam Ambiance Wedding Exhabitations yaitu pasangan yang akan melangsungkan pernikahan, jadi cocok bila Prodia mengikuti event tersebut untuk memperkenalkan produk Premarital check up, untuk pasangan sebelum menikah, dengan demikian di harapkan ketika mereka datang dalam event dengan menginginkan konsep pernikahan yang mereka harapkan mereka juga dapat menganggap Premarital check up ini adalah suatu yang penting yang perlu dilakukan, ketika mereka mendapatkan edukasi dari Prodia berupa Talk Show yang Prodia adakan guna masyarakat akan semakin mengerti dan memahami. Tujuan Strategi public relations yang dilakukan dalam event Ambiance wedding exhabitation yaitu, untuk membangun awareness agar orang menjadi mengetahui pentingnya cek up premarital ini untuk pasangan sebelum menikah, lalu untuk dapat menjangkau anak – anak muda yang masih tidak mengenal Prodia menjadi mengenal dan mengetahui Prodia Laboratorium Klinik ketika Prodia mengikuti event Ambiance wedding
exhibitions ini, selain itu juga dihapakan kedepanya dengan informasi yang masyarakat dapatkan masyarakat dapat berbagi informasi ini kepada teman sebaya mereka, dan mereka dapat mengetahui Prodia Laborratorium Klinik memiliki Produk Premarital Check UP. Yang menjadi sasaran dalam event Ambaince weeding exhibitions ini adalah adalah kaula muda, anak–anak muda yang datang pada event Ambiance Wedding Exhibitions ini memang mungkin mereka datang tidak langsung tertarik dan berminat tapi Prodia dengan motonya yaitu “menanam dulu baru menui nantinya,” jadi Prodia secara konsisten memberikan masyarakat pemahaman dahulu lalu agar di masa depan akan tertarik untuk menggunakannya. Menurut penuturan narasumber dapat dikatakan event ambiance wedding exhibition tersebut dianggap berjalan sesuai tujuan dan mencapai tujuan yang diinginkan, melihat dari kuisioner yang dibagikan Prodia pada saat event tersebut berlangsung event ini dapat mencapai tujuan yang diinginkan Prodia, karena sebagian besar masyarakat yang berkunjung ke event tersebut merasa lebih memahami premarital check up setelah mendapat informasi dari Prodia yang terus mengedukasi mereka. Selain itu peluang lainnya diperoleh Prodia karena banyak wedding–wedding expo yang mengundang Prodia untuk mengikuti event mereka, secara tidak langsung keikutsertaan Prodia dalam event tersebut juga berarti telah mendapat mitra baru. Hambatan Internal yang terjadi dalam pelaksanaan event ambiance wedding exhibitions tidak ada hambatan yang berarti, karena tim sudah biasa melakukan dan mengikuti wedding expo seperti ini, dan mereka sudah mengetahui apa yang menjadi tujuan dan yang harus dilakuakan. Hambatan secara eksternal juga tidak ada hambatan exteral yang begitu berarti, karena kalau target pengunjung yang mengunjung atau menghadiri acara Prodia sudah melebihi target. Magdalena Lubis menyatakan bahwa strategi public relations berupa kegiatan event akan terus dilakukan setelah hasil yang dicapai pada event Ambiance Wedding Exhibitions maka akan terus mengunakan strategi public relations melalui event untuk memperkenaan Premarital check up karena di anggap cocok, lebih efisien dan efektif.
Tabel 4.2 Ringkasan Wawancara Semi Terstruktur dengan Herlina Dari hasil yang didapatkan dari dua kali hasil wawancara di dapatkan hasil sebgaiman berikut :
Narasumber : Herlina
Jabaatan : Regional Marketing Komunikasi di bagian pemasaran AWAM
Herlina berpandangan bahwa yang melatarbelakangi keikutsertaaan dalam event Ambiance Wedding Exhibition adalah lebih kepada pembentukan pencitraan jangka panjang. Dalam kaitan ini, saat konsumen mengenali suatu produk yang namanya Premarital Check Up, maka mereka akan mengkaitkannya dengan Prodia Laboratorium Klinik. Sehingga strategi event dalam Ambiance Wedding Exhibition tersebut dapat dianggap sebuah strategi yang tepat karena dapat mempengaruhi langsung pengunjung yang menjadi sasaran dalam event tersebut. Berbagai persiapan demi sukses dan lancarnya keikutsertaan dalam event inipun dilakukan dengan matang, dari mulai perencanaan, persiapan, pembentukan staf Public Relations yang ditugaskan dengan menggabungkan antara Public Relations Prodia yang senior dengan junior agar bisa saling menutupi kekurangan. Berbagai dukungan baik material maupun non material juga diberikan oleh Prodia Laboratorium agar target-target event bisa tercapai. Dapat dikatakan bahwa melalui karena pesiapan yang matang dan dukungan dari manajemen Prodia yang sangat tinggi, maka tidak ada hambatan internal yang berarti selama event berlangsung. Keberhasilan atau ketidakberhasilan event ini dalam jangka panjang dapat dilihat sekitar lima tahun lagi, didasarkan bahwa tujuan dari keikutsertaan event adalah edukasi dan minimal pihak Prodia bisa melihat indikator keberhasilannya minimalnya satu tahun.
Tabel 4.3 Ringkasan Wawancara Semi Terstruktur dengan Dicky Widjaya Dari hasil yang didapatkan dari dua kali hasil wawancara di dapatkan hasil sebgaiman berikut :
Narasumber : Dicky Wijaya
Jabaatan : karyawan swasta / Pengunjung Event Ambiance Wedding Exhibitions Berdasarkan hasil wawancara dengan Dicky Widjaya yang merupakan salah seorang pengunjung Ambiance Wedding Exhibitions dapat disimpulkan bahwa pengunjung sangat tercerahkan melalui adanya atau keikutsertaan Prodia Laboratorium Klinik menjadi salah satu yang mengambil bagian dalam event tersebut. Pengunjung merasa bahwa setelah keikutsertaannya dalam event tersebut, pengetahuannya mengenai Premarital Check Up menjadi lebih tinggi dan mendorong minatnya untuk menggunakan jasa pemeriksaan produk tersebut untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan calon pasangannya. Informasi dan penjelasan-penjelasan yang rinci dan lengkap akan apa itu premarital check up, dan manfaatnya bagi para pasangan yang akan melangsungkan pernikahan membuat Dicky semakin peduli akan pentingnya kesehatan baginya dan pasangannya.
Penulis menggunakan tiga cara dalam mengolah data terkait dengan strategi Public Relations dalam memperkenalkan premarital check up dalam Ambiance Wedding Exhibition Event yaitu melalui Tujuan Event, Klasifikasi Khalayak, Pesan, dan Saluran Media.
Menurut Jurnal Dina dan Purtanto yang berjudul: “Strategi Komunikasi Pemasaran Melalui Event Dalam Pembentukan Brand Equity,” alur perencanaan dalam suatu event dapat dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut:
a. Tujuan Event
Tujuan event merupakan langkah pertama dalam perencanaan event untuk menentukan komunikasi pada event
b. Klasifikasi Khalayak
Langkah berikutnya adalah menentukan klasifikasi khalayak sasaran untuk menyampaikan suatu pesan pada event menurut sumber data yaitu melalui wawancara.
c. Pesan
Setelah mengetahui target event, maka langkah selanjutnya dalam perencanaan event adalah mengetahui pesan apa yang akan disampaikan saat event berlangsung sejalan dengan tujuan dari event diadakan. d. Saluran Media
Penyampaian pesan ini lebih kepada keseluruhan proses awal sampai eksekusi event, di dalam rangka agar pesan yang disampaikan diterima pengunjung atau target secara baik dan utuh. Saluran media yang digunakan dalam penyampaian pesan event adalah:
1) Saluran media secara personal oleh pihak event management atau public Relations, dan saluran personal ini terkait dengan word of mouth.
2) Saluran media melalui pemberitaan sosial media, yaitu saluran media yang digunakan melalui penggunaan teknologi media seperti web site, twitter, dan facebook.
3) Saluran media saat event berlangsung seperti penggunaan spanduk di tempat berlangsungnya event.
Premarital check up adalah produk yang relatif baru di Indonesia, sehingga langkah-langkah strategis diinisiasi oleh Prodia di dalam rangka untuk memperkenalkan produk tersebut kepada masyarakat agar bisa memahami dan mengerti tentang arti pentingnya premarital check up, sehingga kemudian dapat membeli produk tersebut sebagai ukuran keberhasilan dari langkah-langkah strategis melalui Public Relations Prodia.
Dalam pembahasan ini, strategi Public Relations di dalam memperkenalkan Premarital Check Up melalui Ambiance Wedding Exhibition Event menggunakan alur perencanaan dalam suatu event sebagai berikut:
a. Tujuan Event
Tujuan keikutsertaan event dalam Ambiance Wedding Exhibition oleh Prodia di dalam rangka memperkenalkan Premarital Check Up adalah bertujuan untuk memberikan awareness, karena melalui terciptanya kesadaran terlebih dahulu di ingatan pelanggan atau masyarakat, maka akan mendorong minatnya untuk memahami dan mengerti arti pentingnya produk Premarital Check Up bagi mereka.
Menurut ML selaku narasumber penelitian mengatakan bahwa:
“Kita kan tujuannya awareness, minimal supaya orang bisa mengetahui bahwa ada premarital check up lo sebelum orang menikah, pasti awareness dahulu tahu arti pentingnya produk ini dan manfaatnya bagi mereka, jadinya intinya membangun awareness,”
Awareness yang dilakukan oleh pihak Prodia dalam rangka
memperkenalkan produk Premarital Check Up adalah melalui talkshow yang menghadirkan tenaga ahli yaitu dokter untuk memberikan penjelasan tentang pentingnya Premarital Check Up, arti pentingnya dan manfaatnya bagi para calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan.
Awareness yang dilakukan oleh Prodia itu juga lebih menggunakan cara-cara edukasi melalui penyampaian informasi, sehingga masyarakat atau calon pelanggan bisa memperoleh banyak informasi mengenai Premarital Check Up dalam Ambiance Wedding Exhibition Event ini.
Seperti yang dikatakan oleh ML:
“Awareness itu kan termasuk informasi sekaligus edukasi, jadi kita ngadakan di wedding event, itu ngebangun awareness dan edukasi bahwa pentingnya dan manfaatnya premarital check up bagi mereka.”
Selain awareness tujuan dari keikutsertaan Prodia dalam Ambiance Wedding Exhibition Event adalah pencitraan perusahaan agar pada saat pelanggan sudah mendengarkan dan sudah memahami produk Premarital Check Up, dalam jangka panjang mereka secara langsung atau tidak langsung dapat mengkaitkannya dengan citra Prodia sebagai pelopor Premarital Check Up di Indonesia. Hal ini senada dengan pernyataan dari Regional Marketing Komunikasi yaitu H selaku narasumber penelitian yang menyatakan:
“Sebenarnya tujuannya lebih branding, jadi tujuannya yaitu yang ada di benak konsumen itu adalah Prodia saat mengingat produk premarital check up, jadi pas ingat premarital check up, ingat Prodia.”
Berdasarkan penjelasan dari kedua narasumber penelitian diatas, jelas bahwa tujuan dari keikutsertaan dalam Ambiance Wedding Exhibition Event tersebut adalah bertujuan secara mikro dan makro. Secara mikro artinya bertujuan untuk menciptakan awareness melalui informasi dan edukasi tentang arti penting dan manfaat produk Premarital Check Up bagi masyarakat sehingga mereka lebih mengetahui, dan lebih memahami tentang produk tersebut. Dan secara makro, bahwa perkenalan Premarital Check Up melalui event tersebut dapat menciptakan pencitraan Prodia di kalangan masyarakat. Hal senada diungkapkan oleh ML bahwa:
“Tujuan kita dalam event tersebut tercapai karena kita berhasil mencapai tujuan edukasi atau membangun awareness tentang pentingnya premarital check up, tapi kalau berhasil dilihat dari efektivitas dan efisien dan itu berhasil karena orang jadi tahu tentang premarital check up kalau efisien itu biaya karena biaya selama event tersebut efisien, karena tidak menggunakan banyak iklan dan dalam sebuah event kan pengunjunga akan banyak yang datang pada tempat tersebut dan lagsung bertemu secara langsung dengan mereka .”
Tujuan event yang dilakukan oleh Prodia dalam bentuk seminar tersebut cukup berhasil menarik minat pengunjung dalam upaya penyampaian informasi dan edukasi mengenai premarital check up, karena Public Relations Prodia berusaha semaksimal mungkin menggunakan strategi-strategi komunikasi yang efektifnya untuk mencapai hasil optimal sehingga mencapai kesamaan makna tentang premarital check up tersebut. Terdapat langkah pertama yang telah
dilakukan Public Relations Prodia di dalam memperkenalkan produk premarital check up melalui Ambiance Wedding Exhibition event, yaitu dengan mengidentifikasi masalah, data dan fakta. Langkah ini menghasilkan rumusan tujuan kegiatan yang memuat informasi tentang Siapa sasaran komunikasi, Perubahan perilaku yang diharapkan terjadi, Kualitas perubahan dan Lokasi perubahan. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari sumber ke penerima pesan sehingga terjadi suatu kesamaan makna tentang pesan yang disampaikan antara sumber dan penerima pesan. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa setiap kegiatan komunikasi minimal harus dapat menghasilakan terjadinya kesamaan makna. Komunikasi yang menghasilkan kesamaan makna adalah komunikasi yang efektif. Proses komunikasi melibatkan empat unsur yaitu sumber komuinkasi, pesan komunikasi, saluran komunikasi dan penerima pesan komunikasi.
Berdasarkan empat unsur penentu efektivitas komunikasi, maka strategi komunikasi disusun berdasarkan keempat unsur tersebut, ada tiga tujuan utama strategi komunikasi yang ingin dicapai, yaitu: memastikan bahwa penerima pesan memahami isi pesan yang diterimanya, memantapkan penerimaan pesan dalam diri penerima sasaran dan memotivasi kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan implikasi pesan.
b. Klasifikasi Khalayak
Premarital Check Up merupakan produk pemeriksaan laboratorium untuk pemeriksaan kesehatan untuk para calon pengantin, sehingga klasifikasi target yang menjadi sasaran edukasi atau awareness dari pelaksanaan event ini adalah calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan. Sehingga tepat, jika pelaksanaan eventnya juga dimasukkan dalam sebuah acara Wedding Expo seperti Ambiance Wedding Exhibition Event karena sasaran-sasaran pengunjung atau pelanggan yang menjadi target dalam event tersebut adalah pasangan yang berencana akan melangsungkan pernikahan.
Menurut ML selaku narasumber penelitian mengatakan bahwa:
“Strateginya kan sudah dikasih tahu ya, bahwa akan mencapai tujuan yaitu melalui event prewedding, minimal calon-calon pengantin yang akan
melangsungkan pernikahan bisa mengikuti paket-paket prewedding, jadi harga bisa lebih murah karena disatukan dengan paket pernikahan.”
Calon pengantin adalah para calon yang sudah mempersiapkan segala sesuatu terkait dengan pernikahan, sehingga pernikahan yang dianggap kebanyakan masyarakat sebagai peristiwa sakral, berarti dan penting dalam kehidupan seseorang, besarnya pengeluaran yang diberikan untuk mencapai hasil maksimal berusaha ditempuh oleh para calon pasangan dalam menentukan keputusan paket pernikahan seperti apa yang dapat memberikan persiapan maksimal selama proses pernikahan berlangsung. Dalam hal ini, strategi Public Relations yang dilakukan oleh Prodia melalui Ambiance Wedding Exhibition dimana para calon pengantin merupakan target utama dari event ini adalah tepat dan paket pelayanan Prodia terkait dengan Premarital Check Up yang dipadukan ke dalam paket Prewedding lainnya merupakan strategi ampuh untuk menjangkau target potensial, sehingga ini dinilai efektif dalam meraih klasifikasi khalayak.
Prodia mendelegasikan tugas pengenalan Premarital Check Up dalam Ambiance Wedding Exhibition Event tersebut melalui Divis Konsumen bagian Marketing Komunikasi, agar penyampaian pesan produk dapat dikomunikasikan ke sasaran dengan efektif.
Seperti yang dikatakan oleh ML bahwa:
“Kita ini adalah divisi customer yaitu bagian dari divisi marketing communication, jadi kita bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan produk premarital check up ini kepada pelanggan awan.”
Dengan demikian, Prodia dapat memaksimalkan keberhasilan event tersebut, dimana perangkat-perangkat yang digunakan dalam rangka informasi dan edukasi terkait dengan produk Premarital Check Up menggunakan divisi khusus di bidang komunikasi pemasaran sehingga dapat mengefektifkan tercapainya tujuan yaitu terciptanya awareness dan branding atas Prodia sebagai pelopor produk Premarital Check Up.
Khalayak yang menjadi target dalam event tersebut yaitu calon pengantin atau pengunjung potensial menjadi indikator, dimana pengunjung atau calon
pengantin banyak menghadiri talkshow yang diadakan Prodia dalam event tersebut, selain itu juga banyaknya pengunjung ke stand dan mengisi kuesioner mengenai produk Premarital Check Up tersebut serta banyaknya pengunjung atau calon pengantin yang langsung mendaftar sebagai pelanggan Premarital Check Up dari Prodia. Seperti yang dikatakan oleh ML bahwa:
“Kalau masalah keberhasilan, ya kita cukup berhasil karena beberapa indikator antara lain pertama: banyaknya peserta yang datang ikut dalam talkshow saat kami melakukan edukasi tentang produk premarital check up ini, kedua: kemudian banyaknya pengunjung yang datang ke stan kita untuk mengisi kuesioner, ketiga: banyak juga yang berminat melakukan pemeriksaan di tempat, bahkan langsung bayar di tempat supaya mereka bisa langsung ke Prodia untuk lakukan pemeriksaan, selain itu banyak juga di Wedding-wedding Expo akhirnya banyak yang menawarkan kerjasama ke Prodia untuk mengisi pameran-pameran mereka untuk mengisi dan mengedukasi, dan itu dilatarbelakangi bahwa banyaknya permintaan dari expo-expo tersebut agar Prodia hadir di acara tersebut untuk memperkenalkan dan mengedukasi premarital check up tersebut.” Keberhasilan Public Relations Prodia dalam memperkenalkan Premarital Check Up kepada target pengunjung atau khalayak karena strategi-strategi komunikasi yang dilakukannya terkait dengan target sasaran dalam proses komunikasi yang dilakukan dengan tepat. Target sasaran dalam proses komunikasi adalah penerima pesan, dengan mengetahui target sasaran dapat disusun strategi komunikasi yang hendak dilakukan terkait dengan isi pesan, penentuan metode komunikasi dan pemilihan saluran pesan yang sesuai dengan isi pesan. Keefektivan dalam pengenalan target sasaran akan tergantung pada tujuan komunikasi yang hendak dicapai, sehingga membuat target mengetahui tentang sesuatu yang akan disampaikan atau dimaksudkan agar target melakukan tindakan tertentu sesuai pesan yang disampaikan padanya.
Setelah target sasaran atau penerima komunikasi ditetapkan maka sumber komunikasi perlu mengetahui target sasaran dalam hal : Ciri-ciri personal seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jumlah keluarga dalam hal ini yang menjadi target sasaran komunikasi adalah pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. Mengenal sistem sosial budaya penerima pesan, meliputi bahasa
yang digunakan, persepsi mereka tentang sesuatu yang dikomunikasikan, sikap mereka terhadap perubahan misalkan tanggapan dan responnya terhadap pesan mengenai Premarital Check Up ini adalah dampaknya terhadap pasangan mereka apabila hasil pemeriksaan dalam paket premarital check up ini adalah buruk. Cara dan kebiasaan target berkomunikasi, lebih banyak menggunakan media atau komunikasi tatap muka / langsung. Minat penerima terhadap perubahan. Status penerima, mandiri atau kelompok dan Tingkat pengetahuan penerima terhadap isi pesan. Sehingga pemahaman tentang tingkat pengetahuan target sasaran mengenai materi yang akan dikomunikasikan akan memudahkan terjadinya penerimaan perubahan. Komunikasi tentang sesuatu yang relatif sudah pernah didengar akan lebih muda diterima dibanding sesuatu yang jarang didengar atau sama sekali asing bagi penerima.
c. Pesan
Indikator-indikator keberhasilan Prodia dalam memperkenalkan Premarital Check Up tersebut, merupakan keberhasilan dari strategi Public Relations Prodia yang dapat mencapai target yang direncanakan. Hal ini karena pesan yang disampaikan atau dikomunikasikan oleh Public Relations di lapangan atau saat event berlangsung sudah memiliki kemampuan dan pengetahuan akan produk Premarital Check Up sehingga mendukung sampainya informasi kepada pengunjung atau calon pelanggan hingga mereka mau ikut serta dalam talkshow dan bahkan membeli produk Prodia. Tidak adanya hambatan internal karena tim Public Relations Prodia mampu mengelola para anggotanya sehingga mereka mampu bekerja maksimal pada saat event berlangsung. H selaku narasumber penelitian mengatakan bahwa:
“Tidak ada hambatan internal di tim selama pelaksanaan event tersebut saat memperkenalkan premarital check up karena kita pasangkan senior dan junior agar mereka saling menutupi kekurangan saat menginformasikan dan mengedukasi pelanggan.”
Kemampuan para tim pemasaran divisi awam dalam mengkomunikasikan dan menginformasikan tentang produk Premarital Check Up karena mereka memahami tujuan utamanya sebagai Public Relations dalam event tersebut yaitu informasi dan edukasi. Seperti yang dikatakan oleh ML bahwa:
“Tujuan kita itu adalah informasi artinya agar orang tahu apa sih premarital check itu, apa tujuannya dan apa manfaatnya. Tapi juga edukasi agar orang tahu lebih mengetahui secara mendalam dan luas, melalui talkshow.”
Faktor lain yang mendorong optimalnya pencapaian tujuan informasi dan edukasi adalah motivasi anggota tim pemasaran awam Prodia sehingga mereka dengan sukarela mampu mengoptimalkan kemampuan untuk mencapa tujuan . ML menyatakan bahwa:
“Kita sih sudah termotivasi yang membuat kita mau melakukan ini, motivasi kita ingin memberikan nilai tambah kepada pelanggan, oleh karena itu motivasi kita ingin mengedukasi terhadap pelanggan atau awareness.”
Motivasi tinggi dari anggota pemasaran Awam dalam mengkomunikasikan pesan tentang Premarital Check Up didukung tidak hanya dari komitmen dan kemampuan tim pemasaran awam dalam memperkenalkan Premarital Check Up kepada para pelanggan, tetapi karena juga dukungan dari perusahaan. Seperti yang dikatakan oleh H bahwa:
“Selama persiapan hingga evaluasi, kita beri dukungan karena kita kerja tim, apa yang dibutuhkan untuk suksesnya event tersebut, kita dukung dan kita juga membantu untuk melakukan perbaik-perbaikan selama event berlangsung.”
Faktor-faktor dukungan itulah yang mendorong tim pemasaran awam dapat mengoptimalnya usaha-usahanya, sehingga mempengaruhi motivasinya secara positif untuk mengerahkan segala kemampuannya untuk mengkomunikasikan dan menginformasikan produk Premarital Check Up kepada khalayak yang ditargetkan secara efektif. Pembelajaran dari masa lalu atas berhasil atau tidaknya event dari masa-masa sebelumnya membuat tim pemasaran awam Prodia dapat meningkatkan tingkat koordinasinya dan meningkatkan kekompaknnya guna meminimalisir masalah-masalah yang ada. Seperti yang dikatakan oleh ML bahwa:
“Selama event, karena tim kita kompak, maka tidak ada kendala berarti, sehingga kendala-kendala dapat diminimalisir, karena kita juga sudah banyak belajar dari pengalaman, dimana kendala berat itu sudah dirasakan pas pertama kali event ini berlangsung sekitar enam atau tujuh tahunan yang lalu.”
Kekompakan yang dimiliki oleh Public Relations Prodia dalam memperkenalkan Premarital Check Up yang terus dibinanya telah membuatnya mampu membawakan pesan secara efektif dalam menjalankan fungsi-fungsi Public Relations dalam event Ambiance Wedding Exhibition tersebut. Hal ini karena disamping mengenal penerima komunikasi dengan baik, komunikator telah mendisain pesan yang akan disampaikan sehingga mampu membangkitkan minat dan perhatian penerima terhadap pesan yang disampaikan. Ada empat hal yang telah dilakukan Public Relations Prodia sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima, yaitu : (1) Pesan disusun, direncanakan dan disampaikan secara menarik. Keterampilan komunikator (sumber komunikasi) dalam merencanakan dan mengkemas pesan sehingga menarik perhatian sangat diperlukan. (2) Pesan telah menggunakan simbol-simbol yang di dasarkan pada kesamaan pengalaman antara sumber dan penerima pesan dalam memahami simbol-simbol tersebut. (3) Pesan telah dapat membangkitkan kebutuhan pribadi penerima pesan dan mampu memberi saran tentang cara untuk mencapai kebutuhan dari pesan yang disampaikan. (4) Pesan telah dapat memberikan alternatif bagi penerima untuk memenuhi kebutuhan akan informasi secara layak, baik untuk kepentingan individu maupun kelompok.
d. Saluran Media
Selama event berlangsung, tim pemasaran awam Prodia menggunakan tiga saluran media untuk menginformasikan dan menyampaikan informasi produk Premarital Check Up. Seperti yang dikatakan oleh ML bahwa:
“Talkshow, publikasi melalui flayer, webside, tetapi kita kerjasama sama vendor, dan di hari H-nya talkshow dengan narasumber dokter, sama penjualan langsung sebagai strategi memperkenalkan premarital check up kepada target.” Perusahaan mensiasati publikasi mengenai produk Premarital Check Up ini melalui berbagai media yang digunakannya. Saluran media melalui talkshow dengan narasumber dokter, kemudian penyebaran flayer di setiap cabang prodia di Jakarta dalam rangka memperkenalkan Premarital Check Up bisa dinilai lebih efektif dengan talkshow. Karena melalui saluran seperti talkshow, komunikasi antara pihak Prodia yang diwakili oleh dokter dengan pelanggan atau pengunjung yang
mendatangi talkshow bisa berkomunikasi secara interaktif, sehingga pemahaman dari pengunjung bisa lebih dalam dan lebih luas.
Menurut ML bahwa:
“Strategi melalui event wedding itu dianggap efektif karena ada beberapa aturan dari pemerintah bahwa jasa-jasa kesehatan dibatasi untuk beriklan di media televise kecuali melalui majalah, akan tetapi iklan melalui majalah dianggap kurang efektif, dan kurang interaktif.”
Meskipun demikian, penggunaan saluran-saluran media komunikasi yang digunakan Prodia ini memerlukan waktu yang lebih lama terkait dengan pengukuran keberhasilannya secara jangka panjang karena pemahaman-pemahaman orang atau masyarakat mengenai Premarital Check Up memerlukan waktu yang relatif lama juga. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh H bahwa:
“Keberhasilan juga dapat dilihat dari jangka panjang mungkin lima tahun lagi, karena sifatnya dari berhasil tidaknya dari tujuan event tersebut adalah edukasi, jadi evaluasinya tiga atau empat tahun dan minimalnya satu tahun.”
Keberhasilan event ini juga ditunjukkan melalui tercapainya target, dimana banyak orang atau calon pengantin yang ikut serta dalam talkshow yang digagas oleh Prodia dan juga banyak orang juga membeli produk Premarital Check Up. Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari DW sebagai pengunjung event yang kemudian berminat untuk menjadi pelanggan dari produk Premarital Check Up pada saat DW akan melangsungkan pernikahannya yang rencananya tahun 2016, yang menyatakan:
“Sebelum saya mengetahui lebih dalam mengenai Premarital check up dari Prodia ini saya hanya sebatas tahu check sebelum nikah, tapi sekarang setelah mengikuti event ini, saya jadi lebih tahu dan tertarik untuk melakukan tes premarital check up ini, karena penjelasan yang lengkap yang di sampaikan oleh pihak Prodia membuat saya lebih mengerti akan check up premarital ini, yang tadinya saya kira check up yang akan berdampak negative untuk kedepanya untuk hubungan pasangan bila hasil check up buruk , setelah mengetahui penjelasan yang lebih ini saya jadi lebih berfikir bahwa penting juga melakukan
check up premarital dari pada nantinya malah terlambat untuk mencegahan kalau ada apa-apa.”
4.3 Pembahasan
Berdasarkan hasil-hasil penelitian dapat menunjukkan bahwa strategi Public Relations Prodia Laboratorium Klinik dalam memperkenalkan premarital check dilakukan melalui sebuah event Ambiance Wedding Exhibition. Bagi Prodia, event ini merupakan special event karena dilakukan secara khusus dan bukan event yang selalu diikuti secara periodik baik dalam tiga bulanan, enam bulanan maupun tahunan.
Latar belakang dari keikutsertaan Prodia Laboratorium Klinik dalam usaha memperkenalkan premarital check up dalam Ambiance Wedding Exhibition ini didorong beberapa alasan penting. Pertama, produk premarital check up adalah produk dari Prodia yang menurut Public Relations Prodia kurang dikenal begitu luas di Indonesia. Sehingga Public Relations Prodia melalui event ini berinisiatif guna menginformasikan produk ini kepada masyarakat secara lebih luas. Dua tujuan utama dari keikutsertaan Prodia dalam Ambiance Wedding Exhibition tersebut yaitu pertama memberikan informasi dan kedua yaitu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya premarital check up guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat terutama bagi para pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. Menurut Public Relations Prodia, ketakutan banyak kalangan pasangan jika mengikuti premarital check ini seandainya kondisi kesehatan mereka “ditelanjangi” membuat premarital check ini sulit menjangkau masyarakat secara lebih luas. Meskipun beberapa masyarakat atau pasangan yang akan melangsungkan pernikahan dan menjadi target dari produk ini sudah sedikit mengetahui tentang premarital check up tersebut. Tujuan lainnya menurut bagian Marketing Prodia adalah membentuk citra Prodia sebagai pelopor Premarital check up di Indonesia, dimana saat event ini berlangsung akan muncul ingatan bahwa ingat premarital check up, maka ingat Prodia Laboratorium Klinik. Sehingga faktor-faktor pemeliharaan dan peningkatan branding dari Prodia ini yang menjadi tujuan utama dari pihak Marketing Prodia.
Selama event berlangsung, Public Relations Prodia mampu menginformasikan dan memberikan edukasi atas penting dan manfaat premarital check up kepada khalayak target atas beberapa faktor pendukung. Dukungan dari pihak Prodia selama event berlangsung atas kebutuhan-kebutuhan di lapangan serta komposisi Public Relations senior dan junior berbekal pengalaman Public Relations Prodia membuat Prodia mampu mengatasi hambatan-hambatan dan persoalan di lapangan dengan mudah. Kemampuan dan keterampilan Public Relations dalam menginformasikan dan mengedukasi pengunjung membuat banyak pengunjung tertarik untuk menggunakan produk pemeriksaan premarital check up ini, selain adanya ketersediaan tenaga ahli seperti Dokter yang dilibatkan selama sesi seminar dalam event tersebut. Banyaknya pengunjung yang menggunakan jasa premarital check ini dari Prodia bahkan melebihi jumlah yang ditargetkan oleh Prodia menunjukkan tingkat keberhasilan Public Relations dalam usahanya menginformasi dan mengedukasi sehingga pengunjung tertarik dan berminat untuk menggunakan produk ini.
Saat dilakukan uji triangulasi sumber untuk menguji informasi yang diperoleh dari narasumber baik dari Public Relations Prodia maupun bagian Marketing Prodia, uji triangulasi sumber dilakukan juga pada salah seorang pengunjung yang telah menunjukkan ketertarikan dan minatnya untuk menggunakan jasa produk premarital check. Pengunjung tersebut setelah menghadiri event tersebut memahami akan pentingnya premarital check bagi dirinya yang akan melangsungkan pernikahan. Pernyataan dari pengunjung yang kemudian menunjukkan ketertarikannya bahkan membeli dan menggunakan produk premarital check up dari Prodia telah membuktikan keberhasilan strategi Public Relations Prodia Laboratorium Klinik dalam memperkenalkan premarital check up dalam sebuah event Ambiance Wedding Exhibition. Hal itu karena tujuan untuk mengedukasi dan menginformasikan tentang premarital check up telah mendorong pengunjung dalam event tersebut berminat untuk menggunakannya.
Dilihat dari proses atau tahap-tahap manajemen selama event berlangsung yaitu perencanaan, pengorganisasian, leading, staffing dan pengendalian, tahap-tahap pelaksanaan sudah sesuai dengan perencanaan event. Jumlah target khalayak sudah tercapai dengan rencana, kepemimpinan sudah berjalan baik
melalui komposisi PR senior dan junior untuk memotivasi dan saling melengkapi terkait dengan keterampilan PR masing-masing. Selain itu, pengendalian dimana pihak manajemen dari AWAM dapat terus memotivasi dan memonitor agar pelaksanaan event bisa sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan. Sehingga pelaksanaan dalam event tersebut berjalan sesuai dengan harapan dan perencanaan Prodia.