TO FILE
Kasmawati 1 Yunita Maya Putri 2
2. Pengertian Merek
Merek merupakan salah satu aspek dari Hak Kekayaan Intelektual yang memainkan peran penting dalam kegiatan ekonomi global. Merek sebagaimana aspek hak kekayaan intelektual lain memiliki definisi dan pengaturan tersendiri mengenai penggunaannnya. Merek secara etimologi menurut Black’s Law Dictionary adalah suatu kata, gabungan kata, logo, atau simbol tertentu yang digunakan oleh produsen atau penjual untuk membedakan suatu produk dari produk lain.4
Pengaturan hukum merek pada dasarnya diatur dalam Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis (selanjutnya disebut UU Merek dan Indikasi Geografis).
Menurut Pasal 1 Ayat (1) Merek didefinisikan sebagai tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 (tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2
2 Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2014), p.69.
3 Lili Rasjidi and LB Wysa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem (Bandung:
Remaja Rusdakarya, 1993), p. 118.
4 Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary, 8th ed. (Wisconsin: Wisconsin‖s Departement of Transportation, 2004), p. 4656.
(dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa. Selain pengertian di atas, pengertian merek juga diberikan oleh beberapa ahli, yaitu :
Menurut Kotler dan Keller, merek adalah nama, istilah tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasinya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari salah dari satu penjual atau kelompok penjual dan membedakan dari barang atau jasa pesaing.5
Menurut R. Soekardono, memberikan rumusan bahwa, merek adalah sebuah tanda (Jawa; siri atau tengger) dengan mana dipribadikan sebuah barang tertentu, di mana perlu juga dipribadikan asalnya barang atau menjamin kualitas barang dalam perbandingan dengan barang-barang sejenis yang dibuat atau diperdagangkan oleh orang-orang atau badan-badan perusahaan lain.6
3. Perlindungan Hukum Merek Berdasarkan Asas First to File Perlindungan hukum terhadap merek terkenal di Indonesia diatur berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, tepatnya pada Pasal 21 ayat (1) huruf b dan c, Pasal 83 ayat (2), dan diperkuat oleh penjelasan Pasal 21 ayat (1) huruf b, Penjelasan Pasal 76 ayat (2) dan Penjelasan Pasal 83 ayat (2).
Produk-produk dengan merek yang terkenal akan lebih mudah untuk dipasarkan, sehingga dapat dengan lebih mudah untuk dijual dan memberikan keuntungan finansial yang lebih besar.
Pengertian merek terkenal yaitu apabila suatu merek telah beredar keluar dari batas-batas internasional, di mana telah beredar ke luar negeri dan dibuktikan dengan adanya pendaftaran merek yang bersangkutan di berbagai negara. Dengan begitu maka dibutuhkan perlindungan hukum bagi hak merek terkenal untuk menjamin
5 Muhammad Anang Firmansyah, Pemasaran Produk Dan Merek (Planning &
Strategy) (Surabaya: Qiara Media, 2019), p. 60.
6 Sadikin O.K, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Edisi Revisi) (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), p. 335.
(dua) atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa. Selain pengertian di atas, pengertian merek juga diberikan oleh beberapa ahli, yaitu :
Menurut Kotler dan Keller, merek adalah nama, istilah tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasinya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari salah dari satu penjual atau kelompok penjual dan membedakan dari barang atau jasa pesaing.5
Menurut R. Soekardono, memberikan rumusan bahwa, merek adalah sebuah tanda (Jawa; siri atau tengger) dengan mana dipribadikan sebuah barang tertentu, di mana perlu juga dipribadikan asalnya barang atau menjamin kualitas barang dalam perbandingan dengan barang-barang sejenis yang dibuat atau diperdagangkan oleh orang-orang atau badan-badan perusahaan lain.6
3. Perlindungan Hukum Merek Berdasarkan Asas First to File Perlindungan hukum terhadap merek terkenal di Indonesia diatur berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, tepatnya pada Pasal 21 ayat (1) huruf b dan c, Pasal 83 ayat (2), dan diperkuat oleh penjelasan Pasal 21 ayat (1) huruf b, Penjelasan Pasal 76 ayat (2) dan Penjelasan Pasal 83 ayat (2).
Produk-produk dengan merek yang terkenal akan lebih mudah untuk dipasarkan, sehingga dapat dengan lebih mudah untuk dijual dan memberikan keuntungan finansial yang lebih besar.
Pengertian merek terkenal yaitu apabila suatu merek telah beredar keluar dari batas-batas internasional, di mana telah beredar ke luar negeri dan dibuktikan dengan adanya pendaftaran merek yang bersangkutan di berbagai negara. Dengan begitu maka dibutuhkan perlindungan hukum bagi hak merek terkenal untuk menjamin
5 Muhammad Anang Firmansyah, Pemasaran Produk Dan Merek (Planning &
Strategy) (Surabaya: Qiara Media, 2019), p. 60.
6 Sadikin O.K, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Edisi Revisi) (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), p. 335.
adanya kepastian hukum bagi para penemu merek, pemilik merek dan pemegang hak merek. Selain itu juga untuk mencegah terjadinya pelanggaran dan kejahatan dan hak merek dan memberikan manfaat kepada masyarakat agar masyarakat lebih terdorong untuk membuat dan mengurus pendaftaran merek usahanya.7
Asas first to file principle dalam sistem konstitutif bukan tanpa kelemahan, asas ini tentunya memiliki kelemahan seperti membuka peluang timbulnya pembajakan suatu merek terutama sekali merek dagang yang dimiliki pihak asing. Artinya, banyak merek terkenal yang didaftarkan oleh bad applicant (pendaftar beritikad buruk).
Perlindungan hukum bersifat preventif jika telah didaftarkan dan bisa berubah menjadi represif seperti yang tercantum dalam UU Merek bahwa memperdagangkan barang tiruan yang menggunakan merek terkenal dapat dikategorikan pelanggaran UU merek yang memuat sanksi pidana, sesuai ketentuan Pasal 100-102 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang merek dan Indikasi Geografis, yang dimana bagi orang yang memperdagangkan barang tiruan dan barang tersebut merupakan hasil tindak pidana diancam pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
Pelanggaran atas hak merek terkenal di Indonesia dapat dimasukan sebagai kasus krimininal (pidana) maupun perdata.
Pemilik merek terdaftar dapat mengajukan gugatan kepada pihak lain, yaitu pihak yang secara sengaja dan tanpa hak menggunakan/meniru merek yang mempunyai persamaan pada pokoknya atau seluruhnya dengan barang dan atau jasa merek terkenal.8
Undang-undang merek melindungi merek terkenal (well- known mark), yang dimana permohonan merek akan ditolak jika mempunyai persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan
7
Iswi Hariyani, Prosedur Mengurus HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) Yang Benar (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010), p. 89.
8 Ahmadi Miru, Hukum Merek: Cara Mudah Mempelajari Undang- Undang Merek (Jakarta: Rajawali Pers, 2005), p. 78.
merek terkenal untuk barang dan/atau jasa yang sejenis.9 Reputasi merek juga menjadi dasar pertimbangan dalam penolakan permohonan merek yang memiliki kesamaan dengen merek terkenal dengan didasarkan atas bukti pendaftaran merek di berbagai negara. Apabila hal ini belum cukup untuk membuktikan bahwa suatu merek terkenal atau tidak maka Pengadilan Niaga akan menunjuk suatu badan khusus untuk membuktikannya.10
Perlindungan terhadap merek terkenal juga diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 67 Tahun 2016. Peraturan ini hampir sama dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis yaitu pendaftaran merek dapat ditolak apabila memiliki kesamaan dengan merek terkenal untuk barang dan/atau jasa sejenis atau berbeda.11 Perbedaannya, bahwa Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 67 Tahun 2016 mengatur lebih rinci mengenai merek terkenal.
Apabila suatu merek ingin dikategorikan sebagai merek terkenal maka merek tersebut harus memenuhi berbagai kriteria berdasarkan pengetahuan masyarakat akan merek bersangkutan.
Faktor-faktor penentu dalam menentukan suatu merek dapat dikatakan sebagai merek terkenal atau tidak yaitu: 12
a. tingkat pengetahuan dan pengakuan masyarakat terhadap merek;
b. volume dan keuntungan yang diperoleh pemilik dari penjualan dalam menggunakan merek;
c. pangsa pasar yang dikuasai merek;
d. jangkauan daerah penggunaan merek;
e. jangka waktu penggunaan merek;
f. intensitas dan promosi merek;
g. pendaftaran merek atau permohonan pendaftaran merek di negara lain;
h. tingkat keberhasilan penegakan hukum khususnya dalam
9 Ni Ketut Supasti Dharmawan et al., Buku Ajar Hak Kekayaan Intelektual (Yogyakarta: Deepublish, 2016), p. 58.
10 Muhammad Febriyan Saputra, “The International Trademark System dan Implementasinya Di Indonesia” (Univesitas Lampung, 2020).
11 Pasal 16 ayat (2) Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 67 Tahun 2016
12 Pasal 18 Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 67 Tahun 2016
merek terkenal untuk barang dan/atau jasa yang sejenis.9 Reputasi merek juga menjadi dasar pertimbangan dalam penolakan permohonan merek yang memiliki kesamaan dengen merek terkenal dengan didasarkan atas bukti pendaftaran merek di berbagai negara. Apabila hal ini belum cukup untuk membuktikan bahwa suatu merek terkenal atau tidak maka Pengadilan Niaga akan menunjuk suatu badan khusus untuk membuktikannya.10
Perlindungan terhadap merek terkenal juga diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 67 Tahun 2016. Peraturan ini hampir sama dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis yaitu pendaftaran merek dapat ditolak apabila memiliki kesamaan dengan merek terkenal untuk barang dan/atau jasa sejenis atau berbeda.11 Perbedaannya, bahwa Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 67 Tahun 2016 mengatur lebih rinci mengenai merek terkenal.
Apabila suatu merek ingin dikategorikan sebagai merek terkenal maka merek tersebut harus memenuhi berbagai kriteria berdasarkan pengetahuan masyarakat akan merek bersangkutan.
Faktor-faktor penentu dalam menentukan suatu merek dapat dikatakan sebagai merek terkenal atau tidak yaitu: 12
a. tingkat pengetahuan dan pengakuan masyarakat terhadap merek;
b. volume dan keuntungan yang diperoleh pemilik dari penjualan dalam menggunakan merek;
c. pangsa pasar yang dikuasai merek;
d. jangkauan daerah penggunaan merek;
e. jangka waktu penggunaan merek;
f. intensitas dan promosi merek;
g. pendaftaran merek atau permohonan pendaftaran merek di negara lain;
h. tingkat keberhasilan penegakan hukum khususnya dalam
9 Ni Ketut Supasti Dharmawan et al., Buku Ajar Hak Kekayaan Intelektual (Yogyakarta: Deepublish, 2016), p. 58.
10 Muhammad Febriyan Saputra, “The International Trademark System dan Implementasinya Di Indonesia” (Univesitas Lampung, 2020).
11 Pasal 16 ayat (2) Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 67 Tahun 2016
12 Pasal 18 Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 67 Tahun 2016
pengakuan merek;
i. nilai dari merek tersebut.
Penolakan permohonan pendaftaran merek yang diajukan harus memperhatikan kriteria yang dijelaskan dalam Pasal 18 tersebut. Khusus barang dan/atau jasa yang berbeda, penolakan permohonan pendaftaran merek harus memenuhi persyaratan seperti adanya keberatan yang diajukan secara tertulis oleh pemilik merek terkenal dengan diberikan alasan serta bukti yang jelas dan/atau merek terkenal sudah terdaftar.13
Perlindungan hukum seperti yang dijelaskan dalam Pasal 21 ayat (2) a Undang-undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis tetap perlu didaftarkan di Dirjen HKI Kementerian Hukum dan HAM. Asas first to file dalam sistem konstitutif bukan tanpa kelemahan, asas ini tentunya memiliki kelemahan seperti membuka peluang timbulnya pembajakan suatu merek terutama sekali merek dagang yang dimiliki pihak asing.
Artinya, banyak merek terkenal yang didaftarkan oleh bad applicant (pendaftar beritikad buruk).
Perlindungan hukum bersifat preventif jika telah didaftarkan dan bisa berubah menjadi represif seperti yang tercantum dalam UU Merek bahwa memperdagangkan barang tiruan yang menggunakan merek terkenal dapat dikategorikan pelanggaran UU merek yang memuat sanksi pidana, sesuai ketentuan Pasal 100-102 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang merek dan Indikasi Geografis.
Buku
Dharmawan, dkk. Buku Ajar Hak Kekayaan Intelektual. Yogyakarta:
Deepublish, 2016.
Firmansyah, Muhammad Anang. Pemasaran Produk Dan Merek (Planning & Strategy). Surabaya: Qiara Media, 2019.
13 Pasal 19 Peraturan Menteri Hukum dan HAM No. 67 Tahun 2016
Garner, Bryan A. Black’s Law Dictionary. 8th ed. Wisconsin:
Wisconsin‖s Departement of Transportation, 2004.
Hariyani, Iswi. Prosedur Mengurus HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) Yang Benar. Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010.
Jened, Rahmi. Implikasi Persetujuan TRIPS Bagi Perlindungan Merek Di Indonesia. Surabaya: Yuridika, 2000.
Miru, Ahmadi. Hukum Merek: Cara Mudah Mempelajari Undang- Undang Merek. Jakarta: Rajawali Pers, 2005.
O.K, Sadikin. Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Edisi Revisi). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016.
Raharjo, Satjipto. Ilmu Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2014.
Rasjidi, Lili, and LB Wysa Putra. Hukum Sebagai Suatu Sistem. Bandung: Remaja Rusdakarya, 1993.
Laporan Riset
Saputra, Muhammad Febriyan. “The International Trademark System dan Implementasinya Di Indonesia.” Univesitas Lampung, 2020.
Garner, Bryan A. Black’s Law Dictionary. 8th ed. Wisconsin:
Wisconsin‖s Departement of Transportation, 2004.
Hariyani, Iswi. Prosedur Mengurus HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) Yang Benar. Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010.
Jened, Rahmi. Implikasi Persetujuan TRIPS Bagi Perlindungan Merek Di Indonesia. Surabaya: Yuridika, 2000.
Miru, Ahmadi. Hukum Merek: Cara Mudah Mempelajari Undang- Undang Merek. Jakarta: Rajawali Pers, 2005.
O.K, Sadikin. Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (Edisi Revisi). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016.
Raharjo, Satjipto. Ilmu Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2014.
Rasjidi, Lili, and LB Wysa Putra. Hukum Sebagai Suatu Sistem. Bandung: Remaja Rusdakarya, 1993.
Laporan Riset
Saputra, Muhammad Febriyan. “The International Trademark System dan Implementasinya Di Indonesia.” Univesitas Lampung, 2020.