• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Kepemimpinan

Dalam dokumen PSIKOLOGI OLAHRAGA (Halaman 146-152)

BAB 10 KEPEMIMPINAN DALAM OLAHRAGA

C. Pendekatan Kepemimpinan

Pendekatan dalam kepemimpinan menurut Chelladurai (1985) dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu: (1) pendekatan yang berkaitan dengan karakteristik pemimpin, (2) pendekatan yang berkaitan dengan perilaku pemimpin, dan (3) pendekatan yang berkaitan dengan karakteristik pemimpin dan atau perilaku pemimpin dalam konteks yang memperhatikan karakteristik anggota dan organisasi.

1. Pendekatan Ciri-Ciri Pemimpin

a. Pendekatan ciri-ciri pemimpin adalah menjelaskan perbedaan kinerja (performance different) para pekerja dari segi sifat-sifat pemimpin mereka, yang pada dasarnya berkaitan dengan identifikasi mengenai seperangkat karakteristik seseorang Ghiselli dalam Handoko (1991) mengemukakan sifat-sifat penting untuk kepemimpinan yang efektif adalah sebagai berikut: Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas (supervisory ability), yaitu berkenaan dengan pelaksanaan fungsi-fungsi dasar manajemen, terutama mengenai pengarahan dan pengawasan pekerjaan orang lain.

b. Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, yang mencakup masalah tanggung jawab dan keinginan sukses.

c. Ketegasan (decisiveness), yaitu kemampuan membuat keputusan-keputusan dan memecahkan masalah- masalah dengan terampil, bijaksana, dan tepat.

d. Kepercayaan diri, yaitu pandangan terhadap dirinya yang mampu untuk menghadapi masalah.

e. Inisiatif, yaitu kemampuan untuk bertindak, termasuk mengembangkan serangkaian kegiatan dan menemukan cara-cara baru atau inovasi.

2. Pendekatan perilaku pemimpin

Chelladurai (1985) mengidentifikasi perilaku pemimpin dalam kepelatihan olahraga ada lima dimensi, yaitu:

a. Latihan dan pengajaran.

b. Perilaku demokrasi.

c. Perilaku autokratis.

d. Perilaku dukungan sosial.

e. Perilaku umpan balik/feed back yang positif atau penghargaan.

3. Pendekatan kontingensi pemimpin

Perilaku-perilaku gaya kepemimpinan tergantung pada faktor-faktor siatuasi atau keadaan yang merupakan alasan utama dalam perbedaan kinerja. Dari perspektif sistem kepemimpinan situasi ini terdiri dari pemimpin, anggota, dan konteks organisasi yang dijalankan.

Pada dasarnya, manusia diciptakan untuk memiliki sifat kepemimpinan. Terutama pemimpin itu sendiri. Jika seseorang mampu memimpin dirinya sendiri, besar kemungkinan dia juga bisa menjadi pemimpin bagi orang atau organisasi lain. Suatu organisasi akan berhasil atau gagal pada dasarnya ditentukan oleh seorang pemimpin. Ungkapan mulia yang mengatakan pelaksanaan suatu pekerjaan, merupakan ungkapan yang menempatkan pemimpin dalam suatu organisasi pada posisi yang paling penting.

Kepemimpinan adalah suatu seni, kemampuan, atau teknik untuk membuat sekelompok bawahan dalam suatu organisasi formal atau pengikut atau simpatisan dalam suatu organisasi informal mengikuti atau menuruti segala sesuatu yang mereka inginkan, sehingga membuat mereka begitu antusias atau bersemangat untuk mengikutinya, bahkan rela berkorban untuk itu. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu pendekatan karena dengan mengetahui pendekatan kepemimpinan seseorang akan dapat belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik.

Perilaku pemimpin secara eksplisit harus mampu mendorong kinerja staf dan bawahannya dengan menunjukkan rasa persahabatan, kedekatan, dan pertimbangan bagi semua pihak, baik sebagai individu maupun kelompok. Perilaku instrumental berorientasi pada tugas dan secara langsung diklarifikasi dalam peran dan tugas staf. Dengan demikian, keberadaan seorang pemimpin di setiap lembaga termasuk lembaga pendidikan dalam tugas dan fungsinya dituntut memiliki kebijaksanaan dan wawasan yang luas, terampil dalam berbagai disiplin ilmu. Pola kepemimpinan juga akan mempengaruhi bahkan menentukan kemajuan suatu lembaga.

Menurut Carrol dan Tosi, ada tiga pendekatan atau teori kepemimpinan, yaitu pendekatan sifat, pendekatan perilaku, dan pendekatan situasional.

1. Pendekatan Trait

Pendekatan ini berpandangan bahwa pemimpin itu bawaan (Leaders are born) sama seperti teori turun temurun bahwa pemimpin itu bawaan untuk menjadi pemimpin.

Pendekatan sifat ini tidak cukup kuat untuk memastikan bahwa seorang pemimpin dilahirkan. Oleh karena itu, beberapa ahli tidak menggunakan atau mengandalkan pendekatan sifat.

2. Pendekatan Behavioral

Pendekatan ini berpandangan bahwa pemimpin adalah hasil latihan, bukan karena aspek bawaan.

Pendekatan behavioral lebih condong kepada teori sosial bahwa pemimpin dapat dibentuk dengan diberikan pendidikan dan pengalaman. Dalam pandangan ini, berbagai aspek yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin dapat dipelajari. Berdasarkan hasil penelitian di Ohio State University dengan menggunakan LBD (Leader Behavior Description Questionnaire) yang disebutkan dalam (Satiadarma. 2000) melaporkan bahwa aspek pertimbangan dan struktur inisiatif adalah dua aspek penting yang harus dipelajari seseorang untuk menjadi seorang pemimpin.

Aspek pertimbangan meliputi kepercayaan dan saling menghormati satu sama lain serta kemampuan untuk membangun hubungan interpersonal yang hangat.

Sedangkan struktur inisiatif meliputi hal-hal seperti menetapkan aturan, mengambil keputusan, berkomunikasi dengan baik, menjalankan metode dengan mengikuti prosedur dengan benar dan benar, dan merumuskan target perilaku yang sesuai. Seorang pemimpin harus memiliki orang yang cukup dewasa untuk dapat memimpin anggotanya. Berdasarkan hasil penelitian Burton dan Peachey (2014) Menyimpulkan bahwa dengan munculnya perilaku tidak etis dan skandal dalam olahraga antar

perguruan tinggi saat ini, kami percaya masalah khusus ini tepat waktu dan sangat relevan dengan perilaku dan administrasi atletik antar perguruan tinggi.

3. Pendekatan Interaksional

Pendekatan interaksional diusulkan berdasarkan berbagai pertimbangan atas keberadaan pandangan sebelumnya, yaitu pandangan sifat dan perilaku. Pendekatan interaksional mengasumsikan bahwa: Beberapa pemimpin memang memiliki seperangkat karakteristik pemimpin yang spesifik. Namun karakteristik khusus ini tidak menjamin seseorang menjadi pemimpin yang sukses. Kepemimpinan yang efektif sangat dipengaruhi oleh situasi di mana ia berlangsung. Kondisi tertentu memerlukan kepemimpinan tertentu, dan kondisi lain membutuhkan gaya kepemimpinan yang berbeda.

Pola kepemimpinan tidak bersifat permanen tetapi dapat berubah sesuai kebutuhan. Gaya seorang pemimpin dapat berubah sesuai dengan tuntutan yang ada. Menurut jurnal yang ditulis oleh (Olena 1, et al. 2017) analisis kecenderungan kepemimpinan dan manajemen telah menunjukkan bahwa dalam tim (basket, bola voli, minifootball dan bola tangan) 97,5 pemain mencari status tinggi sebagai Pemimpin Atlet, 95,7% di antaranya adalah Manajer utama. Masing-masing dari empat indeks pemain tim olahraga dari pemimpin informal bertepatan dengan para pemain yang secara intuitif dapat memainkan kepemimpinan. Indeks Pengikut untuk kepemimpinan secara substansial berbeda dan sama dengan 67,2% dan 57,2%, masing-masing.

4. Pendekatan Multidimensional

Pendekatan multidimensi (Chelladurai, 1990) mengutip dari Satiadarma (2000) mengusulkan suatu pandangan yang berorientasi pada situasi interaktif secara utuh dan berkesinambungan. Kepuasan atlet terhadap kepemimpinannya dan keberhasilan kinerja atlet dipengaruhi oleh perilaku pemimpin (pelatih) yang terdiri

dari: perilaku yang dibutuhkan, perilaku yang diharapkan, dan perilaku kinerja. Perilaku yang diperlukan adalah perilaku yang diperlukan sebagai seorang pemimpin.

Perilaku ini mencakup aspek kepribadian seorang pemimpin.

Pemimpin diharapkan memiliki kepribadian yang matang, mampu berkomunikasi dengan baik, dan mampu menyalurkan potensi atletnya agar dapat tampil maksimal.

Perilaku yang diharapkan adalah perilaku pemimpin yang diharapkan oleh atlet. Dalam hal ini, atlet memiliki sejumlah harapan pada pemimpinnya. Misalnya, atlet mengharapkan pemimpin yang tegas, dapat membangun komunikasi yang baik, memberikan informasi yang benar, dan sebagainya. Jika harapan atlet tidak sesuai dengan kinerja perilaku pelatih, kemungkinan akan terjadi konflik antara pemimpin dan atlet. Di sisi lain, jika pemimpin menuruti keinginan atlet, atlet mungkin menganggap dirinya sebagai seseorang yang tidak memiliki otoritas yang cukup sebagai seorang pemimpin.

Tingkah laku yang muncul adalah tingkah laku yang ditampilkan oleh pelatih. Perilaku ini sebenarnya merupakan hasil penalaran pemimpin mengenai harapan lingkungan dan kemampuan yang dimilikinya. Dalam hal ini, pelatih biasanya menyesuaikan diri dan kemampuannya dengan tuntutan lingkungan yang diterimanya. Jika upaya penyesuaian berhasil, maka dia akan diterima sebagai pemimpin, sebaliknya jika tidak berhasil, beberapa masalah mungkin muncul dalam pelaksanaan program pelatihan.

Ketiga bentuk perilaku tersebut merupakan hasil dari keadaan (antecedents), yaitu faktor situasional, karakteristik pemimpin dan karakteristik anggota (atlet). Faktor situasional, yaitu situasi kepemimpinan yang sedang berlangsung. Dalam berbagai keadaan pemimpin harus tegas, bahkan terkadang ekstra keras untuk menyelamatkan tim dan kekalahan. Sementara itu, dalam situasi lain, pemimpin harus bertindak ekstra hati-hati dalam mengambil keputusan.

Hal-hal tersebut perlu diperhatikan dengan seksama, karena pengambilan keputusan yang salah oleh pemimpin dapat menghancurkan perjuangan tim secara keseluruhan, jika tidak, pengambilan keputusan yang baik akan menyelamatkan tim secara keseluruhan.

Boettcher dan Gansemet (2015) siswa yang mengikuti pelatihan ORP (Outdoor Recreational Train training trip berbagi observasi tentang pembelajaran mereka sendiri terkait kepemimpinan dengan cara yang sejalan dengan model Komives et al (2005). Peserta berdiskusi kemajuan mereka dalam kaitannya dengan kepemimpinan). dengan komunikasi dan kerja tim sebagai bagian dari tahap diferensiasi kepemimpinan Mereka membahas perencanaan dan pengorganisasian dan pentingnya kemampuan beradaptasi dan pengambilan keputusan yang muncul pada tahap generativitas akhir, peserta mendiskusikan peran pemberdayaan, mengambil tanggung jawab dan pengambilan makna individu yang merupakan elemen kunci tahap integrasi dan sintesis.

Dalam dokumen PSIKOLOGI OLAHRAGA (Halaman 146-152)