• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Obyek Penelitian

Responden penelitian ini adalah mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra pada 26 program dengan jumlah minimal 368 responden menggunakan tabel Krejcie. Dari hasil penyebaran kuesioner, data yang terkumpul adalah 520 responden. Selanjutnya yang dilakukan adalah memilah responden berdasarkan kriteria yaitu merupakan mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra dan berumur antara 18-25 tahun, sehingga akhirnya data responden yang sesuai kriteria berjumlah 508 responden. Karakteristik responden berdasarkan hasil penyebaran kuesioner akan dijabarkan secara deksriptif di bawah ini:

4.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Program Studi

Populasi penelitian ini adalah mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra pada 26 program. Setiap program diwakili sejumlah sampel sesuai dengan perhitungan pada Tabel 3.1.

Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Program Program Frekuensi Minimal

Sampel Terpenuhi/Tidak

Akuntansi Bisnis 36 17 Terpenuhi

Akuntansi Bisnis

Internasional 5 3 Terpenuhi

Akuntansi Pajak 28 19 Terpenuhi

Desain Interior 28 23 Terpenuhi

Desain Komunikasi Visual 33 30 Terpenuhi

Digital Media 2 1 Terpenuhi

English for Creative

Industry 12 5 Terpenuhi

Ilmu Komunikasi 18 18 Terpenuhi

International Business

Engineering 2 1 Terpenuhi

(2)

Tabel 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Program (sambungan) International Business

Management 15 9 Terpenuhi

Manajemen Bisnis 60 39 Terpenuhi

Manajemen Keuangan 33 16 Terpenuhi

Manajemen Pariwisata 17 8 Terpenuhi

Manajemen Pemasaran 19 11 Terpenuhi

Manajemen Perhotelan 28 26 Terpenuhi

Pendidikan Guru Sekolah

Dasar 6 3 Terpenuhi

Sastra Cina 6 3 Terpenuhi

Sastra Inggris 14 7 Terpenuhi

Sistem Informasi Bisnis 8 7 Terpenuhi

Teknik Arsitektur 29 28 Terpenuhi

Teknik Elektro 9 6 Terpenuhi

Teknik Industri 18 18 Terpenuhi

Teknik Informatika 23 22 Terpenuhi

Teknik Mesin 9 7 Terpenuhi

Teknik Otomotif 7 6 Terpenuhi

Teknik Sipil 43 35 Terpenuhi

Total 508 368 Terpenuhi

4.1.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Gender

Karakteristik responden menurut gender dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Gender

Berdasarkan Gambar 4.1, dapat dilihat bahwa perbandingan jumlah responden laki-laki dan perempuan tidak terlalu berbeda jauh dengan rincian laki-

(3)

283 responden (55,7%).

4.1.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra pada 26 program terdiri dari berbagai variasi umur mulai dari 18 sampai 24 tahun. Karakteristik responden menurut usia dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Berdasarkan Gambar 4.2, dapat dilihat jumlah responden yang berusia 18 tahun sebanyak 85 responden (16,7%), usia 19 tahun sebanyak 73 responden (14,4%), usia 20 tahun sebanyak 106 responden (20,9%), usia 21 tahun sebanyak 191 responden (37,6%), usia 22 tahun sebanyak 45 responden (8,9%), usia 23 tahun sebanyak 7 responden (1,4%), dan usia 24 tahun sebanyak 1 responden (0,2%).

Mayoritas responden berusia 21 lalu dilanjut dengan usia 20 di peringkat kedua terbanyak. Responden berusia 20 dan 21 mengindikasikan responden mayoritas adalah mahasiswa semester 5 ke atas.

4.1.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Asal Daerah

Mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra berasal dari berbagai daerah yang dapat dilihat pada Gambar 4.3.

(4)

Gambar 4.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Asal Daerah

Berdasarkan Gambar 4.3, dapat dilihat bahwa mayoritas mahasiswa berasal dari Surabaya sebanyak 279 responden (54,9%). Peringkat kedua responden berasal dari Jawa Timur selain Surabaya sebanyak 98 responden (19,3%). Mahasiswa yang berasal dari Jawa Timur selain Surabaya didominasi oleh Sidoarjo, lalu sisanya seperti Malang, Pasuruan, Jember, Banyuwangi, Madiun, Kediri, dan Bondowoso.

Dilanjutkan dengan responden yang berasal dari luar Jawa sebanyak 91 responden (17,9%) seperti dari Ambon, Balikpapan, Banjarmasin, Denpasar, Kupang, Makassar, Manado, Papua, Samarinda, dan Toraja. Peringkat terakhir didapatkan oleh responden yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Barat sebanyak 40 responden (7,9%) seperti dari Jakarta, Kudus, Salatiga, Semarang, Solo, Surakarta, Tangerang, dan Yogyakarta.

4.1.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Etnis

Mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra memiliki etnis yang beragam yang dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Etnis

(5)

Berdasarkan Gambar 4.4, dapat dilihat bahwa mayoritas mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra memiliki etnis Tionghoa dengan jumlah 445 responden (87,6%), sedangkan sisanya dengan jumlah yang lebih kurang sama memiliki etnis yang termasuk KTI seperti etnis Manado, Ambon, Kupang, Rote, dan Toraja sebanyak 22 responden (4,3%), etnis Jawa sebanyak 20 responden (3,9%), dan lainnya sebanyak 21 responden (4,1%). Etnis yang tidak termasuk ke dalam etnis Tionghoa, KTI, dan Jawa dikategorikan ke dalam etnis lainnya diantaranya seperti Dayak, Batak, Banjar, Bali, dan Nias.

4.1.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Orang Tua

Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan orang tua dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Gambar 4.5, dapat dilihat mayoritas responden memiliki orang tua berpendidikan akhir S1 sejumlah 251 responden (49,4%), dilanjutkan dengan orang tua berpendidikan akhir SD/SMP/SMA sebanyak 185 responden (36,4%), S2/S3 sebanyak 40 responden (7,9%) dan yang paling sedikit adalah responden dengan orang tua berpendidikan akhir diploma sebanyak 32 responden (6,3%). Hal ini mengindikasikan mayoritas responden memiliki orang tua berpendidikan akhir yang cukup tinggi yaitu S1.

4.1.7 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua

Pekerjaan orang tua mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra dapat dibedakan menjadi wiraswasta, profesional, karyawan, dan lainnya dengan perincian yang dapat dilihat pada Gambar 4.6.

(6)

Gambar 4.6. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Gambar 4.6, mayoritas mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra memiliki orang tua yang bekerja wiraswasta sebanyak 353 responden (69,5%), selanjutnya karyawan sebanyak 129 responden (25,4%), profesional sebanyak 23 responden (4,5%), dan lainnya seperti pensiunan sebanyak 3 responden (0,6%).

4.1.8 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan Orang Tua

Tingkat pendapatan orang tua mahasiswa aktif Universitas Kristen Petra bervariasi mulai dari memiliki pendapatan ≤ Rp 4.170.000 per bulan hingga > Rp 41.700.000 per bulan. Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendapatan orang tua dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.7.Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan Orang Tua Menurut PPh Pasal 21 peraturan perpajakan tentang pajak gaji, imbalan, honorarium, dan dana pensiun, pendapatan dibedakan menjadi empat golongan:

1. Kurang dari sama dengan Rp 50.000.000 per tahun (kurang dari sama dengan Rp 4.170.000 per bulan)

(7)

2. Antara Rp 50.000.000 hingga Rp 250.000.000 per tahun (antara Rp 4.170.000 hingga Rp 20.800.000 per bulan)

3. Antara Rp 250.000.000 hingga Rp 500.000.000 per tahun (antara Rp 20.800.000 hingga Rp 41.700.000 per bulan)

4. Lebih dari sama dengan Rp 500.000.000 per tahun (lebih dari sama dengan Rp 41.700.000 per bulan)

Berdasarkan Gambar 4.7, dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki orang tua berpendapatan > Rp 4.170.000 – Rp 20.800.000 sebanyak 297 responden (58,5%), dilanjutkan dengan > Rp 20.800.000 – Rp 41.700.000 sebanyak 107 responden (21,1%), lalu pendapatan orang tua sebesar ≤ Rp 4.170.000 dan >

Rp 41.700.000 masing-masing sebanyak 52 responden (10,2% per kategori). Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas responden memiliki orang tua dengan pendapatan di atas upah minimum regional.

4.1.9 Karakteristik Responden Berdasarkan Permintaan Uang Tambahan Mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra dapat meminta uang tambahan ke orang tua apabila dibutuhkan seperti pada gambar berikut:

Gambar 4.8. Karakteristik Responden Berdasarkan Permintaan Uang Tambahan Berdasarkan Gambar 4.8, dapat dilihat bahwa mahasiswa aktif Universitas Kristen Petra yang meminta uang tambahan ke orang tua bila dibutuhkan sebanyak 364 responden (71,65%) sedangkan yang tidak meminta tambahan ke orang tua sebanyak 144 responden (28,34%). Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas mahasiswa meminta uang tambahan ke orang tua apabila dibutuhkan.

(8)

4.1.10 Karakteristik Responden Berdasarkan Uang Saku Per Bulan

Uang saku per bulan mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra bervariasi yang dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.9. Karakteristik Responden Berdasarkan Uang Saku per Bulan Uang saku mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra sangat bervariasi.

Responden diberikan kesempatan untuk menuliskan jumlah uang saku lalu seluruh uang saku yang ada dirata-rata sehingga menghasilkan angka Rp 1.677.839. Uang saku mahasiswa dikategorikan menjadi < Rp 1.677.839, > Rp 1.677.839, dan beberapa yang tidak menjawab.

Berdasarkan Gambar 4.9, dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki uang saku < Rp 1.677.839 sebanyak 291 responden (57,3%), mahasiswa dengan uang saku > Rp 1.677.839 sebanyak 183 responden (36%), dan mahasiswa yang tidak menjawab berapa uang saku yang dimiliki sebanyak 34 responden (6,7%).

4.1.11 Karakteristik Responden Berdasarkan Pemberian Uang Saku

Pemberian uang saku mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra dapat dibedakan menjadi pemberian uang saku per bulan, per minggu, per hari, atau jika saat dibutuhkan saja. Karakteristik responden berdasarkan pemberian uang saku dapat dilihat pada Gambar 4.10.

(9)

Gambar 4.10. Karakteristik Responden Berdasarkan Pemberian Uang Saku Berdasarkan Gambar 4.10, dapat dilihat bahwa mayoritas responden mendapatkan uang saku setiap bulan sebanyak 299 responden (58,9%), dilanjutkan dengan hanya jika dibutuhkan sebanyak 101 responden (19,9%), setiap minggu sebanyak 86 responden (16,9%), dan hanya 22 responden (4,3%) yang diberikan uang saku setiap hari.

4.1.12 Karakteristik Responden Berdasarkan Peran Pengelolaan Keuangan Karakteristik responden berdasarkan peran pengelolaan keuangan dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.11. Karakteristik Responden Berdasarkan Peran Pengelolaan Keuangan

Berdasarkan Gambar 4.11, dapat dilihat bahwa mayoritas mahasiswa mengelola keuangannya sendiri yang dibuktikan dengan 375 jawaban responden (73,8%), dilanjutkan dengan pengelolaan keuangan <50% oleh orang tua sebanyak 49 responden (9,6%), 50% pengelolaan keuangan oleh orang tua sebanyak 44 responden (8,7%), >50% pengelolaan keuangan oleh orang tua sebanyak 30 responden (5,9%), dan yang berada di peringkat terakhir adalah pengelolaan

(10)

keuangan mahasiswa yang sepenuhnya dilakukan oleh orang tua hanya sebanyak 10 responden (2%). Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas mahasiswa sudah dipercaya untuk mengelola keuangannya sendiri, dan hanya sebagian kecil saja yang pengelolaan keuangannya masih bergantung oleh orang tua.

4.1.13 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Tempat Tinggal

Tempat tinggal mahasiswa aktif Universitas Kristen Petra memiliki variasi diantaranya adalah tinggal bersama orang tua, tinggal bersama saudara, dan kos.

Karakteristik responden menurut tempat tinggal dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.12. Karakteristik Responden Berdasarkan Tempat Tinggal

Berdasarkan Gambar 4.12 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden mahasiswa aktif Universitas Kristen Petra tinggal bersama orang tua yaitu sebanyak 306 responden (60,2%), tinggal bersama saudara sebanyak 19 responden (3,7%), dan dilanjutkan dengan kos sebanyak 183 responden (36%).

4.1.14 Karakteristik Responden Berdasarkan Kebiasaan Keuangan

Dalam mengisi kuesioner, responden juga diberikan tambahan pertanyaan mengenai kebiasaan sebagai mahasiswa yang mempengaruhi kondisi keuangan yang dapat dilihat pada Gambar 4.13.

(11)

Gambar 4.13. Karakteristik Responden Berdasarkan Kebiasaan

Berdasarkan Gambar 4.13 dapat diketahui bahwa kebiasaan yang mempengaruhi kondisi keuangan mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra sebanyak 86 responden (16,9%) memiliki kebiasaan shopping, sebanyak 96 responden (18,9%) memiliki kebiasaan hangout dan nongkrong dengan teman di kafe terbaru, sebanyak 72 responden (14,2%) memiliki kebiasaan suka mencoba makanan baru, sebanyak 34 responden (6,7%) memiliki kebiasaan travelling, sebanyak 38 responden (7,5%) memiliki kebiasaan menghabiskan uang untuk hobi, sebanyak 54 responden (10,6%) memiliki kebiasaan shopping dan hangout, sebanyak 28 responden (5,5%) memiliki kebiasaan shopping dan kuliner, sebanyak 32 responden (6,3%) memiliki kebiasaan shopping, hangout, kuliner, dan travelling, serta sebanyak 68 responden (13,4%) memiliki kebiasaan lainnya yang tidak termasuk dalam kategori, namun mayoritas kebiasaan lainnya berkaitan dengan tugas kuliah yang membutuhkan pengeluaran yang cukup tinggi.

4.2 Analisis Deskriptif Variabel Penelitian

Deskriptif jawaban responden pada variabel financial behavior, emerging adulthood status, dan sensation seeking dilakukan dengan beberapa langkah, yaitu melihat skala likert dari jawaban responden seperti pada Tabel 3.2. Langkah selanjutnya adalah dengan menghitung frekuensi setiap jawaban responden, lalu menghitung nilai rata-rata (mean). Selanjutnya nilai rata-rata jawaban responden dikategorikan sesuai dengan Tabel 3.3.

(12)

4.2.1 Financial Behavior

Variabel financial behavior pada penelitian ini diukur dengan 8 (delapan) indikator yang disajikan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Deskripsi Jawaban Responden Variabel Financial Behavior FB Frekuensi

Persentase STS TS N S SS Rata-

Rata Kategori FB1 Frekuensi 64 124 123 95 102

3.09 Menengah Persentase 12.6% 24.4% 24.2% 18.7% 20.1%

FB2 Frekuensi 33 80 411 173 81

3.37 Menengah Persentase 6.5% 15.7% 80.9% 34.1% 15.9%

FB3 Frekuensi 46 95 135 130 102

3.29 Menengah Persentase 9.1% 18.7% 26.6% 25.6% 20.1%

FB4 Frekuensi 17 34 65 168 224

4.08 Tinggi Persentase 3.3% 6.7% 12.8% 33.1% 44.1%

FB5 Frekuensi 5 22 69 186 226

4.19 Tinggi Persentase 1.0% 4.3% 13.6% 36.6% 44.5%

FB6 Frekuensi 24 102 142 122 118

3.41 Menengah Persentase 4.7% 20.1% 28.0% 24.0% 23.2%

FB7 Frekuensi 26 55 100 159 168

3.76 Tinggi Persentase 5.1% 10.8% 19.7% 31.3% 33.1%

FB8 Frekuensi 104 146 124 62 72

2.71 Menengah Persentase 20.5% 28.7% 24.4% 12.2% 14.2%

Rata-Rata 3.49 Menengah

FB1 terkait pencatatan pengeluaran secara rutin, FB2 terkait pengeluaran sesuai dengan anggaran, FB3 terkait pemeriksaan kembali setiap nota yang diterima, FB4 terkait perilaku mempertahankan saldo dalam rekening yang cukup, FB5 terkait pembayaran tagihan atau hutang tepat waktu, FB6 terkait perilaku menabung secara rutin, FB7 terkait perilaku menyisihkan uang sebagai dana darurat, FB8 terkait perilaku menyisihkan uang untuk diinvestasikan.

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa FB4, FB5, dan FB7 tergolong kategori tinggi yang berarti mayoritas mahasiswa memiliki kecenderungan financial behavior seperti selalu mempertahankan saldo rekening yang cukup, selalu membayar hutang tepat waktu, dan selalu menyisihkan uang sebagai dana darurat. Mean jawaban responden sebesar 3,49 berada pada interval 2,34-3,67

(13)

masuk kategori skor menengah. Skor menengah mengindikasikan bahwa mahasiswa Universitas Kristen Petra melakukan setiap indikator financial behavior namun belum menjadi kebiasaan yang selalu dilakukan.

4.2.2 Emerging Adulthood Status

Variabel emerging adulthood status pada penelitian ini diukur dengan 3 (tiga) indikator yang disajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.3. Deskripsi Jawaban Responden Variabel Emerging Adulthood Status EA Frekuensi

Persentase STS TS N S SS Rata-

Rata Kategori

EA1 Frekuensi 0 8 37 194 269

4.43 Tinggi Persentase 0.0% 1.6% 7.3% 38.2% 53.0%

EA2 Frekuensi 1 9 84 230 184

4.16 Tinggi Persentase 0.2% 1.8% 16.5% 45.3% 36.2%

EA3 Frekuensi 0 8 51 204 245

4.35 Tinggi Persentase 0.0% 1.6% 10.0% 40.2% 48.2%

Rata-Rata 4.31 Tinggi

EA1 terkait kemampuan bertanggung jawab terhadap diri sendiri, EA2 terkait kemampuan mengambil keputusan secara mandiri, dan EA3 terkait kemampuan memenuhi kebutuhan keuangan secara mandiri. Dari Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa semua indikator berada pada kategori tinggi sehingga mean jawaban responden sebesar 4,31 berada pada interval 3,68-5,00 yang menunjukkan bahwa emerging adulthood status mahasiswa Universitas Kristen Petra termasuk kategori skor tinggi. Skor tinggi pada setiap indikator dan rata-rata jawaban emerging adult mengindikasikan bahwa mahasiswa Universitas Kristen Petra sangat bertanggung jawab terhadap diri sendiri, sering mengambil keputusan secara mandiri, dan sangat mampu untuk memenuhi kebutuhan keuangannya sendiri.

(14)

4.2.3 Sensation Seeking

Variabel sensation seeking pada penelitian ini diukur dengan 8 (delapan) indikator yang disajikan pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4. Deskripsi Jawaban Responden Variabel Sensation Seeking SS Frekuensi

Persentase STS TS N S SS Rata-

Rata Kategori

SS1 Frekuensi 19 71 106 162 150

3.69 Tinggi Persentase 3.7% 14.0% 20.9% 31.9% 29.5%

SS2 Frekuensi 24 77 110 145 152

3.64 Menengah Persentase 4.7% 15.2% 21.7% 28.5% 29.9%

SS3 Frekuensi 50 95 85 137 141

3.44 Menengah Persentase 9.8% 18.7% 16.7% 27.0% 27.8%

SS4 Frekuensi 36 86 153 126 107

3.36 Menengah Persentase 7.1% 16.9% 30.1% 24.8% 21.1%

SS5 Frekuensi 115 92 84 94 123

3.04 Menengah Persentase 22.6% 18.1% 16.5% 18.5% 24.2%

SS6 Frekuensi 228 128 77 49 26

2.05 Rendah Persentase 44.9% 25.2% 15.2% 9.6% 5.1%

SS7 Frekuensi 141 123 95 91 58

2.61 Menengah Persentase 27.8% 24.2% 18.7% 17.9% 11.4%

SS8 Frekuensi 332 88 37 29 22

1.66 Rendah Persentase 65.4% 17.3% 7.3% 5.7% 4.3%

Rata-Rata 2.94 Menengah

SS1 terkait keinginan berpergian tanpa direncanakan sebelumnya, SS2 terkait keinginan mencoba makanan yang belum pernah dicoba, SS3 terkait kesukaan mengeksplorasi lokasi baru, SS4 terkait preferensi menghabiskan waktu berpergian daripada di rumah, SS5 terkait keinginan mencoba melakukan olahraga ekstrim, SS6 terkait harapan menjadi seorang pendaki gunung, SS7 terkait kesukaan berpesta, SS8 terkait keinginan mencoba hal baru yang illegal.

Dari Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa SS6 dan SS8 dikategorikan memiliki skor rendah yang berarti mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra tidak berharap menjadi seorang pendaki gunung dan sangat jarang mencoba hal baru yang illegal. Sensation seeking mahasiswa yang paling tinggi skornya adalah SS1

(15)

keseluruhan, maka didapati mean sebesar 2,94 berada pada interval 2,34-3,67 yang menunjukkan bahwa sensation seeking mahasiswa Universitas Kristen Petra dikategorikan berskor menengah. Hal ini dapat diartikan bahwa mahasiswa Universitas Kristen Petra cukup sering melakukan sensation seeking.

4.3 Model SEM

4.3.1 Degree of Freedom

Model SEM harus memiliki degree of freedom positif atau disebut over identified agar bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Degree of freedom dapat dilihat pada tabel berikut:

Dapat dilihat bahwa model SEM sudah memiliki degree of freedom positif yaitu 41 dan minimum was achieved yang berarti penilaian dan estimasi model dapat dilanjutkan.

4.3.2 Asumsi dan Persyaratan pada SEM

Data disebut berdistribusi normal jika cr skewness atau angka cr kurtosis ada di antara -2,58 sampai +2,58. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 4.5.

(16)

Tabel 4.5. Uji Normalitas

Variable min max skew c.r. kurtosis c.r.

FB7 1.000 5.000 -.710 -6.536 -.386 -1.774 FB6 1.000 5.000 -.157 -1.447 -.981 -4.514 FB4 1.000 5.000 -1.158 -10.654 .707 3.254 FB1 1.000 5.000 .027 .245 -1.145 -5.270 SS3 1.000 5.000 -.386 -3.553 -1.085 -4.993 SS4 1.000 5.000 -.220 -2.022 -.830 -3.817 SS5 1.000 5.000 -.032 -.297 -1.432 -6.588 SS7 1.000 5.000 .336 3.092 -1.133 -5.212 EA1 2.000 5.000 -1.080 -9.937 .899 4.137 EA2 1.000 5.000 -.610 -5.616 .016 .074 EA3 2.000 5.000 -.891 -8.195 .315 1.449

Multivariate 13.687 9.120

Tabel 4.5 menunjukkan hasil uji normalitas dengan c.r. multivariate sebesar 9,12 yang artinya asumsi normalitas tidak terpenuhi sehingga harus melihat data outlier melalui mahalanobis distance. Setelah dilakukan penghapusan data outlier, data berdistribusi normal dengan nilai 2,544 yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.6. Uji Normalitas Setelah Penghapusan Outlier

Variable min max skew c.r. kurtosis c.r.

FB7 1.000 5.000 -.690 -6.227 -.399 -1.801 FB6 1.000 5.000 -.151 -1.364 -.962 -4.338 FB4 1.000 5.000 -1.117 -10.076 .642 2.896 FB1 1.000 5.000 .014 .126 -1.115 -5.030 SS3 1.000 5.000 -.375 -3.386 -1.070 -4.823 SS4 1.000 5.000 -.213 -1.919 -.810 -3.650 SS5 1.000 5.000 -.021 -.186 -1.413 -6.371 SS7 1.000 5.000 .324 2.922 -1.120 -5.050 EA1 2.000 5.000 -.945 -8.518 .483 2.176 EA2 2.000 5.000 -.493 -4.449 -.373 -1.682 EA3 2.000 5.000 -.855 -7.713 .240 1.083

Multivariate 3.895 2.544

(17)

4.3.3 Validitas dan Reliabilitas (Uji Measurement Model)

Uji validitas konstruk dilakukan dengan melihat factor loading di atas 0,5 yang dapat dilihat dari nilai estimate pada standardized regression weight.

Tabel 4.7. Uji Validitas Estimate EA3 <--- EA .533 EA2 <--- EA .773 EA1 <--- EA .755 SS7 <--- SS .764 SS5 <--- SS .809 SS4 <--- SS .541 SS3 <--- SS .584 FB1 <--- FB .639 FB4 <--- FB .564 FB6 <--- FB .836 FB7 <--- FB .788

Selanjutnya adalah uji reliabilitas dengan construct reliability di atas 0,7.

Tabel 4.8. Uji Reliabilitas

Variabel Indikator

Standardized Factor Loading

SFL Kuadrat (Persepsi)

Error [εj]

Construct Reliability

EA

EA1 0.755 0.570 0.430

0.733

EA2 0.773 0.598 0.402

EA3 0.533 0.284 0.716

Total 2.061 1.452 1.548

SS

SS3 0.584 0.341 0.659

0.774

SS4 0.541 0.293 0.707

SS5 0.809 0.654 0.346

SS7 0.764 0.584 0.416

Total 2.698 1.872 2.128

FB

FB1 0.639 0.408 0.592

0.804

FB4 0.564 0.318 0.682

FB6 0.836 0.699 0.301

FB7 0.788 0.621 0.379

Total 2.827 2.046 1.954

(18)

Dari Tabel 4.7 dan Tabel 4.8 dapat dilihat bahwa indikator EA1, EA2, EA3, SS3, SS4, SS5, SS7, FB1, FB4, FB6, dan FB7 dikatakan valid karena memiliki factor loading diatas 0,5 dan reliable karena memiliki construct reliability diatas 0,7.

4.3.4 Goodness of Fit (Uji Structural Model)

Pada model SEM, setelah uji measurement model dapat dikatakan fit maka dilanjutkan dengan uji structural model.

Gambar 4.14. Model SEM Sebelum Memenuhi Kriteria Goodness of Fit Tabel 4.9. Evaluasi Kriteria Sebelum Goodness of Fit

Indeks

Goodness of Fit Hasil Cut-off Value Evaluasi Model Significaned

Probability 0,000 ≥0,05 Kurang Baik

RMSEA 0,071 ≤0,05 Kurang Baik

GFI 0,949 ≥0,9 Baik

AGFI 0,918 ≥0,9 Baik

CMIN/DF 3,423 ≤ 2 Kurang Baik

TLI 0,915 ≥0,95 Kurang Baik

CFI 0,937 ≥0,95 Kurang Baik

RMR 0,075 ≤0,08 Baik

AIC 190.331

<saturated (132)

& independence model (1647.769)

Kurang Baik

ECVI 0,391

<saturated (0.271) &

independence Kurang Baik

(19)

Tabel menunjukkan hasil evaluasi model yang kurang baik karena banyak ketidaksesuaian dengan kriteria goodness of fit. Artinya model yang dinyatakan belum sesuai dengan data atau model konseptual yang dikembangkan dari teori belum sepenuhnya didukung fakta. Model SEM ini perlu dimodifikasi sehingga menghasilkan model seperti Gambar 4.15.

Gambar 4.15. Model SEM Sesudah Memenuhi Kriteria Goodness of Fit

Tabel 4.10. Evaluasi Kriteria Sesudah Goodness of Fit Indeks

Goodness of Fit Hasil Cut-off Value Evaluasi Model Significaned

Probability 0,312 ≥0,05 Baik

RMSEA 0,015 ≤0,05 Baik

GFI 0,987 ≥0,9 Baik

AGFI 0,973 ≥0,9 Baik

CMIN/DF 1,105 ≤ 2 Baik

TLI 0,996 ≥0,95 Baik

CFI 0,998 ≥0,95 Baik

RMR 0,029 ≤0,08 Baik

AIC 103,367

<saturated (132)&

independence model (1647,769)

Baik

ECVI 0,212

<saturated (0,271) &

independence model (3,384)

Baik

(20)

Tabel menunjukkan bahwa kriteria goodness of fit dapat dinyatakan layak karena telah memenuhi semua kriteria yang ditentukan. Dengan demikian model ini adalah model terbaik untuk menjelaskan keterkaitan antar variabel dalam model.

4.4 Pengujian Hipotesis

Setelah kriteria goodness of fit terpenuhi, maka tahap selanjutnya adalah analisis hubungan structural model. Hubungan antar konstruk ditunjukkan oleh nilai regression weights. Analisis mengenai pengaruh emerging adulthood status dan sensation seeking terhadap financial behavior mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.11. Regression Weights

Estimate S.E. C.R. P FB <--- EA .545 .102 5.320 ***

FB <--- SS -.085 .072 -1.176 .240

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa pengaruh emerging adulthood status terhadap financial behavior mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra memiliki p-value 0,000 (p = 0,000 < 0,05) maka H0 ditolak yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara emerging adulthood status dengan financial behavior mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra.

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa pengaruh sensation seeking terhadap financial behavior mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra memiliki p-value 0,240 (p = 0,240 > 0,05) maka H0 diterima yang berarti tidak terdapat pengaruh signifikan antara sensation seeking dengan financial behavior mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra.

4.5 Pembahasan

4.5.1 Pengaruh emerging adulthood status terhadap financial behavior Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diketahui bahwa terdapat pengaruh signifikan antara emerging adulthood status dengan financial behavior mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra. Variabel emerging adulthood status dijelaskan

(21)

jawab terhadap diri sendiri, EA2 berkaitan dengan kemampuan mengambil keputusan secara mandiri, dan EA3 berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan keuangan dari uang saku. Ketiga variabel tersebut diukur dengan menggunakan skala likert dimana jawaban 1 (sangat tidak setuju) menandakan bahwa responden belum siap disebut dewasa atau masih memiliki ketergantungan yang besar terhadap orang lain, sedangkan jawaban 5 (sangat setuju) menandakan bahwa responden adalah emerging adult yang berkualitas dan siap memasuki tahap dewasa. Pada Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa ketiga variabel manifes tersebut menghasilkan nilai rata-rata yang dikategorikan tinggi. Hasil crosstab antara emerging adulthood status dengan financial behavior pada Lampiran 4 juga memperlihatkan hal yang mendukung hasil uji hipotesis regression weight pada SEM. Semakin dewasa seorang mahasiswa maka financial behaviornya semakin baik. Sebaliknya apabila mahasiswa memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap orang lain seperti saat masih remaja akan menghasilkan financial behavior yang buruk. Baik buruknya financial behavior dilihat dari kedewasaan emerging adult dalam mengelola expense management, balance control, dan saving (Xiao, Tang,

& Shim, 2009).

Karakteristik responden menjadi bukti penguat bahwa mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra siap disebut dewasa. Mahasiswa yang berasal dari luar Surabaya dan tinggal di kos tentu harus mengatur sendiri keuangannya tanpa pengawasan penuh dari orang tua. Tidak hanya dirasakan mahasiswa luar Surabaya, namun mahasiswa yang berdomisili di Surabaya dan tinggal bersama orang tua juga dipercayakan pengelolaan uang saku sendiri karena dirasa sudah cukup dewasa untuk mengelola keuangan pribadi seperti yang dapat dilihat pada Gambar 4.11.

Berdasarkan Gambar 4.10, pengelolaan keuangan pribadi mahasiswa dapat dilihat dari pemberian uang saku mahasiswa yang mayoritas diberikan setiap bulan sehingga penggunaan uang saku untuk hal apa saja tergantung dari keputusan masing-masing individu (EA2). Mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra dapat memenuhi kebutuhan keuangannya sendiri dari uang saku yang sudah diterima (EA3) dan dapat dikatakan bertanggung jawab terhadap pengelolaan keuangan pribadinya (EA1) karena tetap mampu menyisihkan uang untuk ditabung secara rutin (FB6) dan menyisihkan uang untuk dana darurat (FB7) seperti pada Tabel 4.2.

(22)

Karakteristik yang paling penting sebagai emerging adulthood bukan dalam hal transisi demografi saja, tetapi fokus utamanya adalah pada pengembangan kualitas karakter individu untuk siap disebut dewasa (Arnett, 1998). Hal ini sejalan dengan teori yang mengatakan bahwa untuk menjadi emerging adult yang memiliki kualitas karakter seharusnya individu mampu menerima tanggung jawab, membuat keputusan independen dan mampu mandiri secara keuangan dengan mengaplikasikan financial behavior yang baik (Arnett, 1998; Greene, Wheatley, &

Aldava, 1992; Arnett, 2000).

4.5.2 Pengaruh sensation seeking terhadap financial behavior

Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara sensation seeking dengan financial behavior mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra. Sensation seeking yang dijelaskan dengan empat subskala dimulai dari SS3 berkaitan dengan experience seeking dengan pernyataan mengenai kesukaan mengeksplorasi lokasi baru seperti kafe, tempat hiburan maupun tempat wisata baru, SS4 berkaitan dengan boredom susceptibility dengan pernyataan mengenai preferensi lebih memilih berpergian daripada di rumah, SS5 berkaitan dengan thrill and adventure seeking dengan pernyataan mengenai keinginan melakukan olahraga ekstrim seperti bungee jumping, arung jeram serta parasailing, dan SS7 berkaitan dengan disinhibition mengenai kesukaan berpartisipasi dalam pesta (clubbing).

Sensation seeking tidak berpengaruh signifikan karena persebaran jawaban responden memiliki perbedaan yang cukup besar. Responden cenderung memilih jawaban setuju dan sangat setuju pada pernyataan SS3 dan SS4. Sebaliknya, responden cenderung memilih sangat tidak setuju atau tidak setuju pada pernyataan SS5 dan SS7. Hal ini dapat diartikan bahwa sensation seeking mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra didominasi oleh experience seeking dan boredom susceptibility, dilanjutkan dengan thrill and adventure seeking, dan yang hanya sebagian kecil mahasiswa lakukan yaitu disinhibition. Hasil crosstab antara sensation seeking dengan financial behavior pada Lampiran 4 juga memperlihatkan hal yang mendukung hasil uji hipotesis regression weight pada SEM bahwa sensation seeking tidak berpengaruh signifikan terhadap financial behavior.

(23)

Bukti lain yang menunjukkan bahwa mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra hanya dominan di experience seeking dan boredom susceptibility dapat dilihat pada jawaban responden berkaitan dengan pertanyaan tambahan pada kuesioner yang menanyakan kebiasaan atau hal apa yang mempengaruhi kondisi keuangan responden yang dapat dilihat pada Gambar 4.13. Mayoritas hal yang disebutkan oleh responden berkaitan dengan experience seeking dan boredom susceptibility. Hanya sedikit responden yang berusaha melakukan sensation seeking melalui thrill and adventure seeking serta disinhibition.

Sensation seeking yang sering dilakukan mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra adalah pergi jalan-jalan dengan teman, hangout, travelling tanpa perencanaan sebelumnya, mencoba kafe atau tempat makan baru. Hal ini disebabkan karena observasi, imitasi, dan interaksi sosial dengan teman sebaya serta media memungkinkan seseorang mempelajari perilaku yang dikategorikan sensation seeking (Zuckerman, 2005). Beberapa kebiasaan tersebut menyebabkan individu harus mengeluarkan uang lebih dari kebutuhan sehari-hari dan mengambil risiko keuangan demi memuaskan pengalaman sensation seeking (Zuckerman, 2007). Tetap ada beberapa mahasiswa yang menyukai sensation seeking dengan kecenderungan mencari pengalaman baru dan menyenangkan walaupun berisiko melalui pergi ke club, mengkonsumsi minuman beralkohol, namun tidak dalam jumlah yang banyak. Hal ini mengakibatkan SS5 dan SS7 tidak mampu menjelaskan variabel sensation seeking sebagaimana mestinya sehingga sensation seeking tidak berpengaruh signifikan terhadap financial behavior mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra. Walaupun tidak signifikan, tetapi dapat dilihat pada Tabel 4.11 bahwa pengaruhnya negatif. Dapat dikatakan bahwa sensation seeking memiliki pengaruh negatif terhadap financial behavior mahasiswa walaupun tidak signifikan. Sejalan dengan penelitian oleh Worthy, Jonkman, & Blinn-Pike (2010) serta Norvilitis, et al (2006) yang menyatakan bahwa semakin sensation seeker seorang mahasiswa maka financial behaviornya semakin bermasalah.

4.5.3 Pembahasan Financial Behavior

Hasil crosstab pada Lampiran 4 memberikan gambaran financial behavior, mahasiswa aktif pada semua program S1 Universitas Kristen Petra dalam hal expense management, balance control, dan saving. Expense management yang

(24)

dilakukan mahasiswa seperti pencatatan pengeluaran rutin (FB1), balance control yang dilakukan dengan mempertahankan saldo yang cukup di rekening (FB4), serta saving yang diperlihatkan dengan perilaku menabung secara rutin (FB6) dan menyisihkan dana darurat (FB7).

Hasil crosstab pada Lampiran 4 juga memberikan gambaran financial behavior mahasiswa Universitas Kristen Petra dari faktor demografinya.

Berdasarkan gender, antara laki-laki dan perempuan tidak terlalu memiliki perbedaan dalam financial behaviornya. Pada Gambar 4.2, usia responden cukup didominasi oleh usia 21 dilanjutkan dengan usia 20 sehingga financial behavior cukup baik karena semakin dewasa mengakibatkan pengetahuan, pengalaman, dan kematangan jiwa dan emosi semakin meningkat (Iqbal, 2006). Berdasarkan etnis, responden dengan etnis Tionghoa memiliki financial behavior yang skornya dikategorikan menengah, dilanjutkan dengan kategori tinggi, lalu kategori rendah.

Urutan kategori serupa terjadi pada etnis Jawa dan lainnya. Berbeda dengan mahasiswa dengan kelompok etnis dari Kawasan Timur Indonesia (KTI) memiliki financial behavior yang skornya dikategorikan menengah, dilanjutkan dengan kategori rendah, dan yang terakhir kategori tinggi. Hal ini bisa terjadi karena perbedaan etnis atau budaya dibawa sejak kecil mempengaruhi financial behavior individu (Sowell, 1989). Terutama mahasiswa dengan etnis KTI, memiliki perbedaan budaya, kebiasaan, lingkungan dengan Surabaya sehingga mempengaruhi financial behaviornya.

Melihat Gambar 4.12, profil responden mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra didominasi oleh mahasiswa yang berdomisili di Surabaya sehingga tinggal bersama orang tua. Hal ini menyebabkan orang tua masih mampu mengontrol secara tidak langsung pengelolaan keuangan mahasiswa, walaupun mahasiswa sebagian besar diberi kepercayaan untuk mengelola keuangannya sendiri yang dibuktikan dengan jumlah 73,8% responden pada Gambar 4.11. Status sosial ekonomi orang tua dilihat dari sisi pendidikan orang tua, mayoritas pendidikan akhir orang tua adalah S1 (Gambar 4.5), berwiraswasta (Gambar 4.6), dan berpendapatan di atas upah minimum regional yaitu lebih dari Rp 4.170.000 – Rp 20.800.000 (Gambar 4.7). Status sosial ekonomi orang tua seperti pendidikan,

(25)

pekerjaan, dan pendapatan mempengaruhi financial behavior mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra.

Melihat jawaban responden secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra memiliki uang saku yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apabila kurang, maka mahasiswa cenderung untuk langsung meminta kepada orang tua karena bisa dilihat dari status sosial ekonomi orang tua serta hasil pertanyaan tambahan kuesioner pada Gambar 4.13 yang menyatakan bahwa mahasiswa tidak segan menggunakan uangnya untuk shopping maupun hangout berlebihan yang menyebabkan FB2 tidak mampu menjelaskan variabel karena mahasiswa mengeluarkan uang tidak sesuai dengan anggaran yang ditetapkan apalagi untuk meneliti kembali setiap nota pembelian yang telah dilakukan (FB3) merupakan hal yang sangat jarang dilakukan oleh mahasiswa aktif S1 Universitas Kristen Petra. Dengan memiliki uang saku yang cukup bahkan berlebih, kedewasaan mahasiswa dalam mengelola uang, serta apabila sewaktu-waktu membutuhkan uang tambahan dan mampu meminta uang tambahan pada orang tua seperti yang diperlihatkan pada Gambar 4.8, walaupun financial behavior mahasiswa dalam expense management masih dipenuhi kebiasaan keuangan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.13, namun balance control dan saving cukup baik karena masih mampu menyisihkan uang untuk ditabung secara rutin (FB6) dan memiliki dana darurat (FB7).

Referensi

Dokumen terkait

Akan tetapi, hasil pengolahan dengan menggunakan binary logistic regression menunjukkan bahwa faktor diameter trimming body, tinggi bibir elco, maupun berat latex tidak

Melalui Tabel 4.11 dapat diketahui bahwa usulan yang dapat diimplementasikan saat ini adalah membuat jadwal pengecekan suhu mesin pelebur plastik, membuat catatan

Written test tidak dibuat untuk modul MAKER P Level Operator, karena sudah terdapat written test untuk modul training yang terdahulu dan soal dalam written test

Faktor manusia juga berperan dalam menghasilkan kecacatan ini sebab operator yang salah melakukan setting terhadap mesin gerinda menyebabkan mesin tidak akan bekerja

Berbeda dengan sistem perusahaan yang menggunakan forecasting produksi untuk menentukan jumlah bahan baku yang akan dipesan, penerapan metode periodic review

Nilai rata-rata keseluruhan untuk indikator customization benefits sebesar 3,737 dengan penilaian tertinggi adalah pada indikator yang menyatakan SMS ucapan selamat ulang tahun

Hasil yang didapatkan dari checklist pada kondisi setelah dilakukan program 5S menunjukkan nilai yang lebih tinggi berarti program 5S telah berjalan dengan baik di area

Gambar 4.3 menunjukkan fishbone diagram terhadap kerugian downtime karena membersihkan bagian cooler pada mesin pellet, tidak hanya pellet 1 dan 8, melainkan semua mesin pellet..