• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Memberikan Perlindungan HKI Komunal

BERORIENTASI PADA RANCANGAN PERUNDANG-UNDANGAN

2. Upaya Memberikan Perlindungan HKI Komunal

Pada tataran internasional beberapa upaya melindungi GRTKF telah dilakukan. Salah satunya adalah Convention on Biological Diversity 1992. Dalam konvensi ini telah disinggung mengenai perlindungan GRTKF. Indonesia telah meratifikasi CBD ini dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang pengesahan United Nation Convention on Biological Diversity. Namun hingga kini belum ada upaya yang lebih konkrit dalam mengimplementasikan konvensi tersebut, khususnya berkenaan dengan perlindungan GRTKF di Indonesia. Sejak ratifikasi CBD tersebut, pembentuk Undang- Undang Indonesia lebih memberikan prioritas pada pembentukan hukum bidang HKI Konvensional sebagai konsekuensi dari ratifikasi

pengembangan peraturan di luar rezim HKI. Permasalahan dalam penulisan ini adalah sejauh manakah terbentuknya rancangan undang- undang mengenai GRTKF di Indonesia?

1. Fakta Perlindungan HKI di Indonesia

Mungkin kurang tepat jika dikatakan bahwa HKI di Indonesia belum mendapatkan perlindungan berupa perundang-undangan sebagaimana mestinya. Sekurang-kurangnya sejak masa penjajahan, sudah ada Oktrooi Wet 1910. Kemudian pada tahun 1961 telah ada Undang-undang Merek (UU Nomor 21/1996). Selanjutnya pada tahun 1982 diundangkan pula UU Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta menggantikan Auteurswet 1912. Pada tahun 1989, legislator Indonesia juga membentuk UU No. 6 Tahun 1989 tentang Paten.

Seiring dengan berkembangnya perdagangan internasional termasuk yang beraspek HKI, Indonesia telah memperbaiki berbagai aturan di bidang HKI yang lama, dan memberlakukan seperangkat lengkap perundang-undangan HKI. Pada sisi pelaksanaan perangkat peraturan perundang-undnagan tersebut, Pemerintah telah lama membentuk Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual sebagai instansi yang menangani persoalan perlindungan HKI di Indonesia, terutama yang berkenaan dengan Intelectual Property Registration &

Administration.

2. Upaya Memberikan Perlindungan HKI Komunal

Pada tataran internasional beberapa upaya melindungi GRTKF telah dilakukan. Salah satunya adalah Convention on Biological Diversity 1992. Dalam konvensi ini telah disinggung mengenai perlindungan GRTKF. Indonesia telah meratifikasi CBD ini dengan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang pengesahan United Nation Convention on Biological Diversity. Namun hingga kini belum ada upaya yang lebih konkrit dalam mengimplementasikan konvensi tersebut, khususnya berkenaan dengan perlindungan GRTKF di Indonesia. Sejak ratifikasi CBD tersebut, pembentuk Undang- Undang Indonesia lebih memberikan prioritas pada pembentukan hukum bidang HKI Konvensional sebagai konsekuensi dari ratifikasi

WTO/TRIPs. Hal ini dapat dibuktikan dari seperangkat perundang- undangan HKI Konvensional yang berhasil diundangkan pasca ratifikasi WTO/TRIPs.

Kiranya dapat dimaklumi mengapa konsentrasi Pemerintah Indonesia lebih kepada perlindungan HKI Konvensional ketimbang HKI yang sifatnya komunal. Salah satu faktor yang paling utama adalah karena posisi ketergantungan Indonesia kepada asing, baik secara ekonomis maupun politik. Tekanan asing agar Indonesia lebih meningkatkan perlindungan piranti lunak (melalui razia warnet misalnya) hanyalah sebuah contoh tentang kebenaran tesis ketergantungan (dependency theory) ini.

Terlepas bahwa pembajakan adalah memang sebuah tindakan tidak terpuji, akan tetapi akar masalah dari pembajakan di Indonesia kiranya lebih disebabkan kesenjangan harga yang terlampau tinggi.

Hukum ekonomi yang berlaku secara universal membuktikan bahwa jika ada barang yang sama dengan kualitas yang sama namun dengan harga yang jauh berbeda, maka pembeli cenderung akan membeli barang yang harganya lebih murah. Oleh karena, itu, menghakimi masyarakat Indonesia dengan mengatakan sebagai bangsa yang tidak beradab hanya karena senang membeli barang yang lebih murah adalah tidak adil.

Mengapa energi Indonesia tidak diarahkan untuk mengoptimalkan upaya melindungi GRTKF sebagai suatu yang jelas lebih bisa bersaing dengan HKI Konvensional? Beberapa kelompok anggota masyarakat tertentu sudah ada yang menyadari betapa kekayaan budaya bangsa bangsa Indonesia cukup banyak yang memiliki keunggulan kompetitif. Seni tradisional misalnya, merupakan sumber komoditas perdagangan yang tidak kalah melimpah dibandingkan dengan minyak bumi atau kayu hutan.

Megalitikum kuantum telah membuktikan betapa khazanah seni tradisional Indonesia jika diangkat secara lebih serius dapat menghasilkan tontonan dengan potensi nilai pendapatan yang tidak kecil. Obat-obatan tradisional juga merupakan salah satu khasanah yang bila dikembangkan dapat memberikan hasil ekonomis bagi masyarakat pendukungnya.

Pemerintah Indonesia sudah mencantumkan perlindungan Folklore ke dalam UU Hak Cipta. Sayangnya rezim perlindungan semacam ini belum sepenuhnya efektif mengingat adanya kesulitan dalam tahap implementasi. Salah satu proyek yang dibutuhkan dalam upaya implementasi UU Hak Cipta guna melindungi Folklore adalah proyek dokumentasi. Upaya lain yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia adalah dengan mengirim delegasi ke sidang- sidang Intergovermental Committee on IP and GRTKF yang diselenggarakan oleh World Intellectual Property Organization (WIPO). Namun faktanya delegasi Indonesia belum dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam megusulkan rezim perlindungan yang tepat. Bahkan hingga sidang pada sesi ke-8, tampaknya belum ada kesepakatan yang final yang dihasilkan sidang-sidang tersebut.3

Lebih lanjut, secara umum setidaknya ada lima alasan utama mengapa GRTKF harus dilindungi, yaitu:

1. Keadilan (equity) adalah sebuah kewajaran dan keadilan apabila pemilik rezim GRTKF yang dimanfaatkan dan dikomersialisasi mendapatkan bagi hasil atau kompensasi baik bersifat moneter maupun nonmoneter;

2. Konservasi (conservation). Perlindungan bagi rezim GRTKF, berarti juga perlindungan bagi pemeliharaan lingkungan, keanekaragaman hayati, dan kegiatan pertanian yang berkelanjutan;

3. Memelihara praktik-praktik tradisional dan budaya (preservation). Perlindungan terhadap rezim GRTKF dapat digunakan untuk meningkatkan nilai dan kepercayaan masyarakat baik di dalam ataupun luar komunitas atas nilai-nilai pengetahuan tradisional;

4. Mencegah penyalahgunaan oleh pihak yang tidak berhak atau menghindari bio-piracy (avoiding bio-piracy). Perlindungan bagi rezim GRTKF adalah salah satu jalan untuk mengurangi praktik bio-piracy, sekaligus menjamin keadilan dan perlakuan yang

3 Kelompok Kerja HKI di bidang Pendayagunaan Sumber Daya Genetik, Pengetahuan Tradisional ndan Ekspresi Folklore, yang dibentuk pada tanggal 7 Agustus 2002.

Pemerintah Indonesia sudah mencantumkan perlindungan Folklore ke dalam UU Hak Cipta. Sayangnya rezim perlindungan semacam ini belum sepenuhnya efektif mengingat adanya kesulitan dalam tahap implementasi. Salah satu proyek yang dibutuhkan dalam upaya implementasi UU Hak Cipta guna melindungi Folklore adalah proyek dokumentasi. Upaya lain yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia adalah dengan mengirim delegasi ke sidang- sidang Intergovermental Committee on IP and GRTKF yang diselenggarakan oleh World Intellectual Property Organization (WIPO). Namun faktanya delegasi Indonesia belum dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam megusulkan rezim perlindungan yang tepat. Bahkan hingga sidang pada sesi ke-8, tampaknya belum ada kesepakatan yang final yang dihasilkan sidang-sidang tersebut.3

Lebih lanjut, secara umum setidaknya ada lima alasan utama mengapa GRTKF harus dilindungi, yaitu:

1. Keadilan (equity) adalah sebuah kewajaran dan keadilan apabila pemilik rezim GRTKF yang dimanfaatkan dan dikomersialisasi mendapatkan bagi hasil atau kompensasi baik bersifat moneter maupun nonmoneter;

2. Konservasi (conservation). Perlindungan bagi rezim GRTKF, berarti juga perlindungan bagi pemeliharaan lingkungan, keanekaragaman hayati, dan kegiatan pertanian yang berkelanjutan;

3. Memelihara praktik-praktik tradisional dan budaya (preservation). Perlindungan terhadap rezim GRTKF dapat digunakan untuk meningkatkan nilai dan kepercayaan masyarakat baik di dalam ataupun luar komunitas atas nilai-nilai pengetahuan tradisional;

4. Mencegah penyalahgunaan oleh pihak yang tidak berhak atau menghindari bio-piracy (avoiding bio-piracy). Perlindungan bagi rezim GRTKF adalah salah satu jalan untuk mengurangi praktik bio-piracy, sekaligus menjamin keadilan dan perlakuan yang

3 Kelompok Kerja HKI di bidang Pendayagunaan Sumber Daya Genetik, Pengetahuan Tradisional ndan Ekspresi Folklore, yang dibentuk pada tanggal 7 Agustus 2002.

seimbang antara pemilik dan pengguna rezim GRTKF. Untuk mencegah terjadinya tindakan penyalahgunaan rezim GRTKF, setidaknya ada tiga hal penting yang harus diperhatikan: a) Pertama: pendokumentasian rezim GRTKF dilakukan melalui pembangunan database traditional knowledge; b) Kedua:

kewajiban persyaratan untuk mencantumkan asal dari material yang akan dimohonkan perlindungan hukumnya melalui rezim intelectual property; c) Ketiga: bagi pihak-pihak yang akan mencari pengakuan hukum melalui rezim HKI, harus mampu menunjukkan bukti persetujuan pemanfaatan, pembagian kepemilikan, maupun pembagian keuntungan dari pemilik GRTKF

5. Sebagai upaya promosi atas pemanfaatan dan pentingnya pengembangan rezim GRTKF (promotion of its use) Selain upaya perlindungan dengan membatasi akses ke rezim GRTKF, pemerintah harus juga memunyai tujuan untuk mendukung pemanfaatan dari pengetahuan tradisional itu sendiri, dan mengembangkan usaha-usaha yang bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan.4