BAB 4 KONSENTRASI DALAM OLAHRAGA
A. Pengertian Konsentrasi
Konsentrasi adalah kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatian pada suatu stimulus yang dipilih (satu objek) dalam waktu tertentu. Artinya, proses konsentrasi selalu didahului oleh perhatian seseorang terhadap suatu objek yang dipilih. Dengan demikian konsentrasi menjadi perhatian dalam waktu yang lama, sehingga pada saat melakukan aktivitas olahraga diperlukan konsentrasi. Namun kenyataannya pembinaan olahraga masih terlalu terfokus pada pembinaan yang mengarah pada keterampilan teknis dan peningkatan kualitas fisik, sedangkan pembinaan di bidang potensi psikologis masih terabaikan. Sedangkan prestasi olahraga merupakan akumulasi investasi dari hasil latihan potensi fisik, dan potensi psikis. Untuk itu dalam proses latihan, aspek fisik dan psikis tentunya perlu mendapatkan porsi yang seimbang agar dapat dicapai kinerja yang optimal dan dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama.
Konsentrasi memainkan peran penting dalam penampilan seorang atlet dan ada kesinambungan timbal balik antara konsentrasi dan hasil kinerja. Atlet harus berkonsentrasi dan memberikan perhatian penuh terhadap jalannya pertandingan, karena tanpa konsentrasi seorang atlet akan kesulitan menampilkan performa terbaiknya. Dalam kondisi penting, kehilangan konsentrasi dalam sekejap dapat mempengaruhi penampilan dan mempengaruhi hasil pertandingan. Konsentrasi adalah kemampuan atlet untuk
KONSENTRASI DALAM
OLAHRAGA
memusatkan perhatiannya pada kondisi lingkungan yang relevan. Atlet yang bisa memberi perhatian bisa berkonsentrasi.
Konsentrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal berupa memikirkan kejadian yang telah terjadi, memikirkan kejadian yang akan datang, perasaan tertekan (chocking), kelebihan dalam menganalisis mekanisme tubuh, kelelahan dan kurangnya motivasi serta faktor eksternal berupa kelelahan. gangguan visual, gangguan audio dan lawan yang bersaing. Konsentrasi dapat ditingkatkan dengan mengatur pernapasan, menggunakan stimulasi selama pelatihan, menggunakan kata-kata isyarat, dan membentuk kebiasaan kompetitif.
Konsentrasi adalah kemampuan atlet untuk mempertahankan fokus perhatiannya pada lingkungan permainan yang relevan (Weinberg dan Gould, 2003). Menurut Martens (1988) konsentrasi adalah kemampuan atlet untuk memusatkan perhatiannya pada suatu rangsangan yang dipilih (satu objek) dalam jangka waktu tertentu. Selanjutnya, konsentrasi adalah kemampuan untuk memusatkan perhatian pada berbagai faktor yang relevan dengan pertandingan dan mampu mempertahankannya selama pertandingan berlangsung (Crespo dan Miley 1998)
Berdasarkan ketiga pendapat tersebut, pengertian konsentrasi menyiratkan arah perhatian yang menyempit (khusus). fiksasi perhatian pada stimulus tertentu, dan kelanjutan perhatian pada stimulus yang dipilih. Dengan demikian pengertian konsentrasi dalam olahraga memiliki empat ciri, yaitu:
1. Sebuah fokus pada objek yang relevan (perhatian selektif) 2. Mempertahankan fokus dalam jangka panjang
3. Memiliki kesadaran akan situasi 4. Tingkatkan fokus jika diperlukan
Dari pengertian atensi dan konsentrasi, terlihat jelas persamaan dan perbedaan antara atensi dan konsentrasi.
Kesamaan antara keduanya terletak pada fokus pikiran seseorang pada suatu objek tertentu. Perbedaan keduanya
terletak pada rentang waktu. Perhatian adalah pemusatan pikiran pada satu objek yang berlangsung dalam waktu singkat, sedangkan konsentrasi adalah pemusatan pikiran pada satu objek untuk waktu yang lebih lama. Artinya, perhatian adalah proses awal menuju konsentrasi.
Dalam jurnal berjudul Dalam diskusi mereka tentang menciptakan tempat kerja yang sehat dan berkinerja tinggi, Lloyd dan Foster (2006) mengintegrasikan strategi dari psikologi kesehatan dan olahraga untuk meningkatkan kesejahteraan dan kinerja karyawan. Mereka fokus pada lima keterampilan mental yang sama seperti Foster (2002): kinerja rutin, kapasitas untuk fokus dan berkonsentrasi, penuaan mental, self-talk, dan kontrol aktivasi. Adler (2006) meneliti bagaimana organisasi dapat mempromosikan karyawan mereka ke tingkat minat, motivasi, dan kesenangan yang sama tinggi yang dialami oleh para peserta dalam olahraga pada umumnya. Mereka fokus pada peran yang dapat dimainkan akuntan dalam meningkatkan pengalaman karyawan.
Tahun berikutnya, Gordon (2007) merangkum pandangan Jones (2002) tentang hubungan olahraga-bisnis dan mengidentifikasi lima bidang kemungkinan penelitian kolaboratif antara domain-domain ini:
1. Ketangguhan mental: Kemampuan untuk berkembang di bawah tekanan sangat penting dalam olahraga dan bisnis.
2. Stres kerja: Stres yang terkait dengan olahraga profesional dan bisnis berpotensi memengaruhi kesehatan dan kinerja.
3. Kelelahan: Kelelahan jangka panjang dan berkurangnya minat adalah hasil yang berpotensi merugikan bagi pemain elit.
Artikel berjudul Government involvement in high performance sport from the perspective of Australia's national sports organisation.Konsentrasi adalah suatu kondisi dimana atlet memiliki kesadaran penuh dan terfokus pada sesuatu (obyek tertentu) yang tidak mudah terombang-ambing. Dengan demikian konsentrasi perlu dilatih pada atlet, jika konsentrasi tidak dilatih pada atlet cenderung gagal dalam mengembangkan
keterampilan konsentrasi, pada saat yang sama atlet akan mengalami kegagalan dalam setiap pertandingan yang diikutinya. Sedangkan Westhoff dan Hegemaister mendefinisikan konsentrasi sebagai aspek kerja yang keberadaannya selalu dibutuhkan ketika seseorang harus memproses informasi secara sadar. Untuk itu dalam konteks ini informasi yang digunakan bukan sembarang informasi melainkan berupa informasi pilihan yang harus diproses pada waktu tertentu.
Untuk lebih memahami tentang konsentrasi, penulis mengutip beberapa pendapat ahli. Konsentrasi adalah kemampuan untuk fokus pada tugas tanpa terganggu dan dipengaruhi oleh rangsangan eksternal atau internal (Schmid, Peper dan Wilson, 2001). Lebih lanjut, Nideffer (2000) menjelaskan bahwa konsentrasi sebagai suatu perubahan konstan berhubungan dengan dua dimensi, yaitu dimensi luas (lebar) dan dimensi konsentrasi (fokus).
Pendapat lain mengenai pengertian konsentrasi dikemukakan oleh Mierke (Scholz, 2006), yaitu “Konsentrasi sebagai berasal dari bahasa sehari-hari dengan arti yang paling bervariasi: pengumpulan dan pengayaan, pengelompokan di sekitar pusat, meringkas dan menyatukan, mempersempit dan membatasi, keselarasan dan keselarasan. ketegangan.” Dengan kata lain, jelas Scholz, bahwa “Konsentrasi yang berasal dari bahasa sosial mempunyai arti yang berbeda-beda, yaitu:
pengumpulan, pengayaan, pengelompokan berdasarkan satu titik fokus, penyimpulan dan penggabungan, penyempitan dan pembatasan, tumpang tindih dan regangan”
Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa konsentrasi adalah kemampuan memusatkan perhatian pada tugas tanpa terganggu dan dipengaruhi oleh rangsangan eksternal atau internal, sedangkan implementasinya mengacu pada dimensi luas (lebar) dan dimensi konsentrasi (Vorus) pada tugas. Rangsangan eksternal yang mengganggu konsentrasi dalam pernyataan, seperti sorak-sorai dari penonton, musik keras, kata-kata menyakitkan dari penonton atau pelatih, dan
perilaku tidak sportif dari lawan. Sedangkan rangsangan internal seperti perasaan terganggu oleh tubuh dan perasaan lain yang mengganggu secara fisik dan psikis seperti “aku lelah sekali”, “jangan gugup”, dan sebagainya. Rangsangan eksternal dan internal adalah kategori yang terpisah, tetapi dapat terus mempengaruhi aspek lain. Misalnya dalam kompetisi olahraga, aspek kognitif dan emosional cepat terpicu pada atlet.
Pelatih dan ahli psikolog harus melatih atletnya untuk dapat mengatasi masalah dalam kompetisi. Konsentrasi adalah suatu kondisi di mana atlet memiliki kesadaran penuh dan terfokus pada sesuatu (obyek tertentu) yang tidak mudah terombang-ambing (Gauron, 1984). Dengan demikian konsentrasi perlu dilatih pada atlet, jika konsentrasi tidak dilatih pada atlet cenderung gagal dalam mengembangkan keterampilan konsentrasi, pada saat yang sama atlet akan mengalami kegagalan dalam setiap pertandingan yang diikutinya. Cox (1990) memaparkan beberapa bidang penting dalam psikologi olahraga dalam meningkatkan prestasi atlet yaitu bidang konsentrasi dan perhatian. Misalnya dalam bulu tangkis. Pemain tidak bersikap tenang dan kurang konsentrasi saat menampilkan penampilannya, saat itu ada penonton anak- anak dengan teriakan keras dan sorak sorai yang memancing konsentrasi, penampilan pemain turun drastis. Contoh ini merupakan gambaran bahwa konsentrasi sangat penting bagi atlet, agar atlet memiliki kemampuan untuk mengalihkan berbagai rangsangan yang datang dan mengganggu pikirannya, sehingga atlet tetap fokus pada tugas yang harus dikerjakan.
Pelatih dalam proses latihan sangat penting untuk memperhatikan dan memastikan agar atlet tetap konsentrasi, dengan demikian pelatih harus mengetahui karakteristik atlet apakah atlet dalam keadaan konsentrasi atau tidak. Ciri-ciri tersebut antara lain:
1. Fokus pada suatu objek/benda pada saat itu
2. Perhatiannya tetap pada objek tertentu dan tidak ada perhatian dan pemikiran pada objek lain,
3. Menenangkan dan menguatkan mental.
Dari ketiga karakteristik tersebut akan lebih mudah bagi pelatih untuk mengenali atletnya dalam latihan atau pertandingan, sehingga akan lebih mudah bagi pelatih untuk menerapkan strategi mengatasi masalah pada atlet. Dalam artikel yang berjudul International Society of Sport Psychology Pition stand: Athletes' mental health, performance, and development on mental health is the primary resource for athletes in relation to performance and development. Atlet mengalami faktor risiko kesehatan mental tambahan dibandingkan dengan populasi non-atletik, seperti beban latihan yang tinggi, persaingan yang ketat, dan gaya hidup yang penuh tekanan. Statistik kontemporer menunjukkan pertumbuhan substansial dalam masalah yang berhubungan dengan kesehatan mental atlet, seperti gegar otak, overtraining, dan krisis identitas.