• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika Individual dan Tipe-tipe Penalaran Etika

ETIKA PUBLIK DALAM KEBIJAKAN PUBLIK

D. Etika Individual dan Tipe-tipe Penalaran Etika

keluarga tidak mampu di Washington DC (900 Varnum Street, NE): jam belajar lebih panjang (7.30-19.30), tahun ajaran berlangsung sebelas bulan, tenaga pengajar berkualitas, disediakan makanan bergizi tiga kali sehari, jumlah murid di kelas kecil. Selain mendapat subsidi pemerintah, juga mendapat sumbangan dari donatur tetap. Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembentukan habitus bahasa dan investasi kapital budaya butuh waktu panjang. Proyek kebijakan pemerintah daerah ini akan menciptakan institusi baru (lebih adil) yang peduli pada kesenjangan kemampuan di sekolah. Ternyata komunikasi pedagogi tidak netral, tapi sudah memihak.

Kebijakan publik seharusnya peka terhadap ketimpangan- ketimpangan yang sering dianggap sudah wajar seperti itu.

Untuk memiliki kepedulian itu, pejabat publik tidak bisa mengabaikan kompetensi etika. Jadi pendidikan atau pelatihan etika publik harus masuk ke dalam:

(i) pemahaman macam-macam tipe penalaran etika;

(ii) terjun langsung ke pengalaman untuk menghadapi kasus-kasus konkret pelayanan publik yang penuh dilema etika;

(iii) mengidentifikasi infrastruktur etika untuk diintegrasikan ke manajemen organisasi.

Ketiga materi itu akan membantu mengembangkan tingkat kesadaran moral pejabat publik sehingga etika publik selalu diperhitungkan. Lalu integrasi publik bisa berkembang.

tanggung jawab. Dalam konteks ini, hati nurani merupakan hasil pendidikan dan pembiasaan. Maka kesadaran moral seseorang berkembang di setiap tahapnya dengan menggunakan penalaran moral tertentu saat menghadapi dilema moral. Etika individual berperan sebagai faktor stabilisasi tindakan yang berasal dari dalam diri pelaku. Maka pembatinan nilai-nilai moral atau pencapaian keutamaan sangat membantu dalam membentuk integritas pribadi. Jadi, integritas pribadi adalah hasil dari proses yang panjang, seperti halnya habitus membutuhkan pelatihan, pembiasaan, dan lingkungan yang kondusif.

Dalam etika individual, keabsahan premis-premisnya (argumennya koheren) sudah mencukupi untuk memberi pembenaran tindakan. Jadi dalam penalaran etika individual, hubungan antara visi dan tindakan adalah langsung. Haryatmoko mempunyai pandangan bahwa “audit dari pihak independen di luar organisasi merupakan salah satu cara mencegah korupsi”, sebagaimana pemimpin saya bisa langsung menerapkannya. Dari kaca mata etika individual, keputusan saya itu sah, tanpa menunggu persetujuan pihak lain (Haryatmoko, 2011: 44-45).

Ada 3 (tiga) tingkat dalam cara penalaran moral, yaitu:

1. Penalaran moral berupa penilaian khusus. Penilaian ini belum memberikan alasan dari pernyataan-pernyataannya. Penilaian ini terjadi ketika menghadapi suatu kejadian atau situasi konkret; pertama-tama muncul suatu protes, ketidakpuasan, perasaan tidak bisa menerima perlakuan tidak adil (indignation). Pada tingkat ini penafsiran etika atau persepsi sudah melihat alternatif tindakan dan dampaknya bagi pihak- pihak yang terlibat. Melihat adanya penggusuran, orang protes ketika melihat pemimpin daerah melakukan kunjungan ke luar negeri, padahal daerahnya sedang ditimpa bencana.

Masyarakat mengkritik anggota DPR yang melakukan studi banding ke luar negeri karena tidak melihat urgensinya dan belum ada studi pendahuluan yang secara serius dipersiapkan.

2. Penilaian etis atau rumusan tentang apa yang baik yang harus dilakukan. Dalam tingkat ini, sudah mengacu ke aturan-aturan

moral. Penilaian moral didukung oleh aturan-aturan yang datang dari komunitas dan lembaga-lembaga sosial. Tetapi supaya aturan-aturan ini mempunyai relevansi, mereka harus diukur dari prinsip-prinsip dasar. Maka perlu memahami prinsip-prinsip dasar etika dan teori-teori normatif. Pada tingkat ini ikut dibahas tidak hanya prinsip-prinsip, tetapi juga tipe-tipe penalaran etika. Ada beberapa tipe penalaran etika:

(a) tipe deontologi; (b) tipe situasionis atau ekstrinsikalis serta komunitarian; (c) tipe teleologis yang aturan-aturannya mendapat pembenaran atas dasar tujuan tindakan, maksud atau konsekuensinya harus baik; (d) tipe altruis dalam keadilan.

3. Penerapan norma-norma moral menuntut bahwa etika publik sungguh mempunyai efektivitas sosial, artinya bagaimana agar motivasi untuk bertindak bisa efektif. Dalam sistem tindakan, perlu idealisasi makna tindakan agar memperoleh legimitasi dan menggerakkan. (a) Ideal tindakan itu harus bisa diaktualkan dengan suatu representasi diri atau model (patriot, pejuang, pelayan masyarakat). Gambaran tentang tugas yang diidealisasi ini memperkuat kode-kode penafsiran dalam bentuk ritualisasi (sikap dan ucapan yang pantas) dan stereotip (misalnya pembatasan yang boleh atau yang dilarang); (b) dengan membuat percaya bahwa pelayanan publik adalah panggilan hidup berarti memungkinkan kontak dengan makna terdalam, refleksi etika memperkuat motivasi tindakan; (c) acuan ke tujuan kebaikan memberi legitimasi dan mendasari sikap kritis terhadap tatanan yang ada. Idealisasi tindakan itu ditentukan oleh tipe etika yang menjadi pola pikirnya (Haryatmoko, 2011: 45-46).

Supaya tipe-tipe penalaran etika yang telah disebut dalam tingkat kedua penalaran moral bisa dipahami lebih baik, perlu penjelasan satu demi satu. Dalam tipe deontologi, yang disebut baik secara moral adalah kehendak baik tanpa pamrih. Kehendak baik terwujud dalam menjalankan kewajiban demi kewajiban. Nilai moral tidak terletak pada hasil atau akibat tindakan, tetapi dalam kesadaran subjek. Tindakan selalu secara intrinsik baik atau jahat,

benar atau salah tanpa melihat konsekuensinya, maka sifatnya wajib atau dilarang, tanpa memandang tujuan dilakukannya atau pertimbangan hasilnya. Maksim adalah kehendak subjektif yang hakiki, merupakan maksim a priori yang disebut imperatif kategoris (tanpa syarat). Imperatif kategoris mempunyai tujuan mutlak, universal, tanpa motif subjektif: “Bertindaklah agar selalu memperlakukan manusia sebagai tujuan, bukan sarana”.

Keputusan yang baik, bila sesuai dengan kewajiban khusus, dihubungkan dengan norma sebagai cara bertindak yang berupa tuntutan mutlak. Deontologi dirumuskan dalam aturan dan norma yang berlaku sebagai pegangan dalam bertindak, dan diungkapkan dalam kerangka baik dan jahat. Maka penerapan aturan selalu menjadi keprihatinan deontologi. Deontologi sering dianggap menekankan gagasan tentang kewajiban yang benar/salah, baik/jahat, atau hukum moral yang bersifat perintah. Hanya saja kelemahannya ialah mengabaikan atau dipisahkan sama sekali dari konsekuensi-konsekuensi pemberlakuan prinsip-prinsip tersebut, bahkan seandainya merugikan pihak lain dan tidak memperhitungkan situasi.

Berbeda dari tipe deontologi adalah pendekatan teleologi.

Tipe teleologi, yang dikembangkan oleh Aristoteles, dikaitkan dengan finalitas atau tujuan (telos). Menurut teleologi, baik/buruk, benar/salah suatu tindakan ditentukan oleh kecenderungan yang menghasilkan konsekuensi yang secara intrinsik baik/buruk, benar/salah (L.S. Cahill, 1981: 603). Teleologi menekankan gagasan baik sebagai tujuan yang diarah dan kepuasan hasrat yang mau dicapai secara bertahap. Jadi dalam teleologi ada kecenderungan tindakan ke arah mencari manfaat. Maka utilitarianisme adalah salah satu bentuk teleologi.

Moral utilitarian mendefinisikan tindakan baik sebagai tindakan yang memberikan maksimum kesenangan bagi sebanyak mungkin orang. Jeremy Bentham mendefinisikan kesenangan lebih dalam perspektif hedonis dan kuantitatif. Maka pertimbangannya akan memperhitungkan intensitas, lamanya, kepastian, kedekatan,

banyaknya dan jumlah yang bisa menikmati. Sedangkan menurut John Stuart Mill, kesenangan atau manfaat dipahami dalam perspektif kualitatif atau kenikmatan yang lebih tinggi. Maka sering dikaitkan dengan selera tinggi budaya seperti seni, sastra, opera, musik klasik. Dalam perspektif Mill, sangat masuk akal bila orang bisa menunda memenuhi kebutuhan mendesak demi memperoleh kepuasan yang secara kualitatif lebih tinggi. Misalnya, pemerintah tidak membagi-bagi uang kepada warga negara yang miskin untuk konsumsi tujuan kebutuhan pokok (Jaringan Pengaman Sosial = JPS), tetapi bantuan diberikan untuk membiayai pendidikan atau suatu kegiatan produktif. Dengan demikian, penundaan konsumsi meningkatkan kualitas hidup yang diberi bantuan. Bagi Mill, bangsa yang mengejar kepuasan yang secara kualitatif tinggi akan mendorong bangsa untuk maju.

Kedua pemikir utilitarian itu mendefinisikan kebaikan dalam kerangka kesejahteraan sosial. Jadi tindakan dianggap wajib ketika memenuhi tuntutan prinsip kegunaan untuk memaksimalkan kebahagiaan bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat. Yang baik disamakan dengan yang memberi kebahagiaan, yang identik dengan kesenangan atau tiadanya penderitaan atau rasa sakit dalam arti fisik, intelektual atau emosional (L.S. Cahill, 1981: 605).

Perbedaan diantara kedua pemikir itu terletak dalam bagaimana menentukan kebahagiaan apakah secara kuantitatif atau kualitatif, bagaimana menghitungnya secara rata-rata atau dari jumlah keseluruhannya. Yang jelas, menurut L.S. Cahill, makna telos sudah bergeser menjadi “jaringan kesejahteraan sosial” sehingga bisa saja kepentingan minoritas dengan mudah diabaikan demi mengejar kesejahteraan mayoritas (L.S. Cahill, 1981: 605). Masalah keadilan tidak konkret bila dilepaskan dari prinsip kegunaan.

Memang semua orang mempunyai hak untuk diperlakukan sama, kecuali bila manfaat sosial menuntut hak yang sebaliknya.

Kelemahan cara berpikir ini ialah bahwa cenderung mengabaikan hak individu dengan alasan kepentingan umum atau aturan-aturan praktik sosial bisa tidak mengakui adanya kekecualian karena alasan manfaat sosial. Hasil yang baik tidak bisa mengorbankan

nilai moral karena berarti ada tindakan yang tidak konsisten dengan tujuan baik.

Salah satu varian tipe utilitarian adalah konsekuensialisme.

Dalam konsekuensialisme, keputusan atau tindakan dikatakan baik bila menghasilkan maksimum kebaikan bagi sebanyak mungkin orang. Jadi yang baik ditentukan oleh konsekuensinya, bukan oleh maksud, motivasi atau hakikat intrinsik dari tindakan. Konsekuensi itu dinilai melalui standar-standar yang berlaku dalam masyarakatnya. Dalam konsekuensialisme, dengan memasukkan kewajiban sebagai bagian dari fungsi untuk mencapai kebahagiaan, G. Grisez, seperti dikutip oleh L.S Cahill, mau membuat sintesa antara teleologi dan deontologi. Grisez mengusulkan kunci pemahaman definisi baik/jahat, benar/salah terletak pada

“efisiensi di dalam mengupayakan hasil baik yang dapat diukur”

(L.S. Cahill, 1981: 613). Dalam konteks ini, tindakan yang berakibat jelek meski tidak dimaksudkan, asalkan mempunyai alasan yang proporsional, masih bisa dibenarkan. Keberatan terhadap cara berpikir ini ialah:

1. nilai-nilai seperti kejujuran, solidaritas, keadilan dalam kasus atau konteks tertentu bisa saja tidak memberikan hasil langsung atau bahkan merugikan, tetapi bukan berarti bahwa tidak baik secara moral; dan

2. nilai moral bisa dipertukarkan atau mirip dengan perdagangan.

Lalu ukuran dalam menentukan sejauhmana “proporsional”

akan menjadi bahan perdebatan.

Proporsionalisme bisa dikatakan sebagai bagian dari tipe teleologi. Proporsionalisme menekankan pada apa yang menyebabkan suatu nilai negatif (nonmoral, jelek secara pra-moral seperti sterilisasi, penipuan, melukai dan kekerasan) di dalam tindakan bukan karena fakta yang membuat tindakan secara moral salah, seperti yang dianggap oleh rumusan tradisional. Tindakan secara moral menjadi salah, ketika setelah semua dipertimbangkan, tidak ada alasan yang proporsional di dalam

tindakan yang memberi pembenaran nilai negatif itu. Jadi persis seperti tidak semua yang menyebabkan kematian adalah pembunuhan, tidak semua yang menyesatkan adalah kebohongan, tidak semua campur tangan untuk mencegah atau membuat hamil di dalam perkawinan sudah pasti dianggap tindakan yang tidak suci (R. McCormick, 1973). Prinsip proporsionalisme:

1. Alasan yang lebih berbobot dituntut karena lebih berat kejahatan yang akan ditimbulkan bila tidak dilakukan.

2. Bila tidak dilakukan akan mengakibatkan sesuatu yang lebih parah.

3. Semakin besar tanggung jawab, semakin berat kewajiban untuk mencegah kejahatan (seorang pejabat lebih besar kewajibannya untuk mengingatkan bawahannya).

4. Bila tidak dilakukan bisa dianggap bekerjasama dengan pelaku kejahatan.

Situasionisme moral menekankan prinsip bahwa

“sementara memperlakukan aturan-aturan dan nilai-nilai masyarakat dengan serius, tetapi berani melanggar peraturan itu bila dengan cara tersebut kesejahteraan atau kepentingan masyarakat bisa dipenuhi” (G. M Gillmore & J. Hunter, Review of Religious Research, Vol. 16, No. 1, Fall, 1974). Ajaran resmi suatu agama melarang penggunaan kontrasepsi (kecuali metode alami).

Pemerintah Indonesia mencanangkan program Keluarga Berencana yang menganjurkan penggunaan kontrasepsi untuk pembatasan kelahiran demi kesejahteraan keluarga. Mayoritas pemeluk agama tersebut menggunakan kontrasepsi karena menganggap sebagai sarana paling efektif membatasi kelahiran.

Demi kesejahteraan, tidak mampu memelihara dan mendidik banyak anak menjadi alasan utama. Para pemimpin agama membiarkan praktek itu berjalan tanpa mengeluarkan larangan atau persetujuan resmi. Situasionisme menganggap bahwa tindakan yang baik ditentukan oleh situasi atau konteks, artinya tindakan tidak instrinsik baik atau jahat, benar atau salah, dan tidak ditentukan secara a priori. Kelemahan cara berpikir ini bisa mudah menemukan kompromi bila menghadapi tuntutan prinsip kejujuran, kesetiaan, tepat janji sehingga beresiko melemahkan

pembentukan keutamaan. Situasionisme mengabaikan etika keutamaan, padahal kualitas pelaku merupakan hasil membiasakan diri dalam bertindak yang baik. Kalau yang baik itu ekstrinsik (tergantung situasi), berarti menafikan nilai ideal suatu tindakan yang biasanya mengarahkan motivasi atau tujuan tindakan.

Tipe etika Altruis dalam keadilan dirumuskan oleh E.

Levinas. Konsep etika Levinas sangat berbeda dengan Kant (bukan otonomi, namun heteronomi). Levinas menulis bahwa etika menuntut kehadiran liyan, orang asing yang mengguncang diriku.

“Yang tak terbatas memperkenalkan diri sebagai wajah dalam resistensinya yang melumpuhkan daya-daya kekuasaanku, dan tegak tegar, namun rentan tanpa perlindungan dalam ketelanjangan dan kesengsaraannya” (1971: 218). Memahami kesengsaraan atau penderitaan liyan berarti membangun kedekatan dengan “yang lain” itu sendiri. Dengan menjawab ajakan liyan, yang rentan terhadap kekerasan ini, kesadaran

“diriku” terusik, tanpa harus mengandalkan atau menunggu keputusanku. Tanggung jawab diwarnai oleh kekhasannya, yaitu tak ada kata diam menghadapi penderitaan liyan. “Membiarkan manusia tanpa makanan merupakan kesalahan yang situasi apapun tidak bisa meringankan tanggung jawabnya. Terhadap kasus ini tidak bisa diterapkan masalah kesengajaan atau ketidaksengajaan”

(1971: 219).

Wajah sebagai simbol kehadiran liyan adalah wujud sempurna yang bukan kekerasan karena tidak melukai kebebasan saya, melainkan mengundang untuk bertanggung jawab dan meneguhkan kebebasan saya. Dengan demikian ia merupakan bentuk penerimaan pluralitas. Ia adalah kedamaian. Liyan tidak menjadi penghalang. Sebetulnya yang tidak masuk akal bukan pembatasan oleh liyan, namun egoisme tanpa landasan yang masih mendasarkan pada tujuan yang diwarnai oleh spontanitas.

Maka hubungan dengan liyan sebagai hubungan dengan yang transenden berarti memasukkan ke dalam diriku apa yang bukan ada padaku. Ini berarti bahwa hubungan dengan yang transenden

mempertanyakan brutalitas spontanitas tujuannya yang imanen (1971: 223).

Penampakan wajah membuat tidak mungkin untuk tidak peduli, artinya kehadiran liyan berbicara sehingga

“mendengarkan” hanya punya makna kalau merupakan jawaban terhadap rintihan penderitaan liyan. Liyan tidak membatasi kebebasanku. Dengan menggugah tanggung jawab, liyan memberi pembenaran kebebasan. Disebut pembenaran kebebasan karena kemampuan mengatasi diri adalah ungkapan kebebasan. Lalu bisa dikatakan tanggung jawab mendahului kebebasan. Saya sudah terusik atau tergerak, bahkan sebelum mengambil keputusan. Saya mengenali diri saya dengan mengenali liyan. Dengan kehadiran liyan dalam kebebasanku, justru mengakhiri kekerasan dan irasionalitas karena berarti menerima penalaran. Model penalaran etika levinas ini tentu saja mengandaikan orang sudah sampai ke tahap ke enam perkembangan kesadaran moral. Pengorbanan merupakan nilai yang dijunjung tinggi, kehadiran yang lain yang berbeda dan jawaban kepedulian terhadap liyan itu menandai perjumpaan etis. Etika pertama-tama adalah pengalaman, bukan teori.

Ketika yang dipahami sebagai politik yang bertanggung jawab terhadap liyan berarti memperlakukan semua liyan sebagai wujud pluralitas dalam komunitas. Pusat etika adalah masalah keadilan. Etika membawa kembali keadilan ke politik, artinya tanggung jawab terungkap dalam mengupayakan politik agar menjadi adil. Liyan membuat hubungan etika selalu terjadi dalam konteks politik atau dalam ruang publik. Maka etika selalu sudah merupakan politik. Ketidakadilan yang memicu konflik SARA berasal dari penolakan akan kehadiran liyan atau mereduksi “yang transenden”. Lalu yang berbeda menjadi ancaman.

Semua prosedur dan aliran pemikiran dalam etika tersebut dimaksudkan untuk memberi dasar rasional tindakan etis yang memungkinkan seleksi atau pilihan nilai-nilai untuk tindakan dalam situasi konkret. Masing-masing aliran etika itu mempunyai

pendekatan yang berbeda maka sangat mungkin terjadi konflik dalam menghadapi kasus yang sama. Misalnya, untuk menyelamatkan banyak orang, polisi terpaksa menyiksa seorang yang dicurigai sebagai teroris agar bisa mendapat pengakuan di mana bom itu diletakkan. Pendekatan deontologi tentu tidak setuju dengan cara itu karena manusia tidak bisa dijadikan sarana untuk tujuan lain, apalagi status orang tersebut masih “dicurigai”.

Sedangkan pendekatan proporsionalisme bisa memberi pembenaran cara itu dengan beberapa catatan. (i) Objek yang dicari adalah keselamatan banyak orang (akibat yang buruk tidak dimaksudkan). (ii) Kemungkinan keberhasilan harus besar. (iii) Secara proporsional ada alasan mendadak yang tidak-bisa-tidak menuntut segera ditangani. Argumen proporsionalisme ini bisa didiskualifikasi ketika sistem investigasi atau interogasi sudah maju, yang tanpa penyiksaan bisa diperoleh pengakuan.

Sedangkan argumen deontologi sering tidak peka terhadap situasi kebutuhan mendesak atau konteks di mana individu atau sekelompok orang bisa merugikan kepentingan publik atau menyandera banyak orang.

Beragamnya tipe penalaran etika menunjukkan ada beragam kemungkinan pemecahan di dalam menghadapi dilema moral. Setiap tipe penalaran mempunyai kekuatan dan kelemahannya, tetapi dalam etika publik, ukuran utama adalah bagaimana agar pelayanan publik menjadi semakin berkualitas dan relevan. Jadi, kinerja dan hasil menjadi keprihatinan utama.

Efektivitas dan efisiensi menjadi ukuran meski harus tetap memperhitungkan tumbuhnya solidaritas dan memperhatikan mereka yang paling tidak beruntung, yang miskin, terpinggirkan atau kelompok minoritas. Tipe-tipe penalaran tersebut juga membantu melengkapi kelemahan pendekatan yang satu, menunjukkan keterbatasan atau kelebihan yang lain dalam menghadapi kasus-kasus tertentu. Dengan demikian pilihan tipe- tipe penalaran di atas bisa membantu menilai dan menempatkan masalah-masalah etika publik di bawah ini secara lebih jernih.

Misalnya, penanganan suatu masalah dengan menekankan caranya sendiri sehingga membahayakan kinerja kelompok; melebih-

lebihkan suatu usulan untuk mendapatkan dukungan; mengambil jalan pintas dari proses yang ada; menunjukkan ketidaksetiaan di saat dalam kesulitan; menyembunyikan kesalahan; melibatkan diri dalam favoritisme; tidak melaporkan pelanggaran kebijakan;

menolak bertanggung jawab atas kekeliruan yang dilakukan (J.S.

Bowman, 2010: 79).

Menurut tipe penalaran utilitarian dan konsekuensialisme, pertimbangan prinsip “kebaikan yang optimal untuk sebanyak mungkin orang” hanya dicapai dengan menolak terlibat di dalam tindakan-tindakan tersebut di atas karena dampak negatif yang diakibatkannya (J.S. Bowman, 2010: 79). Atas dasar tipe penalaran deontologi sangat jelas bahwa tindakan seperti itu harus dihindari.

Apalagi dilihat dari sudut pandang tipe penalaran altruis-dalam- keadilan, tindakan-tindakan tersebut sama sekali tidak peduli terhadap kerugian liyan dan terlalu egosentris. Jadi beragamnya tipe penalaran moral itu memudahkan manajemen nilai:

memungkinkan untuk melahirkan sudut pandang alternatif, untuk mengevaluasi tindakan secara lebih sistematis dan melatih membuat penilaian dengan argumen yang terelaborasi.

Keputusan moral individual bukan proses yang terisolasi, tetapi berinteraksi dan dipengaruhi oleh faktor-faktor organisasi dan lingkungan, termasuk konteks pekerjaan, budaya organisasi, yang meliputi kebiasaan, kesempatan, perilaku yang signifikan.

Maka terbentuknya kompetensi etika ditentukan beberapa faktor:

(i) intensitas kepedulian etika dan ada/tidaknya pelatihan etika yang teratur. Dengan pelatihan yang rutin, termasuk syarat sebelum kenaikan pangkat atau jabatan, dikembangkan keyakinan dan pembiasaan pada nilai-nilai etika;

(ii) komisi etika ikut berperan dalam pembentukan kompetensi etika karena budaya etika organisasi membantu mempertajam cara penalaran;

(iii) peran pemimpin atau tingkat manajer sangat penting untuk menciptakan perilaku etis di dalam organisasi agar jeli

memahami faktor-faktor yang menyumbang keputusan dan tindakan yang sesuai dengan etika publik;

(iv) salah satu faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan etis adalah sanksi organisasi (imbalan atau hukuman);

(v) setiap orang menerima prinsip bahwa kebenaran selalu terbuka untuk didiskusikan untuk sampai pada persepsi tentang perilaku etika yang benar dan bagaimana masalah- masalah etika harus ditangani.