• Tidak ada hasil yang ditemukan

FALSAFAH MANAJEMEN PEMASARAN

Dalam dokumen Dasar, Konsep, dan Strategi (Halaman 73-79)

Dari perkembangan falsafah pemikiran tentang

pemasaran terdapat lima konsep yang mendasari

pendekatan yang terdapat dalam manajemen

pemasaran. Falsafah pimpinan inilah yang melandasi

dan mengarahkan usaha-usaha pemasaran, yang

akan terkait dengan kepentingan perusahaan atau

organisasi, konsumen atau langganan, dan

masyarakat. Oleh karena itu, kelima falsafah

manajemen pemasaran inilah yang biasa digunakan

oleh berbagai perusahaan/organisasi. Kelima konsep

yang terdapat dalam falsafah pemikiran manajemen

tersebut adalah, Konsep Produksi, Konsep Produk,

Konsep Penjualan, Konsep Pemasaran, dan Konsep Pemasaran Sosial.

Konsep produksi adalah suatu orientasi manajemen yang menganggap bahwa konsumen akan menyenangi produk-produk

yang telah tersedia dan dapat dibeli. Oleh karena itu, tugas utama manajemen adalah mengadakan perbaikan dalam produksi dan distribusi sehingga lebih efisien. Yang secara implisit terkan-dung dalam pandangan konsep produksi ini adalah:

1. Konsumen terutama berminat terhadap produk-produk yang telah tersedia dan dengan harga yang rendah/murah.

2. Konsumen mengetahui harga dan merek saingan.

3. Konsumen tidak melihat atau menekankan pentingnya persaingan nonharga di dalam kelas produk.

4. Tugas organisasi adalah untuk menjaga perbaikan efisiensi produksi dan distribusi dan menekan biaya sebagai kunci menarik dan mempertahankan/membina langganan.

Konsep produksi merupakan falsafah manajemen yang terdapat dalam dua macam keadaan. Keadaan pertama adalah di mana permintaan untuk suatu produk melebih penawaran (supply)-nya. Dalam keadaan ini, konsumen siap untuk membeli setiap macam produk yang dapat diperolehnya. Keadaan kedua ialah adanya orientasi produksi di mana biaya produk tinggi dan harus ditekan melalui usaha mempelajari bagaimana memproduksi dengan lebih efisien. Konsep produksi ini tidak hanya terdapat pada perusahaan yang menghasilkan barang, tetapi juga banyak organisasi yang menghasilkan jasa mengikuti konsep ini, seperti perusahaan angkutan dan asuransi. Di Indonesia konsep produksi banyak diikuti oleh organisasi atau perusahaan terutama sebelum 1966, di mana barang-barang yang dihasilkan banyak diminta, sehingga pembeli bersedia membayar di muka (dikenal dengan istilah indent) walaupun barangnya belum ada.

Konsep produk merupakan orientasi manajemen yang meng- anggap konsumen akan lebih tertarik pada produk-produk yang ditawarkan dengan mutu yang terbaik pada tingkat harga tertentu.

Oleh karena itu, organisasi atau perusahaan haruslah berusaha untuk melakukan perbaikan mutu produk yang dihasilkannya.

Yang secara implisit terkandung dalam pandangan konsep produk ini adalah:

1. Konsumen membeli produk tidaklah hanya untuk sekedar memenuhi kebutuhannya saja.

2. Konsumen terutama selalu menekankan mutu produk (per- hatian utama pada mutu produk).

3. Konsumen mengetahui mutu dan penampilan yang membe- dakan dari merek-merek yang bersaing.

4. Konsumen memilih di antara merek yang bersaing atas dasar mutu yang terbaik yang dapat dicapai dari uang atau dana yang mereka korbankan/keluarkan.

5. Tugas organisasi adalah untuk selalu melakukan perbaikan mutu produk sebagai kunci guna menarik dan memperta- hankan/membina langganan.

Konsep produk ini umumnya terdapat pada perusahaan yang selalu mengembangkan produknya untuk dapat menghasilkan produk yang terbaik. Biasanya hal ini akan ditemui pada perusahaan yang dipimpin oleh tenaga ahli teknik atau engineer Karena konsep ini sering diikuti oleh perusahaan kontraktor yang dipimpin oleh engineer perusahaan konsultan yang dipimpin tenaga ahli, dan rumah sakit-rumah sakit yang dipimpin oleh dokter ahli. Demikian pula akan ditemui konsep ini dalam manajemen perusahaan kereta api, sekolah, perguruan tinggi, serta kantor pos.

Konsep penjualan adalah suatu orientasi manajemen yang menganggap konsumen akan melakukan atau tidak melakukan pembelian produk-produk organisasi/perusahaan didasarkan atas pertimbangan usaha-usaha nyata yang dilakukan untuk menggu- gah atau mendorong minat akan produk tersebut. Jadi, yang dite- kankan dalam konsep ini adalah asumsi bahwa konsumen sama sekali tidak akan membeli atau tidak akan membeli dalam jumlah yang cukup terhadap produk organisasi/perusahaan, kecuali apa- bila organisasi/perusahaan tersebut berusaha semaksimal

mungkin untuk merangsang mereka terhadap produk yang ditawarkan. Yang secara implisit terkandung dalam pandangan konsep penjualan ini adalah:

1. Konsumen mempunyai kecenderungan normal untuk tidak melakukan pembelian produk yang tidak penting (not essen- tial).

2. Konsumen dapat didorong atau dirangsang untuk membeli lebih banyak melalui berbagai peralatan atau usaha-usaha yang mendorong pembelian.

3. Tugas organisasi adalah untuk mengorganisasi bagian yang berorientasi pada penjualan sebagai kunci untuk menarik dan mempertahankan/membina langganan.

Konsep penjualan dijalankan secara agresif pada perusahaan yang menghasilkan produk yang tidak dicari seperti asuransi, ensiklo-pedia, dan jasa pemakaman. Usaha penjualan dilakukan secara intensif oleh perusahaan industri dan perdagangan bila terdapat surplus dari produk di tangan perusahaan ini. Di samping itu, konsep penjualan juga dijalankan oleh organisasi yang tidak mencari keuntungan (nonprofit) seperti organisasi olahraga. Kon- sep penjualan ini mempunyai motto yang agak istimewa, bahwa produknya dijual, bukan dibeli.

Konsep pemosaran merupakan orientasi manajemen yang me- nekankan bahwa kunci pencapaian tujuan organisasi terdiri dari kemampuan perusahaan/organisasi menentukan kebutuhan dan keinginan pasar yang dituju (sasaran) dan kemampuan perusahaan/ organisasi tersebut memenuhinya dengan kepuasan yang diingin-kan secara lebih efektif dan efisien dari para saingan. Konsep pe-masaran menunjukkan ciri dan seni dari kegiatan pemasaran yang akan dilakukan dengan mencari apa yang diinginkan konsumen dan berusaha memenuhinya serta membuat apa yang dapat dijual dan bukan menjual apa yang dapat dibuat. Di samping itu konsep ini lebih menekankan untuk mencintai langganan dan bukan produk serta menganggap langganan adalah sebagai raja. Ada tiga landasan yang penting dari konsep pemasaran, yaitu:

1. Konsumen dapat dikelompokkan ke dalam segment pasar yang berbeda tergantung dari kebutuhan dan keinginannya.

2. Konsumen dalam suatu segment pasar tertentu lebih menye- nangi atau tertarik akan apa yang ditawarkan perusahaan/

organisasi yang dapat langsung memenuhi kepuasan dan keinginan tertentu dari mereka.

3. Tugas organisasi adalah untuk meneliti dan memilih pasar yang dituju (sasaran) dan berusaha mengembangkan usaha-usaha penawaran dan program-program pemasaran

sebagai kunci untuk menarik dan

mempertahankan/membina lang-ganan.

Konsep pemasaran diterima dan dijalankan oleh banyak perusaha-an yang dapat berhasil dalam usahanya seperti IBM dan McDonald. Umumnya konsep pemasaran ini lebih mengena untuk perusahaan yang menghasilkan barang konsumsi daripada perusahaan yang menghasilkan barang industri, serta untuk perusahaan besar dan perusahaan kecil.

Konsep pemasaran ke masyarakat (The Societal Marketing Concept) adalah suatu orientasi manajemen yang menekankan bahwa tugas utama perusahaan/organisasi adalah menentukan kebutuhan, keinginan, dan kepentingan dari pasar yang dituju (sasaran) dan mengusahakan agar perusahaan/organisasi tersebut dapat menye-rahkan kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan lebih efisien dari para saingannya dalam meningkatkan dan melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat. Landasan utama konsep ini adalah:

1. Keinginan konsumen tidak selalu sejalan dengan kepentingan jangka panjangnya dan kepentingan masa depan masyarakat.

2. Konsumen akan lebih menyenangi organisasi/perusahaan yang menunjukkan minat untuk memenuhi keinginan

konsumen, kepentingan jangka panjang konsumen tersebut dan masyarakat umumnya.

3. Tugas masyarakat adalah melayani pasar yang dituju dengan cara menghasilkan tidak hanya apa yang memuaskan keinginan tetapi juga bermanfaat bagi perseorangan dan masyarakat dalam jangka panjang

sebagai cara untuk menarik dan

mempertahankan/membina langganan.

Dari uraian ini dapat disimpulkan, konsep ini menyatakan bahwa tugas organisasi/perusahaan adalah tidak sekadar me- netapkan kebutuhan dari pasar yang menjadi sasarannya serta memberikan kepuasan yang diinginkan mereka secara efektif dan efisien, tetapi lebih dari itu organisasi/perusahaan tersebut hendaknya juga tetap menjaga dan harus dapat meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat umumnya. Secara sepintas Konsep Pemasyarakatan Kemasyarakatan ini memberikan kesan simpatik. Namun, apabila dilihat dari sejarah munculnya gagasan konsep ini ternyata disebabkan karena banyak orang mulai ragu terhadap penggunaan Konsep Pemasaran sebagai suatu falsafah yang cocok untuk situasi abad ini, di mana pada dewasa ini berbagai masalah sosial ekonomi telah melanda di banyak negara. Masalah yang dihadapi ini antara lain adalah pertam-bahan penduduk yang eksplosif, inflasi yang terus meningkat, pelayanan sosial yang terabaikan, timbulnya kerusakan lingkungan, berkurangnya sumber daya alam. Konsep Pemasaran dinilai tidak memperhatikan adanya perbedaan kepentingan antara kebutuhan atau keinginan konsumen dengan kesejahteraan konsumen dan masyarakat luas dalam jangka panjang. Selain itu, Konsep Pemasaran ditolak karena dianggap mempunyai kejelekan atau cacat yang dapat mempengaruhi tumbuhnya paham konsumenisme. Tuduhan ini rupanya didasarkan oleh hal-hal berikut:

 Makanan siap-hidang McDonald's memang lezat, tetapi kurang bergizi karena hamburgernya mengandung banyak lemak, sehingga dapat menimbulkan komplikasi kesehatan.

 Industri mobil di Amerika Serikat telah melayani permintaan akan mobil yang besar dan kuat (awet), tetapi hal ini meng-akibatkan biaya pemakaian bahan bakar menjadi tinggi, demikian juga biaya perbaikan dan pemeliharaannya.

 Minuman ringan (so/t drink) seperti Coca Cola, selain hanya memberikan gizi yang sedikit sekali, ternyata mengandung gula dan asam fosfat yang dapat merusak gigi.

 Detergent meskipun memberikan hasil cucian yang bersih cemerlang, tetapi mengakibatkan saluran air dan sungai- sungai menjadi kotor, dapat mematikan ikan dalam atau sungai, dan merusak sarana rekreasi.

Semua gambaran di atas menunjukkan, bahwa kritik terhadap Konsep Pemasaran dari penyanjung Konsep Pemasaran Kemasya-rakatan tersebut hanya berlaku atau ditujukan kepada penggu-naan Konsep Pemasaran untuk pemasaran produk-produk yang konsumtif yang tidak memberikan manfaat kesejahteraan bagi konsumen dan masyarakat umumnya.

Dalam dokumen Dasar, Konsep, dan Strategi (Halaman 73-79)