• Tidak ada hasil yang ditemukan

AGREGAT CAMPURAN

Dalam dokumen u;.-ffi, - Bina Darma e-Journal (Halaman 32-37)

.ilgregat campuran harus mempunyai gradasi menerus,dari butir yang kasar sampai halus,dan harus memenuhi salah satu pilihan gradasi pada T abel 3.13.

Agregat campuran yafig diperoleh melalui

Pencampurafl

meflurut proporsi yang dipedukan dalam 'iob

mix',nilai

ekivalensi pasir tidak kurang dari 50oh.

Aspal yang digunakan

untuk

aspal beton harus dari salah satu

PEN 60/70 at^v 80/100 yang

seragam,tidak mengandung airdan bila dipanaskan sampai 175" C,tidak berbusa.

Elemen Struktur Perkeresan Jalan

5.

CAMPURAN ASPAL

DAN AGREGAT

untuk Aspal Beton.

-

Kadar aspal dalam campuran 4o/o-7o/o

-

Kadar aspal yang tepat,harus ditentukan berdasarkan pengujian

Marshall,dan memenuhi persyaratan sebagaimana

pada Lampiran B-11 (Sumber: Asphalt Institute)

Tabel3.13.

Persy^r^tan Campuran

Lapis

Aspal

Beton

CATATAN:

1. Rongga dalam campuran aspal, dihitung berdasarkan Berat Jenis maksimum reorids campuran (berdasarkan berat jenis effektip agregat),atau berdasarkan berar jenis maksimum campuran menun.rt AASHTO T 209-82.

2. Rongga dalam agregat ditetapkan berdasarkan berat jenis curah @ulk) dad agregat.

3. Indeks pcrendaman ditetapkan berdasarkan rumus:

STABILITAS I\{ARSHAI-I- se telatr dircndam dalam air,sclama 4fl jam,pada suhu 60,,C ( kg)

--- x 10001, STABILITAS N{ARSH;\LI- ( kg )

4. Kcpalatan I.alu l.intas :

,. Berat : lebih bcsar 500 UE 18 KSAl-/hariljalur.

ir. Sedang : 50 sampai 500 UE 18I{SAl-/hari/jalur.

iii). I(ecil : lebih kecil 50 UE 18 KSAL /hariljalur.

-).

4.

Tabel

3.12. Persy at^tatt Bahan Pengisi

SIFATUMUM

KADARAIR MAX 1%

GUMPALAN PARTIKE.I, T1DAKADA

BUKAAN SAFJNGAN (mm ) % LOLOS SARINGAN Gradasi

No. 30 ( 0,59 mm ) No. 50 ( 0,279 mm ) No.100(0,'149mm) No. 200 ( 0.074 mm )

100 90

-

100

90 * 100 65 - 100

SI}.AT CAMPURAN

LALIN BERAT

(2x75

tumbukan )

LALIN SEDANG

(2x50

tumbukan )

I.ALIN RINGAN

(2x 35 tumbukan )

MlN MAKS MIN MAKS MIN MAKS

STABILITAS&s) 550 450 3s0

KI],LELE}IAN ( FLOW )mm 2,0 4,0 2.0 4.5 2,0 5.0

STARILITAS/ KELEI-EHAN Gg/mm)

200 350 200 350 200 350

RONGGA DLM CAMPURAN ( % ) 3 5 ) 5 .) 5

R{)5664 DAIAM AGRr,.CAT (o/o) LIHAT Tabel 3.14 TNDEKS PERENDAMAN(70)

75 75 75

54 r<orr6c4ut1et tr4t4% B Kw 2 : PER:4NCANqAN PERKERASANJAL*N

Tabel

dalam

3.1.4.9. o

Lataston (Lapis Tipis

Aspal

Beton;=gRS (Hot

Rolled Sheet)

Lataston atau

Hot

Rolled Sheet (HRS) adalah campuran aspal yang dirancang dengan kadar aspal

ti.gg

^gzr

perketasan mempunyai fleksibilitas tinggi,awet dan tahan terhadap

kelelahan

(fatigue). Kadar aspal yang

tirgg

akan menyebabkan

film

aspal yang meltputi

butir-butir

aggregat menjadi

tebal, dan

sebagian

dari

aspal

akan

rnengisi

rongga

udara yang masih kosong.

HRS

termasuk kelompok ienis campuran yang disebut

HRA (Hot Rolled Asphalt).Yang lainnya

adalah

ATBL (Asphalt Treated

Base

Levelling),

sebagai

bahan levelling

sebelum

HRS

dihampar,dan

ATB

(Asphalt Treated Base),sebagai lapis pondasi atas.

Gradasi

^gglcg

t yang dipakai untuk

HRS,mempunyai gradasi senjang, dimana zggteg

t

memeflukafl pfoses penyaringan(screening) setelah material diambil dari lokasi penambangafl nya Oof f ow-pit),s ehingga beberap a

variasi ukuran

disisihkan,sehingga nantTny^

kurva

gradasi dibagian

ini menjadi lebih

datar(lihat

Gbr.3.2.).

Material

hasil

penyisihan tadi,dapat dimanfaatkan unruk tambahan fraksi material

ATB

atau ATBL.

Pada

HRA

dengan gradasi seniang,iumlah aggregat kasar dalam campufan hanya sedikit dibandingk2n iengan aggfegat halusnya. Dengan

demikian butir-butir

kasarnya ss-612h-olah melayang floatin$diantata

butiran

halus,yang mengakibatkan kurangnya bidang-bidang yang saling mengunci (intedocking) satu

samalin.

Karenakurangnya sifat intedocking

ini

claya dukung komposisi aggfegat meniadi kurang pula. Oleh karena itu

ti<lal<lah

mengherankan,pada

awalnya nilai stfuktuf HRS

tidak

3.14. Prosentase

M inimum

}(ongga dalam agre UKURAN MAKSIMUM

NOMINALAGREGAT

PROSTINTAITII MIN1MUM norric,ca

narel,t acngcnr

No.16 No.8 No. 4

3/8"

r/z u

3A"

1"

1, Yz"

2n 21/2"

23,5 21 18 L6 15 14 13

t2

11.5 11

Elemen Struktur Perkerasan Jalan 55

diperhitungkan dalam ranc ngar, perkerasan,namun dengan pertimbangan realitas

dan

ekonomis, belakangan

nilai struktur ini

dicantumkan dalam perhitungan struktur(fabel 3. 1 5.)

BATAS-EATAS GRAOASI YAIC OtsTRAM(AT rtllt'(

xR3S KLASA ( 83 50all ra,

F'RI'CLE lItE llff'

EATAS - BAT'g oRADASI YAN6 OISANAII|(AI{ I.ilrUX ltRss KLAS A I BS lg.i t+t9!

Gtu. 3.2. Batas disttibusi ,u,;;; ffii;i'*,,,r. g,u,,rg,,

^gtegat

(

HRS dan HRSS )

Tumbukan

pemadatan saat

diuji

dilaboratorium,

pada

saat test Marshall,

untuk

aspal konvensional, dilakukan

35 kali uniuk lalu

lintas ringan,50 kali untuk lalu lintas sedang, dan 75 kali untuk lalu lintas berat.

Pada

HRA

versi

Bina

Marga lg88,jumlah tumbukan selalu

50

kali,untuk semua kategori

lalu lintas (ihat

sub-bab 5.10.1.2.). Pada

HRA

versi Bina Marga 1,997 jttmlah tumbukan 2x75

untuk

semua kategori lalu lintas (lihat sub-bab 5.10.1.3.)

Pemilihan-pemilihan diatas adalah

konsekwensi,diinginkannya fleksibilitas tinggi,awet

dan

tahan fatik,tentunya dengan memperhatikan syarat-syar^t

batas struktur lainnya.

Sebagai

konsekwensi lain

dari diutamakannya kadar bitumen dan besarnya prosentase butiran halus,aclalah pedunya meneliti daya absorpsi aggregat,karena kalau aggregat absorpsinya

EATAS-8ATI3 GRAOASI YAI{O DISARANKAN UTITU( HRS

56 XO*1684UX8,J74L4n

besar sekali,penggunaan aspal menjadi tidak ekonomis lagi.

BqKq 2 ; PERANCAN(ANPERKERA.SANJ,4L N

menjadi

boros,dan menyebabkan strukrur

O PERSYARATAN

BAHAN

HRS.

Persyaratan bahan HRS secara lengkap dapat dilihat

pada

SNI. 03- 3425-1994

D alam bentuk grafi k,persya r atan batas distribusi gradasi bahan algregat untuk HRS,HRSS-A dan HRSS-B ditunjukkan pada Gbr.3.2.

Tabel

3.15.

Koefisien Kekuatan

(Strength

Coefficients) Lapis

Perkerasan

Lentur.

Sumber: World Bank,HDM-tII Model)

iu^*TtrRIAL PERKERASAN KOEFISIEN

KEKUATAN

Lapis Permukaan HRS

Stabilitas Marshall 450 +850 ks(990-i-1875 lbs)

0,28 l,apis Pondasi Atas Beraspal(ATB)

Stabilitas Marshall 450 ke(990 lbs)

0,25 t,apis Pondasi Atas Agregat

CBR=110%

4,14 Lapis Pondasi Atas Agregat

CBR=80%

0,125 Lapis Pondasi Atas Agregat

CBR=25ok

0,10 Lapis Pondasi Atas Soil-Cement

UCS=24 ks/cm2(340 osi)

4J,64 Lapis Pondasi Atas Soil-Cement

UCS > 7

ks/cr*

0,14 CATATAN: Untuk soil-cement basc,strength coefficient (a) mengikuti rumus :

ar= 0,075 +0,039 ucs - 0,00088 UCS2,dimana UCS=lrnconfincd (ir>mpressivc strength umur 14 hari ( dalam MPa.)

3.1.5. r-Aprs

RESAP

PENGTKAT (PRIME COAT)

Lapis

resap pengikat merupakan bagian

dari struktur

perkerasan lentur yang tidak mempunyai

nilai

struktur akan tetapi mempunyai fungsi yang sangat besar terhadap kekuatan dan keawetan struktur terutamz untuk menahan

g

yalztterz,l

^tav gaya rem.

Lapis

resap

pengikat dilaburkan

diantara lapisan

material

tidak beraspal

dengan lapisan

beraspal

y^ng berfungsi unruk

menyelimuti permukaan lapisan tidak beraspal. Untuk jelasnya lihat Gambar 3.3.

Elemen Struktur Perkerasan Jalan

Material tidak beraspal tanpa diberi lapis resap pengikat hanya mampu menahan gaya tekan yang bekerja pada bagian permukaannya.

Dengan diberi lapis resap pengikat maka bagian permukaan mampu menahan gaya tarik dan tekan yang bekerja pada bagian permukaannya.

Gbr 3.3. Fungsi Lapisan Resap Pengikat

sebelum pelapisan dengan

m teri^l

beraspal diatasnya dan

kondisi

sudah stabil

(apis

resap pengikat sudah kering) sudah dapat

dilalui oleh lalu -

lintas(khususnya

lalu - lintas proyek) tanpa akibat

perubahan kondisi permukaan yang berarti.

3.1.6.

r-APrS

PEREKAT

(

TACK COAT

)

Sama halnya dengan lapis resap peflgikat, lapis perekat dilaburkan

diantan

lapis beraspil lama dengan lapis beraspal yang

baru

(yang akan dihampar diatasnya), yang berfungsi sebagai perekat diantaranya.

Kegagalan

konstruksi

aklbat

lapis

perekat dapa;t

terlihat

langsung pada lapis permukaan berupa :

^.

Retak Selip (Sliperlt Cmck) yang diakibatkan oleh :

1)

Permukaan lapisan lama kotor, atau

2)

Pelaburan tidak merat^,

3)

Perekatan kurang sempufna, ^t^u atau

4)

Kuantitas pelaburan yang kurang, atau

5)

Kombinasi diantaranya.

b.

Kegemukan (Bleedin$ yang diakibatkan oleh kuantitas pelaburan yang tedalu banyak.

3.2. KELOMPOKSTRUKTURJAT-AN KAr(U.

Struktur Jalan

Kaku @lgd

Pavement) disebut iuga Perkerasan Jalan

Beton

Semen.Dapat dilaksanakan pada

kondisi

daya dukung tanah dasar yang kurang baik(kecil,misal berkisar llulai 2 o/o),atau beban lalu

-

lintas yang

57

58 Novr6c4uxel74J,4% BqKq 2 : PERANCANq,AN PERKERASAN-JAL-AN

harus dilayani relatif besat,maka dibuat solusi dengan konstruksi perkerasan kaht(rigid paaemen) atau disebut iuga perkerasafl beton semen,karena bahan dasar terbuat dari beton semen.

Struktur perkerasan

kaku terdiri

atas pelat

beton

yang diletakkan pada lapis pondasi bawah yang menumpu pada tanah dasar,dengan atau

tanpa lapis

permukaan beraspal diatasnya. Jelasnya

lihat Gambar

3.4.

Berbeda dengan perkerasan lentur,beban lalu

-

lintas pada perkerasan kaku sepenuhnya dipikul oleh pelat beton. Yang diterima tanah dasar relatif kecil.

Perkerasan beton semen dibedakan ke dalam lima jenis yaitu :

-1. Perkerasan beton semen lersambung t^np^

tulangan=BBTT SUCP=Jointed Unreinforced Concrete Pavement)

-2. Perkerasan beton semen bersambung

dengan SRCP=Jointed Reinforced Concrete Pavement)

-3. Perkerasan beton semefl menerus

dengan (CRCP= Continous Reinforced Concrete Pavement)

-4.

Perkerasan

beton semen pra-tekan

(PRCP=Prestress Reinforced Concrete Pavement)

-5.

Perkerasan

beton sdmen fibre (FRCP=Fibre Reinforced

Concrete Pavement)

Dengan berbagai p-erti6bangan ienis perkerasan

beton

semen

(4)

larang

dilaksanakan di Inionesia,sehingg

a

pada Pedoman P erencanaan Perkerasan

lalan Beton Semen Pd T-14-2003 fenis perkerasan beton

semen tersebut,tidak dibahas secara khusus.

3.2.1,. ELEMEN TANAH DASAR

Dalam struktuf perkerasan beton

semen,tanah

dasar

hanya dipengaruhi tegangan

akibat beban lalu - lintas dalam iumlah

relatif

kecil,akan tetaptdaya dukung dan

keseragaman

tanah dasar

sangat mempengaruhi keawetan dan kekuatan perkerasan kaku.

Untuk

memperoleh daya dukung dan keseragamanny^ maka dalam pelaksanaan

konstruksi perlu

diperhatikan

faktor - faktot : kadar

air

pemadatan (harus pada kondisi kadat a1r

optimum),kepadatan dan perubahan kadar air selama masa pelayanan.

Daya dukung tanah dasar pada konstruksi

perkerasan beton semen,ditentukan berdasarkan

nilai CBR insitu

sesuai dengan

SNI 03 -

1731.

-

1989,atau CBR laboratorium sesuai dengan

SNI

03

-

1,744

-

1989.

l)apat iuga didasarkan modulus subgrade reaction (k). Bila dibandingkan fungsi trLnah dasar pada perkerasan lcntur,sccara

relatif

fungsi tanah dasar pada

Elemen Struklur Perkerasan Jalan

perkerasan kaku(beton semen),tidak

tedalu

menentukan

dalam ata

kata bahwa perubahan besarnya daya

dukung

tanah dasar

tidak

berpengaruh tcrlalu besar terhadap ketebalan pelat beton. Dapat disimak pada Road Note 29

(TRLL-UI!

dinyatakan bahwa

untuk

tznah dasar dengan nilai CBP. 2o/o

sampai dengan 1,5o/o, tebal pelat beton dinyatakan sama tebal.

3.2.2. ELEMEN I-APIS PONDASI BAWAH.

Hanya ada satu lapis pondasi,yaitu lapis pondasi bawah.Karenalya dapat juga langsung disebut sebagai lapis pondasi.Pada umumnya fungsi

lapis pondasi

bawah(sub-base)

untuk struktur

perkerasan kaku,tidak

bcrfungsi tcdalu

sttuktural,dalam arts

kata

keberadaannya

tidak

untuk menyumbangkan nilai struktur terhadap tebal pelat beton.

Menyediakan sub-base dengan hanpan berinteraksi dengan subgrade dalam usaha mengurang tebal pelat beton adalah tidak ekonomis (Technical Note 45, CCA =Cement and Concrete Association of Australia).

Lapis pondasi pada

perkerasan

kaku

mempunyai

fungsi

utama sebagai lantai kerja

y^ng rat^ dan

uniform,disamping fungsi

lain

sebagai berikut:

a.

Mengendalikan kembang dan susut tanah dasar.

b.

Mencegah

intrusi

dan pemompaan pada sambungan retakan dan tepi-tepi pelat.

c.

Memberikan dukungan

y^ngm

nt^p dan seragam pada pelat.

Permukaan sub-base yang tidak rata,akan menyebabkan ketidak-rataafl pelat

b eton,yang dapat memicu timbuln y a kerctakan pelat.

Lapis pondasi bawah terdiri dari :

1) Pondasi bawah dengan material berbutir lepas

(anboand granalar)dapat

befupa

sirtu.Harus memenuhi persyaratan SNI

03-6388-2000 dengan gradasi aggregat minimum

kelas

B.I(etcbalan

minimum

lapis pondasi bawah

untuk

tanah dasar dengan

CBR minimum

5'% adalah

15 cm.

Derajat kepadatan lapis pondasi bawah adalah minimum 10O%n,sesuai SNI 03-1743- 1989.

2)

Pondasi bawah dengan bahan pengikat(=BP)- (bound granular subbase), dikenal clengan nama CTSB (CementT'reated 5'abbase).

Dapat digunakan salah satu dari :

a. Stabilisasi material

berbutir

dengan kac'lar bahan pengikat scsuai rancangan,untuk menjamin kekuatan campufan dan 59

tulangan=BBDT tulangan=BMDT

ffi

ron6E4ut16.1 MJA?| B"tk'7. 2 : PER.4N0,4NqANPERKER,4.SANJAL N

ketahanan

terhadap

erosi.Bahan

pengikat dapat

berupa semen,kapur,abu terbang (ffi ash),atau slag yang dihaluskan.

b.

Campuran beraspal bergradasi rap^t (dense-graded arpbalt).

c.

Campuran beton kurus giling padat (lean rolled concrete) yang mempunyai

kuat tekan

karakteristik

pada umur 28 hari

minimum 2,5MPa (55

kg/cm).

3).

Pondasi bawah dengan campuran beton kurus=CBl((Lean-mix Concrete).

CBI(

harus mempunyai

kuat

tekan

beton

karakteristik pada umur 28 hari minimum 5 MPa(50 kg/cm'z) tanpa menggunakan

abu

terbang,atau

7 MPa(70 kg/cmz) bila

menggunakan abu terbang,dengan tebal minimum 10 cm.

Lntara pelat dengan pondasi bawah tidak ada

ikatan

(boandin!,sehingga

perlu

dipasangi bound breaker diatas subbase.Bound breaker

ini

biasanya berupa plastik

tipis

atau laburan bahan tertentu untuk mencegah bounding subbase dengan pelat diatasnya.Hal

ini

dilakukan untuk subbase

tipe bound

granular (CTSB),namun

untuk tipe unbound

seperti sirtu,tidak

tedalu

dipedukan

bound

breaker,karena

tidak

teriadt lekatan

^rrtzrz- subbase

dan

pelat.Kecuali

ada

kekhawattrafl dewateing camPuran

beton dari pelat masuk

kecelah-celah sirtu.Disamping

itu

permukaan

subbase

tidak boleh digaruk

(groorc

maupun

brusb).

Berbeda

dengan permukaan pelat yang selalu harus digaruk

untuk

mendapatkan gesekan

permukaan yang cukup

besar@roouing

berupa alur memaniang

^t^tr melintang).

o

ELEMEN CEMENT TREATED SUB-BASE

(CTSB).

a. Semen.

Semen

y^ng digunakan untuk

CTSB,adalah

Pordand

Cement biasa,sesuai dengan pefsyaratan

SII.

0013-77

"Cement Pordand"

AASHTO M 85

@ordand Cement

tlpe

1). ^tav

b.

Air.

Air yang

digunakan

untuk

mencampur,merawat

atau

pemakaian lain,harus bebas

dari

minyak,garam asam,alkali,gula,tumbuhan atau bahan lain yang merugikan hasil akhir.

c. Agregat:

Elemen Struktur Perkerasan Jalan

Aggregat

untuk

CTSB,harus bebas

dari

bongkah tanah lempung, li()tofan,unsur organik atau unsuf yang merugikan lainnya.

Persyaratan aggregat

yang akan digynakan untuk

CTSB,agar rncmenuhi syarat pada T abel 3.16.

Tabel3.16.

Spesifikasi bahan CTSB.

URAIAN PERSYARATAN

. ANALISA SARINGAN:

Urutan Saringan:

1 y,,,

i/ r, /4

No.8 No.200 Indeks Plastisitas

Kadar Semen

%, lolos sadngan dalam berat 95

-

100

50

-

100

20*60

0 -15 max 9

!

6Yo

6l

Lapis Pondasi Bawah

+-

N\WffilIi*.\.\N#iffi fAS$S#/'rFl',i{*$S\Sgrye4*+"sWW--k"ahoasar

Gbr 3.4" $truktur Perkera*an Kaku fltilu Beton

Semen

d. Bahan Campuran CISB.

Perencanaan campuran harus memberikan perbandingan komposisi aggregat,dengan beberapa

kadar semen dan kadar att

optimum,yang memberikan

hasil

sesuai dengan

mutu beton yang diingini.

I(ekuatan campuran minimum,pada umur 28 hari,idak kurang dart 7 5 kg

/

cm2 .

3.2.3. ELEMEN PEI-AT BETON.

Pelat beton terbuat

dari

beton semcn mempunyai

mutu

tinggi,yang dicor setempat diatas pondasi bawah. Elemen pelat beton dibuat dari bahan

62 XOn6E4Ut1&t74J4n

yang biasa dipergunakan untuk ini.

a. .femen.

Bl^t<q 2 : PER ANCAN(AN PERKER-,4SAN JAL,AN

konstruksi beton,seperti diuraikan dibawah

Elemen Struktur Perkerasan .lalan 63

Semen

yang

digunakan merupakan

jenis

semen

pordand

yang memenuhi,

AASHTO

M-85 kecuali jenis

IA,IIA,IIIA

dan

IV.

Additive tidak boleh digunakan kecuali ada ljin direksi.

b.

Air.

- seperti CTSB, diatas.

c. Agregat.

Sifat Agregat seperti pada Tabel. 3.17 dan 3.18.

d. Camparan beton.

i).

Persyaratan sifat Campuran Beton,mengikuti spesifikasi yang diberikan pada Tabel 3.19.

ii). Beton

yang digunakan harus mempunyai Flexural Strength (kekuatan lentur

beton)

minimum 45 kg/cm2(sesuai

AASHTO

T-97).

hekuatan struktur beton umumnya dinilai dari kekuatan nilai

kuat

tckan(compressiue strength).

Namun untuk struktur

perkerasan

kaku

faktor l<ekuatan ditentukan oleh

parameter Nilai Kuat Tarik

Lentur,karena pada pelat beton dengan perbandingan paniang dan

lebar yarrg

besar tekanan pada

beton rrlaaf

kecil,sedangkan lenturan yang menyebabkan gaya

tarlk

cukup besar.

Disamping parameter kuat tarik lentur,beber^pa parameter

lain

sepertt slump clan fatik beton sangat diperhatikan dalam r^ncanga;n perkerasan kaku.

e. BatangTalangan.

Batang Tulangan baja yang dipakai,mengikuti

SII

0136-84 "Baja

Ttlangan

Beton,atau

AASHTO

M-32

"KawatBajaTankan

Dingin untuk Penulangan

Beton", AASHTO M-55

"Anyaman

Kawat

Baja dilas

untuk

Penulangan Beton".

Batang tulangan yang dipakai merupakan baja polos ataubaja berulir dengan

mutu

BJTU-24.

Untuk

penulangan berupa

^ny^m

n

baja harus mengikuti

AASHTO

M-55. Kawat pengikat baja triangan harus dan baja lunak sesuai

Dalam dokumen u;.-ffi, - Bina Darma e-Journal (Halaman 32-37)