• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Lapangan Yūpa Muarakaman

PUISI INDONESIA ABAD KE-5: KAJIAN STRUKTURAL DAN SOSIOLOGI SASTRA TEKS YŪPA MUARAKAMAN

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.2 Studi Lapangan Yūpa Muarakaman

Pada awal bulan Agustus 2018 kami berkesempatan melakukan studi lapangan ke tempat penyimpanan Prasasti Kutai asli berada, yaitu di Museum Nasional Jakarta. Setiap peneliti yang tertarik untuk meneliti koleksi Museum Nasional harus mendapatkan izin pihak Museum Nasional.

Museum Nasional sangat terbuka untuk kerja sama penelitian. Hasil studi lapangan yang kami peroleh adalah keterangan sebagai berikut:

No. Inventaris : D.2 a

Tempat Temuan : Muarakaman, Kutai, Kalimantan Timur

Aksara : Pallawa

Bahasa : Sanskerta

Tahun : Sekitar 425 Masehi

Deskripsi

Prasasti ini dituliskan pada batu berbentuk tiang (yūpα); berukuran tinggi 169cm, lebar 38cm, dan tebal 29cm; ditulis pada sisi depan dengan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa dalam 12 baris tulisan. Keadaan prasasti batu ini masih baik. Ukuran aksara 1 – 4cm dan jarak antarbaris 0,5 – 1cm.

Ikhtisar Isi Prasasti

Prasasti ini diawali dengan silsilah Raja Mūlawarman, yang menyebutkan Sri Maharaja Kungdungga yang berputra Aswawarman, yang mempunyai tiga orang anak. Yang terkemuka di antara ketiga anaknya itu ialah Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan berkuasa.

“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy

in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 55

Disebutkan pula Mulawarman telah mengadakan upacara selamatan yang dinamakan bahusuwarnnakam (―emas amat banyak‖), dan sebagai peringatan selamatan tersebut tugu batu (yupa) ini didirikan oleh para Brahmana.

Gambar Prasasti Hasil Pemotretan Kami

Alih Aksara (Versi 1)

srimatah sri-narendrasya, kundungasya mahatmanah, putro svavarmmo vikhyatah, vansakartta yathansuman, tasya putra mahatmanah, trayas traya ivagnayah, tesan trayanam pravarah, tapo-bala-damanvitah,

“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy

in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 56

sri mulawarmma rajendro, yastva bahusuvarnnakam, tasya yajnasya yupo 'yam, dvijendrais samprakalpitah.

(Wikipedia, 2018)

(Versi 2)

śrīmataḥ śrīnarendrasya kuṇḍunggasya mahātmanaḥ putro ‗svavarmmo vikhyātaḥ vaṅśakarttā yathāngśumān tasya putrā mahātmānaḥ trayas traya ivāgnayaḥ teṣān trayāṇām pravaraḥ tapo bala damānvitaḥ śrī mūlavarmmā rājendro yaṣṭvā bahusuvarṇṇakam tasya yajñasya yūpo ‗yam dvijendrais samprakalpitaḥ (Chhabra, 1965)

(Versi 3)

(1) çrīmataḥ çrī-narendrasya (2) Kuṇḍuṅgasya mahātmanaḥ (3) putro çvavarmmo vikhyātaḥ (4) vaṅçakarttā yathāṅçumān (5) tasya putrā mahātmānaḥ (6) trayas = traya ivāgnayaḥ (7) teṣān = trayānām = pravaraḥ (8) tapo-bala-damānvitaḥ (9) çrī-Mūlavarmmā rājendro (10) yaṣṭvā bahusuvarṇṇakam (11) tasya yajñasya yūpo yam (12) dvijendrais = samprakalpitaḥ

(Kern, 1880; Vogel, 1918; Poerbatjaraka, 1956)

Dari penelusuran teks transkripsi di atas kami memperoleh pola yang konsisten dari tiap bait teks prasasti Muarakaman ini, yaitu pola 8 suku kata dalam tiap baitnya. Hal ini pun didukung dengan data tambahan bahwa para ahli mengategorikan teks prasasti ini sebagai puisi anushtub/

sloka (berpola 8-8-8-8) dan berima a-a-a-a (perhatikan ketiga teks di atas).

Namun, fakta keras bentuk puisi/sajak teks prasasti ini tidak pernah muncul dalam buku- buku sejarah sastra atau pun puisi Indonesia. Hal ini kami duga bahwa prasasti peninggalan sejarah tertua di Indonesia ini hanya diteliti atau diintepretasi oleh para sejarawan dan/atau arkeolog sebagai teks prosa saja. Seperti yang kami himpun berikut ini:

Terjemahan teks yupa Prasasti Kutai I (Versi 1)

Sang Maharaja Kundunga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Sang Ansuman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa. Sang

“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy

in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 57

Mulawarman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas amat banyak. Buat peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana. (Wikipedia, 2018) (Versi 2)

«The illustrious lord-of-men, the great Kundunga, had a famous* son, Agvavarman [by name], who, like unto Amcumant, * was the founder of a noble race. His were three eminent sons resembling the three sacrificial fires. Foremost * amongst these three and distinguished by austerity, strength, and self-restraint * was the illustrious Mülavarman, the lord-of-kings, who had sacrificed a Bahusuvarnaka * sacrifice. For that sacrifice this sacrificial post has been prepared by the chief amongst the twice-born». (Vogel, 1918: 213)

(Versi 3) Artinja:

Sang Maharaja Kundunga, yang amat mulia, mempunjai putra yang mashur, Sang Açwawarmman namanja, jang seperti Sang Ançuman = (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga jang sangat mulia. Sang Açwawarmman mempunjai putra tiga, seperti api (jang sutji) tiga.2) Jang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mûlawarmman, radja yang berperadaban baik, kuat dan kuasa.

Sang Mûlawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan jang dinamakan) Emas-amat-banjak.

Buat peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para Brahmana.

(Poerbatjaraka, 1956).

(Versi 4)

―The illustrious lord of men, the mighty great of Kundunga, had a famous son Asvavarman (by name), who, like unto Amsumant, was the founder of a noble race. His were three eminent sons resembling the three sacrificial fires. Foremost amongst these three and distinguished by austerity strength and self-restraint was the illustrious Mulavarman, the lord of kings, who had performed a Bahusuvarnaka sacrifice. For that sacrifice this sacrifical post has been established by the eminent Brahmanas.‖ (Chhabra, 1965: 86)

Dari keempat terjemahan di atas semuanya mengubah bentuk puisi anushtub/ sloka menjadi prosa. Maka dalam penelitian ini kami akan mencoba merekontrsuksi terjemahan transkripsi yupa Muarakaman tetap sebagai puisi yang memiliki pola persajakan 8-8-8-8 dengan rima a-a-a-a sebagai berikut:

(Versi 1, leterlek)

1 sri matah yang dipertuan, 8 2 Kundungga yang berkuasa, 8 3 punya putra Aswawarman, 8 4 sang pendiri wangsa karta ,8 5 mempunyai tiga putra, 8 6 bagai tiga api suci, 8 7 terutama yang ketiga, 8 8 atas kekuatan raga, 8 9 raja di raja Mulawarman, 9

10 yang telah mempersembahkan (bahusuvarnnakam), 8 11 untuk persembahan ini, 8

12 didirikan peringatan (oleh Brahmana yang utama). 8 (Sarathan dkk., 2018)

Dari proses penerjemahan teks yupa Muarakaman di atas kami pun menyadari betapa sulitnya menerjemahkan bahasa Sansekerta yang telah mati menjadi bahasa Indonesia dengan mempertahankan pola persajakannya. Jika Anda perhatikan di bait ke-9, kami belum berhasil

“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy

in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 58

menerjemahkan dengan pola 8 suku kata sebab dalam arti kamus ―rajendra‖ berarti ‗lord of the king‘ atau ‗raja di raja‘ dan menyisakan nama Mulawarman yang bersuku kata empat dan tentu tidak bisa dikurangi lagi. Maka, kami pun pada akhirnya harus memilih pilihan kata lain agar tetap bersuku kata 8 dengan tidak mengurangi arti secara harfiah menjadi terjemahan berikut:

(Versi 2)

1 sri matah yang dipertuan, 8 2 sang Kundungga yang kuasa, 8 3 punya putra Aswawarman, 8

4 pendiri bangsa mulia (wangsa karta), 8 5 mempunyai tiga putra, 8

6 bagai api suci tiga, 8 7 terutama yang ketiga, 8 8 atas kekuatan raga, 8 9 maharaja Mulawarman, 8

10 yang mempersembahkan emas (bahusuvarnnakam), 8 11 didirikan batu yupa, 8

12 sebagai peringatan (oleh brahmana yang utama). 8 (Sarathan dkk., 2018)

Demikian upaya kami dalam menerjemahkan teks prasasti yupa Muarakaman dengan tetap mempertahankan bentuk persajakan anushtub/ sloka yang memiliki pola 8-8-8-8 dan rima a- a-a-a. Dengan demikian, maka tidak bisa dipungkiri lagi bahwa teks prasasti adalah sebentuk puisi.

Maka diperlukan usaha-usaha selanjutnya untuk lebih menjelaskan sejarah puisi Indonesia yang lebih berkesinambungan mulai dari abad ke-5 atau bisa jadi lebih tua jika merunun sastra lisan.

4. SIMPULAN

Bahwa prasasti seringkali hanya diinterpretasi sebagai peninggalan sejarah purbakala.

Maka, teks yang disajikan dalam terjemahannya hanya mementingkan data sejarah dengan mengubah bentuk puisi menjadi prosa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa teks prasasti adalah sebentuk puisi yang memiliki pola 8-8-8-8 dengan rima a-a-a-a yang disebut pertama kali oleh Vogel sebagai pola anushtub atau sloka (Vogel, 1918: ). Namun, dalam penyajiannya bentuk- bentuk puisi ini seringkali diabaikan hingga tidak diidahkan. Dengan menyajikan versi terjemahan puitis teks prasasti yupa Muarakaman (no. 1) ini kami berharap sedang menyediakan data untuk penelitian sejarah sastra khususnya puisi yang lebih berkesinambungan. Demikian besar harapan kami bahwa sejarah puisi Indonesia tidak hanya berangkat dari pengetahuan dangkal yang berasal dari puisi ―Tanah Air‖ karya Muhamad Yamin. Namun, lebih jauh sejarah puisi Indonesia bisa dirunut sampai abad ke-5 mulai dari teks Yupa Muarakaman.

DAFTAR PUSTAKA

Badudu, J.S. dkk. 1984. Perkembangan Puisi Indonesia Tahun 20-an hingga Tahun 40-an. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa: Jakarta.

Chhabra, Ch. 1965. Expantion Indo-Aryan Culture During Pallava Rule. Delhi: Munshi Ram Manihar Lal.

Hamid, Ismail. 1989. Kesusasteraan Indonesia Lama Bercorak Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Jassin, H.B. 1959. Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi. Balai Pustaka: Jakarta.

_________. 1963. Pujangga Baru: Prosa dan Puisi. Gunung Agung: Jakarta.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2012. Indonesia Dalam Arus Sejarah jilid 2; Kerajaan Hindu-Budha. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan PT Ichtiar Baru van Hoeve.

Monier, William. 1964. A Sanskrit-English Dictionary. Oxford: The Clarendon Press

“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy

in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 59

Museum Nasional Indonesia. 2016. Prasasti Batu: Pembacaan Ulang dan Alih Aksara I. Jakarta:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Nutosusanto, Nugroho. 1953. ―Soal Periodesasi dalam Sastra Indonesia‖ dalam Basis Thn. XII No.

7, April. hlm. 199-210.

Poerbatjaraka, 1951. Riwajat Indonesia I. Bandung: Jajasan Pembangunan.

Pradopo, Rachamat Djoko. 1991. ―Sejarah Puisi Indonesia Modern: Sebuah Ikhtisar‖ dalam Jurnal Humaniora: UGM hlm. 131-146.

Rosidi, Ajip. 1969. Ikhtisar Sejarah Kesusastraan Indonesia. Bina Cipta: Bandung.

Soekmono, R. 1995. Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.

Suhandi, Agraha. 2001. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Bandung: Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran

Vogel, Ph. 1918. The Yupa Inscriptions of King Mula-Varman, from Koetei (East Borneo).

Situs

―Pengertian Puisi‖ diperoleh dari https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Puisi&oldid=13545305 diakses 17 Januari 2018

Ujangmulyadi. 2017. ―Alih Aksara dan Terjemahan Prasasti Muarakaman I (D 2a)‖. Melalui https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/munas/alih-aksara-dan-terjemahan-prasasti-

muarakaman-d-2a/. Diakses pada tanggal 20 Agustus 2018.

“The Synergy between Literature and Communication Science as a Means of Cultural Diplomacy

in Building a New Civilization in the Millennial Era”, Bogor, 14-15 November 2018 60

REPRESENTASI ANALISIS WACANA NILAI KEHIDUPAN DALAM PUISI