• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penguat dan penghambat penyerapan besi

Dalam dokumen PDF Aspek Biologik Dan Klinik Besi - Unud (Halaman 104-107)

saat menstruasi (DH, 1991). Hal ini menunjukkan bahwa pada wanita yang menyusui dan pada saat yang sama juga mengalami amenore karena menyusui akan mempunyai keseimbangan besi yang lebih positif dibandingakan pada saat kehamilan dan menstruasi.

Periode menyusui yang panjang yang disertai dengan amenore akan mempunyai dampak positif dalam hal simpanan besi pada wanita usia subur terutama apabila wanita ini dengan kehamilan yang berulang. Walaupun hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

Asupan besi untuk wanita yang menyusui sedikit berbeda pada berbagai negara. Di Inggris direkomendasikan asupan besi sama dengan wanita tidak hamil, namun menurut FAO/WHO, (2001) asupan besi untuk wanita menyusui hanya separuh dari wanita yang tidak hamil.

Orang tua

Kebutuhan fisiologis akan besi pada orang tua tidak meningkat dan simpanan besinya biasanya meningkat sesuai dengan peningkatan umur. Peningkatan ini lebih besar pada wanita dibandingkan laki-laki. Karena pada wanita paska menopause tidak lagi kehilangan besi endogen. Kebutuhan besi pada orang tua sama dengan kebutuhan besi pada orang dewasa umur 15 – 50 tahun dan kebutuhan pada wanita setelah menopausue sama dengan kebutuhan laki-laki (Department of Health, 1991). Penyebab paling sering dari defisiensi besi pada orang tua adalah karena kehilangan darah dari saluran cerna yang bisa disebabkan beberapa faktor antara lain penyakit kronis seperti kanker kolon, obat-obat anti inflamasi seperti aspirin, penyakit pada saluran kencing atau pengambilan darah yang berulang. Faktor risiko yang lain untuk defisiensi besi pada orang tua adalah asupan energi yang berkurang sehingga menyebabkan asupan dari nutrisi termasuk besi juga berkurang.

total dalam suatu bahan makanan dan mengasumsikan perbedaan keduanya mewakili jumlah besi hem. Kandungan besi hem dalam daging biasanya diperkirakan sebesar 40%

dari besi total; jumlah rata-rata kandungan besi hem pada daging sapi berkisar antara 64% hingga 78% dari besi total dan dari 52% hingga 83% dari besi total pada daging merah lainnya (Valenzuela et al., 2009). Dengan melakukan penggilingan, penyikatan, pemasakan, penambahan bakteri, fermentasi dan pemanasan dapat meningkatkan jumlah besi yang tersedia untuk absorbsi karena proses tersebut dapat mendegradasi inhibitor untuk penyerapan besi (seperti fitat dan fosfat). Pengambilan dan transfer besi tergantung pada kebutuhan tubuh akan besi. Availabilitas besi dalam makanan dipengaruhi tidak saja bentuk kimia dari besi (besi hem atau besi non-hem inorganik) tapi juga dari sifat dari kompleks besi inorganik dengan komponen makanan lainnya. Pada kadar feritin yang rendah dilaporkan absorbsi besi non-hem dari makanan hampir 10 kali lebih besar dibandingkan dengan peningkatan 2 – 3 kali absorbsi besi hem. Akan tetapi pada kadar serum feritin yang sangat rendah <10 µg/L absorbsi fraksional besi hem dan non-hem sama (sekitar 40%). Pada konsentrasi serum feritin yang lebih tinggi, absorbsi besi hem dan non-hem menurun namun penurunan lebih besar terjadi pada besi non-hem.

Pada konsentrasi feritin serum 15, 20, dan 30 µg/L, absorbsi besi hem 40%, 80%, dan 140% lebih tinggi dibandingkan besi non-hem (Hallberg et al.,1997). Besi non-hem dan hem membentuk kelompok yang sama setelah diserap masuk ke enterosit, sehingga perbedaan absorbsinya kemungkinan disebabkan karena perbedaan proses yang terlibat pada penyerapan kedua bentuk besi tersebut enterosit. Secara umum, komponen besi yang terlarut dalam air memiliki bioavailabilitas paling tinggi, diikuti komponen yang terlarut dalam asam (ekuivalen dengan kondisi gaster). Komponen yang tidak larut dalam air atau tidak larut dalam asam memiliki bioavailabilitas yang lebih rendah karena besi mengendap dan tidak bisa diserap enterosit.

Penguat penyerapan besi

Daging dan vitamin C dapat menambahkan kemampuan absorpsi besi dari makanan.

Daging memperkuat absorbsi besi non-hem hanya saat dimakan terutama dengan makanan yang dapat menghambat absorbsinya, seperti yang dilaporkan dalam studi bahwa penambahan daging sapi (92 g) pada bubur jagung secara bermakna meningkatkan absorbsi besi non-hem tiga kali lipat namun tidak berefek pada makanan roti yang terbuat dari tepung gandum. Jagung memiliki efek inhibitor yang lebih besar terhadap absorbsi besi non-hem dibandingkan gandum dan diperkirakan persentase besi non-hem yang diabsorbsi dari makanan yang terbuat dari gandum adalah enam kali lipat dibandingkan makanan yang terbuat dari jagung. Mekanisme yang mendasari hal ini diduga melalui L-α- gliserofosfokolin (GPC), sebuah produk hidrolitik dari fosfolipid yang ditemukan pada jaringan otot (Troesch et al., 2009). Pengaruh asam askorbat terhadap peningkatan absorbsi besi non-hem dilaporkan paling efektif dengan makanan yang mengandung jumlah fitat dan polifenol yang tinggi, yang merupakan inhibitor absorbsi besi Siegenberg et al., (1991), dimana mekanisme utama dari efek peningkatan absorbsi besi asam askorbat diperkirakan melalui pembentukan kompleks yang lebih larut dibandingkan apabila besi sendiri dan melalui kemampuannya untuk mereduksi Fe3+ menjadi Fe2+, suatu bentuk dimana besi diserap ke dalam sel mukosa. Akan tetapi efek asam askorbat dan daging kalau diberikan secara bersamaan dalam memfasilitasi absobsi besi non-hem tidak bersifat aditif sehingga justru daya penyerapannya akan menjadi lebih kecil. Asam eritorbat, sebuah stereoisomer

asam askorbat yang digunakan sebagai antioksidan pada makanan olahan, merupakan penguat absorbsi besi non-hem yang lebih kuat dibandingkan asam askorbat (Fidler et al., 2004). Asam organik lainnya yang terdapat secara alami pada buah-buahan dan sayuran (termasuk asam malat, sitrat dan tartarat) juga terbukti dapat meningkatkan absorbsi besi non-hem. Asam laktat, yang dihasilkan selama proses pembuatan bir, merupakan salah satu faktor yang bertanggung jawab terhadap tingginya absorbsi besi dari bir jagung dan sorgum di Afrika bagian selatan.

Tetens et al., (2007) melaporkan efek makanan yang mengandung daging terhadap konsentrasi feritin serum dan hemoglobin. Ternyata pada akhir studi terdapat peningkatan yang bermakna (p < 0,01) pada konsentrasi hemoglobin pada kelompok daging sapi akan tetapi konsentrasi feritin serum dan hemoglobin tidak berubah pada kelompok diet berbahan dasar daging. Pada penelitian uji klinis intervensi dengan kontrol plasebo di Meksiko Garcia et al., (2003), untuk mengetahui peran asam askorbat, setelah 8 bulan, tidak menemukan perbedaan antara kedua kelompok dalam konsentrasi hemoglobin atau feritin serum.

Penghambat penyerapan besi

Asam fitat, produk protein kedelai, kalsium dan polifenol merupakan senyawa yang dapat menghambat penyerapan besi. Asam fitat ditemukan pada sereal gandum utuh, polong-polongan, kacang-kacangan dan biji-bijian, telah terbukti sebagai penghambat absorbsi besi non-hem yang tergantung pada dosis dari asam fitatnya (Hallberg et al., 1991). Efek penghambatan fitat pada absorbsi besi dapat diperbaiki asam askorbat dan diperkirakan efek penghambatan ini juga dipengaruhi dosis (Siegenberg et al., 1991).

Produk protein kedelai mengandung fitat dalam jumlah besar, yang penting dalam penghambatan penyerapan besi. Diteliti efek isolat protein kedelai terhadap absorbsi besi non-hem dari makanan cair dimana putih telur (kontrol) atau isolat protein kedelai ditambahkan. Dilaporkan bahwa protein kedelai itu sendiri merupakan penghambat.

Dapat ditunjukkan bahwa bagian isolat protein kedelai yaitu fraksi conglycinin pada protein kedelai yang menghambat absorbsi besi. Sedang polifenol yang ditemukan khususnya pada teh dan kopi, memiliki efek terhadap absorbsi besi yang tergantung dosis, dimana kopi memiliki setengah kemampuan penghambatan dibanding teh. Minuman kita khususnya anggur merah, coklat, dan teh herbal juga terbukti menghambat absorbsi besi non-hem. Polifenol teh hitam merupakan penghambat yang lebih kuat jika dibanding teh herbal, coklat atau anggur, kemungkinan karena kandungan galloyl ester yang lebih tinggi (Hurrel et al., 1999). Asam askorbat terbukti melawan efek penghambatan polifenol tanin terhadap absorbsi besi non-hem: 50 mg asam askorbat diperlukan untuk mengatasi efek dari > 100 mg asam tanat. Mekanisme efek penghambatan kalsium terhadap absorbsi besi tidak diketahui. Diperkirakan bahwa kalsium dan besi berkompetisi untuk berikatan dengan satu atau lebih senyawa yang penting dalam jalur absorbsi. Hallberg et al., (1991) melaporkan bahwa penambahan kalsium (40 – 600 mg) ke dalam roti gulung gandum secara bermakna menurunkan absorbsi besi dimana besarnya penghambatan jelas berhubungan dengan dosis. Efek hambatan kalsium tampaknya lebih nyata pada makanan sederhana (seperti roti gulung) dibandingkan dengan makanan yang lebih kompleks seperti yang ditemukan.

Sebuah kajian yang membahas efek suplementasi kalsium terhadap status besi pada wanita menyimpulkan bahwa konsumsi kalsium jangka panjang tidak memiliki pengaruh

terhadap berbagai indikator status besi, termasuk pula konsentrasi serum feritin. Lind et al., (2003), meneliti efek pengurangan kandungan fitat pada sereal bayi terhadap konsentrasi feritin serum dan hemoglobin bayi (n = 267; usia 6 bulan). Setelah 6 bulan, konsentrasi feritin serum lebih rendah secara bermakna (p < 0,05) pada semua kelompok dibandingkan awal namun tidak terdapat perbedaan pada konsentrasi serum feritin antara ketiga kelompok. Roti kaya serat yang dikosumsi jangka panjang (4 bulan) menurunkan konsentrasi serum secara bermakna (p < 0,001) pada kedua kelompok namun tidak terdapat perbedaan antar kelompok. Konsentrasi hemoglobin tidak berubah pada kedua kelompok (Bach et al., 2005).

Dalam dokumen PDF Aspek Biologik Dan Klinik Besi - Unud (Halaman 104-107)