Partai Golkar dalam Bingkai Khalayak
(Analisis Audience Framing Pemberitaan Munas Partai Golkar ke VIII pada Harian Kompas Periode Bulan Oktober 2009)
SKRIPSI
Untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi
Disusun oleh : ANNISA ROHMAH
D0205039
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET
ii
PERSETUJUAN
Skripsi ini disetujui untuk diuji dan dipertahankan di depan Panitia Ujian Skripsi
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret
Surakarta
Hari : Rabu
Tanggal : 24 Maret 2010
Surakarta, 24 Maret 2010 Pembimbing,
iii
PENGESAHAN
Telah disetujui dan disahkan oleh Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Hari : Rabu
Tanggal : 21 April 2010
Panitia Penguji :
1. Prof. Drs. H. Totok Sarsito, S.U, M.A, sebagai Ketua (...) NIP 19490428 197903 1 001
2. Tanti Hermawati, S.Sos, M.Si sebagai Sekretaris (...) NIP. 19690207 199512 2 001
3. Prof. Drs. H. Pawito, Ph.D sebagai Penguji (...) NIP. 19540805 198503 1 002
Mengetahui Dekan,
iv MOTTO
”Laa haulaa walaa quwwata illaa billaah” (Tiada daya upaya selain dari Allah SWT)
”Kekuatan doa dan energi positif
mampu menembus keterbatasan dan ketidakmungkinan” (Annisa Rohmah)
”Dalam menghadapi keadaan apapun, jangan lengah! Sebab kelengahan menimbulkan kelemahan,
Dan kelemahan menimbulkan kekalahan, Sedang kekalahan menimbulkan penderitaan”
v
PERSEMBAHAN
Karya sederhana ini peneliti persembahkan untuk: 1. Ibunda, atas kasih sayang dan pengorbanan
yang tidak pernah putus.
2. Bapak, atas doa dan motivasi untuk segera menyelesaikan skripsi peneliti.
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur tiada terhingga hanya kepada Allah SWT, Tuhan yang memberi nafas dan kesempatan hidup yang berharga. Hanya karena ridho dan petunjukNya-lah, peneliti mampu menyelesaikan tugas yang tampak berat ini dengan lancar. Skripsi ini merupakan pertanggungjawaban peneliti atas perjuangan empat tahun menempuh pendidikan di Ilmu Komunikasi FISIP UNS.
Meski tidak sedikit menemui hambatan dalam menyelesaikan skripsi ini, banyak pihak yang tak pernah lelah memberi dukungan dan membagi ilmunya kepada penulis. Untuk itulah, penulis ingin menghaturkan rasa terima kasih dan penghargaan yang begitu mendalam kepada berbagai pihak berikut ini.
1. Drs. H. Supriyadi SN, SU selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Dra. Prahastiwi Utari, Ph.D, selaku Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sebelas Maret yang memiliki dedikasi begitu luar biasa. 3. Dra. Christina T.H, M.Si, selaku pembimbing akademik peneliti yang
banyak memberikan kemudahan dan motivasi kepada peneliti.
4. Prof. Drs. Pawito, Ph.D, selaku dosen pembimbing yang selalu mengarahkan dan membantu peneliti menulis skripsi ini hingga akhir. 5. Ibunda, Bapak, Kakak-kakakku: Ichsan dan Sarah, Pakde, Uti, serta
vii
6. Sahabat-sahabat yang selalu menjadi pelipur lara, Leonie Bunga, Ayoe Niken, Sovya Marda, dan Aditya Kundhala. Serta sahabat-sahabat dari kampus tercinta: Paramita Sari, Sri Hartini, dan Arin Prasetyo, terimakasih untuk tawa dan tangis bersama, semoga kisah kecil di kampus ini akan kita bawa sampai kita tua nanti.
7. Kisbandi Virdha Kurniawan, untuk semua diskusi yang berarti, serta perhatian, kesabaran, dan motivasi yang diberikan kepada peneliti dalam menghadapi setapak demi setapak proses kehidupan selama setahun ini. 8. Kawan-kawan seperjuangan di Nolima Organizer: Albert, Pandu, Agung,
Densa, Indah, Yaninta; dan keluarga Komunikasi 2005 yang istimewa: Azizah, Sumi, Filia, Heni, Nanda, Dini, Ida, Festy, Windy, Ajeng, dll. 9. Keluarga besar Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) VISI FISIP UNS.
Sebuah “rumah” kecil, yang sering terlupakan, tapi nyatanya dari sinilah langkah kecil itu dimulai. Terimakasih “tetua-tetua” VISI: Haris, Tedy, Joni, Abdul, Ika, Nila, Rini; serta adik-adikku: Ema, Adinda, Rizky, Wahyu, Wida, Nosi, Nanda, Alina, Intan, dan lain-lain.
10.Responden skripsi ini, Suhartono, Sutta Dharma, Eko, Ansyor, Nanda, Rorie, Haris, Joni, dan Mita. Terimakasih untuk waktu dan diskusinya. 11.Seluruh pihak yang tak dapat disebutkan satu per satu.
Semoga skripsi yang peneliti susun ini dapat memberikan manfaat, bagi siapa saja yang membacanya. Terimakasih.
viii
ANNISA ROHMAH
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
HALAMAN MOTTO... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN... v
KATA PENGANTAR... vi
DAFTAR ISI... viii
DAFTARGAMBAR... xi
DAFTAR TABEL... xii
ABSTRAK... xiv
ABSTRACT………... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah... 9
C. Tujuan Penelitian... 10
D. ManfaatPenelitian... 10
E. Telaah Pustaka 1. Demokrasi, Partai Politik dan Pers Indonesia... 11
2. Proses Produksi Berita... 18
3. Framing sebagai Bagian dari Paradigma Konstruktivisme... 23
4. Pembentukan Konstruksi Realitas oleh Berita dan Media... 31
5. Audience sebagai Khalayak Aktif ... 36
F. Metodologi Penelitian 1. Tipe dan Jenis Penelitian... 41
ix
3. Teknik Pengumpulan Data... 44
4. Teknik Pengambilan Sampel…... 44
5. Teknik Analisa Data... 46
6. Validitas Data………... 54
7. Kerangka Pemikiran………. 55
BAB II DESKRIPSI LOKASI A. Partai Golongan Karya (Golkar) 1. Sejarah dan Perkembangan Partai Golkar…... 56
2. Tujuan, Visi, Misi dan Platform Partai Golkar ... 60
3. Paradigma Lama dan Paradigma Baru…... 64
4. Susunan Kepengurusan... 65
5. Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar ke-VIII………… 67
B. Harian Kompas 1. Sejarah Harian Kompas……... 70
2. Visi dan Misi Harian Kompas……... 74
3. Struktur Organisasi Perusahaan…... 75
4. Kebijakan Keredaksian………... 76
5. Rubrikasi……….. 77
6. Oplah, Sirkulasi, dan Profil Pembaca……….. 79
BAB III PARTAI GOLKAR DALAM BINGKAI MEDIA DAN KHALAYAK A. Pola Pemberitaan Munas Golkar ke VIII pada Harian Kompas... 82
1. Persaingan Perebutan Kursi Ketua Umum Partai Golkar……… 86
1.1Persaingan Perebutan Kursi Ketua Umum Partai Golkar dalam Pandangan Kompas………... 92
2. Arti Penting Munas Partai Golkar ke VIII………... 101
2.1Arti Penting Munas Partai Golkar ke VIII dalam Pandangan Kompas……….. 103
3. Isu Politik Uang dan Pragmatisme dalam Pemilihan Ketua Umum………..………. 108
x
4. Indikasi Rekayasa dan Kericuhan pada Pelaksanaan Munas…... 117 4.1Indikasi Rekayasa dan Kericuhan pada Pelaksanaan Munas
dalam Pandangan Kompas………. 120 5. Posisi Politik Partai Golkar Pasca Munas……… 125
5.1Posisi Politik Partai Golkar Pasca Munas dalam Pandangan Kompas……….. 128 B. Melihat Bingkai Pembaca Kompas terhadap Pelaksanaan Munas
Partai Golkar………... 132 1. Pandangan Pembaca Kompas terhadap Persaingan Perebutan
Kursi Ketua Umum Partai Golkar……… 139 2. Pandangan Pembaca Kompas terhadap Arti Penting Munas
Partai Golkar ke VIII……… 154 3. Pandangan Pembaca Kompas terhadap Isu Politik Uang dan
Pragmatisme dalam Pemilihan Ketua Umum.………. 161 4. Pandangan Pembaca Kompas terhadap Kericuhan dan Indikasi
Rekayasa pada Pelaksanaan Munas………..………... 171 5. Pandangan Pembaca Kompas terhadap Posisi Politik Partai
Golkar Pasca Munas………... 180 C. Membandingkan Frame Kompas dengan Frame Pembaca
Kompas……….. 190 1. Persaingan perebutan kursi Ketua Umum Partai Golkar... 190 2. Arti penting Munas Partai Golkar ke VIII………... 193 3. Isu politik uang dan pragmatisme dalam Pemilihan Ketua
Umum……... 195 4. Indikasi Rekayasa dan Kericuhan pada Pelaksanaan Munas…... 196 5. Posisi Politik Partai Golkar Pasca Munas... 198
BAB IV PENUTUP
xi LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
xii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Variabel Independen dan Variabel Dependen pada Frame...28
Tabel 1.2 Daftar Responden Penelitian...46
Tabel 1.3 Kerangka Framing Pan dan Kosicki...50
Tabel 2.1 Paradigma Lama dan Baru Partai Golkar...65
Tabel 2.2 Rubrikasi Harian Umum Kompas...77
Tabel 2.3 Oplah Kompas per Lima Tahun...79
Tabel 2.4 Sirkulasi Harian Kompas Tahun 1993...79
Tabel 2.5 Segmentasi Kompas dari Segi Pendidikan...80
Tabel 2.6 Segmentasi Kompas dari Segi Penghasilan...80
Tabel 2.7 Segmentasi Kompas dari Segi Pekerjaan...81
Tabel 3.1 Daftar Berita Bulan Oktober 2009...84
Tabel 3.2 Daftar Berita yang Dianalisis...86
Tabel 3.3 Berita Bertema Persaingan Antar Calon Ketua Umum...92
Tabel 3.4 Berita Bertema Arti Penting Munas Partai Golkar VIII...103
Tabel 3.5 Berita Bertema Isu politik uang dan pragmatisme dalam pemilihan Ketua Umum...112
Tabel 3.6 Berita Bertema Indikasi Rekayasa dan Kericuhan pada Pelaksanaan Munas...120
Tabel 3.7 Berita Bertema Posisi Politik Partai Golkar Pasca Munas...128
Tabel 3.8 Rangkuman Pendapat Pembaca Kompas tentang Persaingan Antar Calon Ketua Umum...153
Tabel 3.9 Rangkuman Pendapat Pembaca Kompas tentang Arti Penting Munas Partai Golkar...160
xiii
Rekayasa dan Kericuhan pada Pelaksanaan Munas...179 Tabel 3.12 Rangkuman Pendapat Pembaca Kompas tentang Posisi Politik
xiv ABSTRAK
ANNISA ROHMAH, D0205039, Partai Golkar dalam Bingkai Khalayak (Analisis Audience Framing Pemberitaan Munas Partai Golkar ke VIII pada Harian Kompas Periode Bulan Oktober 2009), Skripsi, Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2010.
Pemberitaan peristiwa besar, seperti Munas Partai Golkar, melalui surat kabar dipercaya memberi kecenderungan dan efek tertentu bagi khalayak. Pembaca sebagai khalayak aktif memiliki pemahaman tersendiri terhadap sebuah berita. Pemahaman ini diolah dalam diri individu dan membentuk pandangan tertentu. Pendapat pembaca juga dimungkinkan mendapat pengaruh dari cara penyajian berita oleh media massa.
Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan menggabungkan analisis framing model Pan dan Kosicki dengan teori Dietram Aren Scheufele terhadap pemberitaan Munas Partai Golkar ke VIII pada Harian Kompas bulan Oktober 2009. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui kontruksi Partai Golkar yang dibangun Harian Kompas pada Munas Partai Golkar dan persepsi pembaca Kompas tentang Partai Golkar. Penelitian ini memakai orientasi bingkai khalayak (audience frames) sebagai variabel dependen. Untuk mengetahui bingkai khalayak, peneliti meletakkan fokus pada tiga unsur: bagaimana persepsi setelah membaca berita, faktor yang mendasari persepsi, dan apakah bingkai khalayak sama dengan bingkai media.
Penelitian ini secara umum menyimpulkan bahwa Kompas melihat Partai Golkar memiliki kemiripan dengan Golkar masa orde baru yang lekat dengan kekuasaan. Kompas banyak mengkritisi dinamika politik dan perilaku elite yang negatif pada pelaksanaan munas. Sementara pembaca Kompas menilai banyak masalah dalam munas yang mencitrakan Partai Golkar sebagai partai yang tidak solid. Namun pragmatisme Partai Golkar dianggap sebagai kesalahan yang membudaya dan sulit dihapuskan. Faktor yang mempengaruhi persepsi khalayak diantaranya intensitas membaca berita, penggunaan media lain, pemahaman mengenai Partai Golkar, serta kegiatan keseharian. Pada dasarnya, sebagian besar persepsi khalayak dipengaruhi oleh frame media, akan tetapi ada pula persepsi khalayak yang bertolak belakang dengan frame media yakni terkait persaingan calon ketua umum dan terjadinya politik uang.
xv ABSTRACT
ANNISA ROHMAH, D0205039, The Construction of Golkar Party (Audience Framing Analysis on Reporting to the 8th National Conference of the Golkar Party in Kompas daily newspaper Period on October 2009), Thesis, Department of Communication Sciences, Faculty of Social and Political Sciences, Sebelas Maret University, Surakarta, 2010.
Reporting the big event, such as the National Conference of Golkar Party, on the newspaper is believed to give certain trends and effects for the audience. Reader as an active audience has its own understanding of a story. This understanding is processed within the individual and establish in a particular view. Opinions reader is also possible under the influence of how the presentation of news by the media.
This research is a study combining qualitative framing analysis of Pan and Kosicki model with the theory of Dietram Aren Scheufele preaching to the 8th National Conference of the Golkar Party in Kompas daily newspaper period on October 2009. The purpose of this research is to know the construction of the Golkar Party, which was built by Kompas daily newspaper on the National Conference of the Golkar Party and the Kompas readers’ perception of the Golkar Party. This study used an audience frame oriented (audience frames) as the dependent variable. To find the audiences frame, researchers put the focus on three elements: how the perception after reading the news, the factors underlying perception, and whether the frame of audiences same with the media frame.
These studies generally conclude that Kompas see the Golkar party still has a similar character with Golkar in Orde Baru which is closely with power. Kompas criticize the political dynamics and the negative behavior of elite on National Conference. All that is shown through the choice of words, in writing, the choice of interviewees, and the results of interviews with reporters of Kompas. While Kompas readers assess many problems on National Conference that the imaging Golkar Party as the party that is not solid. But pragmatism in Golkar Party is considered as the entrenched error and difficult to be abolished. Factors that affect the public perception are the intensity of read news, use of other media, understanding of the Golkar Party, and daily activities. Basically, almost all perception of the audiences is under the influence of the media frame, but some perception of the audiences has an opposite frame with the media frame, such as the election of the political party’s leader and money politics.
xvi BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hingar bingar pesta demokrasi di Indonesia baru saja usai. Dua perhelatan besar bangsa tahun 2009, yakni Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif pada 9 April dan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 8 Juli lalu telah mendapatkan hasil. Partai Demokrat merebut kemenangan dari Partai Golongan Karya (Golkar) dengan jumlah suara 20,85%, padahal Demokrat pada Pemilu lima tahun lalu hanya memperoleh suara 7,45%. Sedang Golkar harus menelan kekalahan dengan jumlah suara yang turun drastis dari Pemilu 2004, yakni 14,45%. Fakta ini merupakan catatan sejarah, karena inilah jumlah suara terkecil yang diperoleh partai berlambang pohon beringin ini dalam sembilan kali pemilu.
Sejak Pemilu tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, hingga 1997 Golkar−yang pada awal berdiri bernama Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar−dibawah kepemimpinan mantan Presiden Soeharto berhasil mengemban kepercayaan rakyat dengan memperoleh kemenangan sebagai mayoritas tunggal.1 Meskipun pada Pemilu 1999, Golkar hanya mendapat peringkat kedua dengan jumlah 22,43% suara, namun pada Pemilu 2004 Golkar berhasil mengembalikan kejayaannya dengan menjadi juara pertama. Akan tetapi kecenderungan suara Partai Golkar terus mengalami penurunan, bahkan pada pemilu tahun 2004, Golkar hanya mendapat suara 21,58%. Padahal pada Pemilu 1997 Golkar berhasil
1
xvii
memperoleh suara mutlak 74,5%, sebelum akhirnya Soeharto digulingkan mahasiswa pada reformasi 1998.
Sama halnya dengan pemilu legislatif (Pileg), Pilpres pun membawa hasil yang sangat mengecewakan bagi partai bernomor urut 23 ini. Calon Presiden dan Wakil Presiden yang diusung Partai Golkar dan rekan koalisinya Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), yakni Jusuf Kalla (JK) dan Wiranto, kalah telak dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono serta Megawati Soekarno Putri-Prabowo Subianto. SBY-Boediono menyempurnakan kemenangan Partai Demokrat dengan memperoleh kemenangan dengan jumlah suara 60,80% dalam satu putaran saja2. Sementara JK-Wiranto hanya bercokol pada posisi ketiga dengan jumlah suara 15.081.814 atau 12,41% dari total suara pemilih.
Dua pukulan ini membuat posisi politik Partai Golkar semakin sulit. Dalam alur sejarah, Golkar selalu menjadi partai yang masuk dalam pemerintah. Golkar tidak pernah memiliki sejarah menjadi oposisi, karena sejak era orde baru, Golkar kental dengan image sebagai partai penguasa (the ruler’s party)3. Bahkan politisi Partai Golkar banyak yang duduk sebagai pejabat penting, seperti dewan legislatif, menteri, gubernur, kepala daerah, hingga kepala camat ataupun lurah.
2
Wacana Pilpres Satu Putaran digulirkan Denny J.A, Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Lembaga Studi Demokrasi (LSD), serta menjadi salah satu materi iklan kampanye SBY-Boediono. Hal ini memicu protes dari kedua pasangan calon lain yang mengharapkan pilpres dapat berlangsung dua putaran agar dapat mengalahkan SBY-Boediono. Dalam berbagai survei pra-pilpres, SBY-Boediono selalu mendapat dukungan lebih dari 50%. 3
xviii
Padahal, Partai Golkar tergolong partai berbasis massa bukan partai kader4. Pada saat krisis, persatuan partai cenderung melemah bahkan bisa dengan mudah hilang sama sekali. Sehingga dimungkinkan sekali satu per satu golongan dalam partai ini akan memisahkan diri dari partai dan membentuk partai baru karena ketidakpuasannya terhadap Partai Golkar. Hal ini pernah dibuktikan Golkar sebelum Pemilu 1999 dimana beberapa kader dan ormas pendukungnya memisahkan diri. Diantaranya, Edi Sudradjat yang mendirikan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) yang kemudian berganti nama menjadi Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Hj. Mien Sugandhi dengan Partai Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (Partai MKGR) yang berganti nama menjadi Partai Gotong Royong (PGR), R. Hartono yang membentuk Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) dan Yapto Soerjosoemarno yang mendirikan Partai Patriot Pancasila.5
Pada kondisi yang sekarang, keadaan internal partai Golkar terus bergejolak. Partai yang memiliki banyak tokoh penting ini sering mengalami konflik kepentingan antar kadernya. Kondisi ini mau tidak mau menuntut Partai Golkar untuk segera merumuskan kembali arah dan ideologi partai secara cermat. Jika tidak, sejumlah pengamat politik memastikan Golkar akan kehilangan “taringnya” dan segera menemui kematiannya. Pengamat politik Bima Arya Sugiarto misalnya, mengatakan ada lima krisis yang sebenarnya tengah dihadapi
4
Jika dilihat dari segi komposisi dan fungsi anggotanya, partai politik dibedakan menjadi dua, yakni partai massa dan partai kader. Partai massa lebih mengutamakan kekuatan berdasarkan keunggulan jumlah anggota. Sedang partai kader lebih mementingkan keketatan organisasi dan disiplin kerja anggotanya. Selengkapnya lihat Prof. Miriam Budihardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001, hal: 166
5
xix
Partai Golkar, yakni krisis elektoral, krisis orientasi, krisis kader muda, krisis basis sayap, dan krisis loyalitas6.
Pertama, krisis elektoral, yakni tingkat kepercayaan publik yang menurun drastis. Dibuktikan dengan perolehan jumlah suara yang jatuh secara signifikan meskipun Partai Golkar memiliki figur JK yang cukup bersinar ketika menjadi Wakil Presiden periode 2004-2009. Kedua, krisis orientasi, artinya Partai Golkar tidak mengedepankan visi misi dan kekokohan partai dalam gerak politiknya, akan tetapi justru berkutat pada masalah oposisi atau mendukung pemerintah, masuk atau tidak masuk dalam lingkaran kekuasaan.
Ketiga, krisis kader muda, yakni Partai Golkar kurang memberi tempat kepada kader mudanya dalam kepengurusan. Akibatnya kaum muda dalam partai lebih tersisih sehingga kepengurusan masih banyak didominasi golongan senior. Krisis keempat, yakni organisasi sayap Partai Golkar yang semakin terpecah dan seakan berdiri sendiri. Kelima, krisis loyalitas, yakni munculnya berbagai faksi dalam partai yang justru saling menyerang, sehingga kesatuan partai tidak lagi harmonis.
Maka Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar ke VIII yang dilaksanakan pada 5-8 Oktober 2009 di Pekanbaru, Riau, menjadi titik tolak Partai Golkar untuk bangkit dari keterpurukan Pemilu 2009. Munas yang secara rutin dilaksanakan per 5 tahun ini mengevaluasi kepemimpinan JK selama menjadi Ketua Umum Partai Golkar periode 2004-2009 sekaligus memutuskan langkah kongkrit Golkar untuk memenangi Pemilu 2014. Munas Golkar ini juga
6
xx
menentukan Ketua Umum Partai Golkar periode 2009-2015 yang menjadi nahkoda Golkar ke depan. Ketua Umum Golkar-lah yang menentukan, apakah Golkar kembali menjadi partner pemerintah atau justru mencetak sejarah dengan memposisikan diri sebagai lawan.
Namun ada yang berbeda dalam proses penyelenggaraan Munas kali ini. Pemilihan ketua umum dipilih secara langsung oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) serta masing-masing Dewan Pimpinan Daerah (DPD) tingkat I dan DPD tingkat II. Pada Munas sebelumnya pemilihan ketua umum terlebih dahulu dipilih dalam Konvensi Ketua Umum Partai Golkar, setelah itu baru dilakukan proses pemilihan pada munas. Sistem pemilihan langsung ini, sesuai dengan platform partai, merupakan kebijakan partai untuk menyesuaikan diri dengan sistem demokrasi Indonesia.
Seperti diketahui, pada awalnya pemilu di Indonesia memang ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi, dan
DPRD Kabupaten/Kota. Setelah amandemen keempat UUD 1945 pada 2002,
pilpres yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat sehingga pilpres pun dimasukkan ke dalam rezim pemilu. Kemudian pada 2007, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (Pilkada) pun juga dimasukkan sebagai bagian dari rezim pemilu.7
Ada empat calon kandidat yang lolos seleksi menjadi calon Ketua Umum Partai Golkar, yakni Aburizal Bakrie, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto),
7
xxi
Surya Paloh, dan Yuddy Chrisnandi. Keempatnya secara sengit terus bersaing jelang munas dilaksanakan, mulai dari penayangan iklan, saling klaim dukungan, hingga perang opini di media massa. Aburizal akhirnya menang dengan mendapatkan suara 296, mengalahkan Surya Paloh dengan jumlah suara 250. Sementara Tommy Soeharto dan Yuddy Chrisnandi sama sekali tidak mendapat dukungan suara atau nol.
Munas yang berlangsung panas dan penuh dengan kericuhan ini tentu saja menjadi titik perhatian media. Bagaimana tidak, tokoh-tokoh yang mengajukan diri menjadi ketua umum adalah tokoh-tokoh besar Golkar yang royal mengeluarkan uang untuk melakukan kampanye. Bahkan Aburizal Bakrie dan Surya Paloh adalah pemilik media besar di negeri ini. Aburizal Bakrie adalah pemilik VIVA News, TV One, dan ANTV. Sedangkan Surya Paloh memiliki Metro TV serta Media Indonesia. Tommy Soeharto sebenarnya juga merupakan salah satu pemilik saham di MNC Group–terdiri dari RCTI, TPI, Global TV, Global Radio, Koran Seputar Indonesia dan Tabloid Genie–, akan tetapi MNC lebih berkonsentrasi pada siaran entertainment bukan media berita.
xxii
perebutan kekuasaan. Anggota Dewan Penasihat Partai Golkar periode 2004-2009 Sultan Hamengku Buwono X pun sempat menyindir Partai Golkar sebagai partai pragmatis sehingga idealisme partai telah melemah8.
Salah satu media massa yang memberi perhatian khusus terhadap pelaksanaan Munas Golkar adalah Harian Kompas. Kompas adalah media cetak nasional yang memiliki oplah terbesar di Indonesia. Sebagai salah satu media nasional yang dianggap netral−meskipun tak ada media yang benar-benar netral−, Kompas secara kontinyu menuliskan pemberitaan tentang persiapan, persaingan antar calon ketua umum, memberi space khusus pada hari pelaksanaan munas, serta melakukan follow-up pemberitaan pasca Munas berlangsung.
Meskipun Kompas memiliki ideologi tak terlalu jauh dengan Partai Golkar yakni nasionalis moderat9, tetapi Kompas pasti memiliki kepentingan dan arah kebijakan tersendiri dalam pemilihan serta pemuatan berita. Seperti yang diungkapkan Pemimpin Umum Harian Kompas Jacoeb Oetama, bahwa tidak ada peristiwa yang begitu saja jatuh dari langit. Senantiasa ada latar belakang, ada
Lihat berita Kompas, “Penentuan Nasib Partai”, edisi 2 Oktober 2009 9
Kompas menyatakan diri sebagai koran yang moderat, tidak condong ke salah satu pihak, berada ditengah-tengah. Sementara Partai Golkar, dalam internalnya pun sebenarnya masih terjadi silang pendapat mengenai ideologi Partai Golkar. Aburizal dan Tommy menyatakan Partai Golkar memperjuangkan NKRI dengan berpegang pada Pancasila dan UUD ‘45. Surya Paloh mengklaim ideologi Partai Golkar adalah Nasionalis moderat, sedang menurut Yuddy Partai Golkar berbasis nasionalis religius kerakyatan. Selengkapnya lihat wawancara Harian Kompas dengan empat kandidat Ketua Umum Partai Golkar, Kompas, edisi 5 Oktober 2009, hal: 5
10
xxiii
reference).11 Surat kabar dipandang memiliki kemampuan untuk menampilkan hal tersebut lebih baik dibanding media lain.
Jacoeb Oetama juga menegaskan bahwa dengan kelebihan surat kabar tersebut, isi surat kabar akan menimbulkan kecenderungan tertentu bagi khalayak pembacanya. Pun demikian, pemberitaan Kompas mengenai pelaksanaan Munas Golkar ini tentu juga memberikan gambaran dan perspektif sendiri bagi pembacanya.
Pembaca sebagai audience, mau tidak mau pasti mendapatkan efek dari pemberitaan yang termuat pada Harian Kompas. Seperti yang diungkapkan Keith R Stamm dan John E Bowes, ada dua bagian dasar dari efek yang timbul dari komunikasi massa, yakni efek primer dan efek sekunder. Efek primer meliputi terpaan, perhatian, dan pemahaman. Sedang efek sekunder meliputi perubahan tingkat kognitif (perubahan pengetahuan dan sikap) dan perubahan perilaku (menerima dan memilih).12
Oleh karena itu, setiap individu pembaca Kompas, meskipun dengan tingkat perhatian yang terbatas dimungkinkan memiliki pemahaman tertentu terhadap pemberitaan Munas Partai Golkar yang disajikan Harian Kompas. Pemahaman ini diolah sedemikian rupa dalam diri individu pembaca dan kemudian membentuk sebuah pandangan tertentu mengenai Partai Golkar. Pendapat pembaca Kompas ini juga sangat dimungkinkan mendapat pengaruh dari cara pemberitaan dan framing berita yang sengaja dibentuk oleh Kompas.
11
Kerangka referensi bisa berasal dari pengalaman empiris, visi misi, otonomi, independensi, pandangan dan sikap dasar surat kabar tersebut. Selengkapnya lihat Jacoeb Oetama, Ibid
12
xxiv
Penelitian ini memfokuskan diri pada tiga hal, antara lain konstruksi Partai Golkar pada pelaksanaan Munas Partai Golkar yang dibentuk oleh Harian Kompas, persepsi dari pembaca Kompas mengenai pemberitaan Munas Partai Golkar, serta perbedaan dan persamaan diantara dua konstruksi tersebut. Melalui penelitian ini dengan memperhatikan muatan berita pada HarianKompas, peneliti berharap mengetahui konstruksi Partai Golkar pada pemberitaan Munas Gokar ke-VIII yang terbentuk oleh Harian Kompas (frame media) dan oleh pembacanya (frame khalayak pembaca) sehingga dapat melihat perbandingan konstruksi frame media dan frame pembaca. Oleh karena itu, penelitian ini mengambil judul: Partai Golkar dalam Bingkai Khalayak (Analisis Audience Framing Pemberitaan Munas Partai Golkar ke VIII di Pekanbaru pada Harian Kompas Periode Bulan Oktober 2009)
B. Rumusan Masalah
Dari paparan latar belakang di atas, dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimana Harian Kompas mengkonstruksi dan mengemas berita Munas
Golkar ke VIII di Pekanbaru?
2. Bagaimana persepsi pembaca Kompas tentang Partai Golkar pada pelaksanaan Munas Partai Golkar ke VIII di Pekanbaru?
xxv C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui frame Harian Kompas pada pemberitaan Munas Partai Golkar ke VIII di Pekanbaru
2. Untuk mengetahui persepsi pembaca Kompas mengenai Partai Golkar dan pelaksanaan Munas Partai Golkar ke VIII di Pekanbaru pada Harian Kompas
3. Untuk mengetahui hubungan konstruksi Partai Golkar dalam pelaksanaan Munas Partai Golkar ke VIII yang dibentuk oleh Harian Kompas dan pembaca Kompas
D. Manfaat Penelitian
1. Secara khusus bagi peneliti, memberi gambaran tentang kecenderungan Kompas dalam membingkai dan mengemas berita Munas Golkar VIII, mengetahui frame pembaca setelah membaca pemberitaan di Kompas, serta mencari tahu perbedaan dan persamaan kedua frame tersebut.
2. Dalam tataran yang lebih umum dan praktis, penelitian ini diharapkan memberi gambaran bagi mahasiswa, dosen, akademisi komunikasi, praktisi media massa bahwa perkembangan politik sangat dinamis. Politik terus berubah sesuai dengan arah kepentingan partai politik dan aktor dibelakangnya, sehingga politik harus selalu diawasi dan mendapat pengawalan masyarakat agar tidak melenceng dari hakikat awalnya.
xxvi
berhati-hati ketika berhadapan dengan infomasi media. Serta, khalayak mampu secara bijaksana menyikapi pemberitaan media massa tersebut.
E. Tinjauan Pustaka
1. Demokrasi, Partai Politik dan Pers Indonesia
Demokrasi merupakan dambaan setiap rakyat yang menginginkan persamaan hak dan kewajiban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demokrasi sulit didefiniskan karena selalu berkembang sesuai dinamika masyarakat. Menurut negarawan Athena, Pericles, ada empat kriteria yang dapat mendefinisikan istilah demokrasi. Pertama, pemerintahan oleh rakyat dengan partisipasi rakyat yang penuh dan langsung. Kedua, kesamaan di depan hukum. Ketiga, pluralisme yakni penghargaan atas bakat, minat, keinginan, dan pandangan. Keempat, penghargaan terhadap pemisahan dan wilayah pribadi untuk memenuhi kepribadian individual.13 Pada kriteria pertama, masyarakat membutuhkan sebuah wadah untuk menyalurkan aspirasi dan partisipasi politiknya. Maka dari itu muncul partai politik atau parpol.
Parpol adalah satu unsur yang tidak bisa dipisahkan dari negara yang menjunjung tinggi demokrasi. Parpol lahir karena kesadaran bahwa rakyat mempunyai hak untuk berpartisipasi menentukan siapa yang membuat kebijakan umum bagi dirinya. Parpol secara lebih sederhana sebenarnya telah menjadi buah pikir masyarakat sejak peradaban Yunani Kuno, atau dalam
13
xxvii
interaksi politik pada kebudayaan Cina Kuno, Hindu India dan Babylonia. Namun, parpol–dalam bentuk yang lebih modern–ditemukan pada awal abad ke-19. Bentuk parpol ini muncul dari semangat modernitas dalam dunia politik. Kemunculan ini berkaitan dengan kenyataan bahwa kepentingan politik kolektif membutuhkan suatu sistem organisasi-birokratis yang menjamin efisiensi dan efektivitas dalam perjuangan politik.14
Secara umum partai politik dapat diringkas sebagai kelompok yang terorganisir yang anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuannya ialah memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik–(biasanya) dengan cara konstitusionil–untuk melaksanakan kebijaksanaan mereka.15 Sedang, Max Weber dalam bukunya Economie et Societe (1959) justru melihat parpol dalam aspek profesionalime. Menurutnya, parpol adalah organisasi publik yang bertujuan membawa pemimpinnya berkuasa dan memungkinkan para pendukungnya (politisi) untuk mendapatkan keuntungan dari dukungan tersebut.16
Partai politik setidaknya memiliki empat karakteristik pokok17, yakni memiliki orientasi jangka panjang, memiliki struktur organisasi dari level lokal hingga nasional, bertujuan untuk merebut dan mendapatkan kekuasaan, serta berupaya untuk memperoleh dukungan luas dari masyarakat.
14
Firmanzah, Ph.D, Mengelola Partai Politik: Komunikasi dan Positioning Ideologi Politik di Era Demokrasi, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2008, hal: 56
15
Prof. Miriam Budihardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001, hal: 161
16
Op. Cit, hal: 66 17
xxviii
Setiap negara menerapkan sistem kepartaian yang berbeda-beda, tergantung pada pola pemerintahan negara yang bersangkutan. Secara mudah Maurice Duverger mengklasifikasikan sistem kepartaian sebagai berikut18:
a. Sistem partai tunggal (one-party system)
Yakni hanya terdiri dari satu partai penguasa atau partai yang memiliki posisi dominan diantara partai kecil lain. Dalam sistem kepartaian ini, pihak yang kalah tidak diperbolehkan melakukan perlawanan terhadap partai dominan dan pimpinan yang terpilih. b. Sistem dwi-partai (two-party system)
Yakni adanya dua partai atau adanya beberapa partai tetapi dengan peranan dominan dari dua partai. Dalam sistem ini, fungsi kepartaian tampak jelas karena partai yang menang akan berkuasa sedangkan partai yang kalah akan menjadi partai oposisi.
c. Sistem multi partai (multi-party system)
Sistem kepartaian ini membuka kesempatan partai-partai kecil karena kesadaran keberagaman budaya dan politik. Dalam sistem ini, pada akhirnya partai-partai kecil akan berkoalisi dengan partai pemenang untuk memperkuat pemerintahan. Akan tetapi peran oposisi sangat lemah, sehingga posisi partai pemenang lebih diuntungkan.
Indonesia pada masa kolonial Belanda sempat menerapkan sistem multi partai. Parpol sempat dilarang pada masa kependudukan Jepang, namun sistem multi partai kembali digunakan usai kemerdekaan, tepatnya pada masa
18
xxix
orde lama (1945-1965). Dibawah pimpinan Soekarno, Indonesia mengalami dua bentuk demokrasi pada masa orde lama. Wilopo menamakan periodisasi 1945-1957 sebagai periode “Revolusi”/“Demokrasi Parlementer” sementara periode 1957-1965 sebagai periode “Demokrasi Terpimpin”.19 Berdasarkan Maklumat Wakil Presiden No. X, 3 November 1945 tentang penganjuran pembentukan parpol, pemerintahan dijalankan perdana menteri, kabinet, dan parlemen. Akibatnya, terjadi pergulatan politik yang ditandai tarik menarik kekuatan partai dalam lingkaran kekuasaan, dan tarik menarik antara partai di dalam lingkaran kekuasaan dengan kekuatan politik diluar kekuasaan: pihak kedua mencoba menarik pihak pertama keluar dari lingkaran kekuasaan.20
Keadaan yang demikian melegalkan peranan partai “koalisi” dan partai “oposisi”. Oposisi menurut Prof. Dr. A. Hoogerwerf disebabkan ketidakpuasan pada kekuasaan yang terpolarisasi pada kelompok-kelompok yang mampu menampung tuntutan-tuntutan (artikulasi kepentingan) mereka.21
Ketidakpuasan pada sistem demokrasi parlementer membuat Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menandai sistem Demokrasi Terpimpin. Kekuasaan menjadi tersentralisasi pada Presiden dan secara signifikan diimbangi kekuasaan PKI dan Angkatan Darat.22 Setelah kudeta PKI gagal di akhir September 1965, kekuasaan bergeser kearah terbentuknya peta baru yakni lahirnya orde baru.
19
Eep Saefulloh Fatah, Op.Cit, hal: 17 20
Ibid 21
Redi Panuju, Oposisi Demokrasi dan Kemakmuran Rakyat, Pustaka Book Publisher, Yogyakarta, 2009, hal: 31
22
xxx
Pada masa orde baru, tepatnya tahun 1973, terjadi penyederhanaan parpol, yakni dua parpol (Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Pembangunan) dan Golkar yang bisa ikut pemilu. Golkar selalu menang mutlak pada setiap pemilu hingga pemilu 1997. Afan Gaffar, seperti dikutip Amir Effendi Siregar, menyebut sistem kepartaian ini The Hegemonic Party System (Sistem Kepartaian Hegemonik) dengan Golkar sebagai pemenang hegemoni23. Sistem kepartaian hegemonik, menurut La Palombara dan Weiner dalam tulisannya “Political Parties and Political Development”
yang dikutip Afan Gaffar, ditandai sebuah partai atau koalisi partai yang mendominasi proses politik dalam suatu negara dalam kurun waktu lama.24
Usai reformasi, pemilu 1999 diselenggarakan dengan membuka kesempatan pendirian partai kecil. Indonesia kembali menerapkan sistem multipartai dikombinasikan dengan sistem pemerintah presidensial. Perbedaan antara sistem partai Indonesia tahun 1950 dan pasca reformasi menurut Marcus Mietzner berkaitan dengan sifat dan arah kompetisi antar-partai.
“Indonesia's party system in the immediate post-independence period was eroded by the centrifugal tendencies of the key parties, the institutional stability of current party politics is to a large extent due to the centripetal direction of inter-party competition. In other words, if in the 1950s the parties undercut the effectiveness of the party system by rushing to the margins of the politico-ideological spectrum, in the post-Suharto period they have converged inward towards the centre.”
(Sistem partai di Indonesia dalam periode pasca-kemerdekaan terkikis oleh kecenderungan sentrifugal oleh partai utama, sementara stabilitas kelembagaan politik partai pada era ini adalah sentripetal kearah persaingan antar-partai. Dengan kata lain, jika di tahun 1950-an
23
Ibid, hal: 191 24
xxxi
partai melemahkan efektivitas sistem partai, dalam periode pasca-Soeharto mereka telah berkumpul atau terpusat). 25
Dalam sistem presidensial, kedudukan presiden dan parlemen sama-sama kuat. Kedua lembaga tersebut tidak bisa saling menjatuhkan atau membubarkan.26 Meskipun ada perbedaan antara partai pemenang yang berkoalisi dengan partai yang kalah–bisa disebut oposisi, namun peranan oposisi sangat lemah dan tidak diakui dalam peraturan negara.
Indonesia pasca reformasi berusaha menjalankan demokrasi yang seadil-adilnya. Eep Syaefullah Fatah, menyebutkan empat kriteria pokok praktek politik demokrasi yang benar. Diantaranya adalah27:
a. Partisipasi politik yang luas dan otonom dari seluruh elemen masyarakat, tidak ada pembatasan dan eksklusivitas dalam penentuan sumber rekruitmen politik dan formulasi kebijakan publik.
b. Sirkulasi kepemimpinan politik secara efektif dan kompetitif, berkala, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam prosesnya.
c. Kontrol terhadap kekuasaan yang efektif, melalui kelembagaan politik formal dari tingkat suprastruktur dan infrastruktur sehingga sikap kritis terhadap pemerintah/oposisi adalah prasyarat yang penting.
d. Kompetisi politik yang leluasa dan sehat dalam suasana kebebasan sehingga perbenturan kepentingan dan nilai politik dimungkinkan
25
Marcus Mietzner, “Comparing Indonesia's party systems of the 1950s and the post-Suharto era: From centrifugal to centripetal inter-party competition”, Journal of Southeast Asian Studies, 39 (3), The National University of Singapore, 2008, hal: 433
26
Maswadi Rauf,dkk, Sistem Presidensial dan Sosok Presiden Ideal, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2009, hal: 30
27
xxxii
terjadi asalkan tidak menghancurkan sistem politik. Amien Rais menyebutkan ada empat macam kebebasan di alam demokrasi, yakni kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan persuratkabaran, kebebasan berkumpul dan kebebasan beragama28.
Sementara, Alfian dalam bukunya “Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia” seperti dikutip oleh Eep Syaefullah, menjelaskan bahwa sistem demokrasi merupakan upaya memelihara keseimbangan antara konflik dan konsensus. Sehingga, demokrasi memberikan peluang perbedaan pendapat, persaingan dan pertentangan diantara individu, kelompok, atau diantara keduanya, diantara individu dengan pemerintah, dan diantara lembaga pemerintah sendiri.29 Dalam bahasa Eep Syaefullah, harus ada pendamaian paradoks yang inhern dalam demokrasi, yaitu antara kebebasan dan konflik di satu sisi dengan keteraturan, stabilitas dan konsensus disisi lain.30
Kebebasan berpolitik tidak hanya berimbas pada kehidupan politik bangsa, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kemerdekaan pers yang sempat terbungkam selama 32 tahun. Jaminan kemerdekaan pers di Indonesia dikukuhkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers pada 23 September 1999 oleh Presiden BJ Habibie. Pertalian antara sistem pers dan kehidupan politik ini, menurut Jacoeb Oetama dalam artikelnya “Kebebasan Pers dan Demokrasi”31, karena pers menjadi
28
Ibid, hal: 9 29
Ibid, hal: 10 30
Ibid, hal: 10-11 31
xxxiii
bagian atau subsistem dari sistem politik suatu negara. Sehingga sistem pers akan mengikuti sistem politik negara yang bersangkutan. Maka, sebagai bagian dari infrastruktur negara, parpol memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan pers, terutama dalam pencitraan diri dan komunikasi politik bagi masyarakat. Seperti yang diungkapkan Dirk Tomsa berikut ini.
“Almost equally important is how a party is actually represented in the media. Due to the media's highly influential role in shaping public opinion, no party can afford to have a hostile relationship with the media for an extended period of time. In other words, a party that consistently receives bad publicity will sooner or later run the risk of being abandoned by its supporters and eventually face disappearance into oblivion.”
(Hampir sama pentingnya adalah bagaimana partai politik diberitakan media. Hal ini dikarenakan media sangat berpengaruh dalam membentuk opini publik, jadi sebuah partai tidak boleh bermusuhan dengan media dalam jangka waktu yang lama. Misalnya, partai tertentu yang secara konsisten menerima publikasi yang buruk dari media, cepat atau lambat akan menanggung risiko ditinggalkan oleh para pendukungnya dan akhirnya menghilang dan terlupakan).32
Partai Golkar pun sempat mengalami pemberitaan buruk berkali-kali, terutama pada masa reformasi 1998 dan masa transisi antara tahun 1999-2004.
2. Proses Produksi Berita
Manusia tidak bisa lepas dari komunikasi. Secara umum dikenal empat jenis komunikasi, yakni komunikasi internal, komunikasi antar personal, komunikasi kelompok dan komunikasi massa. Seiring dengan perkembangan era informasi yang pesat, komunikasi massa menjadi salah satu solusi agar tidak tertinggal dalam globalisasi. Komunikasi massa secara mudah
32
xxxiv
merupakan komunikasi yang dilakukan melalui media massa33. Selanjutnya media massa lebih populer disebut dengan nama pers.
Pers, berdasar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, adalah lembaga dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.
Dalam menjalankan kegiatannya, pers memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Bernard C Cohen, seperti yang dikutip Luwi Ishwara, menyebutkan sedikitnya ada lima peran utama yang dimiliki pers yaitu34:
1. Pers sebagai pelapor (informer) peristiwa-peristiwa diluar pengetahuan masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka
2. Pers sebagai interpreter yang memberikan penafsiran atau arti pada sebuah peristiwa, misalnya dengan analisis atau komentar berita
3. Pers sebagai wakil dari publik (representative of the public), sehingga reaksi pers adalah reaksi atau respon dari masyarakat umum
4. Pers sebagai anjing penjaga (watchdog) atau pengkritik pemerintah 5. Pers sebagai pembuat kebijaksanaan (advokasi) yang tampak pada
kolom editorial (tajuk rencana), artikel, dan jenis berita yang dipilih dan cara penyajiannya.
33
Nurudin, Komunikasi Massa, Cespur, Malang, 2004, hal: 2 34
xxxv
Pada dasarnya, penerbitan pers berisi tiga komponen.35 Komponen pertama adalah penyajian berita; kedua adalah pandangan atau pendapa; dan ketiga adalah periklanan. Sesuai dengan tujuan penerbitan pers untuk ikut memajukan kecerdasan bangsa dan menegakkan keadilan36, komponen berita mendapat porsi dan spot yang paling besar diantara komponen yang lain.
Kata berita berasal dari kata “Vrit” dalam Bahasa Sansekerta yang berarti “ada” atau “terjadi”. Ada yang menyebut “Vritta” yang berarti “kejadian” atau “yang terjadi”. Kata “Vritta” kemudian berubah menjadi “berita” atau “warta” dalam Bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia rumusan Depdikbud Republik Indonesia, berita diartikan “laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat.”37
Definisi berita sangat beragam. Menurut Charnley, berita merupakan laporan hangat, padat, dan cermat mengenai suatu kejadian, bukan kejadian itu sendiri.38 Sedangkan Dean M Lyce Spencer mengartikan berita sebagai suatu kenyataan atau ide yang benar yang dapat menarik perhatian sebagian besar dari pembaca.39 JB Wahyudi berpendapat bahwa berita adalah laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai penting, menarik bagi khalayak, masih baru, dan dipublikasikan secara luas melalui media massa periodik.40
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa berita merupakan laporan yang ditulis sesuai fakta, menarik bagi pembaca,
35
Totok Djuroto, Manajemen Penerbitan Pers, Remaja Rosdakarya, 2000, Bandung, hal: 45 36
Ibid. 37
Ibid, hal: 46 38
Mursito BM, Penulisan Jurnalistik: Konsep dan Teknik Penulisan Berita, Studi Pemberdayaan Komunikasi, Solo, 1999, Hal: 37
39
Totok Djuroto. Op.Cit, hal: 47 40
xxxvi
merupakan kejadian atau peristiwa penting, tidak memihak (obyektif), memiliki nilai kebaruan, dan disiarkan melalui media massa secara berkala. Prinsip obyektivitas adalah hal mutlak yang harus diperhatikan dalam menulis sebuah berita. Menurut Michael Bugeja, obyektivitas adalah melihat dunia seperti apa adanya, bukan bagaimana yang diharapkan semestinya.41 Prinsip ini bisa diwujudkan dengan asas keberimbangan atau cover both sides.
Setiap berita akan berusaha untuk menjawab enam unsur pertanyaan: Apa, Siapa, Dimana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana. Keenam unsur pokok ini lazim disebut 5 W dan 1 H, yakni What (apa yang sedang terjadi), Who
(siapa subyek pemberitaan), Where (dimana kejadiannya), When (kapan peristiwa itu terjadi), Why (mengapa peristiwa itu dapat terjadi), dan How
(bagaimana peristiwa itu berlangsung).42
Secara umum, berita dibagi menjadi empat. Pertama, straight news
atau berita langsung (lugas). Menurut Totok Djuroto, informasi yang dituangkan dalam berita diperoleh langsung dari sumber berita. Penulisan berita langsung lebih mengutamakan aktualitas informasinya.43 Dalam berita jenis ini, potongan-potongan peristiwa disusun secara piramida terbalik, yakni potongan yang paling penting diletakkan di atas (lead berita). Semakin ke bawah, informasi yang ditulis dalam berita semakin kurang penting.
Kedua, soft news atau berita ringan. Berita ringan tidak mengutamakan unsur penting yang hendak diberitakan namun sesuatu yang menarik dan menyentuh sisi emosional. Berita ringan, berdasar kejadiannya, bisa dibagi
41
Luwi Ishwara, Op.Cit, hal: 44 42
Mursito BM, Op.Cit, hal: 58 43
xxxvii
menjadi dua, yaitu berita ringan yang berdiri sendiri dan berita ringan yang berfungsi sebagai pendamping berita penting sebelumnya.
Ketiga, feature atau berita kisah. Cara penyajian feature dapat mengabaikan pegangan utama penulisan berita 5 W + 1 H.44 Berita jenis ini merupakan tulisan kejadian yang dapat menyentuh pembaca lewat penjelasan rinci, lengkap, serta mendalam. Nilai utamanya adalah kemanusiaan atau informasi yang dapat menambah pengetahuan baru. Menurut Walter Fox dan Ken Metzler45, ada sembilan jenis feature, yakni sketsa kepribadian, profil organisasi atau proyek, berita feature (news feature), artikel pengalaman pribadi, feature layanan, wawancara, untaian mutiara, dan narasi.
Keempat, indepth news atau berita mendalam. Berita mendalam pada dasarnya memiliki struktur dan cara penulisan yang sama dengan berita kisah. Perbedaannya terletak pada unsur manusiawi pada berita kisah belum tentu ada dalam berita mendalam. Berita jenis ini digunakan untuk menuliskan permasalahan secara lengkap, mendalam, dan analitis. Berita mendalam ditulis berdasarkan liputan terencana dan sering membutuhkan waktu yang lama.
Dalam pemberitaan Munas Partai Golkar di Harian Kompas, pemberitaan lebih didominasi dengan bentuk straight news dan soft news. Akan tetapi pada saat beberapa hari pelaksanaan Munas, Kompas menyelipkan beberapa tulisan feature yang menggambarkan sisi lain pelaksanaan Munas. Bahkan pada pemberitaan pada hari pertama pelaksanaan
44
Ibid, hal: 64 45
xxxviii
Munas, Kompas menyediakan satu halaman khusus yang berisi wawancara eksklusif dengan masing-masing kandidat calon Ketua Umum Partai Golkar.
3. Framing Sebagai Bagian dari Paradigma Konstruktivisme
Paradigma konstruksionis pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog interpretatif yang banyak meneliti mengenai konstruksi sosial atas realitas, Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Bagi Berger realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi.46
Sebagai hasil dari konstruksi sosial, realitas dalam berita merupakan realitas subyektif dan realitas obyektif sekaligus. Dalam realitas subyektif, realitas menyangkut makna, interpretasi, dan hasil relasi antara individu dengan obyek. Sedangkan realitas obyektif, yakni sesuatu yang dialami, bersifat eksternal, berada diluar, misalnya rumusan, institusi, aturan, dan lain sebagainya.47
Dalam menerapkan gagasan Berner pada berita, sebenarnya teks berita tidak bisa disamakan dengan realitas, ia harus dilihat sebagai sebuah konstruksi atas realitas. Karenanya, sebuah peristiwa yang sama bisa dikonstruksi secara berbeda. Wartawan dimungkinkan mempunyai pandangan yang berbeda ketika melihat suatu peristiwa, dan pandangan tersebut dapat dicermati melalui konstruksi peristiwa yang diwujudkan dalam teks berita.
46
Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, LKiS, Yogyakarta, 2002, hal: 15
47
xxxix
Ada dua karakteristik dalam pendekatan konstruksionis. Pertama, pendekatan konstruksionis menekankan pada politik pemaknaan dan proses bagaimana seseorang membuat gambaran tentang realitas. Kedua, pendekatan konstruksionis memandang kegiatan komunikasi sebagai proses yang dinamis. Pesan tidak menampilkan fakta apa adanya. Dalam menyampaikan pesan, seseorang menyusun citra tertentu atau merangkai ucapan tertentu dalam memberikan gambaran tentang realitas. Komunikator dengan realitas yang ada akan menampilkan fakta tertentu kepada komunikan, memberi pemaknaan terhadap peristiwa dalam konteks pengalaman, pengetahuannya sendiri.48
Salah satu jenis analisa yang didasarkan pada pendekatan konstruksionis adalah analisis framing. Secara umum, framing adalah pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media.49 Proses framing terjadi melalui proses konstruksi terhadap sebuah realitas atau peristiwa. Orang media kemudian memberikan pemaknaan tertentu terhadap peristiwa tersebut. Pemaknaan ini membuat wartawan memilih angle berita apa yang akan ia tulis dan siapa saja narasumber yang akan dia wawancara dengan lebih mendalam.
Pada dasarnya wartawan media massa cenderung memilih seperangkat asumsi tertentu yang berimplikasi bagi pemilihan judul berita, struktur berita, dan keberpihakan kepada seseorang atau sekelompok orang, meskipun keberpihakan tersebut sering bersifat subtil dan tidak sepenuhnya disadari.50
48
Ibid, hal: 40-41 49
Ibid, hal: 66 50
xl
Pemahaman media mengenai makna dari realitas sosial serta bagaimana cara media menampilkan hasil pemaknaannya ini menjadi fokus analisis framing.
Framing dapat digunakan untuk melihat siapa yang mengendalikan siapa dalam struktur kekuasaan, pihak mana yang diuntungkan dan dirugikan, siapa penindas dan siapa tertindas, tindakan politik mana yang konstitusional dan yang inkonstitusional.51
Konsep framing sesungguhnya dapat dibedakan menjadi dua: frame media (media framing) dan frame khalayak (audience framing).52 Konsep ini berdasarkan pendapat Kinder and Sanders (1990) yang menilai bahwa frame menunjukkan “maksud tersembunyi dalam sebuah wacana politik” yang setara dengan konsep bingkai media, dan sebagai “struktur internal dari pikiran” yang setara dengan bingkai individu.53
Keberadaan frame media sangat penting, karena frame media membuat sebuah peristiwa tampak penting dan memiliki arti. Hal ini menurut Robert M. Entman karena proses framing dapat dipandang dalam dua dimensi besar: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek realitas atau isu tersebut.54 Framing dilihat sebagai seleksi dari berbagai aspek realitas yang diterima dan membuat peristiwa lebih menonjol dalam suatu teks komunikasi. Dalam banyak hal, itu berarti menyajikan secara khusus definisi terhadap
51
Ibid, hal: XV 52
Pawito, Ph.D, Penelitian Komunikasi Kualitatif, LKiS, Yogyakarta, 2007, hal: 186 53
Dietram A. Scheufele, Framing as Theory of Media Effect, Journal of Communication, Vol. 49, Internasional Communication Assosiation, 1999, hal: 106
54
xli
masalah, interpretasi sebab akibat, evaluasi moral, dan tawaran penyelesaian sebagaimana masalah itu digambarkan.55
Pembingkaian media dilakukan dengan memilih isu yang akan dimunculkan di media serta mengaburkan isu yang tidak dikehendaki untuk dimuat, kemudian menonjolkan isu yang terpilih menggunakan berbagai strategi wacana, antara lain dengan penempatan spot berita (headline atau penulisan judul dengan huruf besar), pengulangan berita, pencantuman foto atau grafis yang mendukung salah satu pihak, penggunaan label yang mendiskreditkan pihak tertentu, dan lain sebagainya.
Untuk melihat strategi media mengemas berita dibutuhkan elemen-elemen sebagai perangkat untuk menafsirkan isi berita. Secara umum, ada tiga kategori besar elemen framing menurut Jisuk Woo56. Pertama, level makrostruktural yakni pembingkaian tingkat wacana. Wacana merupakan tingkat isu paling umum yang tampak tersirat (latent). Kedua, level mikrostruktural yakni penonjolan sisi berita sehingga mengaburkan sisi-sisi lainnya. Level ini dapat dicermati pada pemilihan fakta, angle, serta narasumber. Ketiga, level retoris yakni penekanan fakta yang ditonjolkan, yaitu dengan pemilihan kata, kalimat, retorika, gambar, atau grafik.
Ada empat model framing yang dapat digunakan untuk menganalisa frame media, antara lain model framing Murray Edelman, Robert N. Entman, William A Gamson, serta Zhongdang Pan dan Gerald M Kosicki (Pan dan Kosicki). Model framing yang memiliki dimensi yang paling lengkap adalah
55
Robert Entman, Framing: Toward Clarification of a Fractured Paradigm, Journal of Communication, Vol. 43, No. 4, 1993, hal: 52 dalam Ibid, hal: 20
56
xlii
model framing Pan dan Kosicki. Menurut Pan dan Kosicki ada dua konsepsi framing yang saling berkaitan, yakni konsepsi psikologis dan konsepsi sosiologis57. Perangkat framing Pan dan Kosicki dibagi menjadi empat struktur besar, yakni struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris.
Selain frame media, kajian framing tidak bisa dipisahkan dari frame individu atau frame khalayak (audience frame). Frame individu menurut Entman adalah “Sekumpulan ide yang tersimpan dalam diri individu yang membimbing individu untuk memproses informasi”. Pan dan Kosicki menambahkan, isu yang berkaitan dengan frame of reference individu dapat memiliki dampak signifikan pada persepsi, pengorganisasian, dan interpretasi terhadap informasi yang masuk dalam diri individu.58
Oleh karena itu, penelitian menggunakan pendekatan framing, menurut Dietram Aren Scheufele, seharusnya tidak hanya berpijak pada bagaimana media membuat bingkai keberpihakan terhadap suatu peristiwa. Akan tetapi pendekatan framing juga dapat menentukan mana diantara media frame dan
audience frame yang akan dijadikan variabel independen dan mana yang akan menjadi variabel dependen.
Jika media frame ditempatkan sebagai variabel independen atau variabel bebas, maka bingkai yang dibentuk media dipercaya memiliki pengaruh terhadap bingkai yang dibuat khalayak yang menjadi variabel dependen. Namun jika bingkai media ditempatkan sebagai variabel dependen,
57
Konsepsi psikologis lebih menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya. Sedangkan konsepsi sosiologis menekankan bagaimana seseorang mengklarifikasikan, mengorganisasikan dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas di luar dirinya. Secara lengkap lihat Eriyanto, ibid, hal: 252-253
58
xliii
maka bingkai media merupakan sesuatu yang muncul karena berbagai faktor dalam internal media. Faktor-faktor tersebut bisa berupa ideologi media, kepentingan pemilik media, ataupun individu wartawan.
Tabel 1.1
Variabel Independen dan Variabel Dependen pada Frame Bentuk/Variabel Frame Sebagai Variabel
Independen
Frame Sebagai Variabel
Dependen
Frame Media Bagaimana bentuk frame media
yang mempengaruhi persepsi
khalayak dari sebuah wacana?
Bagaimana proses pembentukan
frame tersebut bekerja?
Faktor apa saja (dalam internal
media) yang menyebabkan
perangkat frame tertentu ada
dalam pemberitaan? Bagaimana
proses pembuatan frame dan
frame apa yang digunakan
media?
Frame Individu Apa pengaruh skema kognisi
individu pada pembingkaian?
Bagaimana individu
menggunakan skema individu
untuk memproses informasi?
Bagaimana efek realitas yang
terbentuk oleh skema individu
tersebut?
Faktor-faktor apa yang
mempengaruhi pembentukan
frame individu? Apakah frame
individu sama dengan frame bahwa hasil dari sebuah proses, menjadi input untuk proses yang lain. Secara lebih spesifik Scheufele membagi proses itu menjadi empat yaitu : frame
59
xliv
building, frame setting, individual effect of framing, dan hubungan individual framing dengan media frames.60
Gambar 1.1
A Process Model of Framing Research
Frame Building. Pokok utama dari proses pembentukan frame adalah bagaimana nilai-nilai struktural dan organisasional dalam sistem media, serta karakteristik wartawan yang mana yang mempengaruhi isi berita. Ada tiga hal yang mempengaruhi frame building, yakni: Pertama, wartawan itu sendiri. Wartawan secara aktif mengkonstruksi frame dan membuat pemahaman tertentu terhadap informasi. Pembentukan frame ini dipengaruhi ideologi, aturan tingkah laku, dan norma profesional yang berlaku. Kedua, adalah frame sebagai hasil dari acuan kerja rutin organisasi media. Ketiga, adalah faktor eksternal dari media seperti: aktor politik, kekuasaan, atau kelompok
60
xlv
kepentingan. Frame yang tercipta oleh eksternal media ini–yang kemudian menjadi sumber berita–diadopsi oleh jurnalis ketika mengkonstruksi berita.
Frame Setting. Terminologi ini hampir sama dengan Agenda Setting
yang dikemukakan McComb dan Shaw. Agenda setting dan frame setting,
sebenarnya berdasarkan pada proses yang hampir sama. Agenda setting
memusatkan perhatian pada isu mana yang lebih penting. Frame setting
sebagai level kedua agenda setting, lebih memperhatikan pada hal-hal penting dari sebuah isu. Frame mempengaruhiopini publik dengan menekankan nilai-nilai yang spesifik, fakta-fakta dan pertimbangan-pertimbangan lain, menjelaskan keterkaitan yang lebih jelas dengan isu.
Individual level effect of framing. Merupakan proses penghubung antara audience framing dan hal-hal yang ada dalam individu, seperti kebiasaan, ideology, tanggung jawab dan sebagainya. Kebanyakan penelitian menguji hasil pada individu dari framing media memiliki hubungan langsung, yang diantaranya dijembatani audience frame.
Journalis as Audience. Jurnalis juga merupakan audience. Ia memiliki serangkaian nilai, ideologi, norma-norma tingkah laku, dan sebagainya. Seperti khalayak biasa, hal itu mempengaruhi dalam menjelaskan sebuah peristiwa atau isu. Ia juga mudah terpengaruh frame dari media itu sendiri.
Dari model tersebut dapat dilihat bahwa antara media frames dan
audience frames pada dasarnya merupakan proses yang saling berhubungan.
Audience frame dipengaruhi oleh media frames dan begitu pula sebaliknya
xlvi
Keduanya berinteraksi dalam sistem yang lebih besar, yang dipengaruhi oleh ideologi, nilai-nilai, norma yang berlaku dan sebagainya
Perlu ditekankan disini, bahwa penelitian ini memusatkan perhatian pada audience frames, dengan tidak mengaburkan media frames. Dalam pemberitaan suatu peristiwa atau realitas sosial yang baru, seperti pelaksanaan Munas Golkar ke VIII, media tentu memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Frame yang dibentuk oleh media justru menegaskan bahwa media– dengan segala faktor yang melatarbelakanginya–berada pada posisi tertentu terhadap isu tersebut. Sedang pembaca, dengan latar belakang individualnya membuat sebuah frame tertentu atas sebuah isu, yang sedikit banyak juga mendapat pengaruh dari media frame tersebut.
4. Pembentukan Konstruksi Realitas oleh Berita dan Media
Media massa dalam komunikasi massa berperan menjadi komunikator atau penyampai pesan kepada khalayak sebagai komunikan. Komunikator dalam komunikasi massa sifatnya melembaga bukan orang per orang, misalnya seorang wartawan saja. Wartawan adalah salah satu bagian dari lembaga. Artinya, berbagai sikap dan perilaku wartawan sudah diatur dan harus tunduk pada sistem yang sudah diciptakan dalam saluran komunikasi massa tersebut.61
Media bukan saluran bebas, ia menjadi subjek yang mengonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya. Tony Bennet
61
xlvii
menyatakan media dipandang sebagai agen konstruksi sosial yang mendefinisikan realitas sesuai dengan kepentingannya.62 Jelasnya, ada berbagai kepentingan yang bermain di media massa, seperi kepentingan ideologi antara masyarakat dan negara, kepentingan kapitalisme pemilik modal, kepentingan keberlangsungan (suistainabilitas) lapangan kerja bagi karyawan, dan sebagainya.63
Maka, isi media menurut Brian McNair dapat lebih ditentukan oleh64: 1. Kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik (the political approach) 2. Pengelola media sebagai pihak yang aktif dalam proses produksi berita
(organizational approach)
3. Gabungan berbagai faktor, baik internal media ataupun eksternal media (cultural approach)
Menurut Stuart Hall, media massa pada dasarnya tidak memroduksi, melainkan menentukan realitas melalui pemilihan kata-kata. Makna tidak secara sederhana dapat dianggap sebagai reproduksi dalam bahasa, tetapi sebuah pertentangan sosial, perjuangan dalam memenangkan wacana.65
Dalam proses konstruksi sosial terhadap sebuah wacana, pengalaman dan kecenderungan individu−dalam hal ini adalah wartawan−mengendap, mengkristal, dan membentuk pemahaman yang memberikan kemampuan
62
Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, LKiS, Yogyakarta, 2002, hal: 23
63
Drs. Alex Sobur, M.Si, Analisis Teks Media, Rosdakarya, Bandung, 2001, hal: 30 64
Rachmat Kriyantono S.Sos M.Si, Riset Komunikasi. Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2006, hal: 279
65
xlviii
individu untuk memetakan, menerima, mengidentifikasi, dan memberikan label pada peristiwa atau informasi yang dihadapi.66
Media massa adalah tempat bertemunya pihak-pihak yang memiliki latar belakang, sudut pandang, dan kepentingan yang heterogen. Setiap pihak akan mengeluarkan pendapat dan pandangan mereka terhadap suatu wacana sesuai dengan kepentingan dirinya dan kelompoknya. Dalam konteks inilah mereka menggunakan bahasa simbolik atau retorika dengan konotasi tertentu yang bermuara pada membenarkan tindakan sendiri dan memburukkan pihak lain.67 Jadi, sebetulnya media punya potensi untuk menjadi peredam atau bahkan pendorong konflik. Media bisa memperjelas sekaligus mempertajam konflik atau sebaliknya, mengaburkan dan mengeliminirnya.68
Kedudukan media dan berita, jika dilihat dari paradigma konstruksionis adalah sebagai berikut69 :
a. Fakta/ peristiwa adalah hasil konstruksi.
Realitas hadir karena dihadirkan oleh konsep subyektif wartawan, tercipta lewat konstruksi, sudut pandang tertentu dari wartawan, tidak ada yang bersifat obyektif. Realitas tergantung pada konsep pemahaman wartawan pada saat melihat sebuah realitas atau peristiwa. b. Media adalah agen konstruksi pesan.
Media bukan hanya saluran pesan yang bebas, ia secara aktif menafsirkan realitas untuk disajikan kepada khalayak. Caranya dengan
66
Bimo Nugroho, Eriyanto, Frans Surdiasis, Politik Media Mengemas Berita, Institut Studi Arus Informasi, Yogyakarta, 1999,hal: 23
67
Ibid, hal: 26 68
Drs. Alex Sobur, M.Si, Op.Cit, hal: 171 69
xlix
memilih, mana realitas yang akan diambil dan mana realitas yang akan disembunyikan atau dibuang, siapa yang akan dijadikan narasumber berita, dan mendefinisikan aktor atau peristiwa.
c. Berita bukan refleksi dari realitas, ia hanyalah konstruksi atas realitas. Berita bisa diibaratkan sebagai sebuah sandiwara. Artinya, berita bukan merupakan realitas yang sebenarnya, akan tetapi merupakan gambaran pertarungan antar pihak yang memiliki kepentingan dalam sebuah isu. Oleh karena itu, terkadang muncul pihak yang dipandang sebagai “pahlawan” atau pihak yang benar dan ada pula pihak yang berperan sebagai “musuh” atau pihak yang jahat.
d. Berita bersifat subyektif
Opini dalam penulisan berita tidak dapat dihilangkan karena ketika meliput wartawan melihat dengan perspektif dan pertimbangan subyektif. Oleh karena itu, sering kali terjadi perbedaan antara fakta dengan penulisan berita oleh wartawan, dan hal ini tidak bisa dipersalahkan karena memang demikianlah penafsiran wartawan tersebut terhadap peristiwa.
e. Wartawan adalah agen konstruksi realitas