Bagan 2. Alur Penelitian Tindakan Keterampilan Menulis Karangan Deskripsi melalui Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan
A. Temuan Penelitian
6. Hasil Dokumentasi
kegiatan akhir, guru menyebarkan angket dan meminta siswa untuk mengisi angket tersebut dengan jujur. Kemudian, guru bersama siswa mengadakan refleksi dan menyimpulkan pelajaran.
ini dilakukan pada setiap pertemuan dalam setiap siklus. Dokumentasi foto ini dapat dilihat pada lampiran 23.
Pada saat guru menjelaskan pembelajaran keterampilan menulis karangan deskripsi melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan ini, terlihat guru kolaborator mengamati aktivitas guru dan siswa pada saat pembelajaran berlangsung.
Kegiatan ini dapat dilihat pada gambar 1 dalam lampiran 23.
Setelah guru menjelaskan pelajaran menulis karangan deskripsi tersebut, kemudian guru membagi siswa dalam enam kelompok. Selanjutnya, guru membagikan model karangan deskripsi pada masing-masing kelompok. Model karangan deskripsi yang diberikan tersebut terdiri atas lima, yakni tiga model deskripsi tempat, satu model deskripsi benda, dan satu model deskripsi orang. Pada saat guru membagikan model tersebut, terlihat antusias siswa mengamati model itu dengan saksama seperti yang terlihat pada gambar 2 dalam lampiran 23. Dalam kegiatan diskusi kelompok ini, guru meminta siswa untuk mendiskusikan ciri-ciri apa saja yang terdapat dalam model karangan deskripsi yang dibagikan.
Setelah waktu yang ditentukan dalam berdiskusi kelompok telah habis, kemudian guru meminta setiap kelompok untuk menyampaikan atau membacakan hasil diskusinya. Sementara itu, kelompok lain diminta memperhatikan hasil diskusi temannya dan memberikan komentar terhadap kelompok yang tampil tersebut. Pada kegiatan ini, kelompok II membacakan hasil diskusinya dengan antusias seperti yang terlihat pada gambar 3 dalam lampiran 23. Ketika kelompok II membacakan hasil
diskusinya, terlihat antusias kelompok lain memperhatikan penampilan temannya.
Namun, ada juga siswa yang tidak memperhatikan kelompok yang tampil.
Kegiatan selanjutnya, guru meminta siswa menulis karangan deskripsi seperti yang tertera pada petunjuk soal. Kegiatan menulis karangan deskripsi melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan siklus I ini sudah cukup baik. Hal ini dapat dilihat pada gambar 4 dalam lampiran 23. Pada gambar tersebut, terlihat antusias siswa dalam mengerjakan tugasnya, selain itu pada kegiatan tersebut suasana dalam ruang kelas kelihatan sangat tenang, sehingga siswa dapat berkonsentrasi untuk menulis karangan deskripsi. Tetapi, pada kegiatan ini masih ada terlihat beberapa orang siswa yang tidak mengerjakan tugasnya dengan serius. Ada di antara mereka yang berbicara dengan teman sebangkunya dan ada yang mengganggu teman yang duduk di depannya.
d. Refleksi
Setelah guru dan kolaborator mengadakan observasi, kegiatan selanjutnya adalah evaluasi dan menganalisis data observasi yang diperoleh. Refleksi adalah kegiatan menganalisis hasil pengamatan peneliti bersama guru kolaborator untuk menentukan sejauh mana pendekatan kontekstual komponen pemodelan yang digunakan guru berhasil dalam meningkatkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa. Hasil pengamatan peneliti bersama guru kolaborator dilakukan setelah proses pembelajaran berakhir.
Berdasarkan pelaksanaan hasil siklus I, penerapan pendekatan kontekstual komponen pemodelan mampu meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan deskripsi dibandingkan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa pada tes awal (prasiklus). Selain itu, keterampilan menulis karangan deskripsi melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan ini cukup diminati oleh siswa.
Hasil refleksi pada pelaksanaan keterampilan menulis karangan deskripsi melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan pada siklus I sebagai berikut.
Pertama, siswa terkendala dalam menulis karangan deskripsi karena sulit menemukan ide yang dapat dikembangkan menjadi sebuah karangan deskripsi. Solusi dari masalah ini adalah pada pertemuan berikutnya, guru memberikan model yang lebih kontekstual sehingga lebih mudah dipahami siswa untuk dijadikan pedoman dalam menulis karangan deskripsi. Di samping itu, dengan menyajikan model yang kontekstual tersebut juga dapat membantu siswa dalam menulis karangan deskripsi.
Kedua, masih terlihat siswa yang malu bertanya atau ragu-ragu dalam bertanya maupun menjawab pertanyaan guru. Solusi dari masalah ini adalah guru harus memotivasi siswa untuk berani atau percaya diri dalam mengemukakan pendapat atau gagasannya.
Ketiga, siswa sulit untuk memilih topik yang telah ditentukan pada tes siklus I, walaupun pada pilihan ketiga adalah pilihan bebas namun mereka kesulitan juga dalam menentukan topik yang dikembangkan menjadi sebuah karangan deskripsi.
Solusi dari masalah ini adalah guru menyajikan topik lebih banyak lagi, dimana topik
yang disajikan tersebut lebih kontekstual sehingga memudahkan mereka dalam menulis karangan deskripsi.
Keempat, kurangnya pemahaman siswa tentang ciri-ciri deskripsi terutama pada ciri kedua dan ketiga yakni memberikan pengaruh sensitivitas dan menggunakan diksi (pilihan kata) yang menggugah. Hal ini disebabkan karena penjelasan guru yang terlalu cepat dan contoh kalimat dari setiap ciri tersebut yang kurang. Solusi dari masalah ini adalah guru harus lebih fokus pada penjelasan materi tentang ciri-ciri deskripsi terutama mengenai ciri deskripsi kedua dan ketiga yaitu memberikan pengaruh sensitivitas dan penggunaaan diksi yang menggugah. Selanjutnya, pada penjelasan setiap ciri tersebut, guru lebih banyak memberikan contoh ciri deskripsi terutama ciri kedua dan ketiga yang merupakan kesulitan siswa dalam menulis karangan deskripsi. Di samping itu, guru juga memberikan waktu yang lebih banyak untuk bertanya kepada siswa yang masih belum memahami materi tersebut.
Kelima, penyampaian guru yang terlalu cepat sehingga siswa kurang memahami penjelasan yang disampaikan guru tentang materi pembelajaran menulis karangan deskripsi melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Solusi dari masalah ini adalah pada pertemuan berikutnya guru disarankan untuk lebih pelan dalam menyampaikan materi pembelajaran dan benar-benar memastikan semua siswa memahami materi yang disampaikan dengan cara memberikan kesempatan bertanya kepada siswa lebih lama. Untuk memastikan semua siswa memahami materi deskripsi dan cara menulis karangan deskripsi melalui pendekatan kontekstual
komponen pemodelan, dalam hal ini guru juga dapat menanyakan terlebih dahulu kepada beberapa siswa tentang materi yang telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya.
Keenam, kurangnya pendekatan personal kepada siswa yang merupakan kendala dalam menulis karangan deskripsi. Hal ini disebabkan karena guru kurang memperhatikan siswa yang masih belum paham terhadap pelajaran yang telah dijelaskan. Solusi dari masalah ini adalah pendekatan guru lebih banyak pada siswa sehingga dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis karangan deskripsi melalui pendekatan kontekstual komponen pemodelan. Di samping itu, guru harus melakukan penguasaan kelas yang lebih baik, sehingga tidak ada lagi siswa yang berbicara, mengganggu temannya, dan melakukan kegiatan lain seperti menulis gambar.
Berdasarkan hasil refleksi tersebut, diperoleh dua gambaran berbeda dari pelaksanaan siklus I yaitu adanya beberapa kemajuan dan masih ada beberapa kelemahan. Kelemahan dari pelaksanaan siklus I yaitu belum mampu membawa hasil belajar siswa hingga standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ≥75%. Dari hasil refleksi tersebut, perlu diadakan pelaksanaan siklus II guna mewujudkan sebuah peningkatan belajar. Untuk pelaksanaan siklus II ini, tentu kelemahan-kelemahan pada siklus I harus disiasati.