• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL TEORI KIMIA KLINIK 1 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MODUL TEORI KIMIA KLINIK 1 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

i

MODUL TEORI KIMIA KLINIK 1

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA

LUBUK PAKAM

(2)

ii

VISI dan MISI

INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

Visi

Menjadi Institut yang unggul dan professional dalam bidang kesehatan di tingkat Nasional dan Asia tahun 2028.

Misi

1. Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang unggul, berkarakter, dan kompeten yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan globalisasi;

2. Menyelenggarakan penelitian yang inovatif, produktif dan responsive terhadap ilmu pengetahuan, teknologi dan kebutuhan masyarakat;

3. Menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berlandaskan nilai dan tanggungjawab sosial; dan

4. Menjalin kerjasama yang baik dengan stakeholder mulai dari pemerintah, dunia usaha dan masyarakat sebagai pengguna lulusan.

(3)

iii

VISI dan MISI FAKULTAS FARMASI

Visi

Menghasilkan lulusan yang unggul dan professional dalam mutu pendidikan di bidang Farmasi Klinis dan Komunitas serta Mikrobiologi Molekuler Klinis yang Mampu Bersaing di tingkat Nasional dan Asia Tahun 2022.

Misi

1) Menyelenggarakan proses belajar mengajar yang kondusif dengan sistem yang mendukung pada FF sehingga pembelajaran tersebut menghasilkan prodi yang dapat menghasilkan alumni berkarakter unggul, kompeten, dan excellent service;

2) Menyelenggarakan proses praktik laboratorium yang kondusif dan handal di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat;

3) Mengoptimalkan dan mengimplementasikan penelitian bidang Farmasi Klinis dan Komunitas dan Mikrobiologi Molekuler Klinis dengan menggunakan pendekatan riset dalam bidang Farmasi dan Teknologi Laboratorium Medik;

4) Mengimplementasikan program pengabdian kepada masyarakat berbasis riset untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di bidang Farmasi dan Teknologi Laboratorium Medik; dan

5) Mengembangkan kerjasama dengan institusi pendidikan, pelayanan, organisasi, dan stakeholders baik dalam maupun luar negeri.

(4)

iv

VISI dan MISI

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

Visi

Menjadi program studi yang unggul dan professional dalam bidang Mikrobiologi Molekuler Klinis Tahun 2022

Misi

1. Menyelenggarakan pendidikan Teknologi Laboratorium Medik yang unggul dan excelent service dalam bidang Mikrobiologi Molekuler Klinis;

2. Menyelenggarakan proses praktik laboratorium yang kondusif diberbagai fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat;

3. Mengoptimalkan dan mengimplementasikan penelitian di bidang Mikrobiologi Molekuler Klinis dengan menggunakan pendekatan riset dalam bidang Teknologi Laboratorium Medik;

4. Mengimplementasikan program pengabdian kepada masyarakat berbasis riset untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di bidang Mikrobiologi Molekuler Klinis; dan 5. Mengembangkan kerjasama dengan institusi pendidikan, pelayanan, organisasi, dan

stakeholders baik dalam maupun luar negeri.

(5)

v

KATA PENGANTAR

Pujisyukur kami panjatkan kepada kehadirat Allah SWT, karena atas izin-Nya Modul dari Mata Kuliah ini dapat diselesaikan. Modul ini disusun untuk menambah bahan bacaan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan.

Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa Program Studi Teknologi Laboratorium Medik Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam dalam menempuh mata kuliah. Modul ini disusun dengan kualifikasi merangkum semua materi teoritis.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu atas selesai nya modu lini. Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan modul ini. Oleh karena itu segala masukan dari berbagai pihak sangat diharapkan guna penyempurnaan modul ini.

Lubuk Pakam, Juli 2020

(6)

vi DAFTAR ISI

Visi Dan Misi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam ... i

Visi Dan Misi Fakultas Farmasi ... ii

Visi Dan Misi Program Studi Teknologi Laboratorium Medik ... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... v

BAB I PENGERTIAN KIMIA KLINIK ... 1

BAB II: PENGENALAN SAMPEL PEMERIKSAAN ... 3

BAB III: PENGENALAN SAMPEL URIN ... 7

BAB IV: MACAM-MACAM PEMERIKSAAN URIN ………. 10

BAB V: ANALIT YANG TERDAPAT DALAM URIN ... 12

BAB VI: JUMLAH NORMAL ANALIT PADA URIN ... 13

BAB VII: PENYEBAB DARI HASIL POSITIF PALSU ... 15

BAB VIII: PENYEBAB DARI HASIL NEGATIF PALSU ... 18

BAB IX: PENGENALAN SAMPEL FESES ... 20

BAB X: PENGENALAN SAMPEL FESES (LANJUTAN) ... 21

BAB XI: PEMERIKSAAN FESES ... 23

BAB XII : ANALIT YANG TERDAPAT DALAM FESES ... 26

BAB XIII: JUMLAH ANALIT YANG TERDAPAT DALAM FESES ... 27

BAB XIV: MACAM-MACAM PEMERIKSAAN FESES ... 29

DAFTAR PUSTAKA ... 34

(7)

vii

(8)

1

PENGERTIAN KIMIA KLINIK

A. PENDAHULUAN

Kimia klinik merupakan ilmu kuantitatif yang berhubungan dengan pengukuran sejumlah zat penting dalam cairan tubuh (yang disebut dengan analit) secara biologis untuk tujuan diagnostik, terapetik, monitoring, dan prognosis. Cairan tubuh yang dapat digunakan adalah darah (darah utuh, serum, dan plasma), urin, cairan serebrospinal, cairan synovial, dan lain-lain. Kimia klinik dapat diterapkan dalam beberapa bidang yaitu biokimia, endokrinologi, kimia analitik, toksikologi, imunologi, dan farmakologi.

B. TUJUAN

Metode untuk mengukur analit ini, secara hati-hati dirancang untuk memberikan penilaian atau hasil yang akurat. Hasil yang didapatkan dibandingkan dengan referensi interval atau tingkat keputusan medis (medical decision level/ MDA) untuk memberikan hasil klinis dan diagnostik yang bermakna. Kimia klinik menjadi kunci penting dalam laboratorium klinik dan penetapan diagnostik, teknik, standar praktek, dan interpretasi data lanjutan. Lebih dari 70% pasien memerlukan uji analitis untuk membantu penegakkan diagnosis mereka. Banyak dari hasil yang memberikan hasil yang rancu, apakah positf palsu ataupun negatif palsu. Oleh karena itu, penting bagi klinisi mematuhi prosedur dalam pengumpulan sampel.

Kimia klinik menjadi cabang dari laboratorium medis, dimana bidang ilmu ini berfokus terhadap pengujian terhadap molekul seperti ion-ion penting (garam dan mineral), molekul organik kecil (metabolit, xenobiotik, toksikologi, dan penyalahgunaan obatobatan), dan makromolekul (protein, enzim, protein spesifik, lipoprotein, dan marker diabetes). Ketika uji tunggal tidak cukup menggambarkan kondisi medis pasien, diperlukan kombinasi beberapa uji yang biasa disebut dengan uji panel. Hasil yang diberikan uji panel ini dapat memberikan hasil yang lebih baik mengenai kondisi pasien jika dibandingkan dengan uji tunggal.

BAB

I

(9)

2

(10)

3

PENGENALAN SAMPEL PEMERIKSAAN

A. PENGENALAN SAMPEL

Sampel (analit) merupakan bahan yang dikumpulkan dari pasien yang digunakan untuk invetigasi terhadap penyakitnya. Analit yang diperiksa menggunakan metode analisis atau uji kimia yang tepat. Dalam melakukan pengujian, sampel biologis yang dapat digunakan adalah darah (whole blood, serum, atau plasma), urin, cairan serebrospinal (CSF), cairan amniotic (ketuban), air liur, cairan synovial, cairan pleural, cairan pericardial, dan cairan peritoneal.

1. Darah

Darah merupakan sampel yang paling sering digunakan untuk pengujian klinis.

Darah terdiri atas dua bagian utama, yaitu bagian cairan (disebut plasma, mengandung ion dan molekul terlarut), dan bagian selular (sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit). Analit pada umumnya ditemukkan di plasma. Cara mendapatkan plasma adalah dengan memisahkan plasma dan sel-sel dengan cara sentrifugasi.

Gambar 2.1. Cara Mendapatkan Serum dan Plasma

Jika bagian cairan yang didapatkan dengan menambahkan antikoagulan seperti EDTA (ethylenediaminetetraacetic acid), natrium heparin, litium heparin, dan thrombin, cairan tersebut disebut dengan plasma. Jika cairan yang didapatkan dengan cara membiarkan darah membentuk clot (tanpa adanya antikoagulan) disebut dengan serum.

BAB II

(11)

4

Penggunaan darah dalam analisis kimia klinik digunakan untuk analisis kadar glukosa, trigliserida, HDL, LDL, Kolesterol total, SGOT, SGPT, serum kreatinin, Hemoglobin, dan lain-lain.

(12)

5 2. Urin

Urin merupakan sampel lain yang biasa digunakan dalam pengujian kimia klinik yang bertujuan untuk mengevaluasi fungsi ginjal, menguji produk sisa yang diekskresikan ginjal, dan metabolit yang terakumulasi dalam urin. Selain itu perbandingan konsentrasi serum dan urin dapat digunakan untuk mengetahui seberapa baik analit terkeskresikan.

Urin merupakan sampel yang mudah untuk dikumpulkan, meskipun tetap membutuhkan teknik khusus untuk mengumpulkan urin pada bayi dan anak kecil.

3. Cairan Lain

Cairan lain seperti cairan amniotik (ketuban), cairan tulang belakang, cairan synovial, ciaran peritoneal, dan cairan pericardial serta cairan pleura dapat digunakan untuk analaisis tertentu.

Cairan ketuban biasanya digunakan untuk tes kesehatan janin. Cairan tulang belakang digunakan terutama untuk penilaian pasien dengan gejala penyakit seperti meningitis atau multiple sclerosis atau pasien yang mengalami gangguan serebrovaskular. Pengujian kimia cairan seperti cairan peritoneum, cairan perikardial atau cairan pleural biasanya dilakukan untuk menilai asal cairan untuk menentukan apakah cairan telah bocor dari pembuluh darah akibat perbedaan tekanan (disebut transudat, yang relatif rendah protein) atau karena peradangan atau cedera (disebut eksudat, yang proteinnya relatif tinggi).

Saliva jarang digunakan secara klinis pengujian laboratorium, tetapi diakui sebagai sampel yang komposisinya mencerminkan kadar plasma darah banyak zat berat molekul rendah seperti obatobatan atau alkohol. Selain itu, saliva juga dapat digunakan untuk analisis DNA dimana saliva mengandung sel bukal yang tereksfoliasi.

4. Analit

Zat yang terdapat dalam sampel biologis disebut dengan analit.

Berikut ini merupakan analit yang biasa diuji dalam laboratorium kimia klinik:

a. ion, garam, dan mineral, seperti kalium (K+), natrium (Na), kalsium (Ca2+), klorida (Cl-), magnesium (Mg2+), fosfor (P), karbondioksida (CO2), timbale (Pb), besi (Fe), dan lain-lain.

b. Molekul Organik Kecil

1) Metabolit, seperti: glukosa, kolesterol, urea, asam laktat, bilirubin, kreatinin, trigliserida, amoniak, dan cystatin C

2) Obat, seperti: vankomisin, digoksin, fenitoin, teofilin, dan asam valproat 3) Toksikologi, seperti: etanol, aspirin, dan parasetamol

4) Penyalahgunaan obat, seperti: kokain, barbiturate, amfetamin, dan golongan opiat

c. Makromolekul

(13)

6

1) Protein transport, seperti: albumin, transferring, haptoglobin, ferritin, dan total protein

2) Enzim, seperti: lipase, amylase, alanine aminotransferase (ALT), aspartat aminotransferase (AST), alkaline phosphatase (ALP), lactate dehiydrogenase (LD), dan creatinine kinase (CK).

3) Protein spesifik, seperti: immunoglobulin (IgA, IgG, IgM), komplemen C3, komplemen C4, dan C-reactive protein (CRP)

4) Lipoprotein, seperti: high density lipoprotein (HDL), low density lipoprotein (LDL), lipoprotein

5) Penanda diabetes: Hemoglobin A1C (HbA1C).

B. PENGENALAN JENIS UJI PENENTUAN HASIL DIAGNOSA

Dalam melakukan analisis analit dalam sampel biologis biasanya dilakukan uji panel.

Jenis uji panel yang dapat dilakukan dalam penentuan hasil diagnosa pada laboratorium kimia klinik adalah:

1. Panel Elektrolit

Pengujian panel yang dilakukan untuk menentukan nilai natrium (Na), kalium (K), klorida (Cl), dan karbondioksida (CO2)

2. Panel Hepatic

Pengujian yang dilakukan yaitu menentukan nilai albumin, total protein, ALP, ALT, AST, total bilirubin, dan direct bilirubin.

3. Profil Metabolik Komprehensif

Pengujian yang biasa dilakukan adalah pengujian nilai Na, K, Cl, CO2, glukosa, creatinin, urea, kalsium, total protein, albumin, ALT, AST, ALP, dan total bilirubin.

4. Panel Metabolik Dasar

Pengujian yang dilakukan adalah penentuan nilai Na, K, Cl, CO2, glukosa, kreatinin, Cl, dan BUN.

5. Profil Lipid

Pengujian yang dilakukan adalah pengujian terhadap kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida.

(14)

7

PENGENALAN SAMPEL URIN

A. PENGERTIAN

Urine atau air seni adalah sisa yang disekresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinalisis. Ekskresi urine diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Dalam mempertahankan homeostasis tubuh, peran urine sangat penting karena sebagai pembuang cairan oleh tubuh adalah melalui proses sekresi urine.

Sehingga komposisi urine dapat mencerminkan kemampuan ginjal untuk menahan dan menyerap bahan-bahan yang penting untuk metabolisme dasar dan mempertahankan homeostasis tubuh. Normalnya jumlah bahan yang terdapat dalam urine selama 24 jam adalah 35 gram bahan organik dan 25 gram bahan anorganik.

B. PROSES PEMBENTUKAN URINE

Organ yang berperan dalam pembentukan urine yaitu ginjal. Di dalam ginjal, zat sisa metabolisme akan dipilah-pilah kembali. Hasil pemilahan tersebut berupa zat yang sudah tidak berguna dan zat yang masih bisa dipergunakan kembali. Zat yang tidak berguna.

tersebut akan dikeluarkan dari tubuh, sedangkan zat-zat yang masih dapat dipergunakan lagi akan dikembalikan ke sirkulasi.

Nefron terdiri atas seperangkat glomerulus dan tubulus. Glomerulus mempunyai fungsi filtrasi, sedangkan tubulus mempunyai fungsi sekresi dan reabsorbsi. Setidaknya salah satu dari tiga proses berikut akan dialami suatu zat ketika diangkut melalui darah ke sistem filtrasi kompleks ginjal, yaitu filtrasi glomerular, sekresi tubular dan reabsorbsi tubular.

Filtrat glomerulus memiliki zat-zat yang masih dibutuhkan oleh tubuh, sehingga filtrat akan berpindah dari dalam tubulus ke plasma kapiler peritubulus. Perpindahan ini disebut sebagai reabsorpsi tubulus. Zat-zat yang direabsorpsi tidak keluar sebagai urine, tetapi akan diangkut oleh kapiler peritubulus ke sistem vena dan kembali ke jantung untuk diedarkan. Zat-zat yang akan diserap kembali adalah glukosa, sodium, klorida fosfat, dan beberapa ion bikarbonat yang terjadi secara pasif di tubulus proksimal. Jika tubuh masih membutuhkan sodium dan ion bikarbonat maka terjadi penyerapan kembali secara aktif pada tubulus distal (reabsorbsi fakultatif) dan sisanya dialirkan ke papilla renalis.

Tubulus proksimal berfungsi menahan ion-ion (K+, Na+, Cl-, HCO3-), reabsorbsi glukosa dan asam amino, serta mengeliminasi ureum dan kreatinin. Ansa Henle berperan dalam pembentukan tekanan osmotic.

Setelah zat yang masih dibutuhkan tubuh diserap kembali, proses selanjutnya adalah sekresi tubulus yaitu perpindahan selektif zatzat dari darah kapiler peritubulus ke lumen

BAB III

(15)

8

tubulus. Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke papilla renalis selanjutnya diteruskan ke luar tubuh dalam bentuk urine.

C. KANDUNGAN URIN

Komposisi zat didalam urine bervariasi tergantung jenis makanan serta air yang diminumnya. Urine normal terdiri dari air, urea, asam urat, amoniak, kreatinin, asam laktat, asam fosfat, asam sulfat, klorida, garam - garam terutama garam dapur dan zat- zat yang berlebihan dalam darah misalnya vitamin C dan obat-obatan. Semua cairan dan pembentuk urine trsebut berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urine berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misalnya glukosa diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa.

Gambar 3.1. Struktur Komposisi Urin

D. FUNGSI URINE

Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Urin dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita dehidrasi akan mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi akan mengeluarkan urin berwarna kuning pekat atau cokelat.

E. JENIS URINE

Ada beberapa jenis urine berdasarkan waktu pengumpulannya yang digunakan untuk diagnosis maupun penunjang suatu diagnosis penyakit.

Jenis urine tersebut meliputi : 1. Urin Sewaktu

Urin sewaktu yaitu urin yang dikeluarkan pada satu waktu yang tidak ditentukan khusus. Urin sewaktu ini biasanya cukup baik untuk pemeriksan rutin yang menyertai pemeriksaan badan tanpa pendapat khusus.

(16)

9 2. Urin Pagi

Urin pagi ialah urin yang pertama-tama dikeluarkan di pagi hari setelah bangun tidur.

Urin ini lebih pekat dari urin yang dikeluarkan di siang hari, jadi baik untuk pemeriksaan

sediment, berat jenis, protein, dan baik juga untuk umpamanya test kehamilan berdasarkan adanya HCG (Human Chorionic Gonadothropin) dalam urin.

3. Urin Postprandial

Sampel urin ini berguna untuk pemeriksaan terhadap glukosuria; merupakan urin yang pertama kali dilepaskan 1,5-3 jam sehabis makan. Urin pagi tidak baik untuk pemeriksaan penyaring terhadap adanya gukosuria.

4. Urin 24 jam

Penetapan kuantitatif sesuatu zat dalam urine diperlukan apabila urine sewaktu sama sekali tidak bermakna dalam menafsirkan proses-proses metabolik dalam badan.

Hanya jika urine itu dikumpulkan selama waktu yang diketahui, dapat diberikan suatu kesimpulan. Agar angka analisa dapat diandali, biasanya dipakai urine 24 jam.

Urine 24 jam dikumpulkan dalam botol besar, bervolume ½ liter atau lebih yang dapat ditutup dengan baik. Botol itu harus bersih dan biasanya dibutuhkan pengawet tertentu.

5. Urin 3 Gelas dan Urin 2 Gelas pada Pria

Penampungan secara ini dipakai pada pemeriksaan urologik dan dimaksudkan untuk mendapat gambaran tentang letaknya radang atau lesi lain yang mengakibatkan adanya nanah atau darah dalam urine seorang lelaki.

Cara lain menjalankan penampungan tiga gelas dimulai dengan instruksi kepada penderita bahwa beberapa jam sebelum pemeriksaan dilakukan tidak boleh berkemih.

Sediakanlah 3 gelas sediment (sedimenterglas), yaitu gelas yang dasarnya menyempit guna memudahkan mengendapnya sediment dan agar sediment itu mudah terlihat dengan mata telanjang.

(17)

10

MACAM - MACAM PEMERIKSAAN URIN A. WARNA URIN

Urin normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit berkabut dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin. Intensitas warna sesuai dengan konsentrasi urin; urin encer hampir tidak berwarna, urin pekat berwarna kuning tua atau sawo matang. Kelainan pada warna, kejernihan, dan kekeruhan dapat mengindikasikan kemungkinan adanya infeksi, dehidrasi, darah di urin (hematuria), penyakit hati, kerusakan otot atau eritrosit dalam tubuh. Obat-obatan tertentu dapat mengubah warna urin.

Beberapa keadaan yang menyebabkan warna urin adalah : 1. Merah: hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin.

Penyebab nonpatologik: banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab (kelembak), senna.

2. Oranye: pigmen empedu.

Penyebab nonpatologik: obat untuk infeksi saliran kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin.

3. Kuning: urin yang sangat pekat, bilirubin, urobilin.

Penyebab nonpatologik: wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin.

4. Hijau: biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas).

Penyebab nonpatologik: preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik.

5. Biru: tidak ada penyebab patologik.

Pengaruh obat: diuretik, nitrofuran.

6. Coklat Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu.

Pengaruh obat: levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa.

7. Hitam atau hitam kecoklatan: melanin, asam homogentisat, indikans, urobilinogen, methemoglobin.

Pengaruh obat: levodopa, cascara, kompleks besi, fenol.

B. BAU URIN

Urine baru, pada umumnya tidak berbau keras. Baunya disebut pesing, disebabkan karena adanya asam-asam yang mudah menguap. Bau urine dapat dipengaruhi oleh makanan/ minuman yanga dikonsumsi. Apabila urine dibiarkan lama, maka akan timbul bau amonia, sebagai hasil pemecahan ureum. Aceton memberikan bau manis dan adanya kuman akan memberikan bau busuk pada urine.

BAB IV

(18)

11 C. VOLUME URIN

Pada orang dewasa, normal produksi urine sekitar 1,5 L dalam 24 jam. Jumlah ini bervariasi tergantung pada : luas permukaan tubuh, konsumsi cairan, dan kelembaban udara/ penguapan.

Volume Urine Abnormal :

1. Poliurea: volume urine menigkat, dijumpai pada keadaan seperti : Diabetes, Nefritis kronik, beberapa penyakit syaraf, edema yang mulai pulih.

2. Oliguria: volume urine berkurang, dapat dijumpai pada keadaan seperti penyakkit ginjal, dehidrasi, sirosis hati.

3. Anuria: tidak ada produksi urine, dapat terjadi pada keadaan-keadaan seperti circulatory collaps (sistolik < 70 mmHg), acute renal failure, keracunan sublimat, dan lain-lain.

4. Residual urine (urine sisa): volume urine yang diperoleh dari kateterisasi setelah sebelumnya pasien disuruh kencing sepuas-puasnya.

D. BUIH PADA URIN

Bila urine dikocok akan timbul buih, bila buih berwarna kuning, dapat disebabkan oleh pigmen empedu (bilirubin), atau phenylazodiamino-pyridine. Adanya buih juga dapat disebabkan karena adanya sejumlah besar protein dalam urin (proteinuria).

E. KEKERUHAN PADA URIN

Urine baru dan normal pada umumnya jernih. Kekeruhan biasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urin asam) atau fosfat (dalam urin basa).

Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh bahan selular berlebihan atau protein dalam urin.

Adanya kekeruhan pada urine umumnya disebabkan karena :

1. Fosfat Amorf : warna putih, hilang bila diberi asam, terdapat pada urine yang alkalis.

2. Urat amorf : warna kuning coklat, hilang bila dipanaskan, terdapat pada urine yang asam.

3. Darah : warna merah sampai coklat.

4. Pus : seperti susu, menjadi jernih setelah disaring.

5. Kuman : pada umumnya akan tetap keruh setelah disaring ataupun dipusingkan.

Pada Urethritis terlihat benang-benang halus.

Pemeriksaan urine menurut Purnomo tahun 2011 meliputi:

a. Makroskopik (Pemeriksaan fisik): dengan menilai warna, bau dan berat jenis urine.

b. Kimiawi: meliputi pemeriksaaan derajat keasaman/ Ph, protein, dan gula dalam urine.

c. Mikroskopik (sedimen): mencari kemungkinan adanya sel- sel, cast (silinder), atau bentukan lain di dalam urine.

(19)

12

ANALIT YANG TERDAPAT DALAM URIN

A. KOMPOSISI ZAT-ZAT DALAM URIN

Komposisi zat-zat dalam urin bervariasi tergantung jenis makanan serta air yang diminumnya. Urin normal berwarna jernih transparan, sedang warna urin kuning muda berasal dari zat warna empedu yaitu bilirubin dan biliverdin. Urin normal terdiri dari air, urea, asam urat, amoniak, kreatinin, asam laktat, asam fosfat, asam sulfat, klorida, garam-garam dan zat-zat yang berlebihan di dalam darah misalnya obat-obatan, vitamin C.

Komposisi urine yang paling utama adalah terdiri dari air, urine pada kondisi normal umumnya mengandung 95% air. Kandungan lainnya urea, asam urat dan ammonia yang merupakan zat sisa dari pembongkaran protein, zat warna empedu yang membuat warna urine kita menjadi kuning, bermacam-macam garam / NaCl, dan terdapat beberapa zat yang beracun.

Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolism (seperti urea), garam terlarut, dan materi organic.cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misalnya glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh.

Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat.

BAB V

(20)

13

JUMLAH NORMAL ANALIT PADA URIN A. JUMLAH URIN NORMAL

Kondisi urine dan artinya Urine dapat menjadi indikator kondisi kesehatan seseorang, terutama menakar kondisi ginjal. Misalkan, adanya sel darah putih di urine bisa jadi tanda infeksi ginjal. Sedangkan kencing bisa jadi cara tubuh menjaga jumlah keseimbangan air di dalam tubuh. Anda mungkin pernah mengamati, jika banyak minum, seseorang jadi sering kencing dan warna urine cenderung kuning pucat.

Jumlah urin normal rata-rata 1 sampai 2 liter sehari, tetapi berbeda-beda sesuai jumlah cairan yang dimasukkan. Banyaknya bertambah pula bila terlampau banyak protein yang dimakan, sehingga tersedia cukup cairan yang diperlukan untuk melarutkan urea. Urin normal berwarna bening orange pucat tanpa endapan, baunya tajam, reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6, berat jenisnya berkisar dari 1.010 sampai 1.025.

Melansir Johns Hopkins Medicine, warna urine kuning pucat atau kuning bening adalah normal dan sehat. Urine berwarna kuning gelap atau warna urine mirip amdu berarti tubuh butuh lebih banyak air.

Warna urine gelap atau kecokelatan berarti tanda gangguan hati atau dehidrasi parah. Sedangkan warna urine merah mudah atau merah artinya ada darah dalam cairan urin.

BAB VI

(21)

14

Gambar 6.1. Komposisi Urine

B. CIRI-CIRI URIN NORMAL 1. Volume

Urin rata-rata : 1 - 2 liter setiap hari, tergantung luas permukaan tubuh dan intake cairan.

2. Warna

Kuning bening oleh adanya urokhrom. Secara normal warna urin dapat berubah, tergantung jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi, warna kuning mengandung banyak melanin, warna cokelat kehitam-hitaman. Warna merah tua (hematuria) menandakan banyak darah, warna keruh (piuria) menandakan adanya protein dan warna keruh (proteinuri).

3. Bau

Bau khas urin disebabkan adanya asam-asam yang mudah menguap, bau tajam yang ditimbulkan disebabkan adanya NH3 dari pemecahan ureum dalam urin.

4. Berat jenis urin

Normal : 1,002 – 1,045, rata-rata: 1,008.

5. pH urin

kurang lebih pH urin sekitar 4,8 – 7,5 Px dengan kertas lakmus (reaksi).

(22)

15

PENYEBAB DARI HASIL POSITIF PALSU

A. PEMERIKSAAN PENYEBAB HASIL POSITIF PALSU PADA URIN

Pemeriksaan urin terdiri dari pemeriksaan makroskopis yang meliputi pemeriksaan warna, kejernihan, mikroskopis dan kimia urin. Metode yang dipakai untuk memperoleh hasil pemeriksaan urin pun bermacam-macam, seperti metode konvensional dan metode carik celup. Metode carik celup sering dipakai karena relative lebih cepat dan memerlukan sampel urin yang sedikit, tapi faktanya metode konvensional juga masih sering digunakan, seperti pemeriksaan glukosa urine dapat dilakukan dengan metode benedict dan carik celup.

1. Pemeriksaan Glukosa Urin

Pemeriksaan glukosa urin termasuk pemeriksaan penyaring. Pemeriksaan untuk menentukan adanya glukosa dalam urin dapat dilakukan dengan berbagai macam metode.

Pengukuran glukosa dalam urin menggambarkan kadar glukosa secara tidak langsung, selain itu juga dapat membedakan normoglikemia atau hipoglikemia.

Pemeriksaan berikut dapat dipakai untuk memantau glukosuria penderita diabetes mellitus, dengan uji reduksi seperti benedict dan uji enzimatik berupa carik celup.

a. Metode Benedict

Pemeriksaan glukosa urine metode benedict memanfaatkan sifat glukosa sebagai zat pereduksi. Reagen benedict mengandung garam cupri di mana jika di tambahkan urine yang mengandung glukosa dan dipanaskan maka akan berubah menjadi cupro dengan ditandai dengan adanya perubahan warna dan kekeruhan pada reagen benedict.

1) Metode dan prinsip pemeriksaan Metode : Manual

Prinsip : Glukosa dalam urin akan mereduksi cuprisulfat menjadi cuprusulfat yang terlihat dengan perubahan warna dari larutan benedict.

2) Interpretasi hasil

Negatif (-) : warna biru jernih karena tidak ada perubahan warna pada BAB

VII

(23)

16 reagen benedict.

Positif (1+) : setara dengan 50 – 100 mg/dL : warna hijau kekuningan agak keruh.

Positif (2+) : setara dengan 100 – 150 mg/dL : warna kuning keruh.

Positif (3+) : setara dengan 200 – 350 mg/dL : warna jingga atau lumpur keruh.

Positif (4+) : setara dengan >350 mg/dL: warna merah bata keruh.

3) Faktor yang mempengaruhi hasil

Uji glukosa urin metode ini kurang spesifik karena ada beberapa zat yang dapat menyebabkan hasil positif palsu, antara lain fruktosa, sukrosa, galaktosa, pentose, laktosa, formalin, glukoronat serta pengaruh obat antara lain streptomisin, salisilat kadar tinggi, vitamin C. Hal ini karena vitamin C adalah asam askorbat yang dapat mereduksi cuprisulfat menjadi cuprosulfat, selain itu pemanasan yang terlalu lama dan hasil reaksi yang tidak segera dibaca menyebabkan hasil menjadi positif lebih tinggi.

b. Metode Carik Celup

Carik celup berupa strip yang dilekati kertas berisi dua macam enzim, yakni glukosa oksidase dan peroksidase serta semacam zat o-tolidine yang akan berubah warna jika teroksidasi. Pemeriksaan glukosa urin metode carik celup menggunakan reagen strip yang dicelupkan kedalam urin lalu diamati adanya perubahan warna yang terjadi pada reagen strip. Metode ini memberikan hasil semi kuantitatif.

1) Metode dan prinsip pemeriksaan Metode : Manual

Prinsip : reaksi spesifik glukosa-oksidase/peroksidase (GOD/POD).

2) Interpretasi hasil

Normal : kuning, tidak terjadi perubahan warna pada reagen strip.

50 mg/dL (+) : kuning kehijauan.

100 mg/dL (++) : hijau muda.

300 mg/dL (+++) : hijau tua.

1000 mg/dL (++++) : hijau tua kebiruan.

(24)

17

3) Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil uji carik celup antara lain Hasil positif palsu dapat disebabkan oleh bahan pengoksidasi misalnya hydrogen peroksida, hipoklorit atau klorin dalam wadah sampel urin. Hasil negatif palsu dapat disebabkan oleh pengaruh obat misalnya vitamin C, berat jenis urin >1.020 reagen carik celup yang kadaluarsa dan urin yang mengalami pendinginan .

c. Metode Fehling

Pereaksi fehling terdiri terdiri dari dua bagian, yaitu fehling A yang berisi larutan CuSO4 dan fehling B yang berisi campuran larutan NaOH dan kalium tartrat.

1) Metode dan prinsip pemeriksaan Metode : manual

Prinsip : dalam suasana alkali, glukosa mereduksi cupri menjadi cupro kemudian membentuk Cu2O yang mengendap dan berwarna merah

2) Interpretasi hasil

Negatif (-) : warna biru atau hijau keruh Positif (1+) : larutan hijau agak kuning keruh

Positif (+2) : larutan kuning kehijauan dangan endapan kuning

Positif (+3) : larutan kuning kemerahan dengan endapan kuning merah Positif (+4) : larutan merah jingga sampai merah bata

3) Faktor - faktor yang mempengaruhi hasil

Faktor yang mempengaruhi hasil pada pemeriksaan fehling yaitu pada reagen fehling mengandung basa kuat (KOH), karena adanya basa kuat tersebut menyebabkan positif palsu dimana semua reduktor terdeteksi sebagai glukosa.

(25)

18

18 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

PENYEBAB DARI HASIL NEGATIF PALSU

B. PEMERIKSAAN PENYEBAB HASIL NEGATIF PALSU PADA URIN 1. Pemeriksaan Glukosa Urin

Pemeriksaan glukosa urin termasuk pemeriksaan penyaring. Pemeriksaan untuk menentukan adanya glukosa dalam urin dapat dilakukan dengan berbagai macam metode.

Pengukuran glukosa dalam urin menggambarkan kadar glukosa secara tidak langsung, selain itu juga dapat membedakan normoglikemia atau hipoglikemia.

Pemeriksaan berikut dapat dipakai untuk memantau glukosuria penderita diabetes mellitus, dengan uji enzimatik berupa carik celup yang menyebabkan salah satu hasil nya negative palsu.

a. Metode Carik Celup

Carik celup berupa strip yang dilekati kertas berisi dua macam enzim, yakni glukosa oksidase dan peroksidase serta semacam zat o-tolidine yang akan berubah warna jika teroksidasi. Pemeriksaan glukosa urin metode carik celup menggunakan reagen strip yang dicelupkan kedalam urin lalu diamati adanya perubahan warna yang terjadi pada reagen strip. Metode ini memberikan hasil semi kuantitatif.

1) Metode dan prinsip pemeriksaan Metode : Manual

Prinsip : reaksi spesifik glukosa-oksidase/peroksidase (GOD/POD).

2) Interpretasi hasil

Normal : kuning, tidak terjadi perubahan warna pada reagen strip.

50 mg/dL (+) : kuning kehijauan.

100 mg/dL (++) : hijau muda.

300 mg/dL (+++) : hijau tua.

1000mg/dL (++++) : hijau tua kebiruan.

BAB VIII

(26)

19

19 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

3) Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil uji carik celup antara lain.

Hasil negatif palsu dapat disebabkan oleh pengaruh obat misalnya vitamin C, berat jenis urin >1.020 reagen carik celup yang kadaluarsa dan urin yang mengalami pendinginan .

(27)

20

20 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

PENGENALAN SAMPEL FESES

A. DEFENISI FESES / TINJA

Tinja adalah hasil dari digesti dan absorpsi asupan (intake) air, makanan (per oral), saliva, cairan lambung, cairan yang berasal dari pankreas, dan cairan empedu yang semuanya berperan pada proses pencernaan makanan. Orang dewasa mengeluarkan feses antara 100- 300 gram/hari yang 70% diantaranya adalah tinja.

Bentuk dan komposisi feses bergantung pada proses absorpsi, sekresi dan fermentasi.

Feses normal akan berwarna kuning (berasal dari degradasi pigmen empedu oleh bakteri), tidak lembek dan tidak keras, berbau khas (berasal dari indol, skatol, dan asam butirat).

Protein yang tidak tercerna dengan baik akan menyebabkan bau yang kuat.

B. JENIS TINJA

Bristol Stool Chart atau Skala Feses Bristol adalah bantuan medis yang dirancang untuk mengklasifikasikan bentuk kotoran manusia menjadi tujuh kategori. Kadang-kadang di inggris disebut sebagai Skala Meyers. Skala ini dikembangkan oleh K.W Heaton di University of Bristol dan pertama kali diterbitkan dalam Scandinavian Journal of Gastroenterology pada tahun 1997.

Gambar 9.1. Variasi Bentuk Tinja

BAB IX

(28)

21

21 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

PENGENALAN SAMPEL FESES (LANJUTAN)

C. PERANAN FESES DALAM KEHIDUPAN

Banyak diidentifikasikan oleh para ahli, bahwa feses dapat mengandung bibit penyakit sebagai berikut :

1. Mikroorganisme Patogen

Hubungan dengan penyakit-penyakit yang ditularkan melalui feses, organisme penyebab dapat dikelompokkan menjadi 4 yaitu virus, bakteri, protozoa, dan cacing. disamping itu bisa merupakan tempat berkembang biaknya serangga terutama nyamuk, lalat dan kecoak yang selalu memberikan dampak merugikan kepada manusia.

2. Virus

Lima kelompok dari virus pathogen yang penting adalah adone-virus, antero-virus (termasuk poliovirus), hepatitis A virus dan virus penyebab diare (terutama rata virus).

Kelompok virus lainnya juga dapat ditemukan dalam tinja, seperti infeksi yang disebabkan oleh semua kelompok virus tersebut tertama pada anak-anak seringkali tidak menimbulkan gejala klinis.

3. Bakteri

Tinja dari orang sehat mengandung sejumlah besar bakeri kameusal dari banyak spesies.

Kelompok mikroorganisme yang selalu tetap ditemukan dalam tinja manusia adalah bakteriodes, fragilus, fecal califarms,total califarms, E coli, fecal asteprococci, lactocaccili clostridia, bacteriodes, bifidobacteria dan eubacteria.

4. Protozoa

Berbagai macam spesies dari protozoa dapat menginfeksi manusia dan menyebabkan penyakit. Hanya 3 spesies dari protozoa usus manusia yang sering kali bersifat patogen yaitu giardia, lambia, balantdium, dan entamoeba histolytica.

5. Cacing

NO PENYAKIT TRANSMISI DISTRIBUSI

1 Ancylostomosis Manusia-Tanah-Manusia Terutama di iklim tropis dan basah

BAB X

(29)

22

22 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

2 Ascariasis Manusia-Tanah-Manusia Diseluruh dunia 3 Trichiuasis Manusia-Tanah-Manusia Diseluruh dunia

(30)

23

23 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

PEMERIKSAAN FESES

A. PEMBAGIAN PEMERIKSAAN FESES

Pemeriksaan feses di lakukan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di dilakukan untuk tujuan mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di periksa fesesnya.Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan.

Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejala klinik kurang dapat dipastikan.

Menurut (Setya 2013) Pemeriksaan laboratorium meliputi beberapa jenis yang dapat digolongkan menjadi makroskopis, mikroskopis, kimia.

1. Pemeriksaan Makroskopis a. Pemeriksaan Bau

b. Pemeriksaan Warna dan Sisa Makanan c. Pemeriksaan Lendir dan Konsistensi d. Pemeriksaan pH

e. Pemeriksaan Darah f. Pemeriksaan Jumlah g. Pemeriksaan Nanah h. Pemeriksaan Parasit

2. Pemeriksaan Mikroskopis a. Protozoa

b. Telur Cacing c. Leukosit d. Eritrosit e. Epitel f. Kristal g. Makrofag h. Sel ragi

BAB XI

(31)

24

24 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

i. Jamur

3. Pemeriksaan Kimia

B. INDIKASI PEMERIKSAAN FESES

Feses adalah sisa hasil pencernaan dan absorbsi dari makanan yang kita makan yang dikeluarkan lewat anus dari saluran cerna.Jumlah normal produksi 100 – 200 gram/ hari.

Feses terdiri dari air, makanan tidak tercerna, sel epitel, debris, celulosa, bakteri dan bahan patologis. Jenis makanan serta gerak peristaltik mempengaruhi bentuk, jumlah maupun konsistensinya dengan frekuensi defekasi normal 3x per-hari sampai 3x per-minggu.

Indikasi dilakukan pemeriksaan feses:

1. Adanya diare dan konstipasi 2. Adanya darah dalam tinja 3. Adanya lendir dalam tinja 4. Adanya ikterus

5. Adanya gangguan pencernaan 6. Kecurigaan penyakit gastrointestinal C. PENGAMBILAN SAMPEL FESES

Feses untuk pemeriksaan sebaiknya yang berasal dari defekasi spontan. Jika pemeriksaan sangat diperlukan,boleh juga sampel tinja di ambil dengan jari bersarung dari rectum. Untuk pemeriksaan biasa dipakai tinja sewaktu, jarang diperlukan tinja 24 jam untuk pemeriksaan tertentu. Tinja hendaknya diperiksa dalam keadaan segar, kalau dibiarkan mungkin sekali unsur - unsur dalam tinja itu menjadi rusak. Umumnya pengambilan sampel feses dilakukan di rumah/ laboratorium. Bila sampel feses diambil di rumah, feses sebaiknya dibawa ke laboratorium, kurang dari 1 jam.

Syarat dalam pengumpulan sampel untuk pemeriksaan feses:

1. Wadah sampel bersih, kedap, bebas dari urine. Untuk mengirim tinja, wadah yang baik ialah yang terbuat dari kaca atau sari bahan lain yang tidak dapat ditembus seperti plastik.

Kalau konsistensi tinja keras, dos karton berlapis paraffin juga boleh dipakai. Wadah harus bermulut lebar.

2. Harus diperiksa 30 – 40 menit sejak dikeluarkan jika ada penundaan simpan di almari es.

3. Tidak boleh menelan barium, bismuth dan minyak 5 hari sebelum pemeriksaan.

4. Diambil dari bagian yang paling mungkin memberi kelainan, misalnya bagian yang bercampur darah atau lender.

5. Paling baik dari defekasi spontan atau Rectal Toucher sebagai pemeriksaan tinja sewaktu.

6. Pasien konstipasi dapat diberikan saline cathartic terlebih dahulu.

(32)

25

25 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

7. Pada Kasus Oxyuris dapat digunakan metode schoth tape & object glass.

(33)

26

26 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

ANALIT YANG TERDAPAT DALAM FESES

A. KOMPOSISI FESES

Kotoran Manusia (feses) adalah sisa ampas makanan yang tidak dapat dicerna yang bisa saja berbentuk karbohidrat protein, enzim, lemak, sel-sel mati dan juga mikroba dalam satu liter kotoran manusia terdapat materi organik yang setara dengan 200-300 mg BODS.

Dalam tinja masih ada dalam nutrien yaitu senyawa Nitrogen dan fosfor yang dibawa oleh sel-sel mati dan juga sisa-sisa protein. Biasanya keluar dalam bentuk ammonium, satu liter tinja bisa mengandung ammonium seberat 25 gram juga fosfat 30 mg. Jika zat ini masuk kedalam air hanya akan meningkat pertumbuhan gangguan air yang menghabiskan oksigen sehingga ikan dan hewan air lainya akan mati.

Komposisi kotoran manusia (feses) terdiri dari bermacam-macam benda antara lain:

1. Sisa makanan yang membusuk dan mengeluarkan bau

2. Bibit penyakit yang berbahaya dan telur cacing, terutama pada kotoran dari manusia yang sakit perut maupun cacingan.

Dalam tinja manusia juga terdapat miliaran mikroba termasuk dalam bakteri patogen yaitu bakteri yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia seperti salmonella typhi (tifus), vibrio cholera (kolera) virus hepatitis, dan juga polio. Jika seseorang cacingan dapat di pastikan jika dalam tinjanya terdapat telur-telur cacing. Beragaman telur cacing yang dapat hidup dalam perut kita seperti cacing gelang, cambuk, tambang, dan kremi, satu gram tinja dapat berisi ribuan telur yang sikap berkembang dalam perut orang lain.

BAB XII

(34)

27

27 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

JUMLAH ANALIT YANG TERDAPAT DALAM FESES A. JUMLAH ANALIT DALAM FESES

B. CIRI-CIRI FESES YANG DINYATAKAN NORMAL

1. Berwarna coklat, bertekstur lembut, dan keseluruhan bentuknya konsisten

2. Tidak mengandung bakteri, virus, jamur, parasit, lendir, nanah, darah, dan serat daging

3. Mengandung 2,7 gram lemak dalam 24 jam 4. Mengandung gula kurang dari 0,25 gram/dL 5. Memiliki tingkat keasaman 7,0-7,5

1. Berwarna Kecokelatan

Feses yang sehat memiliki warna kecokelatan hingga cokelat tua. Warna ini berasal dari pigmen (zat pemberi warna) yang disebut bilirubin. Bilirubin merupakan zat hasil perombakan sel darah merah sebagai salah satu fungsi hati.

2. Memiliki Bau Tak Sedap Yang Khas

Bau khas feses berasal dari pembentukan gas oleh bakteri di dalam usus. Tingginya kandungan belerang dalam gas usus memang membuat bau feses menjadi kuat dan tidak sedap, tapi bau tersebut adalah salah satu ciri dari feses yang sehat.

BAB XIII

(35)

28

28 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

3. Bertekstur Lembut

Feses orang yang sehat biasanya berbentuk seperti sosis karena bentuk usus yang memanjang. Feses berbentuk potongan atau butiran kecil juga bisa menandakan usus yang sehat, tapi Anda tetap perlu mencermati apakah terdapat gejala yang lain.

4. Tidak Menimbulkan Rasa Sakit

Usus yang sehat tidak akan menimbulkan sakit ketika buang air besar. Pasalnya, tekanan yang dihasilkan oleh feses cenderung lemah sehingga kebanyakan orang hanya membutuhkan 10-15 menit untuk buang air besar. Jika Anda menghabiskan waktu yang lebih lama saat buang air besar karena harus mengejan, ada kemungkinan Anda mengalami gangguan pencernaan. Gangguan ini mungkin berupa sembelit, wasir, atau masalah kesehatan lainnya.

5. Frekuensi BAB Normal

Frekuensi buang air besar yang normal paling tidak adalah 3 kali dalam seminggu.

Kenyataannya, rentang frekuensi tersebut amat beragam. Sebagian orang buang air besar satu kali dalam sehari, tapi ada juga yang buang air besar hingga 3 kali sehari.

(36)

29

29 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

MACAM - MACAM PEMERIKSAAN FESES

A. MACAM-MACAM PEMERIKSAAN FESES

Menurut (Setya 2013) Pemeriksaan laboratorium meliputi beberapa jenis yang dapat digolongkan menjadi makroskopis, mikroskopis, kimia.

1. Pemeriksaan Makroskopis

Pemeriksaan makroskopis, meliputi warna, darah, lendir, konsistensi, bau, pH, dan sisa makanan.

a. Pemeriksaan Bau

Seperti halnya pemeriksaan bau urine, uji bau pada tinja dilakukan dengan mengibaskan menggunakan telapak tangan terhadap sampel tinja pada wadahnya.

Interprestasi hasil:

1) Normal: Merangsang tetapi tidak terlalu busuk 2) Abnormal: Amis, busuk, tengik, dan sebagainya.

b. Pemeriksaan Warna dan Sisa Makanan

Warna dan sisa makanan diuji secara langsung dengan mengamati tinja secara visual.

Interprestasi hasil:

1) Normal: Kuning Kecoklatan,

2) Abnormal: Hitam, merah, hijau, dan sebagainya.

c. Pemeriksaan Lendir dan Konsistensi

Dua parameter ini dapat diperiksa secara bersamaan dalam satu langkah kerja, yaitu dengan menggunakan stik yang ditusukkan kedalam sampel.

Interprestasi hasil:

1) Konsistensi:

a) Normal: Lunak (tidak keras/lembek) b) Abnormal: Keras, lembek, dan encer

2) Lendir (diperiksa setelah stik ditusukkan dalam sampel lalu di ambil lagi) a) Positif (+): Terdapat lendir yang ikut saat stik diambil

b) Negatif (-): Tidak terdapat lendir d. Pemeriksaan pH

pH tinja diperiksa menggunakan strip pH dengan bantuan pinset. Kertas pH menggunakan pinset lalu tempelkan/benamkan ke dalam sampel tinja selama 30 detik.

BAB XIV

(37)

30

30 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

Cocokkan perubahan warna yang terjadi pada kertas pH dengan standar warna strip pH.

e. Pemeriksaan Darah

Darah dapat diperiksa secara langsung maupun dengan bantuan reagen kimia untuk mendeteksi adanya darah samar dalam tinja.

Interprestasi hasil:

a. Positif (+) : Ada darah

b.Negatif (-) : Tidak terdapat darah f. Pemeriksaan Jumlah

Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250gram per hari. Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makanan bila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat.

g. Pemeriksaan Nanah

Pada pemeriksaan feses dapat ditemukan nanah. Hal ini terdapat pada pada penyakit Kronik ulseratif kolon, fistula colon sigmoid, lokal abses.Sedangkan pada penyakit disentri basiler tidak didapatkan nanah dalam jumlah yang banyak.

h. Pemeriksaan Parasit

Diperiksa pula adanya cacing ascaris, anylostoma dan spesies cacing lainnya yang mungkin didapatkan dalam feses.

2. Pemeriksaan Mikroskopis

Pemeriksaan mikroskopis feses terutama ditujukan untuk menemukan protozoa, larva, dan telur cacing.

a. Protozoa

Biasanya didapati dalam bentuk kista, bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit. Untuk menemukan protozoa, digunakan larutan eosin 1-2% atau lugol 1-2%.

b. Telur Cacing

Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Enterobius vermicularis, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan sebagainya.

c. Leukosit

(38)

31

31 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Pada disentri basiler, kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah leukosit. Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan alergi saluran pencenaan. Untuk mempermudah pengamatan leukosit dapat ditambah 1 tetes asam acetat 10% pada 1 tetes emulsi feces pada obyek glass.

d. Eritrosit

Eritrosit hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon, rektum atau anus. Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal.

e. Epitel

Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epitel yaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. Sel epitel yang berasal dari bagian proksimal jarang terlihat karena sel inibiasanya telah rusak. Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal.

f. Kristal

Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat, kalsium oksalat dan asam lemak. Kristal tripel fosfat dan kalsium oksalat didapatkan setelah memakan bayam atau strawberi, sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak.Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leyden Tinja, Butir-butir amilum dan kristal hematoidin. Kristal Charcoat Leyden didapat pada ulkus saluran pencernaan seperti yang disebabkan amubiasis.

Pada perdarahan saluran pencernaan mungkin didapatkan kristal hematoidin.

g. Makrofag

Sel besar berinti satu dengan daya fagositosis, dalam sitoplasmanya sering dapat dilihat bakteri selain eritrosit, lekosit .Bentuknya menyerupai amuba tetapi tidak bergerak.

h. Sel Ragi

Khusus Blastocystis hominis jarang didapat. Pentingnya mengenal strukturnya ialah supaya jangan dianggap kista amoeba.

i. Jamur

(39)

32

32 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

Pemeriksaan KOH Pemeriksaan KOH adalah pemeriksaan tinja dengan menggunakan larutan KOH (kalium hidroksida) untuk mendeteksi adanya jamur, sedangkan pemeriksaan tinja rutin adalah pemeriksaan tinja yang biasa dilakukan dengan menggunakan lugol. Untuk membedakan antara kandida dalam keadaan normal dengan kandidiasis adalah pada kandidiasis, selain gejala kandidiasis, dari hasil pemeriksaan dapat ditemukan bentuk pseudohifa yang merupakan bentuk invasif dari candida pada sediaan tinja.

Sedangkan berikut adalah beberapa unsur lain yang bisa di teramati pada pemeriksaan mikroskopis:

a. Karbohidrat (menggunakan lugol, akan tampak butiran biru),

b. Lemak (menggunakan larutan sudan III, akan tampak butiran jingga),

c. Protein (menggunakan reagen asam asetat 30% akan tampak butiran kuning muda).

3. Pemeriksaan Kimia

Darah samar dan urobilinogen merupakan unsur terpenting dalam pemeriksaan kimia tinja.

B. METODE PEMERIKSAAN FESES

Pemeriksaan telur cacing dari feses dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu sediaan langsung (sediaan basah) dan sediaan tidak langsung (konsentrasi).

Metode pemeriksaan tinja juga dibagi menjadi metode kuantitatif dan metode kualitatif.

Metode kualitatif berguna untuk menentukan positif atau negatif cacingan.Metode yang biasa digunakan untuk pemeriksaan kualitatif adalah metode direct slide, metode flotasi dan metode sedimentasi. Metode kuantitatif berguna untuk menentukan intensitas infeksi atau berat ringannya penyakit dengan mengetahui jumlah telur per gram tinja. Metode yang biasa digunakan untuk pemeriksaan kuantitatif adalah metode Kato-Katz dan metode stoll.

1. Pemeriksaan Feses Secara Langsung (Sediaan Basah)

Cara langsung (sediaan basah) adalah metode yang digunakan bertujuan untuk mengetahui telur cacing pada tinja secara langsung. Pemeriksaan feses secara langsung dapat dilakukan dengan dua metode yaitu dengan kaca penutup dan tanpa kaca penutup.

2. Pemeriksaan Feses Secara Tidak Langsung (Konsentrasi) a. Metode Sedimentasi/Pengendapan

(40)

33

33 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

Prinsip pemeriksaan metode sedimentasi adalah adanya gaya sentrifugal dari sentrifuge yang dapat memisahkan antara suspensi dan supernatannya sehingga telur cacing akan terendapkan.

b. Metode Flotasi

Metode ini menggunakan larutan garam jenuh atau gula jenuh sebagai alat untuk mengapungkan telur. Metode ini terutama dipakai untuk pemeriksaa tinja yang mengandung sedikit telur.

c. Metode Stoll

Metode ini menggunakan NaOH 0,1N sebagai pelarut tinja, Metode ini baik digunakan untuk infeksi berat dan sedang. Metode ini kurang baik untuk pemeriksaan ringan.

(41)

34

34 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

DAFTAR PUSTAKA

Burtis CA, Ashwood ER, Bruns DE, Sawyer BG. TIETZ, (2008). Fundamental of Clinical Chemistry, sixth edition. Elsevier Inc. Philadelphia.

Dipiro JT, Talbert RL, Yee GC, Matzke GR, Wells BG, Posey LM. (2008).

Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach 7th edition. McGraw-Hill Companies, Inc. New York.

Notoadmodjo, (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu perilaku. Jakarta: Rineka cipta.

Roberta Reed. (2017). Clinical Chemistry Learning Guide Series. USA: Abbot Laboratpries.

Setya, K.A. (2013). Parasitologi: Praktikum Analis Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.

(42)

35

35 | Program StudiTeknologiLaboratoriumMedikFakultasFarmasiInstitut Kesehatan MedistraLubukPakam

Gambar

Gambar 2.1. Cara Mendapatkan Serum dan Plasma
Gambar 6.1. Komposisi Urine
Gambar 9.1. Variasi Bentuk Tinja

Referensi

Dokumen terkait

Sabouraud (diucapkan sah-bu-Ro ') medium agar dikembangkan oleh dokter kulit Perancis, Raymond JA Sabouraud pada akhir 1800 untuk mendukung pertumbuhan jamur yang

baik atau tidak baik, hal itu akan terlihat dan dapat dikenali melalui penggunaan bahasa Indonesianya. Pengembanan fungsi demikian seyogianya mendapat pencermatan agar kita

2) Peritoneum viseral: melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. 3) Ruang yang berada diantara kedua lapisan disebut ruang peritoneal. 4) Didalam

Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu caram mekanik, cara fisik, dan cara kimiawi. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang

Mata kuliah ini mempelajari Bahasa Indonesia dalam ilmu teknologi laboratorium medik dengan menekankan penggunaan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar

Pembuluh darah adalah bagian dari sistem peredaran darah yang berfungsi untuk mengedarkan darah dari jantung ke berbagai organ dan jaringan tubuh

Mata kuliah Media dan Reagensia membahas tentang konsep dari media dan reagensia, pembuatan reagensia,reagensia yang digunakan untuk pewarnaan pemeriksaan dilaboratorium klinik,

Pada uji Iod, hanya amilum yang menunjukkan hasil positif termasuk polisakarida dengan menunjukkan perubahan warna menjadi biru kehitaman.Dalam tubuh manusia,