BAB 11 DISIPLIN OLAHRAGA
F. Peranan Psikologi Terhadap Disiplin Olahraga
Psikologi olahraga adalah cabang psikologi yang mempelajari jiwa, hubungan mental dengan kegiatan olahraga.
Atau dengan kata lain psikologi olahraga adalah cabang ilmu psikologi yang memanfaatkan prinsip-prinsip psikologi, konsep, fakta dan metode serta menerapkannya pada aspek- aspek kegiatan olahraga seperti kegiatan belajar, keterampilan, kinerja, latihan, dan pengembangan.
Layaknya seorang atlet, sehat jasmani dan rohani serta kuat pasti akan mempengaruhi kemampuannya dalam menaklukan suatu ajang persaingan. Olahraga itu sendiri meliputi berbagai aspek kehidupan, seperti aspek kedisiplinan, tubuh yang sehat, kuat, semangat dan penuh motivasi, yang mampu membangun karakter olahragawan seseorang. Berbicara tentang olahraga tentunya tidak lepas dari seorang atlet dan segudang aktivitas yang berkaitan dengan fisiknya. Karena faktor psikologis harus menjadi modal utama seorang atlet.
Psikologi berperan dalam mengubah pola pikir seseorang.
Mengubah pola pikir dalam konteks ini adalah menjadikan seorang atlet memiliki pikiran positif yang disertai dengan tindakan dan tindakan yang positif. Polarisasi kehidupan yang telah mengakar kuat pada diri seorang atlet tentunya akan membawa atlet tersebut ke arah yang positif, serta kepribadian yang baik seperti halnya sabar, disiplin, rajin, dan pribadi yang terus menjaga semangatnya. Kemudian, psikologi juga berperan dalam membentuk perilaku seorang atlet. Dalam hal ini, psikologi akan berperan dalam membentuk perilaku seorang atlet yang berbeda dengan perilaku atlet lainnya. Sebagai kebiasaan yang telah tertanam kuat dalam jiwa atlet, tidak
mudah digoyahkan bahkan terpengaruh oleh lingkungan di sekitarnya. Dan ini menjadi identitas atau pembeda dengan atlet lainnya. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwasannya psikologi memberikan dampak yang positif atas keberlangsungan hidup seseorang dalam hal ini pada diri atlet.
BAB
12
Komunikasi merupakan sesuatu yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan manusia sehari-hari. Komunikasi dilakukan dengan banyak cara, baik secara verbal maupun nonverbal.
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain sehingga terjadi saling pengaruh antara keduanya. Pada umumnya komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dipahami oleh kedua belah pihak. Jika tidak ada bahasa verbal yang dapat dipahami oleh keduanya, komunikasi tetap dapat dilakukan dengan menggunakan bahasa tubuh, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, dan mengangkat bahu.
Komunikasi merupakan sarana untuk menjalin hubungan antara seseorang dengan orang lain, dengan komunikasi akan terjadi hubungan sosial, karena manusia adalah makhluk sosial, sehingga terjadi interaksi timbal balik. Komunikasi harus terjadi dalam kegiatan olahraga, baik pada saat pembelajaran pendidikan jasmani maupun pelatihan olahraga. yakin. Belajar/pelatihan adalah proses komunikasi. Komunikasi dikatakan efektif jika komunikasi yang terjadi menciptakan arus informasi dua arah, yaitu dengan munculnya umpan balik dan penerima pesan.
Kualitas pembelajaran/pelatihan dipengaruhi oleh efektifitas komunikasi yang terjadi di dalamnya.
Komunikasi dapat terjadi secara langsung dan tidak langsung. Komunikasi langsung dilakukan dengan berbicara langsung kepada lawan bicara. Komunikasi ini sangat efektif untuk mengetahui respon lawan bicara. Yang dapat diketahui lawan bicara menerima atau tidak menerima pesan yang disampaikan.
KOMUNIKASI DALAM
OLAHRAGA
Kemudian selain itu ada komunikasi tidak langsung. Komunikasi ini biasanya dilakukan melalui media. Misalnya melalui email, surat, atau sms. Komunikasi tidak langsung memang efisien, tetapi lebih disarankan untuk berkomunikasi secara langsung, karena kedua belah pihak dapat lebih memahami informasi yang disampaikan, selain itu mereka lebih mengenal karakteristik orang yang kita ajak bicara, sehingga risiko kesalahpahaman dapat diminimalisir dan diminimalkan.
Komunikasi merupakan salah satu komponen penunjang penampilan dan keberhasilan latihan. Komunikasi adalah jembatan pemersatu antara pelatih dan atlet. Tujuan suatu latihan disampaikan dengan menggunakan komunikasi berupa isyarat, larangan, perintah, serta saran dan kritik dalam evaluasi. Latihan tidak akan berjalan tanpa komponen komunikasi seperti bahasa, suara, gerakan tubuh, gerakan wajah, simbol dan kata-kata.
Perintah untuk melakukan sesuatu tidak akan mungkin dilakukan oleh seorang atlet jika seorang atlet tidak memahami bahasa yang digunakan oleh seorang pelatih. Pesan yang disampaikan pelatih juga akan terasa datar dan tidak menarik jika disampaikan tanpa menggunakan tambahan gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Begitu berartinya suatu komunikasi yang sering dilupakan bahwa komunikasi itu begitu penting.
A. Pengertian Komunikasi
Ada banyak pendapat dari berbagai ahli mengenai definisi komunikasi, namun jika dicermati, berbagai pendapat tersebut memiliki arti yang hampir sama. Menurut Handjana (2003) secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu cum, kata depan yang berarti dengan, atau bersama-sama dengan, dan kata umus, suatu kata bilangan yang menyatu.
Kedua kata tersebut membentuk kata benda communio, yang dalam bahasa Inggris disebut communion, yang memiliki arti kebersamaan, kesatuan, persekutuan, persatuan, asosiasi, atau hubungan, berbagi sesuatu dengan seseorang, bertukar, berbicara tentang sesuatu dengan seseorang, memberitahu seseorang sesuatu, bertukar ide, berhubungan, atau berteman.
Dengan demikian, komunikasi memiliki arti pemberitahuan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan.
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi dari satu orang ke orang lain. Komunikasi akan berjalan dengan baik jika di lingkungan sekitarnya timbul saling pengertian, yaitu jika kedua belah pihak antara pengirim dan penerima pesan dapat memahaminya (Widjaja, 2000). Menurut Effendy (2003) menjelaskan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian kesan-kesan berupa lambang-lambang yang bermakna sebagai pedoman pikiran dan perasaan berupa gagasan, informasi, perasaan, harapan, daya tarik, keyakinan, dan sebagainya yang dilakukan oleh masyarakat secara tidak langsung melalui media dan tujuan seseorang kepada orang lain secara tatap muka atau mengubah sikap, pandangan, dan perilaku
1. Menurut Alo Liliweri (2002) komunikasi adalah suatu proses, aktivitas simbolik, dan pertukaran makna antar manusia.
2. Menurut Jowett & Lavallee (2007) komunikasi adalah proses untuk mencapai pengetahuan bersama dan saling pengertian.
3. West & Turner (2008) komunikasi adalah suatu proses sosial dimana individu menggunakan simbol-simbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungannya.
4. Menurut Burton (2008) komunikasi adalah tindakan mengungkapkan (atau mentransmisikan) ide, informasi, pengetahuan, pikiran, dan perasaan, serta memahami apa yang diungkapkan oleh orang lain. Artinya, komunikasi adalah tindakan mengungkapkan (atau mentransmisikan informasi, pengetahuan, pikiran, dan perasaan, serta gagasan.
5. Menurut Spink (1991) tidak ada satu pun elemen dari proses pembinaan yang lebih penting daripada komunikasi.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan definisi dan komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pengirim kepada pemima baik melalui
kata-kata, nada volume maupun bahasa tubuh. Komunikasi dapat didefinisikan sebagai proses penyampaian pesan dalam bentuk simbol atau lambang yang melibatkan dua person atau lebih yang terdiri atas pengirim (komunikator) dan penerima (komunikan) dengan maksud untuk mencapai tujuan bersama mengenai masalah atau persoalan masing-masing pihak.
Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat ditarik suatukesimpulan mengenai makna hakiki komunikasi yaitu suatu proses interaksi yang didalamnya terdapat maksud saling melengkapi, memperbaiki, dan memahami persoalan-persoalan yangdialami olehpersonil teriibat dalam komunikasi tersebut.
Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa komunikasi tidak sekedar media penyampaian pesan belaka (yang mungkin menguntungkan salah satu pihak saja) melainkan lebih kepada jalinan antar personal (pribadi) antar pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Oleh sebab itu, agar komunikasi berjalan denganbaik dan lancar serta memberi manfaat baik bagi pihak penyampai pesan maupun bagi pihak penerima pesan, maka diperlukan adanya keterampilan komunikasi.
B. Proses Komunikasi
Komunikasi adalah sebuah proses. Proses komunikasi dapat diartikan sebagai pemindahan informasi atau pesan dari pengirim pesan sebagai komunikator dan kepada penerima sebagai komunikasi. Semua komunikasi satu arah mengikuti proses dasar yang sama. Sebagai langkah pertama, satu orang memutuskan untuk mengirim pesan ke orang lain. Untuk memahami proses tersebut dapat dilihat dari unsur-unsur yang berkaitan dengan siapa pengirim (komunikator), apa yang dikatakan atau dikirim (pesan), saluran komunikasi apa yang digunakan (media), ditujukan untuk siapa (komunikan), dan apa akibatnya akan ditimbulkan (akibat). Dalam proses komunikasi, kewajiban seorang komunikator adalah memastikan bahwa pesan dapat diterima oleh komunikan sesuai dengan keinginan pengirim. Dalam hal ini, pengirim atau
sumber pesan dapat berupa individu atau organisasi seperti terlihat pada gambar proses komunikasi di bawah ini.
Berdasarkan pada bagan diatas yang bersumber dari Kotler (2000) gambar proses komunikasi tersebut menjelaskan bahwa, suatu pesan, sebelum dikirim, terlebih dahulu disandikan (encoding) ke dalam simbol-simbol yang dapat menggunakan pesan yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh pengirim.
C. Tujuan Komunikasi
Tujuan komunikasi menjelaskan bahwa proses komunikasi secara khusus mempelajari atau mengajarkan sesuatu, mempengaruhi perilaku seseorang, mengungkapkan perasaan, menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain, berhubungan dengan orang lain, memecahkan suatu masalah dan menyampaikan suatu tujuan.
Dalam melakukan komunikasi interpersonal, seorang pelatih dapat menginstruksikan dengan cara penyampaian yang dapat diterima oleh atlet dan dengan bahasa yang sesuai dengan usia atlet yang dikatakan rata-rata muda. Pelatih dan atlet ibarat satu kesatuan keluarga dalam dunia olahraga. Jika dalam kehidupan nyata pelatih seperti ayah atau ibu, dan pelatih dapat dianggap sebagai saudara atau teman. Pelatih harus memiliki hubungan yang baik dengan atlet, dan di sisi lain harus tegas dalam berurusan dengan atlet. McGready (dalam Jowett dan Cockeril, 2002) menjelaskan bahwa untuk membentuk hubungan yang nyaman dan saling percaya antara pelatih dan
atlet adalah tugas yang berat. Hal ini dikarenakan sikap, perasaan dan motivasi yang terlibat sulit dikendalikan.
Hubungan pelatih-atlet adalah komunikasi yang intensif antara atlet dan pelatih. Menurut Jowett dan Cockerill (2002), efektivitas seorang pelatih dalam melakukan persiapan teknis, taktis dan strategis, serta pengorganisasian, evaluasi dan pengarahan atlet, akan tergantung pada hubungan yang dibangun antara pelatih dan atlet. Perilaku kepemimpinan pelatih di dalam dan di luar lapangan juga akan mempengaruhi proses pembinaan ketangguhan mental. Atlet yang bermental kuat memiliki beberapa ciri umum seperti memiliki kepercayaan diri yang tinggi, memiliki motivasi yang tinggi, mampu menjaga fokus dan konsentrasi, menunjukkan tekad yang tinggi dan memiliki komitmen (Gucciardi, Gordon, & Dimmock: 2008 Istilah ketangguhan mental adalah suatu istilah yang digunakan oleh atlet, pelatih dan media untuk menggambarkan karakteristik psikologis atlet unggulan yang secara konsisten ditampilkan selama latihan atau kompetisi.
Singkatnya, proses komunikasi bertujuan untuk mencapai saling pengertian antara dua pihak yang terlibat dalam proses komunikasi. Sedangkan dalam olahraga juga bervariasi, misalnya dapat membujuk seseorang untuk mau menurunkan berat badan, mengevaluasi seberapa baik prestasi yang telah dicapai untuk menginformasikan kepada atlet bagaimana melakukan keterampilan baru dalam latihan, kemudian untuk mengatasi konflik antar dua pemain dalam satu tim, dan komunikasi dapat menggabungkan beberapa tujuan sekaligus.
Artinya, keterampilan komunikasi adalah salah satu prediktor terbaik keberhasilan pembinaan.
D. Jenis-jenis Komunikasi
Pada dasarnya komunikasi memiliki banyak bentuk, baik komunikasi olahraga maupun komunikasi pada umumnya.
Salah satu bentuk komunikasi adalah komunikasi interpersonal yang termasuk dalam komunikasi personal. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara satu orang dengan
orang lain atau dengan beberapa orang. Komunikasi ini termasuk dalam komunikasi yang paling efektif, karena pemberi informasi dapat berinteraksi dengan orang yang menjadi lawan bicaranya. Komunikasi ini tentunya sangat cocok jika digunakan dalam situasi latihan atau saat evaluasi setelah pelatihan.
Komunikasi dibagi menjadi dua cara dasar, yaitu secara interpersonal dan intrapersonal. Biasanya ketika berbicara tentang komunikasi pribadi, berarti komunikasi melibatkan setidaknya dua orang dan ada pertukaran yang berarti. Pengirim bermaksud mempengaruhi tanggapan orang tertentu dan pesan dapat diterima oleh orang lain. Sedangkan komunikasi intrapersonal (self-talk) adalah komunikasi dengan diri sendiri, ini merupakan dialog batin dan sangat penting. Apa yang dikatakan kepada diri sendiri biasanya membantu membentuk dan memprediksi bagaimana bertindak dan melakukan sesuatu.
Self-talk juga dapat mempengaruhi motivasi seseorang, misalnya jika seseorang mencoba menurunkan berat badan dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia terlihat lebih ramping dan merasa baik. Pada dasarnya komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan aktivitas hubungan antara manusia atau kelompok. Jenis komunikasi terdiri dari tiga, Verbal, Non-verbal dan Paraverbal. Yaitu:
1. Komunikasi Verbal (dengan Kata-kata)
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang disampaikan melalui kata-kata baik yang diucapkan maupun ditulis. Komunikasi verbal dapat dibagi menjadi dua : a. Media oral (Lisan)
Media oral adalah kata-kata lisan, sedangkan contoh media lisan adalah percakapan telepon dan komunikasi tatap muka. Cara komunikasi ini lebih baik digunakan untuk menyampaikan pesan yang ambigu dan tidak rutin. Selain itu, cara komunikasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan banyak media dan paling cepat mendapatkan umpan balik dari penerima pesan.
b. Media Tertulis
Media tulis adalah kata-kata yang ditulis di atas media. Contoh media tulis adalah surat dan (leaflet) atau selebaran. Cara komunikasi ini lebih baik digunakan untuk menyampaikan pesan yang membutuhkan kejelasan dan terjadi secara teratur. Selain itu, cara komunikasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan media yang lebih sedikit daripada lisan dan umpan balik yang diterima juga lebih lambat.
2. Komunikasi Non-Verbal
Komunikasi tidak verbal (non-verbal) adalah komunikasi yang disampaikan selain menggunakan kata- kata komunikasi yang (non-verbal) dapat dibagi menjadi:
a. Penampilan/penampakan
Komunikasi melalui penampilan/penampakan yang kita miliki (sebagai misal: bahasa tubuh, pakaian yang dikenakan, dan lain-lain)
b. Ruang
Sebagian orang percaya bahwa makin besar ruang yang dimiliki seseorang maka makin besar pula kekuasaannya. Hal ini dapat berarti bahwa seorang manajer pada suatu perusahaan harus memiliki ruangan kantor yang lebih besar daripada ruangan kantor yang dimiliki oleh pegawai-pegawainya. Ruang yang dimaksud di sini tidak hanya berarti luasnya ruangan namun juga berarti bagaimana tatanan ruang itu. Tatanan ruang yang berbeda juga menggambarkan jabatan seseorang dalam perusahaan.
3. Komunikasi Paraverbal
Komunikasi adalah bagaimana kita mengekspresikan kata-kata. Untuk mengkomunikasikan informasi menjadi pesan, perlu dilakukan evaluasi media dengan mengkategorikannya menjadi empat faktor, yaitu:
a. Feedback
Apakah media memperbolehkan komunikasi dua arah dan memiliki kemampuan dan kecepatan yang penting untuk menyediakan feedback? Rata-rata feedback, akan terjadi secara cepat atau sangat lamban.
b. Channel
Apakah media memperbolehkan untuk multiple rata-rata dari kombinasi visual dan audio untuk visual yang terbatas
c. Tipe komunikasi
Apakah media memperbolehkan untuk emosional atau hubungan personal, apakah perorangan atau lebih.
d. Language source
Apakah sumber informasi dari sumber natural atau sumber perorangan atau dari sumber lainnya.
Menurut Pederson, Miloch dan Laucella (Rusdianto: 2009) mengatakan bahwa komunikasi interpersonal merupakan bentuk komunikasi yang paling umum di antara pemain olahraga profesional dalam kegiatan sehari-hari di organisasi olahraga. Komunikasi interpersonal terus dilakukan dalam rangka menjalin hubungan yang saling mendukung antara pelatih dan atlet. Harapannya agar atlit dapat merasakan suasana yang nyaman dan tidak lagi merasa canggung saat berlatih, serta menjadikan atlit mampu meningkatkan kemampuan dan potensinya secara maksimal.
Komunikasi dirumuskan sebagai suatu proses penyampaian pesan atau informasi diantara beberapa orang.
Karenanya komunikasi melibatkan seorang pengirim, pesan/informasi saluran dan penerima pesan yang mungkin juga memberikan umpan balik kepada pengirim untuk menyatakan bahwa pesan telah diterima. Dalam proses komunikasi kita juga harus ingat bahwa ada hambatan yaitu baik dari pengirim saluran penerima dan umpan balik serta hambatan fisik dan psikologi. Tujuan komunikasi adalah berhubungan dan mengajak dengan orang lain untuk mengerti apa yang kita sampaikan dalam mencapai tujuan. Keterampilan
berkomunikasi diperlukan dalam bekerja sama dengan orang lain. Ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, non-verbal, dan paraverbal. Komunikasi verbal meliputi kata-kata yang diucapkan atau ter sedangkan komunikasi non-verbal meliputi bahasa tubuh dan komunikasi paraverbal meliputi bagaimana cara seseorang mengungkapkan sesuatu.
E. Model Proses Komunikasi
Sebelum komunikasi dapat berlangsung, diperlukan suatu maksud yang dinyatakan sebagai pesan yang ingin disampaikan. Urutan ini melewati sumber (pengirim) dan penerima (receiver). Pesan dikodekan atau "dikodekan"
(menggantikan ide atau pemikiran dalam bentuk simbolik) dan melewati beberapa media (channel) ke penerima (receiver), yang menerjemahkan (decode) pesan yang diprakarsai oleh pengirim (sender). Hasilnya adalah transfer makna dari satu orang ke orang lain.
Model ini dibentuk oleh tujuh bagian ialah diantaranya:
Sumber kommunikasi, atau disebut sebagai komunikator, Encoding, Pesan, Medium atau media (channel), Decoding, Penerima, atau disebut sebagai komunikan, dan Umpan balik (feed back).
F. Hambatan Komunikasi
Salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan komunikasi, iklan untuk menyadari hambatan komunikasi, dan lonceng bagaimana meminimalkan atau mengurangi efek samping. Hambatan komunikasi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Informasi yang terlalu banyak (information overload), dapat disebabkan oleh :
a. Menyampaikan materi yang banyak b. Menyampaikan informasi terlalu rumit c. Menyampaikan informasi terlalu cepat.
2. Kepercayaan dan kredibilitas (Trust and Credibility)
Kepercayaan merupakan hambatan terbesar dalam komunikasi. Kredibilitas mencegah pendengar dari penuhnya menerima pesan.
3. Waktu (Time)
Cara terbaik untuk masalah ini adalah dengan membangun kebiasaan untuk fokus hanya pada suatu komunikasi dalam satu waktu.
4. Penyaringan (Filtering)
Manipulasi yang disengaja dalam informasi untuk menjadikan menarik bagi pendengar.
5. Emosi (Emotions)
Merupakan lawan dari sebab, sulit untuk mengantisipasi, memprediksi, mengendalikan atau membaca emosi dalam diri sendiri bahkan orang lain.
6. Penyesuaian pesan (Message Congruency)
Proses komunikasi lebih dari sekadar kata yang diungkapkan. Penyampaian pesan harus secara hati-hati memikirkan potensi pesan yang akan dikirimkan nonverbal melalui isyarat tangan atau gerak badan.
G. Hubungan Komunikasi dengan Psikologi
Komunikasi dirumuskan sebagai suatu proses penyampaian pesan atau informasi diantara beberapa orang.
Karenanya komunikasi melibatkan seorang pengirim, pesan/informasi saluran dan penerima pesan yang mungkin juga memberikan umpan balik kepada pengirim untuk menyatakan bahwa pesan telah diterima. Dalam proses komunikasi kita juga harus ingat bahwa ada hambatan yaitu baik dari pengirim saluran penerima dan umpan balik serta hambatan fisik dan psikologi. Tujuan komunikasi adalah berhubungan dan mengajak dengan orang lain untuk mengerti apa yang kita sampaikan dalam mencapai tujuan. Keterampilan berkomuni diperlukan dalam bekerja sama denge orang lain.
Ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, non-verbal, dan paraverbal. Komunikasi verbal meliputi kata-kata yang
diucapkan atau ter sedangkan komunikasi non-verbal meliputi bahasa tubuh dan komunikasi paraverbal meliputi bagaimana cara seseorang mengungkapkan sesuatu.
Psikologi dan Komunikasi memiliki keterkaitan antara satu sama lain karena keduanya sama-sama melibatkan manusia. Komunikasi merupakan interaaksi yang terjadi antara manusia, sementara psikologi merupakan tingkah laku yang ditunjukkan oleh manusia. Dalam berkomunikasi terjadi pertukaran informasi baik secara langssung maupun tidak langsung. Psikologi berperan menganalisis komponen yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut. Penjelasan ini agar kita dapat lebih memahami mengenai Psikologi dan Komunikasi, berikut pengertian dari keduanya:
➢ Psikologi merupakan bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari segala sesuatu terkait dengan tingkah laku ataupun perilaku manusia dalam kesehariannya. Psikologi juga berperan dalam mempelajari fungsi dan peranan mental manusia.
➢ Komunikasi adalah proses bertukar informasi berupa ide, gagasan, atau pesan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, ataupun kelompok dengan kelompok.
Dalam proses psikologi, diperlukan komunikasi untuk mengetahui mengetahui dengan jelas mengenai perilaku serta mental dari seseorang. Sementara komunikasi selalu melibatkan aspek psikologi dalam prakteknya, sehingga keduanya saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lain. Dengan menerapkan psikologi komunikasi, maka tujuan untuk mencapai tujuan yang efektif dapat terwujud. Terutama dalam praktek olahraga, perlunya psikologi dalam proses pendekatan antara atlet-pelatih, dan pelatih-atlet. Pola komunikasi yang dibangun tentunya adalah pola komunikasi yang baik, agar tujuan baik dalam latihan bahkan pada masa pertandingan tidak ada kesalahpahman dalam memberikan intruksi maupun pesan yang harus dilakukan oleh atlet. Sebagai contoh dalam sepakbola, pada suatu ketika pelatih mengirimkan pesan
berbentuk kertas kecil untuk di sampaikan kepada pemain yang berposisi jauh dari posisi pelatih, bahkan strategi perubahan kerap kali disampaikan melalui pesan. Disinilah dapat kita ambil kesimpulan bahwa komunikasi yang baik akan dapat mencapai pemahaman yang sama antara si pengirim dengan si penerima.
BAB
13
Olahraga merupakan salah satu media pendidikan yang seharusnya dan selayaknya menjadi pilar dalam membangun generasi yang berkualitas hidup baik secara bathiniah dan kualitas kerja jasmaniah. Melalui aktivitas olahraga kita bisa mendapatkan hal-hal positif, karena olahraga bukan sekedar kegiatan yang berorientasi kepada faktor fisik saja, namun juga dapat melatih sikap dan mental untuk membentuk karakter orang yang melakukan kegiatan olahraga tersebut.
Pendidikan merupakan investasi masa depan. Melalui pendidikan maka mental dan karakter dapat terbangun. Untuk memenuhi hal tersebut diperlukan suatu grand desain pendidikan karakter sebagai bagian dari upaya membangun karakter bangsa.
Regulasi pendidikan karakter diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Pada pasal 3 disebutkan: "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki peran penting dalam pembangunan nasional. Salah satu upaya yang dapat di lakukan adalah melalui proses pendidikan yang di terapkan di sekolah-sekolah dan tentunya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter) pikiran dan tubuh anak dan bagian-bagian itu tidak boleh di pisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-nak kita. Inilah yang menjadi keluhan masyarakat akhir-akhir ini. Generasi muda bangsa yang seharusnya menjadi tokoh di balik kemajuan bangsa justru muncul dengan perilaku kesehariannya yang mengesampingkan etika dan moral.