H. Definisi Istilah
2. Keterampilan Menulis Deskripsi
Pada bagian ini, diuraikan teori-teori yang relevan dengan keterampilan menulis deskripsi. Teori-teori tersebut meliputi: (a) batasan deskripsi, (b) ciri-ciri deskripsi, (c) jenis-jenis deskripsi, dan (d) tahap-tahap menulis deskripsi.
a. Batasan Deskripsi
Karangan yang ditulis sebagai hasil keterampilan menulis tertuang dalam berbagai bentuk tulisan. Bentuk tulisan tersebut dapat berjenis eksposisi, narasi, deskripsi, argumentasi, dan persuasi. Keraf (1982:93) mengatakan deskripsi atau
pemerian merupakan sebuah bentuk tulisan yang berhubungan dengan usaha penulis untuk memberikan perincian-perincian dari obyek yang sedang dibicarakan. Kata deskripsi berasal dari kata latin describere yang berarti menulis tentang atau membeberkan sesuatu hal. Selanjutnya, kata deskripsi dapat diterjemahkan menjadi pemerian, yang berasal dari kata peri-memerikan yang berarti melukiskan sesuatu hal.
Menurut Semi (2003:41), deskripsi adalah tulisan yang tujuannya adalah memberikan perincian atau detail tentang objek sehingga dapat memberikan pengaruh sensitivitas pembaca atau pendengar, bagaikan mereka ikut melihat, mendengar, merasakan, atau mengalami langsung objek tersebut. Atmazaki (2006:88) mengatakan bahwa deskripsi merupakan bentuk tulisan yang melukiskan suatu objek (tempat, benda, dan manusia). Pembaca deskripsi seolah-olah ikut mencium, mendengarkan, meraba, merasakan, atau melihat segala sesuatu yang dideskripsikan.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Thahar (2008:36) yang menyatakan bahwa deskripsi adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata tentang sesuatu, berupa benda, tempat, dan suasana atau keadaan. Selanjutnya, Rohmadi (2011:81) mengemukakan deskripsi adalah jenis karangan yang dibuat untuk menyampaikan gambaran secara objektif suatu keadaan sehingga pembaca memiliki pemahaman yang sama dengan informasi yang disampaikan.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, dari segi keterampilan deskripsi merupakan sebuah bentuk tulisan yang berhubungan
dengan usaha penulis untuk memberikan perincian-perincian dari obyek yang sedang dibicarakan. Kedua, dari segi proses deskripsi merupakan sebuah tulisan atau karangan yang tujuannya adalah gambaran, perincian atau detail tentang objek, sehingga pembaca atau pendengar, ikut melihat, mendengar, merasakan, atau mengalami langsung objek tersebut. Ketiga, dari segi isi deskripsi merupakan karangan yang memberikan imajinasi atau pengaruh sensitivitas dengan menggunakan pilihan kata yang menggugah, sehingga pembaca ikut melihat, merasakan, dan berada langsung pada objek yang disampaikan tersebut.
Dengan demikian, deskripsi merupakan suatu bentuk tulisan yang melukiskan maupun menggambarkan perincian-perincian tentang suatu objek atau kejadian dengan tujuan seolah-olah pembaca atau pendengar seakan-akan ikut melihat, mendengar, merasakan, dan berada langsung di tempat objek atau kejadian yang dilukiskan penulis tersebut.
b. Ciri-ciri Deskripsi
Semi (2003:41-42) mengemukakan ada lima ciri-ciri penanda deskripsi.
Pertama, deskripsi lebih berupaya memperlihatkan detail suatu perincian tentang suatu objek. Artinya, penulis harus bisa menggambarkan tentang suatu objek secara rinci dan detail sehingga informasi yang disampaikan mudah dipahami dengan jelas oleh pembaca, misalnya penulis ingin menggambarkan tentang pantai Karta, penulis
harus merincikan secara detail tentang letak pantai Karta dan keadaan pantai yang ombaknya bergelombang sehingga membawa rasa segar dan nyaman.
Kedua, deskripsi lebih bersifat memberi pengaruh sensitivitas dan membentuk imajinasi pembaca. Artinya, penulis harus mampu menciptakan imajinasi pembaca sehingga pembaca seolah-olah melihat sendiri objek tersebut secara keseluruhan, misalnya penulis ingin menggambarkan tentang sebuah pot bunga yang begitu indah dan pembaca diberi imajinasi mengenai tulisan itu.
Ketiga, deskripsi disampaikan dengan gaya yang memikat dan menggunakan pilihan kata yang menggugah. Artinya, penulis harus mampu menggunakan pilihan kata yang tepat dalam tulisan deskripsi dan dapat menggugah perasaan pembaca, sehingga setelah membaca tulisan deskripsi tersebut maka imajinasi pembaca akan terpengaruh dan dapat menimbulkan perasaan tetentu, misalnya penulis ingin menggambarkan keindahan pantai, agar meninggalkan kesan kepada pembaca maka dapat digunakan kata-kata seperti “pemandangannya yang indah, udaranya yang sejuk, angin berhembus sepoi-sepoi, dan ombak yang bergelombang silih berganti sehingga membuat pengunjung betah jika berada di sana.”
Keempat, deskripsi lebih banyak memaparkan tentang sesuatu yang dapat didengar, dilihat, dan dirasakan, sehingga objeknya pada umumnya berupa benda, alam warna, dan manusia. Artinya, deskripsi pada umumnya objek berupa suatu benda, alam, warna, dan manusia sehingga objek yang dilukiskan tersebut seolah-
olah dapat didengar, dilihat, dan dirasakan oleh pembaca, misalnya suara penyanyi itu sangat bagus, pemandangan itu sangat indah, udara itu sangat sejuk.
Kelima, organisasi penyampaianya lebih banyak menggunakan susunan ruang.
Hal itu biasanya ditandai dengan ungkapan-ungkapan di kiri, di kanan, di barat, di timur, di sini, di sana, dan di situ. Contoh: Rumah warga di Pariaman di sana sini retak akibat gempa.
Selanjutnya, Rohmadi (2011:81) merumuskan tiga ciri-ciri deskripsi, yakni:
(1) bersifat informatif, (2) pembaca diajak menikmati sesuatu yang ditulis, dan (3) susunan peristiwa tidak dianggap penting.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan ciri-ciri deskripsi sebagai berikut. Pertama, memperlihatkan detail atau perincian tentang suatu objek. Kedua, memberi pengaruh sensitivitas dan membentuk imajinasi pembaca. Ketiga, menggunakan pilihan kata yang menggugah (diksi yang tepat). Keempat, memaparkan sesuatu yang dapat didengar, dilihat, dan dirasakan sehingga objeknya pada umumnya berupa benda, alam, warna, dan manusia. Kelima, menggunakan susunan ruang yang biasanya ditandai dengan ungkapan-ungkapan di kiri, di kanan, di barat, di timur, di sini, di sana, dan di situ.
c. Jenis-jenis Deskripsi
Keraf (1982:94) mengatakan bahwa berdasarkan tujuannya deskripsi dibedakan atas dua macam. Pertama, deskripsi sugestif, dalam hal ini penulis
bermaksud menciptakan sebuah pengalaman pada diri pembaca karena perkenalan langsung dengan obyeknya. Pengalaman atas obyek itu harus menciptakan kesan atau interpretasi. Sasaran deskripsi sugestif adalah dengan perantaraan tenaga rangkaian kata-kata yang dipilih oleh penulis untuk menggambarkan ciri, sifat, dan watak dari obyek tersebut sehingga dapat diciptakan sugesti tertentu pada pembaca. Kedua, deskripsi ekspositoris atau deskripsi teknis hanya bertujuan untuk memberikan identifikasi atau informasi mengenai obyeknya sehingga pembaca dapat mengenalnya bila bertemu atau berhadapan dengan obyek tadi.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Semi (2003:42) mengatakan jenis deskripsi dibagi atas dua, yaitu deskripsi ekspositorik dan deskripsi artistik. Pertama, deskripsi ekspositorik (teknis) yaitu deskripsi yang bertujuan menjelaskan sesuatu dengan perincian yang jelas sebagaimana adanya tanpa menekankan unsur impresi atau sugesti kepada pambaca. Kedua, deskripsi artistik (sugestif) yaitu deskripsi yang mengarah kepada pemberian pengalaman kepada pembaca bagaikan berkenalan langsung dengan objek yang disampaikan, dengan jalan menciptakan sugesti dan impresi melalui keterampilan penyampaian dengan gaya yang memikat dan pilihan kata yang menggugah perasaan.
Marahimin (dalam Thahar, 2008:36) mengemukakan bahwa deskripsi dibagi atas dua macam. Pertama, deskripsi ekspositoris mengutamakan hubungan logis secara berurutan dengan menekankan hubungan logis secara berurutan dengan menekankan detil tiap bagian dan ketat terhadap obyek. Misalnya, dalam
mendeskripsikan kereta api, terlebih dahulu dideskripsikan kepalanya, baru diikuti oleh gerbong-gerbong di belakangnya. Kedua, impresionistis lebih mengutamakan kesan (impresi) penulisnya, tanpa harus tunduk pada urutan dan detil ketat.
Lebih lanjut, Marahimin (2010:46-47) membedakan dua macam bentuk deskripsi. Pertama, deskripsi ekspositori adalah yang sangat logis, yang isinya biasanya merupakan daftar rincian, semuanya, atau yang menurut penulisnya hal yang penting-penting saja, yang disusun menurut sistem dan urut-urutan logis obyek yang diamati itu. Kedua, deskripsi impresionistis kadang-kadang dinamakan deskripsi stimulatif adalah untuk menggambarkan impresi penulisnya, atau untuk stimulasi pembacanya.
Berdasarkan uraian jenis-jenis karangan deskripsi tersebut, dapat disimpulkan.
Pertama, deskripsi ekspositorik merupakan deskripsi yang hanya bertujuan untuk memberikan identifikasi, perincian, atau informasi mengenai obyeknya dengan jelas, tanpa menekankan unsur impresi atau sugesti kepada pembaca. Kedua, deskripsi artistik (sugestif) bermaksud menciptakan sebuah pemberian pengalaman pada diri pembaca karena perkenalan langsung dengan obyek yang disampaikan, dengan jalan menciptakan sugesti dan impresi melalui keterampilan penyampaian dengan gaya yang memikat dan pilihan kata yang menggugah perasaan. Ketiga, deskripsi impresionistis lebih menggambarkan (impresi) penulisnya atau untuk menstimulir pembacanya, tanpa harus tunduk pada urutan dan detil ketat.
Dari uraian tersebut, dalam penelitian ini penulis memilih deskripsi artistik (sugestif), yaitu deskripsi yang memberikan pengalaman kepada pembaca, seolah- olah pembaca berkenalan langsung dengan objek yang disampaikan, dengan jalan menciptakan sugesti dan impresi melalui penyampaian gaya yang memikat dan pilihan kata yang menggugah. Hal itu sesuai dengan ciri-ciri karangan deskripsi.
d. Tahap-tahap Menulis Deskripsi
Secara umum, Semi (2003:42-43) mengatakan bila bermaksud menulis tentang suatu tempat, alat, atau sesuatu yang pernah dilihat dengan menggunakan bentuk deskripsi, maka ikutilah petunjuk berikut ini. Pertama, pilih dan perhatikan objek dengan detail dan teliti. Pilihlah detail yang sangat baik untuk dipaparkan.
Detail tersebut harus disusun secara sistematis. Jika anda mendeskripsikan tentang suatu tempat dimana anda berada sekarang, anda harus memahami terlebih dahulu objek yang dideskripsikan, setelah seluk beluk dipahami secara detail barulah dimulai menulis sebuah karangan deskripsi.
Kedua, gunakanlah pilihan kata yang tepat, maksudnya gunakan ungkapan atau kata yang spesifik agar apa yang penulis amati dan rasakan dapat pula diamati dan dirasakan oleh pembaca. Pilihan kata dan kalimat dalam karangan deskripsi berupaya untuk menggerakkan saraf-saraf indra sehingga pembaca seakan-akan bisa berhadapan langsung dengan objek yang dilukiskan.
Berdasarkan pendapat tersebut, langkah-langkah dalam menulis sebuah tulisan deskripsi ada dua. Pertama, penulis harus benar-benar mengetahui dan memahami tentang objek yang akan dilukiskan atau digambarkan. Kedua, penulis hendaknya kaya akan diksi dan gaya bahasa sehingga dapat menggugah perasaan pembaca.
3. Contextual Teaching and Learning (CTL)
Berkaitan dengan Contextual Teaching and Learning (CTL), teori yang diuraikan pada bagian ini meliputi: (a) definisi Contextual Teaching and Learning (CTL), (b) komponen Contextual Teaching and Learning (CTL), (c) karakteristik pembelajaran CTL, (d) komponen pemodelan, dan (e) pembelajaran menulis karangan deskripsi dengan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan.
a. Definisi Contextual Teaching and Learning (CTL)
Menurut Johnson (2011:67), Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek- subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. CTL merupakan suatu pendekatan yang bersifat penerapan dan operasional, yaitu apa sesungguhnya yang terjadi di dalam kelas.
Sanjaya (2011:255) mengatakan Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Selanjutnya, Yamin (2011:199-200) mengemukakan bahwa:
”Contextual Teaching and Learning is a conception to teaching and learning that helps teachers relate matter content to real world situasions; and motivates students to make connections between knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and workes and engage in the hard work that learning requires.”
Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang membantu guru menghubungkan isi mata pelajaran dengan situasi yang sebenarnya dan memotivasi peserta didik untuk membuat hubungan-hubungan pengetahuan dengan penerapannya di dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warganegara, dan pekerja serta mengikatnya di dalam kerja keras yang diperlukan dalam belajar.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Elaine (dalam Rusman, 2011:187) mengatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu sistem pembelajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademis dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa. Jadi, pembelajaran kontekstual merupakan usaha untuk membuat siswa aktif dalam memompa
kemampuan diri tanpa merugi dari segi manfaat, sebab siswa berusaha mempelajari konsep sekaligus menerapkan dan mengaitkannya dengan dunia nyata.
Howey R, Keneth (dalam Rusman, 2011:189-190) mengemukakan bahwa
”Contextual teaching is teaching that enables learning in wich student employ their academic understanding and abilities in a variety of in-and out of school context to solve simulated or real world problem, both alone and with others.” Pernyataan tersebut merupakan bahwa CTL adalah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses belajar, di mana siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya dalam berbagai konteks, yakni dalam dan luar sekolah dengan tujuan untuk memecahkan masalah yang bersifat simulatif ataupun nyata, baik sendiri- sendiri maupun bersama-sama.
Asal kata kontekstual diambil dari bahasa Inggris (asal bahasa Latin con = with dan textum = woven) bermaksud mengikut konteks atau dalam konteks. Konteks juga membawa keadaan, situasi, dan kejadian. Secara umum, kontekstual memiliki dua pengertian, yaitu: (1) yang berkenaan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, dan mengikut konteks, dan (2) yang membawa maksud, makna, dan kepentingan (meaningful). Oleh karena itu, kaidah kontekstual yaitu kaidah yang dibentuk berasaskan maksud kontekstual itu sendiri, seharusnya mampu membawa pelajar pada tujuan pembelajaran isi dan konsep yang berkenaan atau relevan bagi mereka, dan juga memberi makna dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, dari segi proses Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademiknya dalam berbagai konteks, yakni dalam dan luar sekolah yang mereka pelajari dengan tujuan untuk memecahkan masalah yang bersifat simulatif ataupun nyata, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Kedua, dari segi isi Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan usaha untuk membuat siswa aktif dalam memompa kemampuan diri tanpa merugi dari segi manfaat, sebab siswa berusaha mempelajari konsep sekaligus menerapkan dan mengaitkannya dengan dunia nyata.
Dengan demikian, pembelajaran kontekstual merupakan fenomena yang bersifat alamiah, tumbuh dan terus berkembang, serta beragam karena berkaitan dengan fenomena kehidupan sosial masyarakat. Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, pendekatan kontekstual ini menitikberatkan pada aktivitas mengaktifkan, menyentuh, mempertautkan, menumbuhkan, mengembangkan, dan membentuk pemahaman melalui penciptaan kegiatan, pembangkitan penghayatan, internalisasi, serta proses penemuan jawaban dinamis.
b. Komponen Contextual Teaching and Learning (CTL)
Rusman (2011:191) mengemukakan bahwa pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki tujuh komponen, yaitu: (1) kontruktivisme (contructivism), (2) menemukan (inquiry), (3) bertanya (questioning), (4) masyarakat
belajar (learning community), (5) pemodelan (modeling), (6) refleksi (reflection), dan (7) penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Proses pembelajaran bahasa Indonesia dikatakan menggunakan CTL bila diterapkan secara terintegrasi berbagai komponennya. Artinya, dalam satu kali proses pembelajaran tidak harus diterapkan ketujuh komponen CTL tersebut. Berikut ini akan diuraikan ketujuh komponen CTL yang dimaksud.
Pertama, konstruktivisme (contructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) dalam CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat saja, tetapi manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Rusman, 2011:193). Selanjutnya, menurut Sanjaya (2011:264) konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
Kedua, menemukan (inquiry) merupakan kegiatan inti dari CTL, melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri (Rusman, 2011:194). Pada tahap ini, guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Topik mengenai sebuah materi, sudah seharusnya ditemukan sendiri oleh siswa, bukan
”menurut buku”. Senada dengan pendapat tersebut, Sanjaya (2011:265) mengemukakan proses menemukan (inquiry) dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu: (1) merumuskan masalah, (2) mengajukan hipotesis, (3) mengumpulkan data, (4) menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan, dan (5) membuat kesimpulan.
Ketiga, bertanya (questioning) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
Keempat, masyarakat belajar (learning community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain (Sanjaya, 2011:267). Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya heterogen, baik dilihat dari kemampuan dan kecepatan belajarnya, mapun dilihat dari bakat dan minatnya. Biarpun dalam kelompoknya mereka saling membelajarkan, yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat belajar mendorong temannya yang lambat belajar, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya. Kelompok siswa bisa bervariasi bentuknya, baik keanggotaan maupun jumlah.
Kelima, pemodelan (modeling) adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa (Sanjaya, 2011:267). Artinya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang dapat ditiru. Bisa jadi guru memberikan model karya tulis, model paragraf, dan model kalimat. Model bisa didatangkan dari luar kelas atau siswa yang mempunyai kelebihan dapat dijadikan model. Misalnya karangan siswa yang bagus, cara mendeklamasikan puisi yang tepat dan berpidato yang baik, atau guru memberikan contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang bagaimana cara belajar.
Keenam, refleksi (reflection) adalah berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu, siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya (Rusman, 2011:197). Artinya, pada saat refleksi, siswa diberi kesempatan untuk mencerna dengan dirinya sendiri. Selain itu, siswa dimotivasi untuk berani merefleksi apa yang baru dipelajarinya, sebagai pengayaan atau revisi terhadap pengetahuan sebelumnya.
Ketujuh, penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa (Sanjaya, 2011:269). Pembelajaran yang benar seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu (learning how to learn), bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di
akhir periode pembelajaran. Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran, baik dalam kelas maupun di luar kelas. Itulah data yang sebenarnya (autentik).
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa peningkatan keterampilan menulis karangan deskripsi siswa melalui pendekatan kontekstual adalah dengan menerapkan salah satu komponen pendekatan kontekstual tersebut dalam pembelajaran. Komponen tersebut meliputi: konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya. Pada penelitian ini, komponen yang diterapkan dalam pendekatan kontekstual yakni komponen pemodelan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran menulis karangan deskripsi.
c. Karakteristik Pembelajaran CTL
Sanjaya (2011:254) mengemukakan lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL. Pertama, dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activiting knowledge). Artinya, apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
Kedua, pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan
baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memerhatikan detailnya.
Ketiga, pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
Keempat, mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge), artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
Kelima, melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan pembelajaran CTL meliputi lima karakteristik, yaitu: (a) pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada, (b) pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru, (c) pemahaman pengetahuan, (d) mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut, dan (e) melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan.
d. Komponen Pemodelan
Salah satu di antara komponen pembelajaran kontekstual adalah komponen pemodelan (modeling). Pemodelan dapat berbentuk demosntrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Dengan kata lain, model itu bisa berupa cara melempar bola dalam olahraga, selain itu, model juga bisa berupa contoh karya tulis, contoh karangan, cara melafalkan bahasa Inggris dan sebagainya.
Kunandar (2007:291) mengatakan bahwa pemodelan artinya dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru.
Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang diinginkan guru agar siswa-siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa
“contoh” tersebut dikatakan sebagai model (Kunandar, 2007:291).
Lebih lanjut, Kunandar (2007:292) merumuskan enam contoh pembelajaran kontekstual dengan pemodelan, yaitu: (1) guru olahraga memberi contoh berenang gaya kupu-kupu di hadapan siswa, (2) guru PKN mendatangkan seorang veteran di kelas, lalu siswa diminta bertanya jawab dengan tokoh itu, (3) guru Geografi menunjukkan peta jadi yang dapat digunakan sebagai contoh siswa dalam merancang peta daerahnya, (4) guru Biologi mendemonstrasikan penggunaan thermometer suhu