Pasar ini terdiri dari instansi pemerintah, yang membeli
atau menyewa produk untuk membantu atau melaksanakan
fungsi operasional dalam pemerintahan. Instansi pemerintah
dalam hal ini terdiri dari Instansi Pemerintah Pusat,
Lembaga Tertinggi dan Tinggi Negara, Instansi Pemerintah
Daerah Tingkat Satu, Instansi Pemerintah Daerah Tingkat
Dua, Ke-camatan, dan Kelurahan. Karena kompleks atau
rumitnya suatu pasar, maka diperlu-kan kerangka umum
yang dikenal dengan konsep Enam 0 (The Six O's
Concept). Keenam 0 tersebut adalah:a) Siapa yang ada dalam pasar tersebut (Who is in the
market), yaitu Occupants,b) Apa yang dibeli oleh pasar tersebut (What does the market buy), yaitu: Objects,
c) Kapan terjadi transaksi pembelian (When does the
market buy), yaitu: Occossions,d) Siapa yang ikut serta dalam pembelian (Who is involved in the buying), yaitu: Organization,
e) Mengapa pasar itu membeli (Why does the market buy), yaitu: Objectives,
f) Bagaimana caranya pasar itu membeli (How does the
market buy), yaitu: Operations.Dalam melakukan segmentasi pasar, terutama untuk penen-tuan pasar sasaran (target market), digunakan konsep enam O tersebut.
3.3. Segmentasi Pasar Konsumen
Sebelum dilakukan pembahasan segmentasi Pasar
Konsumen, terlebih dahulu Pasar Konsumen tersebut
dianalisis dengan konsep enam 0. Pertama adalah siapa
yang berada di Pasar Konsumen. Di dalam PasarKonsumen terdapat perorangan atau rumah tangga yang
membeli produk untuk dikonsumsi sendiri. Perorangan
dan rumah tangga dapat ditinjau lebih lanjut, dengan
membaginya berdasarkan bermacam-macam kriteria,
antara lain: umur, pendapatan, pendidikan, bidang
pekerjaan, selera, dan kebiasaan. Kedua adalah apa yang dibeli dalam Pasar Konsumen. Banyak produk yang dipasarkan dalam Pasar Konsumen, yang dapat dibedakan dari berbagai segi. Berdasarkan tingkat kon-sumsinya, serta berwujud (tangible) tidaknya, maka barang yang dibeli atau dipasarkan tersebut dibedakan atas:
a) Barang tidak tahan lama (nondurable goods), yaitu barang yang berwujud (tangible goods), yang dikonsumsikan hanya satu atau beberapa kali dalam waktu yang tidak begitu lama. Contoh barang seperti ini adalah daging, sabun cuci dan sabun mandi, pasta gigi dan detergen. Ciri barang ini adalah cepat dikonsumsinya dan sering dibeli. Ciri lainnya, barang tersebut tersedia di banyak lokasi atau outlet, dan mampu menciptakan tingkat kesetiaan seseorang terhadap suatu merek (brand loyalty), serta pada umumnya tingkat keuntungan atau profit margin per unit produknya rendah.
b) Barang tahan lama (durable goods), yaitu barang
berwujud (tangible goods) yang dapat digunakan
berkali-kali dalam jangka waktu yang panjang, tanpa
mengurangi jumlah barang tersebut. Contoh barang
seperti ini adalah pakaian, lemari es, radio, televisi,
dan komputer. Ciri barang ini adalah lebih banyak
memerlukan personal selling dan services, dan
umumnya tingkat keuntungan per unit produknya
relatif lebih tinggi, serta sering membutuhkan adanya
ja-minan (garansi).
c) Jasa (services), yaitu semua kegiatan/aktivitas, manfaat atau kepuasan/kesenangan yang ditawarkan untuk diperjualbe-likan. Contoh produk seperti ini adalah jasa pemangkas rambut dan salon, jasa reparasi atau perbengkelan, jasa per-bankan dan jasa asuransi. Ciri jasa ini adalah produknya tidak nyata berwujud (intangible), dan banyak variasinya, serta dapat bersifat pribadi.
Berdasarkan kebiasaan berbelanja atau membeli dan usaha-usaha yang dikorbankan pembeli dalam pembelian, maka barang-barang konsumsi dibedakan atas:
a) Barang konvenien (convenience goods), yaitu barang konsumsi yang sering dibeli dan dibutuhkan dalam jangka waktu yang cepat atau segera, dengan usaha yang minimal atau sedikit untuk membanding- bandingkan harga maupun kualitas pada saat membeli.
Contoh barang seperti ini adalah rokok, sabun, surat kabar, dan minuman.
b) Barang shopping (shopping goods), yaitu barang konsumsi yang dibeli oleh konsumen dengan melakukan seleksi atau membanding-bandingkan terlebih dahulu mengenai kualitas dan harga serta modelnya. Contoh barang seperti ini adalah pakaian, sepatu, jam tangan, meubel, dan alat olahraga.
c) Barang spesial (special goods), yaitu barang konsumsi dengan ciri khusus yang unik atau dengan identifikasi merek; se-orang pembeli terbiasa membeli produk ini pada tempat tertentu dengan suatu usaha yang khusus.
Contoh barang seperti ini adalah alat-alat fotografi,
stereo-set, permata, dan lukisan.
Ketiga adalah bilamana konsumen membeli produk itu.
Tingkat frekuensi konsumen membeli suatu produk, yaitu sering atau tidak, tergantung dari tingkat konsumsi akan produk tersebut. Faktor yang mempengaruhi jangka waktu dan frekuensi pembelian antara lain adalah ciri-ciri dari suatu keluarga, yang menyangkut umur, pendidikan, pendapatan dan selera, serta hal-hal yang menyangkut agama, faktor musim dan ada tidaknya suatu penemuan baru. Hal lain yang sangat menentukan waktu pembelian adalah faktor ekonomi, khususnya untuk barang yang tahan lama, termasuk barang shopping dan barang spesial.
Keempat adalah siapa yang turut serta dalam mengambil keputusan pembelian barang-barang konsumsi. Hal ini
sangat penting bagi perusahaan untuk mengetahui siapa yang meng-ambil keputusan dalam pembelian. Ada lima peran yang dapat dimainkan orang-orang tertentu di dalam mengambil keputusan membeli, yaitu:
a) Orang yang mengambil inisiatif (initiator), yaitu orang yang pertama sekali mengusulkan atau mempunyai gagasan untuk membeli produk tertentu,
b) Orang yang mempengaruhi (in/Iuencer), yaitu orang yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi keputusan terakhir dalam pembelian, c) Orang yang mengambil keputusan (decider), yaitu
orang yang pada akhirnya menentukan sebagian atau seluruhnya ten-tang keputusan untuk membeli,
d) Pembeli (buyer), yaitu orang yang melaksanakan pembelian yang sesungguhnya, dan
e) Pemakai (user), yaitu orang yang memakai atau mengkon-sumsi produk (barang atau jasa) tersebut.
Dalam Pasar Konsumen, konsumen atau pembeli
umum-nya terdiri dari rumah tangga. Ciri-ciri suatu
keluarga dapat mempengaruhi besar-kecilnya peranan anggotanya dalam pembelian. Pada dasarnya terdapat empat macam/tipe keluarga atau rumah tangga, yang dibagi atas dasar pusat otoritas dalam keluarga tersebut, yaitu:
1) Tipe keluarga otonom, di mana baik suami maupun
Dalam dokumen
Dasar, Konsep, dan Strategi
(Halaman 146-151)