1. PASAR DAN JENIS PASAR
1.2. Pasar Barang Konsumsi
1.2.2. Besarnya Pasar Barang Konsumsi
apabila pemasaran dilakukan secara tidak langsung kepada si pembeli (tidak melalui toko-toko yang dimilikinya sendiri), maka si produsen biasanya menjual barang tersebut langsung kepada toko-toko pengecer.
Barang yang Tidak Dicari (Unsought Goods): Barang yang termasuk dalam kelompok ini adalah barang yang enggan dibeli oleh si konsumen; yang termasuk dalam kelompok ini adalah ensiklopedi, asuransi, dokter gigi, dan jasa pemakaman. Karena barang/jasa ini tidak dicari, maka pemasarannya khusus, dilakukan secara intensif dengan mendatangi para konsumen atau calon pembeli. Para produsen atau pengusaha harus selalu aktif mengunjungi calon pembeli untuk menggugahnya sehingga mau membeli barang/jasa yang dijual.
populasi di daerah provinsi lainnya. Hal ini tentunya mempengaruhi distribusi dalam pemasaran barang konsumsi tersebut, karena potensi pasarnya berbeda. Di samping itu juga di dalam melihat pengaruh besarnya populasi ini terhadap besarnya pasar, perlu pula diperhatikan distribusi populasi menurut komposisi umum, karena pada umur tertentu kebutuhan jenis barang yang dikonsumsinya akan berbeda, atau jumlah barang yang dikonsumsinya tidak sama. Hal ini perlu diperhatikan dalam melihat besarnya potensi pasar untuk masing-masing jenis barang konsumsi.
Masih banyak faktor lainnya yang perlu diperhatikan dalam hubungannya dengan populasi ini, terutama bagi pengukuran besarnya pasar barang konsumsi, seperti distribusi penduduk menurut bidang pekerjaan atau profesi, distribusi penduduk/
populasi antara daerah kota dan desa, distribusi penduduk menu- rut tingkat pendidikan besarnya anggota keluarga dalam rumah tangga.
Pendapatan Masyarakat: Besarnya pendapatan masyarakat merupakan salah-satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan besarnya pasar barang konsumsi. Apabila tingkat pendapatan masyarakat cukup tinggi, maka terdapat kecende- rungan cukup besar pada potensi pasar barang konsumsi. Demi- kian pula dengan tingkat pertumbuhan pendapatan masyarakat, yaitu jika tingkat pertumbuhan pendapatan masyarakat ini cukup besar, maka akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan besarnya pasar barang konsumsi. Seperti yang kita hadapi di Indonesia, dengan adanya pertumbuhan pendapatan masyarakat sebesar 5%
pada dewasa ini (suatu tingkat yang lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya), maka terdapat dorongan terhadap pertumbuhan besarnya potensi barang konsumsi di Indonesia. Hal ini sudah tentu akan mendorong peningkatan investasi dalam produksi barang konsumsi di Indonesia.
Dalam melihat pengaruh tingkat pendapatan masyarakat terhadap besarnya potensi pasar barang konsumsi, perlu diper- hatikan besarnya pendapatan per kapita. Tingkat pendapatan
masyarakat yang tinggi belum dapat digunakan sebagai pegang- an, karena apabila jumlah populasinya besar, maka pendapatan per kapita masyarakat itu rendah. Oleh karena itu, dalam peng- ukuran besarnya pasar atau permintaan barang konsumsi perlu diperhatikan tingkat pendapatan per kapita masyarakat itu. Di samping itu juga di dalam melihat pengaruh tingkat pendapatan masyarakat terhadap besarnya pasar barang konsumsi perlu pula diperhatikan distribusi pendapatan masyarakat pada masing- masing daerah provinsi, baik secara total maupun per kapita.
Tingkat pendapatan masyarakat pada suatu daerah provinsi berbeda dengan tingkat pendapatan masyarakat pada daerah provinsi lainnya. Dengan demikian, hal ini akan mempengaruhi besarnya potensi pasar barang konsumsi, yang berbeda antara satu daerah provinsi dengan daerah provinsi lainnya.
Selain faktor tingkat pendapatan masyarakat secara total maupun per kapita dan distribusi pendapatan masyarakat pada masing-masing daerah provinsi, maka dalam memperhitungkan besarnya potensi pasar barang konsumsi perlu pula diperhatikan distribusi pendapatan masyarakat menurut bidang pekerjaan atau profesi, distribusi pendapatan masyarakat menurut sektor, distribusi pendapatan masyarakat menurut tingkat pendapatan tinggi, menengah dan rendah, serta besarnya pendapatan masya- rakat per rumah tangga.
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga: Penentuan besarnya pasar bagi barang konsumsi tertentu dipengaruhi pula oleh tingkat pengeluaran konsumsi rumah tangga. Dalam masyarakat yang berpendapatan tinggi, tingkat pengeluaran konsumsi rumah tangga dalam persentase terhadap total pendapatannya relatif rendah, apabila dibandingkan dengan masyarakat yang berpendapatan rendah. Hal ini disebabkan karena masyarakat yang berpendapatan tinggi, kebutuhan untuk pengeluaran konsumsi-nya relatif kecil terhadap total pendapatannya, sehingga kecen-derungan marginal untuk konsumsi (Marginal Propensity to Con-sume)-nya rendah, sebaliknya kecenderungan marginal untuk menyimpan (Marginal
Propensity to Save)-nya adalah tinggi. Sedangkan bagi masyarakat yang berpendapatan rendah adalah kebalikannya;
kebutuhan untuk pengeluaran konsumsinya relatif besar terhadap total pendapatannya. Akibatnya, kecenderungan marginal untuk konsumsinya untuk satu rupiah pendapatannya adalah relatif tinggi, sebaliknya kecenderungan marginal untuk menyimpan satu rupiah pendapatannya adalah relatif rendah.
Dalam melihat besarnya pengaruh pengeluaran konsumsi rumah tangga terhadap besarnya pasar barang konsumsi, perlu diperhatikan perbedaan tingkat pengeluaran konsumsi rumah tangga pada berbagai daerah provinsi. Terdapat daerah-daerah yang tingkat pengeluaran konsumsi rumah tangganya relatif tinggi, yang antara lain disebabkan tingginya tingkat indeks biaya hidup di daerah-daerah tersebut, seperti daerah Kalimantan Timur, daerah Provinsi Bali, dan DKI Jakarta.
Di samping perbedaan tersebut, perlu pula diperhatikan perbedaan tingkat pengeluaran konsumsi rumah tangga antara masyarakat dari daerah kota dengan masyarakat dari daerah desa.
Cita Rasa (Taste) dan Gaya (Style) atau Model (Fashion): Besar- nya pasar untuk barang konsumsi tertentu akan berubah apabila terjadi perubahan dalam cita rasa (taste) konsumennya. Pergeser- an-cita rasa konsumen akan menimbulkan pasar atau permintaan bagi suatu jenis produk akan berkurang, sedangkan pasar atau permintaan untuk jenis produk lainnya akan bertambah besar.
Perubahan cita rasa ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain perkembangan sosial budaya masyarakat, perkem- bangan tingkat pendidikan, pergeseran bidang pekerjaan atau profesi anggota masyarakat, perpindahan atau mobilitas anggota masyarakat, pergeseran tingkat umur anggota masyarakat, serta pengaruh perkembangan teknologi dan budaya yang datangnya dari luar. Salah-satu cerminan perubahan cita rasa ini terdapat dalam perubahan gaya atau model.
Gaya adalah ciri yang tercermin dalam mode atau metode yangberbeda dari pengungkapan, penyajian, dan
menyatakannya atau konsepsi yang terdapat dalam bidang seni. Kita menemukan gaya perabotan rumah tangga (furniture), gaya pakaian, dan gaya bangunan rumah. Model adalah gaya yang menjadi populer pada suatu saat tertentu.
Bila kita menemukan peningkatan jumlah wanita yang memakai pakaian maksi, maka kita menyatakan modelnya kembali lagi. Pada akhir-akhir ini para konsumen menjadi keranjingan model (fashion minded), sehingga para pengusaha atau produsen hendaknya memikirkan bahwa untuk barang konsumsi tertentu, model menjadi faktor utama dalam memasarkan barang konsumsi tersebut. Hal ini terjadi karena bergesernya usaha dari usaha untuk memenuhi kebutuhan (needs), menjadi usaha untuk memenuhi keinginan (wants) dari para konsumen. Oleh karena itu, dalam pemasaran barang konsumsi tertentu pada dewasa ini berkembang konsep siklus usaha atau kehidupan produk (Product Life Cycle). Konsep ini menyatakan ada empat tahapan perkembangan usaha dalam pemasaran suatu produk, yaitu tahap pengenalan (introduction atau pioneering), kemudian tahap pertumbuhan (growth atau expansion), selanjutnya tahap pemantapan (maturity atau stabilization), dan akhirnya tahap kemunduran atau penuaan (decline). Pembahasan konsep ini akan diuraikan lebih lanjut dalam Bab 6.