• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN ETIKAWAN

Dalam dokumen Etika Profesi Hukum (Widodo (Z-Library) (Halaman 33-38)

APA ITU ETIKA?

1.3 PERAN ETIKAWAN

is wrong.”15 (Bukanlah bagian dari urusan profesi para filsuf mo- ral [etikawan] untuk memberi tahu dan mengarahkan orang apa yang seharusnya atau tidak seharusnya mereka lakukan... Para etikawan seperti itu, tidak memiliki dan menyediakan informasi khusus bagi masyarakat umum tentang apa yang benar dan apa yang salah.”) Jadi, kita tidak bisa berharap ahli etika berperan se- bagai kiai atau pendeta yang mengarahkan kita harus berbuat itu atau melarang ini; yang bisa kita harapkan ahli etika memberikan pertanyaan reflektif dan argumentasi kritis tentang moral.

Kita sekarang menjadi tahu, bedanya etika dengan mo- ral. Etika tidak bermaksud mengajar apa yang wajib dilaku- kan orang agar menjadi orang bermoral, melainkan bagaimana mempertanyakan, merefleksikan dan menjelaskan permasala- han moral secara rasional. Kira-kira apabila dianalogikan, aga- mawan seperti kiai atau pendeta bagai orang yang melemparkan ban “moral” pengaman ke kolam untuk menyelamatkan orang yang tenggelam karena tidak bisa berenang. Sementara etika- wan mengajarkan orang bagaimana dia dapat berenang di kolam

“moral” secara mandiri.

yang “menggurui” dengan dog ma-dogma kurang tepat. Secara etis mereka tidak tabula rasa bila per tama kali memasuki ruang kuliah. Sebagai manusia, mereka semua memiliki kesadaran moral. Yang pertama yang akan dilakukan pengajar etika dalam kuliah adalah merefleksikan secara kritis dimensi etis dalam kehidupan kita. Pengajar etika mendorong mahasiswa mampu mengenal suatu masalah moral menurut ciri-ciri khasnya. Pe- ngajar etika memfasilitasi mahasiswa belajar mengidentifikasi suatu masalah sebagai masalah moral dan membedakannya dari masalah-masalah lain yang bersifat hukum, politis, ekonomis, atau keagamaan. Sekaligus, mengajak para mahasiswa melihat masalah moral berhubungan atau berelasi dengan masalah- masalah hukum, politis, ekonomis, atau ke agamaan seperti je- jaring yang saling berkelindan.

Peran kedua, untuk kebutuhan pendidikan khusus, misalnya pendidikan profesi hukum, etikawan juga dapat memberi pen- cerahan dalam pendidikan calon hakim, notaris, advokat, dan profesi hukum lain nya. Dalam pendidikan calon profesi terse- but, seharusnya tidak hanya mengajarkan kemahiran hukum (legal skills), melainkan juga dibangun kesadaran secara kritis mengapa mereka belajar hukum dan apa implikasinya ilmu yang mereka pelajari kelak terhadap kehidupan bermasyarakat? Un- tuk menjadi profesi hukum yang baik, tidak cukup hanya penge- tahuan hukum, melainkan menjadi manusia yang baik terlebih dahulu. Dalam materi etika profesi, para calon profesi hukum itu tidak hanya diajarkan kode etik (apalagi hanya dengan meng- hafal), melainkan merefleksikan secara kritis mengapa profesi disumpah sementara pekerjaan umumnya tidak perlu disumpah, spirit profesi apa yang melatarinya. Tentu, untuk materi ini tidak cukup hanya dibawakan oleh praktisi hukum, melainkan perlu melibatkan etikawan.

Peran ketiga, etikawan dapat membantu menjernihkan ke- kaburan pelanggaran etik, profesionalisme atau teknis yudisial.

PRENADAMEDIA

Pemahaman etika profesi seharusnya dikuasai oleh hakim etik yang duduk dalam Majelis Kehormatan Hakim (perangkat yang dibentuk oleh Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial (KY) yang bertugas memeriksa dan memutus adanya dugaan pelanggar- an Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH). Majelis Kehormatan Hakim itu dibentuk sesuai dengan ke butuhan dan bersifat tidak tetap ketika ada dugaan pelanggaran etik dan perilaku hakim. Dalam Majelis Kehormatan Hakim sering kali ter jadi perbedaan pandangan apakah putusan hakim yang terang-ben derang bertentangan dengan hukum (misalnya tidak memasukkan da sar hukum yang seharusnya) sehingga melukai rasa keadilan masuk ka tegori pelanggaran etik itu atau murni teknis yudisial. Tidak semua para hakim agung dan anggota KY dalam Majelis Kehormatan Hakim yang menguasai masalah eti- ka profesi, sehingga perlu melibatkan eti kawan dengan meminta pendapatnya dari perspektif etika profesi.

Demikian pula, dalam organisasi advokat, orang-orang yang duduk dalam Dewan Kehormatan Organisasi Advokat seha- rusnya juga ahli di bidang etika profesi. Sementara terkait pe- negakan kode etik, pengawasan terhadap notaris dalam hal ini Majelis Pengawas Notaris dan Majelis Pengawas Kehormatan Notaris, seharusnya melibatkan para ahli etika profesi karena mungkin karena kesibukannya tidak ada waktu bagi para no- taris mendalami etika profesi. Sebenarnya etika profesi dapat dikerjakan oleh para profesional seperti hakim, advokat, notaris atau dokter, tetapi para profesional sering kali tidak mempunyai waktu dan konsentrasi untuk itu, maka peran keempat, etika- wan dapat membantu organisasi profesi agar tidak mengalami disorientasi.

Etikawan memiliki spesialisasi dalam pemikiran moral pro- fesi, maka peran kelima ia dapat membantu menganalisis dan mengevaluasi permasalahan hukum dan etik secara kritis. Ahli etika mendapat latihan khusus dalam logika dan penalaran logis.

PRENADAMEDIA

Karena itu ia bisa membantu dengan menemukan kesalahan dan kelemahan dalam argumentasi. Keabsahan dari segi logika formal merupakan syarat pertama bagi setiap argumentasi. Di samping itu ia diharapkan menguasai teori-teori etika. Ia bisa menunjuk kepada keterbatasan dan keberpihakan suatu argumentasi moral dan dengan itu membuka perspektif-perspektif baru. Misalnya sidang pengadilan, para etikawan juga dapat diminta sebagai ahli menjernihkan masalah-masalah hukum, terutama kasus-kasus yang dilematis.

Sebagai contoh, kasus para pelaut dari kecelakaan kapal di laut lepas yang jauh dari daratan, menderita karena kekurangan air dan makanan, semuanya menghadapi kematian yang pas- ti, sehingga terpaksa membunuh yang terlemah dari mereka dan meminum darahnya. Akhirnya mereka selamat. Kemudian mereka ditangkap, dituntut, dan diadili karena pembunuhan.

Apakah hukum harus ditafsirkan memperbolehkan suatu per- buatan membunuh yang lain karena alasan mempertahankan hidup dalam keadaan sangat terpaksa dan apabila tidak dilakukan semua akan mati? Pada kasus yang dilematis ini, hukum tidak bisa bekerja sendirian, ia membutuhkan peran etikawan untuk menjelaskan secara kritis.

PRENADAMEDIA

PRENADAMEDIA

Bab 2

MENGAPA MANUSIA BISA

Dalam dokumen Etika Profesi Hukum (Widodo (Z-Library) (Halaman 33-38)