• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber Percaya Diri dalam Olahraga

Dalam dokumen PSIKOLOGI OLAHRAGA (Halaman 74-77)

BAB 5 PERCAYA DIRI DALAM OLAHRAGA

G. Sumber Percaya Diri dalam Olahraga

Percaya diri erat kaitannya dengan filosofi pemenuhan diri (self-fulfilling prophesy) dan efikasi diri (self-efficacy). Dimana Self-fulfilling prophecy adalah sebuah proses dimana ekspektasi kita terhadap seseorang akan mengarahkan kita agar ekspektasi tersebut terwujud. Harapan self-fulfilling prophecy muncul karena kepercayaan informasi yang sangat tinggi dan mendorong kita untuk mewujudkan harapan tersebut. Hal ini membuat seorang atlet yang memiliki rasa percaya diri yang baik, yakin akan mampu menampilkan prestasi olahraga sesuai dengan yang

diharapkan. Harapan seseorang akan dipengaruhi oleh kepercayaan diri orang tersebut.

Rasa percaya diri merupakan faktor penting yang dapat menunjang tercapainya prestasi seorang atlet. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri dalam olahraga adalah budaya organisasi dan karakteristik demografis dan kepribadian. Budaya organisasi adalah aspek struktural dan budaya dari subkultur olahraga yang dapat mencakup hal-hal seperti tingkat kompetisi, iklim motivasi, perilaku pembinaan, dan harapan program olahraga yang berbeda. Selanjutnya, karakteristik kepribadian berfokus pada orientasi tujuan dan optimisme, sedangkan karakteristik demografis berkaitan dengan jenis kelamin dan ras. Ada beberapa sumber rasa percaya diri seseorang dalam olahraga, antara lain:

1. Penguasaan diri yakni mengembangkan dan meningkatkan kemampuan.

2. Demonstrasi kemampuan dengan menunjukkan kemampuan dengan memenangkan dan mengalahkan lawan.

3. Persiapan fisik dan mental dengan tetap fokus pada tujuan dan siap untuk memberikan usaha yang maksimal.

4. Dukungan sosial yaitu mendapatkan dorongan dari tim, pelatih, dan kemampuan diri sendiri.

5. Kepemimpinan pelatih adalah dengan mempercayai segala keputusan dan kemampuan pelatih.

6. Experiences perwakilan dengan melihat olahragawan yang berhasil dan berprestasi.

7. Lingkungan yang nyaman sehingga merasakan nyaman dalam lingkungan.

8. Favorableness situational kesadaran diri untuk berhenti melihat cara seseorang dan merasa segala sesuatu yang terjadi benar.

BAB

6

Suatu ketika, kita merasa bersemangat ketika menekuni sesuatu. Begitu bersemangat sehingga melupakan banyak hal, namun masa-masa giat itu tidak bertahan lama. Sesudah itu muncul masa malas, lesu dan jemu, inilah masa ketika ketekunan sampai dititik jenuh. Saat itu ketekunan ada di garis ambang batas, ia tidak mungkin dinaikan lebih tinggi. Setelah beberapa lama masa jenuh ini berjalan, tak lama kemudian muncul kembali kegairahan untuk menekuni kesibukan seperti semula, demikian seterusnya, rasa giat dan jenuh, silih berganti datang satu pihak menyusul yang lainnya.

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk ganda, baik secara fisik maupun psikis, tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Manusia tidak bisa lepas dari pengaruh emosi. Oleh karena itu, aspek psikologis atlet harus mendapat perhatian lebih agar kondisi psikologis atlet stabil dan tidak mengalami gangguan yang mengganggu perkembangannya. Salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan atlet adalah kejenuhan.

Pada umumnya setiap atlet pernah mengalami perasaan depresi, bosan atau terakumulasi pada kelelahan. Tidak ada atlet yang tidak pernah mengalami kejenuhan dalam rutin sebagai atlet.

Cara individu menghadapi kondisi kelelahan saat berolahraga sudah pasti berbeda antara satu individu dengan individu lainnya.

Ini tergantung pada pengalaman yang Anda miliki oleh setiap individu, kepribadian, dan kondisi lingkungan. Penyebab kejenuhan bisa jadi disebabkan oleh faktor-faktor dari dalam diri individu maupun dari faktor-faktor di luar individu.

KEJENUHAN DALAM

OLAHRAGA

Kejenuhan terjadi di sela-sela masa aktif yang dialami. Hal ini serupa dengan mesin kendaraan yang terus dipacu, lama kelamaan mesin menjadi panas dan perlu didinginkan beberapa saat hingga suhu kembali normal. Kejenuhan adalah suatu proses bertahap yang merusak secara fisik, emosional dan psikologis, hal ini disebabkan oleh potensi stressor (penyebab stres) dari dalam diri orang itu sendiri atau dari luar dirinya (Armand T. Fabella, 1993).

Kejenuhan adalah masalah hidup, apalagi jika tingkat kejenuhannya melebihi ambang batas yang wajar. Tidak ada jalan lain selain mengatasi kebosanan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu kita perlu memahami penyebab kejenuhan.

A. Pengertian Kejenuhan

Istilah jenuh akar katanya adalah jenuh, kejenuhan bisa berarti padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apapun, jenuh juga bisa berarti jemu atau bosan. Kejenuhan terjadi di sela-sela masa giat yang dialami. Hal ini serupa dengan mesin kendaraan yang terus dipacu, lama kelamaan mesin itu menjadi panas dan perlu didinginkan untuk sementara sampai temperaturnya normal kembali.

Pada suatu ketika, kita merasa bersemangat ketika kita mengejar sesuatu. Sangat bersemangat sehingga dia melupakan banyak hal, tetapi waktu aktifnya tidak bertahan lama. Setelah itu datanglah masa kemalasan, kelesuan dan kebosanan, inilah masa dimana ketekunan mencapai titik jenuhnya. Ketika ketekunan berada di ambang batas, itu tidak dapat dinaikkan lebih tinggi. Setelah masa kebosanan ini berjalan beberapa lama, tak lama kemudian semangat kembali untuk melanjutkan kesibukan seperti semula, begitu seterusnya, rasa beraktivitas dan kebosanan, silih berganti datang silih berganti.Berikut ini dipaparkan pengertian kejenuhan menurut para ahli:

1. Menurut Abu Abdirrahman Al-Qawiy (2004) bahwa kejenuhan adalah tekanan sangat mendalam yang sudah sampai titik tertentu. Siapa pun yang merasa jenuh, ia akan berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari tekanan itu.

2. Menurut Muhibbin Syah (2009) jenuh juga dapat berarti jemu dan bosan di mana sistem akalnya tidak dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan dalam memproses item-item informasi atau pengalaman baru. Sedangkan secara harfiah jenuh ialah padat atau penuh sehingga tidak memuat apapun.

3. Menurut Sayyid Muhammad Nuh Jenuh atau futur (1993) ialah suatu penyakit hati (rohani) yang efek minimalnya timbulnya rasa malas, lamban dan sikap santai dalam melakukan sesuatu amaliyah yang sebelumnya pernah dilakukan dengan penuh semangat dan menggebu-gebu serta efek maksimalnya terputus sama sekali dari kegiatan amaliyah tersebut.

4. Menurut Nana Sudjana (1995) kejenuhan dalam belajar secara harfiah mempunyai arti padat atau penuh, sehingga tidak mampu lagi memuat apapun, selain jenuh juga berarti jemu atau bosan. Seorang anak yang dalam keadaan jenuh, sistem akalnya tidak dapat bekerja dengan baik sebagaimana mestinya dalam memproses item-item informasi atau pengalaman baru. Kejenuhan juga dapat terjadi karena proses belajar anak yang melampaui batas kemampuan jasmaniahnya karena lelah dan bosan. Namun kejenuhan yang umum terjadi adalah karena keletihan yang melanda anak, sehingga mereka bisa berperilaku menyimpang seperti membolos, melalaikan tugas, dan mogok belajar.

5. Menurut Faye Crosby (2012), dosen psikologi di Smith College Northampton, “kejenuhan terjadi karena anda tidak mau mencoba banyak hal”. Dengan kata lain, variasi dalam kehidupan manusia sangat dibutuhkan untuk menghindarkan diri dari kejenuhan, dengan variasi dalam kehidupan baik berupa kegiatan ataupun cara lain dalam mencapai suatu tujuan maka dengan otomatis seseorang memiliki banyak option untuk mencapai tujuan tersebut sehingga tidak cepat mengalami kebosanan dengan aktifitas yang sama. Menurut catatan Bunker, L.K: Kejenuhan pertama kali muncul dalam tulisan atau artikel yang di tulis

oleh Herbert J. Freudenberg pada tahun 1974. Freudenberg merumuskan kejenuhan dalam suatu kamus, sebagai keadaan yang tidak menentu dan dipenuhi oleh rasa jenuh yang menuntut atau membuang banyak energi dan kekuatan. Artinya, keadaan yang tidak menentu dan menuntut dapat berakibat pada keletihan mental, kehilangan komitmen, dan menurunnya motivasi seseorang seiring dengan berjalannya waktu tanpa adanya perubahan dalam diri.

Dari pengertian menurut para ahli diatas dapat diartikan bahwa kejenuhan adalah suatu keadaan psikologis yang dapat terjadi ketika seseorang berusaha untuk mencapai suatu tujuan yang tidak realistis dan pada akhirnya kehabisan tenaga, waktu dan kehilangan semangat untuk mencapai tujuan tersebut.

Kejenuhan merupakan salah satu aspek psikologis atlet yang harus dihindari seminimal mungkin, karena jika atlet sudah berada pada tingkat kejenuhannya maka otomatis atlet tersebut akan kehilangan semangat dalam berlatih dan mengejar tujuan dari latihan tersebut.

Istilah lain dari kejenuhan biasa disebut boredom.

“Boredom” merupakan gejala menurunnya minat atlet sehingga atlet yang mengalami boredom atau rasa jemu akan menujukkan gejala malas berlatih atau menjadi kurang bergairah dalam latihan-latihan”. Artinya, kejenuhan memiliki dampak yang buruk bagi perkembangan atlet yang sedang menjalani program latihan, karena dengan menurunnya minat maka latihan yang dijalani atlet tidak berjalan dengan maksimal. Istilah kejenuhan diartikan sebagai suatu keadaan keletihan fisik (physical fatigue), emosional dan mental (mental fatigue). Gejala ini identik perasaan gagal untuk mencapai tujuan. Jenuh juga dapat diartikan sebagai sikap dimana seseorang berada pada tingkat kebosanan yang mempengaruhi rutinitas orang tersebut, sehingga membuat adanya rasa partisipasi dalam diri yang kurang.

B. Jenis-jenis Kejenuhan

Satu langkah penting yang sangat dibutuhkan ketika kita mulai berusaha mengatasi masalah kejenuhan, yaitu mengenali jenis-jenih kejenuhan. Secara umum ada tiga jenis kejenuhan yaitu kejenuhan positif, kejenuhan wajar dan kejenuhan negatif (Abu Abdirrahman Al-Qowiy, 2004):

1. Kejenuhan Positif

Kejenuhan positif adalah kejenuhan terhadap segala sesuatu yang buruk, baik berupa penyimpangan perilaku maupun perbuatan tercela. Contoh kejenuhan positif:

misalnya seorang bosan berhura-hura, bosan dengan aktivitas yang negatif, sehingga kejenuhan positif ini akan membawa siswa maupun atlet tetap berada didalam aktivitas dan lingkungan yang positif. Kemudian seorang atlet telah bosan dengan hasil yang didapati saat pertandingan, seperti halnya kalah dan ada motivasi untuk meningkatkan latihannya agar pada pertandingan berikutnya akan mendapatkan hasil yang baik dari sebelumnya. Kejenuhan positif tidak perlu dilawan, atau di carikan kiat-kiat tertentu untuk memusnahkannya. Akan tetapi, kejenuhan seperti ini harus terus ditumbuh kembangkan.

2. Kejenuhan Wajar

Kejenuhan wajar merupakan kejenuhan yang sangat lumrah terjadi. Setiap orang melakukan kesibukan berulang- ulang pasti akan mengalami kejenuhan. Kejenuhan wajar sering kita jumpai dalam aktifitas belajar, berkerja, latihan, bergaul dan lain-lain. Dari pengertian diatas jelas bahwa kejenuhan wajar pasti akan dialami setiap orang, karena kejenuhan tidak bisa dihapuskan dan sudah menyatu dengan kodrat hidup manusia. Untuk itu perlunya aktivitas yang baru, pola hidup yang baru atau dapat berekreasi untuk menghilangkan rasa jenuh yang wajar ini, agar tidak berlarut- larut.

3. Kejenuhan Negatif

Kejenuhan negatif adalah kejenuhan yang berat, merusak kehidupan dan bisa memicu munculnya keburukan-keburukan lain yang lebih serius. Kejenuhan negatif, misalnya kejenuhan akibat kegagalan, kalah dalam pertandingan hingga menimbukan sakit hati, juga hidup kacau dan lain-lain. Kejenuhan negatif merupakan bahaya bagi kehidupan manusia karena pengaruhnya sangat buruk bagi kehidupan.

Menurut Lusia Kus Anna “Kejenuhan” adalah semacam stres, kebosanan atau frustasi yang dapat menyebabkan Anda merasa lelah, mudah tersinggung dan sakit di sana-sini. Artinya kejenuhan dapat mempengaruhi kondisi mental dan fisik atlet yang mengalaminya, karena atlet yang mengalami kejenuhan lebih mudah marah, lelah dan tersinggung. Menurut Faye Crosby, dosen psikologi di Smith College Northampton,

“kejenuhan terjadi karena tidak mau mencoba banyak hal”.

Untuk mencapai suatu tujuan, seseorang otomatis memiliki banyak pilihan untuk mencapai tujuan tersebut agar ia tidak cepat bosan dengan aktivitas yang sama.

C. Faktor Penyebab Terjadinya Kejenuhan

Pemahaman awal dalam kejenuhan adalah suatu bentuk kelelahan yang disebabkan karena seseorang bekerja terlalu intens, berdedikasi, dan berkomitmen, bekerja terlalu banyak dan terlalu lama serta memandang kebutuhan dan keinginan mereka adalah hal kedua. Hal tersebut menyebabkan merasakan adanya tekanan-tekanan untuk memberi lebih banyak, tekanan tersebut berasal dari dalam diri sendiri. Dengan adanya tekanan ini, maka dapat menimbulkan rasa bersalah, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menambah energi dengan lebih besar dan pada akhirnya menimbulkan keletihan emosional dalam diri.

Keletihan emosional merupakan inti dari sumber kejenuhan. Seperti yang di jelaskan oleh Maslach & Jackson bahwa terdapat 3 dimensi kejenuhan, yaitu: “keletihan emosi, sinisme, menurunnya keyakinan diri”.

1. Keletihan emosi, Kelelahan emosional akibat kejenuhan ditandai dengan sikap mudah menyerah, lelah, lesu, tanpa semangat bekerja”. Artinya kelelahan emosional terjadi karena beberapa faktor seperti perasaan frustasi, putus asa, sedih, tidak berdaya, depresi. Kelelahan emosional terjadi karena tidak adanya kematangan emosi dari dalam. Rasa percaya diri merupakan hal yang harus ditanamkan sejak dini, karena rasa percaya diri akan membentuk kedewasaan, dan membentuk kemampuan untuk menghindari rasa bosan.

2. Sinisme, Gejala kebosanan berupa sinisme membuat individu tidak nyaman di lingkungan kerja atau berpartisipasi dalam aktivitas kerja. Maslach menjelaskan bahwa “komponen kebosanan dalam bentuk sinisme ini muncul dalam bentuk perasaan sinis, dingin dan jauh”. Artinya, seseorang yang mengalami kebosanan cenderung menjaga jarak dengan orang lain dan merasa tidak nyaman serta mudah lelah dalam melakukan aktivitas.

3. Menurunnya keyakinan diri, “Individu yang mengalami rasa percaya diri tinggi sangat rendah mengalami kejenuhan sedangkan individu yang mengalami kejenuhan bermasalah dengan kepercayaan diri, keyakinan terhadap kemampuannya sehingga membuat mereka stres dan tertekan”. Artinya, kepercayaan diri sangat berpengaruh terhadap kejenuhan, karena dengan kepercayaan diri seseorang mampu mengatasi tekanan yang dihadapinya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kejenuhan terjadi karena beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti kepercayaan diri.

Sedangkan faktor eksternal seperti lingkungan yang dapat menimbulkan gejala kejenuhan lainnya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kejenuhan terjadi karena beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti kepercayaan diri. Sedangkan faktor eksternal seperti lingkungan yang dapat menimbulkan gejala kejenuhan lainnya. Gejala kejenuhan menurut Cardinal, C. antara lain:

1. Symptom atau gejala fisik yaitu: Kelelahan yang menyiksa, Sakit kepala dan gangguan pencernaan, Penurunan berat badan, Susah tidur, Depresi, Sesak nafas.

2. Syimptom atau gejala perilaku yaitu: perubahan suasana hati atau emosi, peningkatan iritabilitas, berkurangnya perhatian terhadap orang lain, penurunan toleransi terhadap frustasi, kecurigaan terhadap orang lain, perasaan tidak berdaya dan kehilangan kendali diri.

Penjelasan di atas mengenai gejala kejenuhan, dapat disimpulkan bahwa gejala kejenuhan tidak hanya dapat dilihat dari perubahan aspek psikologis tetapi juga dapat dilihat dari perubahan perilaku dan kesehatan seseorang yang menyebabkan aktivitas yang dilakukan menjadi terganggu dan tidak produktif. Penyebab utama atlet mengalami kejenuhan adalah beban latihan yang berlebihan yang disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti yang dijelaskan oleh Weinberg dan Gould, training overload terdiri dari faktor-faktor yang disusun menurut jumlah atau frekuensi tinggi keluhan atlet, yaitu: terlalu banyak stres dan tekanan, terlalu banyak latihan dan latihan fisik, kelelahan fisik dan nyeri otot, kebosanan, karena pengulangan terus menerus, istirahat yang tidak cukup dan pola tidur yang tidak memadai.

Artinya, faktor penyebab kejenuhan terdapat pada diri sendiri maupun dari luar, faktor eksternal seperti kedisiplinan seseorang dalam memanfaatkan waktu istirahat, sedangkan faktor eksternal terdiri dari beban latihan dan tekanan dari orang lain. Dengan kata lain, gejala kejenuhan tidak hanya dapat dilihat dari psikologis seseorang, tetapi juga dapat dilihat dari kondisi fisik yang dialami seseorang. Artinya kejenuhan yang berkelanjutan tentunya juga akan mempengaruhi kesehatan.

Kejenuhan adalah suatu proses bertahap yang merusak secara fisik, emosional dan psikologis, hal ini disebabkan oleh potensi stresor (penyebab stres) dari dalam diri orang itu sendiri atau dari luar dirinya (Armand T. Fabella, 1993). Kejenuhan adalah masalah hidup, apalagi jika tingkat kejenuhannya melebihi ambang batas yang wajar. Tidak ada jalan lain selain mengatasi kebosanan dengan sebaik-baiknya. Abu Abdirrahman Al-Qowiy (2004) menyatakan, penyebab yang menyebabkan kejenuhan:

1. Aktivitas yang Monoton

Aktivitas yang monoton seringkali menjadi salah satu penyebab kebosanan. Melakukan hal yang sama berulang- ulang tanpa beberapa perubahan juga bisa membuat Anda bosan. Alasan paling umum di balik timbulnya kebosanan adalah kesibukan yang monoton. Seseorang yang melakukan sesuatu berulang-ulang, dengan proses yang sama, suasana yang sama, hasil yang sama, dalam jangka waktu yang lama.

Misalnya seorang siswa yang diajar oleh gurunya menggunakan metode yang tidak bervariasi, setiap pertemuan guru menggunakan metode ceramah, hanya menjelaskan tanpa diselingi dengan metode lain maka hal ini juga dapat menimbulkan kebosanan. Begitu juga dalam kegiatan olahraga, menu latihan yang tidak bervariasi yang diberikan pelatih kepada atlet harus kreatif dan inovatif, agar atlet memiliki semangat untuk mengikuti latihan dengan semangat yang tinggi.

2. Belum tercapainya target (Prestasi)

Alasan selanjutnya yang sering memicu kejenuhan adalah stagnasi pencapaian. Siswa yang terus belajar keras secara konsisten pantang menyerah dan pantang menyerah.

Namun, setelah lama belajar, tidak ada perubahan yang diharapkan. Sehingga kondisi seperti ini berpotensi melahirkan kebosanan, bahkan frustasi. Begitu juga bagi atlet yang belum mampu memenangkan pertandingan yang diikutinya, sehingga timbul kesan kecewa yang berakibat

pada menurunnya semangat atlet untuk berlatih dan mengikuti kejuaraan dan even bertingkat lainnya.

3. Lemahnya Motivasi (Minat)

Kejenuhan juga akan muncul ketika seseorang mengejar sesuatu yang tidak diinginkannya. Begitu pula siswa yang sejak awal tidak menyukai atau tidak tertarik pada mata pelajaran tertentu akan selalu merasa bosan dan bosan dengan mata pelajaran tersebut. Untuk itu perlu dilakukan diagnosis dini atau sekedar melihat potensi anak dan menyalurkan minatnya sesuai bakat dasarnya, sehingga anak mampu mengoptimalkan kemampuannya. Orang tua memiliki peranan penting dalam kelangsungan hidup seorang anak, karena faktor internal dari lingkungan keluarga, seorang anak akan mendapatkan motivasi pertamanya.

4. Hati yang bertolakan

Penyebab selanjutnya adalah hidup atau bekerja di lingkungan yang tidak sesuai dengan hati nurani. Begitu juga dengan seorang siswa, jika tempat sekolah karena dipilih oleh orang tuanya tidak sesuai dengan keinginannya, ia akan merasa bosan dan malas untuk pergi ke sekolah. Contoh dalam hal ini dalam dunia olahraga adalah, seorang anak yang memiliki hobi bermain sepak bola hidup di tengah- tengah masyarakat yang hobi bermain bola basket. Demi kelangsungan hidup yang sehat dan tuntutan partisipasi dalam kegiatan positif, orang tua anak memaksa anak untuk berbaur dan berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat di lingkungannya, meskipun anak memiliki potensi dan hobi yang berbeda. Dalam situasi dan kondisi tersebut, anak akan mengalami kebosanan bahkan sulit untuk menyadari apa yang sebenarnya ada dalam pikiran anak.

5. Kurangnya Apresiasi

Alasan lain yang memicu kejenuhan adalah penghargaan yang kecil atas capaian pengorbanan yang telah dilakukan. Dalam dunia pendidikan, betapa banyak kita melihat siswa yang kecewa dengan guru atau lembaga

pendidikan yang tidak menghargai suatu prestasi yang dicapai siswa, begitu juga dalam dunia olahraga. Terkadang hal-hal kecil dapat mengubah sesuatu dan sangat berarti bagi seseorang, terutama dalam hal pencapaian atau prestasi.

Seorang siswa atau atlet, jika mampu mencapai suatu target, guru atau pelatih harus memberikan apresiasi kepada siswa, karena dengan begitu ada kesenangan dan kebahagiaan yang dirasakan siswa meskipun hanya tepuk tangan dari rekan- rekannya. Dengan begitu ada nilai positif bagi siswa untuk terus giat dalam belajar maupun atlet giat dalam latihan.

6. Perlakuan Buruk

Alasan lain yang sering menyebabkan kejenuhan adalah perlakuan yang buruk. Hal ini juga dapat terjadi pada siswa yang mendapatkan perlakuan buruk dari gurunya dalam satu bidang studi, tentunya siswa tersebut akan merasa bosan, bosan dan malas terhadap mata pelajaran tersebut. Begitu juga dalam suatu sesi latihan, seorang atlet mendapat kritikan bahkan luapan emosi yang berlebihan dari pelatih juga berdampak buruk pada mentalitas atlet tersebut, sehingga atlet tersebut akan merasa bosan dengan keadaan seperti itu.

Seperti halnya kebosanan dalam aktivitas lainnya, umumnya disebabkan oleh proses yang monoton (tidak bervariasi) dan sudah berlangsung lama. Kejenuhan juga dapat terjadi karena proses latihan seorang atlet telah mencapai batas kemampuan fisiknya, akibat kebosanan dan kelelahan. Namun penyebab kebosanan yang paling umum adalah kelelahan yang menimpa atlet, karena kelelahan dapat menjadi penyebab timbulnya perasaan bosan pada atlet yang bersangkutan.

Kelelahan mental pada atlet merupakan faktor utama penyebab terjadinya kejenuhan dalam kegiatan olahraga, oleh karena itu ada beberapa faktor penyebab kelelahan atlet yaitu:

1. Karena kecemasan atlet akan dampak negatif yang ditimbulkan oleh kelelahan itu sendiri.

2. Karena kecemasan atlet terhadap standar atau tolak ukur keberhasilan dalam olahraga dan target yang dianggap

terlalu tinggi, terutama ketika atlet tersebut merasa bosan untuk mengikuti latihan.

3. Karena atlet berada di tengah situasi persaingan, mereka lelah menuntut lebih banyak partisipasi dalam acara olahraga.

4. Karena atlet memiliki konsep penampilan fisik yang optimal, sedangkan ia sendiri menilai potensi dirinya hanya berdasarkan ketentuan yang dibuatnya sendiri.

D. Cara Mengatasi Kejenuhan

Kejenuhan sebagai stres yang sangat negatif adalah masalah di dalam. Itu terjadi di dalam diri orang itu sendiri.

Karena itu menjadi urusannya sendiri untuk mencegah atau melawan kebosanan. Langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengurangi kejenuhan tidak didasarkan pada sifat-sifat permanen orang, tetapi pada faktor-faktor sosial dan situasional tertentu yang dapat berubah. Strategi yang digunakan untuk mengatasi kebosanan adalah sebagai berikut (Armand T.

Fabella, 1993): Meningkatkan kesadaran diri. Pelajari pengetahuan dan keterampilan baru. Santai. Kembangkan minat baru. Berolahraga secara teratur. Kembangkan keterampilan manajemen waktu. Kembangkan dan tanamkan rasa humor.

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi kebosanan adalah sebagai berikut:

1. Mengurangi latihan yang monoton 2. Mengentikan latihan untuk sementara 3. Mengubah lingkungan

4. Mengubah pola latihan

5. Melakukan variasi dalam kehidupan sehari-hari

6. Mengembangkan keterampilan psikologis, seperti relaksasi, imajeri, penentuan sasaran, dan self talk atau sugesti diri secara positif

Jadi, untuk menghilangkan kejenuhan pelatih memiliki peran penting agar atlet terhindar dari tingkat kejenuhan dalam latihan. Berbagai materi harus diterapkan oleh pelatih dan tidak membuat situasi latihan yang menegangkan, karena kondisi ini

Dalam dokumen PSIKOLOGI OLAHRAGA (Halaman 74-77)