• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERJUDUL “TIKUS-TIKUS NEGERI” KARYA WAWAN PURNAWAN

Wisma Kurniawati, Universitas Negeri Surabaya ([email protected])

ABSTRACT

Facebook is one of the most popular social networks among the public, even today Facebook is still used. Besides functioning as a social account, Facebook also functions as self-actualization. The process of self-actualization can be seen through a work produced by a high school student named Henry Purnawan. This study aims to describe social criticism by using the literary sociology approach contained in the digital facebook short story in 2013. The object of the research in this study is a digital short story entitled "Mice of the Country" by Wawan Purnawan. This short story was chosen because it is unique. The uniqueness lies in the author. The author is a high school student. It is not easy for a student to make a short story which contains social criticism. In his work the author uses naratology to criticize existing social conditions. This study uses a sociological approach to literature to find out the form of social criticism. The method in this study is a descriptive method that is qualitative in nature, namely research that describes data relating to social criticism in the form of words. Social criticism in the short story titled "Rat Mice" is a criticism of government figures and political situations in the life of the nation and state, especially in Indonesia.

Keywords: Short stories and social criticism.

1. PENDAHULUAN

Digitalisasi sedang melanda pada kehidupan manusia. berbagai konsep digital sedang berkembang dan perkembangan tersebut membawa dampak bagi manusia. Salah satu bentuk digitalisasi adalah meradangnya penggunaan akun jejaring sosial.

Facebook merupakan salah satu akun jejaring sosial yang sedang aktif digunakan oleh masyarakat. Facebook menyediakan berbagai fitur bagi penggunanya, khususnya untuk aktulisasi diri. Fitur tersebut juga digunakan oleh seorang pelajar Sekolah Meningkat Atas (SMA) untuk mengaktualisasikkan dirinya.

Bentuk aktualisasi yang disajikan pelajar tersebut sangat baik. Ia menciptakan sebuah cerita pendek yang berjudul ―Tikus-Tikus Negeri‖ dan membagikannya kepada khalayak umum melalui akun facebook miliknya.

Jabrohim (1994: 165-166) mengemukakanbahwa cerpen adalah cerita fiksi bentuk prosa yang singkat, padat, yang unsur-unsur ceritanya terpusat pada satu peristiwa pokok sehingga jumlah dan pengembangan pelaku terbatas dan keseluruhan cerita memberikan kesan tunggal. Menurut Suroto (1989:18), cerpen adalah suatu karangan prosa yang berisi cerita sebuah peristiwa kehidupan manusia pelaku atau tokoh dalam cerita tersebut, sedangkan menurut J.S. Badudu (1975:53), cerpen adalah cerita yang menjurus dan konsentrasi berpusat pada satu peristiwa, yaitu peristiwa yang menumbuhkan peristiwa itu sendiri.

Cerpen yang berjudul ―Tikus-tikus Negeri‖ karya Wawan Purnawan merupakan cerpen yang kaya dengan informasi politik dan pemerintahan, serta kritik sosial. Oleh karena itu cerpen ini akan dikaji dengan tinjauan kritik sosial.

Kritik sosial adalah salah satu bentuk komunikasi dalam masyarakat yang bertujuan atau berfungsi sebagai control terhadap jalannya suatu sistem sosial atau proses bermasyarakat.

Menurut Marbun, kritik social merupakan frase yang terdiri dari dua kata yaitu kritik dan social.

Adapun yang dimaksud dengan kritik adalah suatu tanggapan atau kecaman yang kadang-kadang disertai dengan uraian dan pertimbangan baik maupun burukya suatu hasil karya, pendapat, dsb (1996:359).

“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy

in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 23

Sementara di sisi lain, Webster menjelaskan bahwa kata kritik berasal dari bahasa Latin criticus atau bahasa Yunani kritikos yang berarti a judge atau dari kata kinnea yang berarti to judge (1983:432). Sementara itu sosial memiliki pengertian having to do with human beings living together as a group in a situation that they have dealing with another (Webster, 1983:1723).

Berdasarkan definisi dari dua kata tersebut, Astrid Susanto seperti yang dikutip oleh Mafud (1997:47) mengambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kritik sosial adalah suatu aktifitas yang berhubungan dengan penilaian (juggling), perbandingan (comparing), dan pengungkapan (revealing) mengenai kondisi sosial suatu masyarakat yang terkait dengan nilai-nilai yang dianut ataupun nilai-nilai yang dijadikan pedoman. Kritik sosial juga dapat diartikan dengan penilaian atau pengjian keadaaan masyarakat pada suatu saat (Mahfud, 1957:5).

Dengan kata lain dapat dikatakan, kritik sosial sebagai tindakan adalah membandingkan serta mengamati secara teliti dan melihat perkembangan secaa cermat tentang baik atau buruknya kualitas suatu masyarakat. Adapun tindakan mengkritik dapat dilakukan oleh siapapun termasuk sastrawan dan kritik sosial merupakan suatu variabel penting dalam memelihara sistem sosial yang ada.

Penelitian ini akan menguraikan kritik terhadap tokoh-tokoh pemerintahan dan situasi politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di Indonesia. Cerpen ini menyajikan sebuah realitas kehidupan nyata masyarakat dalam bingkai sastra.

2. METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan adalah metode penelitian deksriptif kualitatif dengan teknik analisis kritik sosial. Pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumen. Data yang terpilih adalah data yang kaya dengan latar sosial dalam masyarakat tertentu. Data yang terpilih adalah sebuah cerpen yang berjudul ―Tikus-Tikus Negeri‖. Cerpen ini dimuat dalam akun jejaring sosial bernama Facebook. Cerpen ini dipublikasikan pada tahun 2013. Alur penelitian ini dapat digambarkan dalam bagan berikut.

3. PEMBAHASAN

Penelitian ini menghasilkan data yang sesuai dengan rumusan masalah yang telah dijabarkan pada bagian pendahuluan. Hasil penelitian ini adalah:

1) Tokoh Pemerintahan

Bentuk kritik terhadap tokoh pemerintahan dapat dilihat dalam kutipan berikut:

“Aku mendekat, kudengar mereka bersorak berjingkat-jingkat penuh semangat menggeliat berpegang pada pengeras suara mereka “Turunkan walikota, sebelum tanah ini dimakanya habis, sebelum orang-orang menjadi pemulung di tanahnya sendiri, kita harus bertindak tegas terhadap politisi yang berzina dan korupsi, atau negeri ini akan tertimpa musibah gempa Jogja atau tsunami Aceh karena pemimpinya berdosa dan zalim!”, hatiku bergetar kuat saat mendengar profesi hinaku di sebut. Ah, Apa benar aku ini korban pemimpin tanah ini? Kenapa aku baru tahu kalau di tanah in ada pemimpinnya? Padahal aku merasa tidak

Cerpen Kritik

Sosial

Tokoh

Politik

“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy

in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 24

ada sesuatupun yang memperhatikan orang sepertiku, apalagi pemimpin negeri, sampai- sampai aku melupakanya.”

Melalui teks tersebut tertuang sebuah kritik sosial terhadap para politisi. Dikisahkan dalam cerpen tersebut para demonstran sedang berunjuk rasa untuk menurunkan walikota yang sedang menjabar. Walikota yang sedang menjabat dinilai telah melakukan tindakan zina dan korupsi.

Dalam kehidupan nyata, khussunya di Indonesia, polemik pejabat korupsi adalah wacana yang hingga kini belum bisa dituntaskan atau dibasmi secara keseluruhan. Korupsi dan zina, keduanya berbicara tentang kualitas diri. Semakin baik kualitas diri seseorang maka tindakan atau perbuatannya juga akan baik. Membasmi korupsi tidak semudah membasmi nyamuk. Ini semua bicara moralitas.

Di Indonesia, para tokoh yang memiliki kualitas diri semakin dibenci. Berbagai cara akan dilakukan agar tokoh politisi yang jujur tumbang atau dicari kesalahanya agar masuk ke lembaga pemasyarakatan. Ironinya para politis yang rajin membunuh rakyatnya, mencuri uang, semakin merajalela dan berbondong-bondong mengajak temanya untuk menguatkan jabatan yang sedang ia duduki saat ini.

Seharusnya masyarakat tidak terkecoh dengan tampang atau tampilan luar, dengan hasutan yang membawa ras, suku, agama sebagai latar untuk menjatuhkan seorang politisi yang jujur. Kebodohan membumbung tinggi, krisis moralitas merajalela, dan kritikan semakin eksis.

2) Kondisi Pemerintahan

Selain kritik terhadap tokoh politik, cerpen ―Tikus-Tikus Negeri‖ juga memiliki kritik sosial terhadap kondisi pemerintahan. Hal itu dapat diamati pada kutipan berikut:

“Aku mengais botol-botol di bak sampah Univertas kota, aku melihat para mahasiswa dengan pakaian rapi dan tawa yang berkepanjangan masuk kedalam Universitas.

Aku baru sadar, Universitas ini mengkhususkan jurusan politik, aku mulai berpikir bahwa bangunan besar dengan sepuluh lantai inilah yang mencetak para tikus-tikus negeri, aku melihat di bak sampah, selebaran tentangnya, “Mau jadi politisi? Segera daftar disini, terbukti lulusan kami paling banyak di terima di Instansi Pemerintahan!”.

Menggelikan dan memuakkan.

Aku tercengang saat melihat kertas-kertas itu dan mencegah tanganku, ternyata itu adalah brosur yang berbeda-beda isinya, namun semuanya lagi-lagi membuatku muak, foto-foto para calon pejabat dengan peci hitam dan jilbab rapat, mereka berwajah manis mengumbar senyum yang menurutku di buat-buat, mengumandangkan visi dan misi bohong dengan siasat-siasat yang sepertinya akan mereka lakukan seandainya mereka terpilih, lalu bersemboyan lagi tanpa merasa ada kekurangan dalam diri mereka.

“Mari jadikan kota ini bersih, dari sampah dan dari korupsi”, padahal mereka belum tentu membersihkan jiwa mereka.

“Dengan ini mari kita jadikan kota yang yang modern dan bermartabat”, tentu mereka akan hidup dengan modern dengan uang mereka nantinya, namun mungkin tanpa martabat.

Dan masih banyak lagi, lalu aku ambil kertas-kertas itu, semuanya aku buang kedalam bak sampah, seperti semua janji mereka yang patut dianggap sampah.”

Melalui kutipan tersebut, pengarang ingin mengktitik beberapa kondisi pemerintahan.

Pertama pengarag menciptakan tokoh ―Aku‖ yang bekerja sebagai pemulung. Tokoh ―Aku‖

bekerja setiap harinya memunguti sampah-sampah yang ada. Para politisi pemerintahan hidup

“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy

in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 25

enak, nyaman dibawah kekuasaan yang sedang mereka duduki. Mereka lupa bahwa banyak

―Tokoh Aku‖ diluar sana yang kekurangan.

Kedua melalui tokoh ―Aku‖, kritik terhadap kondisi pemerintahan sangat jelas diuraikan.

Sebelum para pejabat menjabat, mereka sibuk dengan kampanye sana-sini agar mereka mendapatkan suara. Berbagai visi, misi, dan janji-janji baik mereka koar-koarkan untuk menarik simpati masyarakat. Tapi begitu mereka terpilih, mereka lupa akan visi, misi, dan janji yang telah mereka lontarkan dan lebih parahnya lagi mereka asyik bermain dengan uang, kesmikinan, dna kondisi sosial lainnya yang membuat masyarakat semakin terpuruk.

Ketiga, pengarang ingin mengkririk bahwa kondisi pemerintahan saat ini dipenuhi oleh

―sampah masyarakat‖ yang hingga kini menjadi PR bagi negeri ini. Tidak akan ada sampah jika para pemulung rajin membersihkannya. Tidak akan ada sampah jika masyarakat tahu bagaimana cara membuang sampah ke tempatnya. Tidak akanada sampah jika masyarakat dipenuhi dengan nurani yang bersih.

4. KESIMPULAN

Berdasarkan penjabaran yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa kritik sosial yang terdapat pada cerpen ―Tikus-Tikus Negeri‖ karya Wawan Purnawan dapat ditinjau melalui tokoh dan situasi pemerintahan. Keduanya merupakan representasi dari kehidupan politik yang ada di Indonesia.

Kehidupan politik yang penuh ironi. Fenomena korupsi, zina, dan obral janji sedang melanda negeri ini. Pengarang menyebut para pakar korupsi dengan sebutan tikus-tikus negeri dan itu tertuang pada judul karyanya. Pengarang mengkritik kehidupan politisi yang penuh dengan ketidakujuran.

Pengarang menginginkan agar kehidupan pemerintahan negeri ini berubah. Sama halnya dengan sampah yang telah dipunguti oleh pemulung dalam karya fiksi yang diciptakannya. Dengan adanya sastra, kritik sosial, segala bentuk ide atau pendapat dapat tertuang dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Aziz Dwi Prakoso. 2012. Kritik Sosial Dalam Novel Detik-Detik Cinta Menyentuh Karya Ali Shahab Sebuah Tinjauan Sosiologi Teks. Uiversitas Diponegoro. Semarang.

Domnwachukwu, Chinaka Samuel, 2010. An Introduction to Multicultural Education: From Theory to Practice, Playmouth, UK: Littlefield Publishing

Bella, dkk. 2018. Kritik Sosial dalam Kumpula Cerpen Pilihan Kompas 2016. Univeristas Maritim Raja Ali Haji. Tanjungpinang.

Muhammad Andi K. 2011. Kritik Sosial dalam Novel Menunggu Matahari Melbourne Karya Remy Syaldo-Tinjauan Sosiologi Sastra. Bahastra. Vol.26 No.1

Ridwan S. ___. Pemaknaan realitas Serta Bentuk Kritik Sosial dalam Lirik Lagu Slank. Skriptorium Vol.2 No.2

Rifqi Faizah. ___. Kritik Sosial Terhadap Pemerintah.

Sari. 2017. Kritik Sosial Pada Media Sosial. Jurnal J-IKA. Vol.4 No.1

Syahrizal, dkk. 2013. Kajian Sosiologi Sastra dan Nilai Pendidikan Dalam Novel ―Tuan Guru‖

Karya Salman Faris. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra UNS Vol.1 No.1 https://www.lokerseni.web.id/2013/04/tikus-tikus-negeri-cerpen-kritik-sosial.html dibaca pada tanggal 06 November 2018 pukul 13.24 WIB

“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy in

Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 26